
Aneeq bergerak pelan di atas tubuh Jennie. Dia memberikan pelayanan terbaik pada istrinya, sebab ia sadar betul bahwa Jennie tengah hamil muda.
Suara erangan nikmat tak begitu lepas memenuhi gendang telinga wanita berdada besar itu, Aneeq menganga dengan wajah sensual menahan letupan dahysat di dalam pusat tubuhnya.
"Sayang, apakah ini nyaman?" tanya Aneeq, dia menundukkan kepala, meraih tangan Jennie untuk menautkan jari jemari mereka. Otak Aneeq begitu cerdik, karena sudah sering diganggu oleh sang anak, kini pria itu mengajak Jennie bercinta di atas sofa.
Agar Ziel tidak perlu merasakan gelombang yang mereka ciptakan. Gelombang nikmat di antara desaah yang menderu hebat.
Jennie terengah-engah, mulut wanita itu tak berhenti untuk terbuka. Dengan tubuh bagian bawah yang terasa sangat sesak. Dia menatap wajah Aneeq yang sudah berpeluh, dia menyentuh wajah itu lalu menyatukan kening mereka berdua. "I very like you. Ini sangat nyaman, An."
Aneeq tersenyum lebar, dia semakin menenggelamkan senjatanya hingga membuat Jennie semakin menganga. Perut Jennie kembang kempis, seiring hentakan lembut yang memenuhi liangnya.
Aneeq kembali mencium bibir Jennie. Membungkam suara indah itu dengan mulutnya. Lidah pria itu bergerak lincah, membelit dan menguluum lidah Jennie dengan begitu manja.
Sementara Jennie hanya bisa melampiaskan semuanya melalui gerakan tangannya yang memutar dan meremass kepala Aneeq. Deru nafas keduanya saling menampar wajah masing-masing.
Namun, sungguh kenikmatan ini tidak ada duanya. Bahkan hujan deras di luar sana tak berpengaruh apapun. Aneeq malah semakin bersemangat untuk menghangatkan badan mereka dengan kegiatan mereka yang tengah membara.
"An!" panggil Jennie dengan penuh lenguh yang terdengar merdu. Sementara Aneeq tak berhenti memaju-mundurkan tubuhnya.
Jennie menahan kedua bahu Aneeq, bibir pria tampan itu beralih memandikan leher Jennie. Semakin turun hingga ke dua buah pucuk merah jambu. Tanpa izin Aneeq langsung melahapnya, membuat Jennie menjerit tertahan. Sebab ia tak sampai hati untuk mendesaah lepas saat ada Ziel di sini.
"Bilang padaku apapun yang kamu rasakan," bisik Aneeq, tak ingin menyakiti Jennie apalagi buah hatinya yang baru saja berkembang. Dia yang biasanya beringas, kini hanya bisa bermain lembut dan sangat pelan.
Namun, sungguh lelehan kenikmatan yang Jennie tawarkan, tidak akan pernah ada duanya. Jennie sedikit menggelinjaang, lekuk tubuh penuh peluh itu terlihat sangat seksi di mata Aneeq.
Apalagi saat Jennie dengan sengaja menggigit bibir bawahnya. Benda tak bertulang itu memberikan kesan sensual yang membuat Aneeq tak dapat lagi menahan ledakan yang ada di dalam pusat tubuhnya.
Kening pria tampan itu mengerut, dia sedikit menambah kecepatan. Dan di setiap hentakan itu pula, desahaan Jennie seolah memberi semangat padanya. Sorak sorai akan kemenangan yang sebentar lagi akan ia gapai terus berdengung.
Aneeq mencengkram sofa, sementara Jennie sudah memeluk lehernya dengan erat. Kedutan itu semakin terasa nyata, kedua orang itu seperti melayang di atas nirwana hingga suara erangan penuh kenikmatan melayang di udara.
Bersamaan dengan tumpahnya cairan hangat milik Aneeq yang membuncah hebat di dalam rahim istrinya. Jennie membusungkan dadanya dengan mulut yang menganga, hingga setelah pelepasan itu berhasil ia dapatkan dengan sempurna Jennie tergolek lemah dengan tubuh Aneeq yang berada di atasnya.
"I love you, Jen," bisik Aneeq penuh cinta, tetapi wanita berdada besar itu hanya diam saja. Dia malah menutup mata dan berusaha untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Cukup sudah percintaan mereka malam ini, setelah beberapa saat, Aneeq mengecupi bahu polos Jennie hingga membuat wanita itu perlahan-lahan membuka kelopak matanya. Dan untuk pertama kali, yang dia lihat adalah wajah tampan suaminya.
Jennie menguluum senyum, lalu mengusap pipi Aneeq dengan gerakan lembut. "I love you more, today, tomorrow, and forever."