
Qin Yan terdiam sesaat, ia memandangi mata Weiqing yang tampak serius. sampai akhirnya ia menghela nafas, tatapan semua orang tampak mencemoohnya.
"baiklah aku akan jelaskan, seharusnya kalian sudah tahu perselisihan antara kerajaan Sunmoon dan kerajaan Kalise. saat itu terakhir kali, putra raja Kalise melecehkan adikku. aku menghajar ayah dan anak itu di perbatasan kerajaan. saat itu aku, menyelipkan prajurit bayanganku ke dalam bayangan mereka. dan ikut pulang ke kerajaan Kalise. akhirnya aku tahu, ternyata kerajaan tersebut berada di bawah dukungan sekte Racun. dan di saat itulah aku menyadari kalau mereka akan menyerang kerajaan kami. itulah kenapa kami berhasil menangani mereka, karena kami memang sudah mempersiapkan semuanya lebih dulu. diam-diam, prajurit bayanganku juga berpindah salah satu anggota sekte racun. di saat perjalanan menuju tempat pertemuan, tubuh yang didudukinya tidak sengaja mati. prajurit bayanganku kembali berpindah ke tubuh salah satu tetua sekte Darkdemon. di saat itulah aku menguping semuanya, mereka mengadakan suatu pertemuan. karena sosok yang sangat mengerikan tersebut mengundang mereka semua."
Qin Yan pun memandangi Weiqing. di saat semua orang mendengarnya dengan serius.
"aku sudah beberapa kali bertemu denganmu, dan tentunya aku juga sudah mengukur seberapa kuat dirimu Weiqing. tapi sosok tersebut sangat mengerikan, bahkan hanya dengan sekali tatapan, Cui Xie menderita luka parah tanpa bisa melawan."
semua orang langsung terdiam mendengar ceritanya, Yan Qinying hendak membantah lagi tapi Weiqing tetap menghentikannya. wajahnya gelap, masih ada gangguan di dalam ekspresinya. tatapannya masih menggali kebenaran dalam ucapan Qin Yan.
semua orang di ruangan itu masih tetap tidak percaya dengan perkataannya. hal itu cukup membuat Qin Yan agak kecewa. jika situasinya memang begitu, maka tidak ada lagi alasan bagi Qin Yan untuk tetap berada di sini. ia pun berdiri dengan wajah yang masam.
"baiklah, hanya itu yang aku sampaikan. percaya atau tidak, itu terserah kalian. yang penting aku sudah menyampaikan semuanya." Qin Yan pun berjalan kearah pintu. sebelum keluar, ia berhenti sesaat.
"oh iya, aku juga punya pesan. aku tidak peduli, kalian menganggapku musuh atau bukan. tapi apapun yang terjadi, buatlah persiapan untuk menghadapi bencana itu." Qin Yan keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.
semua orang termangu setelah ia pergi. kata-kata Qin Yan masih terngiang di telinga mereka. tidak ada yang mampu membuka mulut setelah itu, mereka tetap diam bahkan jika itu Yan Qinying dan Weiqing.
********
sebuah pos kecil, di mana sinar bulan begitu terang. menerangi kolam di bawah jembatan, menampilkan ikan hias di dalamnya yang berenang meskipun hari sudah malam. Qin yan bersandar disamping tiang. memandangi bulan purnama di atas langit, begitu indah hingga Qin Yan memandanginya cukup lama.
setelah itu itu ia pun menghela nafas, sambil mengusap wajahnya.
'kenapa tidak ada yang percaya padaku.' Pertemuan tadi ternyata sia-sia. bukan kerjasamanya dapat ternyata malah perundungan.
sial.
iya pun memandangi telapak tangannya, dengan tenang ia menutup mata. fokus.
asap hitam yang perlahan tercipta, keringat Qin Yan bercucuran membasahi wajahnya. berusaha membentuk asap tersebut.
"Ukhuk ukhuk!" namun ternyata ia gagal, sampai ia memuntahkan Darah segar. dadanya sakit, ternyata kekuatan jiwanya belum pulih. hingga ia belum bisa membangkitkan prajurit bayangan. ditambah lagi, tubuhnya melemah karena segel yang terus-menerus mengekangnya.
"Haaaaaaah....!!" ia kembali tak berdaya lagi, asap yang diciptakan hanya berbentuk burung. iya bahkan tidak ingat, kapan ia pernah membunuh burung ini dan kapan ia membangkitkannya.
"Keak! Keak!!" burung itu mengepakkan sayapnya, matanya yang merah menatap ke samping. seolah-olah melihat sesuatu.
Qin Yan ikut berbalik, wajahnya muram saat melihat sosok Weiqing yang ada di belakangnya. iya berdiri menatap burung itu.
"gagak kecil itu lumayan juga, dia bisa mendeteksi keberadaan ku." pria itu tersenyum, kemudian pandangannya beralih pada Qin Yan.
hanya saja, tanpa bicara sedikitpun. anak itu langsung berdiri dan beranjak pergi. iya tak mau diganggu saat ini.
"apa kau masih marah karena pertemuan tadi?" tanyanya dengan pelan.
Qin Yan berhenti sesaat.
"bukan urusanmu." iya berkata tanpa berbalik ke belakang. kemudian lanjut berjalan.
bukannya tersinggung, tapi saat ini Qin Yan memang sedang tak ingin diganggu. makanya iya ingin agar pria ini tidak mengganggunya lagi.
Weiqing pun tersenyum kecut sambil menggelengkan kepala.
"soal yang tadi, aku minta maaf
mewakili diriku dan mereka semua. mereka hanya mengeluarkan apa yang ada dipikiran mereka, bukan semata-mata membencimu. tapi, meskipun mereka semua tidak mempercayai perkataanmu. jangan patah semangat, jika kau butuh bantuan aku akan mendukungmu. aku mempercayaimu, jadi tolong berikan bagaimana cara menghadapinya."
Qin Yan tertegun sesaat, hingga menghentikan langkahnya. iya berbalik ke belakang, memandangi Weiqing dengan tatapan kosong. tapi setelah itu kembali berjalan. meskipun tak menjawab apapun, tapi tak bisa dipungkiri, suasana hati Qin Yan sedikit tenang setelah mendengarnya. iya bahkan tak bisa menahan senyumannya.
setelah jauh dari tempat tadi, Qin Yan berencana kembali ke tempat penginapannya. sepanjang jalan, menelusuri teras. burung bayangan yang bersembunyi di balik bayangan Qin Yan terus mengirimkan sinyal kepadanya. mengisyaratkan ada yang tidak beres, seolah-olah ada yang terus mengawasinya. Qin Yan berbalik ke sana ke sini, tidak ada siapapun. bahkan tidak mungkin Weiqing akan mengikuti dan membuntutinya. hanya saja ada yang aneh sejak tadi, sejak ia berjalan. seekor seekor burung gagak terus mengikutinya. tebang dan berpindah dari satu atap ke atap lain. setelah itu iya terus mengamati keberadaan Qin yan.
ternyata dia.
Qin Yan tersenyum tipis. meskipun begitu ia tetap berjalan, diam diam tangannya menyelinap ke dalam saku. cincin penyimpanannya mengeluarkan sebilah pisau.
"Siut" tanpa aba-aba dia langsung melemparkan pisau tersebut kearah burung gagak itu. sementara tangan kirinya mengeluarkan sepercik asap dalam seperkian detik.
"Keak!" burung gagak tersebut menghindar, hingga pisaunya tertancap di atas atap. ketika burung tersebut kembali hinggap, tubuh gagak itu tiba-tiba menegang setelah kakinya menyentuh permukaan atap. namun tidak lama kemudian, burung itu kembali normal.
melihat itu, Qin Yan tersenyum puas.
berhasil.
kemudian, iya lanjut pergi.
seperti tidak ada yang berubah, burung tersebut terus memperhatikan keberadaannya. Qin Yan sengaja memasuki paviliun yang dipenuhi banyak ahli maupun penjaga. hingga burung tersebut berhenti memperhatikannya.
diam-diam di balik jendela, Qin Yan memperhatikan burung gagak itu yang terbang menjauh.
'Ck, kembalilah ke tuanmu. Agar aku tahu, siapa yang berani membututiku.' Qin Yan menyeringai puas, tadi di saat ia melemparkan pisau kearah burung itu. di saat yang sama pula, burung gagak bayangannya juga keluar. dalam sebagian detik, memanfaatkan momentum dan keterkejutan. burung bayangannya tersebut telah menyelinap diam-diam di balik bayangan benda terkena bersinar bulan.
burung gagak tersebut terlalu fokus pada pisaunya, hingga ia tidak memperhatikan sebuah percikan bayangan telah mengincar bayangannya. bisa dibilang, rencana melempar pisau tersebut hanya pengalihan. dan hasilnya, sekarang Qin Yan hanya menunggu. siapa orang yang diam-diam mengawasi nya, sebagai tambahan ia juga dapat mematai matai pergerakan orang itu.
"Tuan, apakah ada yang bisa kami bantu?" seorang pelayan tiba-tiba menyapa, hingga Qin Yan tersadar dari lamunannya.
********
"keak keak" gagak tersebut hinggap kepada seorang pria yang mempunyai rambut setengah hitam dan setengah putih. rambutnya panjang dan diikat di belakang. salah satu matanya terdapat bekas luka sayatan pisau.
iya telah memulai rencana besarnya, makanya ia sengaja mengawasi anak itu. karena dalam rencana ini, satu-satunya yang diwaspadai adalah Qin Yan. baginya, anak itu lebih dari sekedar merepotkan. karena anak itu bisa saja menggagalkan rencananya, bahkan memutar serangan balik. makanya mereka harus berhati-hati dalam menjalankan rencana ini agar mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.
tapi, memikirkan ketika Qin Yan menyadari keberadaan gagak ini. membuatnya agak tak nyaman, pikirannya dipenuhi kegelisahan. meskipun anak itu gagal menangkap gagak ini. tapi ia curiga, setelah melakukan penyerangan tiba-tiba. dia seketika kembali normal, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. padahal Rong Qiyu tahu, kalau anak itu singgah ke paviliun demi menghindari pengawasannya.
"Hm...." iya pun mulai berpikir keras, memikirkan apa yang direncanakan anak itu.
namun tiba-tiba tubuhnya menegang. Rong qiyu langsung tergesa gesa menuju kamarnya. aura mengerikan memenuhi ruangan itu, Rong Qiyu langsung berlutut satu kaki di depan sebuah cermin hitam cela dimensi.
"Dewaku." ucapnya dengan penuh hormat, iya bahkan bersujud kepadanya.
"bagaimana perkembangannya?" tiba-tiba suara yang terdengar di balik cermin tersebut.
"Ka-kami sedang memantau situasi. Tenang saja tu-........!"
"Swoosh"
belum sempat Rong Qiyu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba angin berhembus. tangan kanan Rong Qiyu langsung menghilang.
"Ukh.....!!!" sontak pria itu langsung berteriak sambil memegang bahunya yang kesakitan. tapi dia tidak berani berteriak, jika mau mulutnya baik-baik saja. yang bisa dilakukan hanya menahan rasa sakit, sambil tertunduk penuh ketakutan. keringat bercucuran, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil.
"aku tak suka jalan yang lambat, cepat temukan benda itu jika kau tak ingin mati."
Rong Qiyu langsung mengangguk dengan cepat, iya tak berani lagi berbicara jika tidak diizinkan. sampai akhirnya iya pelan-pelan keluar dengan cara yang sopan dan penuh rasa hormat.
"tunggu."
tiba-tiba wajah Rong Qiyu pucat sekali lagi. sebuah tangan hitam yang dipenuhi kuku tajam keluar dari cermin tersebut. burung gagak yang dari tadi tinggal di atas bahunya tiba-tiba tertarik. dan menuju ketangan itu.
"Plop" dalam sekejap gagak itu mati menjadi tumpukan daging, ketika tangan itu merunyamkan tubuhnya.
Rong Qiyu yang melihat itu tidak bisa apa-apa, dia hanya diam menyaksikan hewan kesayangannya mati begitu saja. bagaimanapun, dia tidak akan berani. bahkan jika itu hanya berbicara.
"Hmm.....?"
tidak lama kemudian, sosok itu menampilkan wajahnya yang hitam dan bermata hijau. dua buah tanduk merah menjulang di atas kepalanya. melihat asap mengepul tangannya, sebuah ketertarikan tersirat terlihat begitu jelas diwajah sosok itu.
"apa ini? rasanya aku pernah lihat."
"Tu-tuan, itu adalah prajurit bayangan. prajurit yang dibangkitkan dari roh seseorang yang sudah mati." Rong Qiyu tiba-tiba menjelaskan. jelas sekali ketika ia melihat sosok itu sangat tertarik dengan keterampilan yang dimiliki Qin Yan. Ia begitu senang. hanya saja disaat bersamaan, iya juga bingung bahkan sosok itu tidak tahu jenis keterampilan yang Qin yan miliki.
bukan hal yang wajar jika seseorang merasa iri ketika melihat sebuah keterampilan fantastis yang tidak bisa digunakan oleh sembarang orang. selalu ada rasa tamak dan rasa ingin memiliki setiap apa yang dimiliki oleh orang lain.
biasanya nya Rong Qiyu akan mendapatkan semua keinginannya jika ia mau. namun sangat berbeda dengan apa yang ia alami kali ini, sebuah keterampilan luar biasa yang belum pernah ia lihat sebelumnya. keterampilan yang bisa membangkitkan jiwa dan roh, bahkan bisa membentuk pasukan. memiliki rasa kepatuhan yang mutlak. bahkan kekuatannya tidak kalah kuat dengan para cultivator. dimiliki oleh seorang anak yang tidak dikenal. betapa ingin sekali Rong Qiyu menginginkan kekuatan itu.
sebuah keterampilan yang mirip dengan proses newcromantic, pembangkitan mayat, menghidupkan jiwa. tapi jelas sekali kalau keterampilan ini jauh lebih kuat dari tiga keterampilan itu. sungguh luar biasa, otomatis orang yang memilikinya akan menjadi penguasa.
tapi siapa yang menyangka, tidak mudah untuk mendapatkan kekuatan itu. bahkan untuk pencarian selama ini, Rong Qiyu sudah mengerahkan seluruh kartunya untuk menyelidiki keterampilan itu. namun semuanya sia-sia, tidak ada sejarah yang menuliskan tentang keterampilan itu. iya heran bagaimana cara Qin Yan mendapatkannya.
walaupun selama ini ia sadar, kalau bukan hanya dia yang tertarik dengan keterampilan itu. namun kali ini ia tidak menyangka, dewanya yang sangat berkuasa dan kuat ternyata juga tertarik dengan keterampilan itu. Rong Qiyu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, iya akan menggunakan kesempatan ini untuk menggali informasi tentang keterampilan itu.
"Tu-tuan apakah anda tahu sesuatu tentang itu?." Rong Qiyu bertanya dengan pelan, iya begitu gugup sekaligus takut kalau sosok itu akan menyerangnya lagi.
untungnya sosok tersebut hanya menggeleng, namun terlihat jelas ketertarikannya semakin meningkat.
"cepat jelaskan, sebenarnya apa ini?"
Rong Qiyu pun perlahan menjelaskan, apa sebenarnya keterampilan itu. sampai ia menyebutkan kalau Qin Yan lah pemilik keterampilan tersebut.
"Hm.... jadi kau bilang pemilik ini adalah seorang anak umur 17 tahun?"
"Ya. tuan. meskipun dia masih remaja, tapi dia tak bisa diremehkan. pengetahuannya di luar batas, sebenarnya dia adalah ancaman terbesar dalam rencana ini, tuan."
mendengar itu mata sosok itu jadi menyipit, ia mengelus dagunya dengan penasaran siapa sebenarnya anak bernama Qin Yan ini.
asap kecil di tangannya, berusaha melarikan diri. namun dalam cengkraman sosok itu, iya tak bisa kemana-mana.
"Hmm....!" ternyata sosok itu dari tadi sudah berusaha untuk memiliki roh itu. namun setelah berpikir sesaat, kalau roh itu hanya ekor burung. iya jadi tidak terlalu tertarik, ditambah lagi ia menyadari sesuatu. kalau roh anak itu ada disini, berarti dia sedang memata-matai mereka.
sebuah seringai mengerikan terpancar dari wajah sosok itu. tangannya mengeluarkan tekanan yang sangat luar biasa, sampai roh itu gemetar tak terkendali.
"Spssh" roh itu langsung hancur dibawa genggaman sosok itu.
"Akh... Ukhuk ukhuk!" di saat yang bersamaan, Qin Yan yang tengah membeli selusin kertas untuk persiapan membuat pola prasasti. tiba-tiba tersungkur di lantai.
dadanya sakit dan sesak, dan ia tidak berhenti memuntahkan darah.kertas-kertas yang ia pegang jadi berhamburan di lantai.
"tuan, apa yang terjadi dengan anda." salah satu staf petugas datang membantu Qin Yan, meskipun ini tengah malam. namun paviliun ini tetap begitu ramai, karena para murid dari berbagai kerajaan datang ke tempat ini untuk menghadiri sebuah pelelangan yang akan diadakan sebentar lagi.
biasanya pelelangan yang diadakan pada tengah malam, mempunyai pengunjung yang bukan berasal dari kalangan biasa. hanya beberapa saja yang tahu dan diundang dalam pelelangan ini. itu di karenakan item yang akan dilelang kan juga bukan item biasa.
apa yang terjadi pada Qin Yan telah menarik perhatian banyak orang. dalam sekejap mata, semua orang sudah berkumpul mengelilingi Qin Yan. semua pandangan jadi tertuju padanya.
"Oh, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sana." seorang gadis berambut nila panjang, wajahnya tertutup topeng. berbalik ke kerumunan tersebut.
"Kakak, ayo kita lihat." gadis itu menarik tangan kakaknya yang juga merupakan seorang perempuan. diikuti dengan dua gadis lainnya.