LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Berita besar


"Brak" Situasi yang sama juga terjadi didalam sekte Racun. Han genyu membombardir seluruh barang diruangannya.


"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!!" Tangan Han genyu menggigil karena marah, matanya merah bergenang. Emosi yang cukup melonjak tak bisa ia tahan.


"Apa yang dilakukan Wuang sheng! Dan ketiga tetua klan kita!! Kenapa mereka tidak becus mengurusi kerajaan kecil itu. Tidak mungkin kalau sekte anak itu jadi begitu hebat hanya dalam dua tahun. Masuk akal dimana?" Han genyu menggenggam kayu didepannya, kayu itu leleh karena racun yang ia miliki. Dibelakangnya, salah satu jenderalnya yang juga berada ditingkat Kaisar hanya berlutut dengan penuh ketakutan.


Disekte Darah Merah Neraka juga mendapati situasi yang sama. Mereka semua sedang heboh akibat berita yang mereka dapatkan.


"Ba-bagaimana ini mungkin?" Para tetua tak bisa menahan diri untuk meledakan keterkejutan mereka. Mereka tercengang dengan mata membesar. Punggung mereka sudah basah oleh keringat. Apalagi saat melihat ekspresi Chi tae yang diam dan wajahnya yang gelap. Hal itu membuat mereka makin ngeri.


"Tu-tuan, apa yang harus kita lakukan!!!" Salah satu mereka ada yang berani bertanya dengan nada pelan.


"Slash" Namun tiba tiba orang itu langsung tertikam besi hitam yang melesat. Sampai ia tertancap didinding.


"Aakh....!!" Ringis tetua itu dengan pelan, besi itu perlahan melelehkan tubuhnya karena adanya energi kehancuran.


"Diamlah, tidakkah kau lihat aku sedang berpikir!!!" Teriak Chi tae dengan wajah marah, ia tidak tau dimana lagi harus melampiaskan kemarahannya ini.


"Tenanglah Chi tae, melampiaskan kemarahanmu pada sesama anggora sekte kita tidak akan mengubah situasi. Malah akan semakin merugikan kita." Pelan pelan, seorang kakek yang sangat tua berjalan dimendekati Chi tae. Ia memegang bahu pria itu, berusaha menenangkannya.


"Tapi aku harus bagaimana? AAAAARRRGGHH!! Aku menyesal mengapa aku tidak membunuhnya saat itu, kenapa! Kenapa! Hah... hah...." Chi tae jadi sesak napas karena emosinya.


"Sekarang sudah terlambat, aku tidak menyangka kalau kekuatan anak itu akan meningkat pesat bahkan ketika dirinya tidak mempunyai kultivasi lagi." Kedua tangan Chi tae terkepal.


"Aku tidak boleh diam saja, kita harus menuntut balas!!" Lanjutnya lagi, ia berdiri dengan cepat, hendak pergi. Namun tetua itu menghentikannya.


"Jangan, berita ini pasti sudah menyebar. Sekte lain pasti tidak akan tinggal diam." Ucap kakek itu dengan khawatir, takutnya kalau Chi tae berbuat sesuatu yang tidak tidak, karena terlalu emosi.


"Jadi kita harus bagaimana!?" Nada suara Chi tae jadi meninggi, ia tidak bisa menahan rasa marahnya. Makanya ia menatap kakek itu dengan geram.


"Chi tae, kita harus menangani ini dengan kepala dingin. Sia sia jika pergi tanpa persiapan. Kita pasti akan kalah dan itu akan benar benar sangat memalukan. Oleh karena itu, untuk sementara ini. Mari kita mempercepat proses tubuh barumu. Dengan itu kekuatanmu yang dulu akan kembali bahkan akan lebih tinggi lagi."


Mendengar penjelasan kakek itu, amarah Chi tae pelan pelan mereda. Ia pun tetap berbalik dan meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apapun.


Benar saja apa yang mereka pikirkan, berita tersebut menyebar sangat luas. Berita tentang kerajaan kecil memenangkan peperangan dari kepungan tiga sekte mencengangkan seluruh benua. Sungguh benar benar diluar akal sehat, bagaimana bisa kerajaan sekecil itu bisa mengalahkan ketiga sekte. Padahal selama ini mereka banyak mendengar, kalau kerajaan itu terus menerus ditekan oleh kerajaan Kalise. Tapi kenapa sekarang bisa seperti ini.


"Ttak" Sebuah gelas teh terjatuh dan pecah diatas lantai. Yan Qingying, master sekte Bunga, tidak percaya dengan surat yang ia baca.


"A-apa! Sebuah Sekte dikerajaan kecil berperang melawan tiga kepungan sekte? Da-dan peperangan dimenangkan oleh mereka." Dahi Yan Qinying sudah di basahi oleh keringat.


Karena mendengar sebuah benda pecah, seseorang langsung masuk kedalam. Seorang gadis berkaki jenjang, putih dan mulus. Dengan rambutnya yang diikat, masuk kedalam ruangan dengan penuh hormat.


"Master, ada apa? Apa ada yang sesuatu masalah yang terjadi." Suara itu sangat lembut, ia membungkuk hormat padanya.


"Yun zhi, persiapkan dirimu. Kita akan berangkat kesuatu kerajaan."


Perkataan Yang Qinying membuat mata Yun zhi membesar, ia menatap masternya dengan heran. Namun tidak bisa membantah apapun.


*


"Slash slash" Terlihat seorang pria berambut hijau tengah berlatih memonton air terjun dengan pedang kayunya. Tak perduli seberapa malam itu, atau berapa kali pun ia mengayun. Tetap tidak ada raut ekspresi apa apa diwajahnya. Ia hanya tenang, diam, dan tatapan matanya menunjukan tekad yang kuat.


"2.459.... 2460..." Ucapnya sembari mengayunkan pedang kayunya. Saat diayunan terakhir, pedang itu tiba tiba bersinar hijau dan akhirnya mampu memotong aliran air.


"Srak" Tiba tiba semak semak dibelakangnya jadi bergoyang. Pria itu berbalik dengan waswas.


"Siapa." Ucapnya cukup keras, tatapan matanya tajam. Namun tidak lama kemudian ia kembali santai. Ternyata adik perempuannya yang mendatanginya.


"Xuan Mui, Ada apa datang kesini?" Tanyanya dengan suara rendah.


"Kakak, master memanggilmu."


Mendengar ucapan adiknya, alis Xuan Ziwei jadi berkerut. Kenapa masternya memanggilnya. Ia pun mengangguk, kemudian adiknya pergi. Setelah itu, ia juga pergi kearah bangunan sekte Pedang.


"Krieek" Pintu dibuka pelan, Xuan Ziwei masuk kedalam.


"Master." Dia membungkuk hormat pada seorang pria berjanggut panjang didepannya. Pria itu, ia tampaknya sedang banyak pikiran. Bahkan, Xuang ziwei bisa melihat jelas. Kalau punggung masternya basah oleh keringat.


Apa yang terjadi pada masternya, Xuan Ziwei mulai penasaran.


Kemudian pria tua itu duduk dikursinya, ia menatap Ziwei lekat lekat.


"Hm.... Ziwei Kau pernah mengatakan padaku, kau pernah bertemu Qin yan." Tanyanya. Xuan ziwei mengangguk sebagai responnya.


"Ya master."


Ziwei bingung, mengapa masternya tiba tiba bertanya tentang hal ini. Namun dari raut wajah master yang serius, ia yakin kalau sedang ada masalah.


"Kau yakin tidak mencari masalah dengannya?" Masternya bertanya lagi, kali ini matanya menyipit menatapnya. Membuat Ziwei agak berkeringat, ini membuat Ziwei agak merasa tegang. Apa yang terjadi sebenarnya.


"Sumpah master, aku tidak mencari masalah dengannya. Malah waktu itu kami sempat bekerja sama."


Mendengar jawabannya yang terdengar jujur, kakek itu akhirnya menghela napas lega. Kemudian mengangguk sendiri.


"Itu bagus, aku tidak berharap kita bermusuhan dengannya."


Ziwei langsung menatap masternya, penasarannya makin menjadi jadi.


"Ma-master, kalau boleh tau. Apa yang terjadi sebenarnya?" Ia mulai memberanikan diri untuk bertanya.


Perlahan kakek itu menghela napas panjang. Kemudian pun menjelaskan.


"Begini, aku baru mendapat berita yang mengguncangkan dunia."


"Apa!" Ziwei langsung terkejut mendengarnya.


"Apa ini berkaitan dengan Qin yan?"


"Mungkin, kali ini ada sebuah kerajaan kecil dibagian timur. Katanya kerajaan itu memenangkan perang melawan kepungan tiga sekte. Padahal selama ini kerajaan itu selalu ditekan oleh kerajaan tak terlalu besar disampingnya."


"Hah!" Ziwei makin terkejut mendengarnya.


"Aku menduga ini adalah ulah anak itu, tidak mungkin ada yang lainnya. Tapi bagaimana bisa, anak itu mampu melawan tiga pasukan sekte sementara dirinya dalam keadaan tersegel. Ini benar benar tidak masuk akal. Namun, dalam pesan ini. Tertulis, dikerajaan itu terdapat sebuah sekte yang bernaung." Lanjut masternya lagi.


Ziwei langsung termenung mendengarnya. Sekte? Siapa juga yang tidak mengerti. Kata itu dipasangkan dengan kejadian dua tahun lalu maka masuk akallah sudah. Ini benar benar mengejutkan dunia, Qin yan membangun sektenya hanya dalam dua tahun dan dia berhasil mengalahkan kepungan tiga sekte. Sungguh benar benar menakjubkan.


"Ja-jadi....." Ia sendiri tak bisa berkata kata. Masternya jadi berbalik dan menatap bintang bintang diatas langit.


"Ya, aku tak berharap. Kau mencari masalah dengannya. Jangan pernah cari masalah dengan orang yang belum kita tau identitasnya. Baik itu lemah atau tidak mempunyai kultivasi, pokoknya jangan menyinggung siapapun yang tidak mencari masalah denganmu. Bisa jadi kau tanpa sadar menyinggung dirinya yang sedang menyamar."


"Baik master!" Ia pun keluar dari pintu.


*


"Kacau kacau kacau! Aku tak menyangka, perasaan tidak enak hari ini rupanya dari sana." Berkata Weiqing ketika mendengar berita itu, ia tidak menyangka. Mengapa Qin yan membuat kekacauan lagi. Padahal ia sudah membuat perjanjian.


"Aaaarrgghh... Pusing jadinya kalau begini." Ia pun berjalan bolak balik didepan tempat duduknya sendiri. Memikirkan sesuatu dengan dengan tangan dibelakang.


Didepannya terdapar pria tua yang sangat gemuk, penuh tumpukan lemak dan matanya seperti celah kecil. Pria tua gemuk itu sebenarnya adalah gurunya, namun Weiqing bahkan tidak memperhatikannya.


"Hm.... Kau sepusing itu memikirkannya? Bukankah perjanjiannya dulu mengatakan jika dia tidak akan membuat kekacauan. Tapi sekarang terdengar berita ketiga sekte mengepung kerajaan, mungkin anak itu tengah melindungi kampung halamannya." Berkata pria gemuk itu dengan santai, menyandarkan pipi lemaknya ditangan sambil menikmati segelas teh.


Mendengar itu, Weiqing mengangguk.


"Hm... Hanya satu jawabannya. Kita harus mengeceknya langsung." Dengan cepat Weiqing jadi keluar, pria gemuk itu tiba tiba berdiri dan menyusulnya.


"Hei, tunggu aku. Kita lihat bersama sama."


*


Kerajaan Zhongtian, istana Hamparan surga.


Sangguan Tianyang berdiri diatas kerajaannya yang mengambang diatas langit. Tatapannya menyipit kearah Timur.


"Hm... Mungkin Weiqing sudah pergi mengecek tempat itu." Saudaranya datang disampingnya. Mengelus janggutnya dengan santai, benar saja. Diatas langit, ada siulet yang bergerak kearah kerajaan Sunmoon. Sayangnya, itu bukan Weiqing. Melainkan Xu shian yang pergi kearah sana. Pasti ia juga mendengar berita tersebut dan tanpa banyak kesabaran, ia langsung pergi ke tempat kejadian.


"Ayo, kita juga harus mengikutinya." Mereka berdua pun langsung menghilang dan melesat kelangit.


*


Dimalam yang penuh dengan kegelapan. Ketika semua orang sedang tercengang dengan berita yang menyebar. Tidak disangka, tragedi pembunuhan berantai terjadi tak terduga diistana kerajaan Kalise. Darah bersimbah dimana mana, banyak mayat yang tergeletak. Kebanyakan adalah anggota kerajaan.


"Hah.... hah.... hah...!" Pangeran ketiga, Jue li. Terduduk bersandar didinding, dengan napas tidak teratur. Ia memegang pedangnya yang sudah dipenuhi darah. Matanya perlahan tertutup, namun tatapannya mengarah kedepan. Keseorang anak remaja yang sudah kehilangan kepala.


"Thehehe..." Ia pun tertawa kecil melihatnya yang sudah tak bernyawa.


"Hahaha... Adik, aku tak tau. Apa yang sedang merasukimu. Namun nyatanya, kau mempermudah rencanaku. Sekarang kerajaan ini akan menjadi miliku. Aku akan memegang kendali atas kerajaan ini. Hahaha...." Tawa Jue li seperti orang gila, ia menatap banyak sekali mayat didepannya. Malam ini, kejadian yang terduga terjadi. Raja tiba tiba meninggal dunia dan Jue ji menggila, membunuh anggota kerajaan termasuk ibu kandungnya sendiri.


Akibatnya, terjadi pertarungan antar anggora kerajaan. Semuanya tak menduga, kalau adik mereka yang selama ini dikira paling lemah ternyata begitu kuat. Hingga mampu membunuh putra mahkota, dan kakak kedua. Sungguh diluar dugaan. Hal itu mengundang kemarahan dari saudara lain, bahkan penatua kerajaan, jenderal, panglima serta perdana menteri ikut bertarung. Hasilnya, Jue ji berhasil dibunuh. Namun sebagai gantinya ia berhasil meruntuhkan hampir semua kekuatan istana dan bahkan hampir membunuh seluruh keluarga kerajaan. Jika Jue li tidak bersembunyi sedemikian rupa, mungkin ia takkan punya kesempatan untuk membunuh anak itu. Akhirnya, tidak ada pewaris lain selain dirinya. Otomatis ia akan memegang kendali kerajaan ini dan menyebarkan rumor kalau Jue ji menggila dan membunuh semuanya. Disaat yang sama ia akan menjadikan dirinya sebagai pahlawan. Sungguh rencana yang bagus.


"HAHAHAHA....!!!!"


Disaat ia tertawa bahagia, sebuah asap hitam keluar dari tubuh Jue ji yang sudah kehilangan kepala. Asap itu menghilang tanpa diketahui siapapun.


"Ukhuk ukhuk" Tiba tiba juga, Qin yan terbatuk dari dalam pingsannya. Keningnya berkerut saat asap hitam itu masuk kedalam dahinya.


"Hm...." Yao chen juga merasakan itu, seorang prajurit bayangan masuk kembali didalam tubuh pemiliknya. Ia pun mencoba menyentuh dahi Qin yan, berusaha menarik kembali prajurit bayangan itu. Ingin mengetahui, informasi apa yang dibawa olehnya. Sayangnya, selain Qin yan sendiri. Tidak ada yang bisa memanggil prajurit itu ataupun berkomunikasi dengan mereka. Yao chen agak kecewa. Namun tiba tiba ia merasakan sesuatu yang salah.


Dia pun keluar dari tenda, tatapan matanya sangat tajam dan serius.


"Jangan bersembunyi terus, keluarlah." Ucapnya dengan dingin. Tak lama kemudian, sebuah candaan pun terdengar.


"Weiqing, aku menang. Sudah kubilang pria ini bukan orang biasa. Dia bisa mendeteksi keberadaan kita." Seorang pria gemuk keluar entah darimana, lalu diikuti Weiqing dibelakang.


"Bagaimana, sekarang kau harus menyerahkan wine yang kau sembunyikan." Senyum pria gemuk berseri seri, sementara tatapan Yao chen tetap tenang dan dingin walaupun mengetahui mereka sudah keluar.


Merasakan suasana yang tak berubah, Weiqing dan pria gemuk itu jadi ikut serius. Weiqing maju menghadap kepada Yao chen, sementara pria gemuk itu memperhatikan daratan yang rata.


"Aku tak menyangka ada sesuatu yang besar terjadi disini. Kulihat juga, kerusakan kerajaan ini cukup parah." Weiqing memandangi kerajaan Sunmoon yang tak mempunyai apapun lagi, ia mencoba memulai perbincangan dengan orang ini.


Namun Yao chen tetap diam meresponnya. Ia tetap berdiri disana guna menjaga keselamatan Qin yan kalau terjadi apa apa.


Suasana jadi canggung karena perkataan Weiqing tidak dijawab. Itu kelihatan wajar, karena mereka belum sempat memperkenalkan diri dan butuh waktu untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Ditambah dengan sikap Yao chen yang pendiam, sulit baginya untuk bercanda.


Weiqing hendak mengatakan sesuatu, namun guru gemuk di belakangnya tiba tiba memanggilnya.


"Hei, Weiqing. Coba lihat ini, kau pasti tidak akan menyesal." Terlihat kekaguman diwajahnya gemuk. Melihat itu, Weiqing jadi penasaran. Ia kemudian mendekat kearahnya, rupanya sesuatu yang membuatnya terkejut sekaligus kagum.


"Lihatlah ini, desain dan struktur bangunan ini tidak kalah dengan keindahan istana es suci dan istana Hamparan Surga. Luar biasa, aku tak pernah membayangkan kalau bangunan ini berdiri hanya dalam waktu dua tahun." Puji pria gemuk itu dengan penuh kekaguman, Weiqing disamping juga hanya memandangi sekte Istana Niwan dengan mulut ternganga.


Melihat itu, Yao chen perlahan berjalan kearah mereka berdua. Tatapannya masih tidak berubah, tenang dan sedingin es.


"Aku yakin kalian datang kesini bukan hanya memandangi sekte kami." Yao chen sedikit menekankan ucapannya. Ia tidak ingin kedua orang ini bermain main lagi.


Weiqing pun mengangguk serius. Ia pun meletakan kedua tangannya dibelakang.


"Aku hanya ingin bertanya satu hal. Kenapa ketiga sekte datang dan menyerbu kerajaan ini?"


Yao chen tetap tenang, ia menghela napas sembari menutup mata.


"Aku yakin kalian sudah mendengarnya, mereka mengacaukan pernikahan adik Qin yan. Tidak mungkin bagi kami untuk tidak melawan." Jawabnya.


"Aku mengerti itu, tapi tidak mungkin jika mereka menyerang kerajaan ini tanpa alasan. Mereka pasti telah menyadari keberadaan anak itu." Weiqing bertanya lagi.


Yao chen pun mengangguk.


"Ya, tentu. Mereka sudah mengetahui keberadaan Qin yan karena ada mata mata disini sejak sebelum kami datang. Dari dulu kerajaan ini selalu menjadi incaran mereka. Mereka mengincar harta istimewa yang disembunyikan dikerajaan ini. Karena itu, Qin yan terpisah dengan keluarganya akibat gejolak perang beberapa tahun lalu. Dan sekarang mereka datang lagi karena tahu kalau benda yang mereka incari dijadikan mahar kepada sang pengantin. Tentunya kami tidak tinggal diam setelah tau itu, apalagi kami merasa kalau identitas kami telah terbongkar maka siap atau tidak kami harus menyusun rencana untuk bertahan dan mengusir mereka. Sayangnya, kami kehilangan semuanya. Namun untungnya karena rencana matang, warga kerajaan ini berhasil dievakuasi."


Mendengar penjelasan Yao chen yang panjang lebar membuat keduanya terdiam. Weiqing tahu, kalau pria ini tidak suka berbohong. Dan anak itu tidak mungkin mengingkari janji hanya untuk membuat kekacauan. Ditambah lagi, medan perangnya ada dikerajaan ini. Yang mereka lakukan yaitu bertahan dan mengusir para musuh. Ini mengingatkannya pada pengalamannya di masa lalu.


"Begitu rupanya, bolehkan aku melihat keadaan anak itu." Ujar Weiqing.


Perkataannya, membuat Yao chen menatapnya dengan mata sedikit menyipit. Ia curiga, kalau Weiqing mulai mencurigai mereka. Tatapan Weiqing yang tenang dan tak menunjukan niat tersembunyi tidak cukup membuat Yao chen percaya. Ia pun menggelengkan kepala, menunjukan penolakan.


"Setahuku, kau tidak punya urusan dengan Qin yan. Jadi, untuk apa kau melihatnya?" Pertanyaan Yao chen membuat alis Weiqing jadi berkerut.


"Kau mencurigai kami?" Weiqing tidak habis pikir, padahal beberapa kali ia pernah membantu Qin yan. Karna baru pertama kali bertemu Yao chen, ia jadi tidak tau siapa dia. Ia heran, mengapa Qin yan tidak pernah menceritakan tentang dirinya padanya.


Yao chen jelas tau siapa orang yang ada didepannya ini. Mulai dari pertama kali bertemu, Yao chen sudah merasakan kekuatan dari orang ini. Seharusnya ia merupakan sosok penting dalam hidup kali ini, jika saja Weiqing mengetahui tentang dunia luar. Mungkin kultivasinya tidak akan hanya berada ditahap Demigod. Tapi ketahap yang lebih tinggi lagi.


Yao chen pun menghela napas, tatapannya tetap berubah.


"Lalu apa yang dilakukan mereka, kenapa mereka semua bersembunyi?" Aura Yao chen naik, mulai melakukan penekanan.


Karena auranya, beberapa orang langsung keluar. Sangguan Tiangyang dan saudaranya, Yan qinying, Yun zhi, serta Xu shian.