
Qin Yan menghela napas, percakapan pun berlanjut sampai selesai.
Sekarang, Qin Yan telah berjanji pada dua wanita sekaligus. Untuk memiliki mereka. Dan itu tentunya bukan hanya janji biasa. Ia akan memenuhi janji itu.
Ketika Qin Yan pulang. Waktu hampir mendekati fajar. Qin Yan masuk kedalam penginapan diam diam dan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk tidur.
"Tok tok"
Namun, belum juga Qin Yan tidur. Suara ketukan pintu pun terdengar. Qin Yan sudah berusaha memejamkan mata, kini membuka mata yang merah dan kantung hitam yang mengerikan.
"Tuan, ini aku.." Suara Xiang Xiang terdengar diluar.
Entah kenapa, Qin Yan yang malas jadi bersemangat lagi. Ia ingin membuka pintunya. Namun, tubuhnya yang lelah dan ngantuk, membuat Qin Yan tak sanggup. Ia pun tetap membenamkan dirinya keatas kasur tanpa menghiraukan salam Xiang Xiang yang sudah berkali kali.
Di luar, Xiang Xiang berdiri dengan wajah cemas. Ia yakin Qin Yan ada dikamarnya, tapi mengapa dia tidak membukakan pintu? Apa yang terjadi dengannya? Xiang Xiang jadi khawatir. Nampan ditangannya yang berisi sarapan hampir terjatuh.
"Bagaimana Xiang Xiang. Apa dia keluar?" Tanya Lin Fin. Ia juga heran mengapa Qin Yan tidak merespon panggilan Xiang-xiang. Oleh karena itu ia keluar untuk bertanya.
Xiang Xiang menggeleng dengan khawatir. Ia benar benar cemas dengan apa yang terjadi.
Tidak lama kemudian, Tang Liu keluar. Lalu Xiu Xiu dan adiknya. Yang lain juga mengikuti hingga mereka sekarang berdiri didepan pintu kamar Qin Yan.
"Kenapa kalian berdiri disana? Kalian tidak bersiap siap?" Lu Xian datang membawa pacar baru yang ia dapatkan di kota ini. Berharap agar muridnya bisa tercengang dan memujinya. Namun ia tak menyangka kalau mereka malah terlihat biasa saja dan lebih cenderung seperti memikirkan hal lain.
"Apa yang terjadi?" Merasa ada yang salah. Ia pun ikut khawatir. Ia kemudian melepaskan gandengan pacarnya. Dan menuju ke Lin Fin dan lainnya.
"Bos tidak keluar meskipun kami memanggilnya berkali kali. Kira kira apa yang terjadi yah?" Jawab Lin Fin sambil menggaruk pipinya dengan pelan.
Situasi yang sama terjadi pada Yun Zhi di penginapan mewah milik kerajaan Greenland. Murid murid akademi berdiri didepan pintu dengan bingung. Terutama Shi jang. Ia melihat sendiri, Yun Zhi pulang pagi ini.
'Aneh, nona Zhi pulang dengan tergesa gesa. Dan ekspresinya terlihat aneh.' Pikir pria itu, ia pun kembali mengetuk pintu. Namun sama sekali tidak ada tanggapan di dalam sana.
Bukan dihiraukan, Yun Zhi memang tidak mendengarnya. Ia membenamkan kepala kedalam bantal dengan wajah yang memerah. Perasaannya yang bahagia bahkan menutupi Indranya untuk mendengar suara.
*******
Karena sudah lama Qin Yan tidak menyahut. Lin Fin memanggil Yao Chen. Pria itu memang datang. Matanya menembus pintu kamar, melihat Qin Yan tertidur dengan malas. Ia pun menggelengkan kepala dengan menghela napas.
"Haish...." Ia membuka gerbang dimensi didepannya. Masuk dan keluar tepat didepan Qin Yan.
"Apa yang kau lakukan? Teman temanmu menunggu dengan cemas diluar." Tanyanya dengan kesal.
"Oh, benarkah? Hmm.... Tapi, aku malas sekali untuk beranjak dari surga ini." Jawab Qin Yan dengan malas. Memeluk guling dengan erat.
Yao Chen disana hanya berdiri seolah tak mendengar ocehannya. Ia pun mengeluarkan sebuah pil. Melemparkan nya ke arah anak itu.
"Cepatlah konsumsi itu. Upacara turnamen sebentars lagi dimulai. Teman temanmu telah menunggu diluar." Ia pun keluar lewat gerbang dimensi dan tembus didepan Lin Fin dan lainnya.
"Dia akan keluar sebentar lagi." Dengan mengucapkan beberapa kata itu. Yao Chen pun pergi meninggalkan mereka.
Lin Fin dan lainnya masih menunggu Qin Yan keluar.
Didalam, Qin Yan tengah tertidur. Matanya terbuka sedikit dan tertuju pada pil bersinar didepan matanya. Dengan cepat ia bangun. Mengambil pil itu. Memandangi bagaikan mutiara. Tidak lama ia tersenyum.
Qin Yan pun meminumnya. Rasa kesegaran bagaikan telah istirahat dan tidur semalaman. Energinya mengalir dan kepalanya jadi jernih seolah olah baru mandi air terjun yang menyegarkan. Wajahnya yang kusam, kini berubah menjadi cerah. Dan kulitnya pun ikut bersih dan bersinar.
"Tok tok."
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini Qin Yan tak menghiraukannya lagi. Ia pun bangun dan membuka pintu.
Dan benar saja perkataan Yao Chen, semuanya memang sudah berdiri diluar.
"Ada apa dengan kalian semua?" Tanya Qin Yan dengan bingung.
Belum lagi mereka sempat menjawab. Xiang Xiang sudah memeluknya.
Melihat kekhawatiran gadis itu. Qin Yan juga terkejut. Ia pun mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Lin Fin.
"Apa maksudmu?" Qin Yan semakin bingung dengan pertanyaan mereka. Memangnya apa yang dipikirkan mereka saat ia tidak membuka pintu.
"Maksudku, kenapa kau tidak membuka pintunya disaat kami mengetuknya berkali kali." Tanyanya lagi.
"Hah? Aku cuma tidur? Aku kelelahan." Jawab Qin Yan santai. Wajah Lin Fin dan Tang Liu jadi menghitam.
"Ti-tidur! Bajingan ini, ternyata dia cuma tertidur yah." Tang Liu mengepalkan tangannya dengan urat yang terlihat jelas. Lin Fin yang melihat itu, jadi menghindar. Ia tahu sifat gadis ini, hanya Tang Liu yang bisa memukul kepala Qin Yan dan memberi anak itu pelajaran.
Qin Yan yang melihatnya juga jadi menelan ludahnya. Ia melirik Lin Fin, dengan penuh keringat.
"Ah, aku harus bersiap siap dulu." Lin Fin pun lari terbirit-birit. Qin Yan melirik yang lain, tapi mereka juga pergi dengan alasan yang sama.
"Xiang Xiang, minggirlah dulu."
Xiang Xiang melepaskan pelukannya dengan patuh. Wajahnya juga gelap.
"Xiang Xiang." Panggil Qin Yan dengan wajah memelas.
"Tuan, anda berhak mendapatkannya." Ucap gadis itu dengan acuh tak acuh.
"A-apa!!" Qin Yan langsung terbengong. Bagaimana bisa Xiang Xiang berkata seperti itu.
"Hei, dimana matamu hah!" Panggil Tang Liu dengan tinjunya yang sudah melayang.
"Tu-tunggu Liu er!!"
"Bugh bugh bugh"
********
Qin Yan dan timnya akhirnya berangkat ke Stadion pertarungan. Anak itu, ia berangkat dengan beberapa benjolan dikepalanya. Meskipun terlihat memalukan, tapi tidak ada yang berani menertawainya.
Mereka semua pergi dengan didampingi Lu Xian. Guru pembimbing mereka. Mereka cukup turut berbahagia, karena guru yang mereka ternyata sudah menemukan pasangan hidup. Dan berbagai dukungan pun mereka berikan akan Lu Xian bisa segera menikah dengan kekasihnya.
Sementara Qin Yan, ia juga ikut berbahagia. Namun, entah kenapa Tang Liu selalu mengawasinya sejak tadi. Ia heran apa yang membuat gadis ini bertingkah seperti ini. Dan juga, semakin dilihat pun, ekspresi gadis itu semakin lama semakin menakutkan. Qin Yan kira, setelah apa yang terjadi malam itu. Gadis ini akan bersikap lembut padanya. Tapi malah ia bertambah galak.
Saat Qin Yan tengah berpikir. tiba tiba ia merasakan seluruh tubuhnya dingin. Salju putih turun memenuhi mereka. Mereka melihat kesana sini. Ternyata murid kerajaan Glasier yang melewati mereka.
Terlihat, Ling Qingzhu yang memimpin. Namun wajahnya begitu dingin. Tidak bisa dipungkiri, dia benar benar seperti peri es Dimata semua orang. Gaya bajunya elegan, dan dia benar benar anggun. Terasa, seperti tidak ada kelemahan pada diri gadis itu. Karena semua orang tidak pernah melihat sisi feminimnya.
Hanya Qin Yan yang tahu. Bagaimana sikap gadis itu sebenarnya. Dan bukan hanya itu, ia sudah mengenalnya jauh lebih lama dari siapapun.
Hanya saja, gadis ini selalu cuek padanya. Apa yang sebenarnya terjadi. Qin Yan pun bingung dibuatnya. Kesalahan apa yang ia buat, hingga dia jadi seperti itu.
Tapi, ketika melihat Qin Yan. Gadis itu langsung mengeluarkan keangkuhannya. Qin Yan pun sekali lagi bingung. Apa yang terjadi juga dengannya. Ia melihat tatapan gadis itu, seolah olah memusuhinya. Qin Yan ingat, ia tidak pernah mencari masalah dengan gadis ini. Jadi apa yang terjadi sebenarnya?
Dibanding Qin Yan yang menatap mereka dengan aneh. Orang orang disekitar mereka malah menatap mereka dengan mata berbinar. Selayaknya melihat idola mereka.
Tim tersebut pergi dengan langkah yang cepat. Tim Qin Yan pun sampai ditinggalkan dibelakang.
"Ayo cepat, kita harus pergi menyusul mereka." Qin Yan langsung berkata dengan tegas. Mereka pun bertambah semangat.
********
Untuk babak eliminasi ini, ada 21 kerajaan yang berhasil bertahan. 12 diantaranya adalah kerajaan yang berada dibawah naungan sekte. Sementara yang lainnya yaitu kerajaan Angin barat, kerajaan Angin salju, kerajaan Feili, Tian Lei, dan kerajaan Dandun. Bahkan untuk kerajaan kerajaan yang pernah kalah dipertarungan sebelumnya berhasil mengumpulkan poin. Qin Yan bahkan melihat wajah Fi Ang dan Ma Quin dari kerajaan Sindran. Apalagi wanita berotot itu, ia memandangi Qin Yan cukup lama dengan tatapan tajam.
Untuk kerajaan lain, kerajaan seperti Asmosfos dan Kerajaan Geihana juga berhasil masuk ke babak eliminasi ini. Meskipun sebelumnya mereka juga mengalami kekalahan.
Untuk satu tim tersisa, Qin Yan baru melihat. Ternyata ras Elf mengikuti turnamen ini. Mereka berbaris dibarisan kerajaan paling teratas. Dan yang lebih parahnya lagi. Qin Yan pelototi oleh gadis elf yang ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Xiao Xin er ikut terlantar di kerajaan Glasier sewaktu insiden kemarin.
Qin Yan menggaruk garuk kepalanya dengan resah, berpura pura tak melihat mereka. Ia seperti menjadi pusat perhatian hari ini . Dibagian kiri, ada Chen yue dan Tang Xinglian. Di bagian kiri, ada Xu Jiu Jiu dan Xu mier. Dibagian manapun itu tetap ada yang memperhatikannya. Bahkan hampir semua orang diam diam memperhatikannya.
"Tampaknya ia menyadarinya, tanpa sadar ia telah menjadi pusat perhatian." Ucap Weiqing yang berada di atas sana. Mereka juga memperhatikan gerak gerik Qin Yan.
Chu Yuechan hanya menjawab dengan malas.
"Bahkan, meskipun ia menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Anak itu tetap tidak akan bisa menyembunyikan kemampuannya."
"Eh, bukankah maksudnya tidak bisa menyembunyikan kharismatik nya sebagai pria?" Goda Yan Qinying disamping. Membuat Yuechan terbatuk canggung dengan wajahnya sedikit memerah.
"Sudahlah, kenapa kau ngelantur seperti itu." Ucapnya dengan malu, ia bahkan tidak tahu mengapa ia malu.
Yan Qinying hanya tertawa kecil melihat tingkah nya. Begitu pun Weiqing. Mereka kembali mengamati gerak gerik Qin Yan dari atas sana.
Tidak jauh dari situ, di kursi para ahli terhormat. Duan tianlang dan Sai Hwang duduk berdampingan. Mereka juga ikut menonton pertarungan. Dan ditengah mereka, ada seorang pria kekar dengan janggut putih hampir menutupi sebagian wajahnya.
Pria berotot itu tidak sengaja melihat Duan tianlang tengah memperhatikan salah satu peserta yang tengah berbaris disana. Dan ia lihat jelas, siapa yang orang tua itu perhatikan.
"Kakek tua, apa anak itu mempunyai keistimewaan? Hingga matamu tidak berkedip saat melihatnya." Tanyanya sambil tersenyum. Ia memegang bahu kakek tua itu.
Tapi Duan tianlang melepaskan tangan orang itu dari bahunya dengan wajah tak senang. Sepertinya mereka saling bermusuhan.
"Cih, memangnya apa urusanmu!" Jawabnya.
"Huh! Dasar arogan. Kau tak pernah berubah. padahal aku cuma bertanya padamu." Pria berotot itu membersihkan tangannya karena sudah disentuh oleh kakek tua itu. Matanya kembali menyipit kearah Qin yan yang di amati oleh Duan tianlang.
'Aneh. Apa yang istimewa anak itu? Apakah segitu menariknya sampai Duan tianlang terlihat begitu terobsesi. Dibanding itu, anak itu terlihat seperti pecundang.' Ia heran mengapa Duan tianlang memperhatikan anak seperti itu. Meskipun Qin Yan adalah ketua dari timnya. Tapi tetap saja, ia tidak pernah pernah mendengar pencapaiannya. Dan juga, penampilannya itu, dipenuhi bekas pukulan. Tanpa dipikirkan pun, ia memang seorang pecundang yang menyedihkan. Tapi anehnya, Duan tianlang tidak menggubris perkataan nya seolah olah ia menyembunyikan sesuatu. Membuatnya semakin penasaran. Ia pun mulai menggoda kakek tua itu lagi.
"Hehehe.... tuh kan. Kau mengamatinya lagi. Kakek tua, aku itu sudah mengenalmu sejak lama. Sifatmu licik. Katakan padaku, siapa anak itu. Apa dia adalah salah satu peserta di kompetisi membuat gulungan?"
Duan tianlang hanya diam. Ia pun menghela napas. Dengan malas ia bertanya balik.
"Du bu Gang. Pernahkah kau mengalami situasi dimana seorang bocah mempunyai keterampilan sangat tinggi bahkan kau merasa keterampilan nya melebihi keterampilanmu. Apakah kau percaya itu?"
"Hahaha.....!!" Tiba tiba pria berotot yang dipanggil Du Bu gang itu tertawa lepas. Saking kerasnya bahkan tawanya berdengung keseluruh stadion. Sai Hwang dan Duan tianlang menutupi wajah mereka karena pria ini bertindak tanpa memperhatikan situasi dimana ia berada.
Hal itu menarik perhatian para master. Mereka hanya menghela napas malas melihat mereka.
"Haaaah..... Sekarang keributan apa lagi yang akan dibuat oleh dua orang tua itu. Mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu." Berkata Weiqing. Istrinya hanya membantunya memenangkannya.
"Sudahlah, jangan hiraukan mereka. Lebih baik kau perhatikan para peserta. Bukankah mereka sebentar lagi akan bertarung?"
Weiqing pun mengangguk. Ia pun tidak memperhatikan mereka lagi.
Sementara itu. Sai Hwang hanya melipat tangannya didada. Berbicara dengan tenang.
"Dia pasti tak akan percaya." Ia melihat Du Bu Gang yang bertingkah seperti orang bodoh, membuat suasana hatinya untuk duduk bersama mereka semakin tak tenang.
Tapi ternyata pria itu malah menggelengkan kepala.
"Harusnya aku tak percaya. Tapi, tahukah kalian? Di kompetisi pandai besi, ada satu peserta yang memakai topeng. Dia sangat misterius, katanya dia panggil Yan Yan. Umurnya 17 tahun, tapi yang menarik bukan itu. Dia mempunyai keterampilan menempa yang sangat luar biasa. Bahkan menguasai teknik rahasia dari klan Dwarf kuno."
"Apa!!!!" Sai Hwang dan Duan tianlang bergidik kaget mendengar itu. Kini suara mereka berdua kembali bergema di seluruh stadion. Tidak lama kemudian aura mereka langsung bergejolak. Membuat para master sekte berdiri.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" Weiqing berdiri dengan kesal, ia kemudian mengirim telepatinya kepada ketiga master itu. Memberi tahukan agar mereka tidak mengacaukan kompetisi. Setelah itu, barulah kedua orang tua itu kembali tenang.
"Sial." Sai Hwang mengepalkan tangannya. Sementara Duan tianlang bergumam tidak jelas. Matanya tertuju pada Qin Yan layaknya orang tak waras.
"Apa yang terjadi pada kalian?" Hal itu membuat Du Bu gang bingung. Namun mereka sama sekali tidak memberi tahu apa yang terjadi.
Melihat masternya menggigil. Bi Li yang berdiri dibelakangnya jadi mengerutkan alis. Ia kembali menatap Qin Yan. Orang yang datang ke kamarnya seminggu yang lalu.
"Ayah. Akhirnya aku menemukannya." Terdengar suara wanita disamping disamping Bi Li.
"Itu dia. Benar saja, tidak disangka raja judi itu sebenarnya adalah salah satu peserta turnamen ini." Disusul dengan suara pria paruh baya yang nadanya begitu kagum.
Bi Li melihat arah yang ditunjukkan wanita itu. Ternyata mereka menunjuk kearah Qin Yan.
"Maaf, apa kalian mengetahui anak itu?" Tanya Bi Li dengan sopan.
Pria paruh baya dan putrinya itu pun memberi hormat.
"Oh, nona presiden. Salam hormat. Kami dari asosiasi bisnis Eunha. Jan yuan dan ini putriku Jan er. Kami tau siapa anak itu, karena baru baru ini dia adalah tuan judi yang mengalahkan dewa judi Bong Goo." Jawab Ayah Jan er.
"Apa!" Justru Duan tianlang yang menanggapi mereka sebelum Bi Li. Matanya terbelalak, membuat kedua ayah dan anak itu jadi menggigil.
"Orang tua! Kau sudah gila, kenapa kau sembarang menekan orang lain." Du bu Gang berdiri menghentikan Duan tianlang. Sai Hwang juga berdiri dengan kaget. Namun tidak lama kemudian kakek tua itu menghela napas.
"Maaf, aku tak sengaja." Ia pun duduk dengan lemas.
"Sial, lebih baik aku mati saja." Lanjutnya lagi. Ia memegangi dahinya tak berdaya seperti orang tua memalukan. Kali ini, ia bukan hanya kalah telak. Ia juga langsung kena mental. Du Bu gang sampai tak percaya melihat sisi lain orang ini. Seumur hidupnya ia tak pernah melihatnya, yang ia lihat hanyalah keangkuhan dan kesombongan. Tapi siapa sangka, diujung umurnya ia malah melihat sesuatu menarik. Dan ini semua berawal dari tatapan orang tua itu ke anak yang tengah berbaris disana.
'Aku harus menyelidiki siapa anak itu.'
Sementara Bi Li, mengepalkan tangan dengan tak percaya. Selain membuat masternya dan tetua Duan gelisah, ternyata kasus lain juga terjadi di kompetisi pandai besi. Jangan bilang kalau mereka adalah orang yang sama.
Tidak. itu tidak mungkin, dipikirkan pun itu tidak mungkin. Bi Li lebih baik tak ingin memikirkannya. Sebenarnya, meskipun masternya juga memikirkan itu, ia juga akan sakit kepala. Kenapa semakin ia ingin mencari tahu tentang anak itu. Ia semakin dikejutkan dengan fakta lain tentang dirinya. Anak itu terlalu menyembunyikan banyak rahasia dan ia terlalu misterius.
Jan er yang berada disamping hanya memasang muka jengkel.
'Huh, apa apaan dia. Dia bahkan menggoda presiden Asosiasi Alkhemis?' Meskipun ia rasa Qin Yan dan wanita itu tak cocok, tapi ia juga merasa marah, seperti... cemburu. Melihat itu ayahnya hanya berusaha menghibur nya dengan mengatakan kalau nanti mereka akan bertemu dengan anak itu.
Para peserta akhirnya dibubarkan setelah pidato singkat dari sang wasit. Dalam babak ini, aturan pertarungannya memang berbeda. Dalam pertarungan antar tim kerajaan. Satu persatu anggota akan maju dan bertarung. Bisa dibilang, disini bukan lagi terpilih atau dipilih. Mereka akan maju berdasarkan urutan yang sudah ditentukan oleh ketua. Hanya saja, meskipun tim itu memang. Namun, bagi anggotanya yang kalah, anggotanya tetap akan tereliminasi tanpa bisa diselamatkan oleh kemenangan tim. Bisa dibilang, ini adalah semacam pertarungan individual. Mengandalkan kemampuan masing masing jika ingin maju ke babak semi final.
Qin Yan kembali masuk keloby. Kali ini, lawan sudah ditentukan. Kerajaan Lembah racun dari sekte Racun. Qin Yan tersenyum seperti seorang psikopat. Apakah ini kebetulan atau sudah direncakan? Ia menatap Mong yi yang juga menatapnya. Senyumnya semakin mengembang membuat Mong yi bergetar. Tapi ia juga akan membalas dendam. Kali ini, dalam pertarungan ini. Tidak perduli apa yang terjadi, ia akan membunuh anggota kerajaan Sunmoon sebanyak yang ia bisa. Begitulah dengan Qin Yan, ia akan membantai seluruh tim brensek ini.