
Sepanjang jalan Qin yan terus memikirkan masalah tentang kemiripan ini. Bisa bisanya ia masih mempunyai saudara yang tidak ia ketahui. Jika itu orang lain, Qin yan mungkin akan menganggap ini sebagai kebetulan. Atau menganggap dia sebagai penyamar, tapi setelah ia memeriksa semuanya. Darahnya menunjukan kesamaan, itu artinya dia dan anak ini lahir dari kandungan yang sama, waktu yang sama dan dari ayah yang sama.
'Sial..' Qin yan memegangi kepalanya dengan pusing. Padahal dari tadi Qian yu selalu memperhatikannya.
"Huh, kau masih curiga padaku?" Tanya Qin yan padanya, tapi ia hanya diam saja. Tampaknya karakternya cukup bertolak belakang darinya.
Jika ini dikehidupannya dulu, sebelum Qin yan terlempar kealam lain, karakter Qin yan bukanlah orang yang dingin dan kejam, sadis, ataupun tenang. Tapi dia adalah sosok yang pendiam, bukan karena sifatnya. Melainkan karena sikap orang lainnya padanya dulu. Ia selalu dijauhi, dan diasingkan dari kelompok pertemanan. Itu pun jika Qiu er, sifat gadis itu begitu pendiam. Jadi Qin yan tidak terlalu banyak berbicara dengannya. Memikirkan Qiu er, Qin yan sedikit rindu pada gadis itu. Jika dingat ingat, gadis itu seharusnya sudah berumur 18 tahun sekarang. Bagaimana tampang yah? Pikiran Qin yan sedikit kemana mana.
Tidak lepas dari pertimbangan Qin yan, sifat anak ini jauh lebih dewasa. Dia tenang, diam, dan selalu memikirkan baik baik setiap langkah dan ucapan. Seharusnya sifat anak ini telah dibentuk sejak ia kecil. Yah, begitulah kehidupan istana. Mau tidak mau mereka harus menyembunyikan sikap asli mereka dibalik sikap tegas dan wibawa, agar bisa menanggung tanggung jawab yang memang harus mereka tanggung.
Berbeda jauh dari Qin yan, yang dulu hanya selalu bertindak ceroboh. Namun karena alurnya waktu, sikapnya pun jadi terbentuk. Hanya saja, ia tidak seperti yang lain. Ia tidak mau terus terusan menyembunyikan sikap aslinya. Setidaknya disaat hatinya senang, ia harus bersikap selayaknya.
"Kau tau? umurku sebenarnya seumuran denganmu." Perkataan Qin yan membuat Qian yu berbalik padanya dengan syok. Ia kaget bukan main, dan tentunya ia tak percaya.
"Paman bilang apa? Ka-kau seumur denganku? Berarti anda 17 tahun juga?" Ucap anak itu dengan terbata bata.
'Paman lagi..' Dahi Qin yan kembali berurat.
"Bisakah kau berhenti mengganggapku sudah tua. Aku ini masih 17 tahun, namaku Qin yan!" Qin yan tanpa sadar keceplosan didepannya.
'Apa, apa yang aku katakan.' Dari wajahnya yang kesal, kini Qin yan jadi berkeringat. Ia menutupi mulutnya. Apalagi melihat anak itu yang terdiam dan terbengong, kekhawatirannya jadi bertambah.
"Berhentilah mlihatku seperti itu! Aku tahu kau memang kaget, tapi jangan terlalu berlebih...."
"Hahahahaha....." Kini Qin yan yang berganti kaget, melihat anak itu tertawa sambil memegangi perutnya. Anggap saja itu adalah ledekan untuk Qin yan.
'Apa yang ia tertawakan?' Dahi Qin yan kembali berurat
"Hah hah... Maaf, bukannya aku tidak menghargai idolamu. Tapi kau terlalu berlebihan, mengaku sebagai Qin yan. Hadeeh.... Lucunya.. Perutku sampai sakit, aduh.." Anak itu tetap tertawa dengan lucunya sampai ia puas.
"Terserah kau saja." Qin yan pun hanya menggelengkan kepala tak berdaya.
Mereka berdua berjalan sampai akhirnya memasuki kota, kerajaan Sunmoon. Tapi, yang membuat Qin yan bingung, pertama kali mereka masuk, anak itu menyapa seorang pria paruh bayah yang sedang membaca buku di depan sebuah toko.
"Tuan, tuan. Bolehkah aku perkenalkan temanku ini, namanya Qin yan."
Siapa juga yang tidak kaget saat seseorang membongkar identitasnya didepan banyak orang. Qin yan hendak mencekik leher anak itu, tapi ia masih menahannya. Alasannya karena pak tua yang disapa anak ini malah ternganga padanya.
"Ppffttt...." Kemudian tertawa menutup mulut mereka.
"Ayolah nak, jangan bercanda. Tidak mungkin legenda yang sedang kubaca ini, ternyata dia. Nak, bercandamu keterlaluan." Ia masih saja tetap tertawa menepuk bahu kiri Qian yu.
Dengan cepat ia mengambil buku itu, lalu membuka isinya.
"Hei, apa apaan kau! Kalau kau tertarik, belilah sendiri." Pria itu langsung merampas buku ditangan Qin yan.
"Beli?" Qin yan memiringkan kepala, hingga membuat mereka berdua jadi bingung.
"Sini biar kutunjukan." Pria yang disapa Qian yu langsung membawa Qin yan masuk kedalam tokonya sendiri.
"Kau ingin membeli buku tipe apa, Qin yan si pendekar angin? Atau Qin yan jagoan api, Sang legenda, Titisan anak dewa, Pilihan surga, atau Qin yan sang pembantai? Semua ada disini, ada part 1, part 2 sampai part 5 dimana ia membunuh Kekasihnya sendiri loh." Pria itu langsung menunjuk kearah rak buku yang berisi semua kisah tentang Qin yan.
"Se-sebanyak ini..." Bahkan Qin yan sendiri tidak menyangka kalau dirinya bisa seterkenal ini.
"Ya. Tentu saja, kau mau pilih yang mana? Ada juga cerita penulis terbaru." Pria itu menawarkan satu buku, dimana fotonya adalah orang lain. Pria di foto itu cukup tampan, tapi tidak ada kemiripan dengan dirinya. Dan ternyata fotonya bukan hanya terdapat satu buku, melainkan semua buku.
'Pantas saja anak ini tidak diburu.' Qin yan memandangi Qian yu yang sedang memilih buku buku itu.
"Paman, sepertinya ini bagus." Anak itu menawarkan satu buku lagi. Namun Qin yan tidak tertarik sedikit pun, ia hanya berbalik kemudian meninggalkan toko itu. Lalu disusul oleh Qian yu.
Disepanjang jalan, Qin yan melihat Qian yu membawa satu buku edisi terbaru yang ia beli dari toko tadi.
"Apakah menyenangkan membaca itu?" Tanya Qin yan padanya.
"Um.. Tergantung, jika kau suka pasti kau juga akan membelinya. Kau tau, dia itu katanya seumuran denganku. Dua tahun lalu sejak mengalami konflik dengan ke sebelas sekte, ia tidak terlihat lagi sampai sekarang. Kabarnya pun tidak ada yang tau, tapi tidak ada yang pernah melakukan hal yang nekad seperti dia. Terakhir kali aku mendengar gosip, dia bahkan bisa menekan ketiga sekte. Dia benar benar legenda, generasi muda mana yang tidak tahu tentang dirinya. Bahkan para putri putri dari kerajaan lain saja rela tak menikah demi menunggunya."
Qin yan hanya menggelengkan kepala sambil tertawa dalam hati. Lelucon anak ini terlalu lucu, Namun ia sudah menegaskan hati. Ia takkan menarik perhatian wanita lagi, bahkan ia rela jika wajahnya harus jelek selamanya. Tapi, mengingat ia ternyata mempunyai kembaran. Entah kenapa rasa takut muncul dihatinya, ia bisa membayangkan kalau Qing zhu, Yun zhi, Qiu er bisa saja salah mengira pada Qian yu. Karena hanya merekalah yang mengetahui wajah asli Qin yan. Memikirkan itu, membuatnya lebih khawatir lagi.
"Plak"
'Aku ini sedang memikirkan apa sih.' Qin yan menampar wajahnya sendiri, meskipun ia tak boleh berpikiran negatif. Tapi harus memastikannya, pokoknya mulai sekarang penampilannya harus kembali lebih tampan.
Ia tidak mempermasalahkan Qian yu yang terus terusan menatapnya dengan heran.
"Jadi paman, bukankah kita sudah sampai, kukira kita harus berpisah disini." Qian yu dengan cepat meninggalkan Qin yan, Sementara Qin yan tahu kalau hati anak itu sedang waspada.
"Hei, apa tidak tau cara berterimah kasih?" Panggil Qin yan dengan kesal, kali ini ia harus menemukan cara untuk masuk kedalam istananya.
"Apa maksudmu..?" Qian yu perlahan berbalik padanya. Menatap Qin yan dengan bingung.
"Aku butuh kompensasi atas nyawa pengeran yang sudah kuselamatkan." Ucap Qin yan dengan tenang.