LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Perebutan bendera


Tiga hari kemudian.


Masing masing tempat dimana para beast bernaung akhirnya dihancurkan. Para peserta berhasil memburu seluruh bendera dalam beberapa hari ini. Akhirnya, tidak ada lagi pencarian yang mereka lakukan seperti yang biasanya, menemukan tempat tinggal para beast.


Dalam tiga hari ini, para peserta yang masuk mengalami penurunan pesat. Mulai dari jumlah mereka 53 orang, kini menurun menjadi 25 orang. Itu artinya, hampir setengah peserta gugur dalam kompetisi kali ini. Entah itu karena saling membunuh atau mati ditangan beast. Yang terpenting, setiap kerajaan tidak lagi lengkap anggotanya.


Qin Yan, setelah tiga hari ini. Ia berhasil mengumpulkan 5 bendera dari 3 kali perburuan. Cukup sulit untuk menemukan para beast yang bersembunyi. Ditambah lagi, bukan hanya dia mengincar beast tersebut. Namun peserta lain juga mengincarnya.


Dalam tiga hari ini, ia pun juga bertemu dengan Tang Liu. Gadis itu ditemukan sedang berburu bersama kelompok lainnya. Tidak sengaja bertemu Qin Yan, mereka pun kembali bersatu.


'Setelah tiga hari ini, semua beast telah dibunuh. Sementara peraturan untuk bisa lulus, yakni mencapai 10 bendera. Aku tidak tau apa yang dipikirkan oleh panitia yang menciptakan skenario ini. Namun, yang aku tau. Setelah ini, para peserta akan mulai saling membunuh demi mendapatkan bendera.' Qin Yan berpikir, ia pun mengaktifkan mata merahnya. Beberapa peserta mengikutinya dibelakang. Termasuk Zue er. Tentu mereka juga mempunyai bendera disaku mereka.


Dua hari kemudian.


Setelah bertahan selama dua hari. Para peserta tidak menemukan para beast lagi dihutan. Sejak dua hari yang lalu, Qin Yan sudah memisahkan diri dari peserta lainnya. Dia dan Tang Liu mencari jalan sendiri.


Malam itu. Saat Qin Yan tengah berjaga. Ledakan keras tiba tiba memecahkan keheningan dimalam hari yang sunyi.


'Sudah dimulai yah.' Qin Yan pun tersenyum tipis. Tang Liu juga berbalik.


"Apa yang terjadi?" Tanya gadis itu.


"Sepertinya ada pertempuran disana." Qin Yan pun melompat dan menuju kearah ledakan itu.


Dan benar saja. Ternyata memang ada pertikaian antar dua pihak dalam sebuah kelompok. Qin Yan singgah dan bersembunyi tidak jauh dari mereka. Menonton mereka dari sana.


"Serahkan benderamu padaku!"


"Tidak! Tidak akan! Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mendapatkan bendera ini. Kau pikir aku memberikannya kepadamu dengan mudah?"


"Cih, kalau begitu jangan salahkan aku terlalu keras padamu!"


Terlihat dua orang tengah berhadapan. Kerajaan Wanshou dan kerajaan Zhongtian. Setelah beberapa saat saling berkicot. Keduanya pun bertarung.


"Ptank ptank ptank"


Pertarungan cukup instens terjadi. Semua orang disekitar mereka jadi menjauh. Ada juga berusaha menghentikan mereka berdua. Namun itu tidak berhasil.


Tidak lama kemudian, terdengar suara misterius entah darimana asalnya.


"Tes tes, apakah ini bisa didengar oleh mereka?" Terdengar suara Weiqing. Semua orang menolah kesana sini.


"Bodoh, bukankah kau sudah mencobanya tiga tahun lalu." Lalu terdengar suara Sangguan Tianyang.


"Weiqing, jangan bermain main. Cepat katakan pemberitahuan nya." Suara Xu shian juga terdengar.


"Baiklah." Weiqing berdehem sejenak.


"Diberitahukan kepada para peserta yang tersisa. Batas pengumpulan bendera sampai matahari terbit besok. Jika tidak bisa mengumpulkan sepuluh bendera sampai batas waktunya. Maka peserta akan tereliminasi."


"BOOOM."


"BOOOM"


"BOOM."


Tepat setelah pemberitahuannya, ledakan terjadi diberbagai tempat.


"Hahaha...." Weiqing rertawa dengan penuh semangat didepan cermin yang menampilkan para peserta didalam sana.


"Ini akan terlihat jauh lebih menarik. Siapakah yang akan berhasil menjadi sepuluh jenius surgawi tahun ini." Gumamnya.


Didalam alam cermin.


Sekitar 10 kelompok tengah melakukan pertarungan. Sementara mereka sedang bertarung, Qin Yan dan Tang Liu tetap bersembunyi dibalik pohon.


"Haruskah kita juga ikut bertindak?" Tanya Tang Liu disamping Qin Yan.


Qin Yan menggeleng.


"Tunggu dulu. Kita tunggu waktu yang tepat." Jawab Qin Yan, matanya tertuju pada pertarungan didepan mereka.


"Qin Yan, jangan jangan kau...." Tang Liu mulai menebak rencana Qin Yan. Yakni datang disaat mereka sudah mencapai batasnya. Bukannya ia tak mau, tapi bukankah cara ini merupakan cara yang memalukan. Apalagi pada status Qin Yan saat ini.


"Jangan khawatir." Qin Yan tahu apa yang dipikirkan gadis ini. Ia pun memegangi bahu Tang Liu dengan lembut.


"Kau tahu apa skenario yang direncakan oleh pembentuk kompetisi ini?" Tanya Qin Yan. Tang Liu menggelengkan kepala.


Qin Yan pun melanjutkan.


"Bendera yang disediakan hanya ada seratus. Itu artinya jika mengumpulkan sepuluh bendera untuk masing masing peserta. Berarti hanya akan tersisa sepuluh orang. Dari lima orang yang bertarung disana. Hanya ada satu orang yang tersisa. Dan dari sepuluh orang nantinya akan menjadi sepuluh jenius Surgawi.?"


Tang Liu terdiam setelah mendengarkan penjelasan Qin Yan. Tapi ia masih merasa resah. Diantara orang dikelompok sana, ada gadis yang tentunya mereka kenal. Yakni Ying hulena.


'Bagaimana ini?' Tang Liu jadi dilema, apakah menolong dia atau diam disini.


"Qin Yan, bagaimana kalau dia mati? Bukankah ditempat ini tidak bisa ditebak. Kadang kalah nyawa peserta bisa melayang disini." Ucapnya dengan khawatir.


Qin Yan kembali menggeleng.


"Sepertinya tidak begitu."


"Apa maksudmu?" Tang Liu tidak mengerti perkataanya.


"mereka memang mati disini, tapi sepertinya mereka tidak sepenuhnya mati didunia nyata."


"Haaah!" Tang Liu sungguh terkejut mendengar perkataan Qin Yan.


"Jadi, apapun yang terjadi. Lebih baik kita jangan mengganggu pertarungan disana. Karena ini merupakan pertarungan mereka. Kau pikir mereka berharap untuk meminta bantuan? Sejak awal kita sudah dipisahkan ketempat ini sendiri. Jadi inti dari kompetisi ini adalah kemampuan individual."


"Oh, jadi begitu." Tang Liu mengangguk dengan Ekspresi kosong. Akhirnya, keraguan didalam hatinya pun hilang.


Qin Yan pun menghela napas lega. Ia pun menutup mata. Baru baru ini, ia mendapatkan satu skill istimewa dari matanya setelah kultivasinya meningkat drastis.


Mata penglihat masa depan.


Setidaknya mata ini bisa melihat kejadian lima menit kemudian.


Mata merah Qin Yan terbuka dan menyala. Setelah itu, pergerakan didepannya jadi sangat cepat sampai lima menit kemudian. Niatnya untuk mengetahui siapa yang akan menang dipertarungan didepan sana. Meskipun ia sudah tau siapa yang akan menang diakhir.


Tidak terduga Qin Han malah mendapatkan sebuah informasi penting.


"Hah!" Setelah itu, Qin Yan tersadar dari skillnya yang aktif.


"Ada apa Qin Yan?" Tang Liu bertanya karena melihat wajah Qin Yan yang terlihat kaget.


Qin Yan berbalik pada gadis itu. Dan langsung memegangi bahunya.


"Maafkan aku Liu er." Ucapnya pelan.


Tang Liu tidak mengira apa yang sebenarnya dimaksud oleh Qin Yan. Namun melihat apa yang terjadi selanjutnya, dirinya tercengang luar biasa.


"Apa yang...."


Qin Yan berteleportasi dan menghilang dari hadapannya.


"Qin Yan, dimana kau? Qin Yan, jangan main main." Tidak perduli berapa kali pun Tang Liu memanggil nama Qin Yan, tetap tidak ada yang menjawab.


Tidak lama setelah itu, terdengar suara Weiqing lagi.


"Aku lupa mengucapkan ini. Tapi dengarkan baik baik. Jika ada orang didekat kalian. Maka kalian harus bertarung dengannya. Rebut bendera ditangannya."


Tang Liu seketika terdiam. Ia pun teringat saat Qin Yan meminta maaf padanya. Jangan bilang ia pergi karena tau ini akan terjadi.


Weisi yang tengah mandi langsung menoleh kesamping.


"Lin Fin, kau dengar itu?" Tanpa sadar ia bertanya.


"Eh!" Tapi ia tiba tiba terkejut saat melihat tidak orang disekitarnya.


'Bukankah dia sedang mandi tadi?'


Tidak jauh dari sana. Lin Fin yang tadi pergi diam diam, hanya mengintip Weisi dari kejauhan. Ketika ia tahu kalau Weisi tidak menyadari keberadaannya, ia pun menghela napas.


"Maaf, bukan berarti aku takut melawanmu. Tapi sepertinya kita terlalu cepat untuk bertarung." Ia pun pergi dari sana.


Weisi yang masih berada dikolam hanya mengutuk Lin Fin dengan kesalnya.


"Cih, bilang saja dia takut padaku."


Tiba tiba semak semak disekitarnya bergoyang.


"Lin Fin?" Panggilnya.


Tapi yang keluar bukanlah Lin Fin, melainkan seorang pria berseragam kerajaan Wanshou.


"Siapa kau?" Tanya Weisi.


"Kakak ipar, perkenalkan aku Gu Yimbing. Aku ingin menantangmu bertarung." Pria itu memberi hormat kepada Weisi dengan sopan.


Melihat reaksi itu, Gu Yimbing jadi semakin gugub.


"Aku.... Jika aku menang, maka ijinkan aku menikahi Zue er." Tuturnya dengan lugas.


"Apa!" Tentu itu langsung membuat Weisi terkejut. Ia pun keluar dari kolam dengan wajah gelap. Tidak perduli pada dirinya yang masih telanjang. Bahkan Gu Yimbing sendiri sampai terkejut ketika melihat otot otot sempurna pria itu.


Weisi langsung memasang wajahnya yang sangat serius.


"Baiklah jika itu yang kau mau. Jangan salahkan aku jika aku membunuhmu disini."


*******


"Ptank." Dari sekian banyaknya peserta yang bertarung. Salah satunya adalah pertarungan sengit antara dua orang gadis. Xiang xiang melawan Zhou Shinzui. Keduanya bertemu disaat melawan beast. Siapa yang menyangka, kalau perkataan Weiqing tadi, sekarang membuat mereka untuk bertarung memperebutkan bendera masing-masing.


"Ptank. Ptank ptank" Tombak milik Shinzui berbentrokan dengan tulang tajam milik Xiang Xiang. Keduanya tampak imbang dalam pertarungan ini.


"Setelah beberapa hari kita bekerja sama. Tidak disangka kita malah bertarung seperti ini." Ucap Shinzui dengan penuh senyuman.


"Ini adalah peraturan yang sudah ditetapkan. Kita tak bisa melanggarnya." Timpal Xiang Xiang.


"Yah, kau benar. Kalau begitu. aku akan mengeluarkan seluruh kekuatanku untuk mengalahkan mu!" Shinzui langsung memasuki perubahan iblis. Api biru menyelimuti tubuhnya, rambutnya yang semula normal mulai memanjang dan mencari mangsa. Tangannya berubah menjadi tentakel beratribut akar merambat. Tombaknya juga mengalami transformasi yang lebih kuat. Ia langsung menuju kearah Xiang Xiang dengan gagah berani.


Xiang Xiang juga mengeluarkan perubahannya. Api hitam mulai menyelimutinya. Tulang tulang tumbuh disekitar tubuhnya. Dua senjata terbaiknya tubuh ditangannya. Dan ia menerjang Shinzui tanpa merasa takut sedikit pun.


Selain mereka, banyak pertarungan instens lainnya. Ling Qingzhu melawan Zhang lizian. Xie Xie melawan dua kakak beradik Di Feng Yan dan Di Fu yi, Xiu Xiu melawan Zhou Yuzhen, Qiu er melawan Shue Bing er, Huang er melawan salah satu peserta Great blaze, dan terakhir. Pemimpin kerajaan Great Blaze, Gei Sha mampu membantai 10 orang sekaligus. 10 orang yang merupakan peserta campuran, kerajaan Zhongtian, kerajaan Wanshou, dan kerajaan Glasier. Semuanya dituntas habis.


*******


Qin Yan menghilang dan berteleportasi ketempat yang tidak ia ketahui. Melihat disekitarnya yang tidak satupun ada orang, ia pun menghela napas lega. Mengeluarkan potongan gading mentah, lalu menyiapkan arang dan memanggang gading itu.


Qin Yan cukup lapar karena kurang makan beberapa hari ini. Ia pun memandangi daging itu dengan air liur yang menetes.


"Kakak, seperti ada orang disana." Tiba tiba terdengar suara gadis yang membuat Qin Yan berdigik kaget. Ia tahu kalau ia tengah berada dipinggir sungai, tapi tidak mungkin ada gadis disini kan. Jangan bilang... Kalau seorang gadis ada disini, itu artinya...


"Iya, sepertinya ada orang. Ada cahaya api disana." Terdengar suara gadis lainnya.


Qin Yan langsung berdiri dan memadamkan api didepannya. Tapi itu sudah terlambat. Dua gadis itu telah berdiri dihadapannya.


"Kak, itu dia! Si cabul itu beraninya dia mengintip kita!" Tunjuk salah satu gadis dengan penuh kebencian. Qin Yan langsung mengangkat tangan beserta daging panggangnya. Hendak mengatakan kalau ia tidak sengaja berada disini. Siapa yang mengira, dua orang didepannya adalah orang yang ia kenal.


"Ka-kau..!!" Gadis itu, Zhou Zun er juga terkejut melihat Qin Yan. Penampilannya kali ini, tubuhnya hanya tertutupi sebuah kain handuk.


"Berani beraninya kau mengintip dasar cabul!" Gadis itu langsung menunjuk muka Qin Yan dengan wajah memerah.


"Kak, ayo kita beri pelajaran pada pria cabul ini." Teriaknya pada Zhou Ling er disamping.


Qin Yan hanya mengangkat tangannya dengan bingung.


"Aku, aku tidak...."


Tidak lama kemudian, terdengar suara Weiqing.


"Aku lupa memberi tahu ini. Siapa pun yang kalian temui, maka kalian harus bertarung dengannya. Dan rebut bendera dari tangannya."


Zhou Zun er dan Zhou Ling er terbengong sejenak, lalu keduanya tersenyum mendengar itu. Mereka dengan cepat memakai pakaiannya mereka.


"Kebetulan, aku ingin membuat pria ini babak belur." Zhou Zun er mengambil busurnya, sementara Zhou Ling er menarik pedang dari cincin penyimpannya.


Qin Yan tadi juga terbengong. Kini tersenyum tipis. Ia pun menantang mereka, meskipun masih ada daging panggang ditangannya.


"Baiklah, mari kita lihat. Siapa yang akan babak belur dan siapa yang akan menang."


*******


Lin Fin yang melarikan diri diam diam dari Weisi. Tiba tiba mendengar adanya ledakan dari kolam tempat mereka mandi tadi.


'Apakah Weisi sedang dalam pertarungan?' Meskipun ia sudah cukup jauh, tapi suara itu masih terdengar jelas ditelinganya. Ia pun menuju ke pohon yang paling tinggi. Mengintip Weisi, tapi yang ia lihat adalah dua Siulet yang saling bertarung.


'Yang benar saja. Tidak lama setelah aku meninggalkannya, ternyata anak itu langsung menemukan lawan yah.' Gumamnya tak percaya.


Tiba tiba tubuh Weisi menegang, matanya membesar menunjukan kewaspadaan. Ia langsung menunduk dengan cepat.


"Slash" Pohon tepat diatas kepalanya langsung tertebas. Lin Fin yang sudah menduga hal itu akan terjadi, langsung menjauh.


"Wah wah, lumayan. Lin Fin dari kerajaan Sunmoon benar benar hebat." Seorang gadis seksi mendatangi Lin Fin dengan senyumnya yang mempesona.


Lin Fin sampai tergoda melihat nya.


"Hahah... Dikenal oleh gadis secantik dirimu merupakan kehormatan bagiku." Lin Fin tersenyum penuh cabul menatapnya. Gadis didepannya juga menyadari tatapan itu, tapi dia tidak mempermasalahkannya. Malah ia meringkuk menampilkan tubuhnya yang aduhai.


"Kau bisa menyadari tebasan tanpa suara milikku. Kau benar benar berbeda dari empat orang amatiran yang aku lawan sebelumnya." gadis itu tersenyum sambil menjilat jarinya.


"Empat orang amatiran? Sepertinya nona ini cukup kuat hingga menganggap lawan yang sebelumnya begitu amatiran." Lin Fin memaksakan senyumnya. Tapi dalam hati ia sudah merasa kalau gadis ini berbahaya.


"Tentu saja. Empat orang dari kerajaan Sunmoon. Seingatku, nama mereka.... Hm... Jung Kyun, De muer, Huyan Wu dan Siapa yah... Ah, Ning er."


'Apa!' Wajah Lin Fin langsung mendung ketika mendengarnya. Sikap ramahnya hilang, tidak ada lagi senyum diekspresinya.


"Bagaimana keadaan mereka sekarang?" Lin Fin bertanya lagi, meskipun dugaannya mengatakan kalau mereka sudah tiada.


"Huh? Kau bertanya kabar mereka? Mereka semua sudah tewas. Aku membunuh mereka. Apalagi gadis yang bernama De muer, aku menikmati saat saat ketika aku menarik ususnya dengan pelan keluar dari dalam perutnya. Itu sangat nikmat. Meskipun mereka memang lemah, tapi mereka cukup berguna. Karena aku datang tepat setelah mereka mengalahkan seekor beast kuat. Jadi, aku tak perlu repot-repot untuk mencari beast yang menyembunyikan bendera."


Lin Fin semakin bertambah kesal mendengar itu. Ia mengepalkan tangannya, matanya langsung terbuka dengan mode perubahan iblis.


"Oh, kau marah yah? Kau pasti ingin membunuhku kan, aku ingin lihat. Kau mampu atau tidak." Senyum Gadis itu penuh provokasi.


"Dasar ******!" Lin Fin langsung menerjang dan menyerang gadis itu. Namun sepertinya Lin Fin tidak menyadari siapa sebenarnya lawannya. Ia hanya ingin memukulinya dengan seluruh kekuatan yang ia miliki.


Namun gadis itu tidak bergerak sama sekali ditempat ia berdiri. Saat Lin Fin sudah berjarak dekat dengannya. Ia pun tersenyum tipis, menjilati bibirnya yang merah. Dua tangannya mengeluarkan pisau dapur yang tebal dan lebar. Dengan secepat kilat melesat ke arah Lin Fin.


"Slash"


Lin Fin terkejut. Ia tercengang dengan mulutnya yang mengeluarkan darah segar. Dua pisau gadis itu berhasil menebas perutnya. Jika bukan karena kulitnya sekuat cangkang yang keras. Mungkin ia akan terpisah menjadi dua bagian.


"Bruk" Lin Fin terjatuh ditanah. Sementara gadis itu mendarat didahan pohon didepan.


"Inilah mengapa, aku menyukai orang yang terburu buru. Agar kesempatanku untuk menebas perut mereka sangatlah besar. Hihihi..." Gadis itu tertawa puas sambil menjilati darah di ujung pisaunya.


Detik kemudian, ia pun kembali tersenyum. Seolah kesenangan ini belum berakhir.


"Sudah kuduga, kau tidak akan kalah semudah itu kan Lin Fin." Ia pun berbalik ke belakang. Dimana Lin Fin sudah berdiri dihadapannya. Luka diperutnya kembali sembuh dengan cepat. Hal itu membuat gadis itu tertarik. Matanya melirik kearah perutnya sambil tersenyum .


"Sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang cukup panjang." Gumamnya penuh gairah.


Lin Fin tidak buru buru menyerang seperti sebelumnya. Ia bertanya dengan wajah serius kegadis itu.


"Siapa sebenarnya kau?"


"Aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sambil tertawa.


"Namaku Nu Run yi. Pembunuh bayaran yang terkenal dengan sebutan nama pemburu usus dari wilayah barat." Gadis itu kembali tersenyum. Namun ia sedikit bingung melihat Lin Fin yang juga tertawa padanya. Dan terlebih lagi, tawa Lin fin cukup aneh.


"Begitu yah. Ternyata peserta yang masuk ke alam cermin ini sudah memiliki julukan masing masing. Kalau begitu, panggil aku Lin Fin. Si tinju besi."


Gadis itu seketika tertawa lucu mendengarnya.


"Tinju besi? Lumayan. Kalau begitu, mari kita lihat betapa kuatnya tinju besi milikmu." Ia pun mengangkat dua pisaunya. Keduanya bersiap untuk bertarung. Tidak lama kemudian, pertarungan sengit terjadi ditempat itu.


*******


Tempat dimana Tang Liu berada.


"Sigh, Qin Yan itu... Meskipun dia tahu apa yang akan terjadi. Tapi, meninggalkan ku sendiri disini bukan ide yang bagus bukan?" Gadis itu mengomel sendiri sejak kepergian Qin Yan dari tadi.


"Hmmph..!!" Ia pun hanya cemberut sambil melipat tangannya didada diatas pohon.


Tiba tiba ia merasakan ada bahaya.


"BOOOM" Ledakan terjadi di pohon yang ia tempati. Untungnya Tang Liu sudah menjauh dari tempatnya. Melihat area ledakan yang cukup besar. Keningnya sedikit berkerut. Ia tak sadar, setelah mengomel begitu lama. Pertarungan didepan sana sudah berakhir Namun pemenang terakhir berhasil menemukan persembunyian nya.


Yah meskipun Tang Liu tidak begitu mempermasalahkannya. Di babak ini, pertarungan antar peserta memang tak bisa dihindari.


Ia pun tersenyum sinis pada pria yang melayang didepannya.


"Kira kira siapa yah, pria macam apa yang berani menyerang seorang gadis diam diam seperti ini."


Pria didepannya hanya diam tak memasang ekspresi apapun.


"Dari semua orang yang berhasil kubantai. Semua bendera hanya sembilan yang terkumpul. Hanya tersisa satu. Dan kau pasti memilikinya." Pria itu berkata dengan dingin, penuh gairah dan niat membunuh.


Tang Liu menanggapinya dengan jijik.


"Cih, aku ingin lihat. Apakah kau mampu atau tidak untuk mengambil bendera milikku. Sekalian, kalau kau memang berhasil mengalahkanku. Kau bisa mengambil keperawananku." Ia berkata sambil memasuki perubahan iblis, dengan delapan tombak kaki laba laba dibelakangnya.


Mata Qiao Zimbe menyipit menatap Tang Liu. Mendengar tawaran gadis itu, matanya langsung berbinar. Ia pun tersenyum dengan penuh gairah.


"Baiklah, kalau begitu aku tak akan menahan diri lagi. Tenang saja, setelah kau kalah. Kau akan kuberi kepuasan."