LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Roh ular terkutuk


"Huh!" Belum sempat bereaksi lagi, mereka bertiga langsung tertarik kedalam. Seolah olah seseorang memang sudah menunggu mereka dan sekarang menarik mereka.



'Sudah kuduga, memang ada yang janggal disini.' Qin yan kemudian bangkit lagi, setelah mereka diseret dengan paksa kedalam. Pintu yang terbuka tadi kemudian tertutup dengan rapat. Meninggalkan keheningan diantara mereka berempat.


"Sebenarnya apa yang terjadi disini." Jia ya makin menggigil memikirkannya, menatap ruangan bundar yang penuh keanehan ini.


"Sialan! Kau siapa! Tunjukan dirimu sekarang juga!" Teriak Xing yun dengan marah, wajahnya menjadi jelek ketika ada yang menarik mereka tidak sopan seperti tadi.


Kini kucing imut ditangan Qin yan langsung melepaskan diri, berpindah posisi dan bertengger dikepala Qin yan.


Dalam sekejap pun Qin yan ikut merinding, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang akan datang.


"Mundur!" Qin yan mengarahkan mereka untuk waspada. Tiga percikan kegelapan pun muncul, membentuk sebuah sosok manusia, namun tubuh bawahnya berbentuk ular. Kulit mereka hitam, seperti mayat. Wajah mereka tidak utuh, mata yang berwarna putih polos, tanpa adanya pupil. Serta rambut mereka yang aneh, bukan lagi bulu rambut, tapi sekumpulan ular kecil berbisa berkumpul disana. Kecuali satu, yang berada ditengah mempunyai rambut normal seperti manusia.


'Roh ular terkutuk, kutukan..... Nada!' Mata Qin yan langsung membesar ketika memikirkan itu.


'Nada!'


"Cepat aliri diri kalian energi jiwa! Terutama telinga!" Teriak Qin yan pada mereka, tepat setelah ia berteriak, ular yang ditengah langsung berteriak keras.


"AAAAKKKHHHHSSS!!!"


Semuanya menutupi telinga satu sama lain, begitu kerasnya suara itu sampai sampai ruangan tergetar. Bahkan jika energi jiwa mengaliri seluruh tubuh, namun tetap saja suara itu begitu menusuk telinga. Rasanya seperti dunia mau terbalik.


Terkecuali Qin yan, semuanya melindungi diri masing masing karena intuisi Qin yan yang terlambat.


"Tes tes tes" Mata Qin yan terbelalak, berlutut dilantai. Darah pun menetes kelantai, semua yang melihat itu jadi membeku. Gendang telinga Qin yan meledak, dan mengeluarkan darah begitu banyak. Saking sakitnya hingga Qin yan menggigil.


"Kawan, kau baik baik saja." Xing yun perlahan mendekatinya, namun tidak ada respon darinya. Qin yan tetap diam, tidak ada satu pun suara yang ia dengar.


"Qin.. yan..." Tangan Xing yun juga ikut gemetar, semua mata memandang Qin yan dengan penuh rasa bersalah. Si kucing manis yang melindungi diri sendiri diatas kepala Qin yan juga ikut bersalah.


"Mundur dua langkah kesamping kalian!!" Teriak Qin yan lagi, hingga membuat mereka semua terkejut. Tanpa ragu pun mereka langsung menghindar dua langkah kesamping seperti perkataannya, entah itu kanan atau kiri. Hanya mengosongkan yang ditengah.


Qin yan juga ikut menghindar, dua manusia ular lainnya mengeluarkan sebuah cahaya seperti senter kearah mereka. Tidak tahu ada apa dengan cahaya itu, yang pasti naluri Qin yan mengatakan kalau itu sangat berbahaya. Dan ternyata, siapapun yang terkena cahaya itu akan menjadi batu.


"Berusahalah menghindari cahaya itu! Pastikan diri kalian tetap teraliri energi!" Arahan Qin yan kembali terdengar, semuanya melakukan seperti apa yang ia suruh. Karena cahaya itu terus mengikuti dimana pun mereka berada. Diam diam Jia ya menatap Qin yan dengan alis berkerut. Qin yan dari tadi tetap memberikan arahan demi kebaikan mereka, tapi tidak ada yang bisa mengerti keadaan yang sebenarnya. Hingga mereka sendiri pun lalai melindunginya, saking cerdasnya Qin yan, mereka sampai lupa kalau ia tidak mempunyai jalur energi apapun.


Qin yan jadi begini sekarang karena dia yang yang terlalu goblok, padahal ia sudah ditugaskan oleh raja untuk melindunginya. Tapi itu tidak terjadi.


"Jia ya. Jika kau begitu terus aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Fokus dan dengarkan aba abaku. Aku tidak mau ada yang tewas diantara kalian. Tidak ada penyesalan ketika keadaanku seperti ini, ini tidaklah seberapa. Hal yang paling menyakitkan adalah menyaksikan temanku mati. Seperti dua tahun lalu. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Jadi camkan itu baik baik." Wajah Qin yan terlihat sangat serius menatap Jia ya, karna memang ia sudah mengetahui apa yang dipikirkan wanita itu. Keseriusannya membuat Xing yun jadi tersentuh. Mereka berdua langsung mengangguk dengan tegas. Bahkan jika itu Jiaya sendiri.


"Dengarkan aku baik baik, mereka bertiga adalah roh jahat yang sudah terkutuk. Ditengah adalah roh jahat yang suka bernyanyi, sementara dua lainnya bisa membuat orang membatu. Jadi, mereka bertiga tak bisa dikalahkan dengan kekuatan kita. Karena mereka adalah roh meskipun kalian berdua mempunyai elemen cahaya. Itu tidak akan berpengaruh. Berarti, dua roh itu. Usahakanlah agar mereka terkena serangan mereka sendiri. Sementara yang ditengah, dia adalah punyaku!" Qin yan tersenyum jahat, menatap roh yang suka bernyanyi disana. Roh yang tadi sudah menghancurkan gendang telinganya.


Ia juga menatap pintu yang selanjutnya ada didepan. Setelah dilihat lebih jelas, terdapat berbagai tangga nada di pintu itu. Mata Qin yan menyipit melihatnya, setelah itu barulah ia mengerti apa maksud dari tulisan yang ada dibuku yang ia baca tadi. Bersamaan dengan tangga nada dipintu itu.


"AAAAAAAKKHHSSS!!!" Roh ular yang ada ditengah berteriak sekali lagi, semua berdiri dengan diam. Fokus mengaliri tubuh mereka dengan energi, menutup telinga mereka rapat rapat. Kecuali Qin yan yang saat ini memang tidak bisa lagi mendengar, ia pun maju dan langsung meraih leher ular itu. Menyandarkannya langsung kedinding pintu, mengarahkan suaranya kepintu tersebut. Ia juga mencekik, menggenggam mulutnya, atau membantingnya kesana kesini sesuai dengan tangga nada yang tertulis.


Begitu lah seterusnya, Qin yan memperlakukan ular itu dengan kejam. Hingga Xing yun, Jia ya atau si kucing manis pun jadi terdiam melihat tingkahnya yang ngeri.


Ular lain tidak tinggal diam, mereka mengeluarkan cahaya kutukan, skill yang memang menjadi andalan mereka.


"Hentikan mereka! Jangan biarkan dia melukai roh ular satu ini!" Teriak Qin yan sekali lagi, roh ular ditangannya akhirnya kehabisan suara. Diikuti dengan lambang tangga nada yang menyala didinding pintu.


"Sisa satu tangga nada lagi yah." Gumam Qin yan, namun ia tak sadar kalau roh ular yang ia pegang sudah menggerakan ekornya.


"Bukh" Qin yan terpental hingga kedinding satunya akibat sentakan ekor ular itu.


"Pangeran!" Jia ya langsung datang membantunya berdiri.


"Tidak, aku tidak apa apa. Jangan khawatrikan aku." Walaupun Qin yan tidak mendengar suaranya, namun Qin yan tahu dari pergerakan bibir gadis itu sedang memanggilnya. Ia pun berdiri dengan dibantu olehnya.


"Dia membutuhkan pengisian ulang suara sekitar lima menit. Itu memberikan kita kesempatan untuk membunuh yang satu."


Jia ya mengangguk mendengar perkataan Qin yan, kemudian berbalik pada Xing yun dan si kucing manis yang sedang bertarung melawan roh ular itu disana.


"Pergilah, berikan aku kesempatan untuk mencari petunjuk lainnya." Suruh Qin yan padanya, tanpa ragu pun Jia ya langsung bergabung dengan Xing yun yang sedang bertarung. Sementara Qin yan diam diam membuka buku yang ia temukan tadi.


"Jadi begitu yah." Ia akhirnya mengerti dengan maksud buku ini. Dengan tegap ia pun berdiri, hendak bergabung dalam pertarungan. Tapi ternyata Xing yun sudah berhasil membuat salah satu roh membatu. Rupanya mereka terus memanggilnya dari tadi.


Mau bagaimana lagi, ia tak bisa mendengar sekarang. Telinganya sudah kedap pada suara. Namun melihat kinerja mereka yang memuaskan, Qin yan pun tersenyum puas.


"Hancurkan dia sebelum roh ular itu melepaskan diri."


Xing yun dan Jia ya mengangguk mendengarnya, kemudian tanpa ragu mereka menghancurkan roh ular itu. Satu penghalang sudah tumbang, sisa dua lagi.


Kali ini roh ular yang hobinya berteriak kini berhasil mengisi suaranya. Disaat ia hendak bernyanyi Qin yan pun mulai beraksi. Membantingnya kedinding pintu berkali kali hingga tangga nadanya terisi penuh.


"Alihkan ular itu agar mengeluarkan cahayanya kepintu ini!" Teriak Qin yan lagi, menyuruh mereka memanfaatkan skill ular itu yang dapat membuat benda yang ia senter menjadi batu. Seperti apa yang ia katakan. Segel dipintu jadi terlepas akibat kunci tangga nadanya, dan sepenuhnya berubah menjadi batu.


"Bruk" Pintu pun langsung roboh ketika Qin yan meninjunya. Sisanya, Xing yun dan Jia ya membunuh roh ular yang sudah tidak berguna lagi.


Ruangan selanjutnya terpampang didepan mata. Namun ada sesuatu yang aneh diruangan itu, dimana Qin yan sendiri jadi terbelalak melihatnya.


"Apa ini...?"



********


Oke sluuur, silahkan like, komen dan Vote yah. Biar chapternya lebih sering di updet.😊😊