
"Kalian berdua adalah generasi yang sama denganku. Tidakkah kalian sudah mengetahui perasaanku selama ini? Aku akan memberi kalian kesempatan. Mari berpihak padaku, maka kita akan menguasai benua ini bersama. Kalian akan menjadi dua selirku yang berharga."
"Dasar binatang menjijikan!"
Ucapan Chi Tae hanya dibalas celaan oleh Yan Qinying dan Chu yuechan. Keduanya mengangkat senjata masing masing. Chi Tae hanya tersenyum melihat jawaban mereka.
"Kalian sudah kuberikan kesempatan. Tapi malah menyia-nyiakannya. Kuharap, kalian tidak menyesalinya."
"Bajingan bangsat! Kau pikir kami tertarik padamu. Orang yang memiliki hati buruk dan kejam, bahkan merencanakan tindakan memalukan tidak pantas berbicara seperti itu kepada kami."
"Kau!!!" Chi Tae kembali emosi mendengar ucapan menusuk dari Yuechan. Tapi ia akhirnya menjadi tenang. Ia menghela napas sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Sayang sekali, aku tidak akan bertarung dengan kalian."
Setelah perkataannya, dua tetua dari sekte Darah merah neraka pun muncul. Satu wanita memakai penutup mata dengan memegang tongkat sihir ditangannya. Sementara yang satunya lagi, adalah wanita seksi dengan cambuk besi berduri yang panjang.
"Serahkan mereka berdua pada kami master."
Chi Tae mengangguk kemudian pergi. Ia menatap Weiqing dengan senyum tipis diwajahnya.
"Aku sudah lama menunggu kesempatan ini. Aki ingin bertarung dan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Chi Tae perlahan melayang dilangit. Weiqing tertawa mendengarnya.
"Kau benar benar tidak tau dimana tempatmu ."
Angin berhembus begitu kuat. Hingga menerpa seluruh kerajaan bahkan sampai ke wilayah sekitar. Badai terbentuk, membuat para ahli yang bertarung dibawah sana jadi terhenti. Setelah itu, muncullah seorang wanita cantik. Dengan keindahan yang anggun dan elegan. Wanita itu menatap Chi Tae dengan tajam.
Chi Tae tertawa.
"Aku tak menyangka, salah satu ahli tingkat semigod dari tiga bersaudari akan melawanku." Ia memandangi tubuh wanita itu dengan penuh *****. Wanita yang merupakan istri Weiqing, Sangguan Bing er. Dia sangat cantik, bahkan kecantikannya membuat orang iri. Tapi sayangnya, bunga secantik itu dimiliki seorang playboy seperti Weiqing. Sangat disayangkan.
"Brat sialan! Aku akan membunuhmu!"
Sangguan Bing er menyadari tatapan itu, dengan kemarahan dan kejijikan, ia langsung melesat melawannya.
Diujung bagian timur, pasukan sekte Lembah Vermillion sudah menghancurkan sebagian kota.
"Benar benar disayangkan. Tidak ada penduduk disini. Mereka benar benar sudah dipindahkan. Sigh." Salah satu mereka mengeluh dengan kecewa.
"Bukannya kita datang kesini untuk mendengarkan teriakan menyakitkan. Kita bahkan tidak menemukan satu pun manusia. Yah... Terkecuali yang ada diatas sana."
Aura disekitar mereka tiba tiba terdistorsi, semua orang jadi lebih waspada.
"Siapa itu?"
"Siapa aku? Kalian benar benar punya nyali untuk datang ketempatku. Apalagi dengan niat buruk seperti itu." Sangguan Fei er muncul dengan Bloody es claw ditangannya. Tiga buah cakar yang merupakan senjata kondolisasi Tier God. Mengguncang para prajurit sekte.
"Ka-kau...!!"
"Ya, aku." Wanita itu tersenyum penuh kekejian. Ia pun berbalik pada wanita yang dibelakang.
"Wu yuehan, Tian er. Biar aku yang urus disini. Kalian seharusnya memeriksa keadaan Barat dan selatan. Mungkin pasukan sekte Racun dan sekte Darkdemon sudah merusak semuanya."
"Baiklah, kalau begitu kami serahkan disini padamu." Kedua wanita itu mengangguk kemudian meluncur kearah yang berbeda.
Pasukan para ahli kali ini sangat banyak. Tingkat Kaisar setidaknya ada seratus ahli setiap sekte. Ini cukup mengejutkan, sudah tentu pencapaian mereka ini adalah hasil yang tidak beres.
Para ahli kaisar tersebut melawan tiga istri Weiqing yang menyerang mereka. Sementara pasukan istana melawan antek antek sisanya. Dalam sekejap kota yang awalnya damai berubah menjadi puing puing yang tidak terhitung. Cui Xie dan Rong Qiyu menyaksikan semua itu jelas dari atas sana.
"Kalian benar benar berani sekarang, sepertinya kalian mempunyai pendukung yang hebat."
Empat ahli master legenda, Long Siya, Duan tianlang, Sai Hwang, dan Du Bu gang mendatangi Cui Xie dan Rong Qiyu.
"Cukup kalian pahami, kekuatan kami jauh lebih kuat dari kalian."
"Hahaha.... Benarkah itu?" Rong Qiyu mengangkat kedua tangannya. Sebuah kekuatan ruang pun terlihat. Dimensi Gate terbuka, dan semua orang terbelalak saat melihat apa yang keluar dari dalam gerbang itu.
Sejenis makhluk aneh yang tidak mereka kenal, keluar dari gerbang tersebut.
"A-apa itu!"
Jika spesies ini dikatakan sebagai beast, maka itu salah. Mereka sejenis manusia, namun berjalan seperti kera. Tak mempunyai pakaian dan warna tubuh mereka berwarna merah darah. Itu adalah spesies Altefra. Spesies Humanoid campuran ras demon dan beast, dengan kekuatan Yimoying didalam tubuh mereka. Demon Magicstal sangat terkenal dengan kemampuan mereka mengontrol makhluk menjijikan ini. Mereka suka memakan bangkai dan hidup ditanah yang penuh dengan mayat dan darah. Kepribadian mereka sangat buruk, hingga darah adalah hidup mereka. Sekali mereka mencium darah, maka mereka tidak akan bisa lari dari kenafsuan.
Rong Qiyu tertawa.
"Cukup dipahami, pasukan kami bukan hanya ini."
Tidak lama kemudian, Tiga sosok lain muncul. Mereka sangat tua seumuran dengan 4 master legenda. Penatua tertua sekte Darah merah neraka. Penatua tertua sekte Racun, dan penatua tertua sekte Lembah Vermillion. Mereka bertiga muncul membuat keempat master legenda tercengang.
"Ka-kalian! Bukankah sudah mati?" Du Bu Gang bertanya dengan raut wajah tak percaya.
"Hahaha... tentu saja kami membangkitkan mereka." Tawa Cui Xie. Itu benar, Dengan kekuatannya. Bukan mustahil untuk membangkitkan legenda tertua mereka.
"Kalian benar benar tidak tau malu. Menjadikan penatua kalian sebagai boneka. Benar benar tercela!"
Sayangnya perkataan mereka di bantah oleh tetua yang baru dibangkitkan tersebut.
"Sayang sekali, ternyata You Jan telah tewas rupanya." Gumam tetua sekte Darah merah Neraka.
"Benarkah? Kira kira siapa yang membunuhnya? Apa bocah sialan Weiqing?" Tanya penatua tertua sekte Racun.
"Bukan. Kurasa bukan dia. Terakhir kali aku merasakannya dia mati di kerajaan kecil Sunmoon. Ada kekuatan mengerikan disana yang cukup membuatku tersentak."
"Kau juga merasakannya yah." Penatua tertua sekte Lembah Vermillion.
"Sepertinya ada ekstitensi yang melebihi kekuatan Weiqing."
'Bukankah itu kerajaan Qin Yan?' Duan tianlang berpikir. Siapa yang menyangka, You Jan si guru Cui Xie bisa mati disana. Apakah dia dibunuh oleh Yao chen. Dia dengar, sekte baru istana Niwan mempunyai tiga kekuatan tak terkalahkan. Salah satunya adalah Yao chen, dan dua lainnya tidak ia ketahui. Mereka bertiga mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bahkan Weiqing tidak sembarangan macam macam dengan mereka. Tentu saja ia mendengar ini dari Weiqing.
"Yah, mau bagaimana pun. Aku senang bisa melihat para generasi seangkatan kita. Kalian hidup nyaman rupanya sebagai lansia."
Sai Hwang dan Duan tianlang mundur sejenak. Sai Hwang berbalik pada Bi Li yang mengantisipasi para murid asosiasi Alkhemis.
"Apa pun yang terjadi. Kalian harus dihentikan!" Teriak Du Bu gang.
"Hah? Apaan pak tua berotot ini. Kalau kau mau, coba saja." Penatua sekte Darah merah neraka mulai mengambil ancang ancang. Rambutnya yang putih berubah menjadi merah menyala. Kedua tangannya berubah menjadi bagi barah lava menyala.
"Hiyaaah!!!!" Ia langsung melayangkan tinjunya.
"BOOOOM" Ledakan terjadi saat tinju milik penatua tersebut berbentrokan dengan tinju Di Bu gang.
"Seperti namanya. Dasar kau pendekar Palu langit! Dimana Palu mu dasar tua bangka!"
"Ceh, aku tidak akan mengeluarkannya hanya untuk mayat busuk sepertimu."
Kedua bertarung dengan sengit diatas udara. Sai Hwang menonton disana dengan keringat bercucuran.
"Sepertinya kita juga harus bertindak. Huh!!" Sai Hwang tiba tiba melihat keanehan dibawah sana.
Di setiap area kota terdapat formasi segel yang sudah ditanam diberbagai tempat tempat tersembunyi. Segel itu menyala, dan muncullah pasukan pasukan lain yang mulai menyerang para humanoid Altefra.
Sekte Gunung es bersalju, Sekte Menara Es suci, Sekte bunga, sekte Peerless, sekte pedang, sekte tombak. Semuanya memasuki kota dan ikut berperang. Masing masing memiliki lawan sendiri. Tinggalah Cui Xie yang masih berdiri diatas sana. Ia membaca sebuah mantra dan muncullah raksasa hitam yang sangat kuat.
"GROAAAAAARRR!!!" Raksasa itu membuat tanah bergetar karena amukannya.
"A-apa itu!" Semua orang berbalik kearah makhluk itu termasuk para master.
"Ini adalah Monster yang sudah kuciptakan dengan mengobarkan banyak sekali nyawa manusia!!" Cui Xie langsung mengendalikan monster tersebut untuk menghancurkan para manusia.
Dua master sekte tersisa maju dan melawan monster itu. Feng Diuliu si master tombak dan juga master sekte pedang datang melawan monster itu. Kekuatan mereka yang cukup kuat, membuat Cui menggertakan gigi.
"Dasar pengganggu!" Ia langsung menambahkan kekuatan monster yang berada dibawah kendalinya dan membuat kedua master terhempas.
"Apa perlu, aku bantu?" Chi Tae datang kesamping, tertawa sinis dengan penuh ejekan.
"Tidak perlu. Lebih baik kau keluarkan dewa kehancuranmu. Bukankah kau ingin menunjukan padaku!" Chi Tae menjawab dengan keringat bercucuran.
"Huh? Ah aku juga ingin mengeluarkannya. Tapi, tidak sekarang. Tapi, melihat mereka yang heboh dibawah sana. Kupikir ini ide yang bagus." Chi Tae tersenyum penuh semangat. Ia pun melompat ke atas langit. Ia tidak memperdulikan Sangguan Bing er mengejarnya disana.
"Mari lihat ini. Dewa kehancuran! Bangkitlah!!!" Ia pun membentuk segel formasi pemanggilan diatas langit.
Setelah itu muncullah sebuah mahluk raksasa dengan sayap naga dan kepala banteng.
"Blood demon bull dragon flame!"
"GROAAAAAARRR!!!" Raksasa tersebut langsung menabrak pulau terapung.
"BOOOM" Pulaunya menjadi miring. Sebagian kecil hancur, dan perlahan pulaunya terjatuh kebawah.
"Kuaaaakkk!!!" Para manusia yang menempati pulau itu, termasuk para murid dari kerajaan kerajaan yang ikut turnamen jadi terhempas kemana mana.
"Aaaaaaaahh...!!"
Akibat pulau yang miring, Rong Rong yang dari tadi terpaku melihat kekacauan diluar sana. Jadi tak sempat menyelamatkan diri. Ia terpental ke perumahan perumahan yang hancur bahkan berguling ke bawah.
Untungnya, ada seseorang yang menyelamatkannya hingga ia tidak apa apa.
"Rong Rong. Aku harus membawamu ketempat yang aman." Wajah sang kakek jadi pitam. Ia pun menuju ke sisi kerajaan Zhongtian. Wilayah paling aman. Disana, orang orang yang dipindahkan juga berada disitu. Mereka tercengang dan sangat terkejut melihat pemandangan kota didepan mereka. Benar benar mengerikan, kehancuran kerajaan Zhongtian benar benar terjadi.
Apalagi menyaksikan pulau terapung yang terjatuh. Benar benar membuat jantung mereka berdebar.
"Rong Rong, tunggu disini. Kakek akan segera kembali."
"Kakek!" Rong rong hanya melihat punggung kakeknya yang pergi. Ia pun berbalik kesana sinis. Para murid dari berbagai kerajaan juga dipindahkan kesini setelah kedatangannya.
Ada yang terluka, ada juga yang panik. Bahkan tidak sedikit yang langsung jatuh pingsan. Ayah Huang er, bekerja mati-matian mengobati mereka.
"Huang Jin. Kau jaga mereka disini." Sang kakek tabib yang berada ditingkat Raja berkata dengan wajah serius.
"Tapi kepala dekan!"
"Tidak, jangan hentikan aku. Mereka membutuhkanku. Aku akan mengobati para prajurit dimedan perang."
Ayah Huang er akhirnya mengangguk. Kakek tersebut menghilang dan muncul ditengah kota.
"Jan er. Kau juga harus menunggu disini."
"Kenapa ayah? Kalau ayah pergi, kau bisa saja...."
"Tidak. Kerajaan Zhong Tian adalah kampung halaman kita. Aku juga harus ikut bertarung membantu para prajurit lainnya."
Tuan Jan juga pergi menuju pertempuran. Darah, kehancuran, kekacauan, teriakan, ledakan dan bunyi bentrokan senjata. Tidak memungkiri bahwa pertempuran ini benar benar kacau. Prajurit yang terluka berada dimana mana. Bahkan, tidak sedikit pada peserta yang gagal dalam turnamen juga ikut berperang.
"Raja Yama! Boneka kematian!!" Fi er menggunakan boneka miliknya untuk melawan para humanoid Altefra yang berusaha membunuh Fi ang.
"Kakak, kau baik baik saja?"
"Aku... Ukhuk ukhuk..."
Melihat itu, Fi er datang merangkul kakaknya.
"Hah!" Tiba tiba salah satu humanoid datang menyerangnya.
"Swoosh" Namun tiba tiba sebuah dinding Golem langsung menghancurkan humanoid tersebut.
"Maaf. Apa aku terlambat?" Seorang pria muncul didepan mereka.
"Gao lu?" Fi er tercengang. Satu Humanoid datang menyerang, namun langsung dihantam oleh kapak milik Ma Quin.
"Kita harus pergi dari sini!" Ucap wanita itu dengan serius. Namun mereka terhenti saat ratusan Humanoid mengelilingi mereka.
"Sial tidak ada jalan."
Boneka Fi Ang dan Fi er juga hampir hancur melawan musuh yang tiada habisnya. Kekuatan Ma Quin dan Gao Lu juga perlahan melemah.
"Apakah kita akan mati disini?"
"Tentu saja tidak." Sebuah suara misterius akhirnya tiba.
"Nenek!" Mata Fi er dan Fi Ang jadi bersinar.
Wajah Sang nenek memperhatikan kerajaan yang sudah hancur ini. Ia pun berbalik keatas langit. Kerutan diwajahnya bertambah kerut karena menyaksikan seluruh ahli saling bertarung disana.
Hatinya tiba tiba menjadi khawatir. Bagaimana tidak, penyangga dunia, atau yang disebut penyeimbang dunia. Sekarang sudah bertarung disini. Mereka pikir, bagaimana dampaknya nanti pada dunia?
"HAAAAAAAAHH....!!!" Sangguan Tianyue menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan pulau yang terjatuh. Sampai akhirnya, ia mengaktifkan formasi yang sudah mereka siapkan.
"Swosh" Formasi menyala, Sangguan Tianyang dan Sangguan Tianyi datang membantu.
"Aaaarrgggh!!" Mereka menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk menahan pulau yang besar itu.
"Heeeh, mereka ini benar benar mengabaikan kita." Lawan mereka sebelumnya, Hu Runggue dan dua lainnya, memperhatikan ketiga master tersebut yang berusaha mati-matian menahan pulau.
Ketika mereka menyaksikan kesulitan ketiga orang itu. Senyum tersungging diwajah mereka.
"Bukankah ini ide yang bagus?. Mari kita serang mereka disaat mereka sedang bersusah payah menahan pulau kebanggaannya itu."
"Kau benar. Mari kita bunuh tiga legenda itu."
"Hehehe..." Mereka semua langsung melesat.
"Huh!" Tentunya tiga bersaudara Sangguan terkejut akan hal itu yang terjadi. Sebenarnya, mereka sudah menduga. Namun, pulau mereka jauh lebih pentin dari nyawa. Bagi mereka, pulau ini adalah harta paling berharga yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka. Dan juga beberapa masyarakat masih berada di pulau itu. Tidak mungkin mereka mau membiarkan pulau ini hancur dengan mudah.
Mau menghindar pun mereka tak bisa, apalagi mencegah mereka.
"Wuuung" Tiba tiba ada sesuatu yang salah.
"Apa!" Ratusan boneka memenuhi langit.
"Ini!" Para master lain terkejut.
"Lanjutkan usaha kalian. Mereka akan kutangani." Seorang nenek melayang didepan para ketiga Sangguan bersaudara.
"Nenek Fi fi!" Mereka terkejut melihat kedatangan satu legenda yang tidak terduga. Tapi pada akhirnya, mereka pun tersenyum dan bertingkah layaknya sang master. Tenang dan bijak.
"Baiklah. Ku serahkan mereka padamu. Tolong yah."
Dibawah sana.
Fi er berlari sambil membawa Fi Ang yang terluka. Ma Quin dan Gao lu berusaha melindungi mereka dari kejaran para humanoid yang menyerang. Untunglah ada nenek Fi fi, kalau tidak. Mungkin mereka tidak akan selamat dari banyaknya pasukan Humanoid tersebut. Meskipun mereka dimusnahkan, tapi tetap saja. Para mahkluk menyebalkan ini tidak ada habisnya.
"Sial, sebenarnya makhluk apa mereka?" Ma Quin semakin kelelahan. Sampai akhirnya, keberuntungan menuntun mereka. Fi er tidak sengaja bertemu kakek dokter yang tengah mengobati para prajurit yang tersisa.
"Tolong, kakakku terluka. Dia diserang oleh monster monster itu." Fi er datang dengan wajah panik.
"Di terluka cukup parah. Tapi tidak masalah, aku bisa menyembuhkannya." Kakek itu pun mengangguk dan mulai mengobati Fi Ang.
Sementara Ma Quin dan Gao Lu bergabung dengan para prajurit yang melingkar melindungi pusat pengobatan.
"Aaaaaaaaaaahhh.....!!! Kakak Cu! Tolong aku....!!!" Rung dong si payah berlari terbirit birit sambil menangis ketakutan saat dikejar oleh para humanoid.
"Disana! Mari kita pergi kesana!" Seorang pria kekar yang dipanggil kakak Cu menunjuk kearah pada prajurit yang terluka. Disana ada kakek yang tengah mengobati.
"Bum"
"Slash"
Para humanoid ditebas, ditendang dan dihantam. Dua pria sejati melawan mereka tanpa ada rasa takut. Namun seperti biasa, kedua pria ini tidak memiliki hubungan yang baik satu sama lain.
"Sudah kubilang kan. Jangan mengikutiku terus." Dai Yueheng dari klan gentle kick memarahi pria berambut hijau yang bertarung dengan pedangnya.
"Siapa bilang aku mengikutimu. Kau yang mengikuti kami." Marah Xuan ziwei, adik perempuannya juga ikut bertarung dengan pedang yang ia miliki.
"Xuan yui, dimana Na er. Bukankah dia tadi disekitar sini." Tanya kakaknya.
"Entahlah, aku tidak tahu dimana." Gadis itu menggelengkan kepala.
"Aku melihatnya, dia tadi pergi kearah sana." Satu pria lagi yang bertarung dengan dua pedang. Hu Bai salah satu jenius surgawi menunjuk ke arah samping.
"Swosh" Sebuah aura yang tidak biasa menyelimuti tubuh mereka. Tapi aura itu malah memperkuat tubuh mereka.
"I-ini..."
"Elemen Life."
Mereka berbalik ke orang yang mengirim kekuatan ini. Ternyata seorang gadis elf yang bertarung sendirian diatas atap bangunan dengan panahnya yang diarahkan ke para Humanoid. Terlebih lagi, gadis elf tersebut menyelamatkan dua orang gadis yang tengah terluka parah.
"Kakak, bertahanlah." Xu Jiu Jiu berusaha mengangkat Xu mi er. Namun luka yang mereka derita membuat mereka kesusahan.
"Wung wung" Akar akar pun muncul didalam tanah, menyerang para humanoid yang mendekat.
"Kalian baik baik saja?" Shi Jang dari kerajaan Greenland datang menolong mereka.
"Akan kubawa kalian ketempat yang aman. Putri Zhang...." Shi jang memanggil seorang gadis yang tengah bertarung bersama pria yang memakai tombak cahaya. Gadis itu berbalik.
"Tolong, bisakah kau bawa mereka ketempat yang aman?"
Zhang Yuisha berbalik melirik Xu Jiu Jiu dan Xu mi er. Ia pun mengangguk.
"Baiklah."
"Yuisha, aku akan menemanimu." Xingyun datang memegang bahunya. Yuisha pun mengangguk. Mereka berdua pergi membawa dua gadis itu ke tempat yang aman. Dan mereka juga tidak sengaja menemukan tempat dimana para prajurit dirawat. .
"Sial, mengapa tiba tiba jadi begini?" Xingyun menyeka keringat dan darah di wajahnya. Ia pun berbalik kearah langit. Dimana para ahli bertarung disana. Hal yang sangat menakjubkan, pemandangan itu hanya bisa dilihat sekali seumur hidup. Namun, jelas sekali ia sangat takut. Karena hasil dari perang ini membawa perubahan pada dunia. Jika kemenangan jatuh ditangan musuh, maka dunia kemungkinan akan hancur. Tapi jika kemenangan jatuh ketangan Weiqing. Maka dunia akan baik baik saja.
Terlepas dari itu, pikiran Xing Yun mengharapkan kedatangan seorang yang anak yang jelas dapat menentukan nasib perang ini.
"Bagaimana keadaan master yah." Xingyun memikirkan Qin Yan yang masih bertarung didalam dunia cermin. Menjalani kompetisi dimana mereka semua tidak tau betapa kacaunya diluar.