
Disaat yang sama, ratusan pasukan berada tepat dibelakang mereka. Mereka merayap bagaikan semut yang menuju tujuan.
"Apakah mereka sudah terlihat? Bukankah kita mengikuti mereka tepat dibelakang. Bagaimana bisa mereka menghilang begitu saja." Seorang tentara kekar bertanya pada rekannya yang juga tentara. Bisa dibilang, temannya ini mempunyai keunikan di bidang pencarian.
Hanya saja, berapa kali pun temannya itu mencari keberadaan kelompok Qin Yan. Ia sama sekali tak bisa menemukannya. Ini membuatnya heran.
"Huh! Ada, ada seseorang disana." Tunjuk nya. Semua tentara yang lain berbalik kesana. Dimana ada seorang pria berjubah berada di puncak batu yang tinggi dengan wajahnya tertutupi oleh topeng.
'Tidak salah lagi. Itu dia.' Patriak kekar yang merencanakan ini semua tersenyum licik. Ia mengangkat tangannya untuk menghentikan seluruh pasukan yang hendak maju ke depan. Termasuk para pembunuh yang berasal dari keluarga Angin kipas.
"Patriak Zao, apakah itu orangnya?" Pemimpin kelompok pembunuh itu datang bertanya.
Patriak Zao, si panglima tentara terkuat dikerajaan Angin barat yang sudah pensiun. Pria yang terkenal dengan kekuatannya yang luar biasa dan elemen petir yang melapisi tubuhnya. Membuat pria ini sangat disegani oleh siapapun. Dia sangat berbakat dalam hal apapun. Termasuk taktik, menyusun rencana, memimpin suatu kelompok, bertarung jarak dekat maupun jarak jauh. Orang orang mengatakan kalau dia adalah orang paling sempurna dalam segala hal di pertempuran. Makanya, dia sering disebut sebagai panglima jenderal perang yang melegenda.
Tapi hanya beberapa orang saja yang tau bagaimana kebusukan hati dari pria tua ini.
Dia menanggapi pertanyaan pemimpin Aon. Kelompok pembunuh paling misterius di kerajaan ini.
"Yah, dia mirip sekali dengan deskripsi yang diberikan mata mata kami."
"Heh, jadi dia yang mengalahkan ketujuh tetua keluarga Xiu dengan mudah?" Pemimpin kelompok pembunuh itu menatap Qin Yan disana. Terdapat jejak merendahkan dimatanya.
"Kami akan menyerang duluan. Kalian berdiri dan nonton dari sini. Biar kami tunjukan bagaimana cara membunuh. Keluarga Xiu yang bahkan tak berkutik didepan orang itu? Heh, aku ingin sekali tertawa." Pemimpin pembunuh itu hendak memberi isyarat kepada anak buahnya. Namun patriak Zao menghentikannya dengan wajah serius.
"Apa kau meremehkan kami? Sudah kubilang kan, kita jalankan rencana ku. jangan bertindak sembarangan. Apa kau sudah lupa yang kau bicara kan tadi? Dia mengalahkan tetua keluarga Xiu dengan mudah. Sosok ahli yang bahkan masih kita pikirkan dua kali untuk menyerang."
"Cih, baiklah. Kali ini aku mengikuti rencana mu. Tapi jangan membuatku menunggu." Pemimpin kelompok itu melepaskan tangannya dengan paksa. Menatap patriak Zao tak senang serta masih meremehkan Qin Yan yang ada diatas sana.
Namun, apakah Qin Yan masih menunggu? Jawabannya tidak. Qin Yan berada diatas sana. Menatap mereka yang seperti bersiap siap untuk menyerang. Kuda kuda mereka terasa berbeda dari penyerangan biasa. Dari awal dia sudah menyadari kalau mereka mempunyai rencana licik kepala mereka.
"Cih, lama sekali." Qin Yan langsung melompat dari tempatnya.
"Lihat dia!" Semua mata tertuju padanya.
'Apakah dia akan mulai menyerang?' Wajah patriak Zao menunjukan keringat.
'Tapi mengapa dia tidak maju?' Dia melihat Qin Yan yang hanya jatuh kebawah. Bukan melompat menyerang mereka.
"Bum" Sampai akhirnya Qin Yan mendarat di tanah bagaikan batu yang jatuh menghantam Tanah. Titik jatuhnya berada jauh dari mereka, hingga mereka hanya melihat debunya saja yang bertebaran akibat jatuhnya dia.
Mereka bahkan sempat mengira kalau orang itu pasti bunuh diri.
Namun beberapa orang yang peka langsung menyadari kejanggalannya.
"Hati hati!" Salah satu berteriak memperingatkan yang lain.
Mereka yang masih belum mengerti apa yang terjadi tentu tidak mengerti hal itu. Dan mereka tidak menyadari, kalau Qin Yan sudah berada didepan mereka dengan belati Ying dan yang, yang siap untuk menebas.
"Slash" Leher salah seorang tentara pun terputus. Ini membuat mereka terkejut bukan main. Para tentara lain ternganga ketika melihat sosok bertopeng tersebut sudah ada didepan mereka. Tidak jauh dari mereka semua. Mereka mundur, namun Qin Yan tidak membiarkan mereka.
"Ptank" Kali ini ada yang menahan tebasannya. Seorang pria paruh baya kekar dengan satu tangan besi menahan tangan Qin Yan. Dia tersenyum sinis saat melihat Qin Yan didepannya.
"Dasar bedebah licik. Kau diam diam menyerang kami. Tapi, kau cukup cepat juga." Cincin Merah pria itu pun bangkit. Lalu ia meninju Qin Yan dengan sekuat tenaga.
"Bum"
Tapi dia tidak menyangka bahwa Qin Yan dengan mudah menangkisnya.
Secepat kilat, Qin Yan bergerak dengan cepat lalu memainkan kedua belatinya diseluruh bagian tubuh pria itu.
Bahkan meskipun pria itu memakai armor kondolisasi tingkat tinggi, itu tidak bisa menghentikan betapa mengerikannya senjata roh tipe belati ini. Armornya berjatuhan karena tercincang. Lalu diikuti dengan bagian potongan tubuhnya.
Semua orang tercengang.
"Jenderal Zao da!" Mereka tidak percaya, jenderal militer yang kuat seperti Zao da akan mati dengan mudah.
"Awas! Dia menyerang lagi!"
Semua orang berteriak. Namun tidak satu pun dari mereka bisa menghentikan Qin Yan.
"Slash slash slash"
"Uaaah...! Aaaakkh...! Tangankuuu...! T-tidak! Tolong ampuni aku..!!" Satu per satu tentara berjatuhan tak bernyawa.
Dia membuat sang patriak begitu marah. Tubuhnya langsung dilapisi aliran listrik.
"Pa-patriak, bagaimana dengan rencanannya?" Salah satu tentu bertanya dibelakang. Tapi itu percuma, patriak kekar tersebut sudah sangat emosi.
"Lupakan rencana, musuh bergerak sangat cepat dibanding perkiraan kita." Dia langsung menghilang ditempatnya.
'Cih, aku tahu kau cepat. Tapi, beraninya kau menyerang anak buahku! Dasar pengecut!' Dia mengincar Qin Yan dari kejauhan. Dan ketika dia bergerak, kecepatannya bahkan terbilang lebih cepat dari Xie Xie. Kepalan dialiri listrik bersiap menghempas, saat kepalan itu mendekati kepala Qin Yan dengan jarak satu senti. Tetapi tiba tiba kepala Qin Yan miring kebelakang hingga kepalan itu hanya melewatinya. Mata merah Qin Yan mengikuti kemana perginya kepalan itu. Dan itu, membuat sang patriak sendiri begitu tercengang.
Belati mulai bergerak dari bawah dan hendak menebas tangan itu. Namun patriak berhasil mengatasinya. Dia berhasil menghentikan Qin Yan, dan memilih untuk mundur.
'Sial! Apa yang terjadi? Seranganku... dihindari?' Saat ia tengah berpikir, Qin Yan muncul didepannya. Ini membuatnya terkejut bukan main. Tapi ada lagi salah seorang pria berjanggut panjang menghentikan serangan Qin Yan. Pria berjanggut panjang itu tidak kekar seperti patriak Zao, dia jauh lebih kurus. Namun kecepatannya tidak bisa diremehkan. Dia jauh lebih cepat dari Xie Xie dan juga patriak Zao sendiri. Pemimpin kelompok pembunuh misterius keluarga Angin kipas, Aon Ming.
"Patriak Zao, tidak biasanya anda gagal fokus seperti itu. Apakah orang itu memberimu tekanan?" Pria kurus itu terkekeh melihat kesalahan patriak Zao. Seolah menghina atas kesalahan yang dibuat olehnya.
"Cih... Aku tadi sengaja melakukannya. Aku menunggu kesempatan yang bagus untuk menghajar orang itu. Siapa sangka kau menggangguku." Patriak Zao memalingkan wajah tak senang.
Tapi itu justru membuat Aon Ming semakin merendahkan patriak Zao, meskipun ia tidak mengatakan lewat mulut. Tapi Patriak Zao jelas tadi tak bisa berbuat apa apa menghadapi serangan Qin Yan.
"Jadi Patriak Zao, sepertinya kita harus serius melawannya bukan? Jadi ingatlah, jangan lakukan kesalahan yang kedua kalinya. Kau mengerti kan?"
Aliran listrik ditubuh patriak Zao semakin membara. Ia sangat terprovokasi dengan kata kata Aon Ming. Seperti Aon Ming tidak ada habis habisnya mengejeknya. Dia begitu marah. Dia pun maju dengan cincin peraknya yang menyala.
"Aku sudah bilang kan. Tadi itu adalah kesalahanmu karena menggangguku. Kenapa masih menguntit hal itu."
Aon ming jadi tertawa sinis.
"Baiklah, sekarang aku mengerti. Tidak ada gunanya kita berdebat disini hanya masalah sepele. Bisa jadi kita bisa dihabisi bedebah itu."
"Heh, itu jelas kau yang nanti dihabisi olehnya."
Keduanya menatap Qin Yan dengan garang. Bersiap untuk bertempur dan masing masing mengendalikan pasukan.
"Bentuk formasi barisan!"
"Bentuk formasi array!"
Patriak Zao menyuruh para tentara membentuk formasi barisan yang mereka pakai saat bertempur. Dan pemimpin Aon Ming menyuruh anak buahnya untuk membentuk formasi pengunci mereka.