
Tampaknya anak laki laki itu seorang pangeran, dilihat saja dari penampilannya. Rambutnya merah pendek, tapi terdapat lambang kerajaan Kalise dilengan bajunya.
"Hei Qian qian, kenapa kau begitu sombong. Kau kira kau yang terbaik hah? Kau itu hanyalah putri dari kerajaan miskin. Jika kau menikah denganku, maka ayahku bisa saja membantumu. Kerajaanmu tidak akan lagi dipandang rendah oleh dunia." Tatap anak itu dengan mata melotot kearah Qian qian, menggenggam lehernya dan menekannya kedinding.
"Le-lepaskan aku.." Qian qian meronta ronta, tubuhnya menggigil karena ditekan oleh anak itu yang sudah berada ditahap Master.
"Heeeh... Jawab aku dulu, aku sudah berusaha menawarimu dengan sopan. Tapi semakin aku melunak maka kau akan semakin angkuh. Kau pikir dirimu itu siapa?" Ia kemudian mendekat kearah wajah Qian qian, hendak mencium bibir gadis itu. Namun dengan cepat Qian qian berbalik menghindarinya. Hal itu makin membuat laki laki itu marah.
Dengan kasar, anak itu langsung menggenggam dagu Qian qian. Menggenggamnya dengan erat, bahkan wajah anak itu menjadi merah padam karena saking marahnya.
"Sialan, mau sampai kapan. Kau akan bertahan seperti itu." Ucapnya dengan geram.
"Justru yang kau lakukan ini membuatku makin jijik padamu." Dengan susah payah, Qian qian mengucapkan kata kata itu dengan mata membesar. Sejauh ini, tekanan yang ia rasakan tidaklah membuatnya goyah.
Hal itu membuat kemarahan anak itu semakin menjadi jadi, ia langsung mengangkat tangannya. Hendak menampar Qian qian.
"Dasar gadis gila!"
Mata Qian qian tertutup, namun ia heran mengapa tamparan itu tak datang. Ketika membuka mata, rupanya tangan itu berhenti didepan wajahnya sendiri. Ia juga melihat kesamping dimana Qin yan memegang tangan anak itu.
"Sialan! Berani beraninya ka..."
"Buakh" Wajah anak itu langsung Qin yan hantam kedinding. Tepat disamping gadis itu. Qin yan menghantam wajah anak itu sekuat tenaga, hingga kepalanya pun melobangi dinding.
"Kau lah yang gila." Berkata Qin yan dingin, menatap anak itu dengan penuh kejijikan.
"Hehehe... Aku tak menyangka kau berani memukulku begini." Tawa anak itu, rupanya ia menangkis pukulan Qin yan. Hanya saja tak bisa menahan tekanan tinjunya.
"Buakh" Pukulan kedua langsung dilancarkan, kali ini dia tidak sempat menangkisnya.
"Apa ini? Apa kekuatanmu cuma segini?"
Wajah Qin yan menjadi hitam, anak itu masih bisa tertawa disaat kepalan tangannya masih menempel pada wajah anak itu. Akhinya ia pun mengumpul seluruh energi pernapasan dilututnya. Ditambah dengan aliran energi Neidan. Membuat lutut Qin yan jauh lebih kuat.
"Qian yu, kau itu tidak punya hak untuk melawan..." Mata anak itu tiba tiba membesar, kedua tangan Qin yan yang tengah meninjunya kini berbalik memegang kepalanya.
"Buakh" Lutut Qin yan langsung menghantam wajahnya.
'Ukh!' Sejenak, anak itu langsung kehilangan kesadaran. Dua tangannya yang ia gunakan untuk menangkis lutut Qin yan, kini salah satunya jadi retak tulang akibat terlalu meremehkan lawan.
"Bruk" Dalam sekejap ia pun terjatuh tak berdaya dilantai.
"Hah hah hah" Qin yan juga terjatuh lemas, wajahnya pucat serta keringat bercucuran. Ia sebenarnya tidak mempunyai kekuatan beberapa hari, dan sekarang ia memaksakan dirinya untuk mengeluarkan sisa tenaganya. Saat ini, kakinya sudah lemas. Bahkan Qin yan sendiri gemetar saat berusaha berdiri.
"Ka-kau.. tidak apa apa?" Qian qian hendak menolong Qin yan, tapi tidak jadi. Apa yang terjadi beberapa hari yang lalu serta kebenaran yang ia dengar masih belum hilang dihatinya. Jadinya, ia sekarang hanya diam menyaksikan Qin yan kesakitan.
"Huh huh... Baj*ngan! Dasar kalian dua bersaudara baj*ngan!" Anak itu terbangun lagi, sementara Qin yan mulai khawatir dengan situasi ini.
'Apa tidak ada orang disini? Siapa pun itu, penjaga?' Mata Qin yan bergerak kesana sini, tapi tidak melihat siapa pun. Ia ingat kalau dia sudah meminta ayahnya untuk mengosongkan penjaga dibagian sini. Ia ingin menggunakan prajurit bayangannya, tapi sepertinya itu lebih parah lagi jika Qian qian mengetahui hal tersebut.
Cincin hijau anak itu bangkit dan bersinar terang tepat ditangan kanannya yang membengkak akibat atribut kekuatan.
"Skill pertama! Tapak Smash!" Lima jari pun terarah pada Qin yan.
"Hentikan Jue ji!" Namun Qian qian tiba tiba datang dan berdiri didepan Qin yan dengan tangan direntangkan. Tindakan gadis itu rupanya bisa menghentikan anak itu.
"Qian qian, lebih baik kau pergi dari situ. Jika tidak, kau juga akan terkena seranganku ini." Tangan anak itu mulai diairi energi lagi. Tapi hal itu tidak membuat Qian qian mundur, malah cincin birunya juga bangkit dan berputar ditangan kirinya. Elemen angin berhembus dari dalam tubuh gadis itu.
"Baiklah kalau begitu, kau yang memintanya. Maka jangan salahkan aku!" Ia kembali mengangkat tangannya, bersamaan dengan Qian qian yang sudah membuat pertahan angin.
"Puing puing" Tiba tiba setetes air menghantam mata Jue ji, akibatnya ia terhenti sesaat karena matanya yang perih.
"Apa yang kau lakukan disitu Jue ji, apa kau tidak punya etika? Beraninya kau membuat masalah disini." Qian yu tiba tiba muncul dibelakang dengan cincin putih berputar dikedua tangannya. Di kamar, ia mendengar suara keributan yang berasal darisini. Jadi ia keluar untuk mengecek. Untungnya ia masih sempat karena Qin yan dan Qian qian masih baik baik saja.
Tentu hal itu membuat semua orang terkejut, meskipun itu Qin yan sendiri. Ia hanya menghela napas tak berdaya melihat anak itu terang terangan menunjukan diri. Lebih terkejut lagi Qian qian saat melihat kedatangan Qian yu. Ia bahkan memandangi Qin yan dan Qian yu beberapa kali.
"Qian yu? Tunggu, Qian yu. Kenapa kau bisa ada dua?" Bingung Jue ji saat melihat kedatangan Qian yu juga. Betapa terkejutnya dia saat melihat mereka berdua setelah membersihkan matanya.
Qin yan pun juga hanya diam, akhirnya ia tidak punya cara lain. Prajurit bayangannya langsung datang dan melumpuhkan anak itu.
"Krek krak krek" Seketika anak itu jatuh pingsan.
Meskipun begitu, kondisi Qin yan masih memprihatinkan. Dadanya begitu kesakitan mengakibatkan dia terbatuk beberapa kali.
Melihat itu, Qian yu datang dan langsung membantu Qin yan berdiri.
"Kau baik baik saja?" Ucapnya dengan khawatir.
"Kau lagi lagi memaksakan dirimu terlalu jauh kak. Tubuhmu sekarang sedang lemah." Saking perhatiannya Qian yu bahkan membuat Qian qian bingung. Dibelakang, prajurit bayangannya juga datang memulihkannya.
"Aku tidak apa apa Joy. Kau tinggal bawa dia saja." Suruh Qin yan pada prajurit bayangannya dibelakang agar membawa anak itu kedalam. Lalu ia pun menuju kamar bersama Qian yu. Tidak lepas dari rasa penasarannya, Qian qian juga mengikuti mereka masuk.
"Duduklah pelan pelan." Qian yu membantu Qin yan duduk dengan pelan, lalu ia mengambil segelas air dan diberikan kepadanya. Dengan cepat pula, prajurit banyangan datang memulihkan Qin yan. Sementara Qian yu tadi jadi mengikat anak itu kedinding untuk dijadikan sandra.
"Anak ini, kenapa dia membuat masalah terus." Gerutu Qian yu dengan kesal.
"Yah, dia pangeran kesembilan dari kerajaan Kalise, Jue ji. Anak ini menyukai Qian qian seperti orang gila, sampai sampai dia memaksanya seperti ini."
Mendengar itu, Qin yan pun berbalik pada Qian qian yang hanya bingung dengan mereka berdua.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kau siapa dan kau siapa?" Qian qian mulai bosan ketika melihat Qin yan dan Qian yu mengabaikannya. Ditambah lagi, rasa penarasarannya begitu tinggi hingga ia ingin tahu apa yang terjadi. Dan apa yang telah mereka sembunyikan darinya.
"Qian qian dia itu...."
"Qin yan!" Qian yu yang hendak menjelaskannya, malah terkejut dengan kedatangan Medusa didepan pintu. Karena kecantikan Medusa hingga ia jadi membeku karena terpesona.
Berbeda dari Qian qian, Medusa rupanya dengan mudah mengenali Qin yan. Dia langsung datang memeriksa tubuh Qin yan yang lemah.
"Apa yang terjadi padamu, kenapa kau selemah ini?" Tanya Medusa dengan alis berkerut.
"Aku tidak apa apa. Tapi aku kagum kau bisa membedakan kami. Padahal bukankah dia lebih tampan?" Qin yan tersenyum padanya, matanya melirik Qian yu membuat Medusa juga melirik anak itu.
"Tubuh kalian begitu berbeda, dan aku sudah tau jelas energi dalam tubuhmu."
"Tidak, tubuh kami itu sama. Kami sama sama cacat. Jika itu dimasa lalu, kau pasti tak bisa membedakan kami." Qin yan mencoba membantah argumennya, tapi ia malah mendapati tatapan tajam dari Medusa.
"Aku-aku hanya bercanda." Entah kenapa Qin yan tak mau melanjutkan percakapan ini. Ia pun sengaja terbatuk batuk agar ia bisa lepas dari suasana canggungnya. Paling tidak, Qin yan sedikit senang karena Medusa mau memberinya air minum.
Disaat mereka berdua sedang bertingkah seperti itu, mereka tak sadar kalau Qian yu dan Qian qian juga sedang menonton mereka disudut ruangan.
"Qian yu, Qian qian. Bisakah kalian keluar dulu." Senyum Qin yan pada mereka, hingga kedua anak itu jadi tersadar dengan barusan yang mereka tonton.
Awalnya, Qian yu sedikit ragu untuk keluar karena ia sama sekali tidak mengenal Medusa. Setidaknya ia juga harus tahu orang orang yang dekat dengan Qin yan. Pada akhirnya Qin yan pun tidak punya cara lain selain berbisik padanya. Mengatakan kalau Medusa adalah wanitanya, barulah mata anak itu langsung terbelalak. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.
'Apa yang terjadi pada kakak?' Batin Qian qian dengan bingung dengan reaksi Qian yu. Namun tiba tiba anak itu langsung menarik tangannya, sembari membawanya keluar.
"Ma-maaf kak, aku benar benar kurang peka. A-ayo Qian qian, kita keluar." Ajak Qian yu menarik tangan gadis itu. Walaupun Qian qian sendiri tak mau tangannya dipegang tapi Qian yu tetap menariknya. Diam diam ia juga melirik Qin yan yang hanya tersenyum pada mereka.
Pada akhirnya mereka keluar juga, dengan Medusa menutup pintu kamar itu rapat rapat.
"Wah, kakak memang hebat yah. Dia ternyata menyukai wanita dewasa." Qian yu hanya menelan ludah dengan iri dibalik pintu. Padahal ia mempunyai wajah yang sama dengan Qin yan, tapi kenapa ia tidak bisa menarik perhatian para gadis. Mungkin ia hanya sedang tidak beruntung.
Sementara Qian qian sudah menarik bajunya dari tadi. Sekarang adalah waktu yang tepat mencari tahu.
"Kak, dia sebenarnya siapa? Kenapa wanita tadi memanggilnya Qin yan?"
Qian yu hanya menghela napas mendengarnya, terlepas dari nasibnya yang kasihan, kini ia bertemu dengan orang yang sangat berbeda jauh darinya. Yah, jelaslah. Kakaknya adalah legenda muda didunia ini. Gadis mana yang tidak mau menjadi wanitanya. Qian yu akhirnya masuk kedalam lamunannya sendiri. Untungnya Qian qian yang tidak sabar membangunkannya. Dengan hati berat, ia pun mulai menceritakan semuanya.
"Dia itu...." Disaat Qian yu menceritakan indentitas Qin yan, didalam Medusa sudah mulai memeriksa keadaan Jue ji.
"Apa yang kau katakan tadi pada mereka?" Tanya Medusa.
"Tidak apa apa, aku hanya bilang kau adalah wanitaku." Jawab Qin yan dengan senyuman menggoda. Namun Medusa tidak sekalipun menjawabnya, malah kembali memeriksa Jue ji.
"Apa dia yang sudah membuatmu seperti ini? Jadi mau kau apakan dia?" Wanita itu jadi mengalihkan topik. Membuat Qin yan hanya menggelengkan kepalanya menahan tawa. Tapi, ketika memikirkan kembali anak itu, wajahnya tiba tiba menjadi serius.
"Dia sudah melihat kami berdua, aku hanya ingin dia melupakan kejadian tadi."
"Jadi, kau ingin aku menghapus ingatan anak ini?" Medusa berbalik kearahnya.
"Ya, kurasa kau bisa melakukannya." Qin yan sedikit menyengit, kalau saja tubuhnya tidak tersegel. Mana mungkin ia akan meminta bantuan wanita ini, dia sendiri bisa melakukannya dengan energi mental.
"Aku memang bisa melakukannya, tapi aku tidak bisa menghapus seluruh ingatannya anak ini. Contohnya seperti masa lalu dan ingatannya kesehariannya. Aku hanya bisa menghapus apa yang terjadi hari ini."
"Ya lakukan saja itu. Yang penting bisa kok." Qin yan tidak peduli, memang itu yang ia harapkan. Setidaknya apa yang anak itu lihat hari ini bisa ia lupakan.
Medusa pun melakukan seperti apa yang disuruh. Baru setelah beberapa menit berlalu, anak itu pun terbangun.
"Apa? Dimana aku? Kenapa aku bisa ada disini? Bukankah tadi aku bersama Qian qian?" Itulah kata kata pertamanya ketika ia sadar. Ia meronta ronta dengan bingung kenapa dirinya bisa diikat. Padahal ia benar benar tak mengerti situasinya saat ini. Qin yan dan Medusa berada didepannya dan sedang menonton anak itu.
Ketika dia melihat wajah Qin yan. Ia langsung emosi.
"Hei Qian yu, beraninya kau mengikatku. Cepat lepaskan aku sekarang juga. Atau..."
"Atau apa? Kau pikir ayahmu bisa menyelamatkanmu?" Sela Qin yan dengan alis terangkat, ia memandangi anak itu dengan lucu. Namun justru sebaliknya, Qin yan tidak menduga anak itu malah tertawa seperti orang gila.
"Hahaha... Sejak kapan kau seberani ini Qian yu. Yang ku tahu kau hanyalah pecundang, jelaskan padaku. Apa otakmu terbentur hah?"
"Plak" Qin yan langsung menamparnya, membuat mata anak itu terbelalak.
"Bicara yang sopan anak Brengs*k, kau pikir kau sedang berhadapan siapa hah?" Ucap Qin yan serius. Tapi anak itu makin tertawa sejadi jadinya.
"Hahaha.. hahaha... Sumpah aku kaget, bisanya tuh kau menamparku. Kukira tanganmu hanya digunakan untuk memungut kotoran dijalan?"
Wajah Qin yan jadi hitam mendengarnya, rupanya dijelaskan beberapa kalipun. Diuji dan ditekan berulang kali pun, atau memberinya kesempatan, tidak akan mengubah sifat dan kesombongan anak ini yang sudah tertanam sejak dulu. Sampai akhirnya Qin yan tidak punya cara lain.
"Mei ji, bisakah kau pulihkan kekuatanku? Aku ingin sekali menghajar anak ini sampai ia tak ingat lagi siapa namanya sendiri." Qin yan pun mengikat rambutnya yang berantakan, bersiap siap untuk mengahajar anak ini habis habisan.