LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Inti roh api


Qin yan sedikit terdiam mendengarnya. Inti roh api suci, itu adalah tujuan utamanya saat pertama berkelana. Tapi sekarang, dua tahun berlalu. Rasanya tujuan itu sudah pudar dipikirannya.



"Tapi kenapa ayah menyuruhku?" Tanya Qin yan lagi. Serasa Qin yan tidak tahu dia harus memberikan inti api itu kepada siapa jika dia mendapatkannya. Lin yiyin, sudah tiga tahun. Ia tidak tahu bagaimana kabarnya lagi sekarang.


"Entahlah, tapi inti roh api itu tumbuh dan berkembang dikerajaan kita selama ribuan tahun. Dan sekarang sudah waktunya untuk diambil. Dan Qian yan, aku hanya ingin meminta pendapatmu, kita harus mengirim tingkat keberapa. Dan kesempatan mengambil bunga itu tampaknya sangat rendah."


Dari tadi, setiap kali berbicara. Qin yan terus memperhatikan ekspresi ayahnya. Ada sebuah keinginan diwajahnya untuk mengambil inti roh itu. Sementara Qin yan sendiri, ia tak punya niat untuk mengikuti perburuan. Namun jika dipikirkan dengan baik baik, inti roh api yang berada diwilayah sendiri. Namun pihak kerajaan tidak mengambil inisiatif, bukankah itu memalukan dimata dunia? Harta yang seharusnya sudah harus menjadi milik kerajaan Sunmoon, kini harus diperebutkan orang lain karena ketidak kemampuan.


"Mungkin aku juga akan ikut dalam perburuan ini." Ucap Qin yan, dari dulu peta inti api itu masih ada dicincin penyimpanannya. Sebenarnya ia harus bersyukur karena peta itu dapat memecahkan masa lalunya. Bertemu dengan orang yang ia kenal dimasa lalu, sampai berhubungan baik dengan mereka.


"Kalau begitu, aku akan mengumpulkan orang yang tepat untuk perburuan kali ini. Disana, inti roh api itu telah dijaga oleh suku Medusa. Tidak boleh sembarangan bergerak disana. Dan juga, ada yang bilang medusa mempunyai kekuatan yang mengerikan. Dikisahkan, siapa pun yan menatap mata ratu medusa secara langsung maka akan tubuh mereka akan membeku menjadi batu."


Keseriusan ayahnya, membuat Qin yan jadi tidak main main dalam perburuan ini. Ditambah dengan kekuatannya yang tersegel, ia harus mempunyai pendukung yang kuat.


"Jadi, pasti ada kelemahan bagi ratu mendusa itu kan.?" Tanya Qin yan.


"Ya. Caranya yaitu jangan menatap matanya, atau tidak seseorang yang mempunyai elemen cahaya bisa mengatasi kutukan itu."


'Elemen cahaya yah.' Qin yan memegang dagunya sendiri. Ada satu dipikirannya, yaitu hanya Xing yun yang memiliki kekuatan itu diantara semua para prajuritnya. Tampaknya perburuan ini terkait dengan dia.


"Qian yan, dan juga kemarin itu. Ayah menolak kerja sama dengan kerajaan Kalise."


Qin yan menatap ayahnya dengan penasaran mendengar itu. Mungkin ini berhubungan dengan masa lalunya, dimana ayahnya mati saat itu.


"Sudahlah ayah, ayah tak perlu menyesal karena kerja sama itu. Kita punya kekuatan sendiri, maka kita akan berjuang sendiri." Ia memegang bahu ayahnya dengan senyuman.


"Terimah kasih, namun kali ini kau harus berhati hati. Karena kerajaan Kalise tahu kalau kunci membuka harta karun lain ada ditangan kita. Jadi, jika bertemu dengan mereka, menghindarlah kalau kau bisa. Aku akan pergi dulu mencari orang terpecaya kami. Kau akan berangkat sebentar sore." Ayah Qin yan menepuk punggung Qin yan kemudian meninggalkan kamar, meninggalkan Qin yan yang masih berpikir keras.


'Harta karun lain yah. Sepertinya menarik, jika disana ada ratu medusa yang menjaganya. Itu berarti klan ular ada disana.'


'Yah... Kalau begitu mari kita menunggu waktunya.' Qin yan berdiri, mengeluarkan beberapa kertas, dan semua pisau yang ada dicincin pengimpanannya.


'Kurasa ini cukup.' Batin Qin yan dengan senyuman, ia juga mulai menyiapkan segel segel yang nanti akan berguna disana.


Sore hari..


Pada saat itu, Qin yan akhirnya dipanggil oleh ayahnya keruangan pribadi. Disana ia sudah ditunggu oleh seorang wanita muda. Dengan pedang kesatria dipinggulnya. Bukan hanya dia, bahkan penasehat kerajaan juga ada disana.


"Yang mulia, apakah kita akan benar benar mengirim pangeran Qian yu disana. Diakan cacat, yang mulia juga tau itu. Sebaiknya anda mengirim pangeran Qian san saja." wajah penasehat tampak jelek melihat Qin yan.


"Penatua Huyan, Qin yan juga punya hak untuk ikut dalam pemburuan ini. Jika dia juga ikut, maka aku akan mengirim satu lagi pendekar untuknya." Perkataan sang raja membuat penasehat jadi setuju.


"Baiklah, itu ide yang bagus." Ia mengangguk dengan senang. Namun sebenarnya tertawa dalam hati.


'Hahahaha.. Perburuan kali ini kupastikan pangeran Qian yu akan mati.' Ia tersenyum licik diam diam ketika melirik Qin yan yang hanya mengorek lubang hidungnya.


'Tunggulah bocah rendahan.'


Diskusi berjalan sekitar 20 menit, setelah itu semua keluar kehalaman kerajaan. Qin yan bersama seorang wanita. Dan Qian san bersama dengan pendekar pria seumuran dengan wanita disamping Qin yan.


"Aku harap kalian bisa membanggakan kerajaan ini. Tapi, kalian harus tau yang terpenting. Yaitu kembali dalam keadaan selamat. Itulah yang paling penting. Ini bekal untuk kalian." Beberapa pelayan kemudian datang, membawa beberapa persediaan makanan. Qin yan beserta pedampingnya mengambil makanan itu dan dimasukan kedalam cincin penyimpanan. Begitu pula dengan pangeran Qian san. Namun dari tadi anak itu terus terus menatap Qin yan seperti menatap mangsa.


'Anak ingusan, kau mau macam macam denganku yah diperjalanan. Biar nanti kutunjukan kekuatan kakak ini.' Qin yan hanya tersenyum licik di dalam hatinya. Jika dia tidak salah tebak, anak ini mungkin akan membawa beberapa pasukan tersembunyi.


Qin yan dan Qian san kemudian membungkuk pada ibu mereka masing masing. Ketika Qin yan mendekati Ziu xa, istri ketiga ayahnya. Ia merasakan rasa tulus dari hati wanita ini. Jadi ia membungkuk dengan sepenuh hati. Dan Qian qian juga berdiri disampingnya.


"Belajarnya dengan baik." Senyum Qin yan memegang kepala gadis itu, tentu hal itu membuat semua orang jadi terkejut. Pangeran Qian yu yang cenderung pendiam dan jarang berkomunikasi dengan orang disekitarnya. Apalagi yang namanya memberi kasih sayang seperti ini, tentu saja itu tidak pernah.


"Emh, ada apa?" Qin yan bertanya kesemua orang tanpa melepas tangannya dari kepala gadis itu.


"Ah, aku tidak menyangka kalau pangeran bisa sepenyayang itu?" Ibu Qian san, memaksakan senyum melihatnya.


"Um, ini memang sudah menjadi kebiasaanku." Senyum Qin yan dengan ramah, membuat semua orang jadi bingung. Kecuali ayahnya sendiri. Sementara Qian qian yang tadi sikapnya begitu tenang dan datar, kini menatap Qin yan dengan mata yang membesar. Perasaan ketika disentuh kepalanya begini, ia baru merasakannya pertama kali. Dan juga sedikit garis kemerahan terdapat diwajahnya. Rasanya ia sudah merasakan kalau kakak didepannya ini bukanlah Qian yu, melainkan orang lain.


"Kamu juga berhati hatilah yah nak." Ibu Qian qian juga membelai pipi Qin yan dengan lembut. Hingga akhirnya Qin yan bukan lagi membungkuk, tapi menyentuh kakinya.


"Terimah kasih, bibi."


Perkataannya kembali membuat semua orang terkejut, bahkan Ziu xa sendiri. Qian yu tidak pernah memanggil mereka seperti itu. Ia selalu memanggil kedus istri raja dengan sebutan ibu. Tapi sekarang dia...


Namun kembali ketika Ziu xa melihat senyum tulus dari Qin yan. Seolah olah, ia memang sepenuh hati memanggilnya seperti itu.


"Aku pergi." Ucap Qin yan dengan tenang, kemudian meninggalkan mereka.


"Tunggu Qian yu, kau belum mengambil berkat dari ibu Xing lu."


Langkah Qin yan tiba tiba terhenti, melirik kebelakang. Melihat Qian san yang mengambil berkat dari ibu Qian qian.


Namun ia hanya berdiri disana, dengan wajah yang tenang. Bibirnya perlahan bergerak.


"Aku tidak mau mengambil berkat dari wanita yang juga tidak mau menghormati ibuku."


Perkataan Qin yan seperti bom ditelinga mereka. Tangan Xing lu terkepal erat, ingin bertindak. Namun dihentikan oleh kakaknya yang termasuk penasehat.


"Xing lu, kau tidak boleh emosi. Itu hanya perkataan anak anak." Wajah kakaknya itu juga gelap, perkataan Qin yan tadi memang merusak harga diri mereka.


'Ah, dia benar benar keras kepala.' Ayah Qin yan juga sedikit berkeringat, haruskah perdebatan terjadi lagi disini.


"Ekhem ekhem, sepertinya keberangkatanmu harus dipercepat Qian yu. Sebelum malam tiba, kau harus tiba disana." Berkata ayah Qin yan dengan sedikit gugub.


Qin yan pun juga tidak banyak mengoceh lagi, ia pun pergi diikuti dengan kesatria wanita disampingnya.


"Tapi, yang mulia. Kenapa anda tidak memarahinya. Anda sudah terlalu buta pada putramu sampai sampai kau lupa masih ada tanggung jawab yang harus kau penuhi juga disini!" Ibu Qian san tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia tidak takut lagi berteriak pada sang raja.


"Mungkin aku tak punya hak untuk memarahinya karena ia tidak dibesarkan disini."


Perkataan sang raja membuatnya tak bisa berkata kata, ia terdiam seribu bahasa. Tidak dibesarkan disini, apa maksudnya itu. Pangeran Qian yu tidak dibesarkan disini, bahkan Ziu xa pun juga kebingungan. Namun, ketika mereka bertanya apa maksud sang raja. Dia sudah masuk duluan keistana dengan cepat.


Sementara Qin yan keluar dari wilayah istana, arah tatapan terarah ke Selatan.


'Inti roh api yah, baiklah. Kalau begitu tunggulah aku.'



********


Oke sluuur, terimah kasih karena telah membaca. Silahkan komen, like dan vote yah. Ditunggu😊😊, maka upnya akan lebih parah lagi.