
Disaat Qin yan sedang berdiskusi dengan mereka, jauh dari kerajaan Sunmoon. Di tempat terntentu Markas sekte Racun, diatas batu melayang diawan.
Han genyu tiba tiba membuka mata dengan kaget, saking kagetnya bahkan muridnya sendiri yang berlutut didepannya jadi tertegun melihat itu.
"Ada apa master?" Tanya muridnya.
Pak tua itu mengelus hanggutnya yang hijau.
"Entahlah, aku merasa kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Jue shong."
Muridnya jadi kaget ketika mendengarnya, melihat masternya, Han genyu menghela napas karena bingung, perlahan ia memandangi tangan kanannya yang terdapat simbol hijau aneh. Simbol hijau itu perlahan menghilang sedikit demi sedikit, namun pada akhirnya kembali lagi seperti semula.
'Apa yang terjadi ini, aneh sekali.' Alis pak tua itu berkerut melihatnya.
"Dou wei, apa yang dilakukan raja Kalise akhir akhir ini?" Tanyanya.
"Master, pagi ini raja Kalise pergi berkunjung kekerajaan Sunmoon. Katanya ada sesuatu yang ia selesaikan." Jawab muridnya memberi hormat.
"Huh, dia pergi dikerajaan kecil itu? Aku hampir lupa, harta karun 10 tahun yang lalu belum ada yang mendapatkannya. Dou wei, segera pergi kerajaan itu. Kau harus memastikan beberapa hal disana." Senyum pria itu dengan licik.
"Baik master." Dalam sekejap, muridnya langsung menghilang menjadi angin. Meninggalkan Han genyu sendiri yang terus memperhatikan tangannya. Simbol aneh ditangannya terus bergetar tanpa henti, membuat firasatnya tidak enak.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada orang ini." Gumamnya sendiri.
Disaat bersamaan, hutan perbatasan kerajaan Sunmoon.
"Bruk" Raja Kalise yang sudah lama diseret kini akhirnya dilempar ketanah dalam keadaan tubuh terikat beserta putranya.
"Hmm...!! Hmm...!!" Ia berusaha memberontak dengan mulutnya yang dibungkam. Pandangan matanya melotot seolah mengancam mereka yang menangkapnya. Namun ketika berhadapan dengan salah satu prajurit bayangan, dirinya pun langsung membeku. Makhluk yang tidak ia ketahui menatap dirinya dengan tajam, seolah kapan saja bisa membunuhnya. Tatapan itu membuat raja Kalise sendiri tadi menggigil ketakutan.
"Bagaimana sekarang?" Dari semak semak, elfes pun keluar. Setelah mendengar laporan dari prajurit banyangan itu ia pun mengerti. Dengan kasar, ia langsung membuka kain yang membungkam mulut raja itu.
"Sialan kalian! Siapa yang mengirim kalian hah? Apa kalian tidak tau, kalau kau membunuhku maka sekte racun akan mengincar kalian." Teriak raja Kalise dengan marah.
Namun ekspresi Elfes tidak berubah sama sekali, wajah tetap tenang dengan matanya yang tetap dingin.
"Sekte racun? Han genyu? Dua tahun yang lalu aku hampir membunuhnya." Perkataan itu membuat mata raja Kalise membesar.
"Jangan jangan kau..." Sekarang, ia bukan lagi takut pada makhluk aneh dibelakang pria itu. Namun kata pria ini yang mengatakan tentang dua tahun lalu, tidak lama ketika dipikirkan ia akan langsung mengerti. Sekarang bahkan jika master sekte Racun ada disini, nyawanya belum tentu selamat.
"Ka-kau... Apa yang kau inginkan? Aku bisa memberimu segalanya, harta, kedudukan dan wanita cantik. Akan ku berikan segalanya, asalkan lepaskan aku. Kau juga bisa menjadi pedampingku, kita bisa menguasai dunia ini bersama. Aku mempunyai segalanya dan bisa membuatmu jadi orang terkuat dibenua ini." Berkata pria itu memaksakan senyumnya. Kedengarannya sangat menggiurkan. Namun ekspresi elfes tidak menunjukan apapun, ia kemudian menjawabnya dengan dingin.
"Yang aku inginkan hanyalah menjalani keinginan tuanku." Setelah perkataannya terucap, salah prajurit bayangan membawa tongkat pun muncul disampingnya. Ekspresi raja Kalise menunjukan ketakutan luar biasa, tongkat itu pun bersinar. Korban pertama yang ia renggut yaitu Jue ji yang sedang pingsan. Setelah itu, barulah raja Kalise selanjutnya.
Tongkat itu memunculkan sebuah sihir, seperti cahaya penerang yang diarahkan kedirinya. Dalam sekejap, roh pria itu akhirnya ditarik keluar. Dan sebagai gantinya, salah satu prajurit bayangan menempati tubuh tersebut.
Raja Kalise langsung membuka mata, senyum terpancar diwajahnya. Ia pun berdiri memberi hormat pada Elfes diikuti putranya.
"Pergilah kau kembali. Tuan menyuruhmu untuk memata matai kerajaan Kalise." Ucap Elfes dengan dingin, kemudian mereka berdua mengangguk dan akhirnya melesat pergi.
"Tugas selesai. Sekarang tinggal menunggu tindakan Suku Dark Demon Snake." Berkata Elfes dengan tenang, lalu ia pun kembali ke ibukota.
*********
Kamar Qin yan, saat ini Qian yu sedang bermeditasi dengan tenang. Tentunya dibawah bimbingan Qin yan. Disaat ia sedang mengajari anak itu, Medusa menatap dengan ngeri mengingat apa yang anak ini lakukan tadi benar benar membuatnya tidak bisa berpikir, bisa bisanya dia melakukan hal berbahaya seperti itu.
Tadi setelah Qian yu memeriksa garis bloodlinenya, Qin yan langsung menyuruh Qian qian untuk mengambil buku kultivasi yang pernah ia baca diperpustakaan. Anehnya, buku itu adalah buku budidaya tingkat rendah. Nama buku kultivasi itu Kitab Roh Ying yang. Bahkan alis Qian yu dan Qian qian saja berkerut saat Qin yan menyuruhnya untuk memakai buku itu sebagai jalan budidayanya.
Tapi diluar dugaan Medusa, Qin yan bahkan mengubah, menulis, menghapus dan menambahkan beberapa kata dibuku budidaya tersebut dimana itu sangat dilarang keras. Ia tidak habis pikir, anak ini dari mana mendapatkan kepercayaan diri begitu tinggi saat menjamin kalau kultivasi Qian yu tidak akan mengalami kemacetan. Anehnya juga, dari mana Qin yan mendapatkan pengetahuan begitu mendalam hingga ia dapat mengubah isi buku sesuka hatinya. Dilihat dari segi umur, itu benar benar tidak masuk akal.
"Hei, masa depan adikmu sekarang tergantung padamu. Kau benar benar percaya diri sekali menanggung resiko ini. Jika ada beberapa kendala, kau pasti akan disalahkan." Berkata ratu Medusa melipat tangannya didada.
"Tidak apa apa, anggap saja ini taruhan. Bukankah hidup ini adalah taruhan?" Senyum Qin yan.
"Cih, keras kepala sekali." Medusa hanya memalingkan wajahnya dengan kesal, tapi ia diam diam melirik Qin yan yang sedang meracik obat.
'Apa lagi yang dilakukan anak itu?' Batinnya dengan bingung.
Setitik cahaya yang terus bersinar didantian Qian yu semakin menguat saja. Medusa dari tadi terus menyaksikannya, cahaya itu rupanya menyebar ke seluruh meridian hingga mencapai otak. Membuat tubuh anak itu berdigik sesaat, menghembuskan napas seperti asap. Keringat bercucuran diwajahnya dan kedua tangannya gemetar.
"Kakak, apa dia tidak apa apa dibiarkan begini. Dia kelihatan kesakitan." Bertanya Qian qian dengan alis berkerut.
"Tidak apa apa, dia hanya merasakan gejolak garis keturunannya yang berfluktuasi dengan jalur darahnya." Qin yan hanya tenang tenang saja ketika melihat keadaan Qian yu, lalu kembali mengaduk ramuan yang ia buat dengan pelan.
"Hah." Pada akhirnya Qian yu pun membuka mata, menyelesaikan meditasinya.
Anak itu terdiam, memandangi kedua tangannya sendiri.
"Aku tidak pernah merasakan ini, rasanya darahku bergejolak dan tubuhku panas. Jadi seperti inikah yang namanya meditasi?" Ucap Qian yu.
"Tidak apa apa, nanti kau juga akan biasa. Minumlah ini." Qin yan hanya tersenyum dan menawarkan ramuan yang sudah ia buat tadi.
Setelah Qian yu meminumnya, tubuhnya kembali netral. Ia menghela napas dengan segar.
"Penflaktisasi?" Berkata Qian qian melihat hal itu.
"Hm? Kau mengetahuinya Qian qian? Kau cerdas juga." Puji Qin yan membuat wajah gadis itu sedikit memerah.
"Aku aku cuma membaca buku saja."
"Membaca buku itu banyak gunanya. Untungnya kau sudah tahu. Kalau tubuh Qian yu sekarang telah memasuki fase peralihan. Energi tubuh yang memanas tadi sekarang kembali berfluktuasi dengan jantung. Setiap detak jantung akan mempengaruhi peredaran darah. Hal itulah yang membuat napas kita jadi lega dan segar. Itu juga akan mempengaruhi kinerja otak, karena jika kita bermeditasi dalam keadaan tertekan atau pusing, pikiran kita kemana mana maka akan menyebabkan penyakit juga. Ramuan yang kuracik ini adalah ramuan penenang. Ini ambilah, nanti kau bisa membuatnya sendiri."
Qian qian pun menerima kertas tersebut dengan senang hati.
"Te-terima kasih." Ucapnya sambil tertunduk.
"Ah gadis ini, imut sekali kalau sedang malu. Ppfftt..." Qin yan menahan tawanya sambil mengelus rambut Qian qian. Membuat wajah gadis itu makin memerah.
"Sudah sudah, pergilah kau berkultivasi juga. Jangan kalah dengan Qian yu."
Qian qian pun mengangguk, lalu pergi kearah pojokan. Berkultivasi disana.
Dengan itu, Qin yan akhirnya menjadi tenang. Ia pun mengambil kuas dan kertas kosong. Bersiap untuk menulis pola prasasti lagi.
"Apa kau akan menulis lagi?" Bertanya Medusa dengan alis berkerut, melihat Qin yan yang terus bekerja tiada henti.
"Ya. Tolong yah, jagakan mereka agar tidak terpengaruh dengan tekanan pola ini." Senyum Qin yan, membuat Medusa hanya bisa menghela napas pelan. Ia pun langsung melapisi Qian yu dan Qian qian dengan bidang domain miliknya. Kemudian berjalan dibelakang anak itu, menyalurkan energinya kedalam tubuh Qin yan.
Tubuh Qin yan langsung berdigik, karena kekuatan yang begitu kuat memasuki tubuhnya. Dengan cepat, ia langsung meraih kuas. Menulis di kertas, membelokan garis, mencelupkan kembali kuasnya kedalam tinta. Lalu mulai melukis lagi. Sampai akhirnya ukiran Qin yan membentuk sebuah burung phoenix yang terbuat dari kumpulan garis pola.
"Piing..." Garis pola tersebut menyala, dan membuat kepala Qin yan menjadi pusing.
"Ukh" Bahkan Medusa dibelakangnya ikut terkena efeknya.
"Tap tap tap" Dari dalam alam sadar, Qin yan berlari mengejar seorang gadis. Gadis itu berambut pendek dengan warna pirang sedikit kemerahan, matanya jingga menunjukan wajah manisnya. Dialah Huo lan, yang selama ini selalu Qin yan mimpikan.
Gadis yang membuatnya sangat merasa bersalah dalam waktu yang sangat panjang. Ia ingin sekali meminta maaf pada gadis ini, jika saja di beri kesempatan. Ia akan berusaha membahagiakannya. Bahkan jika itu hanya sebuah ilusi saja. Ia tetap akan memeluknya karena saking rindunya.
"Huo lan." Panggil Qin yan, efek dari ilusi pola prasasti ini benar benar sangat nyata. Sampai ia bahkan sedikit kesulitan membedakan mana dunia nyata dan ilusi.
Sekali lagi, Huo lan yang Qin yan peluk berubah menjadi sekarat dimana Qin yan yang menikamnya.
"Qiiiin... Yaaan...!" Teriak Huo lan dengan susah payah, darah keluar dari mulutnya membuat Qin yan membeku.
"Kaulah yang telah membunuhku. Karna kau, aku jadi begini. Ini semua gara gara kau."
Alis Qin yan berkerut, wajahnya menunjukan kesedihan.
"Ya. Aku tahu itu Huo lan. Aku memang bersalah, akulah yang membuatmu seperti ini. Oleh karena itu berilah aku kesempatan sekali lagi. Aku tak akan menyia-yiakannya." Setelah perkataan Qin yan selesai, Huo lan pun tersenyum. Dalam seketika, dunia ilusi pun retak dan akhirnya Qin yan lolos dari ujian tersebut. Jika saja Qin yan tetap tersesat dalam masa kelam itu. Mungkin akan berakibat fatal.
Qin yan berbalik kebelakang, rupanya Medusa masih terjebak didalam cobaan itu. Dengan pelan, ia pun mengetuk dahi wanita itu hingga ia tersadar.
"Hah?" Medusa bangun dalam keadaan kaget. Tapi dengan Qin yan yang memegang tangannya, ketakutan dari ilusi tadi yang perlahan membuatnya tenang.
"Kalau kau tak mampu, kau tak perlu membantuku kok." Senyum Qin yan.
"Tidak, ini juga seperti pembelajaran bagiku. Kau jangan meremehkanku begitu." Medusa langsung melepaskan tangannya. Memberikan Qin yan pil eksresi roh, lalu memulihkan energi Qin yan lagi.
"Ayo kita mulai lagi." Ucapnya dengan datar, membuat Qin yan hanya menggelengkan kepalanya. Setelah menelan pil itu, barulah ia memulai lagi.
Satu persatu ujian menghadang keberhasilan Qin yan. Mulai dari ujian mental tingkat rendah bahkan sampai membuat Qin yan kesulitan untuk keluar. Namun semua itu Qin yan lalui dengan pelan dan perlahan.
Hari berganti hari, waktu pun terus berjalan. Hingga tujuh hari tak terasa sudah berlalu. Selama itu, tidak ada yang keluar dari kamar Qin yan. Qian yu dan Qian qian juga menghabiskan waktu mereka untuk berkultivasi didalam.
Tanpa sadar pun, akhirnya Qin yan menyelesaikan kertas pola utama tingkat 5 tersebut.
"Bagus, kita sudah selesai. Sekarang ayo kita menuju akademi." Berkata Qin yan mengajak Medusa.