LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Menang


Semua penonton dipenuhi kehebohan, mereka terpana dengan apa yang terjadi. Ternyata kedua gadis itu imbang. Suasana menjadi lebih menegangkan ketika keduanya sudah kehabisan energi.


Di lobby, Qin Yan dan yang lain duduk dengan tegang. Siapa yang akan menang pada akhirnya.


Di kursi para master, semuanya juga sangat penasaran. Tapi, dibanding mereka, Han genyu ekspresinya yang paling parah. Tangannya terkepal dan matanya terbelalak. Beberapa kali ia bergumam tak jelas, sembari menatap Tang Liu. Pada akhirnya ia menggengam kursinya dengan erat sambil mengatakan.


"Cucuku!"


********


Paviliun aula pembuatan kondolisasi.


Seorang pria tua, kurus namun dipenuhi martabat dan wibawa. Berjalan masuk dengan santai kedalam aula yang dipenuhi para tetua Kondolisasi. Namun, dibanding dengan orang tua itu. Status mereka tidak ada apa apanya.


"Senior."


"Selamat datang, Senior."


"Salam senior."


Semua tetua tersebut membungkuk hormat.


orang tua tersebut berjalan dengan kedua tangan dibelakang hingga berhenti ke salah satu tetua.


"Heng en. Bukankah kau ingin menunjukan sesuatu yang kau temukan akhir akhir ini?" Tanya orang tua itu, kata katanya dipenuhi aura mendominasi.


"Ya, senior. Ini adalah gulungan kondolisasi hasil dari salah satu peserta yang mengikuti kompetisi." Tetua itu menyerahkan gulungan yang masih tertutup pada orang tua tersebut.


Dengan malas orang tua itu mengambilnya, ia bahkan mengelus janggutnya sebelum membuka gulungan itu.


"Apa masalahnya?" Ucapnya dengan alis menyerngit.


"Senior, coba anda periksa dulu. Kami sebagai junior yang belum berpengalaman belum bisa memahaminya."


Melihat keempat tetua itu yang tertunduk malu, mau tidak mau orang tua tersebut membukanya. Beberapa saat kemudian, kelopak matanya langsung berkedut. Untuk waktu yang cukup lama, ia hanya terpaku dengan seluruh perhatiannya tertuju pada gulungan tersebut.


"Se-senior, apa anda baik baik saja?" Para tetua mulai bertanya, namun tidak sedikit mendapat jawaban.


Akhirnya setelah terdiam dalam waktu yang lama, orang tua itu mengangkat wajah. Menatap mereka sambil bertanya.


"Apa kalian tahu siapa yang membuat gulungan ini?"


Mendengar itu, keempat tetua saling memandangi.


"Ya tentu saja, tapi kami tidak tahu namanya bahkan wajahnya tertutupi topeng. Hanya saja, setelah pemeriksaan. Dia adalah anak berumur 17 tahun."


"Hm..... Jadi begitu." Orang tua itu kemudian menuju kemeja, ia begitu serius memperhatikan gulungan tersebut. Dalam hati, ia bertanya tanya. Senjata ini belum pernah ia lihat. Namun struktur dan pendetailan yang sempurna membuatnya mengagumi kalau ini adalah sebuah senjata. Meskipun ia tidak yakin apakah senjata ini benar benar ada atau tidak, tapi ia yakin dengan cetakan yang begitu sempurna ini pasti akan menciptakan senjata yang baru yang akan tercatat dalam sejarah.


Hal inilah yang membuatnya tertarik, bahkan dengan umurnya yang mendekati dua ratus tahun. Sangat sulit baginya menciptakan satu set gulungan kondolisasi. Ia menghabiskan selama 60 tahun penelitian demi mewujudkan ide ide gulungan kondolisasi dari leluhur mereka. Karena kerja keras dan ketekunan, ia berhasil menciptakan gulungan terkuat dan hal itulah yang membawanya menjadi legenda pembuat kondolisasi yang sangat terhormat.


Namun, melihat cetakan baru ini. Membuatnya penasaran. Ada dua kemungkinan, pertama orang yang membuatnya pastilah seorang jenius. Jika memang begitu, maka pemuda yang membuatnya ini akan menjadi pemecah rekor sejarah. Peluangnya menjadi legenda dimasa depan pasti tak terbatas. Tapi, tebakan itu sangat sulit diterima olehnya. Jadi, ia hanya berkesimpulan terakhir. Pasti ada leluhur yang menciptakan gulungan ini dan pemuda itu pasti mewarisinya.


"Hm....." Memikirkan itu, orang tua tersebut hanya mengangguk sambil mengelus janggutnya.


"Katakan padaku, apa aku bisa bertemu dengan pemuda ini?" Tanyanya dengan tidak sabar.


"Tentu tuan, sore ini adalah babak penciptaan senjata. Anda bisa melihatnya sendiri nantinya."


********


Kembali ke stadion, Qin yan merasakan tubuhnya tidak tenang. Sekali lagi, dan tentunya sekali lagi. Sosok iblis itu selalu mengamatinya. Yang ia lakukan hanyalah waspada agar sosok itu tidak menyakitinya.


Sementara dilapangan, kedua belah pihak menghela udara sejenak. Mereka tidak melakukan apa apa, hanya berdiri berhadapan. Fi er memandangi Tang Liu dengan pandangan waspada. Masing masing memegang luka ditubuh mereka.


Sampai akhirnya, Fi er menggertakan gigi. Ia tidak mau berlama lama lagi. Segera, ia mengeluarkan sebuah gulungan kertas. Gulungan tersebut dipenuhi pola prasasti yang sangat rumit dan berliku liku. Saat ia membuka gulungan itu, mata para tetua terbelalak terutama Xu shian.


"Jangan jangan......!!"


"Teknik rahasia klan pengendali boneka?" Han genyu mencelanya dengan nada khawatir, ia khawatir melihat keadaan Tang Liu yang sudah sekarat.


Pandangan mereka seketika serius dan menjadi menegangkan. Suasana langsung jadi kembali berubah mencekam.


"Raja Yama! Boneka kematian!!"


Setelah teriakan Fi er, aura hitam langsung menyebar. Begitu kuat, hingga semua orang langsung terperangah. Sebuah boneka yang tingginya sekitar 10 kaki dan besarnya seperti raksasa membuat semua langsung menganga termasuk Qin Yan. Di penuhi kulit besi, matanya menyala dan kepala lancip. Serta dua sayap terbentang hingga bayangannya menutupi keberadaan Tang Liu.


"Oh, astaga! Apa.... Apakah Liu er bisa bertahan? Bukankah lebih baik kita menyerah saja kapten?" Tanya Xie Xie dengan tatapan khawatir. Namun Qin Yan hanya menggeleng.


"Percayakan saja semuanya pada dia." Ucapnya dengan tenang. Namun sebenarnya, dia juga sangat khawatir. Lupakan tentang kemenangan, apakah Tang Liu bisa keluar hidup hidup atau tidak.


Di sana, masing masing jari Fi er terdapat 10 benang menghubungkan ke setiap titik letak pergerakan boneka itu. Karena boneka tersebut sangat kuat, hingga harus berada dalam kontrol sepenuhnya oleh si pemilik. Oleh karena itu, dalam kondisi ini. Fi er sama sekali tak bisa menggunakan atributnya.


Satu jari Fi er bergerak, boneka itu langsung melaju dengan kecepatan kilat.


"BOOM" Debu langsung mengepul, tangan boneka itu merosot kedalam tanah.


Melihat itu Qin Yan langsung berdiri khawatir, bahkan ia hendak melompat kelapangan. Namun ia terhenti saat melihat Tang Liu melompat ke udara. Hanya saja, dalam waktu seperkian detik. Boneka itu menghempaskan gadis itu bagaikan memukul serangga.


"BOOM" Akibat serangan itu, Tang Liu terpental hingga dindingnya berlubang.


"Sudah! Sudah hentikan!"' Qin Yan berteriak dari dalam lobby, ia tak bisa masuk karena tak mau menyinggung perasan Tang Liu. Bisa jadi gadis itu belum menyerah dan dia pasti akan menyalakan Qin Yan atas kecerobohannya.


'Jangan paksakan dirimu, Liu er. Jangan!!' Batin Qin yan dengan cemas. Kali ini ia benar benar sangat panik. Tang Liu bukan hanya sekedar seorang teman. Ia sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri karena telah berjanji dengan ayahnya waktu itu. Jika gadis itu mati disini, bagaimana ia akan menjelaskan pada ayahnya nanti di akhirat.


Tang Liu yang tengah pingsan didalam sana tiba tiba membuka matanya yang hijau pekat. Meskipun tubuhnya dipenuhi luka dan tulangnya sudah remuk. Namun, sebenarnya kali ini gadis itu sudah kehilangan kesadaran. Ia akan bergerak sesuatu naluri bibatang buas setelah ini.


Qin Yan dan lainnya yang tengah khawatir, melihat Tang Liu berjalan keluar membuat mereka menghela napas lega. Namun, kali ini gadis itu tampak sangat berbeda. Delapan kaki laba labanya semakin membesar saja dengan warna hijau pekat.


Bahkan Fi er sendiri mau tidak mau mengerutkan alisnya.


'Kenapa gadis ini masih bertahan?' Ia ragu ragu sejenak ketika menyerang. karena ia tahu, jika kali ini Tang Liu terkena serangannya lagi. Maka dipastikan akan tewas. Oleh karena itu, ia hendak memberi peringatannya kembali. Melihat kaki Tang Liu yang gemetar karena tulang remuk. Sudah dipastikan, gadis itu tak mampu untuk melangkah lagi.


Namun, sebelum ia membuka mulut. Kabut hijau tiba tiba menyelimuti lapangan. Mata Fi er membesar saat melihat kabut itu berasal dari dalam diri Tang Liu.


'Apa lagi ini? Apa yang dia rencanakan kali ini?' Fi er yang masih waspada mendapati pandangannya mulai kabur. Bayangan Tang Liu terlihat seperti ada dua bahkan tiga.


'Ukh... Kepalaku pusing!' Ia memegangi kepalanya sambil berusaha berdiri dengan baik. Namun, semakin lama kepalanya bertambah pusing. Ditambah lagi, tubuhnya mulai mati


rasa. Menyadari segera ada yang salah, ia langsung menggertakan gigi. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengambil sebuah pisau dan melukai pahanya.


Darah mengalir deras, wajah Fi er semakin pucat. Namun, dengan itu ia berhasil mempertahankan kesadarannya. Meskipun tubuhnya memang mati rasa, namun setidaknya tidak semuanya. Jarinya masih bisa digunakan. Dan hanya membutuhkan gerakan jari, maka pertarungan ini akan selesai.


Sayangnya, beberapa kali pun Fi er menggertakan jarinya. Boneka didepannya tidak bergerak. Saat bola matanya bergerak kebawah untuk memeriksa. Ia menyadari kalau benang penghubung bonekanya telah terputus.


Jadi, bagaimana dengan bonekanya?


Saat ini, boneka itu berbalik padanya perlahan. Tubuh Fi er langsung gemetar saat ini. Ia ingin melarikan diri, namun tubuhnya mati rasa. Ia ingin berbicara namun mulutnya membisu. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengeluarkan air mata, ketika mengetahui inilah akhirnya hidupnya.


Perlahan senjata boneka itu terangkat, bayangannya langsung menutupi keberadaan Fi er.


Tanpa ragu, boneka itu langsung menyerangnya. Namun, tepat hampir menusuk mata gadis itu, bonekanya terhenti. Fi er yang tengah menutup mata, menunggu kematian kini membuka mata perlahan saat merasa ada yang tidak beres. Karena serangan boneka itu sepertinya sudah terlalu lama tidak mengenai dirinya.


Ketika membuka mata, betapa kagetnya. Ratusan benang jaring menyelimuti boneka itu.


Namun, dengan mudahnya boneka tersebut melepaskan diri.


Sesaat kemudian, beberapa benang jaring terhubung ke titik titik pengontrolan boneka. Saat itulah bonekanya terhenti kembali, kemudian mundur dengan melangkah kebelakang. Saat itulah Fi er terdiam dengan mata membola.


Terlihat Tang Liu mampu mengendalikan bonekanya, hal itu tentu saja membuatnya tercengang.


"Ti-tidak..... mungkin.....!" Ucapnya dengan gagab.


Perlahan kabut kabut yang menyelimuti lapangan jadi menghilang. Saat itulah, boneka raksasa itu maju di bawah kendali Tang Liu. Dan mengancam Fi er dengan senjata ditangan boneka itu.


"Aku.... Aku menyerah!" Fi er menelan ludahnya sendiri dengan penuh ketakutan.


Barulah setelah itu, Tang Liu menghela napas panjang dengan senyuman senang. Setelah itu, matanya mulai ngantuk dan akhirnya terjatuh ketanah.


"Pemenangnya adalah kerajaan Sunmoon!!" Teriak Wasit, seketika para penonton langsung bersorak gembira.


Qin Yan memasuki lapangan, ia menggendong Tang Liu yang terkapar. Sebelum pergi, ia sedikit membungkuk hormat kepada Fi er. Gadis itu, awalnya ia sangat menyalahkan dirinya sendiri karena masih terlalu lemah. Namun, dibanding semua itu. Ia benar benar sangat menganggumi Tang Liu. disaat bersamaan, melihat Qin Yan yang menghormatinya. Semakin membuatnya tidak menyalahkan dirinya lagi. Sepertinya rasa penyesalannya mulai berkurang, tidak sia sia ia bertarung dengannya. Meskipun ia kalah, namun banyak sekali pelajaran yang ia petik dalam pertarungan ini. Ia pun kembali ke lobby tanpa rasa penyesalan.


Teman temannya menyambut Fi er dengan senyuman. Meskipun gadis itu kalah, hal itu tidak membuat mereka marah. Malah memilih menghiburnya.


Seorang pria tinggi dipenuhi armor besi, memegang bahu gadis itu. Sementara Fi er tertunduk malu.


"Maaf kak, aku telah mengecewakan harapan nenek."


"Tidak apa apa, kau sudah bekerja keras." Ucap pria itu dengan senyuman lembut. Para petugas medis pun datang, membawa Fi er ke ruang perawatan.


Dengan wajah serius, pria berbaju besi tersebut hendak maju kelapangan. Namun dihentikan oleh seorang pria lainnya. Pria ini tampak lebih muda darinya, umurnya sekitar 20 tahun. Dan dilihat dari ekspresinya, tampaknya ia sangat tidak senang dengan kekalahan Fi er. Sepertinya dia sangat menyukai gadis itu, hingga berpikir untuk membalas dendam.


"Kakak, biar aku yang maju." Tanpa menunggu pria berbaju besi itu menjawab, dia menuju kelapangan dengan langkah tegas.


Pria berbaju besi itu hanya menggelengkan kepala tak berdaya. Lalu seorang wanita kekar muncul disampingnya. Menepuk pundak pria itu. Dia mempunyai dua garis meras dipipinya. Dan pakainya berasal dari kulit singa, ia juga memakai tengkorak banteng menutupi wajahnya layaknya topeng.


"Biarkan saja dia." Ucapnya dengan pelan.


Di area lobby berlawan, Qin Yan mengirim Tang Liu ke petugas medis. Luka gadis itu cukup parah, dan ia membutuhkan perawatan secepatnya.


Kemudian Qin Yan berdiri, mendapati seorang pria telah berdiri ditengah lapangan. Menyipitkan mata, Qin Yan menganalisis kekuatan pria itu. Dan akhirnya ia tersenyum.


"Xiu Xiu, jalanlah. Sudah waktunya kau beraksi."