LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Tersegel


Arena peperangan....


Elfes, yang tadi bertarung dengan Asral, kini tertekan oleh segel formasi yang begitu kuat. Sementara Yao chen dan Jin kei bertarung habis habisan memusnahkan para roh ular yang tidak ada habisnya. Sampai tak punya kesempatan untuk menolongnya.


"Sial, mereka ini benar tidak ada habis habisnya." Ucap Jin kei dengan kesal.


"Slaash Slash slash" Begitu pula dengan Yao chen yang dari tadi terus menebas musuh, namun ekspresinya tampak bosan melawan mereka.


"Pasti ada sumber dimana mereka terus terusan bermunculan." Jawab Yao chen dengan tenang. Tiba tiba ekspresi wajahnya menjadi kaget, jejak khawatir terpaut diwajahnya.


"Ada apa?" Tanya Jin kei yang penasaran melihat perubahan ekspresinya yang tiba tiba.


"Qin yan, dia sedang masalah saat ini."


Jawaban Yao chen membuat ekspresi Jin kei juga menjadi jelek.


"Anak itu, dia tidak mempunyai kekuatan apapun. Pergilah periksa dia karena Asral juga ada disana." Suruh Jin kei padanya, ia juga kelihatan khawatir pada keadaan Qin yan.


"Baiklah, kuserahkan semuanya padamu." Yao chen pun mengangguk kemudian melesat dan pergi kebawah. Kearah dimana Qin yan berada.


Disisi lain. Ruang rahasia, Wadah penyegelan Asral.


Beberapa menit terlewati, Qin yan bertahan terus menerus dari kondisi kritisnya.


Ukh" Makin lama kesadarannya juga makin pudar.


'Sial, pingsan disini yah.' Qin yan tak berdaya lagi, bola matanya perlahan melirik kesamping. Dimana ratu Medusa perlahan bangkit dan berganti tubuh lagi. Namun dia terlihat lambat, dan tak mempunyai kekuatan apapun. Tampaknya energinya begitu lemah.


Melihatnya seperti itu, Qin yan juga tidak bisa apa apa. Ratu Medusa bisa bergerak, sementara dia tidak bisa. Pada akhirnya ia pun pingsan ditempat.


Dari dalam dadanya, dimana saat ini kucing manis sedang tidur didada kiri Qin yan. Kini ia keluar dari sana, mata ungunya menatap Qin yan dengan dingin saat ia keluar dari dalam bajunya.


Lama juga ia menatap wajah Qin yan, setelah itu. Sosok kucing manis yang sedang duduk diperutnya. Kini berubah menjadi sosok manusia secara perlahan.


Rambut pirang panjang menjuntai hingga ke pinggang. Mata ungunya yang sangat indah, kulitnya seputih salju membuat sosok gadis ini nampak sempurna. Ia seumuran dengan Qin yan, 17 tahun.


Namun ia menatap Qin yan dengan penuh kebencian, tangan kanannya juga memegang pisau milik Qin yan. Ia ingin membunuh Qin yan dengan cara memotong lehernya. Namun entah kenapa ia tidak mampu, tangannya gemetar sambil menggertakan gigi. Pada akhirnya ia hanya menghela napas tak berdaya.


"Seharusnya aku membunuhmu karena kau mempermalukanmu tadi. Tapi, kau juga sudah menolongku. Maka kita impas." Kedua tangannya digantikan percikan energi emas, lalu energi itu membalut tubuh Qin yan hingga kesadarannya mulai pulih.


"Kenapa kau menyembunyikan kekuatanmu? Dengan elemen Divine mu itu, kita tidak akan jadi seperti ini." Berkata ratu Medusa dengan kesal.


"Itu bukan urusanmu." Jawab gadis itu dengan datar lalu ia berubah menjadi kucing manis kembali. Meringkuk dengan malas diatas tubuh Qin yan.


"Dasar kucing sialan, padahal kita sama sama beast. Tapi dia juga tidak ingin membantuku." Pada akhirnya, ratu Medusa yang dalam bentuk ular merah juga tidak mempunyai kekuatan untuk bergerak lebih. Ia pun hanya bisa menuju kearah Qin yan, dan beristrahat dibalik bajunya.


"Uhuk uhuk" Tidak lama tertidur, Qin yan pun bangun. Seluruh tubuhnya dipenuhi rasa sakit. Namun ia heran mengapa ia bisa bergerak.


'Kenapa tubuhku serasa pulih? Siapa yang memulihkanku?' Batin Qin yan dengan heran. Ia juga menemukan kucing manis tertidur diatas tubuhnya. Dengan hati hati ia mengambil kucing itu dan mengelusnya dengan lembut hingga kucing itu berdengkur. Begitu lembutnya elusan itu membuat kucing tersebut terbangun.


"Kau bangun? Bisa bisanya yah, disaat ssperti ini kau bisa tertidur nyaman?" Kucing itu langsung berdiri waspada mendengarnya, ia kira Qin yan akan melukainya. Ternyata ia malah ditawari sebuah pil.


"Ini, pil ekstrasi jiwa. Kau bisa pulih ketika mengonsumsi ini." Qin yan mengambil pil itu dari cincin penyimpanannya, tadi ia tak bisa bergerak. Makanya ia tak bisa mengeluarkannya.


Dengan malu, kucing itu berbalik dengan ragu. Namun Qin yan malah menyuapinya dengan senyuman hingga kucing itu tak punya cara selain menelan pil itu.


"Sekarang, kau bisa tidur dengan nyenyak." Setelah diberi pil, Qin yan membantunya tertidur dan memasukannya kedalam bajunya.


Dengan perlahan, ia pun berdiri. Berjalan sempoyongan. Menuju ketempat altar dimana Asral berada. Diam diam ia menggunakan pola kamuflase agar tidak ketahuan. Lalu memasang semua kertas peledak disetiap dinding goa.


'Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi.' Batin Qin yan dengan serius. Menatap Asral yang tengah duduk santai disana, sambil memperhatikan kunci pemberian ayahnya.


"Heeh... kunci ini yang membuatku terkurung kembali. Tapi kalau dihancurkan maka aku tidak perlu khawatir." Ia hendak menghancurkan kunci itu. Namun seketika goa pun bergetar, Qin yan yang sedang bersembunyi didekat sana sudah bersiap siap.


'Aktifkan!'


"BOOOMM" Ledakan keras pun terjadi, seluruh goa jadi runtuh. Para prajurit Qin yan yang sedang berperang kini terkejut dengan runtuhnya goa tersebut. Mereka yang sedang fokus bertarung kini memilih untuk menyelamatkan diri.


"LARI!! SELAMATKAN DIRI KALIAN!!" Semuanya langsung meninggalkan tempat masing masing menuju jalan keluar.


"Bagaimana dengan Qin yan?" Tang liu berhenti sejenak, jejak khawatir terlihat diwajahnya. Menatap kebawah dimana Qin yan berada.


"Baj*ngan! Siapa yang berani mengacaukan tempatku!!" Teriak Asral dengan marah, nafasnya berat meratapi keadaan. Tanpa sadar ia berbalik kearah pintu masuk dimana Qin yan melarikan diri.


"Dasar manusia sialan, kau belum mati rupanya." Gumamnya dengan kesal. Kemudian mengejarnya.


Sedangkan Qin yan yang saat ini sedang berusaha melarikan diri dengan sekuat tenaga.


'Hehehehe... Di buku ini dijelaskan kalau roh terkutuk tidak akan bisa terkena sinar matahari langsung meskipun mereka bebas dari kutukannya. Setidaknya tempat ini sudah kuhancurkan.' Dengan gesitnya Qin yan melompat dan memanjat dinding yang tinggi menuju keatas. Ke tempat peperangan.


"Huh!" Sekali lagi, tubuh Qin yan merinding, ia berbalik kebelakang dengan mata terbelalak. Asral datang dan langsung menghantam sampai kedinding.


"Bhuargh." Qin yan memuntahkan darah segar saat dibanting kedinding, tak berhenti disitu. Asral bahkan sampai mencekik dan menekannya disana.


"Menyusahkan saja, kau kalau masih bernapas seharusnya memanfaatkan ini untuk lari. Bukannya memprovokasi, jika bukan karena segel dalam tubuhmu yang tak bisa kubuka. Aku pasti sudah mengendalikan tubuhmu dari tadi."


Asral makin kuat mencekik leher Qin yan, membuat anak itu semakin kesakitan.


"Ppfftt... Hahahaha..." Rasa sakit di tekan Asral malah membuat Qin yan tertawa seperti orang gila. Bahkan Asral sendiri dibuat heran olehnya, berpikir kalau Qin yan sudah gila. Namun ternyata tanpa ia sadari, tangan Qin yan sudah berada pada pusat dada Asral dengan Kristal jiwa ditangannya, kunci yang tadi ia rebut.


"Apa! Sejak kapan?" Mata Asral tidak percaya melihat kunci itu telah berada ditangan Qin yan.


"Kau tahu? Aku cukup gesit dalam hal mencuri." Dengan cepat Qin yan memasukkan kristal tersebut kedalam tengah dada Asral. Hingga asral sendiri kesakitan karena dada yang bersinar terang dan terbakar.


"Ka-kau... aku tidak akan pernah melupakanmu!!!"


Asral ingin mencungkil mata Qin yan, namun belum sempat ia melakukannya, tubuhnya duluan hancur menjadi debu. Menyisahkan kristal yang kembali berwarna ungu.


Setelah tidak ada hambatan sama sekali, Qin yan pun jatuh lemas ditanah. Ia terbatuk beberapa kali, dengan dada kanannya yang bolong. Serangan sepele akhir tahap Semigod bukanlah main main untuk dia yang tidak mempunyai kekuatan apapun.


Dengan pelan, Qin yan menghela napas lega. Semua prajurit roh ular terkutuk yang tengah mengejar pasukan lain diatas kini menghilang tanpa jejak. Membuat mereka yang diatas sana terkejut dengan apa yang terjadi.


"Dia berhasil rupanya." Gumam Jin kei, disaat ini ia sedang memapah elfes yang tengah terluka para akibat segel milik Asral. Jin kei sendiri mengira kalau menghilangnya Asral dikarenakan Yao chen yang telah datang. Mungkin ia sendiri akan kaget, kalau sebenarnya Yao chen sendiri terlambat menyusul Qin yan yang sudah berhasil menyegel Asral.


"Bocah ini, walaupun kau tidak mempunyai jalur energi. Tapi sekuat apapun musuhmu itu tidak ada kata tidak mungkin untukmu yah." Gumam Yao chen dengan kagum, menatap Qin yan yang sudah pingsan dipinggir batu. Kemudian ia menatap dinding retak dimana Qin yan ditekan oleh Asral tadi.


"Meskipun serangannya terlihat begitu ringan, tapi pastinya tubuh bocah ini tak bisa menanggungnya." Yao chen kemudian mentransfer energi kyubinya ketubuh Qin yan. Mengangkatnya lalu membawanya pergi. Sejenak, pandangan matanya tertuju pada kristal ungu disana. Kristal yang menyegel Asral.


Yao chen mengambil batu tersebut, memandanginya dengan tatapan dingin.


"Harta yang dikira tempat dimana inti roh api berada ternyata adalah makam kematian yang telah kau ciptakan. Sebaiknya kau menghilang saja mengikuti sejarahmu yang sudah pudar." Dalam sekejap, ia langsung menghancurkan kristal itu dengan tangannya sendiri.


Disisi lain, diluar goa.


Semua orang bertanya tanya tentang apa yang terjadi. Dunia tergetar dan goa benar benar hendak runtuh. Kebanyakan dari mereka ada yang mundur, tapi ada juga yang belum pergi dan masih menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya.


Ahli tingkat Jenderal yang tadi mengorbankan diri demi si kucing manis. Kini merasa khawatir karena gadis yang ia bawa belum keluar sampai sekarang. Ia ingin masuk, namun kondisi tubuhnya begitu mengerikan setelah lolos dari sergapan ular raksasa penjaga pintu masuk.


'Kuharap tuan putri baik baik saja.' Batin wanita itu dengan penuh harap. Matanya seketika terbelalak menyaksikan ribuan orang keluar dari goa tersebut.


Mereka pulang dengan membawa luka ditubuh masing masing. Seolah olah telah melakukan perang panjang. Mereka keluar dengan saling membahu dan memapah satu sama lain. Anehnya juga, klan Medusa juga ikut keluar namun tidak melakukan perlawan dengan mereka. Bukankah mereka sangat membenci manusia?


'Apakah tadi orang yang masuk memang sebanyak ini?' Wanita itu heran dengan kedatangan mereka.


Satu persatu orang tersebut menyeberang sampai ketepi jurang.


'Kita berhasil keluar, tapi bagaimana keadaan Qin yan sekarang yah.' Alis Tang liu berkerut saat ia selamat dari bencana itu. Namun ia masih mengkhawatirkan keadaan Qin yan.


"Kau masih khawatir seperti itu? Tenanglah, kau taukan dia bukan anak biasa. Seharusnya kau percaya itu." Seperti biasa, Zhang yuisha datang menghiburnya, membuat kesedihan diwajahnya berganti semangat.


"Oh, itu dia sudah keluar." Tunjuk Yuisha, dimana Yao Chen keluar membawa tubuh Qin yan yang begitu lemah. Melihatnya saja, Tang liu langsung bergegas mendekati mereka.


"Apa dia baik baik saja?" Tanya Tang liu dengan khwatir.


"Tenang saja, dia baik baik saja. Mungkin dia butuh istrahat." Jawab Yao chen dengan tenang, namun matanya menunjukan keterkejutan saat melihat si kucing manis dan ular merah keluar dari dalam baju Qin yan.


'Pantas saja, aku tidak melihat mereka. pintar juga mereka bersembunyi, tapi tak apalah. Asalkan kita semua bisa selamat.' Yao chen juga tidak bisa apa apa, melihat kedua beast tersebut disambut hangat oleh rekan mereka. Layaknya keluarga, ia juga menatap Qin yan dengan penuh harap.


"Mudah mudahan kau juga akan bertemu dengan ibumu nantinya." Gumamnya sendiri.