
"Qin yan." samar samar, Qin yan mendengar ada seseorang yang memangilnya. Sesosok buram, seorang gadis berambut pirang, matanya berwarna ungu sedang berusaha membangunkannya. Makin dilihat, makin jelas juga Qin yan melihat gadis itu. Gadis yang paling ia kenal, lama tak pernah berjumpa. Dan menjadi sosok yang sangat dirindukan Qin yan.
"Zue er!" Qin yan terbangun, namun bukanlah wanita beramput pirang yang pegang. Melainkan Jia ya, yang tengah membangunkan Qin yan dengan penuh kekhawatiran.
"Pangeran, anda sudah bangun? Syukurlah!" Jia ya langsung memeluknya, dan ia juga melihat Xing yun berada disampingnya. Selain itu, mereka berada disebuah padang pasir, dimana banyak orang yang juga menempatinya.
"Dimana kita sekarang?" Tanya Qin yan kemudian. Melepaskan pelukan itu.
"Yah, kita sudah sampai. Di lempengan jurang tempat inti roh api berkembang."
Qin yan langsung tertegun mendengarnya, ia langsung berdiri meskipun tubuhnya tidak mampu. Berjalan sempoyongan, mendekati jurang raksasa itu.
"Pangeran, tubuh anda belum sepenuhnya pulih." Jia ya juga langsung menopang tubuhnya, mengantarnya sampai berada ditepi jurang.
"Astaga, ini benar benar luar biasa." Qin yan terkagum kagum melihat jauh kebawah. Sebuah lautan magma terlihat dipandang mata, lempeng ini seperti sebuah stigma penghasil magma. Jurang raksasa, yah. Tempat ini terlihat seperti jurang. Dan jauh dibawah sana adalah lautan lava yang mengalir.
"Wah wah wah! pangeran Qian yu yah." Beberapa anak muda, terdiri dari empat laki laki dan dua orang gadis. Pakaian mereka terlihat mencolok, tampaknya mereka adalah anak anak bangsawan dari kerajaan Sunmoon.
Qin yan pun bangkit dengan dibantu oleh Jia ya, menatap mereka dengan bingung.
"Kakak, mereka siapa?" Bisik Qin yan dengan pelan. Tapi ia tak sadar didengar oleh mereka.
'Apa! Apa pangeran benar benar sudah gila, apa dia tidak mengenal teman sekelasnya sendiri.' Jia ya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Seperti yang diharapkan dari nona Jia ya, anda sangat luar biasa. Dikirim disini untuk melindungi pangeran, jika tidak ada raja. Maka formalitas ini tidak mungkin anda lakukan bukan?." Seorang pria berambut biru panjang, tampak seumuran dengan Xing yun. Ia maju dan berbicara dengan Jia ya dengan sopan, selayaknya sosok yang memang diperhatikan.
"Jangan berbicara yang tidak penting, kalau memang tidak diperlukan. Kalian boleh pergi, kami sedang sibuk." Jia ya hanya menjawab dengan datar, membuat wajah pria itu menjadi jelek. Diam diam ia melirik Qin yan dengan rasa tidak senang.
Sebenarnya perkataannya dimaksudkan untuk menyinggung Qin yan, namun Qin yan malah kembali fokus mengamati jurang tersebut sambil mengorek ngorek telinganya. Tentu saja, hal itu membuat mereka jadi lebih kesal. Sikap Qin yan benar benar tidak pantas untuk mereka. Anak cacat tidak punya hak untuk bersikap seperti itu meskipun dia seorang pangeran.
"Apakah mereka belum bertindak." Gumam Qin yan mengamati banyaknya orang disini, namun mereka juga belum melakukan apa apa.
"Pangeran, pintu masuk menuju kedalam disegel oleh Klan Medusa. Sebenarnya dari tadi kami sedang menunggu ahli Pola untuk datang." Jia ya juga ikut berjongkok, menanggupi perkataan Qin yan. Mengabaikan mereka yang sedang berdiri disana. Ia lebih memilih menatap wajah Qin yan yang serius dari pada meladeni mereka.
Keseriusan mereka berdua membuat kelima anak bangsawan disana jadi bertambah kesal. Baru saat ingin berbicara, pangeran Qian san juga datang bersama pedampingnya.
"Aku tidak menyangka kalau kakak juga sampai." Ucapnya dengan angkuh, melipat tangannya kedada.
Awalnya Qin yan juga tidak mau meladeninya, namun satu prajurit bayangan tadi berbisik. Kalau keenam ahli yang menyerangnya tadi merupakan suruhannya. Makanya ia berdiri dan menunjukan senyum palsu.
"Kenapa tidak bisa? Apakah kau berharap agar aku mati, bukankah ayah sudah bilang kalau kita akan membanggakan nya." Senyum Qin yan dengan sinis, membuat keangkuhan anak itu jadi buyar.
"Tentu saja, ayah bilang seperti itu. Tapi aku tidak yakin, apakah kakak akan membanggakan kita. Aku hanya khawatir, dengan tubuh kakak yang seperti itu. Kau hanya akan menjadi cemilan untuk orang yang kuat." Jawab Qian san dengan senyum menghina, sebenarnya ia cukup kecewa mendengar kalau keenam anak buahnya gagal membunuh Qin yan. Bahkan salah satu diantara mereka ada yang tewas. Tidak ada yang tahu sedalam mana kemarahan Qian san saat ini. Tujuannya hari ini bukanlah mencari inti roh api, melainkan membunuh Qin yan sesuai permintaan ibunya.
Berharap Qin yan langsung emosi saat mendengar ejekannya, namun ternyata Qin yan hanya tersenyum berjalan melewatinya. Sejenak, Qin yan memegang bahu Qian san.
"Tenang saja. Kau tidak perlu menghwatirkan itu. Bahkan jika seorang ahli kaisar pun ingin membunuhku. Kematian akan berbalik pada mereka." Mata Qin yan sedikit membesar menatapnya, bahu anak ini ia tekan sedikit sehingga Qian san sedikit kesakitan.
'Apa, sejak kapan dia sekuat ini.' Qian san tidak percaya kalau dia bisa kesakitan oleh tekanan kakaknya. Ia ingin melepaskan tangan Qin yan, namun Qin yan sudah menepuk bahunya duluan layaknya candaan.
"Apa kita akan pergi ketempat lain?" Tanya Xing yun disamping Qin yan.
"Ya. Sepertinya begitu, tampaknya disini bukan tempat yang tepat untuk mengamati jalan masuk jurang ini."
Qin yan yang terlihat seperti orang lemah, tapi nyatanya dialah yang paling kuat. Raja mempercayakan Jia ya untuk mengawal dan membimbing Qin yan. Tapi sekarang ia malah tidak percaya, kalau pangeran yang ia kira lemah adalah sosok pemimpin disini. Dan dia adalah orang yang menerima perintahnya.
Disaat Qin yan berjalan, tidak sengaja ia berpaspasan dengan seorang gadis cantik. Rambutnya hitam panjang, serta selendang merah muda yang ia pakai mampu menarik perhatian para pendekar muda yang ada disini. Hanya saja, ketika melihat Qin yan, perhatian gadis itu jadi tertuju padanya. Namun Qin yan tetap berjalan kedepan, toh ia tidak kenal siapa dia.
"Pangeran, kenapa anda hanya berjalan saja." Jia ya menarik ujung baju Qin yan dengan pelan.
"Hm...? Ada apa..?" Qin yan berhenti, melihat Jia ya menunjuk kearah gadis itu. Ketika dilihat, alis Qin yan berkerut, siapa gadis itu. Mereka bahkan saling berpandangan. Setelah itu, gadis tersebut langsung berpaling. Kembali berjalan. Qin yan tidak ambil pusing, ia juga berjalan kedepan.
"Jangan perhatikan hal yang tidak penting." Ucap Qin yan dengan tegas, membuat Jia ya sendiri bingung dengan sikapnya. Ternyata tidak lama gadis itu berjalan, ia berbalik sejenak pada Qin yan. Menatap punggung Qin yan yang sikapnya acuh tak acuh padanya.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada pangeran, kenapa ia mengabaikan tunangannya sendiri. Apakah mereka mempunyai masalah.' Alis Jia ya kembali berkerut, tapi ia juga tetap diam tidak bertanya apa pun.
Jauh dari mereka, alis gadis yang menatap kepergian Qin yan juga berkerut. Namanya Ning er, dari keluarga bangsawan tingkat 1 dikerajaan Sunmoon, keluarga Rembulan naga. Sosok Qin yan perlahan menghilang dari pandangannya, tidak lama kemudian seorang pria paruh baya mendatanginya.
"Dia mengabaikanmu?" Tanya pria itu.
"Ya, paman. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya. Seolah olah ia tidak mengenalku." Suara gadis itu begitu lembut, namun terdengar seperti sedang kesal dibalik wajahnya yang datar.
"Kalau begitu kita harus menyapanya sesekali. Tidak kusangka juga sang raja mengirimnya untuk datang kesini." Pamannya langsung mengajaknya pergi mengejar Qin yan.
Disana Qin yan sudah menemukan tempat yang tepat untuk mengamati jalan pintu masuknya.
"Bagaimana situasinya sekarang?." Xing yun bertanya pada Qin yan yang terus terusan serius mengamati sebuah lorong batu jauh dibawah sana.
"Masih belum, aku belum menemukan apa apa." Jawab Qin yan, matanya tak lepas dari goa kecil yang ada disana. Namun goa itu tertutup rapat, mempunyai dua patung manusia setengah ular sebagai penjaga.
"Sebenarnya apa yang pangeran lihat?" Jia ya juga mendekat dengan penasaran, mengamati tepat dimana Qin yan lihat. Hanya saja, goa itu terlalu kecil dipandang mata. Tampak seperti mempunyai jarak puluhan ribu meter dibawah sana. Jadi penglihatan mereka tidak terlalu tajam, setidaknya, tidak setajam mata milik Qin yan.
Disaat mereka sedang fokusnya mengamati, gadis tadi beserta pamannya mendatangi mereka.
"Ukhem ekhem, tampaknya tuan pangeran sedang sibuk melakukan sesuatu." Paman gadis itu terbatuk sebentar, membuat Xing yun dan Jia ya jadi tersadar.
"Ah, tetua Ning." Jia ya langsung berdiri, memberi hormat. Kecuali Qin yan yang hanya tetap serius mengamati.
"Maafkan ketidak sopanan kami tadi." Ia kembali membungkuk sekali lagi, membuat paman gadis itu jadi tersenyum ramah.
"Tidak perlu lakukan itu, mungkin pangeran sedang terlalu sibuk, makanya ia jadi tak sadar. Apalagi ia seorang pangeran, sudah sewajarnya lah."
"Biarpun begitu, kami benar benar minta maaf. Iyakan pangeran? Eh pangeran?" Jia ya berulang kali menyentuh punggung Qin yan, namun saking fokusnya Qin yan jadi tidak menghiraukannya. Tatapannya menyipit kearah pinggir pintu goa itu, disana terdapat sebuah mata, berkedip beberapa kali. Hal itu membuat Qin yan jadi tersadar.
"Itu dia, akhirnya ketemu juga."
***********