LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Wanita pedamping.


"Apa! Dua hari lagi!" Qin yan mendadak kaget, bagaimana bisa waktu berjalan begitu cepat. Sebenarnya berapa lama ia tertidur selama ini.


Seketika ia ingat, salah satu prajurit bayangannya mengirim informasi. Kalau kerajaan Kalise sudah berhasil diatasi. Qin yan pun tersenyum puas, mungkin disana masih ada beberapa anggota kerajaan yang masih memerintah kerajaan Kalise. Namun sekali diserang maka mereka tidak punya kesempatan untuk bertahan.


Tapi, bukan hal itu yang pikirkan, saat ini ia memikirkan siapa saja yang akan ia utus keturnamen tersebut.


"Jadi, siapa saja yang akan pergi kesana." Tanya Qin yan lagi. Jin kei pun mengangguk, ia kemudian memanggil seorang wanita berumur 30 an.


Namanya Lu Xian, guru cantik dari akademi. Statusnya saat ini ia sedang bertunangan dengan salah satu prajurit militer sekte. Sebagai guru yang terbaik dari sekian banyaknya guru. Lu Xian dipilih menjadi pendamping murid untuk mendamping mereka saat berada disana. Membantu, membimbing mereka bahkan memberi mereka dukungan semangat. Itulah yang akan ia kerjakan.


Lu Xian dengan senang hati menjadi pedampjng mereka. Pasalnya, ia tidak pernah pergi keturnamen tersebut. Turnamen itu bagaikan mimpi yang tak bisa dicapai di kerajaan ini. Bertahun tahun lamanya, turnamen tersebut berlangsung. Raja Sunmoon berusaha mendaftarkan diri. Namun tidak memenuhi kualifikasi karena murid yang ada semuanya sangat lemah. Umur para pemuda disini sekitar 24 atau 25 tahun, namun hanya berada ditingkat Elit atau master. Jangankan bertarung, dipendaftaran saja mereka tidak memenuhi syarat. Oleh karena itu, dalam kesempatan yang langka ini. Sebuah kehormatan bagi mereka untuk menyaksikan langsung pertarungan antar jenius diseluruh pelosok.


Saat Lu Xian masuk kedalam, ia mendapati kalau Qin yan berada disana, master sekte yang ia kagumi. Dengan senang hati ia langsung membungkuk hormat.


"Salam master." Ucapnya sopan.


Qin yan pun mengangguk sembari memeriksa wanita itu.


"Hm..... Tingkat Elder diumur 30 tahun?" Ia sedikit menyerngit saat mengetahui kalau guru pendamping ini agak lemah dari perkiraannya.


Tentunya melihat Qin yan tidak puas, Lu Xian jadi pucat. Jin kei dan Yao Chen juga menyadari ketidakpuasan anak itu. Mereka pun menggeleng pelan, berusaha menjelaskan padanya.


"Diantara guru lainnya, dialah yang paling kuat. Dan juga, dia hanya akan mendamping saja. Meskipun murid yang kita kirim setara dengannya atau bahkan lebih kuat. Tapi jangan meremehkan tampang luarnya saja, bagiku dia guru yang pantas untuk mendampingi mereka. Dia mempunyai persepsi tenang saat berada dalam masalah, bahkan ia bisa mencari jalan keluar disaat berada dalam keadaan hidup dan mati. Bagiku, pola pikirnya tidak jauh berbeda dengan anda."


Perkataan Yao Chen membuat Qin yan agak tertarik dengan wanita itu. Ia pun mengangguk mengerti.


"Maafkan aku atas kelancanganku tadi. Silahkan berdiri." Ucap Qin yan dengan sopan.


"Terima masih master. Sebuah kehormatan diuji oleh anda." Lu Xian mengangguk hormat.


"Coba berikan daftar murid yang akan dikirim." Pinta Qin yan. Wanita itu kemudian memberinya kertas berupa nama nama murid teratas.


"Hm.... Lin Fin, Yi Luo Xiang, Tang Liu, Xiu Xiu, Xie Xie, De muyie, Jung kyun. Kenapa cuma tujuh orang saja. Setahuku orang yang dikirim ada sepuluh kan? Delapan peserta utama dan dua cadangan." Alis Qin yan berkerut memikirkan itu.


"Master, jika hitung dengan anda semuanya akan menjadi delapan orang. Sementara dua kandidat lainnnya, kami masih dalam pemilihan. Dan yang membuat kami bingung, ada beberapa orang yang menginginkan posisi ini. Jadi kalau boleh, anda secara pribadi memilih mereka." Lu Xian menundukan kepala. Ia benar benar malu mengatakannya. Jika Qin yan marah, maka tamatlah riwayatnya.


Namun diluar dugaan, Qin yan malah menyetujui masukan tersebut.


"Hm... Baiklah, aku akan memeriksa mereka." Kata Qin yan mengangguk.


Lu Xian jadi menghela napas mendengarnya, ia berdiri kemudian meminta ijin kepadanya Qin yan.


"Hoek!" Namun tiba tiba Medusa menutupi mulutnya menahan mual. Ia bahkan memegangi perutnya, seolah olah begitu sakit.


"Ada apa?" Tanya Qin yan dengan alis berkerut, ia memegangi bahu Medusa. Namun wanita itu hanya terus mual sampai akhirnya meninggalkan ruangan. Membuat Qin yan makin bingung.


"Apa yang terjadi dengannya?" Ia pun memandangi Jin kei dan Yao Chen. Kedua pria itu pura pura tidak melihat dan bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa.


"Apa yang kalian sembunyikan?" Tentu saja Qin yan tahu kalau ada yang disembunyikan oleh kedua orang ini. Belum sempat mereka menjawab, tiba tiba pintu dibuka. Seorang tabib tua wanita dari keluarga Ligth path memasuki ruangan.


"Salam Tuan Jin kei, salam Tuan Yao Chen. Aku datang kesini untuk memeriksa keadaan nona Mei ji. Apakah janinnya ada perkembangan atau tidak."


"Silahkan." Yao Chen langsung mempersilahkannya. Tidak lama kemudian, Medusa keluar, saat bertemu dengan wanita tua itu. Medusa mengangguk lalu ia pergi berbaring ditempat tidur. Wanita tua itu beberapa kali memijit dan menyentuh perutnya, memeriksa apa yang ada didalam.


Qin yan tercengang melihat itu, jangan bilang.... Memikirkan itu membuat Qin yan pucat dan diliputi keringat.


"Master, apa anda mendengarku?" Lu Xian beberapa kali memanggil Qin yan, namun anak itu hanya mematung ditempat sambil memandangi kearah Medusa.


Sejurus kemudian, ia berdiri. Perlahan berjalan kearah Medusa dan tabib tua itu. Dengan seluruh keberaniannya, Qin yan mencoba bertanya.


"Tabib, apa yang terjadi dengannya?" Tanya Qin yan pelan.


"Huh?" Tabib tua itu berbalik kepada Qin yan, menatapnya seperti orang bodoh.


"Kau ini bagaimana, masa kau tidak tau keadaan istrimu sendiri. Selamat yah, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah."


Perkataan wanita itu membuat mata Qin yan terbelalak. Ia menatap Medusa yang memalingkan wajah dengan gugub. Beberapa saat kemudian, Qin yan belum pulih dari keterkejutannya.


"Tuan, kau baik baik saja? Nak, umurmu muda sekali. Kau kuat juga sebagai pria." Senyum wanita itu memandang Qin yan dengan kagum. Namun Qin yan menatap balik dengan mata melotot, mengisyaratkan nya agar tidak berbicara sembarangan. Hal itu membuat nenek tua tersebut menunduk, ia sedikit takut.


Melihat itu, Yao Chen dan Jin Kei jadi maju. Ingin mencegah agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. Mereka berdua memegang bahu Qin yan, berbicara baik baik.


"Ayolah nak, bukankah itu kabar baik.? Kenapa muram begitu." Kadang kala mereka juga bercanda sambil menoki kepala Qin yan.


Namun ekspresi anak itu tetap tidak berubah bahkan wajahnya saja semakin menghitam.


"Kalian semua, keluar dari sini. Aku mau berbicara berdua saja dengan Mei ji." Ucap Qin yan dengan nada dingin. Semuanya jadi terkejut, terutama Medusa yang melihat ketidaksenangan diwajah anak itu. Akibatnya, ia jadi takut, kalau Qin yan akan menyakiti dirinya.


"Hehehe... Mana mungkin kami meninggalkanmu sendiri, nak. Lagian...." Jin kei mulai menyadari sesuatu yang salah, tidak mungkin ia akan pergi dari sana.


"Jin kei, aku bilang kan. Aku mau sendiri." Qin yan memotong pembicaraannya. Membuat Jin kei tertegun. Dengan cepat Yao Chen menariknya keluar, diikuti dengan Elfes, Lu Xian dan tabib tua tersebut.


Mereka begitu cemas dengan keadaan Medusa, namun tentunya tidak ada yang bisa mereka lakukan.


"Apa yang kau pikirkan. Hah?" Jin kei berusaha memberontak. Namun Yao Chen tetap menghentikannya.


"Tidak usah banyak bicara, ayo keluar saja." Bisik Yao Chen.


"Tapi, kau lihat sendiri kan. Ekspresi anak itu, bisa jadi wanita itu dalam bahaya." Ujar Jin kei lagi, namun Yao Chen tetap menggelengkan kepala.


"Aku percaya pada anak itu, kau pikir aku tidak tau. Memangnya sudah berapa lama aku tinggal dengannya. Ayolah, jangan ikut campur dalam hubungan mereka."


Jin kei akhirnya pasrah, kemudian mereka menutup pintu.


"Brak."


Ekspresi anak itu, membuat Medusa khawatir. Ia pun mundur sambil memegangi perutnya.


"Apa yang kau lakukan?" Ia mulai menyadari ada yang aneh dari tadi. Jangan jangan Qin yan tidak setuju dengan bayi ini.


Namun pertanyaan itu sama sekali tidak menggubris Qin yan, anak itu hanya diam dengan raut wajah yang kaku.


"Apa yang terjadi denganmu sebenarnya!" Kini Medusa mulai ketakutan, ia pun mundur dengan matanya yang sudah bergenang air mata. Ia benar benar tidak percaya, apakah hanya karena hubungan mereka yang


terjadi tanpa kesengajaan. Qin yan mau membunuh bayinya ini. Kekecewaan mulai menyulut dihatinya.


"Apakah itu....."


"Ya. Ini anakmu." Medusa langsung buru buru menjawab. Baginya tidak ada alasan untuk menyembunyikan semua ini dari Qin yan.


Namun diluar dugaannya, ternyata Qin yan langsung berlutut didepannya dengan kepala tertunduk.


"Maafkan aku."


Kata itu membuat Medusa membeku. Alisnya kemudian berkerut memandangi Qin yan. Melihat itu, entah kenapa Medusa tak bisa berkata apa apa.


"Maafkan aku yang sudah membuatmu seperti itu." Diri Qin yan diliputi rasa bersalah yang sangat mendalam. Ia sudah melakukan tindak kriminal kepada seorang wanita yang masih suci. Dan sekarang, wanita itu mengandung anaknya. Ia benar benar tak menyangka kalau dalam keadaan tak sadar waktu itu ia tak bisa mengontrol diri. Setidaknya ia tak mau membuat wanita ini menderita karena malu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Medusa menjalani hidup selama sebulan ini.


Bahkan Qin yan tidak mempunyai keberanian untuk bahagia, tanpa persetujuan Medusa sendiri.


Tiba tiba Medusa mendekatinya, menampar wajah anak itu.


"Yah benar, itulah yang seharusnya kau lakukan." Berkata Medusa dengan dingin, sebenarnya ada rasa sakit ketika mengetahui dirinya hamil. Namun rasa itu entah kenapa bercampur dengan kebahagiaan. Entah itu bahagia karena bisa bersama Qin yan, mungkin karena selama ini ia sudah terbiasa bersama anak itu hingga tak bisa mengontrol perasaannya sendiri.


"Apa kau tidak mau menerima anak ini?" Tanya Medusa dengan serius. Qin yan langsung mengangkat wajah. Menatapnya, tidak ada ekspresi apapun diwajah wanita itu selain keseriusan.


Kemudian Qin yan kembali menunduk.


"Kenapa kau bertanya seperti itu. Seharusnya aku yang bertanya, apakah orang sepertiku bisa kau terima?"


Mendengar itu, amarah Medusa memuncak. Ia langsung menarik baju Qin yan keatas.


"Apa maksudmu, jangan main main denganku." Napas Medusa mulai tak karuan, ia benar benar tak bisa menerima kalau Qin yan segitunya pengecut. Wajahnya menatap Qin yan dengan penuh kebencian.


"Tentu saja ini anakmu, apa alasanmu berkata seperti itu?"


Tiba tiba Qin yan tertegun, langsung menatap balik matanya. Keduanya saling bertatapan, satunya terkejut satunya menunggu jawaban.


"Ja-jadi.... Kau..." Dengan cepat Qin yan langsung memeluk Medusa erat erat. Akhinya ia mendapat persetujuannya, ia tadi sebenarnya cukup ragu. Jangan jangan Medusa sangat membencinya saat ini. Walaupun jawaban wanita ini dipenuhi kemarahan. Namun, Qin yan benar benar senang sekarang.


"Terimah kasih, mari kita jaga anak ini bersama sama." Sebenarnya, dari dulu. Qin yan selalu menghadapi situasi yang sama. Qin Zhu dan Zue er beberapa kali hamil. Namun, karena mereka berada didalam Reruntuhan Kuno. Tidak pernah ada situasi aman setiap waktu. Setiap masalah datang, maka mereka akan terpengaruh. Sampai akhirnya, keduanya memutuskan untuk menahan diri sampai nanti mereka mempunyai tempat untuk mendirikan keluarga. Nyatanya sampai sekarang, kesempatan itu tak kunjung datang. Setiap kali kekuatan bertambah, maka musuh yang lebih kuat akan selalu ada. Tantangan hidup semakin sulit dijalani.


Qin yan merasa suatu anugerah jika dia mempunyai keturunan disini. Meskipun ia masih muda, namun ia tak perduli itu. Bahkan tak akan memperdulikan apa pendapat orang orang nanti.


Merasakan pelukan erat itu, seketika amarah Medusa menghilang. Dirinya akhirnya menyadari, kalau ternyata Qin yan masih menghargainya sebagai wanita. Ia bahkan membutuh ijinnya apakah dia diterima atau tidak.


Tubuh Medusa melemas, ia pun memejamkan mata merasakan sensasi perlukan itu. Kemudian Qin yan melepaskan pelukannya. Menatap wanita itu lekat lekat. Ia langsung mendaratkan bibirnya kearah bibir merah Medusa.


"MMM..." Mata Medusa terbelalak kaget, namun tidak lama kemudian ia langsung membalas itu dengan penuh nafsu. Keduanya saling barpagutan dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya Qin yan membaringkan wanita itu secara hati hati. Sudah lama sekali ia tidak melakukan ini.


"Kau tadi cukup membuatku takut. Kau harus membayarnya." Kata Medusa dengan manja. Merasakan tubuhnya sangat panas, rona merah menghiasi wajahnya.


"Dengan senang hati." Tanpa menunggu waktu, Qin yan langsung membuka bajunya. Tak tanggung tanggung, ia akan menjadi binatang buas hari ini. Ia juga melepaskan baju yang menutupi tubuh Medusa. Menikmatinya dengan perlahan.


"Euh...." Medusa pun menggigit bibirnya, tubuhnya menegang sambil memegang rambut Qin yan. Sensasi ini terasa membawanya keatas awan. Namun tak bisa dipungkiri, bayang bayang saat Qin yan waktu itu menggagahinya dalam keadaan tak sadar. Meninggalkan bekas trauma didalam dirinya.


"Tolong pelan pelan." Medusa tak ingin itu terjadi lagi, makanya ia harus memperingatkan Qin yan kali ini.


Qin yan mengerti maksudnya, ia pun memperlakukan Medusa perlahan sampai akhirnya wanita ini akan merasakan kepuasan juga. Toh ia juga tahu tata caranya.


********


"Apa yang dilakukan anak itu didalam?" Tabib tua yang bertugas memeriksa keadaan Medusa jadi khawatir. Melihat raut wajah Qin yan tadi, terbesit perasaan curiga didalam pikirannya. Ia khawatir kalau Qin yan akan menyiksa Medusa sampai menggugurkan kandungan didalamnya.


Jin kei terdiam, Yao Chen juga begitu. Semua orang menjaga pintu kamar tersebut. Kekhawatiran yang sama terbesit dikepala masing masing. Jika itu terjadi, mungkin Yao Chen akan mengira Qin yan tidak mempunyai hati lagi.


Tiba tiba suara yang ambigu terdengar dari dalam.


"Uh...shh... ah.."


Wajah Lu Xian jadi memerah. Ekspresi Yao Chen dan Jin Kei jadi kaku. Mereka menelan ludah. Elfes tidak bereaksi apa apa, sama halnya dengan nenek tua disana yang hanya tersenyum.


"Tu-tuan.... A-aku.. Bolehkah aku kembali? Na-nanti jika ada sesuatu yang dibutuhkan. Aku akan datang lagi." Lu Xian tidak tahan lagi, ia pun cepat cepat kabur dari situasi itu. Meskipun agak tidak sopan, namun Jin kei dan Yao Chen juga mengerti. Mereka tak bisa melakukan apa apa.


"Pak tua, sepertinya kita juga harus pergi." Jin kei menatap Yao Chen sementara pria itu juga mengangguk. Kemudian mereka pun meninggalkan pintu itu, tak ingin mengganggu waktu mereka.


"Haaish... Sepertinya kita juga harus mencari wanita pendamping." Yao Chen pun menghela napas. Membuat Jin kei jadi tertegun.


"Hei rubah tua, jangan bilang kalau sifat mesummu kembali lagi." Jin kei menjauh selangkah.


"Ayolah naga kecil, kita ini memang hewan kuno. Tapi, semakin hari, waktu pun semakin berjalan. Karena kita berinteraksi dengan manusia. Lambat laun pola pikir kita juga seperti manusia. Kita tak bisa menghindarinya." Jawab Yao Chen pelan. Tapi Jin kei hanya menepis.


"Itu terserah kau, dari dulu kau memang tidak berubah. Kalau kau mau, aku bisa mencarimu nenek tua yang cocok untukmu."


Tiba tiba Yao Chen menyerngit mendengarnya. Ia tidak terima dengan masukan pria itu.


"Bah, lihat saja kau. Aku akan mengoleksi wanita cantik dan menjadikan mereka selirku."


Jin kei hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan pria itu. Dari tampangnya luarnya, pria itu tampak tenang dan tegas. Namun sebenarnya pemikirannya sangat mesum.