LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Gerbang yang kedua


Beberapa jam terlewati, saat Qin yan beserta dua pedampingnya pergi menuju kearah selatan. Waktu tempuh menggunakan kuda, baru saat memasuki hutan. Perasaan Qin yan tidak enak, nalurinya mengatakan ada beberapa orang mengikuti mereka diam diam.


"Apa ada sesuatu pangeran?" Tanya Jia ya disamping. Rupanya ia juga menyadari keselisahan Qin yan.


Tanpa menjawab, Qin yan tetap diam. Bahkan jika wanita itu memanggilnya beberapa kali, Qin yan tetap tidak menyahut. Sampai sampai Xin yun menegur wanita itu agar berhenti memanggil Qin yan terus.



'Ada apa dengan pangeran, kenapa ia terus terusan gelisah?' Alis Jia ya juga ikut berkerut, bingung dengan apa yang dipikirkan Qin yan.


Tiba tiba Qin yan berdigik, bergerak dengan sangat cepat. Dan langsung melemparkan salah satu pisaunya kearah semak semak.


"DUARM" Tempat dimana pisau itu mendarat langsung meledak seketika.


Semuanya turun dari kuda, termasuk Qin yan sendiri.


"Pangeran! Apa yang terjadi?" Jia ya menutupi wajahnya dari asap yang mengepul. Menatap Qin yan dari samping, wajah Qin yan yang begitu serius membuatnya sedikit tertegun. Meskipun selama ini ia selalu memperhatikan Qian yu yang selalu serius. Namun kali ini, hatinya bedegup kencang saat melihatnya. Seolah baru pertama kali menyaksikan Qian yu yang tengah serius sekarang.


"Baj*ngan! Bagaimana dia bisa mengetahui keberadaan kita!." Beberapa sosok berbaju hitam langsung keluar. Satu orang diantaranya keluar dengan luka parah.


Baru saat melihat mereka, mata Jia ya membesar. Ia menatap Qin yan tak percaya kalau nalurinya begitu tajam. Enam orang berbaju hitam, cincin hitam keluar dan berputar ditangan mereka.


"Mereka berada ditahap Elder! Ini bahaya, pangeran! Anda pergilah, biar aku yang menahan mereka." Jia ya mundur dengan pedangnya terangkat, cincin hitam juga berputar ditangannya. Wajahnya begitu khawatir akan keselamatan Qin yan. Namun respon yan ia dapat, Qin yan hanya mengabaikannya. Xing yun juga maju disampingnya. Dengan cincin hitam juga menyala ditangannya.


"Tenanglah wanita cantik, Pangeranmu tidak akan selemah itu." Xing yun mengeluarkan tombak berliannya, bersiap untuk menyerang.


'Hah, bukankah umur anak ini sekitar 19 tahun. Tapi kenapa dia sudah mencapai tingkat Elder, darimana pangeran mendapatkan jenius seperti ini.' Diam diam ia melirik Qin yan yang hanya berdiri santai.


"Pangeran! Kenapa kau tidak lari juga?" Teriak Jia ya dengan panik, namun matanya tiba tiba membesar saat seluruh tubuh Qin yan dipenuhi aura api biru.


"Xing yun! Kau lawan yang satunya, dan kau kakak, satu orang wanita itu adalah milikmu. Sisanya, serahkan padaku." Ucap Qin yan dengan tenang.


"Kau gila Pangeran! Ada apa dengan kepalamu?" Teriak Jia ya dengan kaget. Apa apaan sebenarnya, dia ingin mengambil empat orang dengan tubuhnya yang seperti itu. Siapapun juga akan menyebutnya orang gila.


"Hooh... Lihatlah dia, dia tidak mengakui kalau tubuhnya cacat. Tapi masih bermimpi ingin menjadi orang kuat, sampai sampai lupa batasannya." Ketua mereka muncul, elemen air muncul di tangannya. Sosok paus yang terbentuk dari air pun langsung menyerang Qin yan.


"Pertahanan cahaya!" Lingkaran cahaya terbentuk, Jia ya melindungi Qin yan dari depan.


"Siapa kalian! Kenapa kalian mengikuti kami!?"


Qin yan maju, memegang bahu Jia ya. Lalu melewatinya kedepan.


"Percuma jika kakak bertanya pada mereka. Mana mungkin mereka akan menjawabnya, tipe air? Kalian menarik juga, sayangnya aku hanya bisa bertahan lima menit. Jika bertahan lama, mungkin pertarungan ini sangat menyenangkan. Tapi tenang saja, ahli sekuat kalian pasti terhibur." Qin yan mulai memasang kuda kuda, aura api birunya bergejolak sampai menciptakan kejut angin.


'Apa? Darimana pangeran memperoleh kekuatan sedashyat ini.' Jia ya menatap punggung Qin yan dari belakang.


"Gerbang kedua! Diaktifkan!"


"Siung" Qin yan langsung menghilang dipandang mata.


"Dimana dia?" Mereka mulai waspada, salah satu dari mereka yang tengah terluka sedang memulihkan diri dari dibelakang teman temannya.


"Lindungi aku seben...."


"BUAKH" Belum lagi pria yang terluka itu menyelesaikan perkataannya, Kaki Qin yan langsung menendang tepat kebagian lukanya, membuat pria itu kehilangan kesadaran untuk sesaat.


"BRUK" Ia terpental jauh dan menghancurkan batu yang ia tabrak.


"Satu." Ucap Qin yan tenang.


"Sial, dia dibelakang! Elemen air, Tendon water!" Sebuah tabung keras terbuat dari air langsung terbentuk, menuju dengan cepat kearah Qin yan.


"Six path!." Qin yan juga maju, dengan keadaannya yang sedang berkobar oleh aura gerbang kedua. Ia tanpa ragu mengangkat tapak tangannya hingga berbenturan keras dengan tabung itu.


Angin pun langsung terpecah, debu debu bertebaran dan mengepul. Beberapa dari mereka, mundur sambil melindungi wajah dengan tangan mereka.


'Sejak kapan pangeran jadi sekuat ini.' Batin Jia ya dengan kagum, Qin yan sudah menumbangkan satu orang dalam waktu sekejap, dan sekarang mulai menyerang yang lain.


"Jangan diam saja, kita harus hantam yang lain." Xing yun melesat dengan tombak menyala di ditangannya.


"Elemen cahaya! Keagungan tombak!" Ia langsung menerjang musuh.


"Ptank" Tiba tiba tombaknya ditahan oleh sebuah kapak, tentunya Xingyun berhadapan salah satu dari mereka.


"Elemen api, Kapak pembelah."


"Ptank ptank ptank" Beberapa kali kedua senjata mereka saling berbenturan.


Pria berjubah itu juga langsung melepas kain penutupnya. Menampilkan tubuhnya yang penuh otot dan mukanya tertutupi masker hitam.


"Kau juga tidak kalah, Hup!" Ia melesat sekali lagi.


"Ptank ptank ptank" Serangannya terus terusan disambut oleh Xing yun dengan senang hati.


Berganti kesituasi Jia ya, saat ini ia sedang diam mengamati pertarungan. Tiba tiba disekitarnya angin berkumpul, mengepul dan hampir menelannya.


"Kenapa kau diam saja disitu. Mari layani aku. Fufufu.."


Wajah Jia ya sedikit berkeringat. Angin yang mengepul jadi semakin kuat, ditambah dengan debu yang mengepul, semakin menutupi pandangan.


'Tidak akan kubiarkan!' Geram Jia ya dan langsung menggenggam pedangnya yang bersinar dengan kuat.


"Elemena cahaya, pembapstian pedang!" Jia ya langsung menikam pedangnya ketanah, tanah jadi retak. Cahaya pun bangkit, meledak hingga angin pun menghilang.


"Hooooh... bisa juga kau." Sosok wanita memakai master pun terlihat, ia mempunyai senjata aneh. Sebuah tentakel besi seperti ekor kalajengking melayang dikedua tangannya.


"Kita sama sama wanita, kira kira siapa yang akan mati yah. Hahaha...." Kedua tentakel itu langsung menuju kearah Jia ya.


"Tatatatatatatatang...." Permainan pedang Jia pun langsung menangkis semua itu.


"Jangan cuma bertahan loh, kan jadi bosan jadinya." Wanita itu meringkuk bosan diudara. Membuat wajah Jia ya langsung menghitam.


"Jangan bercanda!" Ia pun membentuk tebasan dalam bentuk X . Garis X itu melesat dan menghantam kedua tentakelnya dengan keras.


"HIYAAAHH!!!" Pada akhirnya, jiwa kesatria bangkit didalam diri Jia ya. Ia menyerang wanita itu tanpa memberi kesempatan untuk bernapas.


Gesekan demi gesekan, benturan antar dua senjata juga terus terusan tercipta diantara mereka. Masing masing sudah menjadi mempunyai lawan, termasuk Qin yan sendiri.


"BRUK. Bobobobobom." Pria yang Qin yan tendang, terpental jauh dan menembus beberapa batu di belakangnya. Sejauh mata memandang, tubuh pria itu cukup keras. Bahkan batu terakhir pun tidak berefek apapun padanya. Hanya sebuah hampasan dan tumpukan batu yang menghantam tubuhnya.


'Ukhuk ukhuk! Bagaimana dia sekuat ini? Apa kami salah menerima informasi?' Pria itu memuntahkan darah segar. Memegangi dadanya, bekas tendangan Qin yan barusan.


"Siung"


'A-apa!' Matanya kembali membesar, melihat Qin yan berkedip didepannya. Kakinya terangkat dengan tinggi, bayangan kakinya bahkan menutupi wajahya.


"BOOMM" Angin terpecah sekali lagi, sebuah kawah terbentuk. Tampak sebuah tangan gemetar, saat menangkis tendangan Qin yan. Pria itu belum tumbang, namun masih menahan serangan Qin yan yang begitu kuat.


"Kena kau!" Disaat pria itu berucap dengan senyuman, dua dinding raksasa terbentuk disamping Qin yan. Kedua dinding itu langsung memepetnya.


"Ding!" Dinding itu dengan kerasnya menindis Qin yan dari dalam. Dari kajauhan, pria lain sedang berjongkok dengan kedua tangannya diatas tanah.


"Giliranmu." Ucap pria itu dengan dingin, sesosok satu lagi melesat dengan cepat. Listrik berkilat ditangannya.


"Bliiittss" Dinding pun pecah, saat tangan dipenuhi listrik itu menghantamnya. Qin yan ikut dikeluarkan, ketika tangan itu juga menghantam dadanya.


"Ukh..." Sekilas, wajah Qin yan terlihat kesakitan, namun diam diam ia tersenyum puas. Karena tangannya berhasil menangkap satu orang lagi.


"Dua." Setelah ucapan Qin yan terucap, sosok prajurit bayangan muncul dibelakang pria itu. Tanpa ragu langsung menusuk jantungnya, hingga tubuhnya melemas dan jatuh ketangan Qin yan.


'A-apa!' Dua orang lain yang menjadi lawan Qin yan jadi terkejut, sosok makhluk itu mampu membunuh temannya dalam sekejap.


"Kita mundur dulu!" Mereka berdua pun melarikan diri dengan ketakutan diwajah, membawa teman mereka yang pingsan. Diikuti dengan dua orang sedang bertarung disana. meninggalkan teman mereka yang tewas.


"Hah hah" Napas Qin yan menjadi berat, sebelum Jia ya melihat. Ia terburu buru membangkitkan mayat yang ada didepannya hingga menjadi prajurit bayangan yang baru.


Setelah itu, barulah ia terjatuh dan bersandar disisi batu. Memegang dada kirinya, kikisan serangan pria yang mempunyai listrik tadi.


"Ukhuk ukhuk." Sejenak, ia memuntahkan darah segar. Memang yah, penggunaan teknik gerbang kedua benar benar merusak tubuh. Apalagi tubuh Qin yan yang tersegel, tanpa energi, tidak ada yang melindungi tubuhnya. Dan sekarang Qin yan merasakan itu kembali.


Perlahan, penglihatannya pun mulai kabur. Xing yun dan Jia ya berlari memeriksa kondisinya.


"Pangeran! Pangeran! Kau baik baik saja!." Beberapa kali Jia ya menampar pelan pipi Qin yan, namun sayang kesadaran anak itu sudah membuyar. Hingga Qin yan pingsan ditempat.


"Pangeran!"



******


Oke, ini chapter susulannya. Semoga dapat menghibur, silahkan like dan komen yah. Jangan lupa Votenya.