
Sore hari itu, Bi Li, presiden asosiasi Alkhemis kerajaan Zhongtian. Atau yang lebih dikenal sebagai ahli penyulingan tingkat tujuh termuda di didunia dalam generasi saat ini, masuk kedalam kantornya dengan perasaan berkecamuk.
Pikirannya terlalu lelah, dan ia sangat terbebani dengan masalah hari ini. Banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang di ajukan oleh para ahli yang datang. Selain itu, masalah kekalahannya dan soal taruhan. Memikirkannya saja membuatnya stres.
Bi Li duduk di tempat duduknya, memijit lembut bagian kening yang terasa pening. Sambil menghela napas, berusaha tenang dari masalah yang ia hadapi hari ini.
Dari semua yang ia pikirkan dari tadi, satu hal yang lebih membuatnya terganggu. Tadi pagi, masternya, Sai Hwang sangat menolak pertaruhan tentang ia menjadi wanita orang lain. Tapi, setelah pertemuan tadi siang. Nenek itu sekarang malah menyetujui taruhan itu dengan senang hati.
Di banding sedih atau kecewa karena kekalahan muridnya, ia cenderung berseri seri mendengar muridnya akan menjadi milik orang lain tak dikenal. Bahkan ia terlihat mendukung persetujuan ini.
'Haaaaaaah..... Apa yang dipikirkan master? Ah, aku lelah... Aku ingin istrahat...' Bi Li membenamkan kepalanya sejenak, mengabaikan tumpukan kertas laporan yang membumbung tinggi diatas meja. Ia ingin memejamkan matanya, tapi tiba tiba ia langsung tersadar saat mendengar suara aneh didepannya.
Sebuah lubang hitam terbentuk ditengah ruangan. Bi Li secara tidak sadar berdiri dengan waspada. Lubang itu semakin besar, dan akhirnya keluarlah seseorang dari sana.
"Hah!!" Wanita itu mundur sejenak, meraih tongkat sihir. Namun, ia terkejut melihat orang yang keluar dari pintu dimensi itu adalah orang yang ia kenal.
"K-kau...." Untuk beberapa saat, Bi Li butuh waktu untuk memahami apa yang terjadi.
"Syukurlah aku masuk disaat yang tepat." Qin Yan menghela napas, sebenarnya dari tadi ia memang sudah menunggu agar presiden cantik ini berpisah dengan Sai Hwang. Kemudian ia bisa berdiskusi secara leluasa dengannya.
"Ka-kau.... Berani beraninya kau masuk sembarangan keruang orang lain.!" Ucap Bi Li tak senang. Cincin merahnya aktif dan tongkatnya menyala dengan atribut keapian.
Menyadari itu, Qin Yan langsung membentuk sebuah bidang penghalang. Agar keberadaan dan aura mereka tidak diketahui siapa pun.
"K-kau.....!!!" Hal ini membuat Bi Li semakin marah, tak tanggung tanggung, wanita itu menyerang Qin Yan tanpa ragu.
Semburan api keluar dari tongkatnya. Meskipun hanya setengah kekuatannya, tapi Bi Li tidak berniat untuk bermain main. Orang yang sudah mengalahkannya diatas panggung tidak diragukan lagi adalah orang yang kuat.
Seperti dugaannya, entah apa yang digunakan anak itu. Tapi api yang ia keluarkan masuk kedalam tangan Qin Yan.
'Di serap?' Mata Bi Li membulat melihat ini, ia benar benar bingung dengan terjadi.
Sesaat kemudian, wanita itu menyadari kalau Qin Yan sudah ada didepannya. Qin Yan mendorong wanita itu sampai kedinding.
"Aaaah...." wanita itu berteriak ketakutan, ia menutup matanya tubuh gemetar. Tentu ia tahu, orang yang sudah menciptakan pil Sembilan tidak bisa dianggap biasa. Bahkan kekuatannya mungkin setara dengan masternya, orang yang ia segani dan takuti.
Namun, itu tidak berlangsung lama. Karena kepribadiannya, wanita itu dengan cepat menutupi kelemahannya dan memilih untuk menatap Qin Yan secara langsung. Dan saat mereka bertatapan, Bi Li tertegun melihat wajah Qin Yan yang begitu dekat.
Ia gugub dengan situasi ini, tapi sebagai seorang pemimpin ia tak boleh membiarkan orang lain melihat sisi lemahnya.
"Tuan Yan Yan. Apa yang anda inginkan? Bukankah tidak sopan masuk ke ruangan orang tanpa seijin sang pemilik?" Ucap Bi Li dengan tenang, tapi sebenarnya ia sudah tak tahan dengan jarak sedekat ini.
"Aku ingin menagih hadiahku."
"Hah!!" Bi Li kembali dikejutkan dengan perkataan Qin Yan.
"A-apa maksud anda?" Kali ini ia bertanya pelan. Sekarang, ia mulai takut dengan situasi ini.
"Hooooh.... Jangan pura pura tidak tau. Bukankah kau yang menyetujui taruhan tadi pagi dengan jelas? Siapa yang menerima taruhan itu, bukankah kau sendiri?" Tangan Qin Yan perlahan memegangi dagu wanita itu. Keduanya saling bertatapan lagi, dan tatapan Qin Yan tertuju pada bibir wanita ini yang begitu menggoda.
Dan hal itu membuat Bi Li terganggu. Ia jijik dengan tatapan pria yang seperti ini. Tapi dalam lubuk hatinya, sejujurnya ia tidak pernah berada di situasi ini. Dan ia mengakui, kalau ia sangat degdegan situasi saat ini.
Bi Li langsung mengalihkan pandangan karena saking malunya. Wajahnya sedikit memerah, ia menggigit bibir bawahnya dengan takut. Sejujurnya, ia tak ingin ini terjadi. Tapi.... Ia tak bisa apa apa. Bagaimana mungkin ia menghianati perkataannya sendiri. Siapa sangka kalau ia masuk kedalam jebakan orang ini.
Perbuatan pria ini memang menjijikan, tapi dia mempunyai alasan untuk melakukannya.
Selama ini, standarnya bagi seorang pria adalah orang yang bisa mengalahkannya. Barulah ia bisa menjadikan dirinya sebagai wanitanya. Dan sekarang, orang yang mengalahkannya ada didepannya. Ia tak bisa berbuat apa apa lagi sekarang. Ia menerima nasib ini, tapi.... Sejujurnya, ini terlalu cepat untuk melakukan hal hal aneh.
"Tu-tuan...." Bi Li ingin keluar dari situasi ini, namun matanya segera membesar ketika bibirnya dihantam oleh bibir Qin Yan.
"Mmmm...!!!" Tangan Bi Li meronta ronta berusaha melepaskan diri. Sekarang kepalanya tertekan di dinding, semakin ia berusaha melepaskan diri, Qin Yan semakin dalam **********.
Selanjutnya, Qin Yan meraih tangan wanita itu. Dan ikut menekannya ke dinding. Satunya lagi dia tekan agar tidak dapat bergerak. Qin Yan semakin menekan bibir wanita itu keatas. Hingga Bi Li sampai berjinjit.
Terlihat, air mata wanita itu keluar. Dan seluruh tubuhnya gemetar.
Menyadari itu, Qin Yan segera melepaskannya. Ia sedikit merasa bersalah ketika melihat wanita itu terduduk lemah dilantai. Sekarang Bi Li benar benar menangis. Paksaan ini membuatnya benar benar takut. Ia sampai memeluk lututnya sendiri karena saking takutnya.
'Kumohon lepaskan aku.'
Samar samar Qin Yan mendengar suara hati wanita itu. Qin Yan mengira, ini mungkin akan menjadi langkah pertama untuk membuatnya takluk. Siapa sangka, caranya benar benar tidak berhasil. Mungkin saja caranya ini sangat salah untuk wanita yang pertama kali mengalami pengalaman ini.
Qin Yan kemudian berjongkok, menatap Bi Li yang menolah kesamping.
"Kau sebenarnya tak ingin kan, menerima taruhan itu?"
Pertanyaan Qin Yan membuat Bi Li terdiam. Ia tak sanggup menjawabnya. Ia sebenarnya menerima nasibnya sekarang. Hanya saja, soal situasi seperti tadi, ia masih butuh waktu untuk mempersiapkan hati.
Melihatnya terdiam. Qin Yan pun menghela napas.
"Mungkin ini berat bagimu, tapi kau harus menerimanya. Apalagi kau seorang pemimpin yang harus menepati ucapannya."
Bi Li tetap terdiam lagi. Jelas perkataan Qin Yan memang benar dan itu benar benar wajar untuk mengambil haknya. Tapi.....
Qin Yan pun akhirnya mengerti.
"Baiklah, ternyata kau memang tak ingin yah. Janji taruhan itu bisa kubatalkan. Tapi, dengan satu syarat."
Mata Bi Li membesar, ia tak percaya pria ini membatalkan keinginannya. Ia pun menatap Qin Yan dengan penuh rasa ingin tahu. Sampai beberapa saat, ia masih tidak membuka mulut.
"Kau menerima atau tidak?" Tanya Qin Yan lagi.
Bi Li masih terdiam, entah kenapa rasanya berat untuk menjawabnya. Jarang ada pria yang mengalahkannya dan memenangkannya seperti ini. Jelas, ini pilihan yang berat untuknya untuk menyetujuinya.
Bi Li pun perlahan mengangguk. Apakah ia akan menyesali ini? Apa masternya akan marah karena ia menginkar janji? Apakah masternya akan melepaskan status dirinya sebagai murid karena apa yang dia lakukan hari ini?
Hati Bi Li diliputi kecemasan. Belum pernah ia merasakan hal seperti ini.
"Tenang saja, kau tidak berbuat kesalahan. Jangan khawatir, mastermu akan mengerti ini. Sebagai master, dia akan menghormati keputusanmu." Senyum Qin Yan memegangi bahu wanita itu.
Untuk pertama kalinya, hati Bi Li menjadi tenang karena seorang pria. Ia tertegun sejenak, apa yang ia rasakan saat ini? Selain masternya yang selalu menghiburnya, ia tak pernah dihibur oleh orang lain. Para tetua terus saja memaksa agar ia memperoleh prestasi tinggi dan mengangkatnya derajat asosiasi setinggi tingginya hingga kepribadiannya terikat dengan semua itu.
Bi Li pun menghela napas.
"Apa persyaratanmu?" Tanyanya pelan.
Qin Yan terdiam sejenak. Ia pun berbicara.
"Kompetisi tadi pagi, bukankah peserta Yi Luo Xiang tidak hadir?" Tanya Qin Yan. Bi Li pun mengangguk mendengarnya.
"Apa kau akan mengeluarkannya?" Tanya Qin Yan lagi.
"Sesuai aturan, peserta yang tidak hadir dalam kompetisi akan dianggap kalah. Jadi pihak kami boleh mengeluarkannya." Bi Li menjawab lugas. Tapi disaat bersamaan ia semakin penasaran dengan kemauan pria ini.
Qin Yan mengangguk sejenak. Sekarang tatapannya melemah. Terlihat seperti memohon.
"Apakah anda bisa membuatnya tetap berkompetisi?"
"Apa!!" Tentu hal itu membuat Bi Li langsung terkejut.
"Bukankah kalian belum mengumumkan pengeluarannya? Dan juga, sebagai presiden kau pasti punya wewenang yang tak bisa ditentang oleh pihak lain. Pikirkan baik baik, kau bisa bebas dari taruhan ini asalkan kau memasukan Xiang Xiang kembali."
Bi Li terdiam. ia kembali menunduk.
"Y-ya. Tampaknya itu bisa dilakukan." Jawabnya pelan. Qin Yan langsung merasa lega mendengarnya. Masalah tentang taruhan dan keuntungan, ia sebenarnya tidak memperdulikannya. Ia tidak tertarik dengan wanita ini dan tidak berminat menambah kekasih. Tapi, Xiang Xiang.... gadis yang terbaring ditempat tidur itu, pasti akan merasa sedih jika ia kehilangan kesempatannya untuk membuktikan dirinya dalam kompetisi menyuling. Bisa dibayangkan, keinginan gadis itu untuk mencetak namanya dan membalas dendam pada keluarganya. Itu juga dirasakan oleh Qin Yan. Oleh karena itu, ia memang sengaja menciptakan rencana ini untuk membuat presiden tak punya cara lain selain menyetujuinya. Menggunakan nasib Bi Li untuk ditukar dengan kesempatan Xiang Xiang.
"Presiden Bi Li, kalau begitu mohon kerja samanya." Qin Yan mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.
Bi Li yang masih terdiam menatap Qin Yan. Rasanya, ini semua memang sudah direncakan. Entah kenapa rasanya sakit karena dipermainkan. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia tak bisa apa apa. Ia pun kembali menunduk dengan wajah gelap. Terpaksa menjabat tangan Qin Yan, dan mengangguk dalam diam.
"Baiklah, kurasa aku harus kembali." Qin Yan pun berdiri. Dan berjalan menjauh.
"Tunggu." Tapi Bi Li menghentikannya. Qin Yan pun berbalik. Bertanya ada apa?
Dengan Wajah gelap, Bi Li bertanya dengan hati hati. Sejujurnya ia tak bisa menahan rasa penasarannya ini.
"Kau membantu gadis itu, siapakah dia untukmu?"
"Ooh, maksudmu Xiang Xiang? Dia adalah anggota timku. Karena insiden kemarin, gadis itu tidak bisa mengikuti kompetisi hari ini. Aku harap, kau bisa membimbingnya dengan baik." Qin Yan melepas topengnya, tersenyum lalu membungkuk dengan tulus dan hormat. Kemudian ia membuka gerbang dimensi dan masuk kedalamnya. Meninggalkan Bi Li yang terpaku disana.
Jadi itu rupa anak itu. Dia terlihat masih muda. Tapi auranya sangat dewasa. Dan juga, ia masih tak percaya. Seorang anak yang seharusnya baru masuk kedalam kelas prosesi, malah menjadi penyuling pil tingkat sembilan. Sesuatu yang benar benar menantang hukum alam.
Untuk beberapa saat, Bi Li masih terpaku ditempatnya sambil merenungkan sesuatu. Tidak tau apa yang dipikirkannya, tapi baru saja ia sedang merasa kehilangan.
*********
Dimensi gate terbuka. Dan Qin Yan keluar dari sana. Dia mendarat di sebuah gang. Dekat asosiasi. Sesaat, ia menengok kesana sini, melihat ada orang atau tidak.
Ternyata tidak ada, ia pun memakai topengnya. Segara berjalan pulang.
Namun, tidak lama ia keluar dari gang itu. Qin Yan merasa ada seseorang yang mengikutinya. Ia pun berbalik dengan wajah dingin.
"Keluarlah, aku tahu kau ada disana."
Setelah perkataannya, dari balik bayangan bangunan, keluarlah seorang pria. Qin Yan pernah melihat pria ini. Bukankah dia adalah salah satu peserta kompetisi alkhemis. Mong yi dari kerajaan Lembah Racun, sekte Racun.
Pria itu keluar dengan raut wajah keangkuhan. Meskipun penuh luka, tapi Qin Yan melihat rasa percaya dirinya. Dengan santainya ia berdiri berhadapan dengan Qin Yan.
"Kita bertemu lagi, pria bertopeng." Ucap Mong Yi tanpa ada raut ekspresi apapun. Tatapannya sangat tenang ketika menatap Qin Yan.
"Aku sudah menunggumu seharian, akhirnya kau keluar juga."
"Apa maumu?" Ucap Qin Yan dengan dingin.
"Hehehe.... Menurutmu?" Mong Yi menyeringai lebar, dibelakangnya muncul beberapa orang. Beberapa diantaranya adalah pria berambut hitam yang rambutnya diikat kebelakang. Wajahnya dipenuhi garis garis tato hitam, sekali ia tersenyum matanya menyala seperti mata singa.
"Yo, pria bertopeng. Ini pertama kalinya kita berdua saling bertemu. Perkenalkan, namaku Rong Gui dari kerajaan Dark Clife." Pria itu maju kehadapan Qin Yan, menempati Mong yi dibelakangnya.
"Jujur saja, aku tidak menyukaimu." Lanjutnya lagi.
"Jadi kau ingin membunuhku?" Lanjut Qin Yan dengan dingin.
"Hahaha...... Kau pandai jug.....!!"
Belum lagi pria itu menyelesaikan perkataannya, mata merah Qin Yan menyala dan gelombang pusing luar biasa langsung dirasakan pria itu. Belum sempat ia sadar, Qin Yan berteleportasi dan menghantam ulu hatinya.
"Bum." Pria itu terpental Kedinding, dan teman temannya tidak sempat mengahalangi Qin Yan. Butuh beberapa waktu bagi mereka untuk menghilangkan rasa terkejut itu, karena sepertinya pria itu adalah ketua mereka.
'Tidak mungkin, Rong gui tidak selemah itu kan?' Batin Mong yi dengan mata membesar. Meskipun pria itu tidak sampai pingsan karena serangan Qin Yan, Tapi masalah tadi pasti bisa ia hindari. Dia juga tiba tiba menyadari, sebuah tangan akan menghantam pipinya.
Tanpa membuang waktu, Qin Yan juga menampar Mong yi. Pria itu memang terpental kesamping, tapi ia berhasil menangkis serangannya. Dua serangan berturut turut dan tak sempat dihindari mampu membuat teman teman mereka dibelakang tanpa sadar mundur waspada.
"Maaf sekali, tapi aku tidak mempunyai waktu melayani kalian." Qin Yan memang tidak mempunyai banyak waktu lagi, ia merasakan ada sesuatu yang terjadi pada klon yang ia tinggalkan di rumah sakit.
Han genyu tiba tiba datang kesana, dan membawa Tang Liu keluar. Klon Qin Yan berusaha menghentikannya, namun berakhir dengan menghilang.