
'Hahaha...... Hahaha..." Tawa tuan Syu dalam hati disepanjang perjalanan.
Sampai akhirnya, mereka sampai ke tempat tersebut.
Bau wewangian orang bangsawan melekat kemana mana. Qin Yan berjalan melewati mereka, melihat banyak wanita dengan riasan tebal berjalan menghampiri pria pria baru baya yang kaya raya.
Minuman, mabukan, permainan, judi, dadu, kartu, semuanya memenuhi tempat ini. Bahkan ada pertarungan kandang ilegal yang layak dipertontonkan disini. Pertarungan beast atau manusia, semuanya diiringi dengan taruhan taruhan meregangkan nyawa.
Qin Yan sampai di ruangan khusus. Dimana ada sebuah meja bundar disana. Bong Goo duduk bersama seorang wanita cantik. Merangkul wanita itu, menciuminya dengan bebas didepan banyak orang. Anehnya, wanita itu malah tidak perduli dengan tatapan orang. Dia malah dengan senang hati melayani pria gendut tersebut.
Di sekeliling meja, masih ada beberapa pengusaha lain. Mereka sudah menunggu kedatangan tuan Syu.
"Bong Goo, apa kau yakin Syu dengki membawa seseorang melawan kita?" Tanya seorang pria berkumis lengkung disamping Bong Goo. Dibanding menikmati wanita, ia lebih menikmati pertarungan hidup dan mati dua orang budak didepannya.
"Hm.... Tunggu sebentar lagi, mereka akan datang." Berkata Bong Goo melipat tangannya didada dengan sombong.
Qin Yan yang melihat mereka dari kejauhan, hanya tersenyum licik sebelum ia benar benar menghampiri mereka.
Ketika ia masuk, seorang pria paruh baya lain yang tengah berdiskusi dengan kenalannya dari kejauhan, tidak sengaja melihat Qin Yan memasuki ruangan itu. Seketika matanya langsung berkedut, dan ia bergumam sendiri setelah itu.
"Kenapa tuan Qin Yan ada disini?" Dia pun segera meninggalkan tempat dimana ia berdiri. Berpamitan dengan kenalannya tersebut, mengejar Qin Yan sampai kedalam.
"Aaaahh.... kau datang rupanya." Senyum Bong Goo melepaskan wanita jalangnya. Didepannya, tiba tiba pria berias tebal maju sambil mengibaskan kipasnya. Menatap Qin Yan dengan penuh penghinaan.
"Kakak Bong. Diakah orangnya?" Tanya pria itu pada pria kekar disampingnya.
"Ya. Kakak Pang. Ini dia anak tolol yang berani menyinggung paman saat berada di kedai teh." Jawab Bong Sha dengan sombong.
Mendengar itu, pria tersebut malah tersenyum. Ia berbicara dengan halus layaknya wanita, banci.
"Aku suka gayamu itu anak jantan." Pria itu lalu menjilat bibirnya sendiri dengan penuh nafsu. Ia mendekat ke Qin Yan.
"Kau adalah anak yang berani menantang bos ku. Pada akhirnya, kita yang akan bertarung. Bagaimana begini saja, jika kau kalah maka jadilah budak **** ku. Tapi kalau kau menang, maka aku akan menjadi budak seksmu."
Qin Yan hampir muntah mendengarnya, kalah atau menang itu sama saja. Hanya posisi yang membedakan.
Qin Yan mulai berpikir, siapa yang menyangka kalau ia bertemu dengan sepupunya Qin mo yang kedua disini.
Tapi, ia harus tetap tenang. Tenang dan jangan menunjukan sikap ceroboh didepan para penonton menjijikan ini.
"Baiklah." Kemudian Qin Yan menjawab singkat. Hal itu sontak membuat pria tersebut jadi melompat kegirangan.
"Kau dengar itu bos, pria ini sangat jantan. Disaat bersamaan, ia juga pasti masih perjaka. Hahaha... aku akan menikmatinya, hahaha...." Ia pun masih tertawa, kemudian tanpa banyak menunggu waktu, ia kemudian mengambil sebuah penutup seperti mangkuk. Mengeluarkan dua dadu didalamnya. Ia menyerahkan benda itu kepada bandar.
"Mari kita mulai."
Bandar tersebut adalah seorang pria berkumis lengkung disamping Bong Goo. Ia mengambil benda tersebut dan mulai mengocok. Setelah itu, ia banting diatas meja.
"Pilihlah salah satu, genap atau ganjil."
Pria banci disamping mengeluarkan ratusan keping emas diatas meja. Dan dengan percaya dirinya ia pun menjawab.
"Aku pilih genap, bagaimana denganmu saudaraku." Tanya pria itu lagi.
"Panggil aku tuan Qian." Ucap Qin Yan dengan nada acuh tak acuh, ia tak senang dipanggil saudara oleh seorang penjudi banci.
"Oh.. baiklah tuan Qian. Anda boleh memilih."
Qin Yan tersenyum sejenak.
'Z, aktifkan pendengaran mode maksimal. Serta pindai apa yang ada didalam.'
Seketika dalam pandangan Qin Yan, pemindai pun dilakukan. Namun anehnya, tidak menunjukan apapun.
..."Maaf tuan, ada sebuah artefak yang melindungi fungsi penglihatan dan pendengaran. Jadi hal ini tidak bisa dipindai. Tapi, jika dilakukan pemindaian ekstra. Kita bisa melihatnya."...
'Oh, aku mengerti. Tapi itu tidak perlu.' Qin Yan mengangguk dalam hati.
Seperti nya judi kali ini tidak bisa berbuat curang. Tapi, apa benar mereka tidak curang?
Memikirkan itu, Qin Yan diam diam menyentuh meja. Jika mangkuk penutup tersebut adalah sebuah artefak, apakah mejanya juga artefak?
Dan benar saja dugaannya, ada mesin didalam meja ini. Qin Yan pun tersenyum tipis, energi mentalnya mengalir tanpa sepengetahuan mereka. Ia pun menjawab.
"Baik, aku pilih ganjil." Qin Yan mengeluarkan koin emas yang setara dengan koin sang lawan.
Melihat Qin Yan yang sudah mengambil keputusan. Para pembisnis yang berada dipinggir meja saling berpandangan. Mereka kemudian mengeluarkan koin emas dan memilih mendukung Pang du.
Sang bandar yang sedari tadi mengelus ujung kumisnya, diam diam tersenyum tipis. Salah satu tangannya yang berada dibawah meja, tiba tiba menekan sesuatu. Dan tanpa sepengetahuan banyak orang, mesin meja dibawah mulai bekerja dan pada akhirnya merujuk pada sang dadu.
Mesin tersebut secara halus mengetuk dadu agar terbalik, sepertinya dadu tersebut juga sudah dilengkapi magnetik. Yang bisa menentukan ganjil atau genap secara leluasa.
Namun, disaat bersamaan. Qin yan mengetuk satu jarinya. Dan posisi dadu tidak berubah, hanya terdengar suara dadu yang terjatuh ditelinga sang bandar. Setelah itu, sang bandar pun dengan percaya dirinya membuka mangkuknya. Dan.......
"Eh! Ganjil?" Semua orang langsung melongo, mata mereka seakan keluar dari wajah mereka.
Dadu menunjuk enam dan lima, angka sebelas untuk bilangan ganjil. Disaat mereka tengah membeku, Qin Yan mengambil koin mereka tanpa ada yang menghentikannya. Bahkan jika mereka tak Sudi, mereka tak bisa menghentikan tingkah Qin Yan.
Kemenangan tersebut, mengakibatkan kemarahan para bangsawan kaya. Bahkan tidak lain adalah Bong Goo sendiri. Mereka menatap tajam pada bandar yang juga tersenyum malu. Diam diam bandar tersebut meraba raba tombol dibawah meja. Kali ini wajahnya mulai khawatir, namun ia menutupi hal itu dengan cara mengijinkan mereka untuk bermain sekali lagi.
Akhirnya, Bong Goo dan lainnya mengeluarkan lebih banyak koin emas.
"Gandakan." Satu kata tersebut keluar dari mulut masing masing.
Qin Yan sendiri tidak mempunyai kekhawatiran apapun. Ia melayani mereka semua.
"Ganjil." Ucap Pang du.
"Genap." Senyum Qin Yan.
Pada akhirnya permainan sekali lagi dimenangkan oleh Qin Yan. Kali ini, mereka mulai curiga ada yang salah dengan mejanya. Apalagi sang bandar sendiri.
Wajah bong Goo sudah menjadi gelap. Bahkan salah satu mereka mulai memeriksa mejanya diam diam.
Sementara itu, tuan Syu dan tuan Lin yang berada dibelakang Qin Yan. Hanya terbengong dengan hal tersebut, mereka tidak berbuat apa apa. Hanya terdiam dan ternganga, menyaksikan kehebatan Qin Yan dalam bermain judi.
'Anak ini..... Aku salah tentangnya, tampaknya kelicikan pun tidak bisa mengalahkan keberuntungannya.' Tuan Syu mulai berpikir, kalau Qin Yan anak yang susah dikendalikan. Bagaimana pun, jika seperti ini terus berlanjut, maka ia pun tidak mendapatkan keuntungan apapun.
Padahal, dia sendiri tidak sadar. Istri dan anaknya berasa ditangan Bong Goo. Tapi dirinya malah berpikir untuk menghianati orang yang bersedia menolongnya.
Namun, satu hal yang tidak ia ketahui.
Qin Yan bertindak hari ini, tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Qin Yan hanya bertindak sesuai kemauannya, bahkan tidak menganggap keberadaan tuan Syu atau tuan Lin. Dimana orang orang menganggap mereka sebagai pendukung Qin Yan.
Di saat ketiga kali Qin Yan menang berturut turut, barulah Bong Goo tak bisa menahan kemarahannya.
Ia langsung memutar balik meja dan membantingnya dengan kuat. Dengan kekuatan yang dimilikinya, tidak sulit baginya untuk menghancurkan meja tersebut. Sang bandar langsung ketakutan dibuatnya.
"Hentikan permainan konyol ini! Aku yakin bocah ini melakukan sebuah trik curang!" Bong Goo menunjuk Qin Yan dengan penuh ketidak senangan.
Setelah tuduhannya yang tidak berdasar, semua orang langsung menatap Qin Yan dengan maksud yang sama. Mereka semua memang sudah berkomplotan, namun mereka bertindak seolah olah hanyalah sekedar sebagai seorang teman. Yang mereka perhatikan yaitu keunguntungan mereka sendiri. Tapi, siapa yang menyangka, mereka akan mengalami kesialan hari ini.
Qin Yan mulai dituding, hanya tersenyum tipis. Ia menatap mereka semua, mengabaikan intimidasi mereka. Qin Yan menganggap mereka seperti badut yang tengah terjebak dengan pertunjukan mereka sendiri.
Setelah mendengarkan perkataan Qin Yan, jelas mereka terdiam. Perkataan Qin Yan benar adanya, namun tak bisa dipungkiri. Mereka agak risih dengan tatapan tenang anak ini. Seolah olah, ialah dalang dibalik kesialan ini.
Sejujurnya, mereka sudah merasakan kalau Qin Yan ini bukan anak biasa.
"Arrgghh.....!! Masa bodoh! Aku akan bertaruh sekali lagi!" Kali ini Bong Goo berdiri. Ia yang akan turun tangan secara langsung. Ia menghempaskan Pang du dan mulai menatap Qin Yan dengan lekat dan tajam.
"Kali ini, aku yang akan bermain pribadi denganmu."
Qin Yan hanya mengangguk mendengarnya.
"Baiklah, jadi kau mau main lagi. Bukankah mejanya sudah kau hancurkan?" Tanya Qin Yan dengan polos.
"Tidak, kita tidak akan bermain dadu. Tapi bermain kartu." Ucap Bong Goo dengan pelan, namun sangat mengintimidasi. Bahkan Pang du dan tuan Syu dibelakang menjadi pucat. Apalagi Tuan Lin, ia dengan cepat mendekat kearah Qin Yan.
"Tuan Qian, mungkin lebih baik kita hentikan aktivitas hari ini. Aku lihat kau sepertinya lelah." Tuan Lin mengajak Qin Yan pergi, hari ini matilah dia. Mengapa Qin Yan sampai menyinggung Bong Goo bermain kartu.
"Tidak tuan Lin, sepertinya tidak enak pergi begitu saja." Senyum polos Qin Yan terlihat lagi. Sebelum tuan Lin mengatakannya lagi, tuan Syu datang memegang bahu tuan Lin. Meskipun nampak menenangkan, namun itu sebenarnya sebuah isyarat agar tuan Lin tetap diam.
"Apa kau ingin aku mati? Biarlah kita rugi atau apapun itu, asalkan jangan bawa aku ke masalah ini." Bisik Tuan Lin ditelinga Tuan Syu dengan cemas. Ia sadar, pembisnis rendahan seperti dirinya tidak bisa berlama-lama ditempat ini.
"Hahaha... Apa yang kau takutkan. Ikuti saja alurnya, dan lihatlah rencanaku. Kali ini, bukan hanya Bong Goo yang kita kuasai. Tapi anak ini juga akan berada dibawah kendali kita." Tuan Syu merangkul tuan Lin, sebuah senyum semangat terpancar diwajahnya. Sebelum tuan Lin menjawab, tuan Syu sudah berbicara pada Qin Yan.
"Tuan Qian, jika anda ingin lanjut, kami selalu ada dipihakmu. Jika kau butuh uang, kami bisa......"
"Tidak perlu tuan Syu, aku punya uang sendiri. Hasil dari kemenanganku mungkin tidaklah banyak. Tapi kurasa ini cukup untuk bertahan. Lagian, berhutang dalam berjudi itu tidaklah baik." Senyum Qin Yan menolaknya. Ia sudah tahu rencana licik pria ini. Berniat meminjamkannya modal, lalu memberikan beberapa syarat kurang masuk akal ketika Qin Yan berada dibawah tekanan. Itu benar benar licik.
'Si brensek ini!!' Raut wajah tuan Syu langsung berubah. Ia melihat Qin Yan berbalik, barulah ekspresinya menjadi sangat benci.
'Kau pikir kau sudah hebat hanya karena memenangkan beberapa taruhan? Lihat saja, aku ingin melihat sampai dimana kau bertahan. Bong Goo bukanlah orang biasa, dia dikenal legenda dalam seni berjudi kartu. Kau akan tertekan jika bermain dengannya. Dan saat itu, aku akan melihat. Kau akan memohon padaku untuk meminta pinjaman." Senyum tuan Syu dengan penuh kesadisan.
Tapi, dalam keadaan Qin Yan membelakanginya. Dia tidak terlalu menggubris pria itu. Hari yang perlu dia lakukan hanyalah bersenang bersama beberapa badut ini.
"Baiklah, bisakah kita mulai?" Tanya Qin Yan dengan nada tidak sabar.
Bong Goo hanya mengatur napasnya agar tetap tenang. Ia melirik Qin Yan yang hanya santai berhadapan dengan mereka. Ia mulai berpikir, anak ini sepertinya tidak waras. Bagaimana tidak, ia tidak melihat ketakutan apapun didalam diri Qin Yan. Apakah dia benar masih anak anak?
Bong Goo memberi kode pada sang wanita seksi, menggiurkan banyak pria. Namun sayang, tidak ada yang berani menyentuhnya. Karena dia adalah tangan kanan pribadi pemilik tempat ini. Wanita cantik itu, yang menangani seluruh permasalah di tempat perjudian. Meskipun ia lembut dan ramah, namun tidak ada satu pun yang berani menggodanya. Itu bukan hanya karena pemilik tempat ini, tapi dia adalah putri kandung langsung pemilik tempat ini. Dan dengan karakter ganas dibalik kelembutannya, semua orang benar benar tak ada yang berani bermain main dengannya.
Dan wanita itu sangat terkejut, melihat Qin Yan yang duduk berhadapan dengan Bong Goo. Bukan karena apa, tapi dia belum pernah melihat anak dibawah umur memasuki tempat ini. Sesuai peraturan, dia harus mengeluarkannya. Namun, entah karena apa. Ia hanya mengabaikan itu.
Bong Goo memintanya untuk menggocok kartu. Karena wanita itu bersikap netral, maka tidak ada yang mencurigai dirinya. Dalam senyum Bong Goo ketika meminta tolong, terdapat nafsu yang bergejolak yang sekuat tenaga ia tahan agar tidak meledak. Ingin sekali ia memiliki wanita ini.
Wanita itu dipanggil Jan er. Sikapnya datar, tenang, namun tatapan matanya tegas. Qin Yan melihat dia membagi kartu dengan sangat terampil. Penampilannya juga sangat anggun, namun dibanding dengan QingZhu atau Yun Zhi, dia masih kalah jauh. Itulah mengapa Qin Yan tidak merasakan apa apa ketika melihatnya. Berbeda dengan pria lain yang menatapnya penuh nafsu. Qin Yan hanya memperlakukan wanita didepannya sebagai pengawas permainan mereka.
Melihat Qin Yan mengambil kartu itu, Jan er mau tidak mau merasa penasaran. Meski dia memasang ekspresi datar, tapi ia sebenarnya sangat ingin tahu tentang anak ini yang berani menantang Bong Goo. Orang yang terkenal ditempat ini.
Bong Goo adalah sosok yang suka menghamburkan uang, dia juga licik dan kejam. Oleh karena itu, Jan er agak tidak suka kepadanya. Namun meski begitu, ayahnya sangat menghormati orang itu karena dia adalah pelanggan VIP disini.
Ketika ia melihat cara bermain Qin Yan, Jan er mulai memuji Qin Yan dalam hatinya. Teknik yang dipakai Qin Yan bisa dibilang cenderung biasa. Namun makin lama, Bong Goo serasa ditekan. Bong Goo tak bisa menjalankan kartunya dengan lancar, ia selalu dihalangi oleh Qin Yan hingga rencananya kadang berkelok kelok.
Sampai akhirnya perputaran permainan mencapai akhir, Bong Goo hanya tersisa dua kartu. Ia mengeluarkan kartu andalannya dan membuat Qin Yan terkandas. Mengakibatkan kartu Qin Yan sangat banyak. Disaat Bong Goo sudah sangat senang dalam hati. Ketika ia hendak menjatuhkan kartu terakhir, dan otomatis akan menjadi pemenang.
Namun disaat itulah Qin Yan membalas, ia kemudian menjatuhkan kartu andalannya. Dan terus berlanjut beberapa kali, bahkan Bong Goo sampai ternganga dibuatnya. Dia terdiam dalam waktu yang lama, mulutnya agak terbuka melihat kartu Qin Yan hanya jatuh begitu saja tanpa ada kesempatan untuk membalas.
Kartu terakhir Bong Goo adalah kartu yang lemah, oleh karena itu tidak memiliki jalan untuk dikeluarkan. Saat itulah, Bong Goo menyadari. Kartu terakhir Qin Yan telah masuk, dan ia lebih tersadar ketika melihat Jan er bertepuk tangan.
Ia lebih tercengang melihat Qin Yan merampas uangnya didepan matanya sendiri tanpa bisa apa apa. Bahkan yang para petaruh lain yang ikut bertaruh ikut di ambil. Hal itu membuat mereka ternganga beberapa saat saat.
'Anak ini.... lumayan juga.' Jan er tanpa sadar tersenyum menggoda ketika melihat Qin Yan. Hanya saja, Qin Yan tidak menyadari itu, membuatnya agak jengkel. Hal itu disadari oleh oleh orang orang sekitarnya. Mereka hanya bisa melayangkan tatapan tajam pada Qin Yan karena saking irinya.
'Apa yang terjadi dengan orang orang ini?' Alis Qin Yan berkerut saat menyadari area dingin menyelimuti punggungnya. Ternyata semua orang mulai menunjukan permusuhan.
'Dasar orang orang tak jelas.' Qin Yan mengabaikan mereka, dan kembali menatap Bong Goo yang saat ini sudah diliputi kemarahan. Ia pun tersenyum tipis, mulai bertanya dengan nada provokasi.
"Ah tuan Bong Goo. Bagaimana? Apakah ini masih harus dilanjutkan atau tidak?"
Bong Goo hanya diam menanggapi pertanyaan Qin yan. Dia dari tadi hanya merenung, dimana letak kesalahannya sehingga ia bisa kalah melawan Qin Yan.
Namun Qin Yan tidak berhenti disitu, ia kemudian bertanya sekali lagi.
"Apakah jangan jangan..... Tuan Bong sudah kehabisan modal?"
"Apa!" Baru mendengar itu, ekspresi Bong Goo menjadi lebih jelek. Ia berdiri menatap Qin Yan dengan penuh kemarahan. Seakan akan perkataan Qin Yan telah menghancurkan harga dirinya.
"Jangan menguji kesabaran ku bocah?" Tatap Bong Goo dengan penuh amarah.
Tapi Qin Yan malah tertawa mengalah mendengar itu.
"Baiklah baiklah, jadi begitu yah. Kalau begitu, sepertinya aku harus pulang." Qin Yan perlahan mundur dengan senyuman tipis. Melihat Bong Goo yang diam terpaku, ia hanya menghitung beberapa detik. Sampai akhirnya, Bong Goo kembali memanggilnya. Namun kali ini ia sangat serius.
"Kenapa kau ingin pulang disaat lawanmu belum menyerah? Jangan pergi hanya dengan keuntungan kecilmu." Tatap Bong Goo dengan senyuman sadis diwajahnya. Ia kemudian duduk kembali. "Baiklah, mari kita bermain sekali lagi."
Qin yan tersenyum dingin, ia kemudian kembali duduk kemeja. Seolah olah, Dimata mereka, Qin Yan agak takut. Namun, sebenarnya tidak. Ia berniat menghancurkan kesombongan para bajingan ini.
Qin Yan menyandarkan dagu dikedua tangannya. "Berapa taruhanmu?" Tanyanya.
Tapi Bong Goo kembali menatapnya, kali ini ia tidak menjawab rentetan harga taruhan. Ia hanya menggeleng kan kepala, lalu kembali bertanya pada Qin Yan.
"Tidak, kau saja yang tentukan."
Qin Yan terdiam sesaat, namun setelah itu ia menampilkan senyum jahatnya.
"Bagaimana kalau 4 milliyar."
"Apa!"
Bong Goo seketika membeku. Tidak, bukan hanya dia. Tapi semua orang ditempat itu juga ikut membeku. Jan er menatap Qin Yan dengan mata terbelalak. Jika biasanya dia bersikap tenang dan dingin, kali ini ia tak bisa menahan keterkejutannya atas apa yang baru saja ia dengar tadi itu.
"K-kau..... Gila!!" Bong Goo seketika berdiri. Tangannya sedikit gemetar dan ia menatap Qin Yan dengan tatapan ngeri. Apa ini? Ia belum pernah bertemu dengan anak yang seperti ini. Sekaya apa sebenarnya dia, mengapa dia menjadi gila seperti ini. Bahkan 4 milliyar? Itu bukan angka yang rendah. Gudang koin emas penyimpanannya saja mungkin takkan cukup.
Tanpa sadar, Bong Goo mulai merasa takut terhadap Qin Yan.
"J-jangan bercanda, darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?" Tanya Bong Goo dengan suara bergetar.
"Oh, hmm.... Hari ini pendapatanku dalam taruhan ini hampir mencapai satu milliyar. Tabunganku mungkin tidak cukup. Tapi...."
Qin Yan mulai mengeluarkan sebuah gulungan kondolisasi Tier God didalam cincin penyimpanannya. Puluhan kertas pola prasasti tingkat tinggi. Pil alkimia tingkat tujuh buatan Yao Chen. Armor penempa tingkat tinggi hasil dari Elfes, serta pil kuno Nirvana yang ia dapatkan di Maka Penjara Kuno waktu itu.
Semua orang jauh menjadi tercengang lagi, benda didepan mereka adalah harta Karun. Saking berkilaunya hingga mereka tak bisa melihat jelas. Namun bagi orang yang melihatnya tak bisa mengedipkan mata.
Salah satu dari mereka mengeluarkan kaca mata pengamat. Termasuk tuan Lin. Ia langsung gemetar saat mengetahui bahwa benda didepan mereka adalah asli.
"Jangan membukanya jika kau tak mempunyai energi surgawi yang cukup. Kau bisa saja mati ditelan energi gulungan itu." Tegur Qin Yan saat seseorang mencoba untuk membuka gulungan kondolisasi. Alhasil, orang tersebut mengangguk dalam penuh kekaguman.
'Anak ini kaya! Siapa dia sebenarnya?' Batin Bong Goo dengan cemas. Namun, mau tidak mau ia sangat tergiur dengan benda didepannya. Benda itu, bahkan setara dengan hadiah turnamen ini. Sekarang, walaupun ia menghabiskan seluruh gudang harta miliknya. Ia takkan menyesal, pikirannya hanya satu. Apapun yang terjadi, ia harus memiliki benda didepannya.
Semua orang mulai bertanya tanya identitas Qin Yan sebenarnya. Bahkan jika itu Jan er sendiri. Ia menatap Qin Yan dengan penuh ke ingintahuan. Baru kali ini ia bertemu dengan anak seperti Qin Yan. Walaupun banyak anak kaya lainnya yang sering ia lihat, namun Qin Yan kali ini sangat berbeda. Seakan, ia melihat sosok yang sangat loyal.
Yah, mau dijelaskan bagaimana pun. Ujung ujungnya ia terpana karena kekayaan.