
Pagi harinya.
Qin Yan mulai memimpin mereka untuk keluar dari wilayah hutan. Setelah malam yang panjang, bertemu ibu, membunuh profesor, menyelamatkan Tang Liu beserta adik dan ibunya, serta mendengar cerita yang membuat Qin Yan mengetahui fakta kalau ia dan Tang Liu adalah sepupu. Sekarang yang mereka lakukan hanyalah keluar dan menuju ke kota. Dari malam itu juga, ia mendengar penjelasan dari Tang Liu tentang sehabis kematiannya.
Nasib dan tujuan teman temannya setelah perang.
Jujur saja, Tang Liu agak tidak percaya ketika ia melihat dengan jelas. Kalau tim yang selama ini kompak menjadi terpecah belah.
Pernah terjadi pertengkaran singkat antara Lin Fin dan Weisi. Xiu Xiu memilih pulang ke Kerajaan Angin barat, di ikuti Xie Xie. Lin Fin kembali ke kerajaan Busur Surgawi dengan alasan ingin mengunjungi makam orang tuanya. Lalu Xiang Xiang kembali ke keluarganya untuk menghadapi mereka. Sisanya, Tang Liu juga mengikuti keinginannya untuk mencari ibunya.
Qin Yan mendengar semua itu. Dan akhirnya ia pun mengerti. Selain Jung Kyun, De muer, Huyan Wu dan Ning er. Tidak ada lagi yang kembali ke kota Sunmoon. Semuanya berpencar ke arah tujuan masing masing.
"Jadi, kemana kita akan pergi Qin Yan?" Ibu Qin Yan bertanya padanya. Dan Qin Yan diam sejenak, ia berpikir. Sepertinya dia akan mencari teman temannya satu persatu. Tapi untuk saat ini, ada beberapa hal yang harus ia lakukan. dalang dari masa lalu mereka. Sekte itu harus dimusnahkan sampai ke akar akarnya.
"Aku akan melihat kondisi Sekte Racun. Bagaimana situasi mereka sekarang."
*******
Disuatu tempat. Di Sebuah sekte yang megah. Dipenuhi relik relik dan patung patung para leluhur yang berdiri rapi mengelilingi lapangan upacara. Beberapa bangunan yang tinggi terbuat dari bahan bahan berkualitas. Ada pula batu batu cukup besar yang melayang diatas langit. Tempat dimana para kultivator berkultivasi.
Tidak ada murid yang berkeliaran didalam sekte ini. Suasananya nampak tenang dan damai. Namun, itu tidak seperti yang dilihat dari luar. Didalam aula utama, sebuah pertikaian tengah terjadi.
Ada dua kelompok dari banyaknya orang orang disana. Dan terlihat, mereka dipimpin oleh masing masing ketua. Kedua ketua tersebut, sedang beradu mulut dan tengah memperebutkan sesuatu.
"Fer long! Bukankah kita sudah menyepakati ini? Mengapa kau melanggarnya?" Terlihat seorang pria paruh baya berambut coklat tengah berbicara dengan pria seumurannya berambut putih didepan. Mereka mempunyai mata hitam dengan pupil putih. Namun lebih dari itu, keduanya seperti sedang bermusuhan.
"Hahaha.... Gui Qi. Kesepakatan itu sudah tidak berlaku lagi. Sekarang, pemimpin akan dipilih sesuai dengan kuantitas yang ia miliki." Senyum pria paruh baya berambut putih. Setelah itu, dua kakek tua maju ke depan, membuat pria paruh baya berambut coklat didepannya menggertakan gigi.
"Ka-kau...! Fer long, bagaimana bisa kau menggunakan cara kotor seperti ini! Bukankah mereka adalah ketua fraksi klan besi dan klan teknik? Mereka bukan bagian dari sekte racun. Mereka adalah pemberontak, bagaimana bisa kau bekerja sama dengan mereka?" Pria paruh baya berambut coklat itu menggeram marah. Tapi pria berambut putih malah melipat tangannya didada dengan acuh tak acuh.
"Kenapa kau merepotkan itu? Gui Qi, semenjak perang di kota Surga. Sekte racun kita mengalami keterpurukan. Pemimpin dan tetua telah mati, dan sekarang tersisa kita. Kau pikir dengan kekuatan kita seperti ini, sekte racun bisa bangkit. Gui Qi, pikirkan baik baik. Klan lain dengan kekuatan tingkat menengah pasti akan menyerang kita, kalau kita tidak mengumpulkan relasi dan sekutu? Kau pikir kita bisa mengalahkan mereka. Mau sampai kapan kita seperti ini? Apa kau mau sekte kita akan perlahan hancur dan hanya menyisahkan pajangan sejarah?"
"Ka-kau...!" Pria paruh baya berambut coklat tidak bisa menjawab kebenaran itu. Namun memilih untuk bekerja sama dengan klan yang bermusuhan dengan mereka dimasa lalu, itu bukanlah pilihan yang bagus. Ia pun mundur dengan waspada. Mereka sepertinya akan menyerang.
"Heh, Gui Qi. Kenapa kau belum mengerti lagi. Selama kita bersatu, kita bisa membangun sekte kita perlahan. Bagaimana? Kau mau bergabung denganku?" Pria paruh baya berambut putih akhirnya mengulurkan tangannya. Akhirnya, pria yang dipanggil Gui Qi itu menyerah setelah berpikir cukup panjang. Ketika ia hendak sepakat dengan tawarannya? Tiba tiba sebuah itentitas kekuatan menghantam lantai ditengah mereka. Diikuti dengan ledakan yang membuat mereka menjauh dari ledakan tersebut.
"Siapa!" Pria paruh baya yang dipanggil Fer long berteriak dengan marah.
"Siapa yang berani masuk kesekte kami!" Teriaknya lagi.
Dari kumpulan asap, muncul satu pemuda. Duduk di ujung pangkal kursi singgasana, tempat duduk ketua sekte. Satu kaki di angkat ke atas paha, menunjukan sikap tak sopan dan keremehan. Menatap mereka dengan tatapan merendahkan.
"Ka-kau! Siapa kau! Berani beraninya kau duduk di kursi ketua sekte kami!"
Cincin mereka aktif, di luar dugaan. Ternyata mereka hanya berada ditingkat Raja. Sisanya berada ditingkat Sage kebawah. Dan sepertinya dua orang tua yang berada dibelakang Fer long juga seperti itu. Ternyata mereka lebih lemah di bandingkan perkiraan. Dan pemuda yang tengah berada didepan mereka, adalah Qin Yan yang sudah dipenuhi dendam.
********
Pasar yang cukup ramai, Tang lili bersama Tang Liu berkeliling dengan masing masing bawaan belanjaan. Dibelakang mereka, ibu Qin Yan dan ibu Tang Liu juga ikut menikmati kebebasan mereka. Penginapan sudah dipesan, dan tempat peristirahatan mereka semalam cukup nyaman. Butuh satu hari penuh bagi mereka untuk mencapai kota. Dan sore ini, mereka berjalan jalan sambil berbelanja untuk makan malam.
"Lalalalala....." Tang lili berlari kecil dengan riang dan penuh senyuman. Satu bunga indah terjepit diatas telinganya. Dan matanya berbinar saat melihat keramaian pasar. Dimulai banyaknya buah, makanan, dan barang barang lainnya. Tang lili begitu bahagia. Dia mengikuti Tang Liu yang dengan serius memilih bahan untuk masakan.
Setelah berbelanja mereka pun berencana pulang ke penginapan.
"Kakak, kira kita guru kapan pulang yah?" Tanya Tang lili dengan manja.
"Entahlah." Tang Liu menjawab tenang. Dia tau, kalau urusan yang dikerjakan oleh Qin Yan ini bukan masalah biasa. Namun, tidak ada keraguan dihatinya. Karena pria itu selalu dapat mengerjakan apapun.
"Apa kau tidak sabar berduaan dengannya?" Tang Liu tersenyum dan mulai menggoda gadis kecil itu. Dan Tang lili langsung bereaksi. Ia berpura pura memalingkan wajah dengan wajah malu.
"Huh, padahal aku cuma ingin berlatih lagi." Jawab gadis itu sambil menggaruk pipinya dengan jari.
Benar, selama perjalanan kemarin. Pada suatu waktu, di sore hari. Qin Yan mulai melatih Tang lili gerakan gerakan dasar bertarung. Lalu kemudian, ia juga mulai mengajarkannya cara berkultivasi. Hal itu semakin membuat Tang lili semakin bersemangat.
"Dia bahkan berjanji padaku untuk pergi ke skillstore. Aku tidak kabar lagi...." Gadis itu memegangi pipinya dengan cara tersipu. Tang Liu hanya menghela napas lalu mengusap kepalanya. Dan membawanya pergi.
"Um." Gadis itu mengangguk senang kemudian membantu Tang Liu. Saat ia hendak mengangkat barang yang di maksud Tang Liu, dia tiba tiba menabrak seseorang. Membuat gadis itu terjatuh. Saat melihat siapa yang menabraknya, ternyata seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan wajah yang kurang enak dipandang. Dia memakai seragam akademi berlambang guru dan menatap gadis itu.
Tang lili agak ketakutan melihat wajahnya. Sementara Tang Liu segera bergegas membantu Tang lili berdiri dan segera pergi dari hadapan pria itu.
Tang Liu agak merasa khawatir. Ini diwilayah sekte racun. Jika ada yang mengenal mereka, maka habislah sudah. Mereka mempunyai kemampuan yang membuat mereka diincar disini. Saat Tang Liu dan Tang lili sudah membelakangi pria itu. Mereka tidak tau, pria itu balik menatap mereka. Matanya memang tidak mengandung unsur apapun. Namun, terlihat senyum mengembang di bibirnya.
*********
Sekolah akademi lembah racun. Kantor kepala akademi.
"Haruskah kita memutuskan hubungan dengan sekte racun?" Seorang bendahara keuangan berkacamata gantung tengah berbicara pada kepala akademi. Dia tampaknya tidak suka jika harus membantu sekte Racun yang sudah di ujung tanduk seperti ini.
"Master, keuangan kita hampir habis. Jika kita menyerahkan uang ini kepada sekte, bukankah kita tidak punya apa apa lagi?" Timpalnya lagi.
Sementara kepala akademi didepannya masih berpikir keras.
"Jaga bicaramu. Bukankah sekte itu merupakan pendukung kita? Sudah sewajibnya kita membantu membangun sekte." Seorang tetua disamping langsung menegurnya.
"Hahaha... Kau bilang sekte racun pendukung kita? Pei tie, bukan kau tau? Selama ini kita diperlakukan sebagai apa? Mereka dengan leluasa mengambil murid kita lalu menyuruh kita untuk membayar upeti setiap tahun yang lumayan mahal. Kau pikir mereka pendukung kita?"
"Bendahara Ming, Sekte Racun sudah ada selama ratusan tahun. Kota ini sudah berada dibawah kekuasaan mereka sebelum akademi ini dibangunkan."
"Tapi kau lihat sekarang kan? Bagaimana keadaan sekte racun. Bukankah mereka sudah runtuh!"
"Kau!" Perdebatan mereka membuat kepala akademi yang tengah berpikir keras jadi kesal. Ia menatap kearah mereka berdua.
"Bisakah kalian berdua diam! Tidakkah kalian pikirkan ini baik baik."
"Tapi master. Bukankah aku memang benar?" Ucap seorang bendahara.
"Tolong dipertimbangkan master. Saya harap anda dapat mengambil keputusan tepat."
"Hmm...." Kepala Akademi kembali berpikir lagi. Sementara percikan permusuhan muncul diantara dua orang tua itu.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu. Suaranya terlihat sangat panik.
"Master, bolehkah saya masuk?"
Setelah diijinkan, orang yang mengetuk tersebut akhirnya masuk. Seorang pemuda berpakaian seragam senior akademi Lembah racun. Masuk dengan tubuh menggigil dan wajah penuh keringat. Kepala akademi bertanya ada apa. Dan pemuda itu menjawab penuh ketakutan.
"Master, saat kami pergi mengantarkan barang barang pensenjataan ke sekte racun, kami melihat...." Setelah diceritakan lebih lanjut. Tampak raut ketidak percayaan muncul diwajah mereka. Mereka langsung terkejut, dan segera menuju ke sekte.
Disana, tubuh mereka menggigil penuh kengerian. Melihat darah, mayat, dan daging yang berserakan. Kaki mereka langsung gemetar.
"Si-siapa yang melakukan ini?" Ucap mereka terbata bata. Terlihat ahli ahli yang mereka kenal, tingkat raja, tingkat Sage, saint, bahkan murid senior dan murid normal pun ikut terbantai. Tidak ada kerusakan, seakan akan mereka mati terbantai tanpa perlawanan.
Salah satu murid mereka menemukan orang yang masih hidup. Mereka langsung menuju ke arah orang itu. Bau darah sangat menyengat hidung mereka. Tapi ketika melihat orang itu, mereka tampak lebih terkejut.
Bukankah ini ketua fraksi klan besi? Lalu disampingnya terdapat mayat ketua klan teknik. Oh, astaga. Orang yang melakukan ini pasti bukan orang waras. Jika mereka diserang banyak orang, pasti ada kerusakan. Sepertinya ini penyelinapan diam diam dan pembunuhan terencana. Siapa? Siapa sebenarnya orang yang melakukan ini. Bahkan ia juga tidak pandang bulu, klan teknik dan klan besi di kerajaan Lembah racun bukanlah keluarga biasa. Mereka adalah keluarga bangsawan teratas.
Ternyata ketua klan besi tersebut masih mempunyai kesadaran. Dalam luka parah yang ia alami, ia berusaha mengucapkan sebuah pesan.
"Bo-bocah mons-ter itu ma-sih hi-dup. Hehehe... Si-a-pa-pun yang per-nah me-nyingguung-nya pas-ti a-kan ber-ak-hir." Setelah mengucapkan kata kata itu dengan susah payah. Pria itu tertawa dan akhirnya mati dengan mata tak tertutup. Para pihak akademi yang melihat itu tak mengucapkan apa apa. Mereka bingung dengan apa yang dikatakannya. Namun, kata Bocah monster itu, pasti adalah orang yang telah membunuh mereka. Meskipun mereka masih tidak tau siapa yang melakukan itu. Tapi mereka mulai waspada.
Dan akhirnya, kesimpulan akhir. Sekte racun musnah sepenuhnya, hanya mengisahkan bangunan kosong yang akan menjadi sejarah. Tapi mereka malah mendapat pesan yang tertulis di dinding sekte dengan tinta darah. Pesan itu bertuliskan.
"Siapapun yang berniat mendirikan sekte dengan menggunakan markas ini. Maka, aku akan kembali dan melakukan hal yang sama."
Pesan itu langsung membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Sang kepala akademi pun mengambil keputusan akhir. Hubungan mereka dengan sekte racun akhirnya terputus sepenuhnya.