LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Mendapatkan harta Karun


"Uh... aku tak tau namanya.." Xie Xie memegangi dahinya sendiri. Sementara wanita itu menatapnya seakan menunggu jawaban. Namun Xie Xie sendiri hanya mengingat wajah pamannya itu, tak tahu namanya.


Dia pun berdiri. Menghela napas dan merentangkan tangannya. Dia berbalik pada wanita tua itu.


"Terima kasih telah menghiburku." Senyumnya. Wanita itu juga berdiri. Namun sorot matanya agak merah dan dia seperti linglung. Tanpa ragu memeluk Xie Xie dan air matanya mengalir. Xie Xie bingung dengan tingkah wanita ini.


"Kau sangat mirip dengan anakku. Aku jadi ingin memelukmu." Wanita itu melepaskan pelukannya lalu tersenyum sambil menyeka air mata. Lalu pergi meninggalkan Xie Xie yang masih berdiri bingung.


******


Keluarga Xiu.


"Sampai berapa lama kau akan memandangi benda itu." Ibu Qin Yan datang membawa teh untuk Qin Yan yang sedari tadi mengamati kotak hitam yang baru ia beli dipelelangan.


Ibunya juga agak penasaran, sebenarnya apa yang ada didalam kotak itu hingga Qin Yan begitu tertarik.


Pengamatan itu akhirnya berakhir, Qin Yan menemukan beberapa titik kunci disetiap sisi ujung bagian kotak. Hampir semuanya tidak terlihat, dan yang paling penting. Beberapa garis tidak teratur terukir dikotak itu. Begitu banyak, hingga orang orang pun pasti pusing untuk mengetahui rahasia dari garis garis tersebut.


Perlahan Qin Yan menyentuh beberapa. Setelah menyentuh semua garis satu persatu satu, Qin Yan pun menyimpulkan. Ada lima jenis garis kunci diantara garis tak beraturan ini. Butuh waktu beberapa menit untuk Qin Yan memilah garis tersebut. Satu persatu, mencari sambungan dan mulai menyatukan garis yang terpisah diantara ribuan garis. Akhirnya, setelah waktu lama, ia berhasil menyempurnakan lima kunci yang tadi masih tidak jelas.


Qin Yan akhirnya menghela napas. Meneguk segelas teh, lalu bersandar dikursinya. Di kertas didepannya, Qin Yan berhasil menulis pola kunci. namun ini masih tahap awal. Ia harus susunan array untuk membuka kotak ini.


"Istrahatlah dulu. Kau tampak kelelahan." Ibunya datang membawa beberapa makanan. Lalu meletakkan di atas meja samping kotak yang diamati Qin Yan.


"Terima kasih Bu." Qin yan pun menikmati makanan itu sambil memikirkan susunan array pembuka kotak ini. Jika di pikirkan, sepertinya menyatukan mereka cukup sulit. Salah sedikit bisa mengakibatkan kegagalan.


Tiba tiba Qin Yan merasakan, hawa keberadaan Xie Xie yang masuk ke kediaman keluarga Xiu. Dia pun langsung berdiri, memasukan kotak dan semua yang dia hasilkan kedalam cincin penyimpanan nya.


Qin Yan berjalan keluar, ibunya juga mengikutinya. Disana ia mendapati Xie Xie masuk kedalam kamarnya, Qin Yan pun tidak mengatakan apa apa. Disaat yang sama, Tang Liu dan Tang lili juga datang karena anak itu.


"Ada apa dengan kakak itu? Dia terlihat bermasalah." Tang lili melipat tangannya didada dengan heran. Sementara ibunya datang membawa Tang lili pergi.


"Sudahlah, ayo kita pergi. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu." Pada akhirnya, gadis kecil itu dengan senang hati mengikuti ibunya.


Selanjutnya, Xie Xie keluar dari kamarnya. Dia seperti menjadi orang yang baru. Terlihat tidak ada lagi kesedihan diwajahnya. Malah digantikan rasa tenang serta kemantapan.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Qin Yan bertanya.


Wajah Xie Xie menjadi serius.


"Aku mendengar kalau latar belakangku sebenarnya ada dikerajaan Great Blaze. Bisa jadi, disana aku akan mendapatkan informasi tentang ibuku dan rahasia di masa lalu. Aku.... aku ingin mengetahui itu apapun yang terjadi." Xie Xie mengepalkan tangannya, sementara Qin Yan tersenyum tipis.


Disaat yang sama, dikamar perawatan. Ibu Xiu Xiu telah bangun. Xiu Xiu yang berada disampingnya langsung gemetar karena saking senangnya. Tapi ia tidak mengatakan apapun, ketika melihat tatapan ibunya yang lemah, Xiu Xiu rasanya ingin mengatakan sesuatu. Namun ia tidak tau apa yang harus ia katakan karena begitu gugub akibat tak pernah bertemu sosok ibu selama ini.


Namun, setelah melihat wajah Xiu Xiu. Wanita tua itu tersenyum. Mengusap pipi Xiu Xiu dengan lembut.


"Kau sudah tumbuh besar yah, Xiu er."


Mata Xiu Xiu mengenang. Dia berbicara dengan bibir gemetar.


"Ka-kau masih mengenalku?"


Ibu itu tersenyum.


"Mana mungkin aku tidak mengenal putraku sendiri. Anak lucu yang selama ini terus menempel pada ibunya sekarang berubah menjadi pria dewasa." Xiu Xiu akhirnya tersenyum. Dia menundukkan kepalanya ketangan ibunya. Akhirnya setelah hidup sendiri selama ini, dia pun bisa melihat ibunya. Semua yang dia ragukan selama ini, tentang hidupnya dan tentang masa lalunya. Semuanya sudah berakhir. Xiu Xiu segera memanggil beberapa pelayan, untuk merawat ibunya.


Satu hari setelah itu, ayahnya, Xiu yang pun akhirnya pulih dari masa tidurnya yang cukup lama. Proses pengobatan racun ditubuhnya berhasil membuatnya siuman. Meski begitu, ia masih harus menjalani perawatan sampai ia benar benar pulih secara total. Butuh 1 Minggu hingga racun ditubuh ayah Xiu Xiu berhasil dikeluarkan.


Saat itu pula, Qin Yan melanjutkan pengamatannya tentang kotak yang ia beli dipelelangan. Tepat malam itu, Qin Yan akhirnya berhasil menyusun array penyusun kunci untuk membuka kotak tersebut. Dengan gabungan garis titik beberapa garis sayatan. Qin Yan menggunakan itu sebagai pola kunci untuk membuka kotak tersebut. Terakhir, Qin Yan menjentikan jarinya untuk mengaktifkan susunan array tersebut. Dan ketika array itu aktif, terlihat beberapa komponen didalamnya berubah ubah. Hingga akhirnya, kotak pun terbuka. Mata Qin Yan berbinar. Ia ingin tertawa karena saking senangnya.


Sebuah ramuan dengan bahan bahan lengkap tersedia didalamnya. Tangan Qin Yan gemetar.


Ini...


Tanaman yang hanya ada di legenda. Tanaman jantung merah, akar tanaman anise star yang hanya tumbuh dibeberapa surga alam semesta ini. Lalu Darah Phoenix suci yang dapat membangkitkan manusia. Dan terakhir, air mata Dewi kehidupan yang dapat menghidupkan kembali makhluk hidup.


"Ho.. ho.. ho..." Qin Yan menggosok kedua tangannya karena mendapatkan harta Karun. Apalagi harta Karun ini sangat lengkap disertai bahan bahannya. Entah siapa yang memiliki benda ini, tapi untuk kehilangan benda ini merupakan hal yang paling menyakitkan.


Qin Yan mengambil resep dan mengeluarkan bahan bahan itu dengan hati hati. Ia kemudian membaca resep membuat ramuan tersebut dengan seksama.


Setelah itu, Qin Yan pun menyimpulkan. Untuk membuat ramuan ini harus menggunakan alat alat berkualitas. Qin Yan pun berpikir keras. Benda yang paling berkualitas seperti tungku yang mampu menahan tekanan ramuan ini dan penyedia sumbu api yang sangat memadai.


"Haruskah aku mencarinya dipelelangan?" Qin Yan berpikir, tapi tidak lama setelah itu ia pun pergi menuju pelelangan.


Para pelayan pelelangan itu sangat ramah menyambut kedatangan Qin Yan. Mereka dengan sabar memberikan Qin Yan pelayanan.


"Tuan muda ingin membeli tungku paling kuat dan berkualitas. Silahkan lewat sini." Salah satu pelayan membawa Qin Yan pergi ke sebuah ruangan dimana tungku tungku penyulingan disediakan. Disaat yang sama ada juga seorang alkhemis gendut yang memegang wanita disampingnya sedang memilih beberapa tungku.


"Tuan Du. Apakah anda telah menemukan tungku yang cocok untuk anda?" Pelayan yang mengantar Qin Yan berkata sambil tersenyum ramah padanya.


Pria gendut itu berbalik pada pelayan itu. Menjilat bibirnya dengan penuh nafsu.


"Belum, aku belum menemukannya. Mau kah kau mencarikannya?" Dia mendekat ke arah wajah pelayan itu. Membuat pelayan itu jadi tidak tenang dan mundur sedikit. Giginya yang kuning membuat pelayan itu merasa jijik meskipun ia berusaha menyembunyikan ekspresi itu, namun tetap saja ia tidak akan bisa menahan rasa jijiknya.


"Kamu cantik juga. Sebentar malam, datanglah ke kamarku. Berikan aku pelayanan istimewa."


"Ta-tapi tuan, tugasku hanyalah memperkenalkan barang pada tamu."


"Jangan membantah! Kalau kau tidak mau dipecat dari pekerjaan ini." Pria gendut itu langsung menggenggam dagu pelayan itu dengan wajah tak puas karena tanggapannya yang tidak sesuai dengan keinginan nya. Pelayan itu hanya bisa diam ketakutan. Lalu pria itu mulai berkeliling kembali mencari tungku. Tapi sebelum ia pergi, ia menyentuh pantat pelayan itu, hingga pelayan wanita itu bereaksi dengan wajah memerah.


Pelayan wanita itu sangat tidak senang, namun pria gendut itu tidak menghiraukannya. Dan pergi dengan membawa wanita dipelukannya yang dari tadi berbicara dengan genit.


Qin Yan sendiri menyaksikan itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Pria gendut itu melewatinya dan mereka saling menatap. Terlihat pria itu tidak memperdulikan Qin Yan karena masih anak anak.


"Hei, kenapa kau masih berdiri disana? Cepat ikuti aku!" Berkata pria gendut itu dengan marah pada pelayan yang habis ia cabuli tadi.


"Ba-baik tuan." Pelayan itu langsung tersadar dan menuju ke arah pria itu. Hendak melewati Qin Yan. Tapi, saat itu Qin Yan tiba tiba menghentikannya.


"Jangan pergi, kau yang telah mengantarku kesini. Maka kau yang harus melayaniku."


Tiba tiba pria gendut itu terhenti. Berbalik dan menatap Qin Yan dengan tak senang. Dia melepaskan wanita dipelukannya dan berjalan ke hadapan Qin Yan.


"Anak muda, kau punya nyali juga. Aku tadi membiarkanmu karena kau itu masih anak anak. Hm... tidak disangka kau begitu kurang ajar." Pria itu mendekat ke arah Qin Yan. Tapi ia cukup terkejut bahwa Qin Yan sama sekali tak terpengaruh oleh gertakannya. Setelah berdekatan, barulah bisa dilihat kalau tinggi mereka begitu berbeda jauh. Tinggi pria gendut itu hanya sebatas bahu Qin Yan saja.


Melihat Qin Yan yang terus menatapnya dengan tenang semakin membuat pria gendut itu marah.


"Berani beraninya kau menatapku begitu!" Dia hendak mencekam leher Qin Yan, tapi tangannya langsung dihentikan. Dan kali ini, tangan Qin Yan begitu kuat hingga membuat pria itu tak berdaya.


"Kau seharusnya menyadari, jangan sembarangan menyentuh orang dengan tanganmu yang kotor ini."


Pelayan disamping hanya diam gemetar ketakutan. Karena dia, dua tamu pelanggan saling bermusuhan.


"Tuan, mari kita selesaikan ini baik baik. Aku akan membawamu dan memperkenalkan barang barang kami padamu. Tapi tolong jangan buat keributan disini tuan. Aaah...!" Pelayan itu langsung didorong dengan kasar ketika masih berbicara oleh pria gendut yang hendak ia bujuk, sampai sampai dia menabrak meja kaca hingga pecah.


Lalu pria gendut itu kembali berbalik pada Qin Yan.


"Anak muda, jangan salahkan aku berbuat keras padamu!" Pria gendut itu menjektikan jarinya, dan dua pria kekar masuk dari pintu depan membawa gada besar yang berduri tajam.


"Wah, tuan Du benar benar sangat hebat." Wanita lacur dibelakang pria gendut berteriak terpesona. Namun apa yang disaksikannya membuat matanya terbelalak ketakutan.


Mata merah Qin Yan aktif dan menatap pria gendut itu dengan tajam.


Setelah itu, tanpa basa-basi, tubuh pria gendut itu bergerak sendiri. Mata pria itu terbelalak, dan kedua tangannya berputar hingga terdengar bunyi remukan tulang dan lehernya langsung berputar 360° hingga kepalanya menghadap kebelakang dengan tubuh masih dalam keadaan posisi didepan.


"Bruk" Pria gendut itu dengan mudahnya ambruk ke lantai.


"AAAAAAHHKK.....!!"' Wanita lacur dibelakangnya berteriak histeris. Dia segera lari dengan wajah pucat ketakutan.


Pelayan wanita yang tadi didorong kasar oleh pria gendut itu masih belum berdiri dan juga menatap Qin Yan dengan penuh ketakutan.


"Ada apa ini!" Tiba tiba sekelompok prajurit pun datang. Lalu diantara mereka terlihat wanita seksi maju dengan hentakan sepatu hak tinggi yang terdengar sangat jelas. Wanita itu adalah manajer pelelangan ini, dan dia agak terkejut melihat Qin Yan ada disini. Lebih lebih terkejutnya ketika melihat mayat pria gendut didepannya sudah tak bernyawa.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya bingung, tidak mungkin anak seperti Qin Yan menghabisi tiga orang pria sekaligus dipelelangannya.


Pelayan yang berada disana segera berdiri dan langsung membungkuk hormat pada wanita itu.


"Nyonya, maafkan aku. Ini semua salahku. Aku yang membuat mereka saling berselisih."


"An Mi, sudah kubilang kan. Kalau kau melakukan kesalahan kau bisa saja di pecat dari pekerjaan ini. Sekarang Tuan Du telah tewas ditempat ini. Siapa yang akan bertanggung jawab?"


Pelayan wanita itu gemetar ketakutan, ia hendak menjawab namun Qin Yan tiba tiba memegang bahunya. Lalu berbicara dengan manajer itu dengan tenang.


"Bawa aku ke pemilik sebenarnya pelelangan ini. Akulah yang membunuhnya, aku yang akan bertanggung jawab."


Wanita itu langsung menyerngit.


"Anak muda, bos kami tidak sembarangan bertemu dengan orang asing. Apalagi bocah sepertimu."


Perkataan dingin wanita itu mendapat tatapan Qin Yan yang diselimuti niat membunuh. Hal itu membuat sekujur tubuh wanita itu merinding. Seolah kematian ada didepannya. Ia langsung ketakutan tanpa sebab hanya karena mendapat tatapan itu.


"Bawa aku sekarang juga." Qin Yan berbisik padanya, wanita itu mengangguk cepat. Dan dengan kaki gemetar mengantar Qin yan sampai keruangan bosnya.


Wanita itu akhirnya mengerti, mengapa tuan Zaoba saat itu sangat ketakutan. Ternyata anak ini tidak biasa seperti yang dia pikirkan. Dia mempunyai aura misterius yang membuat orang orang akan ketakutan ketika melihat tatapan nya.


Sampai keruangan bos. Wanita itu mengetuk pintu.


"Masuk." Terdengar seorang pria paruh baya tengah duduk tenang menikmati secangkir teh. Wanita itu mengantar Qin Yan masuk sampai ke hadapannya.


"Ada masalah apa?" Pria itu bertanya dengan dingin. Wanita didepannya bertanya dengan begitu sopan dan hormat.


"Tuan, terjadi masalah diruang 05. Terjadi perselisihan antara tuan Du dan anak ini."


"Jadi...." Pria itu bertanya dengan mengangkat satu alis matanya.


Manajer wanita itu menunduk dan berkata pelan.


"Tuan Du sekarang sudah tewas."


Barulah setelah itu, kening pria tersebut berkerut. Wajahnya sekarang tidak lagi dingin, melainkan terkejut. Saat itu ia menatap Qin yan, tapi tidak ada ketakutan diraut wajah anak itu.


"Apakah itu benar?" Ia bertanya pada Qin Yan.


"Ya." Qin Yan sendiri menjawab begitu tenang.


Pria didepannya terdiam. baru saja ia mau mengatakan sesuatu, ia pun merasakan aura tidak biasa dari anak ini.


'Dia bukan anak biasa. Anak ini, tidak bisa disinggung begitu saja.' Setetes keringat menetes dipipinya. Pria ini, sangat sensitif dengan aura. Indra keenam nya bekerja dengan sangat baik, dan itu menjadi kelebihannya untuk mengenali orang orang disekitarnya. Tapi ia sendiri tak pernah merasakan perasaan berbahaya pada anak didepannya ini.


Setelah ia ingat ingat sebelumnya. Dia pernah melihat anak ini bergabung pada Xiu Xiu sang patriak baru di keluarga Xiu. Xiu Xiu saja bukanlah anak biasa, teman temannya juga pasti bukan anak biasa.


"Ekhem ekhem" Ia pun berdehem sejenak.


"Aku mengerti. Sepertinya kalian mengalami masalah. Biarkan masalah ini dibereskan oleh pelelangan kami. lagian, tuan Du hanyalah pelanggan biasa disini." Ia berbicara hati hati, memperhatikan ekspresi Qin Yan. Wanita manajer disamping Qin Yan tentu terkejut mendengar itu. Sejak kapan bosnya yang begitu dingin dan tenang bisa rela membantu orang asing yang baru ia kenal. Bahkan namanya pun tidak mereka ketahui.


"Yei Ri. Antar dia keluar. Pastikan kau melayaninya dengan baik."


Manajer wanita yang bernama Ye Ri mengangguk dengan cepat lalu membawa Qin Yan pergi.


"Tunggu." Tapi sebelum itu bosnya juga menghentikan mereka. Dia menuju ke arah Qin Yan dan menggosok tangannya sendiri sambil tersenyum.


"Um... Bolehkan saya tahu nama tuan muda ini?"


Qin Yan tidak menjawab, dan pergi meninggalkannya. Ye Ri tercengang. Dan bos itu menjadi canggung. Meskipun kesal tapi instingnya mengatakan anak itu tak boleh ia singgung. Ia pun melambaikan tangannya pada wanita itu untuk mengantarnya.


Rupanya manajer wanita itu mengantar Qin Yan sampai ke gudang rahasia mereka. Dia tidak menyangka bahwa bosnya begitu baik hingga mengijinkan Qin Yan untuk masuk ke dalam gudang ini. Padahal tidak semua orang bisa masuk kedalam. Jangankan rakyat biasa, raja pun tidak pernah memasuki tempat ini.


"Aku ingat sepertinya kau tadi ingin membeli tungku." Wanita itu tersenyum ramah.


Qin Yan tidak menjawab, ia malah memandangi gudang dan mencari apa yang dia inginkan. Lalu pandangannya tertuju pada sebuah tungku hitam dengan tulisan emas dipermukaannya. Qin Yan mendekati tungku itu sambil menyentuh tulisan tulisan emas itu.


"Berapa harga tungku ini?"


Wanita itu terkejut. Lalu tertawa canggung.


"Ah, tuan kami tidak menjual yang itu. Silahkan pilihlah yang lain. Masih banyak tungku yang berkualitas disini."


"Tidak, aku mau yang ini."


Keringat menetes di pipi wanita itu.


"Tuan, kami benar benar minta maaf. Kami tidak bisa menjualnya."


"Aku akan membayar beberapa pun yang kau mau."


"Bu-bukan begitu tuan, kami memang tak bisa menjualnya. Ini adalah benda yang diwariskan oleh leluhur. Tapi dipelelangan ini, tidak ada orang yang bisa menggunakannya makanya kami menyimpannya disini."


Qin Yan berbalik padanya. Mendengar perkataannya yang sopan membuat Qin Yan tidak tega untuk menyakitinya. Ia pun mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari cincin penyimpannya.


"Kalau begitu aku harus menukarnya dengan barang yang sepadan." Qin Yan menyerahkan gulungan kertas itu dengan santai pada wanita itu.


"Coba kau lihatlah dulu."


Wanita itu dengan hati hati membuka kertas tersebut. Betapa berkilaunya. Matanya bahkan tak bisa melihat isi yang ada didalam kertas itu. Namun sesaat kemudian, matanya terbelalak.


"I-ini.. I-ini..." Tangannya gemetar dan memandangi Qin Yan. Tapi Qin Yan hanya memandanginya dengan tenang.


"Tak cukup kah, baiklah akan kuberikan satu lagi." Qin Yan kembali mengambil gulungan kertas dari cincin penyimpannya. Lalu melemparnya ke wanita itu.


Wanita tersebut kembali menangkapnya dengan hati hati. Dan ketika melihat isinya, ia serasa ingin terjatuh.


"Apakah cukup?"


"Cukup cukup." Wanita itu mengangguk dengan tangan gemetar. Qin Yan tersenyum. Lalu berjalan pada tungku didepannya. Ia memasukan tungku itu kedalam cincin penyimpanannya. Dengan menyerahkan resep penyulingan tingkat sembilan dan gulungan kondolisasi tier God, siapa juga tak tidak akan tercengang. Tapi bagi Qin Yan, barang seperti itu tidak terlalu penting baginya.


"Ayo kita pergi." Wanita itu kemudian mengantar Qin Yan dengan sopan sampai ia keluar dari gudang itu. Dalam hati wanita itu, meskipun anak ini sangat tidak sopan padanya. Namun harta yang dimilikinya tidak main main. Ditambah lagi, anak ini mempunyai aura tak biasa. Dia bukan anak yang bisa dipermainkan atau di remehkan seenaknya. Dia merasa, kalau anak ini adalah tokoh yang luar biasa yang tidak mengungkapkan identitasnya didepan banyak orang.