LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Orang licik dibalik wajah topeng


Kedai teh terdekat, ruang khusus berdiskusi para tamu istimewa.


Qin Yan menyeduh tehnya secara perlahan, ia kemudian meletakan kembali gelasnya sembari menatap mereka berdua.


"Jadi tuan Lin, tuan Syu. Kalau saya boleh bertanya, apa yang ingin kalian diskusikan?" Tanya Qin Yan dengan senyuman ramah, ia memaksakan senyumnya kepada kedua orang yang lebih tua didepannya ini.


Setelah mendengar pertanyaan Qin Yan, kedua pria itu terlihat gugub. Mereka saling berpandangan sejenak, kemudian tuan Syu mulai berbicara.


"Begini anak muda, sebenarnya kami ingin membicarakan......"


"Brak" Belum juga tuan Syu menjelaskan maksudnya, pintu dibuka secara tiba tiba dan kasar. Setelah itu keluarlah seorang pria berbadan kekar, serta ditemani pria bangsawan berbadan gendut dengan dua pengawal dibelakang.


"Hahaha...... Jadi ternyata kau yah yang memesan ruangan ini tuan Syu? Aku bertanya tanya kenapa pelayan ini bersikap kurang ajar padaku. Ternyata kaulah yang menyewa ruangan ini." Pria gendut itu menyunggingkan senyum yang terdapat gigi emasnya disud bibirnya. Menyampingkan cerutu besarnya disamping sembari menatap tuan Syu dengan penuh penghinaan.


Kelakuan tak sopan itu menarik perhatian banyak orang. Termasuk Qin Yan, yang langsung berbalik pada keributan itu.


Saat ini seorang pelayan tiba tiba masuk mengejar mereka. Ketika sampai didepan bos gendut itu, ia segera membungkuk hormat.


"Maaf tuan, ruangan ini benar benar sudah dipesan orang lain. Kami benar benar minta maaf sebesar besarnya. Sesuai peraturan, penyewa pertama tak bisa diganggu. Kami menyediakan ruangan lain untuk anda."


"Plak" Tanpa aba aba, pria gendut itu menghempaskan tangan tebalnya pada pipi pelayan itu. Hingga pelayan tersebut tersungkur dilantai dengan lemas.


"Berani beraninya orang rendahan sepertimu mengoceh banyak di depanku. Akan ku pastikan kau untuk dikuliti hidup hidup setelah ini."


Setelah mendengar itu, wajah pelayan itu langsung pucat dan penuh keringat. Dirinya gemetar bahkan sampai membasahi celananya.


Ketika pelayan itu hendak bersujud meminta maaf, tuan Syu berdiri sambil membanting kedua tangannya diatas meja.


"Bong Goo! Hentikan keributan yang kau lakukan ini!!" Tatapnya dengan penuh kebencian. Qin Yan memperhatikan keduanya, Tampaknya kedua pengusaha ini mempunyai hubungan permusuhan yang cukup kuat.


"Paman, apakah dia adalah orang yang kau ceritakan?" Tiba tiba seorang pria kekar disamping bos gendut itu bertanya. Wajahnya yang angkuh hampir tak bisa menahan bibirnya untuk menghina.


"Benar Bong Sha, dia adalah pria menyedihkan yang habis kuperas habis habisan. Seorang pria bodoh yang polos dan tidak tahu apa apa dalam hal berjudi. Dia bahkan menjadikan istrinya sebagai jaminan, hahaha.... Bayangkan betapa pecundangnya orang ini. Hampir saja kusentuh istrinya dan kupermainkan dia dibawah kejantananku. Ah... memikirkannya saja membuatku bernostalgia."


"Hahaha.....!!!" Mendengar hal tersebut, pria berbadan kekar itu tertawa terbahak bahak, diikuti dengan pengawal dibelakang.


Sementara tuan Lin sudah dipenuhi kemarahan apalagi tuan Syu yang wajahnya sudah memerah marah karena hampir tak bisa menahan emosi didalam dirinya.


"Hihihi.... Lihatlah dia... Menyedihkan sekali, aku baru tahu kalau kau bisa juga marah Tuan Syu?" Tawa mereka semakin menjadi jadi, mereka bahkan lebih menghina tuan Syu habis habisan.


Melihat kemarahan pria paruh baya itu, tatapan bos gendut tersebut menjadi dingin. Ia menatap tuan Syu dengan sangat dingin


"Tuan Syu, jangan lupakan kalau istrimu masih ada ditanganku. Kau takkan lupa kan?"


Tuan Syu yang tengah diliputi kemarahan, terpaksa menekan kemarahannya yang sudah menumpuk. Perlahan, ia kembali ke sikap aslinya. Sikap dingin dan tenang.


"Jadi, apa yang ingin kau lakukan disini Bong goo?" Tanyanya kemudian.


"Hahaha.... Aku hanya berjalan jalan saja. Awalnya aku ingin melihat lihat ruangan ini, tapi sepertinya aku berubah pikiran sekarang. Bong sha, bagaimana jika kita gunakan ruangan ini sebagai tempat bersantai kita?" Bos gendut tersebut tertawa sambil melirik keponakannya.


"Ide yang bagus. tapi paman, apakah orang lain tidak akan tersinggung?" Keponakannya menjadi dengan wajah polos. Diam diam melirik tuan Syu dengan tatapan licik.


"Tentu saja tidak? Benarkan tuan Syu?" bos gendut tersebut tersenyum pada Tuan Syu.


Rasanya, ingin sekali Tuan Syu membunuh mereka berdua. Tapi tidak bisa, ia harus menahan amarahnya ini. Harus!


Pada akhirnya ia pun mengangguk, memaksakan senyumnya pada mereka berdua.


"Tentu saja tuan Bong. Anda bisa memakai ruangan ini. Kalau begitu kami pergi dulu." Dengan wajah menunduk, tuan Syu mengajak tuan Lin dan Qin Yan keluar.


Saat mereka melewati bos gendut tersebut, pandangan mata bos itu tertuju pada Qin Yan. Tatapannya yang tertarik, tanpa kesopanan ia langsung memegang bahu Qin Yan. Menghentikan langkahnya.


"Hoh....? Tuan Syu? Sepertinya kau punya tamu istimewa? Siapa anak muda ini? Apa dia si penjudi baru?"


Tatap bos gendut itu dengan penuh ejekan kepada tuan Syu. Kemudian pandangannya beralih pada Qin Yan.


"Katakan padaku anak muda. Apa urusanmu dengan orang udik ini?"


"Urusanku? Memangnya apa urusanmu bertanya?" Jawab Qin Yan dengan nada mengejek. Membuat mereka tercengang termasuk tuan Syu sendiri. Ia langsung cepat menghentikan ini, dan membawa Qin Yan keluar dari masalah ini. Karena bocah seperti Qin Yan akan terjerat dalam kelicikan Bong Goo karena masalahnya. Oleh karena itu, ia harus menghentikannya.


Namun, sudah terlambat. disaat tuan Syu hendak menarik Qin Yan keluar, Bong goo langsung menghentikannya. Ia juga memegang bahu Qin Yan sedikit lebih kuat.


"Urusanku? Cih, kau bocah kurang ajar juga rupanya!" Ia langsung mengangkat tangannya, cincin Ungu bersinar hendak menyentuh Qin Yan. Namun, dengan cepat. Tangan tuan Syu yang elastis mampu mengikat tangannya pria itu layaknya ular.


"Hentikan itu, Bong goo. Anak ini tidak mempunyai hubungan dalam masalah ini. Jadi jangan menyeret dia kedalam masalah." Cincin ungu tuan Syu juga bersinar, cara bicaranya dingin namun kali ini seperti ada rasa tanggung jawab.


"Kau jangan lupa! Istrimu ada di...."


"Jika kau mengoceh tentang istriku lagi yang ada di tanganmu, Bong Goo. Kuberi tahu satu hal, aku juga muak mendengarnya. Kau pikir aku tidak mempunyai batas kesabaran?"


Setelah mendengar perkataan tuan Syu, Bong Goo terdiam sesaat dengan mulut tercengang. Namun tidak lama kemudian ia tertawa terbahak bahak.


"Bhuahaha.... Hahaha....." Tawanya bahkan membuat tuan Syu terdiam dalam kebingungan.


"Heeeh... Tuan Syu, aku tahu betul bagaimana sifatmu. Kau pikir kau orang yang sangat bertanggung jawab, begitu? Siapa yang menyangka kau orang yang sangat pelit dan acuh tak acuh terhadap kehidupan orang lain. Sekarang menjadi sangat peduli. Katakan padaku, apa karna dia mempunyai keistimewaan? Meskipun begitu, ingatlah baik baik. Hutang yang kau punya, serta istrimu yang Hamill masih ada ditanganku. Itulah akhir dari seorang pembisnis yang tidak tahu dunia bisnis yang sesungguhnya. Dunia bisnis itu seperti perjudian, yang kalah akan menjadi pecundang dan yang menang akan menjadi sangat kaya. Hahaha.....!!"


Seketika tuan Syu langsung terdiam, pergelangan tangannya lemas. Tak bisa dipungkiri ia benar benar tertekan oleh perkataan orang ini. Qin Yan yang sedari tadi memperhatikannya mulai berpikir. Mungkin alasan dia membawa dirinya kesini, untuk membantunya. Sepertinya alasan itu cukup masuk akal.


"Jika ini masalah perjudian, aku sedikit penasaran. Apa hebatnya perjudian sampai kau menyombongkan diri seperti itu." Qin Yan angkat bicara dengan penuh nada provokasi.


Hal itu membuat tuan Syu dan Bong Goo jadi tercengang.


"Tuan Qian, apa yang kau katakan? Kita harus pergi dari sini. Aku akan mengantarmu pulang." Ucap tuan Syu yang sekali lagi menarik tangan Qin Yan.


"Tahan disitu!" Teriak Bong Goo, ia kemudian menatap tajam kepada Qin Yan. Mengangkat wajahnya tinggi tinggi dan berbicara kepada Qin Yan dengan nada angkuh.


"Aku penasaran, darimana kepercayaan dirimu berasal."


Mendengar itu, Qin Yan mengangkat wajahnya. Membalas tatapan bos gendut didepannya dengan tatapan sinis.


"Kepercayaan? Percuma kujelaskan padamu. Kenapa kita tidak coba saja langsung."


Alis Bong Goo langsung berkedut, Dia pun berkata.


"Kau menantangku?"


"Memangnya ada arti lain?" Jawab Qin Yan sambil tersenyum.


"Hahaha...... Hahaha...." Bong Goo langsung tertawa terbahak bahak mendengarnya. Namun tidak lama kemudian wajahnya berubah menjadi serius.


"Bong sha! Panggil Pang Du kesini. Kita akan berangkat ke perjudian bawah tanah." Perintah Bong Goo kepada keponakannya.


"Ba-baik paman." Dengan jawaban singkat, pria berbadan kekar tersebut keluar dari ruangan. Menyisahkan mereka yang masih berdiri berhadapan.


"Aku harap, kau tak menyesali perbuatanmu ini anak bodoh. Jangan salahkan aku, tapi salahkan kebodohanmu." Senyum pria itu dengan penuh kesadisan. Kemudian ia pun pergi diikuti dua pengawalnya.


Sekarang, diruangan hanya menyisahkan Qin Yan dan tuan Syu, tentunya tuan Lin juga ada. Dengan penuh keterkejutan, tuan Syu langsung menghampiri Qin Yan.


"Tuan Qian, apa yang kau lakukan! Bong Goo adalah orang yang sangat licik. Dia bisa merebut segalanya darimu. Ka-kau...... Kenapa kau begitu ceroboh." Tuan Syu hanya memegang dahinya yang penuh keringat. Tapi Qin Yan tetap menjadi acuh tak acuh. Ia pun berjalan kedepan, meninggalkan mereka yang masih ternganga.


"Cepat, antarkan aku ke ruang perjudian bawah tanah. Apa kau pikir aku akan membuat mereka menunggu?"


Mendengar itu, Tuan Lin dan tuan Syu jadi saling memandangi. Dalam posisi Qin Yan yang membelakangi, mereka tersenyum licik. Tatapan mereka menunjukan kemenangan. Setelah itu, barulah mereka mengikuti Qin Yan, berencana membawanya ketempat tersebut.


Ketika mereka keluar, pemilik kedai teh tersebut memperhatikan kepergian mereka. Disampingnya ada pelayan yang tadi ditampar oleh Bong Goo. Di lihat dari manapun, pelayan itu tentunya melaporkan kejadian tadi kepada pemilik kedai teh tersebut.


Mendengar cerita pelayan tersebut, pemilik itu hanya menggelengkan kepala sambil menghela napas.


"Anak muda itu.... Meskipun dia sangat berbakat, tapi dia sangat sembrono. Sekarang, dia bukan hanya jatuh ke tangan licik Bong Goo. Tapi dia telah menjadi boneka Syu dengki, yang dikendalikan dalam tekanan."


Perkataannya merujuk pada tuan Syu yang sedari tadi mengikuti Qin Yan. Tuan Lin dengan semangat membawa Qin Yan ketempat tersebut. Sementara dia? Dia hanya tersenyum licik dibelakang. Tertawa senang dalam hati.


'Diam diam, aku akan menggunakan Bong Goo untuk menekanmu. Setelah itu, aku akan mengendalikanmu secara leluasa.'