
Di balik bayangan pohon, keluarlah beberapa orang. Sepertinya mereka bukan orang baik, dan salah dari mereka tentu saja Qin Yan mengenalnya. Dia adalah satu lawan yang ikut bermain dipermainkan judi tadi.
Seorang pria paruh baya dengan luka bekas sayatan pedang menyilang diwajahnya. Sekali dilihat pun, Qin Yan sudah mengetahui kalau mereka ini adalah sekelompok penjahat..
"Mau apa kau kesini?" Tanya Qin Yan dengan wajah dingin.
Pria itu hanya hanya tersenyum, lalu menghisap cerutu dimulutnya.
"Bukankah sudah jelas aku datang kesini untuk apa?" Tatapan pria itu sangat tajam, menusuk siapapun yang pasti ditatapnya. Namun, perbedaannya, ia tengah menatap Qin Yan. Seseorang yang tidak ia ketahui.
"Oh... Kau cari mati yah." Qin Yan mengangguk mengerti. Sementara orang itu hanya tertawa, bagaikan mendengar lelucon.
"Yah, aku akui kau memang anak yang hebat. Tapi, sepertinya kau tidak tau bagaimana mengenal situasi. Dengarkan yah bocah, tidak di semua tempat kau bisa menyombongkan dirimu."
"Hahaha... Situasi? Memangnya situasi apa yang harus aku kenal?" Qin Yan malah balik menertawainya, tentu saja hal itu membuat pria tersebut jadi tersinggung. Melihat Qin Yan yang semakin tidak mengerti gertakannya. Ia pun langsung keintinya.
Pertama tama, pria tersebut menghisap cerutu nya, kemudian menghembuskan asapnya. Tatapannya seakan mengintimidasi.
"Dengar yah bocah, serahkan semua yang kau miliki. Setidaknya kau harus tau ketika berhadapan dengan orang dewasa. Itulah mengapa, bocah sepertimu tidak pantas bersikap angkuh meskipun kau mendapatkan beberapa keuntungan."
"Cih, menyerahkan semua yang kumiliki? Apakah kau pantas?."
Seketika, mata pria itu langsung membesar. Ia melihat raut wajah Qin Yan yang penuh penghinaan. Membuatnya menggertakan gigi.
"Bunuh bocah itu!!" Teriaknya dengan penuh kemarahan. Dalam hatinya ia mengatakan. 'Bocah, jangan salahkan aku menggunakan cara ini.'
Qin Yan yang melihat beberapa pembunuh menerjang kearahnya, hanya tersenyum tipis. Dalam cincin penyimpanannya mengeluarkan senjata roh, pedang angin. Pedang panjang dan tipis.
Dengan ancang ancang siapa, ia menggunakan teleportasi. Perpindahan wujud, hingga sampai disalah satu pembunuh.
"Slash" Terdengar sebuah tebasan, dan semua orang melihat sebuah kepala terpisah dari tubuh salah satu pembunuh.
"Apa!!!" Raut wajah keterkejutan terlintas diwajah mereka. Disaat mereka masih berada di udara, yang artinya berada dalam kondisi seperkian detik. Qin Yan dengan secepat kilat membunuh salah satu mereka dengan begitu mudahnya.
Apakah dia masihlah seorang anak kecil?
Entah kenapa kaki mereka terasa berat untuk melangkah. Tanpa diduga, salah satu mereka mendapat tatapan Qin Yan yang matanya sudah menjadi merah.
"Dug"
Detak jantung terasa terhenti, dan orang itu terpaku menatap mata Qin Yan.
Tidak bisa bergerak.
"Slash" Terdengar suara tebasan lagi. Semua orang langsung menghentikan tindakan mereka. Raut wajah penuh keringat ketika menyaksikan teman mereka tewas dalam waktu yang begitu cepat.
Tinggal beberapa orang lagi. Qin Yan membelalak matanya. Maju dan menebas tanpa rasa kasihan. Hingga semuanya tewas tanpa sempat mengeluarkan elemen dan atribut mereka.
"Hah... hah... hah...!! Jangan mendekat! Aku adalah putra dari patriak Black Dragon." Teriak pria paruh baya itu dengan penuh ketakutan. Pembunuh yang mengikutinya bukanlah pembunuh biasa. Mereka sudah berpengalaman bahkan jauh lebih kuat darinya. Lalu kenapa seorang bocah dengan mudah menghabisi mereka semua?
"Oh.... Jadi kau kerabatnya Xiang Xiang yah. Apa kau mengenal Yi Luo Xiang?"
"Yi Luo Xiang?" Pria tersebut bingung sejenak, dalam keadaan panik ia tiba tiba tertegun. Dia ingat siapa nama yang disebutkan anak ini.
"Te-tentu saja aku tau. Dia adalah anak perempuan yang dihasilkan dari kesalahan dan penghianatan. Dia telah dijual beberapa tahun yang lalu."
"Begitu yah." Qin Yan maju dengan penuh niat membunuh setelah mendengarkan kata kata pria ini. Xiang Xiang sangat berharga baginya, tentu ia juga marah jika ada orang yang berani berkata begitu pada orang terdekatnya.
Menyadari temperamen anak itu yang sudah berapi api, seketika pria paruh tersebut langsung membungkuk.
"A-aku... aku mohon. Aku adalah paman keduanya. Yi Ci Feng. Aku aku....." Dalam keadaan membungkuk ia melanjutkan perkataannya, seketika wajah pria itu langsung menyeringai. Percikan api tercipta ditangannya.
"Aku akan membunuhmu!!!!"
"Pah" Qin Yan langsung menangkap lengannya. Tatapannya tetap dingin dan tak berubah.
"Elemen api." Satu kata yang pelan itu, langsung membakar seluruh tubuh pria tersebut.
"Aaaarrgggh!!! Panaaaaaas...!! Siapa pun tolong!!" Teriakan memilukan terdengar. Pria tersebut mengerang kesakitan ketika tubuhnya perlahan dilahap oleh api. Ia terus berusaha memadamkan apinya, namun semua sia sia. Api tersebut melahapnya sampai hanya menyisahkan tulang belulang bahkan sampai menjadi abu.
"Ayo pergi." Qin Yan kemudian mengajak Tian An Jing yang hanya membeku karena saking kagetnya. Namun setelah disadarkan Qin Yan. Ia kemudian mengikuti dibelakang anak itu.
*******
Penginapan....
"Semuanya. Aku pulang. Mari kita bersenang senang malam ini, aku yang akan mentraktir kalian." Qin Yan bersalam didepan pintu dengan raut wajah ceria. Berharap teman temannya akan terkejut ketika mendengarnya, apalagi ia datang secara tiba tiba.
Namun, ruang begitu sunyi.
"Eh!" Baru saat itu Qin Yan menyadari, kalau meja dan kursinya didalam ruang tamu benar benar kosong.
'Dimana mereka? Apakah mereka belum pulang?' Qin Yan menggaruk garuk pipinya dengan jari. Ia menoleh kesana sini, ternyata rumah ini benar benar kosong.
'Huh! Dasar mereka.' Qin Yan menghela napas dengan kesal, hendak menuju kamarnya. Namun tiba tiba ia mendengar suara ada orang melangkah didepan pintu.
"K-kapten. Kau sudah pulang."
Mata Qin Yan langsung membesar, melihat Jung Kyun yang berdiri didepan pintu dengan tubuh penuh luka.
"Jung Kyun! Apa yang terjadi denganmu!" Ia langsung terburu buru menuju kearah anak itu.
"J-jangan pikirkan aku. Teman teman yang lain dalam bahaya." Ucap anak itu dengan suara terbata bata.
"Apa!! Dimana mereka sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi?" Qin Yan memegang kedua bahu anak itu dengan penuh kecemasan. Namun, ia kembali tenang ketika menyadari kalau ia secara tidak sengaja telah menyakiti anak itu.
"Itu.... salah satu kelompok mengepung kami. Mereka membawa yang lain ke hutan luar kota."
Qin Yan langsung berdiri. Tatapannya yang penuh kemarahan.
'Sudah kuduga, ada yang tidak beres.' Qin Yan sekilas melihat seringai tipis anak itu meski hanya sebentar.
"K-kapten. Pergilah selamatkan mereka. J-jangan khawatirkan aku... Ukh....!!" Mata Jung Kyun langsung terbelalak ketika menyadari Qin Yan mencengkram lehernya. Dan memojokkannya ke dinding dengan kasar.
"Kau pandai juga bersandiwara. Katakan siapa kau!!" Berkata Qin Yan sambil mempererat cengkramannya.
"Ukh..... Ka-kapten...!! A-apa yang kau lakukan?" Jung Kyun menjadi sulit bernapas. Matanya penuh kekhawatiran saat menatap tatapan tajam milik Qin Yan.
"Jangan berbohong padaku!!! katakan sekarang siapa kau dan apa sebenarnya rencanamu." Mata merah Qin Yan semakin membesar di iringi Kemarahan yang memuncak.
"Tu-tuan..... Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan... AAAAAAAAKKHHH.....!!!" Jung Kyun langsung melolong kesakitan saat tangan Qin Yan masuk kedalam perutnya dan meremas kasar organ didalamnya.
"Katakan padaku! Jika tidak, aku takkan membiarkanmu mati dengan tenang."
"Ba-baik.... Tapi tolong.... Ampuni aku... Aku mohon lepaskan aku..."
Setelah mendengar perkataan anak itu, Qin Yan melepaskan tangannya. Sekejap, darah mengalir deras dari lubang diperutnya. Jung Kyun hanya berusaha menutupi itu sambil menahan rasa sakit.
Setelah itu, penampilan Jung Kyun mulai berganti menjadi sosok seorang gadis. Gadis itu cukup cantik, dan Qin Yan agak kasihan ketika melihatnya kesakitan. Tapi, ia sama sekaki tidak akan memberi anak pengampunan karena ia berani menipunya.
"Sekarang, cepat katakan padaku."
Gadis itu mengangguk pelan, dan ia mulai menceritakan semuanya.
"Namaku Ji yiran. Aku berasal dari kerajaan Lembah Racun. Teman temanmu disandera oleh teman temanku." Ucap gadis itu dengan wajah tertunduk karena ketakutan.
Mendengar kalau Lin Fin dan yang lainnya disandera. Amarah Qin yan langsung memuncak. Ia kembali mencengkram bahu gadis itu dan kembali menekannya kedinding.
"Katakan apa rencana kalian!!!" Teriaknya dengan penuh emosi.
"Ukh~~~ " Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan wajah memelas. Ia sangat pucat atas tindakan Qin Yan yang begitu menekan.
Qin Yan kemudian mengangkat dagu gadis itu ketika ia menunduk. Kemarahannya semakin dalam dan semakin bertambah.
"Jangan membuatku menunggu. Katakan dengan cepat atau aku akan membunuhmu." Qin Yan mencengkram dagu gadis itu hingga terasa rahangnya akan retak.
"Mereka ingin memancingmu." Dalam cengkraman Qin Yan, gadis itu berusaha berbicara. Setelah itu, barulah Qin Yan melepaskan dagunya. Qin Yan berdiri, hendak pergi. Namun ia terhenti sesaat, tatapannya kembali mengarah pada gadis itu.
Sedangkan Ji yiran hanya menundukan kepala dengan penuh ketakutan. Ia takut, Qin Yan pasti tidak akan melepaskannya begitu saja. Dan benar saja, Qin Yan menarik tangannya dengan kasar.
"Ayo kita pergi!"
"Tu-tunggu..!" Gadis itu berteriak kesakitan, ketika Qin Yan menyeretnya dengan paksa. Ia berusaha menahan rasa sakit dibagian perutnya.
Merasa tak tega, Qin Yan mengeluarkan sebotol exlicir penyembuhan dari cincin penyimpanannya. Lalu ia melemparkan botol itu kepada gadis tersebut.
Tanpa ragu, gadis itu langsung memakainya. Tepat dibagian luka dan sisanya ia minum. Setelah kondisinya sedikit membaik, ia pun berdiri karena Qin Yan masih menunggunya.
"Cepat antarkan aku." Ucap Qin Yan. Beberapa saat kemudian mereka telah berlari keluar menuju ke hutan.
Disaat yang bersamaan...
"Bum"
Ning er terpental Kedinding. Ia memegangi perutnya yang kesakitan setelah mendapatkan serangan kuat.
"Si-siapa kau! Apa yang kau ingin lakukan pada Tang Liu." Ucap gadis itu dengan susah payah. Ia memuntahkan darah dan tubuhnya dipenuhi luka.
Didepannya, ada seorang kakek tua berambut hijau yang berdiri membelakanginya. Bisa dibilang, ia menghadap ke arah Tang Liu yang berbaring tak sadar ditempat tidur.
Jika Qin Yan ada disini, ia pasti akan langsung menyerangnya dan tak akan membiarkan pak tua itu mendekati Tang Liu.
Pak tua tersebut tidak lain adalah Han genyu yang tengah membelai rambut Tang Liu dengan lembut. Raut wajah bahagia memenuhi ekspresinya, namun disaat yang sama ia juga dipenuhi rasa ketamakan. Seperti baru bertemu dengan harta karunnya kembali.
"Ka-kau...! Jangan dekati Tang Liu!" Teriak Ning er lagi, ia mengambil sebilah pisau dan menerjang kearah kakek tua itu. Namun, hanya dengan telapak tangannya. Cukup membuat tubuh Ning er jadi remuk dan kembali terpental sampai menembus dinding kamar.
"Uuuuggh....." Sekarang ia benar benar tak bisa bergerak, dan wajahnya sekarang sangat pucat ketika melihat pak tua itu berjalan kearahnya dengan penuh niat membunuh.
Baru setelah ia melihat wajahnya langsung, dirinya langsung mengetahui kalau kakek tua didepannya adalah salah satu master yang duduk diatas menara sewaktu berada di Land of heaven. Kini Ning er benar benar takut sekarang.
"Kau itu yah. Gadis yang cukup menyebalkan." Tangan Han genyu mengeluarkan percikan hijau, wajahnya dipenuhi niat membunuh.
Tentu saja hal itu membuat Ning er sungguh ketakutan. Ia berusaha mundur, berusaha merangkak untuk melarikan diri. Namun, seberapa pun ia berusaha, semuanya sia sia. Hidupnya kemudian putus asa, saat melihat kaki pak tua itu sudah berada didepan wajahnya. Ketika ia menengok, ia seakan melihat dewa kematian yang bisa saja membunuhnya kapanpun.
"Bukankah seseorang seperti dirimu agak tidak pantas membunuh seorang gadis lemah yang tak bisa melukaimu, senior Han genyu?" Tiba tiba terdengar suara disamping mereka. Seorang kakek tua berambut putih dan panjang tengah berdiri didepan pintu. Ia menatap Han genyu sambil mengelus janggutnya yang panjang.
"Apa urusanmu? Lebih baik pergi jika, daripada cari masalah denganku." Tatap Han genyu dengan matanya yang dingin dan menyala, tatapan tersebut tersirat niat membunuh yang dalam karena ada yang berani menganggu waktunya. Jika kakek itu tak ingin beranjak pergi setelah dia memperingatinya, maka percikan aliran hijau ditangan Han genyu bisa saja dilampiaskan padanya.
Namun, semua ancaman itu bagaikan angin berlalu bagi kakek itu. Sebaliknya, cincin perak kakek itu muncul dan aura tingkat raja menyelimuti ruangan.
"Aku adalah tetua tabib tertinggi dari unit perawatan ini. Jelas masalah ini berhubungan denganku, karena kau dengan sengaja ingin membunuh pasien kami di rumah sakit ini. Tentu saja aku harus bertanggung jawab."
"Oh.... Kau ternyata punya nyali yah. Hanya ditahap raja, berani juga kau menghalangiku. Sepertinya kau sudah bosan hidup rupanya." Balas Han genyu setelah mendengar jawaban pak tua itu yang begitu berani. Ia sama sekali tidak memperdulikan, apa dia adalah kepala dari unit perawatan ini atau apalah itu. Di matanya, orang ini hanyalah semut baginya, tapi semut ini benar benar mempunyai nyali untuk menjelaskan statusnya didepannya. Memangnya apa yang ia lakukan dengan statusnya itu.
Kakek tua itu, hanya tersenyum tipis ketika mendengar ancamannya. Ia sama sekali tidak takut apapun, mati pun ia rela asalkan pasiennya tidak apa apa. Itulah sumpahnya. Namun, untuk menghentikan orang ini tidaklah mudah. Tapi tentunya ia sudah mempunyai rencana untuk menghentikannya.
"Aku memang mudah untuk kau bunuh. Tapi, seharusnya kau tidak lupa. Master sekte selalu mengawasi wilayahnya tidak peduli wilayah tersembunyi seperti sarang semut. Ditambah lagi, ada legenda Zhou weiqing disini. Apa kau pikir kau bisa lolos setelah membuat masalah disini? Mungkin, masalah membunuhku hanyalah masalah sepele untukmu. Tapi, jangan lupakan masalah setelah itu. Kau akan terkena masalah yang lebih besar karena membunuhku sama saja menyinggung mereka."
Setelah mendengar perkataan kakek tua itu. Han genyu yang tengah berada dikondisi membara, kini akhirnya mendingin. Ia kembali seperti semula, menghilangkan semua ancamannya. Kemudian bersikap bijaksana dan tenang sebagaimana sifatnya di depan para master lainnya. Ia pun tersenyum ramah kepada kakek tua itu.
"Sepertinya kau terlalu banyak berpikir, mana mungkin aku membunuhmu. Aku datang kesini hanya untuk mengunjungi cucuku. Tenang saja, kalau masalah kerusakan. Aku akan mengirimkan bawahanku untuk mengurusnya." Han genyu pun meletakan kedua tangannya kebelakang. Setelah itu, ia pun berjalan keluar dari tempat tersebut. Meskipun, ia masih tidak puas untuk meninggalkan Tang Liu dengan cepat. Namun, ada baiknya jika dia kembali saat gadis itu sadar dan pulih sepenuhnya.
Setelah kepergiannya, Kakek tua yang tengah berdiri diam disana, akhirnya menghela napas lega. Untungnya master tua itu termakan dengan ancamannya. Itu artinya, Han genyu masih memperhatikan reputasi dan masalah yang akan datang. Jika tidak, bukan hal yang sulit untuk membunuhnya ditempat ini. Ia benar benar bersyukur, masih mempunyai kesempatan untuk hidup.
Tanpa membuang waktu, kakek tersebut langsung menolong Ning er yang tengah tak sadarkan diri. Ia mengangkatnya sampai ke tempat tidur, diruang lain. Melihat kondisi gadis itu yang cukup memprihatinkan, kakek tersebut hanya menghela napas panjang.
"Maafkan aku. Sepertinya aku datang terlambat. Kau yang seharusnya sudah pulih dan bisa bertarung kembali. Malah tertidur tak sadarkan diri untuk memulihkan tubuhmu dalam waktu yang lebih lama lagi."