
Disebuah ruangan yang gelap gulita, perkumpulan tetua tetua sekte Darkdemon.
Dari tujuh tetua yang berkumpul, dua diantara adalah orang yang pernah bertarung dengan Qin yan. Pertama, Cui xie selaku ketua master sekte. Lalu Lui cha, tetua kelima sekte Darkdemon atau lebih dikenal sebagai otak rangkap perkumpulan sekte Darkdemon.
"Jadi pernikahan anak itu akhirnya tiba. Apakah kita akan menghadiri acaranya?" Tanya Cui xie kepada para tetua lainnya.
"Hm... Sepuluh tahun lalu kita gagal mengambilnya. Namun keluarga kecil dari kerajaan itu berhasil memanfaatkan keadaan, hingga raja disana dapat menyerahkan harta itu dengan sukarela." Berpikir ketua satu.
"Itu artinya kita hanya akan mengirim beberapa ahli saja kesana. Hanya untuk memastikan, dan juga sekte Racun pasti mengerahkan banyak para ahli untuk meratakan kerajaan kecil itu. Tampaknya kita tidak usah turun tangan, namun menyelinap diam diam, dan ketika mereka mendapatkan harta itu. Maka kita akan merebutnya." Lanjut Lui cha sambil tersenyum.
Mendengar itu, Cui xie mengangguk dengan setuju.
"Tampaknya bagus juga, kalau begitu kita akan mengirim lima orang ahli dari sekte kita. Satu tingkat Kaisar, dan keempat orangnya tingkat Raja." Setalah ia berbicara lima orang ahli langsung muncul didepannya. Satu orang tingkat Kaisar adalah seorang wanita, dan empat lainnya adalah seorang pria.
"Aku ingin kalian pergi ke kerajaan Sunmoon, periksa apa yang terjadi disana." Ditangan Cui xie kemudian tercipta sebuah token undangan, itu adalah token undangan yang mereka curi dari keluarga bangsawan yang terundang. Lalu ia memberikan token undangan itu kepada wanita tingkat Kaisar.
"Pergilah." Setelah ia berbicara, kelima sosok itu pun akhirnya menghilang secepat kilat.
Tindakan sekte Darkdemon juga sama halnya dengan pergerakan sekte Darah merah neraka. Namun mereka tidak sekalipun menyelinap, namun malah mengirim pasukan langsung kekerajaan Sunmoon. Tidak memakai cara bersembunyi apapun, mereka akan langsung menyergap kerajaan tersebut.
"Bagaimana sekarang?" Tanya seorang pria paruh baya mengahampiri seorang wanita cantik. Mereka semua melintasi langit, mengendarai burung merah berapi. Tapi wanita yang paling depan mengendarai sebuah phoenix, begitu anggun dan cenderung ganas. Wanita itu memakai armor merah beratribut api, terlihat seperti dewi perang. Tatapannya dingin dan angkuh menatap kedepan.
"Tiga hari lagi, kita akan tiba kekerajaan Sunmoon. Jadi setelah ini, jangan bertanya apapun lagi." Berkata wanita itu dengan sombong tanpa berbalik sedikit pun. Lalu setelah itu, ia melaju kencang meninggalkan pria itu dibelakang. Meninggalkan pria paruh baya itu yang raut wajahnya sangat kesal.
"Sial." Betapa kesalnya dia, saat wanita yang ia kejar selalu mengabaikannya sampai sekarang. Namun ia tak bisa apa apa, ia hanya akan diam namun suatu saat ia pasti akan mendapatkannya.
******
Pria berambut pirang panjang, Weisi berjalan masuk menuju jalan masuk kota.
"Ah, ayah tidak mungkin berbohong kan. Apakah benar Qin yan ada disini?" Dengan langkah ragu, ia pun berjalan masuk. Penampilannya yang begitu memaukau dan elegan, membuat penjaga pos tentunya tertarik ketika melihatnya. Pakaian yang sebagus itu, tentunya tidak lain adalah orang bangsawan.
"Maaf tuan, anda pasti datang karena pernikahan pangeran kami." Ucap mereka dengan ramah.
"Huh?" Namun Weisi hanya bingung dengan apa yang mereka bicarakan, ia sampai memiringkan kepala karena kebingungannya. Menatap mereka dengan bingung karena tidak tau apa apa. Namun pada akhirnya ia mengangguk seolah mengerti hal itu.
"Y-ya... Aku memang diundang. Hehehe..." Senyumnya dengan konyol.
Para penjaga pos awalnya terdiam, mereka saling memandang satu sama lain. Namun tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mempercayai pangeran satu ini.
"Oooh... Kalau begitu serahkan token undangannya."
Salah satunya mengulurkan tangan, meminta undangan dari Weisi. Namun anak itu tetap tidak tau apa apa. Token undangan apa, kenapa mereka tiba tiba membahas tentang undangan.
"Ooh, token undangan yah." Weisi pun berusaha memeriksa setiap saku pakaiannya. Keringatnya bercucuran saat ia tidak tau harus menyerahkan apa.
"Se-sepertinya itu terjatuh, di-dimana yah." Ia pun berpura pura mencari kesana sini.
Namun hal itu sudah membuat kedua penjaga pos tersebut mengerti siapa orang didepan mereka ini.
"Pasti ada disekitar sini." Weisi ingin mencari lagi, namun ia tiba tiba dihentikan dua penjaga itu.
"Oooh..." Dia hendak menjelaskan, namun kedua penjaga itu sudah menatapnya dengan tatapan dingin.
"Maaf tuan, anda tidak diperbolehkan masuk kekerajaan kami." Ucap mereka dengan angkuh.
"Hah. Kenapa?" Tanya Weisi dengan kaget. Ia sudah jauh jauh datang kesini, dan sekarang malah diusir.
"Itu karena anda tidak mempunyai token undangan. Siapapun yang tidak mempunyai token undangan, tidak diperbolehkan untuk masuk."
Weisi yang mendengar itu, jadi tidak percaya. Saat ini hanya satu dipikirannya, yakni menerobos masuk.
"Tuan, jika anda berpikir untuk menerobos masuk. Kami sarankan anda jangan melakukan itu."
"Kenapa? Kalian bisa menghentikanku?" Berkata Weisi dengan marah. Kedua penjaga didepannya hanya menghela napas. Seminggu ini, bukan hanya sekali dua kali orang yang berkata sama. Entah sudah berapa kali orang orang yang melakukan hal itu dan mereka berakhir dengan sekarat, tanpa diketahui apa yang terjadi.
Tidak cara lain, mereka harus memperingati pemuda ini sebelum ikut berakhir seperti mereka. Namun sebelum mereka menjawabnya, penjaga pos lain sudah keluar dengan membawa dua orang mayat.
"Hei, bisakah kalau kalian menjaga jalan itu, perhatikan baik baik pendatangnya. Karna keteledoran kalian, badanku jadi pegal karena mengangkut mayat dan pasien yang terluka kesana sini." Ucap pria itu dengan marah, setelah melampiaskan amarahnya. Ia pun menuju keluar.
"Ada ada apa dengan mereka?" Tanya salah satu penjaga pos yang menangani Weisi.
"Entahlah, kami hanya tiba tiba mendapatkan mayat ini, disekitar pos terakhir. Sepertinya mereka membuat keributan demi menerobos masuk."
Mendengar itu, mata Zhou Weisi jadi membesar. Ia pun berbalik kearah pria itu yang pergi membawa kedua mayat tersebut.
'Apa aku tidak salah dengar?' Batinya dengan alis berkerut.
Pria tadi membawa dua mayat tersebut sampai ketepi jurang. Membuang dua mayat tersebut kejurang itu.
"Huffp... Sialan, mengapa pekerjaanku harus menjadi kuli mayat." Berkata pria itu dengan kesal, ia pun menatap mayat mayat dibawa jurang tersebut. Hal itu membuatnya mual, tidak tahan melihat mayat yang menumpuk dibawa jurang tersebut. Membusuk, dan berulat.
"Astaga, sudah berapa banyak mayat yang kubuang disini. Apa yang terjadi sebenarnya pada mereka." Pria itu menutupi hidungnya sambil menahan muntah. Ia hendak pergi, namun tiba tiba mendengar suara misterius.
"Itulah memang yang harus kami tanyakan."
Ia tiba tiba berbalik dengan panik ketika mendengar suara tersebut.
"Siapa disana!" Teriak pria itu dengan ketakutan. Ia berbalik kesana sini, namun tidak menemukan siapapun. Ketika berbalik kebelakang untuk kelima kalinya, ia tiba tiba melihat seorang wanita berkudung hitam.
"........!!!" Ia ingin berteriak, namun seketika dagunya langsung digenggam dengan keras hingga tak bisa bersuara.
"Jangan bersuara loh, nanti ada yang dengar." Senyum wanita itu menjilat bibirnya. Suaranya begitu halus. Dalam sekejap, ia langsung mencium bibir pria itu. Mengelumnya dengan lembut, hingga pria itu merasakan kenikmatan. Namun seketika matanya membesar, roh dalam dirinya perlahan ditarik kedalam mulut wanita itu. Sampai akhirnya, ia pun berubah menjadi mayat dengan kulit pucat dan tirus.
"Tch, meskipun dia seorang penjaga tapi dia tidak tau apapun. Cih, dasar tidak berguna." Wanita itu melepaskan mayat tersebut dengan kasar.
Namun beberapa saat kemudian, ia pun menjongkok mendekati mayat itu. Menyentuh mayat tersebut sambil membaca mantra. Seketika mayat tersebut langsung bangun dalam keadaan tidak terurus lagi. Biasanya itu disebut Zombie.
"Groaaaa!!!" Mayat tersebut mengendus seperti babi, mencari mangsa.
"Hm... Anak baik, nanti dulu makannya yah." Senyum wanita itu mengelus rambut mayat itu, dengan patuh mayat tersebut mengangguk lalu masuk kedalam tanah.
"Seperti yang diharapkan keluarga Tenryu." Seorang pria muncul dibelakang wanita itu. Mereka adalah sekutu, dan berasal dari sekte Darkdemon.
Padahal pria itu tampak memujinya, namun ia tetap diam tak berekspresi.
"Eh, nona. Kenapa tidak membangkitkan mayat dalam jurang itu?" Tanya pria itu dengan senyuman, namun sebenarnya ia kesal kenapa wanita itu malah mengabaikannya.
Tanpa berbicara apapun, wanita itu berjalan melewatinya. Membuatnya semakin kesal.
"Hm... Sepertinya aku tahu alasanya. Keluarga Tenryu kan tak bisa membangkitkan orang mati." Mendengar itu, wanita tersebut terhenti. Mata menyala menatap pria itu. Membuang salah satu kertas pola prasasti kedalam jurang. Sesaat kemudian, salah satu mayat pun keluar mendaki jurang tersebut. Membuat mata pria yang mengejeknya jadi terbelalak.
"Sebaiknya kau jangan berbicara sembarangan. Atau tidak, aku juga akan menkadikanmu menjadi mayat hidup." Ia pun lanjut jalan ditemani mayatnya.
Jika bukan karena jenius ini berada ditingkat Kaisar, pria itu tentu tidak akan takut padanya. Jika saja tingkatan mereka sama, ia pasti akan menikmati wanita itu.
"Sial." Hanya itu yang ia ucapkan, kemudian mengikuti wanita tersebut. Berjalan memasuki kerajaan Sunmoon.
*******
"Tuan, anda lebih baik pergi saja sana. Mengganggu suasana saja." Usir kedua penjaga tersebut melihat Weisi yang tak kunjung pergi. Bahkan mereka dibuat pusing olehnya, kenapa anak ini keras kepala sekali.
"Hei, kalian amatiran sialan. Kalian tidak tau siapa aku. Aku ini putra sang legenda, Zhou weisi. Kalian akan menyesal jika kalian mengusirku." Bentak Weisi dengan kesal, menatap mereka berdua dengan marah.
"Eits, sudahlah. Siapa juga yang percaya padamu." Kedua penjaga itu tetap bersikeras mengusirnya. Membuat Weisi tidak punya cara lain. Ia pun mengeluarkan koin emas, namun ditolak mentah mentah.
Semakin banyak ia menawarkan koin, semakin dilema juga mereka. Namun, uangnya sudah diambang kehabisan namun mereka bahkan belum membiarkannya masuk.
"Anak muda, kami ini bukannya tak mau. Tapi kami kasihan padamu. Jangan sampai kau seperti mereka tadi." Sekali lagi, kedua penjaga itu memperingati Weisi. Namun Weisi sama sekali tak mendengarkan.
"Kalian ini, sudah aku bilang aku ini putranya sang legenda. Lihat ini..." Ia pun mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin penyimpananya, ingin memperlihatkan bukti pada mereka. Namun tiba tiba, lima orang berjubah hitam melewatinya.
'Ini...' Weisi terkejut, karena aura mereka benar benar membuatnya gelisah.
"Selamat datang. Anda pasti datang kepernikahan pangeran kami kan." Senyum kedua prajurit itu dengan ramah, membuat Weisi muak melihat topeng itu.
Namun matanya membesar, saat orang yang paling depan mengeluarkan sebuah token. Dan token itu ternyata adalah token undangan. Kedua penjaga itu cukup melihat dan memeriksa token tersebut lalu mengembalikan kepada mereka.
"Silahkan masuk." Kedua penjaga itu kemudian mempersilahkan mereka, membuat Weisi membeku tidak percaya. Namun sebelum mereka pergi, orang berjubah paling depan menunjukan wajahnya. Dia seorang wanita dan menunjukan senyum menggoda padanya.
'Sekte Darkdemon!' Batinnya dengan tak tenang.
Kedua penjaga yang melayani, kembali berjaga dengan serius. Namun ketika menatap kedepan, anak keras kepala tadi sudah tidak ada.
"Eh, dimana dia?" Berkata mereka dengan bingung.
Diluar jalur jalan masuk.
Weisi terpaksa menyelinap kehutan, demi masuk kekerajaan Sunmoon. Ia berjalan mengarungi jalan tersebut sambil mengoceh sendiri.
"Dasar sialan! Mereka bahkan tidak membiarkanku masuk. Terpaksa, aku harus melewati jalan pintas." Senyum Weisi dengan licik, ia tertawa sendiri melewati hutan tersebut. Namun ia tidak menyadari, kalau berbagai hewan mengawasi keberadaanya. Tatapan mata mereka, meskipun dari hewan yang berbeda beda, namun tatapan mereka seperti setan.
'Ukh.... aku merasa merinding.' Batin Weisi sambil meriksa tubuhnya. Meskipun ia berbalik kemana mana, ia tetap tidak menemukan siapa yang mengawasi dirinya. Dari tadi, ia selalu merasa, seperti ada banyak orang yang tengah mengawasinya.
Setelah beberapa lama berjalan.
'Sial, ada yang aneh dengan tempat ini.' Berkata Weisi dengan mata membesar, menatap gurun didepannya. Setelah keluar dari hutan, ia tiba tiba berada digurun. Sungguh aneh, rasanya seperti dua kawasan tersebut berdampingan satu sama lain. Namun ketika berbalik kebelakang, hutan tersebut menghilang.
'Sial, apa apaan ini!' Sebuah palu langsung muncul dari tangannya. Sambil memeriksa keadaan disekitarnya.
Matanya membesar saat melihat ratusan mayat bertebaran didepannya.
"Kerajaan Kalise?" Gumam Weisi dengan heran ketika memeriksa mayat tersebut. Kenapa prajurit kerajaan Kalise ada disini.
Tiba tiba segerombolan roh hitam melayang dilangit. Begitu banyak sampai mulut Weisi menganga, karena roh hitam tersebut menutupi langit dan menghalangi sinar matahari.
"Ini!!!" Mata Weisi langsung terbelalak, benda hitam tersebut langsung menuju kearahnya.
"Wrooo...!!!" Semua langsung menutupi tubuh Weisi.
"DUAR" Namun tiba tiba ledakan terjadi, kumpulan roh iblis tersebut musnah diterpa cahaya tersebut.
Weisi kembali mencabut palunya yang tertanam didalam tanah. Tiba tiba dari belakang kumpulan roh tersebut muncul lagi. Ia pun mengeluarkan busur, memanah mereka. Ledakan pun terjadi, memusnahkan kumpulan roh iblis tersebut. Lalu dari samping kumpulan yang lain juga muncul. Semuanya juga dihancurkan, setelah itu mereka muncul lagi. Dan sekali lagi, roh iblis itu kembali dihancurkan.
Begitulah seterusnya, satu jam, dua jam, tiga jam. Satu hari pun berlalu.
"Hah hah hah" Napas Weisi sudah tak teratur lagi. Keringatnya bercucuran, dan badannya basah kuyup akibat keringat tersebut.
Kumpulan roh iblis lain mulai menyerang juga, mereka tak memberi Weisi yang beristrahat, bahkan ia tidak diberi kesempat untuk duduk menghela napas.
"Wssshh" Percikan emas muncul dikedua tangannya. Lalu percikan emas tersebut berubah menjadi senjata laser.
"SWOOOSSHH" Tanpa ragu ia langsung menembak roh iblis tersebut. Namun sekarang keadaan tubuhnya tidak seperti tadi.
'Ukh... Energi Saintku mulai habis.' Batin Weisi sambil memegang tangan kirinya yang keram. Beberapa kali ia menggunakan energi Saintnya untuk menciptakan senjata dari dimensi lain. Namun, makhluk tak jelas ini menyerang tanpa ada habis habisnya.
Terpaksa ia pun hanya berfokus, lalu berteleportasi. Namun tetap saja, tempat yang lain juga dipenuhi roh jiwa iblis. Pada akhirnya, skill elemen angin pun keluar, elemen waktu, spasial, Divine, elemen roh, dan mode virtual beast juga langsung diaktifkan. Weisi menggunakan itu semua untuk bertarung mati matian melawan mereka.
Sampai akhirnya, 1 bulan pun berlalu. Keadaan Weisi sudah tak bisa lagi dijelaskan, luka serta pakaiannya yang kumal sudah tak bisa didefinisikan lagi.
"Air air air." Ucap Weisi dengan dengan suara serak. Darah mengalir dimulutnya.
"AIIIIIIIIRRR.....!!!!" Teriak Weisi menatap langit.
*******
Dalam sebuah perjalanan, Doi wei selaku kepercayaan Han genyu. Mengendarai kuda dalam perjalanan menuju kerajaan Sunmoon. Cukup banyak pasukan yang dibawa dibelakang, namun semuanya berada ditahap ahli tingkat Saint, sage, Jenderal, Raja, bahkan tingkat Kaisar sekali pun. Untuk Dou wei sendiri, ia telah mencapai tahap Jenderal. Dan saat ini sedang mengendarai kuda dibarisan paling depan, hanya saja saat ini ia tengah melamun. Entah apa yang ia pikirkan.
"Hei, bukankah sudah kubilang. Kita sudah mempunyai cara untuk masuk kesana, kenapa kau melamun terus?" Berkata seorang ahli tingkat Kaisar mendatangi dirinya. Dia adalah Wuang sheng, orang yang pernah bertarung dengan Qin yan saat berada dikerajaan Dandun.
"Bukan begitu paman, hanya saja. Kerajaan itu meninggalkan bekas yang dalam padaku." Jawab Dou wei dengan pelan.
"Iyah, aku tahu itu. Kau bahkan sudah mengatakannya lima kali hari ini. Sebenarnya apa yang terjadi padamu saat kunjungan ke kerajaan kecil itu?" Wuang sheng makin penasaran melihat pria itu yang ekspresi wajahnya seperti tidak bersemangat.
Pertanyaan berkali kali itu, pada akhirnya Dou wei pun menghela napas, lalu menatap langit.
"Kerajaan itu aneh, saat aku pergi saat itu. Semua kosong, dan tidak berpenghuni."
Mata Wuang sheng membesar mendengar itu.
"Kosong?"
"Ya. Daerahnya kosong, membuatku bingung dengan apa yang terjadi. Berkeliling beberapa kali pun, aku masih tidak menemukan orang. Bahkan ketika aku ingin pulang, aku akan tetap kembali ke kerajaan itu. Hal itu membuatku kesal, namun pada akhirnya aku merasa putus asa disaat memasuki satu tahun. Tidak bisa kultivasi karena tak ada energi, akupun mencari air kemana mana. Haus, lapar, lelah, menggorogoti ragaku. Aku tidak bisa membedakan hari karena disana tidak ada malam. Aku hanya merasa satu tahun sudah berlalu begitu saja."
Wuang sheng yang mendengar itu, ia tidak bisa berkata kata. Apa itu, ia tidak pernah mendengarnya. Seumur hidup ia tak pernah mendengar itu kecuali dalam reruntuhan kuno. Perkataan Dou wei tidak masuk akal, namun ia tahu kalau pria ini tidak bercanda atau sekalipun berbohong padanya.
"Jadi, bagaimana kau bisa lepas darinya?" Tanyanya lagi dengan penasaran.
"Apa?" Namun Dou wei hanya menatapnya dengan malas.
"Maksudku bagaimana kau bisa melewatinya!! Kau ada disini, karena kau bebas kan!!" Teriak Wuang shen dengan marah.
Dou wei hanya menghela napas mendengarnya. Ia pun kembali menatap langit.
"Oh, itu. Aku tidak tahu. Aku hanya berlari mencari jalan tanpa kenal menyerah. Aku terus berusaha meski tau itu sia sia, aku terus membohongi diriku sendiri. Dan pada akhirnya kepercayaanku menjadi jadi. Aku terus berusaha, meskipun tubuhku tidak mampu lagi. Aku gila, aku putus asa. Namun mengingat beberapa hal yang berharga bagiku. Aku tidak bisa, aku punya alasan untuk pulang. Disaat aku tidak mampu lagi, tubuhku jatuh tak berdaya. Mataku gelap, ingin pingsan. Padahal aku masih belum menyerah. Aku berpikir apakah aku akan mati disini? Tapi aku masih ingin pulang, masih ada hal yang harus kulakukan. Disaat mataku tertutup, aku rasa itulah akhirnya. Namun pada saat aku bangun, ternyata aku berada diluar perbatasan kerajaan Sunmoon. Karena ketakutan, aku pun langsung."
Wuang sheng terdiam mendengar ceritanya. Ia masih berpikir, apa amanat yang didengar dari cerita ini.
"Jadi kau tidak menyerah, sampai kau lolos yah. Tapi, berapa lama kau berada disana?" Tanyanya lagi.
Dou wei berpikir sejenak.
"Aku tidak tau pasti, tapi itu lama sekali. Aku yakin kau pasti merasa putus asa dan gila. Tidak tau berapa lama, aku pun tak bisa menghitungnya." Berkata dirinya sambil menggelengkan kepala.
Medusa yang tengah membagikan tiket kepada para warga dikota, tiba tiba terhenti. Entah seperti ada yang sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia pun melirik Qin yan yang memakai topeng, sedang membawa banyak tiket. Ia tengah diam dan menunggu para suruhannya, datang mengambil tiket lagi padanya.
"Qin yan." Panggil Medusa dengan pelan.
"Um, ada apa?" Jawab Qin yan. Medusa pun menuju kearahnya.
"Ada sesuatu yang menjanggal pikiranku. Kalau pernikahan Qian yu ini dipublikasikan, seharusnya banyak orang yang berdatangan. Tapi, aku lihat hanya sedikit orang yang datang. Seperti yang mendapat undangan saja yang datang." Berkata Medusa dengan heran.
"Apa maksdumu?" Tanya Qin yan dengan alis berkerut.
"Maksudku, kerajaan ini mempunyai banyak musuh. Seperti Sekte Racun, sekte Darkdemon, dan Sekte darah merah neraka. Apalagi kerajaan Kalise, mereka pasti akan memanfaatkan ini untuk menyerang bukan?"
Mendengar perkataan Medusa, Qin yan hanya tersenyum.
"Kau tidak salah, tapi aku yakin mereka pasti tidak mungkin tidak tau tentang segel penjaga kerajaan ini. Dengan itu, mereka akan mewaspadai hal tersebut lalu menggunakan segala cara demi menerobos kejalan masuk."
Medusa langsung terdiam mendengarnya. Ia hanya menggelengkan kepala melihat Qin yan menyombongkan segel perbatasan tersebut.
"Kau ini, apapun yang kau miliki pasti akan kau sombongkan. Aku bahkan tidak mengerti, apa yang ketiga sekte itu takutkan ketika menyelinap masuk?" Tanyanya dengan heran.
Qin yan makin tertawa mendengarnya.
"Hm.... Medusa, kau tidak tau karena kau tak pernah mengalaminya. Dengarkan ini baik baik, setiap orang yang memaksa menyelinap ke kerajaan Sunmoon akan berhadapan dengan segel tersebut. Mereka akan dibawa masuk kedunia yang jauh dari kata neraka. Tidak ada penyiksaan, hanya ada pengujian. Waktu yang akan mereka tempuh yakni sepuluh tahun, tanpa makan, minum, tidur, bahkan tanpa istrahat sekalipun. Hanya tekad dan keteguhan hati yang bisa membuat mereka bertahan."
'Hanya tekad dan keteguhan hati yang bisa membuatmu bertahan.'
Weisi yang tengah pingsan ditengah padang pasir, kini membuka mata. Dirinya sekarang tak bisa lagi bergerak. Membuka mata saja sangat susah, untungnya para roh jiwa iblis yang mendatanginya sekarang sudah menghilang.
Sekarang sudah sepuluh tahun berlalu, Weisi sudah gila dibuatnya. Ia hanya bisa merangkak ditempatnya. Tidak bisa bergerak sama sekali, membuatnya putus asa.
'Hanya tekad dan keteguhan hati yang bisa melewatinya.'
Tiba tiba ia teringat kata kata itu, kata kata yang pernah ayahnya berikan padanya.
"Jika suatu saat nanti kau berada disituasi sulit yang membuatmu gila dan putus asa. Ingatlah orang yang kau sayangi, ingatlah mereka. Dengan begitu kau masih punya alasan untuk pulang. Alasan itu yang akan membangkitkan semangatmu, dengan adanya alasan itu. Tekad dan keteguhan hati akan terbentuk, hanya tekad dan keteguhan hatilah yang bisa membuatmu melewati ujian seberat apapun."
Jelas itu adalah perkataan ayahnya, tapi kenapa ia merasa itu juga adalah perkataan Qin yan. Mengingat anak itu, Weisi mengepalkan tangan.
'Qin yan, anak itu. Anak yang aku kagumi, aku hanya ingin melawan dan menguji kekuatanku. Aku tidak boleh kalah disini, jika tidak. Dimana wajahku nanti saat aku bertemu dengannya. Jika berhenti disini, bagaimana mungkin aku punya hak untuk melawannya. Aku tidak boleh menyerah, aku punya alasan untu datang kesini. Dan juga aku punya alasan untuk pulang. Liu xia chan, Bie er, ayah, ibu. Mereka menungguku dirumah, aku tidak mungkin meninggalkan mereka seperti ini.'
'Aku..... Tidak... Boleh.... menyerah.' Tanpa sadar, Weisi pun berdiri. Padahal ia tidak punya tenaga lagi. Tapi ia berdiri, tatapan Weisi menghadap kedepan. Ia menelan air liurnya sendiri. Lalu berteriak sekeras yang ia mampu.
"HUAAAAAAAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!!!!"