
Sehari sebelumnya. Asosiasi Gulungan Kondolisasi.
Duan tianlang duduk disamping jendela, menikmati waktu tenangnya. Meresap tehnya diatas meja, kemudian meraih kertas berisi desain kapal yang ada didepannya.
Cukup lama juga ia memandangi desain itu, dan akhirnya ia pun menghela napas.
"Tok tok" Terdengar suara pintu yang diketuk.
"Master, ini aku." Lalu disusul suara pria yang bersalam.
"Masuklah." Jawab kakek itu dengan tenang. kemudian pintu dibuka, Zhou weiqing bersama putranya Weisi pun memasuki ruangan. Melihat melihat guru mereka yang duduk tenang, mereka pun memberi hormat.
"Master. Mengapa anda memanggil kami?"
Duan tianlang hanya menutup matanya. Ia pun kembali meresap tehnya, kemudian berdiri.
"Aku akan pergi. Mulai sekarang, asosiasi akan ku serahkan pada kalian."
"Apa!!" Mata Weiqing dan Weisi jadi membesar.
"Apa maksud anda master?" Tanya mereka secara bersamaan.
Duan tianlang menghela napas. Lalu membelakangi mereka, berjalan kearah jendela.
"Siang terus berganti malam, waktu terus berjalan dan usia terus bertambah. Tapi keinginan untuk menimbah ilmu tidak boleh berhenti. Weiqing, aku memang sudah tua. Tapi orang tua ini telah menemukan jalan hidup baru untuk mulai mempelajarinya. Aku akan pergi untuk beberapa waktu. Aku sudah cukup melihat kalian tumbuh sampai saat ini. Sudah waktunya aku meninggalkan kalian. Kuharap, kalian bisa menjaga asosiasi ini menggantikan diriku."
Weiqing terdiam, matanya menggenang. Sama halnya dengan Weisi. Anak itu muda itu, melihatnya membuat Duan tianlang tersenyum lembut. Ia pun mengusap kepala anak itu.
"Weisi, aku sendiri melihatmu tumbuh dari sosok bayi sampai sekarang. Sifatmu sama seperti ayahmu nak. Kau anak yang baik, berbakat dan mempunyai pola pikir luas. Aku harap, kau menemukan sebuah tujuan yang dapat membuatmu untuk berusaha menggapainya." Senyum kakek itu, Weisi sampai tak kuasa menahan tangisnya. Ia pun memeluk kakek itu dengan erat.
Duan tianlang hanya mengusap punggungnya. Anak ini sudah ia anggap seperti cucunya sendiri. Dan itu merupakan kebahagiaannya tersendiri. Tidak pernah terbayangkan kalau ia akan mempunyai cucu, mempunyai anggota keluarga.
Namun, ada yang mengganggu pikirannya. Weisi, umurnya hampir 20 tahun. Mempunyai perbedaan beberapa tahun dari anak itu. Namun, jelas sekali, pengetahuan mereka berbeda terlalu jauh.
Cih, padahal ia sudah menganggap dirinya jenius. Atau gurunya yang jenius, bahkan memuji Weiqing dan Weisi adalah jenius. Padahal, diantara mereka, ada orang yang jauh dari perkiraannya.
Duan tianlang pun melepaskan anak itu. Ia berjalan keluar. Tentu saja ia akan pergi. Namun, siapa sangka. Sahabat terbaiknya juga datang rupanya.
Long Siya. Teman masa kecilnya, umur mereka sama. Dan mereka sama sama guru dari ayah dan anak itu. Hanya saja, perbedaannya yaitu, pria ini mengajarkan tentang kultivasi, pertarungan dan lain lain. Sementara dia, hanya mengajarkan profesi membuat gulungan kondolisasi.
"Benarkah, kau akan pergi?" Tanya pria tua itu dengan tangan disilang didada. Ia bersandar di dinding dengan santai.
"Ya." Jawab Duan tianlang pelan.
"Apakah akan lama?" Tanyanya lagi .
Duan tianlang terdiam sejenak. Ia hanya mengelus janggutnya.
"Jika urusanku telah selesai. Aku akan kembali."
"Hahah.... Benar benar kau ini......" Long Siya hanya menggelengkan kepala mendengarnya. Duan tianlang juga tersenyum, ia pun berjalan pergi. Senyum diwajah Long Siya perlahan hilang. Yang ada hanya raut wajah sedih menyaksikan sahabatnya pergi. Biasanya mereka akan bersama sama untuk pergi berpetualangan. Tapi sekarang, mereka tidak muda lagi. Ia mengira, mereka juga akan menghabiskan waktu pensiun mereka di kubu ini. Ternyata, pak tua itu masih ada keinginan untuk mencari yang lain.
Haaah.... Bagaimana pun, ia tidak bisa menghentikannya. Long Siya hanya diam menyaksikan kepergian sahabatnya.
'Jika umur masih panjang, kita mungkin akan bertemu lagi sesuai takdir.' Batin mereka bersama sama dalam hati.
Tiba tiba, Weiqing dan Weisi pun keluar. Mereka segera bersujud dan melakukan Kowtow sebanyak tiga kali.
"Terimah kasih atas bimbingan anda selama ini master!" Ucap Weiqing dan Weisi secara bersamaan.
Mereka mungkin tidak akan percaya, master yang selalu mereka hormati bahkan harus berlutut. Pasti tidak akan menyangka kalau masternya berlutut pada orang yang tidak pernah mereka duga.
Qin Yan bahkan sampai terkejut melihat tindakan kakek tua ini yang tengah berlutut satu kaki padanya.
"Hei hei, apa yang kau lakukan? Kau seorang legenda, mempunyai murid yang juga seorang legenda. Apa kau akan menurunkan harga dirimu hanya untuk anak muda sepertiku?" Qin Yan langsung membantu pria tua itu berdiri.
"Jangan lakukan ini lagi. Kalau tidak, wajah apa yang akan kuberikan pada Weisi dan orang tua itu."
"Hehehe.... Tidak peduli aku seorang legenda atau bukan. Faktanya aku belajar padamu sekarang. Jadi wajar kalau aku melakukan nya." Pria tua itu hanya tertawa dengan wajah berseri seri.
Qin Yan menghela napas.
"Huh, aku tidak tau apa yang kau rencanakan ketika mengikutiku. Tapi, percuma juga kita menyimpan ilmu sendiri. Toh, aku juga tidak akan tinggal didunia ini begitu lama. Kuharap, kau tidak menyalahgunakannya. Dan juga, aku bisa menyerahkan ini padamu agar nanti kau bisa menemukan generasi yang tepat untuk mewarisinya."
Duan tianlang langsung tertegun dengan perkataan Qin Yan. Apa ini? Kata kata ini..... Di ucapkan oleh anak muda? Rasanya ia seperti mendengar ocehan orang tua. Bukankah jalannya masih panjang? Kenapa berbicara seperti itu kayak orang mau mati. Entah kenapa, ia merasa anak ini jauh lebih tua darinya. Ilmu yang ia punya jauh lebih luas dari pada yang ia bayangkan.
Memang benar ia mempunyai niat tersembunyi ketika mengikuti anak ini. Hanya untuk mencuri desain sempurna dari kapal yang akan ia ciptakan nanti. Ia bahkan sampai nenurunkan harga dirinya sekarang. Ia kira anak ini akan mempersulitkannya. Siapa sangka, ia memang sudah ditunggu. Apakah setelah ini, ia akan berbuat licik? Menghianati kepercayaan anak ini?
Tidak tidak. Ini bukan sifatnya yang sebenarnya. Duan tianlang pun sadar, seorang legenda berbuat seperti ini pada seorang bocah. Ini sangat memalukan. Dia mungkin akan malu jika muridnya dan sahabatnya melihat dia berlutut didepan seorang bocah. Tapi ia rasa, mereka akan lebih malu jika mereka melihatnya berbuat yang tak pantas seperti menghianati janjinya sendiri. Ini merupakan hal tabu jika dia melakukannya.
Sudah diputuskan, ia akan mengikuti anak ini sepenuh hati. Tapi..... Ada yang sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Qin Yan, apa kau benar seorang bocah? Kau yakin kita tidak seumuran?" Tanya orang tua itu dengan penuh kepastian.
"Tentu saja tidak." Jawab Qin Yan dengan lantang.
"Umur kita berbeda jauh, sangat jauh. Dan pengalaman ini terhalang oleh dinding yang sangat tebal."
Duan tianlang terdiam. Apa anak ini berbicara tentang dia yang lebih muda darinya atau dia yang jauh lebih tua darinya?
Ucapan yang cukup mudah dipahami, tapi Duan tianlang sulit untuk mencernanya.
Hatinya dipenuhi pertanyaan, tapi ia tidak bisa menemukan jawaban apapun.
Hari hari berlanjut seperti biasa. Tidak ada hal lain yang lebih istimewa.
Qin Yan mendapatkan informasi dari guru pendamping mereka, Lu xian. Bahwa turnamen kompetisi akan dimulai 1 Minggu kemudian. Ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mempersiapkan diri sebelum pertarungan dimulai. Dengar dengar, aturan kali ini berbeda dengan aturan yang lama. Babak baru akan segera dimulai. Turnamen yang berawal dari sebuah kesalahpahaman kini berjalan ke babak yang jauh lebih menegangkan lagi.
Hari pertama, Qin Yan habiskan untuk tidur seharian. Setelah memberikan desain miliknya pada Duan tianlang untuk diteliti, Qin Yan tidak mempunyai waktu lagi untuk berbuat apa apa. Sebenarnya hari itu adalah kompetisi Penempaan. Qin Yan dengan senang hati mengikutinya. Tapi, melihat semangat Lin fin, Qin Yan jadi tak tega untuk mencuri perhatian para tetua, dan membuat kesempatan Lin Fin sebagai pandai besi terkenal jadi menghilang.
Jadi, ia pun memutuskan untuk mengajari Lin Fin beberapa teknik penempaan.
Malamnya, Qin Yan kembali turnamen bawah tanah. Disana, Tang Xinglian mulai menjadi terkenal lagi.
"Pertarungan selanjutnya. nomor Tiga kembali melawan dewi api, Tang Xinglian!!"
"Kali ini, aku tidak kalah lagi darimu!!" Ucap gadis itu dengan penuh kebencian. Ia maju dan mengeluarkan semua jurus yang ia miliki.
Namun pada akhirnya, gadis itu kalah lagi melawan Qin Yan. Dua kali menang melawan peserta yang sudah menang sebanyak 30 pertarungan secara berturut turut dalam dua pertarungan. Membuat nama samaran sang legenda semakin terkenal. Qin Yan semakin menjadi pusat perhatian bagi peserta terkenal lainnya.
Hari kedua, Bi Li, presiden asosiasi dari bidang Alkhemis datang berkunjung untuk bertemu Xiang Xiang. Tapi ia tidak sengaja melihat Qin Yan dan Tang Liu bertengkar hanya karena soal masakan. Situasinya jadi semakin runyam ditambah dengan tingkah teman teman lainnya yang begitu heboh.
Malamnya seperti biasa, Qin Yan akan kembali turnamen bawah tanah. Kali ini ia melawan mantan peserta turnamen dari kerajaan Nerta. Siapa lagi kalau bukan Cu he dan Nea Ninggian. Mereka cukup terkenal di sini. Memenangkan 28 pertarungan dan 3 kali kalah dalam 31 kali pertarungan 2 vs 2. Tapi, mereka juga kalah telak ketika melawan Qin Yan.
Selanjutnya, ia juga melawan Chen Yue. Gadis itu, memenangkan 10 kali pertarungan dan 5 kali kalah dalam 15 kali pertarungan. Tapi, ketika bertarung dengan Qin Yan, ia mengeluarkan semua kemampuan yang ia miliki. Bahkan sampai mengorbankan nyawa. Ia berhasil membuat lawannya yang pernah menang darinya jadi kembali menciut. Namun pada akhirnya ia pun juga kalah dari Qin Yan.
Hari ketiga, Weisi datang dan mengajak Qin Yan dan teman temannya untuk menikmati permandian air panas. Sepertinya ia itu ide yang bagus, dan Qin Yan dengan senang hati setuju. Hampir saja ia melihat ruangan dimana Duan Tianlang bekerja, jika tidak, ia tidak tau harus memakai ekspresi apa ketika Weisi melihat masternya bekerja dibawahnya.
Di permandian juga, ia melihat banyak orang orang yang ia kenal. Seperti Xingyun, Xuan ziwei, Dai Yueheng, Gu Yimbing, Zhang lizian dan lain lain. Dan disitulah Zhou Weisi memperkenalkan adik tiri pertamanya. Zhou Yuzhen. Anak yang seumuran dengan Qin Yan, namun pria itu sangat angkuh dan tidak menganggap Qin Yan. Malah menganggap Qin Yan sebagai musuh yang harus ia kalahkan. Mata pria itu menunjukan rasa iri dan arogansi yang luar biasa. Menganggap Qin Yan keturunan manusia rendahan bisa mempunyai kekuatan seperti itu merupakan suatu kebetulan. Qin Yan bahkan hampir saja meninju keras wajah anak ini. Jika bukan karena Weisi yang menghentikannya, kemungkinan kerajaan Zhongtian kembali dikejutkan oleh kekacauan yang ia lakukan.
Karena sifatnya yang sangat bertolak belakang dari Weisi, Qin Yan jadi tidak mendekatinya atau berteman dengannya. Berteman dengan orang seperti itu sama saja mencari tempat untuk menguji kesabaran.
Malamnya, pemijatan ketiga Qiu er kembali terlaksana. Kali ini, gadis itu tidak bisa menahan gairahnya lagi karena pijatan Qin yan terlalu memuaskan. Jika bukan karena Qin Yan membuatnya pingsan dengan paksa, bisa jadi gadis itu picah perawan.
Lebih dari dugaan Qin Yan, memar gadis itu dengan cepat sembuh dalam waktu 10 hari ini. Pada pertemuan ke empat, kemungkinan Qin Yan akan menuntun gadis ini untuk menggunakan tongkat Giok naga yang akan mengatasi tubuh ilahinya.
Hari hari selanjutnya terus berlanjut seperti biasa. Reputasi Qin Yan di turnamen bawah tanah semakin meningkat. Ia sudah memenangkan lebih dari 50 kali pertarungan. Dan sebentar lagi akan masuk ke pertarungan antar para teratas. Artinya melawan peserta yang juga telah memenangkan 50 kali pertarungan.
Sampai akhirnya, sehari sebelum turnamen memasuki babak eliminasi.
Malamnya, Qin Yan kembali menemui Qiu er lagi. Kali ini mungkin akan menjadi terakhir kalinya bagi mereka untuk datang kesini.
Qin Yan duduk dibelakang gadis itu. Sementara Qiu er sudah mulai menyerap energi dari tongkat giok naga yang ia berikan.
Aura Qiu er pun mulai keluar, cahaya menyelimuti tubuh gadis itu.
"Ukh...." Tiba tiba raut wajah Qiu er terlihat kesusahan. Qin Yan pun mulai memeriksa, ternyata benar saja. Tubuh ilahi Qiu er lebih mendominasi daripada jiwa gadis itu.
"Ugh...." Tidak lama kemudian, Qiu er mulai berteriak kesakitan. Hal ini jelas membuat Qin Yan khawatir. Tapi, sebagai penjaganya, ia sudah tau apa yang harus dilakukan.
"Hup!" Qin Yan langsung menyentuh punggung gadis itu menggunakan telapak tangannya. Ia mengalirkan energi mentalnya kedalam diri gadis itu. Tidak lama kemudian, Qiu er mulai tenang.
Namun beberapa saat kemudian, gadis itu berteriak lagi. Tubuhnya seketika memanas, kemudian menjadi dingin, sangat dingin. Bahkan membekukan telapak tangan Qin Yan.
Hal ini membuat Qin Yan mengerutkan kening. Ia kembali menambahkan energi mentalnya.
"Bertahanlah Qiu er, selesaikan semuanya." Qin Yan berbisik pelan pada gadis itu. Qiu er yang tengah menutup mata dengan ekspresi sakit akhirnya menunjukan tekat. Dirinya mulai menghisap energi tongkat itu sampai habis. Setelah itu, tubuhnya gemetar seketika. Qin Yan dibuat kewalahan menghadapi semua itu. Ternyata tubuh gadis ini sudah sampai ketahap ini, tahap dimana sangat sulit untuk mengendalikannya. Jika sejak awal Qiu er mengalami transformasi iblis seperti Tang Liu, kemungkinan besar ia bisa mengendalikan kekuatannya. Sayangnya, sampai sekarang, aura negatif selalu diam dan bersemayam dalam tubuh gadis ini.
Prosesnya berjalan cukup lama, hingga hidung Qin Yan juga mulai mimisan. Tapi ia tetap bertahan agar Qiu er berhasil mengatasi aura negatif ditubuhnya.
"Hah!" Tiba tiba Qin Yan membuka mata, tubuh Qiu er mengeluarkan asap hitam semacam roh. Roh itu mempunyai mata merah, dan ia menatap Qin Yan dengan tajam.
'Apa! Bahkan tubuh ilahi Qiu er sudah mempunyai kesadaran sendiri?' Qin Yan jadi mundur waspada, tapi sosok makhluk tak mau melepaskannya begitu saja. Ia putus dari tubuh Qiu er. Maju dan menyerang Qin Yan.
"Sing. sing. sing." Pertarungan pun terjadi. Sosok itu mengeluarkan jari yang tajam. Qin Yan selalu menangkisnya dengan pisau yang ia miliki.
"Slash" Pada akhirnya Qin Yan berhasil menebas sosok itu. Qin Yan pun menghela napas, sosok itu terbelah menjadi dua dan berubah menjadi asap. Namun tidak lama kemudian sosok itu kembali terbentuk.
"Apa! Sialan!!" Kutuk Qin Yan. Ternyata sosok ini sangat menyebalkan. Sosok itu kembali menyerangnya lagi.
Qin Yan kemudian mengeluarkan elemen anginnya. Lalu mengeluarkan elemen api, tapi tiba tiba suara Neidan menghentikannya.
"Jangan membunuhnya. Jiwa negatif itu adalah jiwa gadis itu juga. Bisa dibilang, itu adalah sisi Qiu er yang satunya."
'Apa. Masa iya Qiu er ingin menyerangku.' Tanya Qin Yan dengan bingung. Namun Neidan tidak lagi menjawabnya.
"Sialan." Qin Yan hanya bisa mengutuk lagi. Bagaimana caranya mengalahkan makhluk itu tanpa membunuhnya.
"Hanya gadis itu yang bisa melakukannya." Ucap Neidan lagi.
"Aku mengerti, jadi yang harus kulakukan hanyalah mengulur waktu yah."
"Itu benar, jika jiwa negatif itu masih berada didalam tubuhnya. Maka akan menganggu gadis itu. Lebih baik kau halangi dia akan tidak kembali ke tubuh utamanya."
"Baik." Selanjutnya, Qin Yan mulai bertarung lagi. Kali ini ia tidak menyerang atau berbuat sembrono. Yang ia lakukan hanyalah bertahan dan memancing sosok itu agar tak mempunyai waktu untuk kembali.
"Ukh...." Tiba tiba tubuh Qiu er bergetar. Sosok itu berbalik dengan panik. Qin Yan pun langsung mengerti. Tindakan Qiu er telah mencapai puncak. Tongkat giok naga sudah kehilangan cahayanya. Energinya habis, seluruh energi itu mengalir ditubuh Qiu er.
Sosok itu langsung masuk kedalam tubuh Qiu er tanpa bisa Qin Yan hentikan.
Tubuh Qiu er sendiri langsung mengejang, membuat Qin Yan langsung panik.
"Sialan! Qiu er, kau harus berhasil. Harus!" Qin Yan pun duduk dibelakang gadis itu.
"Hap." Setelah itu, jiwa Qin Yan juga ikut masuk kedalam tubuhnya.
Sebuah alam sadar yang sangat luas. Tidak ada lantai, langit atau dinding. Hanya ruang hampa yang mana jiwa Qin Yan melayang didalamnya.
Mata Qin Yan langsung membesar, melihat pemandangan didepannya. Jiwa Qiu er telah diikat oleh sosok negatif itu. Dengan cepat Qin Yan menuju disana.
Perlahan tapi pasti, jiwa Qiu er yang terikat perlahan lahan diserap. Qiu er hanya bisa meronta berusaha melepaskan diri. Namun, ia tak bisa apa apa.
"Swosh" Sosok yang tengah melahap jiwa Qiu er tiba tiba terkena serangan mendadak milik Qin Yan. Ketika kendalinya telah terlepas. Qin Yan dengan cepat melepaskan Qiu er.
"Aku akan membantumu Qiu er. Kau harus berhasil..!"
Tatapan Qin Yan tegas dan dipenuhi niat membunuh. Jiwa Qiu er pun mengangguk. Ia mulai menutup mata, kedua tangannya mengeluarkan percikan energi.
Disisi lain, sosok negatif itu menatap Qin Yan dengan geram. Ia langsung maju menyerang Qin Yan dengan gila. Namun ia terhenti setelah terkena serangan Qiu er.
Setelah itu, pertarungan pun berlangsung. Qiu er melawan sisi negatifnya sendiri. Dan Qin Yan membantunya dibelakang.
Pada akhirnya, Qin Yan yang hanya merupakan pendukung berhasil memojokkan roh itu.
"Sekarang Qiu er.!"
Qiu er pun mengangguk, makhluk itu berhasil diikat oleh tali energi milik Qin Yan.
"Dengan ini, semuanya telah berakhir." Ucap Qiu er. Gadis itu kemudian menutup matanya dengan tenang. Situasi pun berbalik, jika tadi roh negatif Qiu er berusaha menyerap jiwa asli Qiu er. Maka kali ini, Qiu er lah yang akan menghisap roh tersebut. Proses perebutan tubuh akhirnya mencapai final.
Qiu er memusatkan seluruh energinya. Lalu ia pun membuka mata dengan tatapan tajam.
Roh negatif itu meronta ronta berusaha melepaskan diri. Ia membuka mulut kesakitan, sampai akhirnya. Qin Yan sendiri melihatnya. Sosok itu menghilang menjadi butiran titik cahaya. Butiran titik cahaya tersebut menuju jiwa Qiu er. Dan entah kenapa, aura Qiu er langsung meledak. Jiwa Qin Yan sampai terpengaruh.
Tanpa sadar, jiwa Qin Yan kembali ke tubuh aslinya. Ia langsung membuka mata dengan kaget. Tapi ia tidak sempat menahan aura Qiu er yang begitu berejolak.
Sampai akhirnya Qin Yan terlempar beberapa meter. Ia pun menabrak salah pohon yang begitu besar.
"Ukhuk." Qin Yan langsung memuntahkan darah segar. Aura Qiu er begitu kuat, hingga jiwa Qin Yan terkikis.
"Hah!"
'Apa apaan....!' Qin Yan memaksakan diri untuk tertawa. Jiwa itu begitu rentan, terkena serangan sedikit, tubuh pun jadi tak bisa apa apa. Itulah mengapa, sekuat kuat seseorang, jika tidak mempunyai energi mental yang kuat. Qin Yan bisa saja mengalahkan orang itu dengan energi mentalnya yang ia miliki. Energi mental menyerang jiwa seseorang, bukanlah fisiknya yang kuat. Bagaikan sebuah tubuh yang lunak dan lemah yang bersemayam didalam cangkang yang keras.
Perlahan, Qiu er melayang dalam posisi berdiri. Cahaya ditubuhnya terus saja berputar.
Qin Yan yang tengah memegangi dadanya, langsung terbelalak melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Matanya tidak bisa berkedip.
Pakaian Qiu er hancur seketika, dua buah gunung yang putih dan mulus menjulang tinggi dengan bunga plum merah muda di puncaknya.
Qin Yan langsung menelan ludahnya sendiri dengan nafasnya yang mulai memburu.
Oh astaga....
Di tambah dengan sarang kelelawar dibawahnya, dengan sedikit rumput yang tumbuh diatasnya. Qin Yan harus berkata apa, gadis itu terlalu menggoda.
"Plak." Tiba tiba Qin Yan menampar pipinya sendiri. Apa yang dia pikirkan saat ini? Bagaimana bisa pikirannya jadi semesum ini.
"Haish....." Qin Yan pun menutup mata dengan tenang. Tapi ia tidak bisa menahan hidungnya yang mimisan. Meskipun menyakitkan untuk menahan gairah ini, tapi Qin Yan tetap berusaha untuk tersenyum. Tanpa sadar, Qin Yan tertidur karena saking ngantuknya.
"Qin Yan!"
"Qin Yan!"
Perlahan Qin Yan membuka mata setelah merasakan pipinya ditampar cukup keras. Ia melihat wajah Qiu er yang sudah dipenuhi air mata. Berusaha membangunkannya.
"Qin Yan! Kau bangun! Kau membuatku khawatir." Ucap Qiu er dengan lega. Ia langsung membawa Qin Yan kepelukannya.
Tanpa tahu Qin Yan sedang berada di situasi apa. Tiba tiba wajahnya langsung dihadapkan dengan sesuatu yang kenyal.
'Apa Ini?' Nafas Qin Yan mulai mengendus tentang benda ini. Tidak lama kemudian, Qiu er langsung melepaskan pelukannya. Ia melihat Qin Yan bertingkah aneh, langsung membuat wajahnya memerah. Tubuhnya hanya ditutupi sehelai kain biru. Dan itu langsung membuat Qin Yan ternganga.
"Kau membuatku khawatir." Ucap Qiu er dengan tersipu malu.
"Tu-tunggu Qiu er!" Qin Yan langsung mengalihkan pandangannya kesamping. Wajahnya sedikit memerah karena situasi yang canggung ini.
Qiu er pun menghela napas. Ia mengeluarkan pakaian dari dalam cincin penyimpanannya sendiri. Memakainya didepan Qin Yan dengan berani. Sementara Qin Yan tidak berani melihatnya ketika ia tengah berpakaian.
"Sudah selesai, sekarang berbaliknya." Ucap Qiu er pelan.
Saat itulah Qin Yan kembali terpesona oleh kecantikan gadis ini setelah memakai pakaian baru. Meskipun pakaiannya cukup berbeda dari yang sebelumnya. Tapi kecantikannya tidak pernah pudar.
"Berhenti menatapku seperti itu." Qiu er seperti tidak tahan dengan tatapan anak ini. Tapi entah kenapa ia merasa puas. Dengan wajah yang tetap memerah, ia pun bertanya pelan.
"Kau baik baik saja kan?"
Qin Yan mengangguk.
"Ya. Dibanding itu, bagaimana hasilnya? apakah kau berhasil?"
Wajah gadis itu langsung berseri seri.
"Ya. Roh itu telah musnah. Dan sekarang kultivasiku langsung meningkat pesat. Sekarang aku telah berada di tingkat Saint." Qiu er bersorak gembira.
"Apa!!" Tentu hal itu langsung membuat Qin Yan terkejut bukan main. Apa benar ia langsung naik ke tingkat itu? Mengerikan sekali, sesuai dengan namanya. Tubuh ilahi benar benar luar biasa. Setelah ini, mungkin Qiu er akan menjadi salah satu yang teratas.
Disaat Qin Yan merenung karena ikut gembira. Disaat itulah ia tidak menyadari. Bibir Qiu er telah bersandar dibibirnya. Lengan Qiu er melingkari lehernya. Dia langsung mencium Qin Yan dengan ganas sampai Qin Yan tersandar dipohon.
Qiu er menaiki tubuhnya, bibir mereka terus bergelut. Sampai akhirnya karena kebiasaan Qin Yan tanpa sengaja menyentuh salah satu buah gadis itu.
"Um...." Qiu er refleks melepaskan ciumannya. Ia tidak terbiasa. Ia bahkan menutupi tubuhnya tanpa sadar.
"Ma-maafkan aku.... Aku.. Aku..." Qin Yan langsung salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya. Namun Qiu er menggelengkan kepala dengan wajah memerah.
"Tidak apa apa. Kau sudah menyelamatkanku Qin Yan. Aku bersyukur ada kau disini. Kau bebas melakukan apapun padaku." Qiu er perlahan melepaskan pakaiannya.
"Tu-tunggu..!!" Tetapi Qin Yan langsung menghentikan gadis itu.
"Qiu er dengarkan aku. Sudah seharusnya aku membantumu. Itu sudah kewajiban ku sebagai temanmu. Kau jangan menganggap ini sebagai bayaran." Ucap Qin Yan sambil memegangi bahu gadis itu.
"Jadi, kau menganggap ini sebagai bayaran?"
"Eh!" Qin Yan berbalik terkejut. Wajah gadis itu gelap seketika. Ia langsung menggertakan gigi.
"Qin Yan. Kau anggap aku sebagai apa?" Tanya Qiu er serius.
Qin Yan menjawab dengan hati hati.
"Kau itu temanku Qiu er. Temanku yang harus kulindungi."
"Jadi, kau menyukaiku atau tidak?" Tanya gadis itu lagi. Qin Yan pun terdiam . Wajahnya menjadi sayu.
'Mana mungkin aku tidak menyukaimu. Aku mencintaimu selama ini. Aku selalu memendam itu selama ribuan tahun.'
Melihat Qin Yan yang tidak menjawab. Air mata Qiu er pun langsung turun.
"Sudah kuduga yah. Kau memang tidak mencintaiku. Qin yan, terima kasih karena sudah memperhatikanku selama ini. Besok, turnamen akan dimulai kembali. Jaga dirimu baik baik yah. Kita akan bertemu dipertarungan. Bukankah kau bilang ingin bertarung denganku?" Senyum Qiu er dengan pilu. Ia pun berdiri, membelakangi Qin Yan dengan cepat. Menghapus air matanya, dan mulai melangkah.
Qin Yan masih terbengong. Entah kenapa firasatnya tidak enak saat menyaksikan kepergian gadis itu.
Apakah dia akan pergi?
Tiba tiba Qin Yan teringat saat dikehidupan sebelumnya. Mungkin waktunya sudah terlewati dikehidupan sekarang. Saat itu, umur Qin yan 17 tahun. Tepat ketika Qiu er akan memasuki akademi Busur surgawi. Ia masuk lebih cepat karena keistimewaan yang ia miliki.
Saat itu, Qiu er menyatakan cintanya pada Qin Yan. Dia mungkin masih mencintai Yiyin waktu itu. Tapi, setelah pengungkapan gadis itu, Qin Yan pun sadar. Kalau ia telah menyia-nyiakan gadis yang telah mencintainya. Qiu er telah mencintainya tapi ia malah mengejar gadis lain. Gadis yang bisa dibilang kurang memperhatikannya.
Saat itu, untuk pertama kalinya. Hati Qin Yan bahagia. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Ketika gadis itu pulang, ia akan berusaha untuk mengejarnya. Siapa yang tahu, ternyata Qiu er tidak pernah kembali lagi. Berita menyatakan, ia tewas di medan pertarungan dalam turnamen antar kerajaan.
Sakit? Tentu saja hati Qin Yan sangat sakit. Gila? Bahkan Qin Yan hampir gila waktu itu. Untuk beberapa hari, Qin Yan lebih memilih menyiksa dirinya sendiri. Karena penyesalan yang ia miliki. Karena kesedihan yang ia miliki. Tidak disangka, ia diberi kesempatan kedua. Sekarang, apa dia akan menyia-nyiakan nya lagi?
Tidak! Tentu saja tidak. Kali ini, dalam kehidupan ini. Qiu er adalah miliknya . Hanya miliknya, ia berjanji agar gadis itu bahagia disisinya.
Qin Yan pun berdiri. Melihat gadis itu yang mulai menjauh karena berlari. Qin Yan langsung berteriak.
"QIU ER!!!!!"
panggilan Qin Yan serasa menusuk telinga Qiu er. Gadis itu pun berbalik. Melihat Qin Yan berlari dengan kencang. Hingga akhirnya memeluknya dengan erat.
"Bodoh! Gadis bodoh. Aku itu mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Tidak akan. Kau hanya miliku, aku akan pulang ke kota Bintang. Menghadap ayah dan ibumu, meminta ijin agar membawamu bersamaku. Aku..... Kau bodoh sekali, aku hanya akan mengambilnya ketika kita resmi menikah. Karena aku menghormatimu, aku tak mau ternodai sebelum kau menikah. Itu saja, kenapa kau susah mengerti?" Tubuh Qin Yan gemetar ketika mengucapkannya. ini adalah kata kata yang ingin ia ucapkan dari dulu. Tidak disangka akan keluar sekarang, sekarang hatinya lega. Seperti beban berat telah terangkat dari punggungnya.
Disisi lain, mata Qiu er membesar. Ia seperti tercerahkan. Ia pun tersenyum gembira. Membalas pelukan Qin Yan dengan erat, hatinya sangat bahagia.
"Terima kasih. Kau harus berjanji padaku untuk kembali mengambilku." Ucap Qiu er pelan.
"Tentu saja. Aku pasti akan membawamu bersamaku. Aku berjanji, ini adalah janjiku yang tak pernah kuingkari." Qin Yan menjawab tegas.
Qiu er langsung tenang ketika mendengarnya.
Mereka berpelukan cukup lama. Sampai akhirnya, Qiu er melepaskannya. Gadis itu pun pulang dengan perasaan gembira. Dan Qin Yan mengantarnya sampai ke penginapan gadis itu. Mereka berpegangan tangan sepanjang perjalanan.
Sampai akhirnya tiba ditempat tinggal kelompok Qiu er. Qin Yan melepaskan tangan gadis itu, dan melambaikan tangan disaat saat terakhir kali melihatnya masuk.
'Aku juga harus pulang.'
Qin Yan pun bergegas pergi. Namun tiba tiba, ada seseorang yang melompat dari dahan pohon. Dan kini orang itu tepat berada dibelakang Qin Yan.
"Xiao Yan. Kau cukup bersenang senang dengan gadis itu rupanya."
'Suara itu.....' Entah kenapa Qin Yan langsung takut ketika memikirkannya. Itu adalah suara yang ia kenal. Tapi, entah kenapa ia begitu gugub ketika mendengarnya. Qin Yan pun perlahan berbalik. Benar saja, situasi ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Dan jujur, ia tidak pernah mengalami situasi ini.
Yun Zhi berdiri disana dengan tangan dilipat didada. Raut wajahnya tidak mengenakan.
"Oh, Y-yun Zhi kah? Se-sejak kapan k-kau ada disana?" Qin Yan menekan ludahnya sendiri dengan penuh keringat. Gawat, apa yang terjadi nantinya. Dalam pertarungan ia tidak pernah merasa segugub ini. Tapi masalahnya ini disituasi yang terbilang cukup rumit.
Seolah tak mendengarnya. Yun Zhi berbicara pada Qin Yan dengan serius.
"Aku tau ini cukup memalukan untuk wanita berumur jauh lebih tua darimu. Tapi, aku juga butuh kepastianmu. Apakah kau mencintaiku atau tidak. Jika tidak maka katakanlah, aku bisa melupakanmu dan mencari orang lain."
Qin Yan langsung terdiam mendengar perkataannya.
"Apakah kau memang akan mencari orang lain?" Tanyanya pelan dan lembut.
Wajah Yun Zhi langsung memerah dan ia menjadi salah tingkah.
"Ma-makanya, aku butuh kepastianmu. Dan aku ingin mendengarnya malam ini."