
Bangunan atas istana, Qin yan terduduk dipinggiran balkon. Dengan anggur minuman diguci kecilnya, Qin yan menghabiskan waktu paginya dengan minuman sambil menikmati indahnya pemandangan. Entah sudah berapa guci yang ia minum, yang penting setiap kali minumannya habis, ia akan mengambil lagi. Membuang bekas minuman itu ke lantai.
Tidak lama guci yang terakhir kali Qin yan buang kini menggelinding, sampai kaki ayahnya. Sang raja mendatanginya sendiri.
"Bukankah umurmu baru 17 tahun? Minuman itu tidak baik untuk tubuhmu." Ucap ayah Qin yan dibelakang, terdapat ekspresi simpati diwajahnya. Ia juga sedih melihat hidup Qin yan yang tidak teratur seperti ini.
"Tidak perlu khawatir padaku, aku memang begini sejak dua tahun ini." Qin yan hanya menghela napas panjang.
'Dia..... pasti kejadian waktu itu memberi tekanan berat untuknya.' Batin ayah Qin yan dengan sedih. Ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Qin yan waktu itu. Waktu ketika ia membunuh kekasihnya sendiri, Huo lan. Sesuai yang ia dengar dari isu yang beredar.
'Tapi, bagaimana pun juga dia putraku. Aku harus menghiburnya atas apa yang terjadi. Sudah berapa tahun, aku tidak melihatnya tumbuh secara langsung. Sampai dia bisa membuat legendanya sendiri seperti ini.' Ayah Qin yan merenungkan untuk sesaat.
Sementara Qin yan juga memperhatikannya sejak tadi.
"Ayah." Panggilan Qin yan membuatnya tersadar.
"Entah sudah berapa lama aku tidak mengucapkan ini. Rasanya kata ini sangat asing dilidahku." Qin yan juga merenungkan sesatu, selama ini sepanjang ia hidup, ia terus terusan bertarung. Dan kata yang sebutkan ketika ketakutan, atau berada dijalan buntu. Kata yang ia selalu rindukan adalah kata "Ibu". Qin yan tidak menyangka sosok ayah akan hadir dalam kehidupan kali ini.
"Maafkan ayah, yang terlalu lemah ini." Mendengarnya saja, rasa berdosa mengalir dipikiran raja. 10 tahun lebih, ia tidak tau penderitaan macam apa yang ditanggung oleh istri dan anaknya. Ia sebagai ayah yang tidak mampu, seharusnya tidak pantas untuk hidup.
"Tidak perlu menyalahkan diri seperti itu. Semua ini berjalan sesuai takdir, yang harus disalahkan disini bukan diri kita sendiri. Melainkan dewa yang mempermainkan takdir kita." Memikirkan itu saja Qin yan teringat dua dewa yang selalu berada dikepalanya. Satu dewa yang ingin dia bunuh, Kaisar dewa sage. Dan satunya lagi, si dewa misterius yang bahkan lebih kuat dari kaisar sialan itu, Dewa Zailong. Entah berapa panjang jalan yang akan ia lewati demi mengetahui identitas dewa itu.
Tapi jika dipikir pikir, semua ini berawal dari satu masalah.
Ibu...
Ibu Qin yan mati saat Qin yan diumur 19 tahun, dibunuh oleh seseorang dari alam lain. Tidak tau itu suruhannya siapa. Dari situ, Qin yan menempuh jalan yang panjang, berliku liku, bercabang cabang, ratusan masalah ketika berada di alam utama, padahal pada akhirnya hanya ke satu jalan. Bertarung dengan kaisar dewa itu.
Kembali dari awal, kini Qin yan memikirkan ibunya lagi. Melihat ayahnya yang hanya diam, ia kembali menghela napas.
"Raja Mo mati ketika menghina ibu, dan sekarang anak itu juga hampir mati ketika menghina ibu juga. Jika saja aku menyamar menjadi orang lain, dan gantian Qian yu yang dihina tepat didepan mataku. Kejadian yang sama mungkin akan terjadi lagi seperti dikerajaan Feili. Dimana didepan para prajuritnya aku memenggal kepala orang itu. Didepan mata kalian juga aku akan membunuh anak itu."
Ayah Qin yan tersenyum ngeri melihatnya, benar juga, ketika mengingat kembali legenda anak ini. Memang benar Qin yan membunuh raja Mo karena ibunya dihina. Bukannya sudah keterlaluan, tapi menurutnya ia juga mengerti. Hanya saja, perbedaan sudut pandang menghukum anak biasa adalah sesuatu hal yang sudah wajar terjadi. Tapi, membunuh raja tentunya menarik perhatian dunia. Ini bukan lagi pertengkaran anak kecil, melainkan masalah tingkat berat.
Ia bahkan sudah berpikir, dia sendiri sudah takut pada anaknya sendiri. Tapi bagaimana pun juga, dia ayahnya. Sekuat apapun anaknya, orang tua harusnya memberikan pencerahan pada anaknya mereka.
"Apapun yang terjadi, biarlah itu terjadi Qian yan. Satu hal kau tau, jika jalan yang kau tempuh itu menurutmu benar, maka percayalah pada hatimu. Kau pasti bisa menempuh jalan itu, sesulit apapun itu. Karna salah benarnya itu, bukan tergantung dari tindakan baik atau jahat. Tapi dari sudut pandang kita sendiri. Semua orang mempunyai perbedaan pendapat masing masing, tergantung dari karakter kita. Jika mereka bilang itu salah, belum tentu itu salah dimatamu. Dan belum tentu juga benar apa yang mereka katakan. Jadi percayalah pada dirimu sendiri."
Mendengar itu, mata Qin yan terbuka. Selain ibu dan gurunya, tidak ada yang pernah mencerahkan hatinya seperti ini. Sebenarnya, ia dari dulu penasaran, bagaimana sosok ayah itu. Ia banyak melihat banyak kejadian, ayah selalu menjadi tiang utama dalam keluarga. Tapi masalahnya juga, ia juga tak pernah menjadi ayah di masa lalunya. Jika itu terjadi, seharusnya ia mengerti betapa susahnya merawat anak dari dulu.
Pada akhirnya ia hanya tersenyum, lalu datang memeluk ayahnya sendiri. Merasakan bagaimana lebarnya punggung sang ayah.
"Terimah kasih, ayah."
Ayahnya juga membalas pelukannya. Dari jauh, ibu Qian san menonton dari atas jendela. Kasih sayang mereka berdua membuatnya tidak senang. Makanya ia menggenggam gelasnya hingga hancur. Lalu melemparnya didinding, tepat disamping wajah anaknya.
"Ibu, maafkan aku. Aku aku... aku salah." Qian san gemetar tak menentu, melihat ibunya membawa pisau. Selama ini, tekanan ibunya semakin menjadi jadi. Dia bahkan trauma padanya.
"Tak" Satu gertakan lagi, membuatnya kencing dicelana. Ketika ibunya melempar pisau itu dan hampir mengenai dahinya. Untungnya pisau itu hanya mendarat kedinding, satu inci dari telinganya.
"Dasar anak tidak berguna, menghina ibu Qian yu saja kau tidak mampu. Aku sudah melahirkan anak yang pengecut, bagaimana bisa kau menjadi raja yang selanjutnya!" Ibunya langsung membanting tangannya ke sisi wajah Qian san yang satunya. Qian san, ingin menghindar namun pisau tajam ada disisi satunya. Jadi ia tidak punya jalan selain menangis dengan penuh ketakutan.
"Pokoknya, aku tidak mau tau. Apapun caranya, kau harus membunuh anak sialan itu." Ia langsung mencabut pisau tersebut kemudian pergi meninggalkan ruangan. Meninggalkan Qian san yang masih tertekan mentalnya.
Ternyata, jauh dari mereka bertindak. Istri ketiga raja juga memperhatikan mereka. Namanya Ziu Xa, dia adalah sosok yang diam diam melindungi Qian yu selama ini. Namun kekuatan Huyan Xing yu begitu tinggi hingga akhirnya ia hanya diam ketika berada dihadapannya.
'Apa juga yang direncanakan Xing lu kali ini.' Batinnya dengan penasaran. Kemudian melirik ayah dan anak yang sedang berpelukan disana.
"Qian yu, apa yang kau lakukan pagi ini benar benar membuatku terkejut. Tampaknya kau sudah dewasa, kau mengikuti kelembutan hati ibumu, Qin yin. Tapi, aku juga ingin melihatmu tumbuh menjadi sosok yang kuat, seperti orang orang. Semoga kau selalu dilindungi dewa." Ziu xa tersenyum melihat Qian yu, lalu berbalik kepintu dimana Qian qian masuk membawa buku.
"Ibu, aku sudah menulis laporannya." Ucap gadis itu dengan penuh harapan.
"Baguslah, mari kita pergi ke Master. Semoga saja, master bisa mengajarimu membuat gulungan kondolisasi." Ibu itu pun mengajak putrinya keluar dengan senyuman diwajahnya.
Dari atas istana, Qin yan sudah melepaskan pelukan ayahnya. Ia pun pergi, berniat jalan jalan disekitar istana. Namun ketika melewati ruangan sepi, dimensi gate tiba tiba terbuka. Yao chen keluar dari sana.
"Hei, satu hari kau tidak pulang. Kau cukup menghawatirkan kami." Ucap Yao chen dengan kesal, ia melipat tangannya didada.
"Ppfftt... Kau itu sedang menyamar jadi siapa? Lucu juga kau ini..." Yao chen berusaha menahan tawanya.
"Apa ada masalah didalam?" Tanya Qin yan dengan tenang.
"Tidak ada sih. Aku hanya penasaran padamu." Yao chen menjawab dengan malas.
"Jadi mereka sedang apa sekarang?"
"Kami akan sarapan, kau mau ikut tidak? Tang liu menyuruhku mencarimu. Huh, sungguh merepotkan sekali." Yao chen menggaruk garuk telinga sambil masuk kedalam spasial. Qin yan juga mengikutinya dengan diam, tidak sepatah kata pun yang keluar. Namun sebagai ketua, ia juga harus mengecek mereka sesekali.
Disana semua orang telah berkumpul, mereka menyapa Yao chen kembali. Namun semuanya langsung membeku saat melihat penampilan Qin yan.
"Hei! Kau sudah menemukan bedebah itu." Tanya Tang liu dengan kesal.
"Sudah tuh, dia sudah duduk bersiap untuk makan." Yao chen menjawab dengan malas, ia juga duduk dilingkaran tepat duduk. Dalam hatinya ia merasa risih, kenapa semenjak dia menjadi manusia dia terus terusan dimarahi gadis ini.
Sementara Tang liu yang sedang membawa nampan juga langsung terkejut dengan penampilan Qin yan yang sekarang. Dari dulu ia selalu memarahinya karena tidak mengurus diri, tapi tak pernah berhasil. Namun sekarang, melihat tubuhnya yang sudah berisi, membuatnya jadi sedikit lega.
"Hei, Liu er. Kau sedang apa bengong disitu." Alis Qin yan berkerut tidak senang. Setelah ditegur barulah gadis itu tersadar kembali. Lalu ia meletakan semua makanannya ditengah tengah mereka.
'Gadis ini lebih muda dariku, tapi kenapa sikapnya seperti ibu rumah tangga.' Qin yan juga menggaruk kepalanya yang tak gatal, menatap gadis itu yang hanya diam hari ini. Dia tidak berbicara sepatah kata pun, seolah olah mulutnya sudah dilem.
"Aneh, kenapa hari ini kau tidak memarahiku?" Tanya Qin yan ketika melihat gadis itu yang tengah makan.
"Memangnya kenapa? Kau ingin dimarahi terus, kau rindu hah?"
Perkataan Tang liu membuat Qin yan sedikit aneh menatapnya. Namun ia hanya menggelengkan kepala dengan cuek.
"Kau terlalu besar kepala." Ejek Qin yan kemudian ia memakan makanan yang sudah disiapkan.
Menit pun berlalu, semua orang menghabiskan makanan mereka dengan canda tawa. Hanya Qin yan yang hanya diam, bersama Tang liu yang juga tidak berbicara apapun. Namun, lama kelamaan gadis itu akhirnya membuka mulut.
"Kemarin, selama sehari penuh. Kau dimana saja?" Tanya Tang liu.
"Aku sedang mencari tempat yang bagus untuk menampung semua prajurit ini kedunia nyata."
Jawaban Qin yan membuat Tang liu menatapnya dengan serius.
"Mencari tempat tinggal?"
"Ya, sudah dua tahun berlalu. Kebanyakan mereka tidak lagi melihat dunia. Jika ini seperti penjara, maka semuanya pasti sudah gila. Oleh karena itu, beberapa hari ini aku bekerja keras untuk mendapat tempat tersebut."
Tang liu pun mengangguk setuju mendengarkan rencana Qin yan.
"Jadi, apa kau sudah mempunyai target?"
"Ya. Saat ini targetku adalah kerajaan Sunmoon."
"Oh, jadi inikah alasanmu berpakaian seperti ini." Tunjuk Tang liu pada pakaian Qin yan.
"Seperti itulah, kurasa sarapan paginya selesai. Kalau begitu aku kembali dulu." Qin yan berdiri, saat melihat semua orang sudah selesai makan. Setelah berpamitan dengan mereka, lalu Qin yan keluar dari alam spasial dan langsung berada dikamarnya.
Bukan karena lelah, atau malas. Hanya saja Qin yan sedang tidak mod untuk keluar dari kamarnya saat ini. Jadi ia hanya merebahkan diri diatas kasur, sembari berpikir bagaimana mendapatkan tempat untuk semua pasukannya.
"Tok tok" Belum juga lama Qin yan merebahkan diri. Seseorang datang mengetuk pintunya.
"Qian yu, apa kau sekarang sudah baikan?" Terdengar suara ayahnya dibalik pintu.
"Ya ayah, apa ayah ingin masuk?" Tawar Qin yan, sepertinya ayahnya mempunyai sebuah keinginan padanya.
Setelah ayahnya megiyakan tawarannya, Qin yan mempersilahkan dirinya untuk masuk. Disana, tidak ada soerang yang mendengar, kini hanya dua orang diruangan itu, yaitu Qin yan dan ayahnya.
"Ada apa ayah mencariku?" Tanya Qin yan dengan sopan.
"Begini, aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu. Ada sebuah roh api di bagian selatan kerajaan, namanya inti api Roh Mawar suci. Dan aku ingin kau menjadi utusan untuk memperebutkan harta karun itu. Karna bukan hanya kita yang mengetahuinya, kerajaan lain juga sudah tahu tentang harta itu."