LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Pertarungan hidup dan mati.


"Kedua belah pihak, silahkan maju kelapangan."


Wasit kemudian menyuruh mereka berkumpul. Kelompok Qin Yan berhadapan dengan kelompok kerajaan Nerta.


Eh, ternyata mereka adalah sekelompok badut yang mengganggu mereka beberapa hari yang lalu.


Qin Yan bahkan masih mengingat jelas, kalau pria yang dipukuli Lin Fin bernama Run dong. Dan ketua tim bertubuh kekar ini dipanggil kakak Cu.


Ketika mereka berhadapan, ketua tim tersebut memberi isyarat pada Qin Yan sebelum mereka menuju kearah lobby. Pria itu menggunakan jari tangannya diarahnya keleher. Seakan akan memotong lehernya dengan jari itu. Dia juga memberi tatapan tajam dan penuh niat membunuh dengan seringai lebar.


Namun Qin Yan tidak terprovokasi, dimatanya mereka tidak lebih seorang badut yang suka menyombongkan diri.


Ketika mereka memasuki lobby. Mereka melihat, pria berkulit item memasuki lapangan. Tentu saja itu Run dong. Dia masuk dengan penuh kesombongan dan percaya diri. Lin Fin hendak berdiri, namun Qin Yan menghentikannya. Sebaliknya menoleh pada Jung Kyun. Dia mengangguk mengisyaratkan untuk maju.


"Eh!! Aku!!"


Qin Yan mengangguk lagi sebagai tanggapan.


Entah kenapa, Jung kyun merasa seperti mimpi. Dari semua anggota yang ada, ternyata dia adalah yang pertama. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaannya saat ini.


Ia pun menatap Lin Fin, anak itu hanya menoleh acuh tak acuh. Tapi sebenarnya ia juga tak senang. Namun mau bagaimana lagi. Ia tak bisa menolak rencana Qin Yan.


"Pergilah, ini merupakan kesempatan untukmu."


"Hah!!" Jung Kyun masih belum pulih dari keterkejutannya. Dia pun melompat gembira.


"Te-terima kasih master. Aku takkan mengecewakanmu." Dia pun berlari kelapangan. Namun, sejenak Qin Yan menghentikannya.


"Tunggu."


Jung Kyun berhenti, ia menatap Qin Yan dengan bingung. Apakah kaptennya berubah pikiran? Tapi ternyata tidak. Rupanya Qin Yan menyerahkan selusin kertas ledakan.


"Ini, ambillah. Kau tentu menonton pertarungan ku bersama Huang er kan?"


Jung Kyun mengangguk. Ia kemudian berlari kelapangan sampai kehadapan pria itu.


"Astaga, kau mendapat kecupan sebelum berangkat yah. Najis sekali...."


Ternyata, baru saja ia sampai. Jung Kyun sudah disambut oleh ejekan Run dong.


"Hmph... jangan salahkan aku jika kau menyesal datang kesini." Ujarnya lagi, namun Jung Kyun tetap terdiam. Hal itu membuat Run dong jadi kesal. Wajah Jung kyun sangat serius menghadapi pertarungan ini. Hal itu membuatnya tidak tahan menghujatnya.


Karena terlalu banyak mengoceh, bahkan wasit pun sampai malas melihatnya.


"Kau mau bertarung atau tidak. Ini bukan tempat untuk berpidato. Sebaiknya simpan pidatomu untuk teman temanmu."


Seketika, wajah Run dong jadi muram. Tentu ia sangat malu mendengar ucapan wasit. Setelah memberi hormat masing masing. Keduanya pun mengucapkan nama mereka.


"Kerajaan Nerta, Run dong."


"Kerajaan Sunmoon, Jung kyun."


Dengan itu, kedua cincin mereka akhirnya terlihat.


Melihat cincin hijau milik Jung Kyun akhirnya Run dong yang berada ditingkat Grandmaster tersenyum puas. Ia pun tersenyum lebar sembari menghinanya.


"Heeeh.... Tingkat Master? Aish.... Kau tahu? Tidak ada tingkat serendah itu ada di turnamen ini. Apakah kerajaan kalian segitu rendahnya hingga mengirim orang selemah dirimu? Hahah... Dengar ya, jika sedetik kau tidak mengatakan menyerah. Maka jangan salahkan aku berbuat keras."


Ketika anak itu sibuk berbicara, dia tak sadar kalau wasit telah mengatakan mulai. Jung Kyun hanya heran melihatnya, mengapa ada orang seperti ini di turnamen ini.


Singkat cerita, pria itu berbicara panjang lebar.


"Baiklah baiklah, jika kau tak mau mengakui kekalahanmu. Maka berlutut dan meminta maaf. Panggil aku kakekmu." Run dong melipat tangannya didada dengan angkuh. Namun disaat bersamaan, tubuh anak itu membeku.


"A-apa ini!!" Saat ia sadar, ternyata dirinya sudah dililit oleh bayangan hitam.


"Heeeh.... kau terlalu banyak bicara sekali. Telingaku sampai tuli mendengarnya, apa orang tuamu tidak mengajarkanmu tentang tata Krama atau kewaspadaan dalam pertarungan? Oh, Iyah. Pangeran goblok sepertimu mana tahu. Kalau kau menganggapku sampah karena aku berada ditingkatan paling rendah. Berarti kau lebih sampah karena telah kalah dariku."


Sambil mengatakan itu, cincin Jung Kyun menyala. Ia pun mengaktifkan skill keduanya.


"Touch of shadow!"


Sekumpulan bayang seperti tentakel keluar, memisahkan diri dari tanah. Masing masing, dipenuhi kertas ledakan pemberian Qin yan.


"Hei hei!! Apa yang mau kau lakukan! Hei! Bahkan wasit belum mengatakan mulai!" Teriak anak itu ketakutan, seberapa pun ia berusaha melepaskan diri. Namun semuanya sia sia.


"Kau terlalu sibuk menyombongkan dirimu hingga tidak menyadari kalau wasit sudah mengijinkan kita dari tadi." Perkataan Jung Kyun diikuti dengan kertas ledakannya yang menyala. Sekitar dua puluh kertas, tertempel di badan anak itu.


"Ada apa dengan kertas ini?"


Mendengar itu, Jung Kyun tersenyum licik.


"Menurutmu bagaimana?"


Setelah itu, ledakan besar terjadi. Asap mengepul memenuhi lapangan. Semua orang terperangah karena efek ledakan itu setara dengan serangan master tingkatan Elder keatas. Dengan menelan ludah, penonton bertepuk tangan dengan kagum.


Terlihatlah Run dong yang sudah hangus diantara cekungan tanah. Keadaannya sekarat dan ia mengalami luka bakar yang serius. Hal itu membuat semua anggota kelompok kerajaan Nerta menjadi marah.


"Pemenangnya adalah kerajaan Sunmoon!!"


Semua orang bertepuk meriah mendengar perkataan wasit. Jung Kyun kembali dengan bangganya kehadapan Qin Yan. Disambut dengan tepuk tangan teman temannya. Bahkan Lin Fin sampai terharu karena tersentuh kata kata anak itu tadi.


"Kerja bagus." Qin Yan dan Jung Kyun saling beradu kepalan tangan.


"Hehehe... hanya kebetulan bos." Jung Kyun menggaruk kepalanya dengan malu malu.


"Hahaha... kebetulan adalah keberuntungan. Sekarang kita mempunyai poin." Lin Fin datang merangkul anak itu.


Disisi lain, kerajaan Nerta. Ketua kelompok mengepalkan tangannya dengan wajah gelap.


"Bos, aku akan pergi. Aku akan membunuh mereka karena berani membuah pangeran seperti ini." Salah satu pria jangkung berdiri dengan mata memerah. Ia tidak tahan melihat kondisi Run dong yang mengenaskan.


Disaat bosnya sedang berpikir, tiba tiba wanita bertubuh montok berdiri.


"Tidak perlu, biar aku saja yang menghadapi lawan selanjutnya. Hmm...." Wanita itu berumur sekitar 24 tahun dan mereka semua memanggilnya nona Nea.


Ketika dia berjalan dilapangkan. Semua mata tertuju padanya.


"Itu, lihat itu." Jung Kyun menunjuk kearah wanita itu. Sementara, Qin Yan juga memperhatikannya. Kemudian ia menoleh pada Ning er.


"Jika sudah berada kondisi kritis. maka menyerahlah. Kalah pun tak apa, yang penting nyawa jangan melayang."


Ning er mengangguk hormat ketika mendengar saran Qin Yan. Disaat bersamaan juga, wajahnya memerah.


"Ini, ambilah. Untuk berjaga jaga." Qin Yan juga memberinya sebuah senjata. Dan kertas pola kamuflase. Setelah itu, Ning er pun pergi kelapangan.


Seketika mereka berdua saling berhadapan.


"Kerajaan Sunmoon, Ning er."


"Kerajaan Nesta Nea Ninggian."


Wasit pun berteriak. "Mulai!"


"Ptank!"


Pertarungan dimulai dengan bentrokan dua senjata antara keduanya.


"Hihihi..." Wanita itu terus tertawa dan bersenandung. Kuku di jarinya memanjang, dan ia menyerang Ning er secara membabi buta.


"Ptank ptank ptank" Bentrokan terus terjadi, dengan pisau kecil yang Ning er punya. Dia terus menangkis semua cakaran wanita itu.


Kemudian cincin mereka menyala, keduanya mempunyai tingkatan yang sama.


Grandmaster.


"Elemen angin, kemarahan badai!!" Serangkaian angin tebal menusuk dan menyerang Ning er.


Gadis itu hanya menghindarinya, setelah mendapatkan kesempatan. Barulah ia juga menyerang balik.


"Elemen kegelapan. Jarum kematian!!" Beberapa jarum berasap hitam langsung melesat kearah wanita itu. Namun, tubuh Nea sangat elastis. Ia bahkan dengan mudah menghindari serangan itu meskipun seakurat apapun.


"Hihihi...." Wanita itu kembali tertawa, ia kemudian meludah kearah Ning er. Anehnya, ludah tersebut bukan ludah biasa. Melainkan sebuah benda tajam yang jika ditangkis akan terceplas layaknya air. Ketika Ning er terkena ini. Matanya langsung memanas karena terkena cipratan ludah tersebut.


"Hihihi.... Akhirnya, kau kena juga. Taukah kau, itu adalah racun ular putih yang sangat bebisa. Dicampur dengan minyak katak gurun, membuat organ tubuh bisa membusuk." Nea mendengar kearah Ning er yang terjatuh memegangi matanya.


Dia tersenyum puas sambil menikmati teriakan kesakitan milik gadis itu. Sambil memainkan rambut gelombangnya, wanita itu kemudian berubah wujud menjadi orang aneh. Pasalnya, kulitnya menjadi pucat. Namun, ada kulit lain dibalik kulit tersebut. Semua orang berasumsi kalau kulit tersebut merupakan kulit mati. Sekarang wanita itu, terlihat seperti ular putih yang berbetuk manusia.


"Kau cukup cantik, aku iri. Aku juga menginginkannya." Dalam sekejap, sesuatu aneh pun terjadi diantara mereka berdua.


"Apa yang terjadi?" Lin Fin mengerutkan alisnya.


"Kalau tidak salah, wanita berasal dari Klan ular putih. Mereka mempunyai kemampuan khusus yang dikenal sebagai pergantian tubuh. Artinya mereka bisa mengambil tubuh orang dengan kemampuan khusus itu. Biasanya, orang orang dari keluarga ini tidak banyak dipercayai. Karena umur dan fisik mereka begitu bertolak belakang. Kadang kala, seorang wanita cantik sebenarnya adalah seorang nenek tua yang sudah berganti fisik beberapa kali." Jung Kyun menjelaskan.


"Apa benar ada yang seperti itu?" Tanya Lin Fin tak percaya. Mendengar itu, Qin Yan buru buru menjawab.


"Tentu saja ada, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Hanya saja, kitalah yang tak tahu seberapa besar dunia ini."


Setelah itu, Lin Fin pun mengangguk mengerti.


"Tapi, klan ini katanya bersembunyi dari orang lain. Tidak disangka mereka benar benar berpastisipasi dalam turnamen ini. Aku bertanya tanya, apakah wanita itu tidak khawatir pada dirinya?" Jung Kyun melanjutkan.


"Entahlah, mungkin dia punya cara. Dengan kemampuan yang ia miliki. Tidak sulit baginya untuk bersembunyi." Tang Liu disamping tiba tiba berkata , pandangannya juga tertuju pada pertarungan.


Dalam pertarungan, Ning er berada dalam kondisi kritis. Namun ia tidak menyerah sama sekali, sambil memegangi matanya yang sakit. Dia berusaha agar tetap bertahan.


Kemudian, wanita itu mendekat. Perlahan ia menatap wajah Ning er dari jarak yang sangat dekat.


"Cantik sekali, dewa benar benar mengirimku berkah hari ini." Dengan lembut ia menyentuh dagu Ning er. Tangannya kemudian menjalar keatas, teknik pun dijalankan. Wanita itu hendak menyerap fisik Ning er, namun setelah mengambil darah gadis itu. Ning er tiba tiba mencabut jarum yang mengikal rambutnya. Setelah itu, tanpa ragu ia menusuk kemata wanita itu.


"Aaaaaaaaggghhh.......!!" Teriakan pilu terdengar, wanita itu sempoyongan mundur kebelakang sambil memegangi matanya yang berdarah.


Ning er berdiri dengan mata yang tertutup, tak bisa dipungkiri kalau ia sekarang juga buta.


"Berani, berani beraninya kau menusuk mataku. Menghancurkan wajah cantikku. Aaarrhgg.. !!" Perubahan aneh pun terjadi pada wanita itu, kulit putihnya pucat. Ia sekarang menyerupai seekor ular.


"Apakah.... apakah itu perubahan iblis?" Lin Fin bergumam dengan penasaran.


Namun Qin Yan menggelengkan kepala.


"Tidak semua tranformasi adalah perubahan iblis. Yang dilakukan wanita itu mungkin hanya menggunakan teknik rahasia mereka."


Mendengar itu pun, Jung Kyun mengangguk.


"Yah, sepertinya kapten benar. Setahuku, klan ular putih ini mengekstrak darah ular putih untuk diminum setiap bulan purnama pada hari ritual mereka. Hal tersebut bertujuan, agar darah yang mereka miliki memiliki darah Ular putih. Perubahan yang terjadi mungkin hasil yang mereka usahakan selama ini."


"Itu berarti klan ini begitu kuat, bagaimana Ning er akan bertahan?" Lin Fin sekarang menjadi ragu.


"Jangan meremehkan keluarga Rembulan Naga. Meskipun keluarga mereka kuat, tetap saja Ning er juga bukan berasal dari keluarga sembarangan." Tiba tiba nona Huyan berbicara, tatapannya begitu serius dan tidak main main. Membuat semua orang menatapnya termasuk Qin Yan sendiri.


Menyadari kalau ia menjadi pusat perhatian, gadis itu menunduk dengan wajah memerah.


"Ma-maafkan aku! Aku tidak menyadari diriku sendiri." Mendengar itu, Tang Liu datang menghibur gadis tersebut.


Kembali ke pertarungan.


Ning er mulai mengeluarkan sebuah senjata. Entah apa itu, namun Qin Yan merasa itu bukan senjata biasa. Sebuah sarung tangan logam berbentuk kepala naga dengan mulut terbuka. Memenuhi kedua tangan Ning er.


"Itu dia! Senjata andalan keluarga Rembulan Naga!" Nona Huyan dan De muer berdiri bersama sama. Mata mereka bersemangat melihat itu. Membuat Qin Yan dan yang lain juga ikut penasaran.


"Huh! Kau pikir senjata itu dapat membunuhku? Sebaiknya kau simpan itu dalam mimpimu!!" Nea menerjang, tangannya dipenuhi cakar logam menyala dengan sinar kekuningan.


"Dark of Destiny!!!" Begitu pula dengan Ning er, ia mengangkat kedua tangannya keatas. Sarung logam ditangannya mengeluarkan cahaya, tepat saat itu mata naga di sarung tangannya juga menyala. Mulut naga tersebut mengeluarkan serangan yang luar biasa.


"Huh!!" Mengetahui serangan itu menuju kearahnya, Nea tertegun. Entah kenapa perasaannya tidak enak, ia kemudian menghindar. Namun sayang, ia belum sempat menarik tangannya yang hendak menyerang Ning er. Akibatnya, seluruh lengan kanannya tertelan oleh cahaya tersebut. Untuk beberapa saat, Nea merasa ini seperti mimpi. Setelah serangan itu berlalu, barulah ia mendarat di tanah.


Ia membeku beberapa saat, saat melihat bahunya yang tidak memiliki lengan. Ia tertegun, hanya darah mengalir muncrat dari sana.


"Aaaaaaaaaakkkkkhhh....!!!!! Lenganku...!!!!" Teriakan memilukan terdengar, semua penonton menutup mulut mereka sendiri. Melihat yang terjadi. Bahkan, Qin Yan sendiri tertegun melihat efek yang diakibatkan oleh senjata itu.


Sebuah jalan lorong yang sangat besar terbentuk karena jalur serangan itu. Jika wanita itu tidak bereaksi diwaktu yang tepat, mungkin ia sudah mati. Serangan itu tidak sebanding dengan ledakan kertas yang digunakan oleh Jung Kyun. Serangan itu setara dengan ahli tingkat Saint atau Sage.


Bahkan wasit pun dibuat tercengang. Namun ia lebih tercengang melihat Nea yang mulutnya sudah robek karena terbuka lebar. Dari dalam mulut wanita itu keluar sebuah tangan halus, lalu disusul tangan yang lain. Setelah itu, kepala berambut panjang penuh liur juga keluar.


Semua penonton berusaha menahan mual mereka, rasanya mereka ingin muntah.


Tidak lama kemudian, keluarlah seorang wanita yang mempunyai wajah berbeda. Kali ini wajahnya menyerupai ular dengan lidah yang perlahan keluar sesekali. Sementara tubuh yang lama berubah menjadi kulit pucat, layaknya rumah yang tidak ditempati lagi.


"Pergantian tubuh!!" Teriak Jung Kyun dengan mata terbelalak.


"Kalau begini, nyawa Ning er bisa berbahaya!" Lin Fin juga merasakan yang salah, Ning er sekarang sudah tampak lemas. Ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk bertarung.


Hal itu tidak salah, Ning er memang sudah berada diambang sekarat. Sementara wanita itupun mulai mengeluarkan sebuah pisau. Tubuhnya tidak memiliki busana apapun, tapi kulitnya ditutupi oleh sisik yang membuat orang orang tak bisa melihat bagian intimnya.


"Mati kau!! Hiyaaah!!!" Pisaunya segera terangkat, ia kembali melesat. disaat bersamaan Ning er terjatuh lemas ketanah. Sambil memuntahkan darah segar, ia menutup matanya perlahan.


Wasit kemudian menghentikan wanita itu. Namun ia tidak menyadari kalau pisau wanita itu terus menerjang sampai kearah kepala Ning er. Disaat itulah Wasit berteriak, ingin menyelamatkan Ning er namun sudah terlambat.


"BOOM" Ledakan pun terjadi, tidak ada yang tahu Ning er selamat atau tidak. Yang penting, pisau tersebut meledak tepat dimana Ning er berada.