LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Kerajaan angin barat (Keluarga pengendali pasir)


Kerajaan angin barat, Kota Geihuo.


Sebuah kediaman cukup besar, dimana bangunannya terbuat dari pasir yang dipadatkan tanpa bahan lain. Sebuah patung kucing kuno dipasang sebagai pajangan didepan pintu gerbang. Tatapan patung itu sangat tajam dengan sepasang sayap yang dibentangkan. Membuat siapapun yang lewat ke kediaman ini pasti akan merasakan kesan mendebarkan dari mahakarya tersebut


Dengan lapangan yang cukup luas sebagai halaman. Dan posisi setiap perumahan membentuk lingkaran. Mengelilingi sebuah arena bertarung yang cukup tinggi dengan bentuk bundar melayang diudara. Lalu, diantara semua perumahan. Ada satu bangunan yang cukup besar bagaikan istana. Disitulah tempat dimana ketua atau kepala keluarga tinggal.


Keluarga Pengendali pasir (Xiu). Tertancap didepan papan nama pintu gerbang. Sebuah nama yang membuat orang orang pun merasa segan untuk masuk kedalam kediaman ini. Hanya orang orang penting saja yang dapat masuk. Selain itu, untuk yang lainnya. Dibutuhkan akses khusus untuk memasukinya.


Sebuah kamar pribadi, bertuliskan kamar tuan muda pertama.


"Tok tok tok" Terdengar pintu di ketuk. Lalu seseorang didalam kamar yang tengah duduk di kursi pribadi, ditemani dua pelayan akhirnya berbicara dengan nada tenang.


"Masuk." Dengan satu perintahnya, seorang pelayan membuka pintu. Dan keluarlah satu penjaga laki laki.


"Tuan muda. Tuan besar kedua memanggil anda. Dia bilang, bahwa kompetisi perebutan pewaris keluarga akan dilaksanakan sebentar sore. Mohon anda datang untuk berpartisipasi didalamnya."


"Hum. Baiklah." Terlihat seorang pemuda berambut merah, rambut sudah cukup panjang. Makanya ia mengikatnya. Ia pun berdiri setelah duduk cukup lama.


Lalu, wajahnya terlihat karena sinar matahari dari jendela. Ia perlahan menuju jendela dan melihat sudah banyak orang di sekitar. Dia pun tersenyum tipis. Lalu berjalan keluar.


"Ayo pergi Xie Xie." Ucapnya dengan dingin.


"Aku akan menunjukan. Kekuatan dari seorang pewaris patriak selanjutnya."


*******


"Hmm......" Tang lili dengan wajah cemberut menunggu didepan gerbang kota Lembah Racun. Dia benar benar bosan menunggu setelah sekian lama, guru dan ibunya tidak kunjung kembali.


"Aaaarrrgghh...!!!" Tang lili berteriak kesal sambil mengacak ngacak rambutnya sendiri. Ia sangat gelisah sampai menjelang siang kenapa Qin Yan tidak datang. Bukankah dia sudah berjanji untuk pergi ke kerajaan selanjutnya?


Tang Liu sendiri juga mulai bosan untuk menunggu. Dia melirik ibu Qin Yan sesekali. Entah kenapa, sampai sekarang. Dia masih gugub untuk memulai pembicaraan dengannya. Dia tidak tau mengapa itu terjadi. Tapi dia benar benar sangat terganggu untuk ini.


"Um... Um..." Dia ingin memulai obrolan, tapi bingung harus mengucapkan apa.


"Ada apa Liu er? Apa ada sesuatu yang kau ingin katakan?"


"Ah, yah. begitulah aku... Um... Aku...." Tang Liu memalingkan wajahnya. Dia benar benar merasa gugub. Dia sebenarnya ingin bertanya, kira kira apa yang ibunya lakukan bersama Qin Yan.


"Tenang saja, mereka akan kembali sedikit lagi." Ibu Tang Liu tersenyum padanya. Membuat Tang Liu terdiam. Dia tidak menyangka kalau ibu Qin Yan bisa sepeka ini.


Didalam hutan. Goa yang sudah dihancurkan. tempat dimana profesor Be dan anak buahnya menetap.


Qin Yan dan ibu Tang Liu berdiri di depan puluhan makam. Ada yang besar, ada juga yang paling kecil. Ibu Tang Liu menangkupkan kedua tangannya, berdoa dengan tenang dan damai. Setelah itu, dia berbalik pada Qin Yan dengan penuh senyuman lembut.


"Nak Qin Yan. Terima kasih karena telah menguburkan mereka semua."


Qin Yan juga membalasnya dengan senyuman.


"Tidak bibi. Sudah seharusnya aku melakukannya. Dan aku juga minta maaf. Karna akulah yang membunuh mereka semua."


Ibu Tang Liu menghela napas. Meskipun terlihat rasa sedih diwajahnya.


"Semua sudah berlalu. Meski mereka adalah hasil dari ulah profesor, namun mereka semua masih anak anakku. Aku berharap, mereka semua bisa tenang disana." Ibu Tang Liu kembali berdoa dengan khusu. Qin Yan yang melihatnya tidak mengatakan apa apa. Kemudian ia pun juga mengikuti Ibu Tang Liu yang berdoa.


Setelah itu, mereka pun bergegas.


"Sudah siang. Sepertinya mereka akan memarahi kita." Ibu Tang Liu agak khawatir. Namun Qin Yan menggelengkan kepala dengan santai.


"Tenang saja bibi. Serahkan padaku." Dengan percaya dirinya, Qin Yan mulai mengaktifkan salah satu skill kesukaannya.


Teleportasi.


"Itu mereka!" Tang lili langsung menunjuk mereka karena dialah yang pertama kali melihat Qin Yan muncul.


Ketika Tang Liu melihat Qin Yan memegang tangan ibunya. Entah kenapa rasa tidak senang terlihat diwajahnya. Dia langsung menuju mereka berdua, dan tanpa banyak bicara menatap Qin Yan dengan tatapan tajam. Qin Yan tau itu, segera ia melepaskan tangan ibu Tang Liu dan berusaha mencari jalan keluar.


"Apakah kalian sudah lama menunggu?" Qin Yan pura pura melihat pemandangan sambil menggaruk rambutnya, padahal ia berusaha menghindari tatapan Tang Liu. Gadis itu seperti ingin memakannya saja. Ibu Tang Liu yang melihat tingkahnya saja sampai tertawa lucu. Padahal Qin Yan sangat kuat, namun ia lemah terhadap gadis.


"Kau lama sekali guru." Tang lili berbicara cemberut dengan kedua tangan dipinggang.


"Maaf, tadi ibumu mengunjungi makam saudara saudaramu." Qin Yan menjawab sambil kembali menggaruk kepalanya. Tang Liu dan Tang Lili tertegun. Mereka berbalik pada ibunya yang tak mengatakan apapun. Itu membuat mereka terdiam. Suasana itu tentu dirasakan oleh mereka bertiga.


"Ukhum..." Qin Yan terbatuk sejenak.


"Baiklah, mari kita berangkat." Qin Yan pun menciptakan dua prajurit bayangan tipe beast terbang, setelah itu ia naik ke atasnya. ibu Qin Yan hendak ikut naik dibelakangnya. Namun Tang lili mendahuluinya.


Gadis itu begitu ceria, namun dia juga sangat lengket pada Qin yan. Anehnya dia malah duduk tepat didepan Qin Yan. Dimana batang itu berada.


'Sialan, gadis ini sengaja.' Qin Yan begitu kesal, karena pantat mungil itu mengobrak Abrik disana. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkat gadis itu seperti mengangkat kucing. Dengan satu tangan mengangkat baju bagian belakang hingga gadis tergantung diudara.


"Eh?" Tentu hal itu membuat Tang lili terkejut. Ia berbalik pada Qin Yan yang menatapnya dengan dingin. Lalu ia dibuang tepat dimana Tang Liu berada.


Qin Yan memerintahkan ibunya dengan cepat. Ibunya juga heran melihat Qin Yan melempar Tang lili. Ia tidak tau kenapa alasannya, namun dia juga tidak membuang waktu dan naik dibelakang Qin Yan.


Setelah itu, mereka pun terbang ke arah barat.


"Kita harus berangkat." Tang Liu segera bersiap, sementara Tang lili didepan hanya cemberut sambil melipat tangannya didada tanpa mengucapkan apapun. Ibu Tang Liu naik dibelakang. Dan kemudian, mereka menyusul Qin Yan.


Butuh waktu setengah hari, dengan satu kerajaan dilewati. Kerajaan Geyhana, adalah kerajaan kecil dimana mayoritas penduduknya mempunyai kemampuan elemen tanah. Mereka sangat ahli dalam bidang pertanian, hingga semua profesi mereka hampir dibagian petani. Tapi, jangan salah dulu. Kerajaan Geyhana, dikenal sebagai pusat atau gudangnya makanan. Karena dikerajaan ini, banyak sekali jenis jenis bahan baku yang dijual dengan harga murah. Seperti buah, sayur, padi, dan beberapa makanan lainnya. Terlihat jelas diatas langit, hampir seluruh hutan disekeliling kerajaan diubah menjadi lahan pertanian.


Meskipun usaha ini cenderung lebih rendah dari kerajaan lainnya, namun sebenarnya usaha inilah yang paling dibutuhkan oleh kerajaan sekitar yang hanya fokus usaha dibagian persenjataan dan perlengkapan perang. Tanpa makan, maka manusia pun juga tak bisa bertahan. Kebanyakan kerajaan lain bergantung pada kerajaan ini untuk mengimpor makanan.


Tang lili terlihat sangat senang saat dia pertama kali berada diatas awan. Angin menghembus rambutnya, gadis itu merentangkan kedua tangan dengan bebas. Terkadang dia juga menengok kebawah ketika melihat pemandangan indah. Bahkan, Ibu Tang Liu juga bereaksi sama sepertinya. Dia seperti gadis kecil. Namun, itu tidak mengherankan. Mengingat dia sebagai beast, apalagi sebagai sosok yang terkurung selama ini. Mendapat kebebasan dan mengalami waktu menyenangkan benar benar membuatnya sangat gembira.


Setelah matahari sedikit condong ke barat. Barulah mereka mencapai kerajaan angin barat. Kerajaan ini, dia berada ditengah Padang pasir dan lahan yang tandus. Mungkin kalau bisa dilihat, disini penduduknya pasti akan kesusahan mencari makanan. Nyatanya tidak seperti itu. Ketika Qin Yan melewati dua tebing yang dijadikan pintu masuk kerajaan ini. Ia melihat beberapa Hunter membawa beberapa tangkapan beast. Seperti kalajengking raksasa, kepiting, babi, dan beberapa beast burung. Jika dilihat lihat, beast seperti mereka sangat cocok untuk dijadikan stok makanan dalam waktu yang lama.


Tentunya mereka terlihat heran melihat kedatangan Qin Yan. Karena makhluk yang ditunggangi Qin Yan sangatlah aneh. Namun diluar dugaan, penduduk dikerajaan ini ternyata cukup ramah. Ketika Qin Yan mendarat, para petugas pos keamanan malah menyambut Qin Yan tidak perduli seberapa aneh kekuatannya. Qin Yan hanya membayar uang pajak dan pembayaran masuk sebagai pendatang. Setelah itu, mereka masuk bahkan sampai di pandu oleh seorang yang bertugas.


Hanya saja, satu petugas ini orangnya cukup penasaran. Ketika melihat Qin Yan menghisap prajurit bayangan tipe beastnya. Dia menyadari, kalau makhluk hitam yang bisa terbang itu bukanlah beast. Melainkan sebuah skill.


'Skill macam apa itu?'


Kebetulan petugas pemandu ini adalah seorang wanita. Kira kira dilihat dari perawakannya, umurnya masih 22 tahun. Dari tadi dia melirik Qin Yan sambil memandu mereka. Sampai ke tempat yang berpenduduk pun dia masih penasaran dengannya.


"Selamat datang di kota Geihuo. Maaf, saya hanya bisa mengantar kalian sampai disini." Wanita itu membungkuk hormat. Tang Liu dan lainnya duluan terpana dengan pemandangan kota didepan. Tapi tidak dengan Qin Yan. Ketika mereka pergi tanpa ragu, Qin Yan melakukan pembayaran pada wanita itu karena sudah memandu mereka.


Wanita itu juga tidak menolak. Hanya saja, wanita itu tidak tersenyum seperti kebanyakan orang lain ketika sedang bekerja. Kalau dilihat dari sikapnya, dia hampir mirip dengan Huang er. Yah, Qin Yan juga tidak memperdulikan itu. Setiap orang juga mempunyai sifat berbeda. Termasuk dirinya.


Ketika Qin Yan pergi hendak menyusul Tang Liu dan lainnya. Ia malah di hentikan wanita itu.


"Tunggu sebentar."


Qin Yan berbalik. Wanita itu melihat tangannya didada dengan percaya diri. Dilihat dari cara berpakaiannya, dia cukup menggoda. Celana panjang tentara dengan dilengkapi pisau dan senjata dibagian paha. Lalu dada yang cukup menonjol. Jika dia memakai baju berkancing, mungkin baju itu tidak akan muat untuk dadanya yang besar. Dia hanya memakai baju bisa dengan lengan pendek dan memperlihatkan perutnya yang seksi.


Tapi masalahnya itu, tatapannya. Aish, kalau wanita seperti ini. Qin Yan agak bersemangat. Dia mungkin terlihat tegas ketika sedang bekerja. Tapi didalam ranjang.....


Astaga, pikiran Qin Yan sudah kemana mana. Tapi dia kembali tenang.


"Ada apa?"


Wanita itu pun maju mendekati Qin Yan. Dia agak heran, melihat dari wajah Qin Yan, seharusnya dia masih anak anak. Meskipun tingginya tentu lebih tinggi darinya.


Tanpa mengatakan apapun, dia mengambil pisau yang ada di pinggangnya. Menyerang Qin Yan, tapi Qin Yan dengan mudah menghindarinya. Bahkan tanpa mengaktifkan mata merahnya. Tangannya yang terbilang mulus bahkan saat memegang pisau, berada didepan mata Qin Yan. Qin Yan yang tenang, menangkap tangan itu dengan mudah. Lalu menariknya, hingga wanita itu langsung berada di dekapan Qin Yan.


"Huh!" Terlihat raut terkejut diwajah wanita itu. Namun dia segera menjauh.


Qin Yan juga tidak menanggapinya. Dia pun pergi.


"Ka-kau...!" Wanita itu tampak tak terima perlakuan tadi. Cincin abu bau bangkit. Ternyata dia masih berada ditingkat Saint.


Yah, tingkah Saint di umur 22 itu termasuk tinggi sih. Tapi jika dia merasa yang teratas didepan Qin Yan, maka dia salah besar.


Saat itu, pisaunya menyala kehijauan karena dilapisi elemen angin. Dengan elemen yang dia miliki. Kecepatannya bertambah pesat. Dia menyerang Qin Yan tanpa ragu. Dan Qin Yan juga menanggapinya. Mereka bertarung cukup serius dan intens. Tapi malangnya, wanita itu tidak bertarung secara langsung. Namun, secara tidak sadar. Dia sudah terjebak didalam ilusi Qin Yan dari awal. bertarung dan mengikuti alur didalamnya.


Qin Yan juga sebenarnya sudah jauh dari wanita itu. Matanya sudah aktif dan menyala, ketika wanita itu kembali menyerang nya tadi. Dia malas meladeninya, makanya dia biarkan wanita itu mematung disana dengan pikiran sudah terjebak didalam ilusi.


Entah sampai kapan dia berhasil keluar, mungkin hanya temannya yang akan datang, yang bisa menariknya keluar.


Siang itu, Qin Yan makan disebuah restoran bersama Tang Liu dan lainnya. Keuntungan dari seorang pengelana adalah bisa menikmati hidangan khas dari kerajaan berbeda. Seperti yang dihidangkan oleh restoran disini. Seekor kalajengking yang sudah dibersihkan, dipanggang sebaik baiknya dengan bahan yang cukup membuat orang meneteskan air liur.


Lalu buah khas yang hanya bisa tumbuh dipadang pasir. Buah fis merah dari kaktus naga yang tumbuh dikerajaan ini. Rasanya manis, memuaskan dahaga. Lalu jus yang juga terbuat anggur merah. Ditambah dengan biji bijian pohon Biran yang seperti beras. Dimasak dan dihidangkan sebagai pelengkap dari kepiting dan kalajengking yang di panggang.


Tang Lili langsung menghantam seluruh makanan itu dengan lahap.


Disaat mereka makan. seperti biasa, Disitulah para pendatang bergosip. Yah, tempat makan memang biasanya di jadikan acara kumpul yang tepat untuk berdiskusi.


"Kalian sudah dengar? Katanya, perebutan kandidat patriak dikeluarga pengendali pasir akan dilaksanakan sebentar sore."


"Yah, aku juga dengar itu. Katanya anak patriak yang sudah lama menghilang tiba tiba muncul disaat menegangkan."


"Tapi, dari isu yang kudengar. Katanya anak itu adalah anak terlarang dari tuan dan pelayannya. Benar kah?"


"Haish, aku juga tidak tau pasti. Meski begitu, dia juga tetap anak patriak. Bahkan dia anak pertama. Dan yang kudengar juga, nyonya Lu, istri kedua patriak mengalami depresi berat akibat kematian putrinya. Keluarga itu sepertinya sedang dalam masalah besar. Mulai dari perebutan kekuasaan, sampai patriak yang tak kunjung sembuh. Sekarang bahkan nyonya pun hampir kehilangan akal. Bahkan bisnis mereka juga sedang tersumbat."


Mereka menggelengkan kepala sambil menikmati minuman yang dapat memabukkan.


"Yah, meskipun begitu. Bukankah kompetisi antar pemuda dikeluarga itu akan sangat menyenangkan untuk ditonton? Aku tidak sabar untuk menonton mereka, berita itu saat ini sedang ramai diperbincangkan. Aku ingin melihat anak patriak yang tiba tiba datang itu. Ada yang bilang, dia adalah salah satu peserta terkuat di turnamen antar kerajaan. Dia juga adalah salah satu yang selamat dari peperangan tiga bulan yang lalu bukan? Dia pasti sangat kuat."


Mereka yang tengah mengobrol, tidak menyadari, Kalau Qin Yan tengah menguping pembicaraan mereka. Dia pun tersenyum dengan penuh semangat, sendoknya merobek daging kepiting. Lalu memakannya.


'Xiu Xiu, aku datang ke kediaman mu.'