LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Kekhawatiran


Beberapa tahun setelah Yue er diculik, diumur Qin yan yang ke 18 tahun, ibunya meninggal entah tau itu kenapa. Ia hanya mendengar kabar, pendekar pedang giok yang merupakan ibunya, mati karena beberapa alasan rahasia. Saat itu, Qin yan sangat frustasi. Ia hanya pemuda biasa yang belum membangkitkan kekuatannya. Seseorang datang mengatakan hal itu padanya, dan ia adalah patriak utama keluarga Bulu biru. Katanya, ibunya adalah seorang pendekar ternama dimasa lalu. Dan beliau dikenal sebagai pendekar pedang giok. Oleh karena itu, kematiannya tentu diingat semua orang. Mengingat wanita itu adalah sosok yang terkenal pada masanya, membuat mereka jadi mengetahui jelas sosok itu.


Tidak ada yang tahu bagaimana keputusasaan Qin yan saat itu. Rasanya benar benar ia ingin mati, namun itu tidak terjadi karena Qiu er waktu itu mengungkapkan rasa cintanya padanya. Hal itu membuatnya semangat menjalani kehidupan. Ia mulai optimis sampai akhirnya membangkitkan kekuatannya. Hendak mengejar Qiur er, namun ia pun merasa putus asa kembali ketika mendengar ia tewas dimedan peperangan. Katanya itu disaat gadis tersebut ikut kompetisi turnamen tingkat benua.


Pada saat umur 20 tahun, disaat Qin yan menjalani kehidupannya sebagai seorang gelandangan dan pecundang. Tiba tiba retakan dimensi besar besaran terjadi, bangsal iblis keluar dari retakan tersebut dan membantai seluruh umat manusia. Masih teringat jelas saat itu, pembantaian massal yang mereka lakukan.


Dan sekarang permulaan semua itu telah terjadi. Akar semua ini berasal dari sekte Lembah Vermillion, saat ini mereka mulai melakukan pergerakan.


Aula luas, bertempatan disekte Lembah Vermillion.


Tiga lambang sekte tertera diatas meja, sekte Darah merah Neraka, Chi tae dalam kondisi penyamaran. Sekte Racun, Han genyu beserta beberapa orang kepercayaannya. Dan sekte Darkdemon, Cui xie pun ikut hadir dalam pertemuan yang sangat rahasia ini. Kebetulan sekali, ia juga membawa salah satu panglima sekte mereka sekaligus tetua disekte Darkdemon untuk ikut dalam acara diskusi tersebut.


"Apa! Membuat aliansi?" Ketiga master dari tiga sekte tersebut terkejut ketika master sekte Lembah Vermillion menyebut kata aliansi.


Master Lembah Vermillion, Rong qiyu. Setelah dua hari berlalu pada saat proses membuka celah dimensi. Kini ia mendadak menerobos ketahap Semigods dengan bantuan sosok yang mereka panggil. Kini, dengan tingkatan itu. Ia pun otomatis menjadi ketua diantara mereka, karena ialah yang paling menonjol.


Dengan kekuatan itu pula, keangkuhan dan arogansi yang ia pancarkan dari tingkah lakunya semakin dominan. Pasalnya, meskipun ketiga master itu menatapnya dengan tak senang karena iri. Namun ia hanya santai menghadapi mereka, karena ia tahu betul. Apa yang coba mereka lakukan padanya, mereka hanya tua bangka yang tersangkut dibawah tingkat Kaisar. Oleh karena itu ia hanya menanggapi emosi mereka dengan remeh.


"Ya. Dengan membentuk aliansi, kita mendapat peluang besar untuk menghancurkan sekte lainnya." Senyum Rong qiyu dengan percaya diri, namun perkataannya seakan menjadi lelucon ditelinga para master lain.


"Hahaha... Ada dengannya, apa kepalanya terbentur sesuatu? Kenapa dia bicara ngawur." Tawa Chi tae terbahak bahak, Han Genyu hanya menggelengkan kepala sementara Cui xie mulai menatapnya dengan tatapan merendahkan.


"Rong Qiyu, meskipun kita tidak terlalu dekat. Tapi aku mengerti ambisimu, sepertinya kau tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan halusinasi." Han genyu hanya menarik napas panjang.


"Hah, sepertinya sia sia aku datang kesini. Kita hanya mendengarkan omong kosongnya dari tadi." Cui xie pun berdiri, hendak berjalan keluar. Namun ia terimindasi akibat aura Semigod milik Rong qiyu.


"Kalian boleh tertawa sesuka kalian, kalian boleh memerehkanku sekarang. Namun fakta, aku sekarang berada diatas kalian. Padahal selama ini aku jauh dari tingkatan kalian semua. Apa kalian tidak penasaran bagaimana caranya aku bisa berada ditingkat ini?" Wajah Rong qiyu gelap, namun matanya menyala seolah sedang memancing mereka.


Seperti dugaan, setelah mendengarkan perkataan Rong qiyu. Cui xie terhenti, semua orang menatapnya dengan penasaran.


Menanggapi tatapan itu, Rong Qiyu hanya tertawa sombong. Mengisyaratkan mereka untuk menebak, namun dilihat dari tatapan pria itu. Semua bisa melihat, kalau kepercayaan orang ini berasal dari pendukung yang kuat.


"Jangan bilang..." Mereka mulai berspekulasi, namun tidak berani melanjutkan. Namun Rong qiyu mengangguk, seraya mengatakan.


"Itu benar, dan akan kupastikan. Kalau pendukung kita ini jauh lebih kuat dari Zhou weiqing."


"Hah!!!" Semuanya langsung berdiri, apa yang mereka dengan barusan seperti ledakan bom yang menghancurkan dunia. Tatapan mereka kaget bukan main, tidak percaya dengan apa yang ia katakan.


"Brak" Cui xie langsung membanting tangannya di atas meja.


"Hei, Rong Qiyu. Hentikan semua omong kosong ini sekarang. Aku muak mendengarnya!" Ia langsung beranjak kemudian berjalan keluar.


"Ayo pergi." Semua anak buahnya juga mengkutinya keluar. Namun tiba tiba, aura terasa mencekam. Mata seluruh orang yang ada disitu jadi membesar. Merasakan aura yang begitu kuat dan menekan mereka.


Tidak lama kemudian, Cui xie terjatuh. Bagaikan ditindih beban yang sangat berat. Ia bahkan tak bisa terbangun.


"AAAAKKHH...!" Teriakan serak keluar dari mulutnya, tubuh Cui xie perlahan lahan tenggelam kedalam lantai.


"Uuukh..." Ia juga terbatuk batuk, mengeluarkan darah segar. Matanya membesar seketika, ketika ia merasakan dengan jelas kalau tulang kedua tangannya terdengar retak.


"Hah... Hah... Hah..." Akhirnya, yang bisa ia lakukan disitu hanya diam pasrah terhadap kekuatan mutlak yang ia hadapi.


Semua tercengang, tidak ada yang tidak menganga. Mereka langsung berbalik kearah Rong qiyu yang tersenyum puas. Dibelakangnya, terdapat sosok bertanduk yang kurang jelas penampilannya.


"Hm... Manusia rendahan seperti kalian, berani beraninya bersikap angkuh tanpa mengetahui betapa tingginya langit." Sosok itu menjentikan jarinya. Seketika, semua orang jadi berlutut kelantai karena tekanan yang begitu mengerikan. Kecuali Rong Qiyu yang duduk dengan santai tanpa menghawatirkan apapun. Meskipun begitu, dalam hati ia sangat cemas kalau sosok ini akan menekannya juga.


Rupanya tidak, ia tidak kenapa napa. Setelah menekan mereka, barulah para master sombong itu jadi menyadari kalau apa yang dikatakan Rong qiyu bukanlah kebohongan. Namun tidak ada alasan bagi mereka untuk menunduk begitu saja, itu karena mereka juga mempunyai harga diri.


Namun tentu saja, tidak ada yang tidak takut pada sosok misterius ini. Siapa juga yang berani melawan bahkan ketiga sekte saja mampu ia tekan hanya dengan aura keberadaannya. Mereka pun memaksakan diri untuk mengangkupkan kedua tangan mereka.


"Tu-tuan, ka-kami minta maaf karena kelancangan kami tadi." Ucap Han Genyu sekuat tenaga, diikuti dengan Chi tae dibelakang.


Sanjungan itu membuat sosok tersebut tersenyum puas. Meski kesannya tentang manusia disini jadi tambah lebih buruk, namun ia tetap menerima mereka sebagai permainannya yang baru dimulai.


"Bagus, kalian pasti sudah menyetujui aliansinya yah. Tenang saja, akan kubuat kalian seperti Rong qiyu."


Mendengar itu, mata mereka terbelalak. Namun, dibalik itu. Jantung mereka berdebar sangat kencang. Benarkah mereka akan menerobos ketingkat yang bagi mereka sangat mustahil. Sejenak mereka tampak ragu, namun tidak ada yang berani mengeluarkan keraguannya jika tidak ingin seperti Cui xie yang hanya terbaring dilantai dengan tubuh menggigil.


Mereka hanya mengangguk pelan, ada juga yang semangat. Meskipun ini agak kurang jelas, namun mereka sangat antusias menunggu dengan apa yang terjadi kedepannya.


******


Ketika rombongan sekte Darkdemon sedang dalam perjalanan pulang. Tidak sengaja salah satu tetua mereka, atau disebut sebagai panglima pasukan. Tiba tiba terjatuh dari atas langit tanpa diketahui penyebabnya. Cui xie yang tengah melamun diatas burung tunggangannya juga kaget melihat hal itu.


"Apa yang terjadi!" Ia pun dengan cepat menyusul pria itu. Diikuti dengan anak buah lainnya.


Baru saja Cui xie memikirkan tentang kemalangannya tadi, sekarang ia mendapati panglimanya dalam keadaan tak sadar. Apa yang terjadi, jangan bilang panglimanya ini terjatuh karena aura sosok tadi. Tapi Cui xie mengakui kalau ia cukup takut dengan aura orang itu. Maka wajar jika panglimanya ini mungkin terkena tekanan mental setelah mendapati aura itu.


Ketika Cui xie mengejar pria itu kebawah, tanpa sadar ia mengamati. Asap hitam keluar dari tubuh pria itu.


"Guan fai! Apa yang terjadi padamu?" Ia pun berusaha membangunkannya. Untungnya tidak terjadi apa apa pada pria itu hingga ia cepat sekali terbangun.


"Huh, dimana aku?" Berkata pria itu dengan bingung, ia heran mengapa master dan tetua sekte mengelilinginya. Apalagi ini diatas diudara.


"Dimana aku? Setahuku aku ada halaman sekte."


Mendengar perkataan pria itu kembali, Cui xie dan lainnya makin bingung dengan apa yang terjadi.


"Guan fai, bukankah kau mengikuti kami dalam pertemuan tadi?" Tanya Cui xie memastikan.


"Hah! Apa? Pertemuan? Master, setahuku kita sedang mendiskusikan penghancuran kerajaan Sunmoon kan?" Bukan hanya mereka yang bingung, bahkan pria itu juga ikut bingung. Alur cerita yang ia lewati seakan tidak menyambung dengan apa yang ditanyakan Cui xie.


"Apa?" Alis Cui xie berkerut, ia lebih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Bahkan jika dipikirkan beberapa kali pun ia tetap tidak menemukan apapun. Apa ini, pertama Guan fai tiba tiba terjatuh. Lalu ada sebuah asap keluar dari tubuhnya.


Hah, asap!


Memikirkan itu, ia memang merasakan ada sesuatu yang janggal. Tapi ia tidak terlalu mengerti. Sepertinya ia harus mencari tahu tetang kejanggalan ini.


"Ada apa master?" Tanya Guan fai.


Melihat Guan fai yang tidak apa apa, Cui xie hanya mengangguk pelan.


"Tidak apa apa, kita harus kembali secepatnya." Mereka pun pulang dengan perasaan bingung berkecamuk, tentunya setelah ini mereka akan menelusuri tentang apa yang terjadi.


*****


Istana Sekte Niwan, Ruang pribadi.


Asap hitam tiba tiba masuk perlahan kedalam dahi Qin yan yang tengah terbaring tidur. Meski Medusa ada disampingnya, namun tidak ada yang menyadari adanya asap itu.


Hal tersebut membuat tubuh Qin yan berkeringat, mungkin karena asap itu membawa informasi penting. Ia jadi terbawa dalam mimpi. Dalam tidurnya, ia bermimpi mendengar kabar ibunya yang tewas serta pembantaian yang dilakukan oleh bangsal iblis.


"Ukh... Ibu..." Qin yan mengigau sambil memegang erat selimut, tubuhnya panas serta dipenuhi keringat.


"Hah... Hah.... Hah...." Sampai akhirnya ia terbangun dalam kondisi panik, napasnya tidak teratur.


"Huh! Aku baru melihatmu ketakutan, ternyata orang sepertimu bisa saja takut pada mimpi buruk." Medusa terkekeh disamping.


Ketika Qin yan berbalik padanya, ia heran dengan penampilan wanita itu yang terlihat berbeda. Biasanya pakaian yang ia gunakan terlihat elegan dan terkesan sangat menarik. Layaknya seperti gadis pada umumnya. Namun sekarang, Medusa tampak seperti wanita dewasa. Lebih terkesan kearah keibuan. Apalagi dibagian perut, biasanya itu akan diikat oleh kain hingga terlihat ramping. Menonjolkan dada dan pinggul yang sangat menggoda. Namun sekarang, dibagian perut itu terlihat baju longgar.


"Apa ada yang salah denganku?" Tanya Medusa dengan wajah tersipu. Qin yan sendiri dibuat heran olehnya.


"Sepertinya begitu." Jawab Qin yan singkat, terlihat saja dari ekspresinya. Kalau ada yang aneh dari wajah gadis ini. Jarang jarang Medusa bersikap feminim, ia lebih condong kesikap dingin dan kejam. Tapi sekarang, apa yang dilihatnya bertolak belakang dari yang Qin yan pikirkan.


Akibatnya Medusa jadi cemberut, ia pun menatapnya dengan tajam.


"Eerr... Jadi bagaimana keadaan kerajaan sekarang?" Qin yan buru buru mengalihkan topik. Untuk menghindari kecanggungan ini, tapi sebenarnya memang itu yang harus ia tanyakan.


Akhirnya, Medusa menghela napas. Mengambil segelas air lalu diberikan pada Qin yan.


"Kerajaan saat ini sedang dalam masa perbaikan."


Qin yan pun tertegun mendengarnya, ia bahkan belum meminum airnya.


"Masa perbaikan? Jadi, apakah kita menang?" Tanya Qin yan lagi. Medusa mengangguk sebagai jawaban.


"Hm... Selama kau tertidur, tetua sekte yang mengatur semuanya."


"Hahaha... Itulah yang seharusnya mereka lakukan." Qin yan tertawa senang mendengarnya. Jin kei dan Yao chen memang bisa diandalkan. Medusa sendiri jadi menggelengkan kepala. Melihat tingkah anak ini.


Namun tiba tiba Qin yan terdiam, berbagai informasi mengalir dikepalanya.


"Ada apa?" Medusa merasa ada yang salah dengan Qin yan yang tiba tiba serius. Benar saja, setelah menyaring informasi itu mata Qin yan jadi membesar. Terlihat rasa panik dan gentar diwajahnya, membuat Medusa bingung. Apa yang terjadi hingga Qin yan terlihat begitu khawatir.


"Jangan bilang....." Qin yan mulai berpikir, jangan bilang peristiwa dikehidupan sebelumnya akan dimulai. Tapi, bukankah ini terlalu cepat. Seingatnya turunnya bangsa iblis didunia ini saat ia berumur 20 tahun. Tapi sekarang, malah waktunya dipersingkat. Mungkin ini ada hubungannya dengan Qin yan yang tiba tiba menonjol dilehidupan kini.


"Ini tidak bagus!" Hanya itu yang ia pikirkan, ia tidak boleh memandang rendah masalah ini. Dan juga, mulai sekarang. Ia tak boleh bersantai lagi. Karena empat sekte ternyata sudah membentuk aliansi.


Kabar yang buruk itu, membuat Qin yan beranjak dari tempat tidurnya.


"Hei, kau belum sembuh total!" Medusa juga berdiri dengan kaget, ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Qin yan. Dengan cepat, ia langsung menyusul Qin yan yang berjalan semponyongan keluar menuju aula sekte.


"Apa yang terjadi denganmu sebenarnya?" Pekik wanita itu saat membantu menopang Qin yan. Ia benar benar khawatir melihat anak itu yang sangat panik. Hal apa yang mampu membuat anak luar biasa seperti Qin yan begitu ketakutan.


Qin yan tidak menjawab pertanyaan medusa, pandangannya tetap kedepan. Ia ingin bertemu dengan Yao chen, Jin kei dan Elfes.


"Bawa aku keluar." Ucapnya dengan singkat.