
"Master, perkenalkan namaku Xing he. Aku adiknya Xing yun." Salah satu anak maju kearah Qin yan, dia baru menerobos tahap Grandmaster. Makanya ia juga tak bisa diremehkan. Meski begitu, Xing he masih saja tidak terima, kalau orang seperti Jung kyun terima, padahal ia lebih kuat. Ia benar benar takkan menerima ini jika dia benar benar ditolak. Pasalnya, ia adalah putra dari salah satu keluarga teratas disekte ini. Keluarga Gunung keramat.
Qin yan menatapnya, memeriksa anak itu menggunakan Z.
Sama seperti halnya Xing yun. Ia mempunyai atribut cahaya. Hanya saja, kesombongannya ini, membuat Qin yan berpikir kalau anak ini tidak bisa dibandingkan dengan Jung kyun.
"Dimana kakakmu?" Tanya Qin yan.
"Oh, dia meminta ijin master. Nona Yuisha memintanya untuk mengikuti turnamen mewakili kerajaan Angin salju." Jawab Xing he dengan sopan. Dalam hati anak itu begitu bangga karena kakaknya dekat master.
"Master saya disini ingin sekali mengikuti...." Xing he berusaha menarik perhatian Qin yan, namun ia sadar kalau tatapan tuannya itu beralih kearah anak muda kekar disana. Umurnya sekitar 22 tahun.
"Saya Mao Niu master. Saya berada ditingkat Grandmaster dengan atribut kekuatan." Melihat Qin yan menatapnya, pemuda kekar itu langsung memperkenalkan dirin.
Alis Qin yan berkerut mendengar itu, sudah ia duga dilihat dari postur tubuhnya. Tapi, ada banyak yang beratribut kekuatan disini. Termasuk Lin fin.
"Lin Fin, nanti kau akan bertarung dengan anak ini." Suruh Qin yan padanya.
"Oke." Lin Fin mengangguk kemudian kembali duduk bersantai.
Setelah itu Qin yan memperhatikan tiga orang lainnya. Satunya seorang gadis dan dua laki laki. Gadis yang disana mempunyai atribut kecepatan. Sementara dua laki laki disana mempunyai atribut Air dan api. Untuk sesaat, Qin yan merasa bingung. Walaupun mereka bertiga juga berasa ditingkat Grandmaster, tapi masih ada yang menjanggal dipikirannya.
Tidak pernah terpikirkan oleh Qin yan, ia tiba tiba mengingat dua gadis dari keluarga Naga bersayap dan keluarga Taring putih. Ning er dan satunya lagi yang belum ia ketahui. Pada saat pertarungan mereka dipernikahan adiknya. Kedua gadis menunjukan potensi masing masing. Ning er mempunyai elemen kegelapan, sementara gadis dari keluarga Huyan itu mempunyai atribut kecepatan dan elemen angin. Mereka berdua juga berada ditingkat Grandmaster, namun bedanya mereka berada diumur 18 dan 19 tahun. Kecepatan gadis keluarga Huyan waktu itu, membuat Qin yan terpikir, kalau ia akan mengajaknya ikut turnamen.
Memikirkan itu akhirnya terbesit sebuah ide dikepalanya. Qin yan dengan cepat meninggalkan mereka.
"Kalian, tunggulah aku kembali." Ia melambaikan tangannya kepada mereka.
Qin yan pergi mencari ayahnya. Mendiskusikan sesuatu tentang kabar keluarga bangsawan tersebut. Setelah mengetahui kalau mereka menjadi tawanan, Qin yan pun berencana untuk mengunjungi mereka. Ia pergi ditemani dengan ayahnya. Karena keputusan membebaskan mereka juga harus membutuhkan persetujuannya.
Didalam Dimensial milik Qin yan.
Setelah dimensi gate terbuka, Qin yan bersama ayahnya keluar dari sana. Banyak sekali orang didalamnya, Qin yan tak percaya kalau mereka semua tidak berhasil melarikan diri waktu itu. Yang paling membuatnya terkejut, ternyata Jin kei bertugas menjaga mereka.
"Kau disini Jin kei?" Qin yan menyapa.
"Yah. Tapi, kenapa kau datang kesini Qin yan?" Tanya Jin kei balik.
"Yah, aku ada beberapa urusan. Dimana keluarga Huyan dan Ning berada?"
Jujur saja, Jin kei agak terkejut mendengar Qin yan mencari kedua keluarga itu. Urusan apa yang membuatnya datang kesini, bahkan ayahnya juga mengikutinya. Namun meskipun begitu, Jin kei tidak ada alasan untuk membantahnya. Malah mengantar Qin yan ketempat dimana keluarga itu berada.
Sekarang, banyak perubahan dialam dimensi ini. Karena dulu, kerajaan Sunmoon ditutupi oleh lautan air. Jin kei terpaksa memasukan air itu kedalam alam ini. Sehingga terbentuk sebuah lautan disini, bahkan bentuk bentuk kubus yang lain juga mulai terlihat berbeda. Terlihat sekali, sebuah kubus raksasa. Terbentuk didalamnya sebuah ruangan, dimana para tawanan disegel.
Jin kei mengantar mereka sampai kesebuah kubus berbeda, disana ada banyak sekali anggota anggota keluarga bangsawan yang dipenjara. Mereka terlihat tidak terurus, seperti gembel. Penjara dibagi menjadi dua kawasan, kawasan wanita dan kawasan pria. Hal tersebut dilakukan agar hubungan intim tidak terjadi.
"Wah, kau lumayan juga mengubah tempat ini." Qin yan memuji Jin kei dengan penuh kekaguman.
"Bukan masalah serius Qin yan, ku yakin kau juga bisa." Jin kei terkekeh mendengar Qin yan memujinya, mereka kemudian sampai ketujuan.
Disana ada seorang gadis berambut putih, dia tampak lusuh. Ditemani wanita paruh baya disampingnya. Penampilan keduanya sudah seperti pengemis. Disana juga, terdapat Ning er yang memisahkan diri dipojokan. Masih banyak lagi wanita wanita lain disana.
"Qian ji!! Aku sudah menduga kalau kau akan datang menyelamatkanku." Huyan Xing lu buru buru berteriak histeris didepan jeruji. Ia mendekatkan diri didepan raja. Berusaha menyentuh raja dengan tangannya.
Dengan penampilannya yang kasihan, cukup membuat Qin yan dan raja jadi tidak sampai hati menyiksa atau membentaknya. Qin yan sendiri teringat kepada ibunya saat melihat penampilan ibu Qian san ini.
Namun, bagaimana pun juga. Raja sudah menutup hati rapat rapat. Dia bahkan sudah menentukan hari dimana ia sendiri akan memenggal kepala istrinya ini. Berdasarkan hukum, baik itu istrinya yang terkasih atau keluarganya. Seorang raja tidak boleh terpengaruh dengan perasaan jika menyangkut kesalahan. Dan ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Rakyat tidak mungkin menerima mereka lagi. Ditambah lagi, raja sudah sangat membenci wanita ini.
Raja pun menutup matanya, ia kemudian meninggalkan mereka. Membiarkan Qin yan melakukan apa yang ia mau.
Sebelum dia pergi, ia mengangguk kepada Qin yan. Mengijinkannya melakukan apapun.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan Qin yan?" Tanya Jin kei. Qin yan kemudian berbisik padanya. Jin kei yang mendengarnya hanya mengangguk setuju.
Sejurus kemudian, Qin yan keluar dan menunggu ditempat yang jauh. Tidak lama setelah itu, Jin kei menyusulnya dengan membawa dua gadis. Dia adalah Ning er dan satunya lagi dari keluarga Huyan. Kedua gadis itu diborgol dengan rantai dikedua tangannya. Saat mereka melihat Qin yan, tampak wajah pucat tak berdaya muncul diwajah kedua gadis itu.
Qin yan berjongkok, memandangi kedua gadis itu.
"Apa kalian ingin bebas?" Tanya Qin yan dengan serius. Kedua gadis itu hanya diam menunduk. Rasa malu terpancar diwajah mereka.
"Aku tahu kalian tidak mempunyai keberanian untuk menjawab. Tapi aku menawarkan kesempatan untuk kalian. jika kalian mematuhiki kali ini, kalian bisa bebas dari hukuman."
kedua gadis itu saling memandang setelah mendengar perkataan Qin yan. nampak raut kebingungan di wajah mereka, di hati mereka berpikir kalau Qin yan mencoba untuk meniduri mereka berdua. memikirkan itu membuat mereka nampak pucat sekali lagi, namun jika itu jalan satu-satunya untuk mendapat kesempatan membebaskan keluarga. maka mereka rela melakukannya. kedua gadis itu pun sontak mengangguk bersama-sama.
"Begini, aku menyaksikan sendiri saat kalian bertarung melawan kami waktu itu. kupikir kemampuan kalian tidak buruk. jadi aku bencana menawarkan kalian berdua kesempatan untuk mengikuti turnamen bersama kami."
mendengar itu mata kedua garis itu terbelalak. mereka tidak menyangka kalau Qin yan akan menawarkan sesuatu yang tak terduga. mengikuti turnamen, itu bukanlah penawaran. melainkan kesempatan emas yang datang satu kali dalam seumur hidup. dari dulu, mereka selalu mendengar tentang turnamen tersebut. turnamen yang hanya bisa diikuti oleh para jenius, mengikuti turnamen tersebut merupakan impian bagi semua cultivator yang ada di dunia ini.
dari kecil hanya mendengar legendanya saja, sekarang malah tidak menyangka kalau mereka akan menyaksikannya langsung. sungguh sebuah kehormatan. kerajaan mereka sekarang mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi, dan mereka akan menjadi orang pertama yang ikut dalam turnamen tersebut.
"bagaimana.?" tanya Qin yan.
"bukankah ini penawaran bagus, selain berpartisipasi. kalian juga punya kesempatan untuk membantu membebaskan keluarga kalian."
kedua gadis itupun akhirnya mengangguk. Qin yan memberi kode pada Jin kei untuk melepaskan mereka. segera setelah itu, Qin yan membawa mereka keluar dari alam dimensial tersebut.
sesampainya di tempat Lu Xian dan para murid yang berkumpul.
mereka semua terkejut saat Qin yan membawa dua gadis tersebut. siapa juga yang tidak tahu, dua gadis sombong dari keluarga penghianat itu sudah terkenal ke semua orang. semua anggota keluarga Ning dan Huyan, sudah menjadi bulan-bulanan semua warga. mereka semua ditangkap dan kemudian ikut dimasukkan dalam tawanan. tidak disangka-sangka kalau dua Putri mereka akan berani datang disini.
"Qin yan, kenapa kau membawa mereka.?" tanya Lin Fin dengan alis berkerut. iya juga tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Qin yan.
"yah, kurasa mereka akan mengikuti kita dalam turnamen ini." Jawab Qin yan.
"Apa!" semua orang langsung tercengang mendengarnya.
"apa yang Anda lakukan, master!!" Xing he langsung maju dan memprotes.
"bukankah anda tahu, kalau mereka adalah penghianat." dengan penuh kebencian, anak itu menunjuk kearah kedua gadis itu.
"mereka berdua memang penghianat, tapi aku sedang membutuhkan mereka saat ini." Jawab Qin yan dengan nada dingin.
"Ta-pi..." Xing he masih tidak mau menerimanya, ia berasal dari sekte tapi tidak diperhatikan. sementara kedua penghianat ini malah merebut kesempatannya.
"Xing he, nyatanya kau tidak tahu apa yang terjadi di medan peperangan waktu itu. dan juga aku adalah masternya di sini, apa kau keberatan?" seketika, perkataan Qin Yan membuat mata Xing he terbelalak. ia langsung menunduk ketakutan setelah merasakan tatapan dingin dari Qin Yan.
"tentu tidak master." tubuhnya menggigil karena saking takutnya.
"bagus." Ucap Qin Yan.
"tapi aku punya kesempatan untukmu, kalau kamu ingin membuktikan dirimu. silakan lawan Jung kyun."
Sontak, Xing he berbalik. iya tak percaya kalau dia masih diberi kesempatan. kemudian ia pun menatap Jung kyun yang berdiri di sana. tatapan matanya kemudian jadi tajam. hari ini ia akan membuktikan, kalau dia lebih baik daripada sampah itu.
setelah mendapat persetujuan, kedua anak itu pun memulai pertarungan.
"Hiyahh!!!" dengan penuh emosi, Xing he menyerang Jung Kyung secara membabi buta. merasa kalau lawan yang ia lawan sangat lemah, Xing he sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk bernafas.
alih-alih berpikir sebelum bertarung, Xing he malah kehilangan kontrol. itulah kesan pertama yang didapat Qin yan ketika mengamatinya.
berbeda dengan Jung kyun, pria itu terkesan tenang dan bijak dalam mengambil langkah. ia berusaha menghindar, menangkis dan menyusun rencana taktik. sampai akhirnya karena kecerobohan Xing he dan rencana matang yang sudah diatur oleh Jung kyun. xing he akhirnya kalah telak dalam pertarungan.
"prok prok prok." Qin yan bertepuk tangan melihat itu, menikmati pertarungannya.
"tidak! aku tidak mungkin kalah. pasti ada yang salah di sini, master tolong beri aku kesempatan." Xing he memohon mohon kepada Qin Yan. Namun Qin Yan hanya menggeleng.
"Xing he, kau sudah lihat bukan. Jung kyun lemah, tapi ia bisa mengalahkan mu. apa kau tidak belajar dari pertarungan ini. ingatlah, kekuatan dan tingkatan bukan segalanya. jangan pernah sombong hanya karena tangkatanmu lebih tinggi dari lawanmu. semuanya bergantung pada otak, kerja keras dan keberuntungan. jika kau tidak memahami itu, maka siapa pun yang kau lawan pasti akan menyulitkanmu. sebaliknya, jika lawan lebih cerdas dan licik. maka dia akan menguasaimu, ingat itu baik-baik."
Xing he akhirnya mengerti mengapa Qin yan tidak menerimanya. ternyata begitu, selama pertarungan, ia sudah dikuasai oleh emosi dan kesombongan. sehingga ia tidak memperhatikan lawan yang kira lemah. jelas sekali, kalau ia tidak memenuhi kualifikasi.
memikirkan itu, membuatnya sadar kalau pikiran yang masih terlalu dangkal. Xing he langsung menangkupkan kedua tangannya. kemudian berlutut satu kaki kepada Qin Yan.
"terima kasih master! murid akan selalu mengingat pelajaran ini."
Qin Yan kemudian mengangguk. setelah itu Xing he berdiri dan kembali dengan kepala tertunduk. sejenak, ia memandangi Jung Kyun.
Jung kyun juga membalasnya dengan menangkupkan kedua tangan.
setelah itu pertarungan antara Ning er dan Mao Niu dimulai.
Ning er mempunyai atribut kegelapan, yang digunakan sebagai pengontrol. sementara Mao nui, mempunyai atribut kekuatan. pada dasarnya keduanya sama-sama hebat. tingkatkan Grandmaster melawan tingkatan Grandmaster juga. hanya saja, Qin Yan berpikir kalau atribut kegelapan sangat dibutuhkan dalam turnamen ini. berbeda dengan atribut kekuatan yang sudah banyak di kelompoknya.
pada akhirnya, ketanggungan dimenangkan oleh Ning er. gadis itu berupaya untuk memenangkan pertandingan dan meraih kesempatan.
melihat kerja kerasnya, Qin Yan mengangguk puas. ada kalanya orang-orang berpikir, lebih baik merekrut orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugasnya karena mempunyai beban yang tanggung daripada memilih orang yang hanya memamerkan diri.
untuk pertarungan ketiga. Huyan Wu melawan gadis beratribut kecepatan. namun, kecepatan Huyan Wu melebihi kecepatan gadis itu. sehingga gadis tersebut tidak bisa apa-apa.
akhirnya, setelah beberapa proses. semua anggota yang berpastisipasi dalam turnamen sudah lengkap. segera, Qin Yan pun meninggalkan mereka dan menuju ke tempat yang sudah dijanjikan. tempat dimana Weisi, Huang er, Lin fin, hulena, Xiang xiang dan Qin Yan akan merayakan reuni mereka.
bahkan tak lupa pula, Qin yan mengundang Tang Liu, Xiu Xiu dan Xie Xie untuk mengikuti acara reuni tersebut.
"Qin yan! disini!" Weisi melambaikan tangannya di atas tebing, memberi tanda kepada Qin Yan agar datang kesana.
"hahaha.... sini sini. kami sudah menyiapkan daging dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan." Ucap Weisi tersenyum ramah. ia kemudian menunjukkan seember daging dan ikan yang siap dipanggang nantinya.
"sekarang tinggal masternya yang akan bergerak." Senyum Weisi, menatap Qin Yan. Hulena dari tadi sudah membantu memotong bahan bahan.
"Bro, apa kau membawa yang lain?" Lin Fin datang merangkul Weisi. Kedua anak itu saling bercanda satu sama lain.
"Tentu saja, lihatlah." Weisi akhirnya menunjukan beberapa botol minuman.
"Woaaah..!!! Asik nih!!" Mata Lin Fin langsung menyala melihatnya. Sementara Huang er hanya menggelengkan kepala saat menyaksikan ketololan mereka. Kemudian ia memandangi Qin yang tengah membersihkan ikan.
"Hei, dua tahun ini kau tidak memberi kabar ke kami. Kukira kau sudah mati dibunuh."
"Huh! Pppfft.... " Qin yan tertawa lucu mendengarnya, gadis ini memang suka blak blakan kalau dalam berbicara. Hal itu membuat Huang er tidak senang.
"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Huang er dengan alis berkerut. Belum lama bertemu, kini ia sudah kesal melihat tampang Qin Yan.
"Tidak tidak. Aku tidak tetawa, hahaha...." Qin yan berkata sambil menutupi mulutnya.
"Hei! bukankah kau tertawa!!!" tunjuk Huang er dengan marah. Gadis itu akhirnya menyilangkan tangannya di dada. Mendengus kesal.
"Dasar sombong." Huang er langsung berbalik kearah tebing. setelah beberapa saat, keduanya tidak mengatakan sepatah katapun.
melihatnya yang merajuk, Qin Yan hanya menggelengkan kepala. Ia kemudian memulai obrolan.
"oh iya Huang er, dalam turnamen ini, apa kau ikut serta?"
Huang er langsung berbalik ketika mendengar pertanyaan Qin Yan. dengan sombongnya, ia menjawab.
"tentu saja, kami akan kembali besok." Tatapan Huang er menjadi tajam.
"hei.... aku akan menunggumu di sana nanti. kali ini aku tidak akan kalah." ucap gadis itu dengan penuh keseriusan.
Qin yan juga mengangguk dengan penuh senyuman.
"kita tunggu saja."
malam itu, waktu dihabiskan dengan penuh kebahagiaan. setelah sesama teman Qin yan melakukan perkenalan masing-masing, mengakrabkan diri satu sama lain. sisanya dihabiskan dengan bersenang-senang sampai mabuk sepanjang malam. semuanya jadi tak sadar, yang pertama keluar yakni Lin Fin dan Hulena. Gadis itu beralasan keluar untuk buang air, dan ia juga meminta Lin Fin menemaninya. nyatanya, bahkan sampai satu atau dua jam. mereka tak kunjung pulang. entah apa yang terjadi pada mereka. Bahkan Huang er hampir saja mencari mereka. untungnya Qin Yan menghentikannya.
selain mereka berdua, tidak ada yang lagi pergi
dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama-sama.
pagi hari....
Qin yan terbangun dari tidurnya, entah kenapa tubuhnya terasa keram seperti di tindih suatu beban. ketika membuka mata, Hal pertama yang ia lihat yaitu Xiang xiang yang tertidur di atas tubuhnya.
'astaga!' Qin Yan langsung tersadar, ternyata ia bersandar di bawah pohon. anehnya, bagaimana bisa gadis ini berada dalam pelukannya. bahkan kebetulan gadis itu dalam posisi ambigu. ia duduk mengangkang diatas milik Qin Yan. dengan keadaan tak sadar dan pakaian sedikit terbuka.
Qin Yan berusaha memperbaiki posisi duduknya, aga bisa memindahkan Xiang xiang dengan pelan tanpa mengganggunya.
"Mmm...!!" namun gadis itu malah mempererat lingkaran tangannya dan makin memeluk Qin Yan.
Akhirnya, Qin Yan hanya menghela nafas tak berdaya. ia tahu gadis ini pasti tidak akan melepaskannya. tapi, yang membuatnya penasaran. apa yang ia lakukan bersama gadis ini tadi malam. sial, jika mereka melakukan yang tidak-tidak. pasti Qin Yan akan terseret dalam masalah baru.
tidak punya cara lain, Qin Yan hanya menunggu sampai pagi benar-benar menjelang. ketika cahaya matahari menusuk, barulah gadis itu membuka mata. saat itu, Qin Yan baru menyadari. kalau xiang-xiang sangat manis jika ditatap lebih dekat.
"Ukh..." Xiang xiang mengusap satu matanya.
ketika ia melihat wajah Qin Yan yang berada dekat dengan wajahnya. seketika rona merah menghiasi wajah imutnya tersebut. ia memalingkan wajahnya kesamping dengan malu, namun disana ada Weisi dan yang lain juga menatapnya dengan aneh, membuatnya menunduk tak berani menatap mata orang. termasuk matanya Qin Yan.
Qin Yan pun hanya tersenyum. ia kemudian mengusap kepala gadis itu, ia juga tak tahan untuk berdiri dan meregangkan tubuhnya.
menyadari ada sesuatu yang salah di bawah tempat duduknya, sesuatu yang menonjol dan keras. Xiang xiang tidak tahan untuk melihat. kepolosannya membuat semua orang yang ada di situ jadi tertawa terbahak-bahak.
tidak lama kemudian, Lin Fin dan Hulena datang ke tempat itu.
"hei ini sudah pagi, cepat bangun. bukankah kita akan berangkat?" Lin Fin mencoba membangunkan Xie Xie yang masih tertidur.
"ah itu benar, aku sampai lupa." Qin Yan juga berdiri, memanfaatkan kedatangan mereka untuk lari dari situasi canggung itu.
"Hei saudaraku, kenapa baru datang?" Weisi jadi merangkul bahu Lin Fin. dalam senyumnya, pikirannya mulai mengisyaratkan kecabulan. hal itu dengan cepat di tepis oleh Lin Fin.
"apa maksudmu? kami cuma jalan-jalan saja." Lin Fin terbalik malu sambil pura-pura mengorek lubang hidungnya. sementara Hulena, tersipu malu di samping dengan wajah memerah. Hal itu membuat kecurigaan semua orang jadi semakin terbukti. mereka benar-benar bersenang-senang semalam.
"Woaaah.... selamat ya saudaraku." tentunya Weisi mengerti itu, dia hanya menepuk-nepuk punggung Lin Fin dengan pelan kemudian menjadi orang yang pertama yang meninggalkan mereka.
Huang er juga hanya menggelengkan kepala. membuat Lin Fin dan Hulena tak bisa berkata-kata.
"baiklah berhenti menggoda mereka. ayo, kita pergi bersiap siap." Qin Yan juga buru buru meninggalkan tempat itu.
setelah mengemasi barang-barang, Qin Yan dan yang lain hendaknya meminta ijin pada ayahnya. ketika memasuki istana, ia kaget melihat dekorasi aula yang tampak istimewa. seperti sedang merayakan sesuatu, dekorasi ini hampir sama dengan pernikahan Qian yu. hanya saja ini lebih sederhana.
"Qian yan, kau sudah datang." Senyum raja Sunmoon tersungging di wajahnya, ia sudah bersiap-siap. bukan hanya dia sendiri, bahkan Qian Qian dan ibunya kita sudah memakai gaun khusus.
"oh astaga.!!" Weisi dan lainnya tidak bisa berkata-kata, saat menyaksikan prajurit berbaris rapi sementara orang-orang terkemuka menikmati jamuan di depan.
tentunya Qin Yan juga ikut tercengang. apa ini, kenapa para ahli dari sektenya sudah berkumpul di pagi ini. apakah mereka sarapan bersama-sama? tapi ini terlihat seperti perjamuan, apa yang mereka rayakan.
"Master." kepala keluarga patriak dari lima keluarga teratas disekte menyambut kedatangan Qin Yan. Mao jin, Ling Han, Xing Po, bahkan Zhang Zhao juga ada disana.
melihat Qin Yan yang masih melongo, raja pun senyum. tidak lama kemudian, Yue er masuk ke dalam istana. pagi itu, Yue er terlihat sangat manis dan cantik. Qin Yan sampai tidak tahan untuk memujinya. hari ini mereka semua benar-benar aneh, bahkan adiknya sendiri dipenuhi senyum berseri-seri.
rupanya ia tidak datang sendiri, ada tangan yang ia bawa. kulitnya putih dan mulus membuat semua penasaran siapa gerangan wanita yang akan muncul ini. ternyata, wanita itu adalah Medusa yang sudah memakai gaun pengantin.
"A-apa ini!" Qin Yan menganga, belum sampai keterkejutannya menghilang. Yue er sudah berada di depannya, menarik tangannya dan disatukan dengan tangan Medusa. kedua pasangan tersebut digiring melewati semua orang sampai ke depan orang tuanya.
"A-ayah apa sebenarnya dengan semua ini?" Alis Qin Yan berkerut, namun ia tidak menyangkal senyuman bahagianya ketika mereka menyiapkan sebuah kejutan.
"kau akan pergi, tapi sebelum itu jangan biarkan wanita ini menanggung malu."
ucapan ayahnya, tentunya dimengerti oleh Qin Yan. dia pun mengangguk, ayahnya menuntunnya untuk membaca sebuah sumpah ikatan suami dan istri. pagi itu, disaksikan oleh semua orang. keluarga, teman-teman, penatua tertinggi sekte. akhirnya Qin Yan dan Medusa resmi dinikahkan. pagi hari sebelum berangkat, semua orang menikmati hidangan yang sudah disiapkan.
depan gerbang istana.
semua orang melepaskan kepergian Qin Yan dan teman-temannya. untuk kepergiannya kali ini, Medusa sama sekali tidak bisa ikut. karena dia sudah mencapai tingkat Kaisar, dan Qin Yan menyerahkan mereka untuk merawatnya.
"Apa keadaan Qian yu sudah membaik?" Tanya Qin Yan kepada ayahnya.
"tenang saja, dengan bantuan Patriak Xing Po. kondisi Qian yu tidak perlu dikhawatirkan. Katanya, ia akan bangun tidak lama lagi." Jawab ayahnya dengan tenang.
Qin Yan sendiri menghembuskan nafas lega ketika mendengarnya. ia kali ini menyerahkan kondisi Qian yu padanya. dengan keterampilan dan pengalaman yang Xing po miliki, sudah cukup membuat Qin Yan percaya padanya.
"Baiklah kami pergi."