LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Mengejar pencuri


Malam yang indah, petasan petasan buatan mewarnai indahnya langit. Orang orang yang berkumpul ramai, menikmati sajian dari pesta perayaan hari ulang tahun, putra sang legenda yang mendominasi. Andai kata orang yang berulang tidak seterkenal apa yang dilihat, pastinya pesta semeriah ini takkan terjadi.


Kebahagian demi kebahagian menghiasi keluarga yang berulang tahun. Ada begitu banyak kegiatan kegiatan menarik yang dilakukan dimalam yang istimewa ini. Semuanya melepaskan rasa penat yang sudah mereka rasakan selama beberapa hari ini.


Namun, disaat semua orang dikerajaan ini tengah bersorak gembira. Dibagian Utara kerajaan Zhong tian malah terjadi aksi kejar kejaran.


Seorang pria berjubah melarikan diri sambil membawa gadis kecil ditangannya. Dibelakang, beberapa sosok berusaha mengejarnya. Berlari dari atap ke atap, pohon ke pohon, atau bahkan terbang diudara. Semuanya dilakukan agar bisa menangkap pencuri itu.


"Tap tap tap" Qin yan melompat dari rumah kerumah. Saat ini langit telah dipenuhi warna warni kembang api, bukannya bersantai tapi ia malah berlari habis habisan. Tubuhnya dipenuhi keringat, napasnya berat. Ia terpaksa menggunakan perubahan mode iblis demi mengejar pria didepan sana yang larinya begitu cepat.


'Ukh, sial. Cuma aku yang paling belakang yah.' Batin Qin yan dengan kesal.


Bagaimana tidak, rekan rekan yang lain sudah berada didepan sana. Mulai dari Medusa, Na er, gadis bercadar yang tidak ia ketahui. Sampai beberapa meter dari mereka, Qin yan adalah yang terbelakang.


"Tap" Qin yan menginjak dengan kuat pada bangunan hingga ia melompat sedikit lebih tinggi.


"Siung siung" Kemudian melemparkan dua pisau kearah pria itu. Pisaunya berbelok dan saling bertabrakan satu sama lain, hingga pria itu bingung dimana pisaunya akan mendarat. Jadi ia hanya menghindar tanpa perhitungan terlebih dahulu.


Sesuai perkiraan Qin yan, pria itu tidak mengerti pergerakan pisaunya. Dari awal Qin yan memang sudah menetapkan target agar dua pisaunya mendarat tepat didepan pria itu.


"Apa!" Pria itu tentunya terkejut, rupanya alasan kedua pisau tadi berputar dan bertabrakan satu sana lain ternyata sudah dilapisi benang tak kasat mata dari awal. Hingga ketika kedua pisau itu melewatinya, itu berarti ia sudah terikat. Bagaikan mangsa yang sudah jatuh kedalam jebakan laba laba yang sudah mengatur jebakan.


"Ukh." Pria itu kehilangan keseimbangan, bahkan tak sempat berpijak lagi. Gadis kecil yang ia pegang jadi terlepas dari tangannya.


"Mei ji! Sekarang!" Teriak Qin yan. Sesuai aba abanya, Medusa melompat, Rantai angin langsung menuju pria itu. Namun entah benda berkilauan apa yang pria itu keluarkan, Medusa sampai terlempar karenanya.


"Bukh" Ia terlempar sampai kedinding. Membuat langkah Qin yan terhenti, dan menuju kearah jatuhnya Medusa.


"Apa kau baik baik saja?" Tanyanya dengan khawatir. Namun Medusa hanya menggeleng.


"Dia mempunyai sebuah artefak yang tak bisa aku tembus. Artefak khusus untuk melawan klan Medusa, Karena aku masih mempunyai darah klan itu. Aku tak bisa mendekatinya meskipun aku sudah seutuhnya menjadi manusia. Aku tidak menyangka dia mempunyai benda selangka itu." Raut wajah Medusa terasa tak senang. Artefak adalah benda yang kuat, namun benda itu hanya bisa digunakan dalam sekali dalam satu waktu. Biasanya itu akan digunakan dalam keadaan yang sangat mendesak.


"Maaf telah melibatkanmu dalam hal ini." Qin yan menunduk dengan rasa bersalah.


"Jangan katakan itu, lihatlah. Pria itu sudah melepaskan diri." Tunjuk Medusa kedepan, membuat Qin yan panik sekali lagi. Ia pun bediri dan mulai mengejarnya.


"Nan yu!" Sementara Na er berhenti, menolong adiknya yang pingsan setelah jatuh ketanah. Dengan cepat, ia mengalirkan energi jiwanya karena adiknya itu terlalu mengeluarkan banyak darah dilehernya.


Untungnya adiknya itu masih bisa diselamatkan, hingga ia masih bisa bernapas lega. Dengan diam, ia hanya bisa menyaksikan Qin yan yang tetap berlari mengejar pria itu.


'Semoga berhasil.' Senyumnya dengan tulus.


'Sial, aku sudah ketinggilan terlalu jauh.' Batin Qin yan kesal, seberapa pun ia meningktkan larinya. Kecepatannya tidak pernah bertambah.


'Kalau begini terus aku bisa kehilangan jejaknya.' Ia pun kembali menekan lima titik meridiannya, api hijau menyala memenuhi tubuh Qin yan.


'Gerbang pertama!' Teriak Qin yan dalam hati.


"Siung" Kakinya langsung mengeluarkan tekanan energi yang kuat. Dalam sekejap, 20 langkah ia selesaikan hanya dalam sekali langkah. Bahkan Yun zhi sekalipun ia bisa menyusulnya.


'Pijakan udara!' Tanpa berpijak diatas benda keras, Qin yan bisa melangkah diudara dengan kecepat kilat. Menerjang pria itu dari belakang. Namun mata Qin yan membesar, rupanya pria itu memang sudah menungunya dari tadi. Dan sudah mempersiapkan serangan dadakan.


Sebuah tombak muncul ditangan pria itu, ia langsung arahkan kedada Qin yan.


'Gerakan kilat!' Dengan cepat, Qin yan menghindar kesamping. Api hijau lain menyala memenuhi seluruh tubuhnya. Tangan kanannya membengkak, dipenuhi tulang keras dan cakar tajam. Tanpa peringatan langsung meninju rusuk pria itu.


"BUAKH" Pria itu langsung terlempar, namun entah kenapa Qin yan merasa ia telah memukul sebuah benda yang amat keras. Rupanya tubuh pria itu dilengkapi armor kondolisasi yang cukup tinggi. Dan ternyata seperti apa yang ia pikirkan, belum lagi Qin yan beraksi. Malah pria itu kembali muncul diatasnya.


'Hah? Teleportasi?' Mata Qin yan terbelalak saat melihat pria itu tiba tiba muncul diatasnya. Kakinya terangkat, dan langsung menendang Qin yan.


"BUKH" Kini giliran Qin yan yang terpental ketanah. Meskipun ia sudah menahan tendangan itu dengan kedua tangannya. Namun karena dorongan kekuatannya yang begitu kuat. Ia tak bisa menahan dorongan itu, hingga dirinya tertanam ditanah.


"Tch, bocah konyol." Berdecak mulut pria itu menghina Qin yan, saat ia mendarat diatas atap. Ia baru sadar, Yun zhi sudah ada disampingnya dengan pedangnya terangkat.


"Hiaat!!" Teriak gadis itu memainkan pedangnya ketika menyerang pria itu.


"Hiung hiung hiung hiung" Semua gerakan pedangnya berhasil dihindari, namun untuk serangan terakhir. Pria itu memilih untuk melawannya.


"Duar" Ledakan terjadi, Yun zhi mundur beberapa langkah. Beserta pria itu juga. Keduanya memiliki tingkatan yang sama, yaitu tingkat Sage. Oleh karena itu kekuatan mereka nampak seimbang.


"Elemen angin, Tebasan angin!" Yun zhi langsung mengirim tiga tebasannya kearah pria itu. Namun matanya membesar saat pria itu malah berteleportasi ketempat lain.


"Elemen spasial, Blink.!" Ucap pria itu dengan tenang, ia lebih memilih untuk menghindari pertarungan. Karna itu hanya akan membuang buang waktu saja. Lebih baik ia melarikan diri dengan cepat.


"Mau kemana kau." Namun belum jauh ia melangkah, Medusa muncul didepannya. Mengirimnya kutukan agar ia membatu, namun pria itu berteleportasi lagi. Ia benar benar cerdik, sengaja tak memangi mata ratu Medusa yang menyala agar tidak membatu.


"Kau lebih baik jangan terus terusan menghindari dariku!" Mata Medusa langsung memancarkan cahaya laser, disertai energi kuat yang meliputinya.


'Sial, aku tidak bisa menghindar terus seperti ini. Kenapa aku harus bertemu dengan tingkat Kaisar sih? Nomor lima, cepatlah lakukan tugasmu.!' Batin pria itu dengan kesal, ia langsung mengeluarkan kotak merah disakunya.


"Tunjukan kemampuanmu artefak suci!!" Teriaknya melempar artefak itu kearah serangan Medusa.


"BOOMM" Ledakan energi terjadi, namun tidak menghancurkan apa apa. Hanya hamparan kejut energinya terhempas meliputi seluruh kota Surga.


Orang orang yang tengah berpesta merayakan malam istimewa ini didepan istana malah terkejut dengan aura yang begitu kuat menyapu mereka. Lentera lentera yang bergantung jadi berterbangan dan berserakan.


"Sialan! Siapa yang berani mengganggu acara cucuku ini!?" Teriak Sangguan Tianyang dengan penuh amarah, dua saudaranya juga berdiri dengan wajah yang gelap. Sementara yang lain menuju keatas langit memeriksa apa yang terjadi.


"Tampaknya itu berasal dari arah utara." Berkata Ratu elf dengan tenang. Membuat mereka jadi semakin marah.


"Akan kubunuh orang yang telah mengacaukan hari istimewa cucuku ini." Teriaknya dengan niat membunuh.


Disisi lain, Zhou weiqing yang hendak menuju keistana jadi terhenti dengan ledakan aura tersebut. Wajahnya kesal bukan main, menghadap kearah asal ledakan itu.


"Qin yan! Apa kau tidak bisa menahan dirimu? Kenapa kau suka membuat kekacauan?" Ia langsung menghilang dipandang mata.


Diatas balkon istana kerajaan Zhong tian. Berbeda dengan yang lain, merayakan malam ini dengan penuh kegembiraan. Seorang gadis muda Elf tengah termenung diatas. Menatap langit yang indah penuh bintang. Namun datangnya kejut tersebut membuat juga terkejut. Tapi dilain sisi, ia juga merasakan ada sesuatu yang salah didalam ruangan istana.


Tiba tiba sebuah lubang hitam terbuka dari celah udara. Tepatnya diruangan harta rahasia, istana Zhongtian. Pria yang keluar itu menutupi segala tubuhnya dengan kain hitam dengan dua pedang ada dipunggungnya. Ia diam diam menyelinap mendekati sebuah kristal kuning yang menyala lebih terang dari emas.


"Bagus, ini pasti batu Spirit Stone. Dengan ini tugasku selesai." Batu itu ia ambil lalu hendak dimasukan kedalam cincin penyimpanannya. Namun pintu tiba tiba terbuka dan gadis Elf muncul dari sana.


"Hentikan itu dasar pencuri!" Gadis itu mengangkat busurnya dengan anak panah yang siap diluncurkan. Cincin hitam bangkit dipinggangnya.


"Oh, gadis kecil. Lebih baik kau kembali, jangan menggangguku." Ucap pria itu dengan dingin, cincin abu abu bangkit ditangan kirinya. Lalu satu tangan menarik satu pedangnya.


"Elemen Spasial, Blink!" Ia tiba tiba muncul didepan gadis itu, membuat gadis itu langsung terkejut. Matanya terbelalak menatap pedang tajam yang hendak menebas wajahnya, namun untungnya ia berhasil menghindar.


"Hup!" Akhirnya ia melepaskan anak panahnya kearah pria itu setelah jarak mereka cukup jauh.


"Ptank" Namun dengan mudahnya pria itu menangkis anak panahnya.


"Bocah kecil, aku tak punya waktu bermain main denganmu." Pria itu kemudian mengangkat satu pedangnya lagi. Namun tiba tiba matanya terbelalak menerima pesan dari ketuanya yang sedang terpojok.


Membatalkan niatnya, pria itu kembali membuka lorong spasial. Hendak masuk kedalamnya, namun gadis itu tidak memberi kesempatan dan langsung melancarkan panahnya.


"Gah!" Karena terlalu fokus dengan pesan itu, pria itu sampai mengabaikan gadis yang dibelakang. Pada akhirnya, anak panah gadis itu sukses tertancap dipunggungnya membuatnya jadi mati rasa.


'Sial, padahal tubuhku dilapisi armor kondolisasi tingkat raja. Kenapa kayu kecil ini tetap menembusku? Huh!' Awalnya pria itu heran dengan fakta tersebut, namun ia jadi terkejut saat melihat tingkatan anak panah itu, benda itu juga berasal dari tingkatan kondolisasi yang cukup tinggi ditambah dengan energi yang melapisi anak panah itu membuatnya jadi sadar.


'Energi Alam?' Pria itu jadi berkeringat. Dengan wajah gelap, ia langsung mengangkat kedua pedangnya.


"Gadis kecil, kau..."


"Siung" Ia tiba tiba menghilang sekali lagi, dan muncul didepan gadis itu. Namun naas, lantai yang ia pijak malah bolong. Rupanya gadis itu telah memprediksi gerakannya dan lantai tempat ia mendarat jadi berlubang.


"Elemen alam, Tanah!" Teriak gadis itu.


"Gah!" Kali ini keluar tonjolan batu dan langsung menghantam perutnya. Air liur keluar tanpa sadar, tapi mata pria itu tetap melototi gadis itu.


"Umurku sudah 150 tahun, seharusnya kau menghormatiku. Bukan memanggilku seorang gadis kecil!" Mata gadis elf itu menyala, energinya bergolak hingga merambat kebusurnya.


Belum sampai pria itu mendarat didinding, gadis itu duluan meluncurkan anak panahnya.


Ia memegang dadanya yang sakit, menatap gadis itu dengan satu mata yang tetap tertutup. Terpaksa hanya bisa menggertakan gigi.


'Sial, jika aku berlama lama disini. Aku bisa saja gagal.' Pikirnya.


Ia pun mengambil bom asap disakunya, melemparkannya kelantai.


"Bom" Suara ledakannya tidak terlalu besar, namun seluruh ruangan di penuhi asap hitam. Gadis elf itu menutupi matanya, namun tangannya tetap waspada dengan busurnya yang sudah siap.


Samar samar ia dapat merasakan keberadaan pria itu dalam asap, dengan percaya diri ia langsung melancarkan anak panahnya lagi.


Sama halnya dengan pria yang hendak memasuki lorong spasialnya, ia tiba tiba merasakan serangan menuju kearahnya.


'Sial, gadis itu!' Tangannya mengeluarkan percikan hijau.


'Dinding spasial!' Teriak pria itu dalam hati, panahnya berhasil di tahan. Namun betapa kagetnya lagi, gadis itu tiba tiba muncul didepannya mengikuti keberadaan anak panah itu.


'Gadis gila!!' Wajah pria itu menjadi jelek, lorong spasial sudah kehabisan waktu dan otomatis langsung menghisapnya.


"Tidak akan kubiarkan kau kabur!!" Dengan cepat, gadis Elf itu langsung menangkap pria tersebut. Bersamaan dengan itu, lorong spasial akhirnya melahap mereka berdua.


Gerbang perbatasan udara...


"Hoaam...!!!" Dai yueheng menguap sambil merentangkan tangannya ketika memasuki gerbang masuk kerajaan Zhong tian. Wajahnya babak belur dan tubuh diikat lilitan putih. Ia juga berjalan dengan satu tongkat menopang kakinya yang patah.


"Butuh waktu lama juga rupanya untuk mencapai gerbang ini." Berkata dirinya dengan lesu. Kemudian ia melirik kebelakang dengan tajam.


"Ini semua gara gara kau!" Tatapnya dengan penuh kekesalan.


Pria berambut hijau pendek, Xuan ziwei juga berada belakangnya. Keadaannya sama seperti Dai yueheng, wajahnya babak belur dan satu tangannya patah. Akhirnya ia hanya bisa menggunakan satu tangan setelah bertarung cukup intens tadi dengan koki itu.


"Sepertinya ada pesta meriah." Mereka berdua menghadap kelangit, kelap kelip petasan menwarnai langit yang indah membuat mereka juga ikut kagum.


"Woah..." Seru mereka dengan mata gemilau.


"Bruuk" Namun mereka tiba tiba terkaget, saat dinding perbatasan disamping mereka, malah di bobol seseorang. Rupanya seorang pria terlempar sampai menghantam dinding itu.


'Apa yang terjadi?' Bertanya mereka, namun seketika matanya terbelalak melihat mahkota ratu air keluar dari balik pakaian pria itu.


"Itu mahkota ratu! Ambil!!" Dengan cepat, Xuan ziwei langsung menangkap mahkota tersebut. Namun pria itu bangun dan langsung menendangnya.


"Bukh" Tendangan itu membuat Xuan ziwei bahkan terlempar sampai dinding perumahan.


"Kalian tidak boleh mengambil ini. Sangat dilarang." Pria itu perlahan mengambil mahkotanya yang jatuh.


"Hei, yang seharusnya tidak boleh mengambil barangnya itu kau. Cepat lepaskan benda itu!" Mata Dai yueheng menyala, cincin Ungunya bersinar disertai kakinya dilapisi aliran listrik.


"Rahasia keluarga Gentle Kick, Triple Kick!!" Ia langsung menerjang pria itu.


"Biung biung biung" Diudara ia melakukan tendangan berputar tiga kali, setelah itu entah kenapa pria itu malah terkena damagenya.


"Bukh" Tendangan yang begitu kuat membuatnya mundur beberapa langkah, namun cukup untuk menahannya.


'Pria ini kuat.' Keringat langsung bercucuran diwajah Dai yueheng, ia pun juga mengangkat kakinya lagi, bersiap untuk menyerang kembali.


"Aliran Pedang! Tebasan tanpa rasa!!!" Kali ini, giliran Xuan ziwei yang menyerang. Ia tiba tiba melesat kearah pria itu dengan pedangnya yang sudah dikeluarkan. Tidak tau kapan ia menggerakan pedang itu, yang penting pria yang ia serang tidak bereaksi apa apa. Seolah olah tidak merasakan sesuatu. Namun tidak lama setelah itu, enam tebasan langsung terlihat ditubuhnya. Mengeluarkan darah segar.


"Ukh!!" Pria itu langsung mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Disaat bersamaan pula, gelembung gelembung aneh melintasi pria itu. Dan seketika matanya menyala, karena ia mengetahui arti gelembung itu.


"ZZzzzttt Zzztt zzztt" Gelembung tersebut langsung mengeluarkan percikan listrik.


"AAARRGGHH!!!" pria itu langsung berteriak kesakitan, luka tebasan ditambah dengan percikan listrik. Sakitnya menjadi sangat luar biasa. Matanya melirik keatas atas atap, dimana Na er berdiri dengan tongkatnya ditangan.


'Sial, gadis itu!!' Matanya kemudian membesar dengan marah, namun naas. Sekali lagi, ia terkejut melihat tubuhnya tiba tiba membatu.


"Dimana artefakmu tadi hah?" Mata Medusa menyala dengan hawa membunuh tinggi. Membuat pria itu menangis ketakutan, artefaknya tadi sudah rusak akibat bentrokan. dan sekarang ia tidak bisa lagi apa apa didepan ahli sekuat ini.


'Matilah aku.' Pria itu menutup mata seraya menunggu kematian.


Namun siapa yang menduga, diatas kepalanya muncul sebuah lorong spasial. Dari dalam sana, keluar sebuah tangan.


"Elemen Waktu! Keterlambatan absolut!!!" Suara seorang pria terdengar dari dalam, dari tangan itu keluarlah sebuah gelembung. Pergerakan Medusa yang tadi mendekatinya, jadi melambat. Selambat lambatnya, hingga medusa sendiri tak bisa apa apa.


"I-ini...." Mata medusa sekali membesar, bagaimana bisa ia berurusan dengan pengguna elemen waktu disini.


Diluar wilayah gelembung waktu, tepat dibawah bagian kaki pria itu rupanya tiba tiba muncul seekor ular hijau dan langsung melilit kakinya. Karena tidak dilindungi oleh efek apa apa, ular itu tidak mengalami keterlambatan.


Qin yan dalam mode perubah Iblis Neidan tiba muncul dari dalam tanah. Tersenyum lebar menatap pria itu.


"Hehehehehe..." Ular lainnya juga melilit beberapa orang. Medusa, Xuan ziwei, Dai yueheng, Yun zhi, sampai Na er sendiri. Tanpa sadar Qin yan menangkap semuanya.


Disaat bersamaan, tangan dilorong spasial itu juga menangkap pencuri tersebut. Setelah itu, dalam seperkian detik. Lorong spasial itu langsung menghisap semuanya. Siapapun yang berhubungan, dari menyentuh ke menyentuh juga ikut tertarik.


Qin yan dan yang lainnya tiba tiba menghilang dipandang mata tertelan oleh dimensi.


"Tap" Satu detik mereka menghilang, Zhou weiqing dan ahli ahli lain muncul ditempat tersebut. Wajah mereka semua jadi pitam melihat kerusakan kerusakan akibat pertarungan yang barusan terjadi.


Banyak jejak dan bukti yang mereka dapatkan. Artefak yang sudah hancur, api hijau bekas Qin yan, adik Na er yang terluka, potongan ular hitam, pedang Yun zhi yang tertinggal, wilayah yang membatu, sampai bekas tendangan dan bekas tebasan.


"Sial, siapa yang melakukan semua ini?" Berkata Sangguan Tianyang dengan penuh amarah. Salah seorang turun dan menemukan sebuah gelembung yang belum pecah. Setelah dipecahkan, gelembung itu mengeluarkan percikan listrik.


"Sepertinya ini ulah Seven Picker." Berkata Sangguan Tianyue dengan tenang.


Sementara Zhou weiqing memeriksa api hijau yang terbakar ditanah.


'Qin yan!' Batin dengan geram.


Lalu salah satu mereka mengangkat gadis yang terluka tidak jauh mereka.


"Anak ini tampaknya korban dari pertarungan ini." Berkata orang itu dengan alis berkerut.


"Yan Qingying, tampaknya ini milik muridmu." Satu orang lagi membawakan pedang Yun zhi yang tertinggal.


"Yun zhi!" Ucap ratu Sekte bunga dengan khawatir.


Sementara Ratu Elf juga dilanda kepanikan, merasakan aura dan kehidupan putrinya tidak lagi terdeteksi.


"Xin er!! Xiin eer!!" Panggilnya dengan panik, seperti orang gila. Melihat itu, Zhou weiqing datang menenangkannya, memegang bahunya dan membawanya kepelukan.


"Tenanglah ratu, putrimu baik baik saja. Aku masih bisa merasakan aura kehidupannya." Hibur Weiqing dengan pelan.


"Entah tidak tahu dimana mereka berada. Kita pasti menemukan mereka jika kita mencarinya." Lanjutnya lagi sambil mengelus punggung ratu Elf yang rapuh.


Mata Weiqing menyala mendeteksi keberadaan Qin yan dan lainnya, namun tetap saja ia tidak menemukan apapun. Pada akhirnya ia hanya menghela napas, menunggu waktu yang tepat untuk mencari mereka nanti.


********


Sekedar informasi, Dua orang yang terpisah dari kelompok Qin yan.


Xie xie duduk menikmati makanan jajanan yang ia beli dipinggir jalan. Menikmati indahnya kembali api yang dimainkan anak anak, serta kelap kelip petasan di atas langit. Ia terduduk dijendela rumah penginapan yang dipesan oleh Qin yan, matanya berdebar kagum saat melihat permukaan kota yang begitu indah. Meskipun ledakan kejut tadi juga membuatnya terkejut, namun ia tidak bisa pergi memeriksanya karena master mereka, Qin yan melarang keras hal tersebut. Kecuali jika mereka menerima pertanda darinya barulah mereka bergerak.


"Kriieeek" Pintu terbuka, Xiu xiu masuk dengan perlahan.


"Bagaiamana kak?" Tanya Xie xie padanya. Namun kakaknya hanya menggeleng pelan, lalu terduduk dikursi.


"Aku belum menemukan apa apa. Aku juga tidak tau dimana master saat ini." Ia menghela napas sambil bersandar dikursinya.


"Sudahlah, mereka pasti baik baik saja. Mereka itu kuat, Kita menunggu saja disini. Jangan melakukan apa apa yang bisa menyeret kita dalam masalah atau master akan marah pada kita." Berkata Xie xie dengan tenang, ia pun kembali menikmati jajanan di tangannya. Begitu pula dengan Xiu xiu yang hanya tidur, menunggu kedatangan Qin yan.


Padahal mereka tidak tau sekalipun, kalau Qin yan yang mereka tunggu sedang berjuang hidup dan mati didalam lorong spasial demi kelansungan bertahan hidup.