LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Pelelangan Giok Angrek


Qin yan berdiri didepan bangunan megah tersebut. Menatap papan nama bertuliskan Pelelangan giok anggrek.


"Apakah disini?" Alis Qin yan berkerut melihatnya.


"Bukh" Tiba tiba dari belakang, seseorang menabrak kasar dirinya. Ketika berbalik, ternyata seorang pemuda dengan umur sekitar 30 lebih sedang mabuk dengan dua wanita disampingnya. Ia berjalan sempoyongan dan sengaja menabrak Qin yan.


"Hei, anak Brens*k! Bisakah kau tidak menghalangi jalan!" Tunjuk pemuda itu pada Qin yan.


'Ukh, kenapa dimana mana aku harus bertemu sampah seperti ini.' Qin yan menatap orang itu dengan lesu, orang mabuk kadang tidak sadarkan diri dan akhirnya sembarang membuat kekacauan.


"Sudahlah... sudah waktunya pelelangan dimulai. Kita tidak seharusnya membuat masalah kan?" Kedua wanita disampingnya berusaha membuatnya tenang. Pria itu sebenarnya berkeinginan untuk menampar Qin yan agar bisa melampiaskan emosinya. Namun, dengan rayuan kedua kedua wanita ini. Bahkan jika itu dia sendiri pun akan luluh.


"Huh, dasar anak jaman sekarang. Tidak menghargai apa itu yang namanya jalan. Memangnya orang tua anak itu melahirkannya untuk apa?"


Mata Qin yan membesar, menatap pria itu yang berjalan melewatinya. Orang mabuk itu, dia benar benar sudah keterlaluan, dia sendiri yang menabrak dan dia sendiri juga yang marah marah. Bahkan sampai membawa bawa nama orang tuanya. Perkataan tadi, seperti pisau yang mengiris kesabarannya saja.


Tanpa diduga, rupanya pria itu berhenti. Ia masih ingin mempermainkan Qin yan meskipun dua wanita disampingnya sudah berusaha menghentikannya. Namun, hanya sekadar bermain main. Ia juga ingin menikmati apa yang namanya menjadi pusat perhatian.


"Thehehe... Anak seperti ini, harus diberi pelajaran yang cukup dari bimbingan orang yang lebih tua. Seperti berlutut ketika meminta maaf." Tangan pria itu langsung mendorong kepala Qin yan kebawah, namun itu tidak berhasil.


'Sial, kenapa anak ini tidak mau turun?' Wajah pria itu sedikit kaget, tangannya menggenggam kepala Qin yan yang wajahnya gelap gulita.


"Aku bisa memahimu ketika kau mabuk, tapi jangan bertindak dari batasmu. Lepaskan tangan kotormu ini!" Mata Qin yan melotot tajam pada pria itu. Tekanan batinnya bahkan membuat pria itu jadi ketakutan sampai tak sadar menarik tangannya kembali.


'Sial, apa apaan anak ini.' Karena terlalu banyak orang yang melihat, ditambah dengan dua wanitanya yang sudah memanggil dirinya. Ia pun menggunakan kesempatan itu untuk lari dari situasi ini.


"Cih, anak tidak tau sopan santun. Lihat saja kalau aku ketemu kau lagi. Jangan harap kau mendapat pengampunan dariku." Ia pun berjalan meninggalkan Qin yan dengan wajah yang angkuh, padahal dalam hatinya ia sangat khawatir. Untungnya ia bisa lolos dengan cepat tanpa hambatan.


"Ayo kita pergi." Dari belakang, Medusa datang memegang bahunya. Dengan topeng yang ia miliki, tidak ada satu pun orang yang bisa mengenalinya. Berbeda dengan Qin yan, yang wajahnya terbuka. Semua orang bisa melihat betapa tampannya dirinya.


Ketika mereka masuk, ternyata seorang kakek tua yang sedang megawasinya dari tadi ketika duduk dikursi goyang depan halaman rumah Lelang. Melihat punggung Qin yan serta tekanan yang ia berikan pada pria tadi, membuatnya cukup tertarik.


"Anak yang menarik, kehidupan macam apa yang ia alami hingga mempunyai tekanan seperti itu?" Gumam kakek itu sambil mengelus janggutnya.


Ketika berjalan dipintu masuk rumah Lelang, tiba tiba Qin yan dikejutkan dengan orang yang mengganggunya tadi, jadi ditendang keluar dengan kasar. Ia terlempar jauh, dengan dua wanitanya yang mengejarnya.


"Maaf, kami tidak mengijinkan pemabuk untuk masuk. Karna hanya akan mengacaukan suasana."


Seorang wanita cantik, seksi, pinggul dan payudara menonjol. Bibir yang menggoda, dan dada yang terbuka. Tubuh aduhai nya membuat semua jadi meneteskan air liur ketika menatapnya. Didepan sana, ia selalu melayani tamu dengan percaya diri. Bahkan tak tanggung tanggung, pria yang sudah beristri pun jadi menengok kebelakang demi memanjakan mata mereka.


"Wanita itu... dia menggunakan atribut perayu." Alis Qin yan sedikit menyerngit saat melihat nafas wanita itu yang mengeluarkan hembusan merah muda tak kasat mata. Setiap orang yang menghirupnya, akan membuat mereka mabuk oleh ilusinya yang menggoda.


Alis Medusa disampingnya juga berkerut, mendengar perkataan Qin yan. Ia pun menatapnya untuk memastikan.


"Apa aku perlu melakukan sesuatu?" Tanya Medusa.


Qin yan menggeleng pelan, menatapnya dengan senyuman.


"Tak perlu, tanpa mengetahui situasi. Kita tidak boleh membuat kekacauan. Apalagi ini di kerajaan salah satu Sekte terkuat. Kita tidak boleh bermain main disini."


Medusa mengangguk mendengarnya, mereka berdua pun menuju wanita didepan pintu tersebut.


"Um... maaf tuan, bisakah anda menunjukan kartu VIP anda?" Berkata wanita itu dengan senyuman.


"Kartu VIP?" Qin yan dan Medusa jadi membeku bersama. Mereka saling memandang dengan bingung, membuat wanita yang menyambut tamu itu jadi tersenyum sungging. Dibalik senyumnya yang menggoda serta matanya yang tertutup, ia sudah menghina Qin yan dalam hati.


'Apa apaan kedua orang miskin ini?'


"Em.. Jika kalian tidak mempunyainya bisakah kalian menyingkir dulu. Ada banyak orang yang mengantri dibelakang anda." Berkata wanita itu dengan lembut. Namun Qin yan tidak sekalipun pindah.


'Anak ini, apakah harus digunakan kekasaran?' Urat didahi wanita mulai terlihat dibalik senyumnya yang ramah. Tangannya mulai mengalirkan percikan energi kegelapan.


"Ka-kartu VIP yah." Alis berkerut Qin yan, ia mulai memeriksa cincin penyimpanannya, menggoyangkannya sehingga apapun yang keluar jadi terjatuh dilantai. Qin yan berjongkok, memeriksa benda yang ia simpan selama ini.


Yang keluar banyak sekali, ada kertas pola, kertas kondolisasi, senjata kelas atas, senjata roh, pil, benda benda langka yang ia dapatkan ketika berburu harta karun sampai benda benda berharga lainnya.


Mata wanita itu jadi membesar seketika, apa yang ia lihat tidak pernah ia lihat sebelumnya. Meskipun Qin yan tidak mempunyai kartu VIP, tapi ia tidak pernah melihat ada anak sekaya ini.


"Tu-tuan...." Nafas wanita itu jadi berat, percikan kegelapan ditangannya jadi hilang. Hendak membantu Qin yan berdiri.


"Aaah... ini dia!" Akhirnya, Qin yan menemukan sebuah token. Token berwarna emas hitam yang pernah ia diberikan saat berada dikota Bintang tempat tinggalnya dulu. Ia pun kembali memasukan semua benda yang ia keluarkan, kemudian berdiri dan memberi token pada si wanita penjaga pintu tersebut.


"Apa ini bisa?" Tanya Qin yan dengan ragu.


Wanita itu pun mengambil tokennya, sebenarnya ia malas untuk memperhatikan apa yang diberikan anak ini. Meskipun ia tidak mempunyai apa apa, ia tetap akan menyuruhnya masuk. Karena apa yang ia lihat tadi sudah membuatnya masuk kualifikasi.


Tapi, ia lebih terkejut lagi saat melihat token itu. Bibirnya bergetar disertai tangannya yang menggigil.


"Apa ini dari kerajaan Busur Surgawi?" Tanya wanita itu.


"Ya, kurasa begitu." Qin yan menggaruk pipinya dengan pelan.


"Jadi, bolehkan aku masuk?"


Mendengar itu Qin yan pun masuk, jejak senyum licik terpancar diwajahnya. Rencana pertama berjalan lancar, setelah mengeluarkan apa isi dari cincin penyimpanannya. Muka muka pencuri akan mulai terlihat. Begitulah tatapan wanita di depan pintu tadi, ia melirik Qin yan sambil menjilat bibirnya. Bagaikan memantau mangsa yang akan dinikmati nanti.


"Kesini tuan." Rupanya ia langsung meninggalkan pekerjaannya dan secara pribadi melayani Qin yan. Ia juga menggandeng tangan Qin yan dengan manja, menggesek gesekannya dengan sesuatu yang lembut dibawah sana.


Qin yan pura pura tenang, tapi siapa juga yang tidak tergoda. Namun ia harus bersikap biasa, karena Medusa ada disampingnya.


"Silahkan duduk kesini tuan." Qin yan dibawa ketempat yang istimewa, dan dalam sekejap ia langsung menjadi pusat perhatian. Dibambah lagi wanita itu yang berusaha memijatnya dengan lembut, membuat semua lelaki makin iri dibuatnya.


"Tuan, benda apa yang akan anda beli?" Wanita itu menghembuskan nafasnya ditelinga Qin yan.


"Um... kita lihat saja nanti, benda apa yang menarik." Senyum Qin yan, tangan wanita mulai leluasa bergerak bebas. Dari mengelus kulit Qin yan sampai akhirnya berpindah kedada.


"Pelayan, kami sudah cukup pelayanannya. Anda boleh kembali." Berkata ratu Medusa dengan tak senang. Ia menatap wanita itu dengan penuh permusuhan. Membuat wanita itu berdiri kaget.


"Eeh.. Mei ji, kurasa itu tidak per.... Argh.!!" Qin yan hendak menyelesaikan perkataannya. Tiba tiba kakinya diinjak sesuatu yang tajam, sepatu wanita ini benar benar terlalu kuat. Medusa juga menatapnya tajam, membuat Qin yan berkeringat. Ia hanya bisa tertawa agar melunakan suasana.


Akhirnya wanita itu pun pergi menjauh, setelah menunggu lama. Akhirnya semua tamu benar benar masuk. Pelelangannya pun dimulai. Wanita yang tadi melayani Qin yan rupanya menjadi pembawa acara lelang ini. Satu persatu barang dipromosikan, persaingan harga memenuhi tempat itu. Namun tidak ada yang menarik minat Qin yan, waktu terus berlalu. Lama lama kelamaan Qin yan juga semakin ngantuk. Ia hanya menguap dan menguap ditempat duduknya.


Padahal ia tak sadar, bahwa banyak sekali pasang mata yang sedang mengawasinya. Tetapi Qin yan tidak memperdulikan itu semua.


"Sial, apa kita dibohongi anak itu?" Gumam Qin yan dengan kesal. Sampai saat ini ia tidak menemukan petunjuk apapun.


"Kalau begini, lebih baik kita keluar saja." Ia pun hendak keluar dari sana. Namun tiba tiba ia terhenti saat pembawa acara mengucapkan item terakhir.


"Mari kita sambut item terakhir kita. Sebuah topeng yang bisa menutupi auara dan kultivasi yang kita miliki. Bahkan tingkat Kaisar pun tidak bisa mendeteksinya. Dibuat dengan bahan khusus Kayu pinus Sejati, minyak ikan Coliver, dan kristal langka inti beast tingkat raja. Dan tentunya, ini diproduksi oleh Master Kondolisasi tingkat Tier god!!! Harga awal dimulai dari 100 juta koin!!!" Palu pun langsung dijatuhkan, para pengunjung langsung mengangkat harga.


"110 juta!!"


"200 juta!!"


"250 juta!!"


"300 juta!!"


"400 juta!!"


Semua harga yang ditawarkan bukan main main, para bangsawan kaya raya mulai menghamburkan hartanya. Wanita itu menerima semua harga tersebut seperti menyambut surga. Betapa bangganya dia.


"Penipu! Rupanya pelelangan ini tempat bersandarnya penipu." Berdecak mulut Qin yan dengan penuh kejijikan, ia hanya melipat tangannya didada sambil menyaksikan persaingan harga tersebut.


"Yao chen tidak pernah mengatakan kalau benda itu terbuat dari kayu pinus sejati, atau minyak ikan Coliver. Heeeh... Mereka terlalu menambahkan fakta." Ia pun berdiri dan pergi dari pelelangan tersebut.


"Tapi Qin yan, bukankah kau ingin mengambilnya kembali?" Tanya Medusa dengan alis berkerut.


"Aku tidak bisa mengambilnya kalau benda itu ada disana. Lagian aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membelinya." Ia pun berjalan menuju ke balkon. Dimana bisa menikmati pemandangan.


"Huh, sial. Kenapa cuma topengnya yang keliahatan. Dimana kalung Liontin itu?" Qin yan hanya menyandarkan pipi ditangannya, memandangi kota Surga yang indah, ibukota Zhong tian.


Betapa lelah dirinya, ia sudah mendatangi pelelangan ini. Tapi tidak menemukan dimana keberadaan Liontin itu. Untuk sesaat, ia butuh sedikit istrahat.


Berbicara tentang kalung Liontin, benda itu sekarang berada ditangan seorang pria berpakaian hitam. Dengan menghembuskan asap Cerutu dimulutnya, Kalung itu berputar putar dijarinya seperti mainan. Ia dari tadi menyaksikan jalannya pelelangan tersebut. Dialah sendiri yang menolak untuk mempromosikan kalung Liontin ditangannya. Karna Liontin itu, ia anggap sangat berharga sekali, hingga uang pun tidak menarik perhatiannya.


"Hehehe.... Aku mendapat laporan dari nomor 3. Katanya ada tuan muda yang sangat kaya keluar dan bersantai dibalkon lantai dua. Cepat awasi dia, jangan sampai dia kabur. Karna malam ini, kita harus memanen pedapatan kita." Senyum pria itu dengan licik, dua pelayan disampingnya yang merupakan seorang pembunuh langsung membungkuk.


"Baik tuan." Kemudian mereka menghilang dari pandangan.


"Heeeh... Malam ini, rupanya dipenuhi banyak kejutan." Pria itu menghembuskan asapnya dengan santai, namun tiba tiba ia berbalik kesamping. Dimana wanita bercadar hitam sedang mendekatinya. Kecantikan serta lekukan tubuhnya yang menggoda membuatnya menjilat lidahnya sendiri.


"Ao, apakah anda wanita yang melayaniku malam ini." Pria itu mulai memandanginya kesana sini, ia benar benar menelan ludah saat melihat postur tubuh wanita itu yang benar benar sempurna.


"Jangan pernah bermimpi." Wanita itu berhenti, menatapnya dengan tajam. Lalu tatapannya beralih pada Liontin ditangannya.


"Serahkan kalung Liontin ditangannmu. Benda itu bukan milikmu."


Mendengar itu, pria tersebut tertawa terkikik kikik. Ia makin mempermainkan kalung Liontin ditangannya.


"Kau mau aku memberinya padamu? Kalau begitu layani aku malam ini. Diatas ranjang, barulah kau bisa mengambilnya disana."


Wajah wanita bercadar itu langsung menghitam. Ia langsung mengangkat pedangnya.


"Kalau begitu jawabanmu, maka jangan salahkan aku!" Cincin merah bangkit dikedua tangannya, hingga membuat pria itu terkejut.


'Apa! Wanita ini berada ditingat Sage? Sebenarnya milik siapa benda ini?' Pria itu langsung berkeringat, ia hanya bisa menghindar dari serangan wanita yang tidak punya belas kasih.


'Sial, aku berurusan dengan orang menyusahkan rupanya.'


**********


Terimah kasih karena telah mau membaca, Silahkan Like, Komen dan Vote yah. Agar author tidak bosan bosannya mengupdet cerita ini. Kalau masalah Cover novel ini, Author akan menggantinya. Kalau dilihat lihat memang jelek sih, tapi setelah waktu yang ditetapkan Noveltoon habis, baru Author bisa menggantinya.