
Dari atas langit, burung hitam raksasa mengepakan sayapnya dengan pelan. Kecepatan laju terbangnya berkurang. Melewati indahnya bulan yang terang.
"Fiuh...." Medusa yang mengendarai burung tersebut, hanya merenung dengan malas. Namun, dalam waktu yang singkat itu, ia sebenarnya memikirkan sesuatu.
Sejak kapan dia begini, tentu saja sejak Qin yan menganiayanya tanpa sengaja. Dia melakukannya tanpa sadar, namun itu sangat menyakitkan baginya. Rasanya seperti mau mati. Mendekati Qin yan, niat sebenarnya yaitu membalas dendam. Namun sejak awal, ia sudah memperlakukan Qin yan sebagai tempat bersandar dan berteduh. Karena ia sangat kesepian, tidak ada orang yang menghiburnya sejak ia naik menjadi ratu. Tidak, bahkan ia tidak punya teman masa kecil. Semua orang memperlakukan dirinya seperti tuan putri, rasa segan dan takut, membuat mereka tidak berani memperlakukan dirinya seperti anak anak lain. Ia selalu menghabiskan waktunya untuk berlatih dan berkultivasi diruangan yang gelap dan jauh dari pemandangan dunia. Tapi sekarang, ia tak menyangka akan mengunjungi beberapa kerajaan hanya dalam waktu satu minggu. Qin yan, anak pembuat masalah ini, dia tidak ragu menjelajahi wilayah tanpa ketakutan sedikit pun. Jauh dari lubuk hatinya, ia sebenarnya menikmati petualangan ini.
Sebenarnya ia tak pernah mau meninggalkan klannya sendiri, namun apa dayanya. Berhubungan badan dengan manusia benar benar hal yang tabu. Dan melanggar hukum peraturan klan Medusa. Lebih baik mati dari pada kembali, atau memulai kehidupan baru jauh dari identitas daripada kembali dengan menanggung malu dan cemohan. Dari awal sampai akhir, dia benar benar ratu yang tak pantas untuk klannya.
"Haaaaaahh..." Sekali lagi, ia menghela napas panjang, menatap bulan purnama didepan. Perlahan lahan, rasa nyaman muncul ketika bersama anak itu. Bahkan rasa lainnya yang tak pernah dirasakan oleh beast juga ikut muncul. Malu, gugub, kesal, cemburu, iri dan bahkan marah tak jelas. Membuatnya berpikir kalau ia sudah terlalu jatuh dalam dunia manusia terlalu dalam. Ternyata dunia manusia tidak sedangkal seperti yang ia pikirkan. Mereka istimewa, mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki beast.
"BUM" Tiba tiba asap putih mengepul dari atas. Karena burung beastnya melaju terbang, Qin yan dan lainnya jadi terlewat dibelakang. Namun Medusa menggunakan ular untuk menangkap Qin yan. Sementara yang lain malah dibiarkan terjatuh. Untungnya Lin fin menangkap Xiang xiang dan kembali terbang mengejar mereka.
Qin yan dibawa duduk dibelakang Medusa, dengan Yue er di gendongnya. Ia mengeluarkan beberapa exlisir, menyiram cairan penyembuh tersebut kebeberapa luka gadis itu. Tidak lupa pula, ia juga membantu Yue er meminum exlisir itu.
"Ukhuk ukhuk" Tidak lama kemudian, Yue er terbatuk. Qin yan jadi menghela napas lega. Mencium kening gadis itu.
"Apakah dia adikmu?" Tanya Medusa didepan. Qin yan hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Percepat kelajuannya." Pintah Qin yan pada prajurit bayangan beast yang ia naiki.
"Kau yakin, bagaimana dengan mereka?" Medusa pun menunjuk kearah Lin fin yang berusaha mengejar mereka, meskipun anak itu tampak enerjik, tapi perjalanan ini begitu jauh. Ia tidak mungkin bertahan dalam perjalanan ini menuju kerajaan Sunmoon.
Qin yan pun mengeluarkan satu beast spirit prajurit bayangan lagi. Beast itu tiba tiba muncul dibelakang Lin fin seperti asap hitam. Mengejar mereka, hendak memberi tumpangan.
Namun bukannya naik, Lin fin malah mempercepat kelajuannya. Menghindari beast itu.
"Apa yang dipikirkan anak itu. Kenapa dia menghindari beast ku.." Berkata Qin yan dengan urat didahinya.
"Mungkin ia kira itu musuh." Medusa dibelakang hanya tersenyum tipis menghina kebodohan Lin fin.
"Kalau begitu bisakah kau gunakan telepatimu untuk memberitahu idiot itu?"
Medusa pun mengangguk mendengar perkataan Qin yan, lalu ia pun menatap Lin fin. Setelah beberapa saat ditatap, Lin fin pun terkejut. Ia juga menatap Medusa. Dan tanpa ragu lagi, ia pun menaiki beast tersebut. Tampaknya proses telepatinya berjalan lancar.
Dua burung yang sama melaju secepat kilat. Dari gelapnya malam perlahan lahan waktu berjalan hinggga fajar pun akan bangkit menyising dunia.
Perbatasan kerajaan Sunmoon...
Petugas pos yang berjaga memperhatikan keadaan dengan bosan ditempat duduknya. Bahkan matanya saja hampir tertutup karena ngantuk.
"Jangan kendor jaganya!" Tiba tiba datang satu prajurit lagi, memukul kepala prajurit itu hingga ia tersadar karena kaget.
"Oukh, kau memukulku terlalu keras." Prajurit yang dipukul tentu mengeluh dengan pukulan tersebut.
"Tunggulah saja, sebentar lagi kita akan diganti." Senyum prajurit yang memukul sambil merangkul temannya tersebut. seketika tiba tiba matanya membesar ketika melihat dua burung raksasa hitam terbang diatas langit melewati mereka.
"Apa itu...?" Gumamnya dengan mata menyipit, ia pun sadar. Mengira kalau kedua burung itu adalah penyusup yang memasuki wilayah kerajaan mereka, dengan cepat ia hendak membunyikan lonceng. Namun tiba tiba, ada sebuah getaran gelombang suara yang meluas, bahkan mereka juga terkena gelombang itu.
Gelombang tersebut berisi pesan yang akan disampaikan secara meluas.
"Dua burung tersebut bukan musuh, itu master sekte kita." Perkataan itu membuat terkejut semua orang, baik itu penjaga pos, murid akademi, atau semua warga dikerajaan Sunmoon, mereka semua menghadap kelangit. Dan tentunya mereka melihat burung itu, ada yang bersorak menyambut kedatangan Qin yan, ada juga yang hanya diam menatap mereka.
"Kerja bagus." Berkata Yao chen pada Jin kei disamping. Mereka berdiri diatas atap Sekte Istana Niwan. Mata Jin kei lebih tajam dari siapapun, bahkan sebelum burung beast itu mendekati kerajaan Sunmoon, ia bisa melihatnya. Meskipun yao chen juga bisa merasakan kehadiran Qin yan, namun ia lebih menyerahkan masalah ini pada Jin kei.
"Akhirnya bocah itu pulang. Apa yang terjadi pada perjalanannya kali ini?" Berkata Jin kei dengan heran.
Sementara Yao chen hanya menggelengkan kepala.
"Anak itu, ia juga punya waktu untuk berkunjung ke kampung halamannya."
"Ooh.. Jadi begitu yah." Jin kei hanya mengangguk sendiri mendengarnya.
Tak lama setelah itu, dua burung milik Qin yan akhirnya mendarat didepan mereka. Setelah itu, burung tersebut menghilang menjadi asap hitam. Tanpa membuang waktu, Qin yan berlari membawa Yue er kedalam aula sekte. Bukannya tidak menghormati, tapi saat ini Yue er lebih penting dari pada bersikap penuh martabat didepan orang yang tidak perlu.
"Kyubi, tampaknya kita tidak harus melakukan salam formal itu." Berkata Jin kei, ia tadi sebenarnya hendak berlutut satu kaki, menyambut Qin yan sebagai master sekte. Namun hal itu tidak terjadi karena Qin yan berlari terlebih dahulu kedalam.
"Memang tidak perlu, apa perlu bocah itu membutuhkan hormat kita juga. Bukankah kita sudah terbiasa didalam tubuhnya." Yao chen hanya melipat tangannya didada. Ia sangat malas melakukannya, bukanya meremehkan. Tapi ia sudah bersama anak itu selama ribuan tahun lamanya. Apa perlu mereka melakukan hal formal padahal mereka sudah sangat dekat layaknya jiwa dan raga.
"Sepertinya kau benar." Jin kei pun mengangguk. Pandangan mereka tertuju pada Medusa didepan, serta Lin fin dan Xiang xiang dibelakangnya. Dari tadi Medusa hanya diam, tak berani maju seperti Qin yan. Meskipun ia akrab dengan Qin yan, namun ia tak berani bersikap tak sopan pada mereka berdua yang kekuatannya jauh diatas dirinya. Ia pun hanya menunduk memandangi lantai, membuat Yao chen dan Jin kei hanya menggelengkan kepala.
"Apa yang kalian tunggu, masuklah." Ajak Yao chen pada mereka.
...........
Qin yan berlari menuju praviliun khusus unit perawatan. Cukup lama juga ia berputar putar mencari bangunan tersebut. Namun pada akhirnya ia sampai juga ketempat itu. Disana, Tang liu baru saja keluar setelah merawat beberapa tentara dan prajurit yang terluka akibat latihan.
"Liu er!" Panggil Qin yan, ia berlari menuju kearah gadis itu.
"Hm...? Qin yan." Alis Tang liu berkerut melihat kedatangan Qin yan. Anak itu tampak tergesa gesa, dan ia membawa seorang gadis kecil. Berapa lama pun ia menatap gadis yang digendong Qin yan, ia tetap tak bisa mengenalinya.
"Ada apa?" Tanyanya dengan bingung.
"Bisakah, kau merawat adikku ini." Ucap Qin yan dengan khawatir, tanpa membuang waktu, Tang liu pun memeriksa keadaan Yue er.
"Dia baik baik saja, gadis ini hanya butuh istrahat. Oh yah Qin yan, ini adikmu yang mana? Berapa banyak adikmu sebenarnya?" Bertanya Tang liu.
"Sudah, nanti baru dijelaskan. Yang penting, dia harus kubawa dulu diruang peristrahatan." Qin yan pun masuk, melewati Tang liu. Disana ia juga bertemu Yuan ting. Wanita itu membantu Qin yan menemukan ruang yang cocok untuk Yue er beristrahat.
Setelah dibaringkan, Qin yan juga memanggil dua orang yang bisa memulihkan tenaga. Qin yan menyuruh mereka untuk memulihkan tubuh Yue er. Setelah itu, barulah ia hanya menunggu waktu sampai adiknya benar benar siuman.
'Tidak, mungkin aku harus membuatkan bubur kesukaannya.' Qin yan pun berdiri, keluar dari ruang tersebut menuju dapur. Tang liu yang berdiri dipintu heran melihat tingkahnya, ia penasaran apa yang akan dilakukan anak ini.
Rupanya Qin yan menuju dapur untuk memasak sesuatu. Betapa terkejutnya dia, sudah lama ia tidak pernah melihat Qin yan memasak lagi. Apalagi ini kemungkinan untuk seseorang, dia pun kembali menuju ruang dimana Yue er berada. Untuk beberapa waktu, ia memandangi wajah gadis itu. Kenapa Qin yan saking pedulinya dengan gadis ini.
Akhirnya, Yue er pun membuka mata. Tang liu juga semakin memperhatikan gadis itu.
"Ukh... dimana aku.." Ucapnya dengan pelan. Tang liu pun maju, berbicara dengan ramah.
"Kau ada di tempat kami. Sekte Istana Niwan." Senyumnya.
"Sekte istana Niwan!" Dengan cepat Yue er bangun, terdapat raut ketakutan diwajahnya. Namun tubuhnya belum bisa melakukan apa apa.
"Tidak perlu setakut itu, master kami yang datang menyelamatkanmu." Tang liu pun menenangkan gadis itu, kembali menyuruhnya berbaring dengan santai.
"Um... Mungkin aku akan memanggilnya. Tunggulah disini." Tang liu pun keluar, menuju dapur. Dimana Qin yan sedang mangaduk isi bubur yang ada di panci. Tang liu sedari tadi memperhatikan anak itu, sangat serius memasak bubur tersebut. Ia bahkan beberapa kali mencicipi rasa bubur itu, dan menambahkan bahan bahan yang kurang kedalam buburnya.
"Aku tidak pernah melihatmu seserius ini. Tampaknya gadis tadi begitu istimewa?" Tang liu pun mendekatinya dengan pelan, kedua tangannya dibelakang. Memberi Qin yan senyuman manis.
"Itu benar, bubur ini kesukaan Yue er. Aku harus memasaknya dengan baik." Qin yan pun juga ikut tersenyum. Mengambil semangkok yang sudah matang.
"Huh, Yue er? Tunggu, maksudmu Yue er adik kandungmu?" Tanya Tang liu dengan kaget.
"Ya. Aku menemukannya dalam keadaan sekarat. Untungnya aku datang tepat waktu, jadi masih bisa menyelamatkannya. Kau dari ruangan Yue er kan? Apa dia sudah sadar?" Tanya Qin yan dengan penuh harapan.
"Yah... dia baru siuman, dan dia mencari orang yang telah menyelamatkannya."
Mendengar itu, Qin yan pun beranjak senang. Ia kemudian meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun karna saking senangnya. Meninggalkan Tang liu yang hanya menatap punggungnya ketika pergi. Tidak lama kemudian ia pun juga mengikuti anak itu.
Didalam, Yue er yang hanya ditemani Yuan ting kini diberikan segelas air agar lebih menenangkan diri. Melihat tabib tersebut yang begitu ramah dan baik, hati Yue er pun ikut lega dari tekanan kewaspadaannya.
"Kamu gadis yang manis, siapa namamu?" Tanya Yuan ting.
"Aku..." Yue er sedikit menunduk, kedua tangannya menggenggam kain selimut.
"Namaku Qin yue."
"Huh!" Tiba tiba Yuan ting tertegun, ia pun kembali menatap Yue er dengan serius. Lalu mendekatinya tiba tiba, membuat gadis itu sedikit takut.
"Kau mempunyai mata yang indah, dimasa depan kau akan menjadi gadis yang sangat cantik. Pria mana yang akan beruntung mendapatkanmu yah." Senyum Yuan ting sambil menyentuh ujung hidung gadis itu, membuat Yue er yang tadinya waspada. Kini tersipu dengan wajah memerah. Yuan ting jadi tertawa lucu melihat tingkahnya yang polos.
"Ngomong ngomong, matamu sama seperti mata master kami. Margamu juga sama, kau berasal dari mana?" Yuan ting pun duduk disamping tempat tidurnya, menatap gadis itu dengan penuh rasa ingin tahu.
"Aku, berasal dari kerajaan Busur Surgawi." Jawab Yue er dengan pelan.
"Apa!" Namun perkataanya itu kembali membuat Yuan ting terkejut.
"Ada apa?" Tanya Yue er dengan bingung melihat wanita itu yang terkejut.
"Aku hanya kaget, kenapa kau berasal dari kerajaan yang jauh. Bukankah master pergi ke kerajaan Zhong tian? Tapi kenapa malah pergi kekerajaan Busur Surgawi? Jangan bilang, master memungut gadis malang lagi?" Pikirnya.
"Aku memang gadis malang, tapi aku masih punya keluarga. Memangnya aku ada dimana?" Tanya Yue er balik.
"Kau berada dikerajaan Sunmoon. Sangat jauh dari kerajaan Busur Surgawi." Mendengar itu, Yue er jauh lebih kaget lagi. Untungnya Yuan ting kembali memberinya segelas air, agar gadis itu tetap tenang. Setelah meminumnya dan ia rasa cukup, barulah Yuan ting menunjukan sebuah peta padanya. Peta itu menunjukan seberapa jauh dan jarak antara kerajaan Busur Surgawi dan kerajaan Sunmoon.
"Aku berasal dari kerajaan ini, gadis remaja yang tadi berbicara denganmu juga berasal dari kerajaan yang sama." Senyum Yuang ting menunjuk kepeta kerajaan Tian lei.
"Tapi, kenapa kalian yang berasal dari kerajaan lain bisa ada disini?" Tanya Yue er lagi yang tak mengerti.
Mendengar itu, Yuan ting kembali tersenyum.
"Itu karena master kami. Dia benar benar hebat, dia yang telah menyelamatkan kami dari situasi yang kandas. Jika bukan karna dia, mungkin aku tidak ada disini. Berbicara tentang dia, master sangat muda. Umurnya baru 17 tahun, namun ia sudah mendirikan sekte sendiri yang nanti akan bersaing dengan kesebelas sekte lainnya." Ucapnya dengan mata berbinar, begitu semangatnya sampai sampai ia mengangkat satu tangannya keatas. Membuat Yue er makin heran dengan tingkahnya. Namun setelah Yue er memperhatikannya barulah Yuan ting tersadar.
Yuan ting pura pura terbatuk sebentar, kemudian bersikap seperti biasa.
"Kau harusnya berterimah kasih pada master." Senyumnya, kemudian mencubit lembut pipi gadis itu. Lalu ia pun keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Yue er sendirian. Dari dalam, Yue er mendengar dengan jelas. Kalau wanita tadi bertemu seseorang diluar.
"Salam Master, dia sudah sadar."
Mendengar itu, Yue er sendiri pun jadi gugub. Ia pun menarik selimutnya, sedikit tertekan. Menatap kearah pintu, ia penasaran siapa yang menyelamatkannya. Dan kenapa orang itu mau menyelamatkannya. Namun bersamaan dengan itu, ia juga ragu menatap pintu itu.
"Krieek" Pintu pun terbuka, Yue er menundukan kepala. Tak berani melihat orang yang masuk. Ia hanya melihat kaki orang itu yang berjalan kearahnya.
"Bagaimana keadaanmu, apa sudah baikan?" Tanya Qin yan dengan lembut. Suaranya sangat tebal, namun Yue er merasa sangat mengenal suara itu. Dengan pelan, ia pun memberanikan diri untuk menatap orang itu. Dan betapa kagetnya, bahkan gelas ditangannya sampai terjatuh dan pecah. Untuk beberapa saat, ia tak bisa berkata apa apa. Menatap sosok wajah kakak yang ia rindukan sudah berada dihadapannya. Mulutnya yang ternganga jadi merapatkan gigi, air mata tergenang dimata sampai akhirnya mengalir dipipi.
"Ka-kakak!!" Yue er langsung bangun, memeluk Qin yan dengan erat.
Tang liu yang melihat itu, mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia tak mau mengganggu waktu mereka, dan lebih memilih untuk berdiri diluar.
"Hiks Hiks Hiks" Melihat adiknya yang menangis dipelukannya, Qin yan pun menunduk dengan rasa bersalah. Ia membalas pelukan erat itu. Mengingat waktu terakhir ia meninggalkan gadis ini. Selama tiga tahun ia pergi, ia tidak tahu bagaimana gadis ini menjalani hidupnya. Apakah dia hidup nyaman atau tidak. Tidak ada yang menyangka juga, Qin yan menghabiskan tiga tahun didunia luar tanpa berkunjung atau memberinya kabar pada adik tersayangnya ini.
"Di mana saja kakak selama ini." Berkali kali Yue er menangis, ia tak mau melepaskan Qin yan lagi kali ini. Ia tak mau kakaknya pergi lagi. Selama ini, ia terus berlatih dan berlatih, dibawa bimbingan patriak keluarga Bulu Biru, itu semua karena ia hanya ingin menyamai kakaknya. Jika kakaknya ingin pergi, setidaknya ia harus mengikutinya. Ia tidak akan ragu lagi akan kekuatan dan kemampuannya, agar tidak menjadi beban untuk kakaknya dikemudian hari. Ia bahkan akan membantu Qin yan dengan segenap kekuatannya.
"Maafkan aku." Hanya itu yang Qin yan ucapkan saat ini, entah betapa bersalahnya dia pada gadis ini. Meninggalkannya tiga tahun sendirian, itu benar benar tindakan buruk. Oleh karena itu, ia ingin memperbaiki semuanya.
Yue er juga menerima permintaan maaf itu, namun tidak terlalu mudah baginya untuk melupakannya betapa tega kakaknya meninggalkan dirinya. Memikirkan itu, ia tidak peduli lagi, seberapa besar kekuatan kakaknya saat ini. Satu yang harus ia lakukan, ia ingin meninjunya.
Lingkaran cincin hijau pun bangkit dan menyala. Melihat itu Qin yan pun melepaskan pelukannya dengan mata yang berbinar.
"Yue er, kau sudah berada ditingkat Master?" Senyum Qin yan dengan bangga, ia menatap wajah adiknya. Namun seketika ia membeku melihat ekspresi adiknya itu.
"Yu-yue er.."
"BRUK" Tiba tiba dindin luar pecah dan Qin yan terlempar keluar. Tang liu yang sedang berbincang dengan Yuan ting tentunya terkejut dengan dinding yang tiba tiba hancur disamping mereka.
"Apa yang terjadi?" Itulah yang mereka tanyakan untuk situasi ini.
"Ukhuk ukhuk. Yue er, tenanglah dulu. Kakak bisa jelaskan." Qin yan malah ngeri melihat ekspresi Yue er yang menakutkan, matanya gadis itu menyala serta rambutnya yang bertebaran. Qin yan sendiri agak berkeringat melihatnya. Tentunya ia tidak berpikir untuk membalas pukulan adiknya ini.
"Hmph... Kakak jahat, selama ini kakak meninggalkan Yue er sendirian. Tahukah kakak, bagaimana kehidupan Yue er selama ini?" Ucap Yue er sambil melipat tangannya didada. Menatap Qin yan dengan kesal.
"Kakak minta maaf." Qin yan pun berdiri, menggaruk garuk rambutnya. Tapi dengan cepat, ia pun mendekatinya.
"Yue er, kau baru saja pulih. Jangan memaksakan diri, sini biar kakak bantu memijitmu. Jangan sampai Yue er kelelahan lagi."Berkata Qin yan sambil memijit punggung gadis itu dengan pelan. seperti layaknya pelayan. Sementara Yue er hanya berdiri dengan sombong layaknya tuan putri.
'Apa apaan ini, sebenarnya bagaimana Qin yan memperlakukan adiknya selama ini.' Batin Tang liu dengan tak percaya.
'Inilah akibatnya terlalu memanjakan adik.' Yuan ting malah kagum melihat itu.
Sementara Medusa yang baru datang hanya diam tak berkomentar apa apa melihat itu.
Dengan pelan dan sabar, Qin yan perlahan membujuk gadis itu untuk duduk ditempat tidurnya kembali. Mengambil semangkok bubur, lalu menyuapinya perlahan.
Walaupun Yue er kesal, namun ia sangat senang. Akhirnya bisa bermanjakan lagi bersama kakaknya, merasakan betapa lezatnya masakannya. Tanpa ragu ia pun membuka mulutnya untuk menerima suapan itu. Dibalik wajahnya yang angkuh, sebenarnya kedua pipi gadis itu sedikit memerah. Betapa bahagianya merasakan kehangatan ini kembali.