
Wilayah Bersalju, kawasan disekitar markas Sekte Menara Es suci.
Qin yan dan Medusa diantar sampai kesuatu wilayah penuh salju yang suhunya sangat mengerikan. Sekitar -500°c kebawah, bahkan jika ahli tahap raja memasuki wilayah ini tanpa ijin. Takutnya mereka akan tersesat, lalu terjebak sampai akhirnya mengalami fatamorgana akibat suhunya. Perlahan tapi pasti, suhu ini akan membekukan darah sedikit demi sedikit. Kemudian tulang pun ikut diretakan. Hingga mereka benar benar mati.
"Ini wilayah kami, sebuah tempat yang tidak sembarangan untuk dimasuki. Disini, leluhur kami dari keluarga Fairy Snow ace membuat sebuah formasi tingkat sembilan untuk menjaga tempat ini. Bahkan tahap Kaisar mungkin akan tersesat dan sulit untuk keluar. Tapi untuk tahap raja, tidak ada peluang untuk keluar hidup hidup." Jelas Ratu Es dengan ramah, mengingat dua orang yang ia bawa ini adalah tamu penting untuknya. Maka tidak ada salahnya untuk menunjukan salah satu keunggulan sekte mereka.
'Pantas saja, suhunya bisa semengerikan ini. Bahkan dia saja membawa sebuah artefak kunci untuk memblokir suhu dingin itu untuk kami.' Pikir Qin yan setelah mendengarkan penjelasan Ratu Es. Ia juga melirik sebuah lampu lentera ditangan ratu itu. Benda itu adalah artefak khusus yang memberikan kehangatan sesuai wilayah cahaya yang dicapai oleh lenteranya. Dengan adanya lampu itu, Qin yan dan Medusa bisa masuk dengan aman kewilayah ini.
'Tidak buruk juga.' Pikir Medusa, dari tadi ia terus memperhatikan wilayah ini. Formasi penjaga yang dibuat tidak kalah kuat dengan formasi bintang milik klannya. Jika formasi diwilayah klan Medusa sangat bergantung pada kecerdasan karena dapat membunuh siapa saja yang tak bisa menebak teka tekinya dengan benar. Maka formasi ini benar benar membutuhkan daya tahan kuat. Sementara formasi ilusi buatan Qin yan di kerajaannya sangat bergantung pada mental.
Akhirnya, ia bisa melihat satu formasi lagi yang begitu kuat. Hitung hitung, ini bisa dijadikan pengalaman.
"Di wilayah ini, apakah tidak ada beast yang tinggal?" Tanya Medusa lagi.
"Tidak, Beast tidak bisa tinggal diwilayah formasi. Bukankah kau tahu itu, kalau formasi itu bukan hanya penghalang. Tapi juga sebagai pembatas kehidupan para Beast juga." Jawab Qin yan disampingnya dengan santai. Bahkan ratu Es saja sampai mengangguk dengan setuju.
"Ya. Itu benar sekali. Kurasa kau benar benar pelupa." Perkataanya, serasa begitu menusuk ketelinga Medusa. Seperti dibalik candaan ramah tersebut, ada sebuah ejekan halus yang hanya ditujukan kedirinya.
Memikirkan itu membuat Medusa geram, apalagi ketika terus melihat senyum wanita itu. Membuatnya benar benar tak senang.
'Senyum palsu itu, rasanya ingin kurobek saja.' Batin Medusa dengan kesal, serasa tahu apa yang dipikirkannya, ratu Es pun lebih menunjukan senyumnya.
"Aah... kita sudah sampai." Tunjuk Ratu Es. Sebuah menara pearl yang indah terpampang didepan mata. Kira kira tingginya bisa mencapai ribuan Km diatas sana. Diantara satu Menara tertinggi enam lainnya berada sekeliling melingkari menara tersebut. Meskipun kalah tinggi dibanding yang ditengah, namun enam menara tersebut masuk dalam jajaran menara tertinggi yang menjulang kelangit.
Dipermukaan tanah, dari ketujuh menara tersebut saling terhubung hingga membentuk sebuah istana. Dibandingkan sebutan menara, tempat ini lebih layak disebut istana es. Bagaimana tidak, keindahan dan serta struktur pembuatan istana ini membuat siapa pun yang berkunjung akan memanjakan mata. Permukaan istana dilapisi es ditambah dengan lantai transparan berisikan kolam ikan hidup didalamnya. Membuat siapa pun pasti akan tertipu, serasa seperti menginjak diatas air.
'Benar benar menakjubkan, aku bahkan hampir menggunakan teknik pijakan air.' Batin Qin yan, melihat pemandangan itu.
"Apakah ini terbuat dari es asli?" Tanya Medusa disamping, ia juga terpesona atas keindahan tersebut.
"Ya. Ini disebut es abadi. Es yang sudah bertahan ribuan tahun lamanya. Istana ini diciptakan oleh leluhur pertama kami dan turun temurun diwariskan sampai diketurunan. Ayo masuk, lewati sini." Ratu Es kemudian mempersilahkan mereka masuk, melewati jembatan yang dibawahnya terdapat kolam ikan asli.
Semua murid yang ada dihalaman luar jadi membungkuk ketika melihat ratu mereka masuk. Namun untuk tatapan mereka pada Qin yan dan Medusa agak seperti sedikit rasa merendahkan. Diam diam setelah Qin yan dan Medusa melewati mereka, para murid murid itu saling berbisik satu sama lain.
"Lihat dua orang itu, mereka siapa? Kenapa Master memperlakukan mereka dengan hormat."
"Sstt... apa kau tidak tau? Anak laki laki itu adalah Qin yan, dan aku tidak tahu siapa wanita disampingnya. Yang penting mereka berdua berhasil menghentikan ratu Salju yang berbuat kekacauan."
"Ooh... aku mendengar itu. Katanya ia tidak takut sedikit pun ketika berhadapan dengan Lord Weiqing. Malah ia memperlakukannya seperti teman."
Semua pada berbisik tentang Qin yan dibelakang. Begitu risih, hal itu sendiri membuat Qin yan jadi tidak tenang. Diam diam ia menyalakan ratu Es mengapa ia mengungkapkan identitasnya.
"Waah... Kau cukup terkenal dikalangan anak muda yah Qin yan." Ratu Es berbalik pada Qin yan dengan senyuman lucu. Melihat ekspresi anak itu yang semakin kesal.
"Huh! Ini semua salahmu, kenapa kau suka membuka identitas orang begitu saja." Berkata Qin yan sambil menoleh kesamping, menggaruk pipinya sendiri.
"Ppfftt..." Namun tingkahnya malah membuat ratu Es lebih tertawa.
"Baru kali ini aku melihat ada orang yang benci dengan reputasi." Lanjutnya lagi.
"Huh, bahkan kau tertawa disaat tidak ada yang lucu." Tentunya Qin yan heran melihat wanita ini menertawai dirinya tanpa alasan.
"Tidak, tingkahmu itu benar benar lucu. Kau itu berbeda dengan anak lain. Seperti...." Ratu Es ingin melanjutkan ucapannya, namun ia sadar kalau dia sendiri sudah berbicara blak blakan. Untungnya ia berhenti, jika tidak mungkin akan terjadi salah paham. Apalagi saat ini mereka sedang berada ditempat umum. Melihat Qin yan dan Medusa yang masih menatapnya, ia pun mengalihkan topik.
"Ayo kita masuk, kejutannya ada didalam."
Mendengar kata kejutan, Qin yan dan Medusa saling memandang. Tentunya mereka juga penasaran apa yang dimaksud wanita ini.
Dialantai atas atap, seorang wanita berbaju bangsawan berdiri menatap kedatangan mereka. Bajunya nila dilapisi mantel biru, yang indah bercorak phoenix es. Kecantikan serta auranya benar benar memukau terlihat jelas dari penampilannya yang begitu elegan dan sempurna dimata para pria. Namun terlihat jelas, kening wanita itu berkerut melihat kedatangan ratu Es.
"Kenapa Yuechan bisa tersenyum selembut itu. Siapa yang bisa membuatnya seperti itu?" Gumamnya sendiri, ia tak menyangka kalau ratu es juga bisa tersenyum. Selama ini, Yuechan yang ia kenal selalu dingin dan tenang. Hatinya seperti batu, dan tatapan sedingin es mengikuti atribut miliknya. Makanya wanita itu diberi julukan Ratu es karena memang cocok dari luar maupun dari dalam. Tapi hari ini, ia baru pertama kali melihat ratu Es tersenyum. Entah apa sebabnya.
Namun dengan tamu yang dia bawa, wanita itu mulai berspekulasi kalau ratu Es tertawa karena Medusa yang ada dibelakang. Kemungkinan itu adalah saudarinya, tapi itu tidak mungkin. Adik ratu es yang ia kenal selama ini itu adalah Chu yueling, ratu salju. Tidak mungkin ada saudari tersembunyi lainnya. Dan siapa anak yang ia bawa itu, tampaknya tatapan ratu es tertuju padanya. Apakah dia yang membuat ratu es tertawa begitu.
Memikirkan itu membuatnya jadi tidak tenang.
'Sebaiknya, aku harus melihatnya sendiri.' Dia pun menghilang menjadi debu, menghilang dari pandangan mata.
Kembali kesituasi Qin yan, saat ini mereka dibawa keruang khusus untuk pertemuan para tamu. Dari pintunya saja, mata Qin yan sudah cemerlang melihat betapa mengkilapnya pintu masuk ruangan tersebut.
'Jangan bilang kalau pintu ini terbuat dari berlian.' Batin Qin yan ternganga melihat betapa megahnya istana ini. Matanya tertuju keatas menatap pintu itu.
Melihat reaksi Qin yan yang seperti itu, muncul perasaan senang dihati ratu Es. Selama ini, ia akan lebih bersikap angkuh ketika mereka menerima tamu dan memperlihat keindahan istana mereka. Begitu pula dengan Qin yan. Tapi, daripada bersikap angkuh, ia malah jauh lebih senang melihat mereka seperti itu.
"Kenapa kalian diam disitu. Ayo masuk." Senyumnya lagi. Ia hendak masuk, namun tiba tiba wanita yang tadi menyaksikan kedatangan mereka dari atas atap tiba tiba muncul disampingnya. Sedikit menunduk dan memberi hormat pada ratu Es.
"Ratu, anda membawa tamu?" Tanyanya dengan sopan.
"Ya. Dia adalah tamu penting." Sikap ratu Es yang tadi begitu ramah kini kembali seperti semula. Angkuh, dingin, dan jangan lupa dengan ketegasannya.
'Dasar wanita bermuka dua.' Batin Qin yan dan Medusa bersama sama, ketika melihat sikap ratu es yang tiba tiba berubah didepan bawahannya sendiri.
"Ta-tamu!" Wanita itu langsung terkejut mendengarnya. Ia pun berbalik melihat tampang Qin yan.
"Ta-tapi ratu... Bukankah peraturan mengatakan laki laki tidak boleh memasuki sekte ini?."
"Aku ratunya disini. Bukankah aku juga yang membuat peraturannya. Orang yang kubawa juga bukan orang sembarangan. Dia telah berjasa pada sekte kita." Bantah ratu es. Perkataannya membuat wanita itu terdiam, ia pun hanya bisa menunduk mendengar ucapannya. Namun sebenarnya ia diam diam melirik Qin yan dengan tajam.
"Masuklah." Setelah dipersilahkan masuk, Qin yan dan Medusa pun masuk kedalam, seperti apa yang dikatakan ratu Es. Meskipun, wanita disamping selalu melirik Qin yan dengan tatapan tajam. Namun Qin yan hanya mengabaikannya. Bahkan bersikap angkuh didepannya. Setelah mereka masuk, barulah ratu Es juga ikut masuk.
Pertama tama ia mempersilahkan Qin yan dan Medusa duduk, lalu menyeduhkan teh untuk mereka.
"Kau melanggar peraturanmu sendiri, apakah itu tidak apa apa.?" Tanya Qin yan dengan alis berkerut padanya.
"Apanya?" Tatap Ratu Es pada Qin yan. Ia pun duduk berhadapan dengan mereka.
"Maksudku, kalau kau membuat peraturanmu sendiri mengapa kau melanggarnya juga?"
Ratu Es terdiam mendengar pertanyaan Qin yan. Ia pun kembali menatapnya.
"Itu adalah hak absolut sang penguasa. Memangnya kenapa?"
Mendengar itu, Qin yan pun juga terdiam. Ia menatap ratu es sambil memiringkan kepala. Ingin mengeluarkan pendapatnya, tapi sepertinya ia tak bisa mencampuri urusan wanita ini. Tentang strategi dan cara wanita ini mengatur murid sektenya. Ia pun lebih memilih untuk diam, dan mengangguk sendiri.
"Tidak ada apa apa. Oh, jadi ini ruangannya. Strukturnya lumayan." Berkata Qin yan sambil meminum tehnya, memandangi indahnya ruangan ini. Riasan riasan dipermukaan dinding terlihat indah, tak lupa pula mutiara mutiara juga mewarnai ruangan itu. Hingga para tamu bisa memanjakan mata mereka.
"Oh.. Terimah kasih atas pujiannya. Ruangan ini memang dikhususkan untuk para tamu, tapi sebenarnya ini cocok untuk para pasangan."
"Ppffrr... Uhuk uhuk." Qin yan langsung memuntahkan teh dimulutnya, berbatuk ketika ia tersedak. Apa apaan perkataan wanita ini, kenapa agak terdengar canggung ditelinganya.
Medusa datang membantunya, agar ia kembali tenang.
"Apa kau baik baik saja. Mengapa kau jadi begitu setelah mendengar kata pasangan?" Tanya Ratu es dengan alis berkerut.
"Tidak, tidak apa apa." Qin yan pun akhirnya jadi tenang, lalu kembali meminum tehnya.
"Baiklah kalau begitu. Tadi anda mengatakan kalau ingin bertemu seseorang. Anda ingin bertemu siapa?" Tanyanya dengan santai, meminum teh didepannya. Sudut bibirnya agak melengkung sedikit, menampilkan senyum sinis.
Ekspresi Qin yan juga menjadi lebih serius. Mengingat semua cerita ayahnya, tentang jati diri ibunya. Serta perjanjiannya beberapa tahun yang lalu. Jika benar ibunya berada disini, maka ucapan Qin yan kali ini akan menentukan kebenarannya. Benar atau tidak.
Melihat Qin yan yang tampak serius, Ratu es memainkan bola matanya. Serasa ia tahu apa yang dipikirkan anak ini. Begitu pula dengan Medusa, tepat didepan matanya. Ia baru pertama kali melihat Qin yan segugub ini. Memikirkan gadis lain akan datang, membuat agak tak senang.
"Jadi, siapa yang ingin kau temui?" Tanyanya sekali lagi. Meskipun ia agak muak melihat Qin yan mengucapkannya begitu lama.
Pertama tama, Qin yan menghela napas. Lalu menjawabnya dengan serius.
"Aku ingin bertemu dengan wanita bernama Qin yin."
Mendengar itu, ratu Es serasa disambar petir. Matanya membesar, menatap Qin yan tak percaya.
"Apa tadi, apa yang kau katakan?" Tanya Ratu es memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Melihat ekspresi ratu Es yang sangat terkejut. Tidak salah lagi, kalau ibunya memang ada disini. Memikirkan itu, Qin yan pun jadi lebih bersemangat.
"Aku bilang, aku hanya ingin bertemu dengan Qin yin." Ucap Qin yan sekali lagi. Ratu Es terdiam beberapa waktu, memikirkan sesuatu. Ia tidak menyangka kalau orang yang akan Qin yan panggil yaitu wanita yang sedang menjalani masa hukuman.
"Apa hubunganmu dengannya?" Tanyanya lagi.
"Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengannya." Jawab Qin yan lebih serius. Mendengar itu, ratu Es pun hanya menghela napas dan melipat tangan didada.
"Dia sedang menjalani masa hukuman. Dia belum bisa keluar." ucapnya pelan.
Qin yan agak kecewa mendengarnya, ia pun juga hanya menghela napas.
"Ooh... Jadi cuma sebatas ini rasa terimah kasihmu?"
Raut wajah Ratu Es berubah, ia pun jadi bingung apa yang harus ia lakukan. Apa hubungan anak ini dengan Qin yin. Mengapa dia bersikeras ingin bertemu dengannya. Tidak pernah terpikirkan olehnya, kalau nama Qin yan dan Qin yin mempunyai marga yang sama.
"Tapi dia..."
"Aku hanya ingin bertemu dengannya." Ucap Qin yan lagi. Melihat anak ini yang begitu serius, membuat ratu Es tak berdaya. Apalagi yang harus ia lakukan.
"Mungkin aku bisa membawamu untuk melihatnya." Akhirnya ratu Es memberinya kesempatan.
"Owh, kukira kau akan mengantarkannya kesini?" Senyum Qin yan dengan senang, tapi sebenarnya ia tak mau menemui ibunya dalam keadaan tersiksa atau dengan keadaannya yang menyedihkan. Ia tak mau pergi memeriksanya ketempat dimana ia dihukum. Jika itu terjadi, ia takut dirinya akan kehilangan kendali atas emosinya. Dan ia tak mau itu terjadi.
"Ka-kau..." Mendengar itu, ratu Es sebenarnya agak kesal. Namun anak ini terlihat memaksa dibalik senyumnya itu. Dengan berat hati, ia pun berdiri. Melakukan apa yang disuruh Qin yan. Kebetulan, ia juga harus membawa ratu Salju ke penjara.
"Baiklah, tunggulah disini. Aku akan segera kembali."
********
"Senior! Senior!" Seorang gadis berambut hijau berlari menuju kearah ruang latihan pribadi. Ruang tempat milik Ling qinzhu bersemedi.
"Ada apa?" Mendengar ada memanggilnya dengan nada panik, Qing zhu pun membuka mata. Pupilnya yang berwarna biru jernih, sejernih es serta wajahnya yang oval membuat gadis didepannya yang tengah berkeringat jadi terbengong sesaat. Namun tidak lama kemudian, ia pun jadi tersadar kembali.
"Um... itu. Master sudah pulang, tapi dia membawa dua orang tamu. Salah satunya adalah seorang pria."
"Apa! Master mengijinkan seorang pria masuk kesini?" Tentunya Qing zhu langsung terkejut mendengar itu. Masternya yang ia kenal sangat membenci pria, bahkan ia akan membunuh pria manapun yang berani memasuki kawasan sektenya.
"Benar senior. Mereka tampaknya adalah orang yang telah menghentikan perbuatan ratu Salju."
Mendengar itu, mata Qing zhu langsung membesar.
'Tunggu. Jangan jangan....' Memikirkan tentang orang yang menghentikan ratu Salju, hanya ada satu orang dikepalanya.
Qin yan..
Pantas saja masternya bisa mengesampingkan kebenciannya. Apapun terkecuali anak itu, dia bisa saja melakukan segalanya apapun yang ia mau. Jika itu benar, maka dia adalah laki laki pertama yang bisa memasuki sekte ini semenjak berada dibawah kekuasaan ratu es.
Memikirkan alasan mengapa master bisa membiarkannya masuk, sudah tentu karena apa yang ia lakukan hari ini. Kedua, itu mungkin didasari rasa kagum dan mungkin ratu es hanya ingin menjalin hubungan. Tapi yang ketiga, kemungkinan masternya sendiri sudah tahu hubungan mereka. Jika spekulasi ketiga ini benar, maka bisa saja ini adalah jebakan yang disiapkan masternya untuk Qin yan. Memikirkan itu, benar benar membuat Qing zhu jadi khawatir. Apa yang dilakukan masternya ini memang sudah menyimpang dari sifatnya. Dan tentu tidak ada alasan lain selain jebakan.
Tanpa membuang banyak waktu, Qing zhu pun langsung berlari meninggalkan gadis itu sendiri diruangan pelatihan.
"Eh, senior. Tunggu!" Kejar gadis berambut hijau dibelakang. Ia tidak menyangka kalau Qing zhu orang yang ia kagumi bisa juga mengagumi seorang pria. Dilihat dari tindakannya, ia pun mulai berpikir lain lain. Dari pikiran salah pahamnya ini bisa saja merusak reputasi Qing zhu sendiri.
Berita kedatangan Qin yan mengejutkan seluruh penghuni sekte tersebut, saat ini kedatangannya menjadi topik hangat yang sedang ramai diperbincangkan. Beritanya berpindah dari mulut ke mulut, hingga seluruh murid sudah mengetahui hal itu. Tidak sedikit pula, murid murid datang untuk melihat kedatangan Qin yan. Bahkan berita kedatangannya menyebar sampai ketempat tempat tertentu, termasuk tempat penjara ibu Qin yan juga tidak terkecuali.
"Kau sudah dengar? Katanya master membawa tamu pria ke sekte ini."
"Benarkah? Aku tidak mempercayai hal itu. Kau jangan sembarangan bicara, dengan karakter master, bisa saja dia menghukummu."
"Tidak, aku tidak berbohong. Barusan salah satu murid terpercaya datang memberikan informasi ini. Katanya dia membawa anak remaja masuk kedalam ruang pertemuan."
"Apa! Apa maksudmu? Jadi kau bilang, sekarang Master sudah bisa menerima murid laki laki?"
"Entahlah, aku tidak tau. Yang penting, master sangat menghormati tamu itu."
"Itu berarti dia bukan orang biasa, hingga ratu sendiri memperlakukannya dengan hormat."
Dua penjaga sedang berbincang bincang didepan penjara. Hingga ibu Qin yan sendiri yang tengah bersemedi kini membuka mata dengan penuh keingin tahuan. Ia pun diam diam mendekati kedua penjaga tersebut. Ingin mendengar lebih jelas.
"Oh iyah. Ada juga informasi mengejutkan lainnya. Katanya ratu Salju memberontak dan hampir saja menggila. Untungnya ada Qin yan datang mengacaukan rencananya."
"Apa! Kau bilang Qin yan? Bagaimana mungkin dia ada disini? Bukankah selama dua tahun ini ia selalu menghilang?"
"Iyah. Tapi ratu es sendiri memanggilnya Qin yan. Dan anak itu tidak sedikit pun takut melawan Master lembah Vermillion."
"Jadi, apa mereka berdua bertarung?"
"Entahlah, kudengar mereka hanya adu mulut. Tapi Master lembah Vermillion jadi berada dikeadaan menyedihkan akibat provokasi anak itu."
"Oooh... Aku tidak menyangka dia bisa sekuat itu. Sial, aku juga ingin melihatnya sendiri."
"Hm.. aku juga merasa begitu, ingin rasanya aku menyaksikannya langsung."
Alis ibu Qin yan berkerut mendengar percakapan dua penjaga tersebut. Ia bingung, mengapa Qin yan bisa ada dikerajaan Glasier ini. Jejak khawatir juga muncul ketika mendengar kalau Qin yan berhadapan dengan master Sekte. Berharap ia bisa baik baik saja. Ia kemudian lanjut menguping mereka.
"Tapi, apa huhungannya antara master Sekte Lembah Vermillion dengan masalah ini?" Salah satu penjaga lagi.
"Aku tidak tau pasti, yang penting master lembah Vermillion ini katanya terlibat dalam kasus ratu Salju."
"Oooh... Jadi apa hubungannya dengan Qin yan? Kenapa anak itu juga disana."
"Itu karena...." Tiba tiba percakapan mereka terhenti, ketika melihat ratu Salju tersegel dengan rantai dikedua tangannya. Wanita itu tidak lagi memakai mahkota, dan ia diseret menuju penjara. Kedua penjaga tukang gosib itu pun menunduk dengan diam tak bisa mengangkat kepala. Karena Master mereka, Ratu Es sendiri yang membawa adiknya kepenjara ini.
"Ku harap kau bisa belajar dari kesalahanmu kali ini." Berkata Ratu Es dengan tegas setelah ratu Salju masuk kedalam jeruji. Ia pun lalu menyuruh dua penjaga lagi untuk menjaganya.
Setelah itu, perhatiannya kemudian tertuju pada Qin yin. Ibu Qin yan.
'Apa yang direncanakan anak itu sebenarnya?' Batin Ratu Es dengan alis berkerut. Ia heran mengapa Qin yan ingin dia membawa wanita ini kehadapannya. Apa hubungan mereka sebenarnya.
"Penjaga, lepaskan dia." Ucapnya dengan dingin, tanpa sepatah kata pun dua penjaga itu langsung membuka jeruji tersebut. Lalu membuka segel di kedua tangan Qin yin.
"Ada apa ratu." Berkata ibu Qin yan dengan kepala tertunduk.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Jawab ratu Es dengan datar, kemudian pergi keluar tanpa sepatah katapun. Tanpa disuruh pun, ibu Qin yan juga mengikutinya. Namun ia bingung, siapa yang ingin bertemu dengannya.
*********
Terimah kasih telah membaca, jangan lupa like, komen dan Vote yah. Agar Author makin up cerita ini.