LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Memberi pelajaran


"Huh!" Tatapan pertama yang Qin yan lihat yaitu kyubi yang tengah terikat dibelakangnya. Ia terkejut bukan main, siapa yang berani membuat Kyubi jadi seperti ini.


"Dimana yue er?" Tanya Qin yan sambil melepaskan rantai yang mengikat kyubi. Hanya dengan mengeluarkan pisau Yin yangnya, rantai itu berhasil diputuskan.


'Anak itu.... huh!' Awalnya pria berambut merah heran mengapa Qin yan dapat memutuskan rantainya dengan mudah. Namun tatapan pria itu menyala sekali lagi, melihat harta karun ditangan Qin yan.


'Itu...' Senyum rakus terpancar diwajahnya sekali lagi.


Setelah ditanya, kyubi menunjuk kearah gadis yang digendong Lin yiyin. Tanpa membuang waktu, Qin yan langsung menuju kesana.


"Yue er! Yue er!" Panggil Qin yan berusaha memanggilnya bangun, namun Yue er benar benar tak merespon. Melihatnya terluka parah, membuatnya membeku, tubuhnya menggigil bukan main.


"Huk!" Sementara Lin yiyin kaget melihat Qin yan ada didepannya. Ia menutup mulutnya sendiri dengan air mata yang mengalir. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Hanya saja, Qin yan tidak memperhatikannya. Ia lebih khawatir dengan keadaan Yue er.


Perhatian dua gadis lain yang berdiri juga tertuju padanya. Apalagi Qiu er, Melihat Lin yiyin menangis menatap pria tak dikenal, membuat alisnya berkerut. Siapa dia? Mengapa ia memanggil nama Yue er?


"Kakaknya kah?" Ucap Chen fei sambil tertawa terkikik. Membuat Qin yan berbalik padanya. Yue er dalam keadaan seperti ini, pastinya membuat Qin yan sangat marah. Namun melihat tampang anak itu, niatnya yang marah. Kini berubah menjadi dingin. Menatap anak itu dengan tenang.


Baru setelah Qin yan berbalik, semua orang bisa melihat wajahnya dengan jelas. Betapa kagetnya mereka, menatap orang yang mereka kenal.


Terutama Qiu er, Chen fei dan anak buahnya.


"Chen fei kah?" Berkata Qin yan dengan tenang. Membuat mereka makin kaget.


"Oooh.... Jadi kau masih hidup? Kau bersembunyi dimana selama ini hah? Apa kau terlalu takut karna kami menjadikanmu budak permanen? Makanya kau sampai melarikan diri." Tertawa anak itu dengan sombong.


Sementara Qin yan saat ini terus merenung, berpikir tentang anak ini. Tentunya ia ingat jelas, bukan wajahnya tapi karakteristiknya. Ia sudah melupakan semua kelakukan anak ini dimasa lalu. Tapi yang penting, sebelum Qin yan bermusuhan dengan banyak orang. Ia sudah mengecap satu orang yang harus ia balas dendam. Seseorang yang tidak sempat ia balas dimasa lalu, Chen fei.


Qin yan pun berdiri dengan wajah gelap, namun menatap anak itu dengan remeh.


"Lama tak bertemu yah?"


Melihat Qin yan yang hanya tenang tenang saja melihatnya, membuat Chen fei menggertakan gigi. Sejak kapan budaknya bisa begitu berani menatapnya seperti itu.


"Tiga tahun ini, kau lumayan banyak berubah. Sampai ada tanda aneh didahi dan pipimu itu. Tapi... Kau kesini, sekalian saja. Mantan budakku yang dulu dan adiknya yang menyedihkan. Sekalian saja kalian menjadi budak kami seperti dulu!" Teriak Chen fei merentangkan kedua tangannya. Membuat semua anak buahnya jadi tertawa terbahak bahak.


"HAHAHAHA!!!!" Tawa mereka bahkan bergema diwilayah hutan ini.


Tapi Qin yan masih tenang tenang saja, melihat mereka tertawa. Bahkan ia sendiri ingin tertawa karena perkataan Chen fei terdengar seperti lelucon ditelinganya.


"Ppfftt..." Qin yan menahan mulutnya dengan tangan, tubuhnya berdigik karena tak bisa menahan tawa.


"Aduh... Sudah berapa lama aku disini. Maaf, aku tidak punya banyak waktu untuk berhadapan dengan kalian. Oh iyah, kembalikan semua barang barang milik Yue er. Aku sudah bekerja keras untuk mendapatkannya loh." Berkata Qin yan dengan raut wajah menghina. Cincin penyimpanannya mengeluarkan sebuah botol exlisir dan itu jatuh didepan Lin yiyin.


"Bisakah kau berikan itu pada adikku." Berkata Qin yan tanpa berbalik kebelakang. Sampai saat ini ia tidak sadar, kalau tiga gadis disampingnya adalah gadis yang ia kenal.


Tanpa menunggu jawabannya, Qin yan pun berjalan kedepan. Hendak berhadapan dengan kelompok mereka. Tapi langkahnya terhenti saat terdengar seseorang tertawa keras dibelakang.


"TCh... Ahahaha...!! Hahaha...!!" Qin yan berbalik, melihat pria berambut merah tertawa disana.


"Baru kali ini yah, aku bertemu dengan anak yang tidak tahu diri. Kultivasi saja tidak ada, tapi bicaramu tinggi sekali. Aku ingin tahu, kau bisa atau tidak. Mengambil benda ini dari tanganku." Berkata pria itu sambil memamerkan busur Blue's Shark arrow dan Kitab God Dragon sea dihadapan Qin yan.


"Kau ingin mengambil ini? Cut cut cut! Mengemislah untuk itu. Eh!!" Pria itu yang sedang meledek Qin yan tiba tiba terkejut, kedua benda ditangannya menghilang menjadi secercah cahaya dan masuk ketangan kiri Qin yan. Satunya lagi menuju ketangan kanan Yue er.


"Itu adalah senjata roh, dan kitab tingkat dewa. Kalian pikir semudah itu mengambilnya?" Qin yan hanya menggelengkan kepalanya dengan lucu menatap mereka yang hanya terdiam.


"Senjata roh memiliki tuan, mereka takkan pernah berpisah dengan tuannya hingga tuannya sendiri yang melakukan ritual pisah. Dan kitab itu, benda itu adalah bagian dari diriku." Senyum Qin yan dengan sinis, lilitan perban ditangannya terbuka. Memunculkan segel biru yang bersinar hingga kebahu. Begitu keren, apalagi dihadapkan dengan gelapnya malam.


"Kepar*t! Ambil balik kedua benda itu!!" Tunjuk pria berambut merah, salah satu anak buah pun maju. Cincin Hijau ditangan kanannya bersinar, melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Kearah Qin yan yang hanya diam tak berkutik, perlahan tapi pasti. Qin yan hanya tersenyum tipis menunggu serangan tersebut.


Tangan kanan pria itu hendak mencekik leher Qin yan, namun dengan mudahnya Qin yan menghindari itu. Menangkap tangannya, lalu mematahkannya tanpa ragu.


"Krak" Suara tulang yang patah pun terdengar ditelinga semua orang.


"AAAAAAKKHHH...!!!" teriak pria itu dengan keras, memegangi tangannya yang bengkok. Membuat mata semua jadi membesar.


"Bukh" Saat berikutnya, jari telunjuk Qin yan menghantam titik dantian ditengah perut pria itu. Memutarnya, hingga pria tersebut mengeluarkan busa yang banyak dimulutnya.


"Bruk" Ia pun jatuh tak sadarkan diri.


Ye Xun er yang melihat itu, tubuhnya jadi menggigil. Mengingat kejadian yang sama dengannya waktu itu.


"Di-dia.... Gembel mesum waktu itu." Kedua tangannya tergenggam dengan erat, menatap Qin yan.


"Kenapa? Kalian kaget?" Tanya Qin yan pada mereka yang hanya diam melihat tindakannya.


"Yah... sudah sewajarnya. Dalam pertarungan, seseorang yang maju tanpa persiapan kokoh terlebih dahulu. Itu adalah kesalahan fatal, meskipun lawanmu itu adalah orang yang tak memiliki kultivasi."


Penghinaan Qin yan, membuat semua orang membeku. Apalagi Ye xun er, kata kata itu adalah kata kata yang sama terakhir kali Qin yan meninggalkannya didalam hutan.


Dari belakang situlah, Qiu er menatap wajah Qin yan yang menyamping. Ia tidak menyangka kalau kemampuan Qin yan akan meningkat dengan begitu pesat. Coba pikirkan saja, seseorang yang tidak memiliki kultivasi bisa mengalahkan tahap Master semudah itu. Entah berapa banyak latihan keras yang ia lakukan selama ini.


"Kedua, jangan alihkan perhatian kita pada apapun itu. Baik itu rasa sakit, atau sesuatu lain yang menghilangkan penjagaan kita. Karna musuh bisa saja menggunakan kesempatan itu untuk membunuhmu." Lanjut Qin yan lagi. Mendengar itu, pria berambut merah jadi menggertakan gigi dengan kuat.


"BAJ*NGAN!!! KAU PIKIR KAU HEBAT HANYA KARENA MENGALAHKAN SATU ORANG? SEMUANYA! CEPAT BUNUH DIA!!!" Teriaknya dengan keras.


Mendengar itu, Lin yiyin maju dengan khawatir. Namun Ye xun er menghentikan dirinya.


"Jangan ikut campur, mereka semua berada ditingkat Grandmaster. Kita hanya akan menjadi mainan mereka." Ucapnya dengan tenang.


"Lalu bagaimana dengannya yang tidak mempunyai kuktivasi!" Balas Lin yiyin dengan panik.


"Tidak, dia tidak selemah itu. Tiga tahun lalu, aku bahkan kalah melawannya waktu itu. Padahal aku sudah berada ditingkat Knigth." Tiba tiba Qiu er menyela mereka didepan, perkataannya membuat mata mereka berdua jadi membesar. Jadi, Qiu er yang dikenal monster rupanya kalah dari anak yang dikenal sampah?


Tatapan mereka pun beralih kedepan, benar saja. Ekspresi Qin yan hanya setenang air. Meskipun lawannya ada ditingkat Master dan Grandmaster. Tapi ia tidak berpindah sedikit pun dari tempatnya.


"Hiyaaaah!!!" Teriak mereka, kebanyakan ditangan para kultivator tua itu melayang cincin Hijau dan Ungu. Ada yang mengeluarkan percikan api, angin, tanah mau pun elemen umum lainnya.


Tapi Qin yan malah tersenyum melihat kekumpulan orang bodoh ini maju kearahnya. Beberapa pisau pun keluar dari cincin penyimpanannya, sekali lempar. Sepuluh pisau pun langsung dilayangkan.


"Tang tang tang" Sepuluh pisau itu saling bertabrakan, berbelok dan membuat orang orang bingung melihat itu. Namun mata Qiu er malah membesar menyaksikan hal tersebut. Ia teringat saat pertarungannya dulu bersama Qin yan. Pertarungan yang membuatnya kalah yaitu trik melempar pisau yang sangat menyebalkan itu. Anehnya, seberapa pun ia berusaha meniru teknik melempar pisau tersebut. Ia tetap tak bisa menguasainya.


'Itu... bagaimana dia melakukan itu sebenarnya?' Batin Qiu er dengan penasaran, sekali lagi tersipu ketika melihat wajah Qin yan akibat teringat ciuman tak disengaja waktu itu.


Tapi matanya seketika membesar, karena pisau tersebut tidak ada satupun yang mengenai musuh. Tapi malah melilit tangan atau kaki mereka dengan sebuah benang tak kasat mata yang dipenuhi kertas berisi simbol aneh.


"Apa apaan ini!" Semua orang berusaha melepaskan diri, dan pergerakan mereka membuat kertas tersebut jadi menyala. Dan akhirnya.....


"BOOM BOOM BOOOM" Ledakan terjadi dimana mana, semua orang jadi menganga. Apa yang terjadi didepan mereka, membuat mereka ingin mual. Tangan dan kaki mereka meledak menjadi gumpalan daging. Namun ada juga yang masih utuh karena armor kondolisasi yang mereka miliki.


'Sial.' Berdecak mulut pria berambut merah dengan kesal, salah satu tangannya penuh asap. Karena terlilit oleh benang pisau tadi. Jika bukan karna Armor Kondolisasi tingkat dua, ia mungkin sudah kehilangan tangannya seperti yang lain.


"Huh!" Ia tiba tiba terkejut lagi, Qin yan mulai menyerangnya lagi sekarang tanpa banyak bicara.


"Siut" Dengan cepat Qin yan langsung menendangnya, tapi pria itu berhasil menghindar. Setelah itu, serangan Qin yan yang lain juga berhasil dihindari.


"Bukh. Bukh bukh bukh bukh" Selama bertarung, pria berambut merah selalu menghindari dan menahan pukulan atau tendangan Qin yan. Namun ia berada dikondisi yang kurang menguntungkan, terkadang serangan Qin yan selalu membuatnya bingung. Ia tidak bisa memprediksi pergerakan anak ini. Serangan anak ini memang agak lemah dari serangan anak anak lain. Namun target serangannya, ia menargetkan titik fatal.


'Apa apaan anak ini, ia tidak menyerang sembarangan seperti anak lain. Huh!' Pria berambut merah yang tengah berpikir, kini tiba tiba terkejut dengan perubahan pola serangan Qin yan.


'Apa! Gerakan tipuan?' Pria yang tadi menahan tendangan Qin yan disamping wajahnya, malah terkena tipu. Serangan Qin yan yang sebenarnya ada titik tulang rusuknya. Karena di wilayah itu, ia tak sempat untuk menghindar atau menahan serangannya. Dan juga disana, tidak ada perlindungan armor kondolisasi. Qin yan pun tersenyum. Energi pernapasannya berkumpul dikaki, memperkuat serta mempercepat akurasi tendangannya.


"Buakh" Tubuh pria itu serasa bengkok kesamping. Tendangan Qin yan, membuat salah rusuknya retak. Sejenak ia kehilangan kesadaran untuk sementara.


"UKH" Tanpa sadar, keseimbangannya pun oleng karena pusing. Ia bahkan hampir terjatuh jika tidak menopang dirinya dibatang pohong.


"Ketua!" Teriak anak buahnya yang tersisa. Mereka pun mulai menyerang Qin yan lagi.


"Elemen angin!"


"Elemen tanah!"


Dua serangan dari elemen berbeda menuju kearah Qin yan.


'Gerakan kilat, langkah bayangan.'


"Siung siung siung" Qin yan selalu menghindari semua serangan itu. Baik itu batu raksasa yang menjatuhinya atau serangan angin yang terus mengejarnya.


"Ransenggan!" Ia menyerang dipengguna elemen tanah.


"Elemen tanah! Dinding tanah." Teriak orang itu dengan panik, tangannya ia hentakan ketanah. Dan akhirnya memunculkan sebuah dinding tebal.


"BOOM" Rasenggan Qin yan berbentrokan dengan dinding itu hingga retak. Aura kejut anginnya begitu kuat. Berhembus kesetiap orang.


"UKH...." Pria pengendali tanah terus mempertahankan dindingnya agar tetap kokoh. Namun matanya kemudian terbelalak, pada akhirnya rasenggan biru tersebut menembus dinding pertahanannya. Berlanjut mengenai dirinya.


"BUM" Dada kiri pria tersebut dihantam oleh rasenggan itu. Darah yang begitu banyak mengalir dari mulutnya. Sampai akhirnya terpental jauh kebelakang.


Melihat itu, teman yang satunya lagi hendak menyerang kini berhenti. Menyaksikan salah satu temannya jatuh sekarat, dan tuannya malah tidak sadarkan diri.


"To-tolong ampuni aku, aku hanyalah anak buah mereka." Ia pun berlutut didepan Qin yan.


Melihat itu, Qin yan pun tidak lagi memperhatikannya. Sekarang ia berbalik pada Chen fei disana. Melihat Qin yan menatapnya, tanpa sadar Chen fei sendiri jadi terjatuh kebelakang. Keringat bercucuran diwajahnya.


'Gi-gila...' Itulah yang dipikirannya saat ini, ia menatap anak buah pria berambut merah yang sudah dituntaskan. Sekarang anak itu malah berbalik kearahnya.


"Ku-kuberi tahu kau, jika kau berani melukaiku. Keluargaku tidak akan melepaskanmu." Perlahan ia mundur menghindari Qin yan.


Namun Qin yan tidak sekalipun takut dengan gertakannya. Ia malah tetap maju dengan pandangan dingin kearahnya.


"Jangan mengabaikanku Brens*k!" Tiba tiba pria berambut merah muncul disamping Qin yan. Kembali menendang rusuknya, tepat dimana Qin yan menendang dirinya tadi.


"Bukh" Qin yan dibuat mundur olehnya, semua orang mengira kalau tendangan itu sukses mengenainya. Namun ternyata, Qin yan menangkis tendangan itu. Meskipun tangannya cukup sakit ketika menangkis serangan pria itu.


"Kau anak yang cukup menyebalkan." Berkata pria itu dengan serius. Sebuah tombak muncul ditangannya. Ia juga menggunakan beberapa teknik khususnya.


Namun Qin yan malah mengabaikannya lagi, ia hanya memandangi telapak tangannya. Segel ditangannya perlahan lahan mulai menghilang seiring berjalan waktu. Melihat itu, alisnya kemudian berkerut. Ia pun menghela napas pelan.


"Baj*ngan!! Kau mengabaikanku lagi!" Pria itu menerjang kearah Qin yan. Tombaknya yang berapi ia arahkan pada anak itu.


Qin yan yang melihat itu, perlahan mulai muak. Waktunya bisa habis disini jika ia terlalu lama berurusan dengan mereka. Akhirnya ia tak punya cara lain. Qin yan mengeluarkan prajurit bayangannya untuk menghentikan pria itu.


"Maaf yah, aku tidak punya waktu mengurusi kalian." Berkata Qin yan dengan datar. Dua prajurit bayangannya melesat menghabisi pria itu.


"Slash slash" Badan pria itu tarjatuh ketanah beserta tombaknya. Sementara kepalanya menggelinding didepan mata semua orang.


Chen fei yang melihat itu, makin ketakutan. Sementara semua orang terdiam. Menutupi mulut mereka dengan tubuh menggigil. Bahkan Qiu er dan lainnya sampai jadi ngeri melihat mayat itu.


"Sekarang giliranmu." Tangan Qin yan terarah ke Chen fei.


Anak itu jadi menganga ketakukutan, melihat makhluk mengerikan milik Qin yan menuju kearahnya.


"CHEN ZHOOOONG!!!" Teriak Chen fei dengan keras, ketika pedang prajurit bayangan hendak menebas lehernya. Seseorang datang merampas dirinya.


"Hm...." Pandangan mata Qin yan tertuju kesamping. Dimana seorang pria 50 an berhasil memindahkan Chen fei.


"Anak muda, kau tak harus melakukan ini." Berkata pria tua itu kepada Qin yan sambil mengelus janggutnya.


Mendengar itu Qin yan mengangguk setuju.


"Baiklah, tapi kembalikan pisau ditangan anak itu." Mendengar perkataan Qin yan, Chen fei pun mundur. Ia tak ingin mengembalikan pisau itu kembali pada Qin yan. Sekalipun mereka membuat negoisasi, ia takkan pernah menyerahkannya.


Pria tua didepannya juga hanya tersenyum tipis, menghina Qin yan dengan kedua tangannya dibelakang.


"Bocah, sesuatu yang sudah diambil tak bisa dikembalikan lagi." Berkata pria tua itu dengan licik.


Qin yan pun hanya diam mendengarnya, tidak lama kemudian ia pun tersenyum lebar.


"Yang kukatakan tadi bukanlah negoisasi. Tapi perintah."


Wajah pria tua itu jadi menghitam. Cincin Abu abu ditangannya jadi bangkit. Semua orang jadi terkejut melihat itu.


"Ti-tidak mungkin, di-dia berada ditingkat Saint? Keluarga keramat ini... Benar benar mengerikan." Ucap mereka dengan mulut ternganga. Berpikir kalau nasib Qin yan telah tamat.


Melihat semua orang ketakutan, Chen fei makin bangga akan hal itu. Ini adalah kesempatannya untuk mempermalukan Qin yan kali ini.


"Hahaha... Jadi bagaimana Qin yan? Masih berpikir untuk mengambil pisaunya?" Ucapnya dengan sombong. Namun perkataannya membuat pria tua didepannya jadi mengerutkan alis.


"Tuan muda, apa anda tadi menyebutnya Qin yab?" Tanyanya dengan pelan.


"Huh, jangan samakan Qin yan sampah ini dengan Qin yan sang legenda. Kau lihat sendiri kan, anak ini tidak mempunyai kultivasi. Bagaimana mungkin dia bisa dibandingkan dengan sang legenda?"


Perkataan Chen fei, membuat pria tua itu berbalik menatap Qin yan. Keningnya tetap berkerut melihat anak itu yang hanya tetap tenang.


'Ini tidak biasanya. Seharusnya anak itu takut ketika seseorang ahli tingkat tinggi berada dihadapannya.' Pikirnya.


"Ada apa Chen Zhong! Kenapa kau hanya diam. Serang anak itu, dan buat dia berlutut padaku dengan keadaan menyedihkan." Suruh Chen fei dengan tatapan kejam.


Suruhan Chen fei, membuat pria itu mengambil siaga. Bersiap siap menghabisi Qin yan. Tapi ia berhenti saat melihat Qin yan malah bertepuk tangan.


"Tidak bisa menggunakan cara lembut yah, kalau begitu aku pakai saja kekerasan." Ucap Qin yan, ia mengangkat tangannya kedepan. Satu prajurit bayangan jadi muncul dengan cincin emasnya yang bersinar.


"Bunuh dia." Berkata Qin yan dengan pelan.


"Apa!" Tentunya hal itu membuat pria tua didepan Chen fei jadi terkejut. Ia tidak percaya, apakah makhluk didepannya ini berada ditingkat Kaisar? Tingkatan yang belum pernah ia lihat.


Ia ingin menyangkal hal itu, namun tekanan makhluk itu adalah bukti. Ia bahkan tak bisa bergerak dibawah auranya. Sesaat kemudian, prajurit bayangan Qin yan muncul didepannya. Menggenggam kepala pria tua itu, hingga pecah. Darahnya bahkan terciprat diwajah Chen fei.


Semua orang yang melihat itu, jadi mundur dengan penuh ketakutan. Kaki mereka gemetar, bahkan tidak sedikit diantara mereka ada yang membasahi celana mereka. Bahkan jika itu Qiu er dan lainnya. Kekuatan Qin yan terlalu mengerikan.


"Sudah kubilang kan? Aku hanya memintamu baik baik. Tapi kau tidak terima, mungkin setelah menunjukan apa yang namanya kekalahan mutlak, barulah kau tahu." Dari sana, Qin yan hanya menatapnya dengan dingin.


"Chen fei, kau tadi bilang, ingin menjadikan adikku menjadi budakmu. Aku tak suka itu. Sebagai hukuman, kau harus kehilangan lidahmu agar kau tak berbicara sembarangan lagi."


Mendengar perkataannya, Chen fei melarikan diri dengan wajah putus asa. Namun, tetap saja tidak bisa berbuat apa apa. Prajurit bayangan Qin yan menangkapnya dan tanpa membuang waktu. Ia pun mencabut lidah Chen fei tanpa belas kasih.


"MMmm...!!!!!." Chen fei terjatuh sambil memegang lehernya. Mulutnya mengeluarkan banyak darah. Lidahnya terjatuh ditanah, dan semua orang menelan ludahnya dengan ngeri melihat itu. Prajurit bayangan Qin yan hendak menyiksanya lagi. Namun, Qin yan menghentikannya.


"Sudah cukup." Berkata Qin yan, prajurit bayangan tersebut jadi berlutut pada Qin yan.


'Makhluk sekuat itu, berada dibawah kendali anak itu....?' Dari kejauhan, terlihat seseorang sedang mengintip mereka. Namun ia tidak berani keluar, dan malah memperhatikan saja.


Qin yan pun pergi menuju Yue er. Ia menggendongnya dengan lembut, jejak kesedihan terpaut diwajahnya.


"Terimah kasih." Qin yan pun menunduk pada gadis didepannya, ketika melihat wajah gadis itu. Barulah ia terkejut, cukup lama juga ia menatap wajah gadis itu.


"Yiyin!" Ucap Qin yan dengan pelan. Setetes keringat turun diwajahnya.


Tiba tiba, dari permukaan tanah. Beberapa tulang langsung mengekang Qin yan. Tentu Qin yan sendiri jadi kaget, menyadari itu.


"I-ini... Tulang?" Qin yan berusaha melepaskan diri, namun setelah beberapa saat ia pun ingat. Tulang ini mengingatkannya pada seorang yang ia kenal.


"Bagus Xiang xiang, terus kekang dia." Dari atas langit, sosok monster pun terlihat. Terlihat Lin fin muncul dari sana dalam perubahan iblis.


"Dapat kau kepar*t!!" Ia langsung menindih Qin yan diatas tanah.


"Hei! Apa yang kau lakukan!!" Teriak Qin yan dengan keras, bagaimana tidak. Yue er ada dalam dekapannya, bisa bisa keadaan Yue er jadi tambah parah setelah ditindih seperti ini.


"Kau, baj*ngan! Kita menindih Yue er bodoh!" Qin yan teriak sekali lagi dengan marah, namun Lin fin tidak mendengarkannya. Malah lebih mengekang anak itu.


"Tidak, kali ini aku tidak akan melepaskanmu. Kau tidak bisa kemana mana lagi." Tangannya langsung memengunci leher Qin yan.


"Ukh.... Lin fin, apa apaan kau ini. Yue er.. yuer dia..." Mata Qin yan menoleh kesamping, dengan keringat bercucuran. Tanpa sadar ia melihat Xiang xiang berdiri disana, mempertahankan tulang yang mengekangnya.


"Xiang xiang, bi-bisakah kau lepaskan ini. Ukh.." Napas Qin yan mulai sesak, urat nadi muncul didahinya. Tapi gadis itu malah memalingkan wajah dengan cemberut.


'Hah, waktunya hampir habis.' Qin yan menutup mata dengan tenang, berusaha bertahan.


"Kyubi, tarik gadis itu kesini. Waktu kita hampir habis." Suruh Qin yan pada musang yang tengah menjilati tangannya disana. Mendengar Qin yan memanggilnya, ia pun mengangguk dan melakukan apa yang disuruh.


Dengan cepat hewan itu melilit Xiang xiang dengan ekornya, lalu membawanya ke Qin yan. Naik kebahunya.


Tentunya semua orang bingung dengan apa yang mereka lakukan. Terlihat begitu konyol, Qin yan bahkan tidak menanggapi orang yang menangkapnya dengan serius. Malah mengoceh tidak jelas. Padahal dua prajurit bayangan dibelakang, bisa dengan mudah melepaskannya. Tapi Qin yan bahkan tidak sekalipun melakukan itu, malah bersikap seperti anak anak. Menyimpang dari sifat kejamnya yang tadi. Namun beberapa saat kemudian, mereka menghilang menjadi asap putih. Menghilang dari pandangan semua orang. Menyisahkan debu yang bertebaran.