LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Perseteruan antar murid


"Silahkan." Yuisha dan Xing yun, berusaha membagikan seragam akademi yang telah diberikan, kepada seluruh murid yang sudah berkumpul dilapangan.


Kumpulan murid terbagi menjadi dua, berbaris dan mengantri. Para pria akan mengantri dan mengambil seragam yang dibagikan oleh Yuisha. Sementara perempuan berada diwilayah Xing yun.


"Oooh... pakaian ini cukup bagus. Kak, apa kakak murid dalam?" Tanya seorang gadis pada Xing yun yang sedang membagikan seragam. Hal itu ia sadari saat melihat seragam Xing yun mempunyai lambang biru. Sementara seragam yang dibagikan mempunyai lambang hijau.


"Mm..?" Tentunya Xing yun berbalik pada gadis itu, setelah ia diajak berbicara.


"Yaaah." Kemudian ia menjawab singkat, berusaha menghindari perkacapan panjang. Karena Yuisha selalu mengawasinya.


"Oooh, jadi kakak berada ditingkat berapa?" Tanya gadis itu dengan senyum manis, tapi ia sebenarnya cukup kesal. Kenapa pria didepannya malah bersikap jutek.


Hanya untuk berkenalan dengan pria didepannya, gadis itu rela menghentikan antrian yang begitu panjang. Tidak perduli seberapa banyak orang mengoceh dibelakang sana. Gadis itu tetap tersenyum manis menatap Xing yun.


"Haaaish" Xing yun pun hanya menghela napas melihat tingkahnya. Ia hendak menjawab agar gadis itu lekas pergi. Namun tiba tiba seorang pria berotot datang padanya, dan langsung menggertak dirinya dengan kasar.


"Hei, jangan mentang mentang kau adalah murid dalam. Kau mengabaikan nona kami." Ucap pria tersebut dengan penuh emosi. Sementara gadis dibelakangnya hanya berbicara manis. Menyuruh pria itu untuk berhenti.


Perlakuan itu, membuat wajah Xing yun menghitam. Tidak perduli apa yang terjadi hari ini, ia sudah menetapkan untuk menahan emosinya. Tapi, para berandalan ini sepertinya tidak memberinya kesempatan.


"Hei!! Kenapa kau tidak menjawab! Apa kau...." Tiba tiba pria berotot terhenti, menatap cincin hitam bangkit dari tubuh Xing yun.


"Jika kau tak ingin mati, lebih baik kembali kebarisanmu."


Spontan pria itu langsung melepaskan tangannya yang memegang kerah Xing yun. Dirinya penuh keringat saat tau kalau orang didepannya berada ditahap Elder.


"Tidak mau kembali?" Ucap Xing yun lagi, percikan cahaya muncul ditangannya.


Pria berotot yang melihat itu jadi merinding, ia pun dengan cepat kembali kebarisannya.


"Waahh, kakak rupanya sangat..." Gadis itu hendak memuji Xing yun, namun ia berhenti saat melihat tatapan Xing yun yang nampak marah.


"Kalau sudah mendapatkan seragam yang dibagikan. Silahkan pergi, jangan menghentikan antrian."


Seketika gadis itu juga langsung merinding. Dia pun cepat pergi dengan wajah kesal. Menghentakan kakinya, ketika Xing yun malah memperlakukannya seperti itu.


Yuisha yang melihatnya, hanya menghela napas pelan. Ia pun kembali memperhatikan barisan para pria. Dan barisan ini lebih kacau dari barisan perempuan.


"Lebih baik kalian berbaris dengan rapi, agar pembagiannya teratur." Ketika ia berbicara, angin pun berhembus. Cincin hitam juga bangkit dan bersinar, membuat mereka ketakutan. Dengan cepat, mereka langsung berdiri tegap dan akhirnya berbaris dengan rapi.


"Hoaaam.. Kenapa suasana jadi tegang begini." Si remaja perokok yang tengah duduk santai, kini menguap dengan bosan. Ia menatap barisan Xing yun dan Yuisha disana. Cincin mereka jujur membuatnya cukup ngeri. Ketika ia melihat mereka yang begitu mudah, sekitar umur 19 atau 20 tahun. Hal itu membuatnya kaget, bagaimana bisa ada orang mengerikan dikerajaan ini. Yah, itu wajar karena tetuanya berada ditingkat Kaisar.


"Lumayan, setidaknya ada pengheboh seperti mereka." Ia pun menatap lawan mainnya didepan. Saat ini, ketika semua tengah berbaris. Mereka hanya bermain catur dengan tenang, duduk bersantai diatas tanah.


"Um... Jung Kyun. Apa ini tidak apa apa?" Tanya remaja lugu didepannya.


Melihat temannya yang khawatir, remaja yang dipanggil Jung kyun tersebut hanya meletakan kedua tangan dibelakang kepala.


"Tenang saja, mereka tidak akan menyadari kita. Yang harus kau perhatikan sekarang adalah langkahmu. Kapan kau akan bertindak, rajamu sedang dalam bahaya tuh." Berkata anak itu lagi. Namun ia hanya melihat temannya yang ketakutan setengah mati.


"Ada apa denganmu?" Tanyanya dengan bingung. Temannya itu hanya menunjuk kebelakang, mengisyaratkan ada sesuatu dibelakangnya. Namun Jung kyun hanya mengabaikan hal itu.


"Im yeong. Dalam permainan catur, hal yang perlu diperhatikan adalah ketenangan dan kejujuran. Kau sengaja membuatku berbalik kebelakang, agar kau dapat berbuat curang. Ayolah, aku tidak akan termakan tipuanmu itu." Jung kyun hanya melipat tangannya didada. Berbicara seolah olah ia sangat bijak. Namun ekspresi temannya tetap sama, malah sekarang lebih parah.


"Bu-bukan itu, dibelakangmu."


"Huuuh....?" Melihat temannya yang kelihatan serius. Jung kyun pun berbalik kebelakang, dan matanya tiba tiba membesar. Yuisha sudah berada dibelakangnya dari tadi.


'Apa! Sejak kapan, kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya?' Pikirnya penuh keringat. Wajah Yuisha nampak dingin, namun tatapannya membuatnya jadi menegang.


"Kenapa kau diam disitu!" Ekspresi gadis itu berubah, kakinya terangkat dan akhirnya.


"DUAAR!!" Ledakan pun terjadi, asap mengepul di kumpulan para murid pria.


Xing yun yang melihat itu jadi kaget, ia kemudian berbalik kearah Yuisha. Ternyata gadis itu tidak disana.


'Dimana dia?' Pikirnya dengan alis berkerut, namun tidak lama kemudian ia melihatnya membawa seorang remaja pria berambut hitam yang sudah pingsan ditangannya.


"Dia benar benar menakutkan." Gumam Xing yun dengan ngeri melihatnya. Ia pun kembali membagikan seragam kepada para murid yang tersisa.


...........


"Ukh... Kepalaku sakit. Wanita tadi benar benar mengerikan." Jung kyun terbangun dan memegang kepalanya yang sakit. Sekarang ia telah berada dihalaman akademi. Duduk disamping dinding sambil meratapi kesialannya. Semua orang yang telah menerima seragam, diwajibkan untuk menuju ruang pengganti. Mengganti pakaian mereka dan memakai seragam akademi. Pagi ini mereka akan langsung memasuki pelajaran yang sebenarnya.


Ia pun berdiri, membersihkan debu yang menempel dipakaiannya. Kemudian berjalan keruang ganti. Namun sebelum itu, ia berhenti. Melihat kumpulan remaja seumurannya yang bersembunyi dihalaman belakang. Sekitar delapan orang, mereka tidak memakai seragam apapun. Malah melakukan sebaliknya.


"Apa yang mereka lakukan?" Gumamnya dengan alis berkerut. Kedelapan remaja itu pun berdiri dan kemudian pergi dari tempat mereka. Menuju kelahaman belakang yang lebih jauh.


Jung kyun mengikuti mereka diam diam, dan betapa kagetnya dia. Tempat mereka tuju, rupanya dipenuhi lebih banyak remaja nakal. Ia pun berhenti, bersembunyi dibalik dinding. Diam diam mengintip dari sana.


Banyak sekali, mereka berkumpul dan sedang menonton sesuatu. Yah, mereka tengah menonton beberapa teman teman mereka yang tengah memukul satu orang remaja lemah. Tidak ada rasa kasihan, bahkan mereka terlihat begitu menikmati.


"Bukh bukh bukh bukh" Remaja yang mereka siksa diinjak injak tanpa henti. Biarpun remaja itu kelihatan tidak berdaya lagi, mereka tetap tidak berhenti menginjaknya.


"Hahaha... Lihalah tampangnya ini. Menyedihkan sekali, dia kelihatan sok kuat ketika memakai seragamnya, kan?" Salah seorang dari mereka mengangkat remaja itu. Memegang kerahnya, dan menggantungnya diatas. Semua orang melihat itu, namun mereka hanya tertawa melihat tubuh remaja itu yang sudah lemas. Darah keluar dimulutnya, dan masih banyak luka lain disekujur tubuhnya.


'Mereka kejam sekali.' Batin Jung kyun dengan iba, cincin birunya pun bangkit. Ia merapatkan kedua kedua tangannya. Seketika bayangan bangunan jadi merambat menuju mereka. Ia hendak menghentikan mereka dengan bayangannya itu. Namun ia tiba tiba terhenti ketika melihat seorang anak kecil laki laki yang mendatangi kumpulan remaja nakal tersebut.


"Huh!" Tentu hal itu mengejutkan semua orang, bahkan jika itu Jung kyun sendiri.


'Apa akademi ini juga merekrut bocah kecil?' Batin Jung kyun dengan heran, ia pun kembali memperhatikan bocah sepuluh tahun disana. Anak itu tetap tenang, matanya dingin, tidak ada jejak ketakutan diwajahnya. Memegang gagang pedangnya disamping. Namun yang paling penting lagi, seragam anak itu mempunyai lambang merah.


'Apa itu?' Jung kyun bertanya tanya mengapa lambang baju bocah itu berbeda dengan baju yang mereka miliki. Seragam yang dimilikinya mempunyai lambang hijau, sementara baju yang dimiliki oleh Xing yun dan Yuisha berwarna biru. Lalu anak itu, kenapa mempunyai lambang merah?


"Apa yang kalian lakukan?" Berkata Yu zheng dengan dingin, tatapannya mengarah pada remaja yang mereka siksa. Napas remaja itu lemah, membuat mata Yu zheng agak membesar.


"Lepaskan kakak itu." Berkata Yu zheng, hendak menarik pedangnya.


"Huh." Pria yang mengekang remaja itu jadi tertarik melihat sikap Yu zheng yang berani. Ia pun melepaskan remaja ditangannya, berjalan menuju Yu zheng.


"Heeeeh... Lihatlah bocah ini, begitu berani. Dia datang dan main suruh begitu saja." Pria itu menyentuh lambang merah tersebut. Menariknya dengan kasar, hendak mencabut lambang itu. Namun ia kaget, anak itu mampu menahan tangannya.


Dari apa yang bocah itu lakukan, ia tak gentar sedikit pun. Malah ingin lebih memprovokasi anak ini, karena ada banyak sekali teman temannya dibelakang.


"Teman teman, cobah lihat. Baju anak ini berbeda dengan baju yang diberikan pada kita." Setelah perkataanya, Semua orang jadi melihat kearah Yu zheng, mengamati pakaiannya. Namun tidak lama kemudian, mereka langsung tertawa lucu.


"Bhuahahaha.... Memangnya apa bedanya. Mau seragamnya beda atau tidak. Tidak ada masalah untukku. Toh, lagian aku juga tak mau memakai baju ini." Salah satu temannya dibelakang, melempar seragamnya ketanah. Sementara pria didepan Yu zheng yang melihat itu, juga sengaja menjatuhan seragamnya. Lalu dengan sengaja pula, ia menginjak seragam itu.


"Ups, aku tidak sengaja. Kakiku bergerak sendiri." Berkata dirinya sambil membuat lelucon. Sementara teman temannya dibelakang berusaha menahan tawa. Menertawai lelucon pria itu.


Wajah Yu zheng gelap melihat tindakan tersebut, tangannya bergetar karena marah. Ingin sekali ia menarik pedangnya lalu memotong kaki orang ini. Jung kyun yang melihat itu, tidak tau harus bagaiamana. Ia tetap bersembunyi, ingin melawan tapi mereka terlalu banyak. Dan juga, butuh waktu untuk menyusun strategi.


"Bocah, katakan pada kami. Apa kau juga murid disini?" Tanya pria itu sambil mencubit dagu Yu zheng.


"Ya. Aku murid inti." Yu zheng menjawab dengan tenang. Perkataannya membuat mereka tertegun sekali lagi. Namun tak lama kemudian, mereka kembali tertawa.


"Hahahaha.... Bocah ini terlalu hebat membuat lelucon. Aku mengakuinya. Hahaha..." Pria didepan Yu zheng tertawa terbahak bahak sampai puas. Setelah lelah tertawa ia masih tidak melihat rasa takut dari bocah ini, akhirnya tatapannya mengarah pada pedang yang dipegang Yu zheng.


"Wah wah wah. Lihat lihat, anak ini punya pedang loh. Coba kita lihat, sebagus apa pedangnya." Senyum pria itu hendak meraih pedang disamping pinggang Yu zheng. Namun ia tiba tiba bingung saat menyadari mengapa anak kecil didepan semakin pendek.


Ia tidak menyadari, tapi semua yang disekitarnya melihat itu jadi membeku. Wajah pria itu terpotong dan sedang melayang diudara.


"Apa ini?" Mereka bertanya tanya apa yang baru saja terjadi. Namun satu hal yang mereka tahu, anak itu menunjukan perlawanan pada mereka.


"Anak ini tidak punya tatakrama yah. Serang dia!!" Teriak mereka dengan keras, kebanyakan cincin Kuning dan biru jadi bangkit ditangan mereka. Menyerbu Yu zheng dengan ganas.


"Sraat sreet sraat" Dengan secepat kilat, tanpa dilihat siapa pun. Yu zheng yang ada didepan mereka, tiba tiba berada dibelakang mereka semua.


Mata Jung kyun yang melihat itu langsung terbelalak, tubuh mereka terpotong potong menjadi beberapa bagian. Ada yang hilang kepalanya, kedua tangannya, badannya terpotong bahkan hingga kaki mereka. Semua terpotong dan melayang layang diudara.


Anehnya, tidak darah yang mengalir. Bahkan musuh sendiri tidak merasakan kalau tubuh mereka tertebas. Mereka hanya kaget, kenapa anggota tubuh mereka bisa terpisah begitu saja.


"Apa ini! Apa yang terjadi!!" Semuanya kaget, untuk beberapa saat mereka tidak percaya apa yang baru saja terjadi.


"Hei, bocah! Cepat kembalikan tubuhku!" Teriak mereka dengan panik. Tapi Yu zheng hanya menatap mereka dengan dingin.


"Tidak ada jalan untuk kalian kembali. Sampah seperti kalian, harus butuh yang namanya didikan dulu, baru kalian mengerti." Tangan Yu zheng yang terbuka, jadi terkepal. Mata anak itu menyala, karena skillnya telah ia keluarkan.


"Skill kedua, Amputate!."


Tubuh mereka yang melayang, kini bersatu kembali dengan acak. Ada anggota tubuh mereka kembali namun tidak pada tempat yang seharusnya. Kadang tangan berada dikaki, lalu kaki berada di dileher. Atau yang lebih para lagi, terkadang kaki mereka menempel ditubuh temannya. Dan temannya tersebut tidak bisa memgendalikan tubuhnya sendiri. Karena anggota tubuh itu hanya bisa digerakan oleh pemilik aslinya.


"Apa! Bagaimana ini bisa terjadi. Aaaahh!!" Mereka berteriak ketakutan. Tubuh mereka bergerak tidak karuan, kali ini ruangan yang Yu zheng ciptakan jadi menghilang. Artinya tebasan Yu zheng tidak terpengaruh lagi. Lebih tepatnya, tebasan ini akan mengeluarkan darah.


"Se-senior, to-tolong ampuni kami. Kami takkan mengulanginya lagi." Mereka bahkan menangis, berlutut didepannya. Hal itu membuat Yu zheng berhenti, namun orang orang yang ia kalahkan hanyalah sedikit dari kumpulan sebenarnya.


Sisanya masih mengepung Yu zheng dari segala arah. Melihat teman mereka yang jadi seperti itu, membuat mereka semakin marah saja. Ternyata diantara mereka semua, ada satu bos yang menguasai mereka. Bosnya keluar dari gerombolan tersebut, dan menunjukan diri didepan Yu zheng.


"Hm... kekuatanmu benar benar aneh. Tapi, mari kita lihat, sejauh mana kekuatanmu bertahan." Pria itu tersentum tipis, dan secepat kilat tiba tiba muncul didepan Yu zheng.


"Ro-room!" Mata Yu zheng membesar, pria itu benar benar cepat, sampai sampai ia tidak bisa melihat gerakannya.


"BUKH" Belum sempat Yu zheng mengaktifkan ruangannya lagi. Tinju pria itu sudah mencapai wajahnya. Dan akhirnya Yu zheng terpental hingga kedinding.


Pria itu kemudian berjalan pelan kearah Yu zheng yang sudah melemas. Dan dengan angkuhnya, ia memegang leher anak itu dan mengangkatnya keatas.


"Heeeh, bocah ini rupanya tidak sekuat yang aku kira. Satu serangan saja sudah membuatnya tak berdaya." Senyum pria itu dengan sombong. Namun tiba tiba ia tertegun melihat Yu zheng yang juga tersenyum tipis. Ia ingin melepaskan tangannya, namun Yu zheng sudah memegang tangannya duluan.


"Skill ketiga, Elekctrik Shok!" Ucapnya dengan pelan.


"Zzzttt"


"AAAAAAKKHH.....!!" Pria itu langsung berteriak kesakitan ketika rambatan listrik menyambar tangannya. Dengan cepat ia pun mundur, dengan tangannya yang sudah hangus berasap.


"Thehehe... Kau itu lebih bodoh daripada yang kupikirkan yah." Tertawa Yu zheng dengan pelan. Pedangnya kemudian dilapisi cahaya kuning. Lalu tanpa ragu menyerang pria itu.


"Huh!" Dengan cepat pria itu langsung mengalirkan energinya keluar. Melindungi permukaan tubuhnya.


"Ptank ptank ptank" Ia mengeluarkan besi persembunyiannya untuk menangkis permainan pedang anak itu.


'Sial, anak ini cukup cepat juga dalam hal menyerang.' Cincin birunya bangkit lalu bersinar.


"Skill kedua, Ilusi berlapis!!" Ia pun bergerak dengan cepat, sakingnya cepatnya tubuhnya bahkan seolah olah mempunyai klon.


"Tch." Senyum Yu zheng. Cincin birunya juga bersinar.


"Skill pertama, Room!!" Semua pergerakan pria itu jadi terlihat jelas.


"Ptank ptank ptank" Dengan adanya ruangan buatannya, Yu zheng mampu menangkis semua serangan pria itu. Meskipun gerakannya sangat cepat.


Yang lain juga mulai menyerang, tanpa ragu memasuki ruangan buatannya. Namun selangkah setelah mereka memasuki ruangan tersebut, tubuh mereka langsung terpotong potong menjadi beberapa bagian.


'Apa! Bagaimana bisa yang lain tertebas sementara pria itu tidak apa apa.' Batin Jung kyun dengan alis berkerut. Sejauh dari apa yang ia amati, ia menangkap beberapa hal yang penting. Pertama, orang yang memasuki ruangan tersebut akan tertebas baik itu tersentuh pedang atau tidak. Asalkan tinggal menebas saja, meskipun jauh dari lawan, tapi lawan tetap akan tertebas. Kedua, orang yang melapisi tubuhnya dengan aliran energi tidak akan terpengaruh oleh tebasan tanpa darah tersebut. Namun bukan berarti tubuhnya kebal dari pedang. Artinya, pedang Yu zheng akan tetap bisa melukai melukai musuh, meskipun skillnya tidak berpengaruh padanya.


'Jadi begitu yah, pantas saja ia selalu menangkis setiap pedang anak itu.' Pikirnya sambil mengangguk mengerti.


Tiba tiba ia mendengar suara langkah kaki dibelakangnya.


"Kakak sedang apa disitu?" Sapa seorang gadis manis dibelakangnya. Ketika Jung kyun berbalik, tatapannya tampak meremehkan gadis itu. Namun ketika melihat lambang merah diseragamnya, ia tiba tiba tertegun.


'Murid inti lainnya?' Batinnya penuh keringat. Tidak mungkin gadis semanis ini juga orang hebat seperti bocah yang tengah bertarung disana. Ketika menatap mata gadis itu, tiba tiba gelombang pusing luar biasa langsung menghantam kepalanya.


'Apa, apa yang terjadi padaku?' Jung kyun memegang kepalanya yang kesakitan. Sampai akhirnya ia tidak berdaya dan jatuh ketanah. Tatapannya masih mengarah kearah gadis itu yang masih tetap tersenyum padanya.


'Tidak mungkin, apa yang terjadi. Aku... tumbang hanya karena tatapan seorang gadis kecil.' Batin Jung kyun tak terima, bagaimana pun juga ia tak bisa bergerak. Sampai akhirnya ia pingsan ditempat.


She lin yang berhasil menangani pria itu, kemudian menuju pertarungan. Tatapan dingin begitu menusuk, penasaran dengan apa yang terjadi disana. Membuatnya ingin tahu apa yang dilakukan Yu zheng saat ini.


Ketika melihat gelembung ruangan milik Yu zheng, ia tahu kalau anak itu sedang menemui beberapa masalah. Baru ketika melihat medan pertarungannya, matanya membesar. Pertarungan liar terjadi dilingkungan akademi, bukan diarena. Melihat itu, cincin putih pun bangkit dan berputar belakang kepalanya. Ini sudah melanggar aturan.


Orang orang yang melihat itu, tentu tidak mengerti dengan cincin putih yang terdapat dibelakang kepalanya. Namun ketika mereka menatap mata gadis itu, cincin putih itu bersinar. Gelombang pusing luar biasa langsung mereka rasakan. Sebagian mereka yang tak mampu menahan itu jadi pingsan. Yang bertahan, hanya bisa memuntahkan seluruh isi perut mereka karena gelomang pusing yang begitu mengerikan ini.


"Ukh..." Pria yang melawan Yu zheng jadi mundur, karena kepalanya yang sakit.


'Apa yang terjadi sebenarnya?' Batinnya penuh keringat. Saat tersadar, ternyata seorang anak yang tubuhnya dilapisi api disekujur tubuhnya sudah menerjang dari atas. Kaki anak itu terangkat, dan langsung menghantamnya.


"BOOM" Ledakan pun terjadi, semua orang yang mendengar itu jadi menuju ketempat tersebut. Ledakan itu telah menarik perhatian mereka.


"Bi dai, berapa kali kubilang. Kalau aku sedang bertarung jangan ganggu aku." Berkata Yu zheng dengan kesal, menatap anak yang berapi api didepannya.


"Yu zheng, para berandalan akut ini. Aku sudah menanganinya juga disana. Ternyata ada disini juga rupanya. Lalu kau malah terlihat kesusahan melawan mereka." Ejek Bi dai. Namun tatapannya kembali serius saat pria yang ia serang tadi ternyata menghindar. Dan kali ini tengah berdiri didepannya dengan wajah marah dan kesal.


"Bocah cilik bajingan! Kalian benar benar membuatku kesal!! Haaaaaaakhh..." Teriaknya dengan keras, tubunya pun dilapisi cahaya. Menambah kekuatan.


Bi dai yang melihat itu, api ditubuhnya langsung membara kembali. Meskipun saat ini ia belum sepenuhnya memasuki teknik pembantai gerbang pertama, namun setengah saja sudah bisa menangani pria ini.


"Siung."


"Siung."


Keduanya jadi melesat dengan cepat.


"Bum bum bum bum bum bum bum" Kedua siulet tersebut berbentrokan satu sama lain dengan kecepatan yang mengerikan.


"Bum bum bum bum" Pria itu terus berusaha menyerang Bi dai, namun gerakan anak itu terlalu cepat hingga kecepatannya sendiri tak bisa melampauinya.


'Sial sial sial, kenapa ini bisa terjadi.' Teriak pria itu dalam hati. Ia hendak meninju anak itu, namun sekali lagi, Bi dai tiba tiba menghilang.


"Siung" Saat berikutnya anak itu muncul dibelakangnya. Langsung menendang tulang rusuk pria itu.


"Bhuak" Bukan hanya cepat, tapi serangannya sangat kuat. Pria itu langsung kehilangan kesadarannya, ketika menerima tendangan Yu zheng.


"Boom" Ia pun terpental kedinding hingga dindingnya retak, sekarang pria itu tidak sadarkan diri lagi.


Dengan ini pertarungannya selesai. Semuanya sudah dituntaskan, baik bos ataupun anak buahnya, semuanya rata. Murid murid yang menonton itu jadi ngeri melihat tiga bocah cilik menghabisi mereka semua.


"Apa yang kalian tunggu, cepat bawa mereka keruang perawatan." Berkata She lin dengan serius, menatap tajam pada mereka. Seketika, orang orang yang mendengar itu jadi ketakutan bukan main. Mereka langsung mematuhi perintahnya. Para remaja berandalan itu langsung dikirim ke tempat tabib.


"Ayo, kita awasi ketempat lain." Setelah itu, Yu zheng, She lin dan Bi dai meninggalkan tempat tersebut. Mengawasi murid murid yang lainnya.