
Duan tianlang membawa Qin Yan diam diam dari tempat tersebut. Untungnya, mereka tak ketahuan, dan berhasil meloloskan diri. Namun mereka tak sadar, ada orang yang diam diam membututi mereka. Tepat ketika Duan tianlang menghampiri Qin Yan, orang itu diam diam mengintip dan sempat melihat wajah Qin Yan. Tapi ketika mereka berdua pergi, ia tidak mengikuti mereka.
Qin Yan dibawa sampai ke praviliun, khusus ruang milik Duan tianlang. Ruang pribadi yang hanya beberapa orang saja bisa masuk. Selain murid, kakek tua itu tidak mengijinkan siapapun memasuki ruangan ini. Karena ini adalah ruangan dimana Duan tianlang menyimpan semua rahasianya.
Ketika Qin Yan masuk, dia mendapati banyak sekali kertas kertas kondolisasi bertebaran diatas meja. Dengan segala desain senjata yang berbeda beda, Qin Yan mulai melihat lihat. ada beberapa rak buku di dekat dinding. Lalu tumpukan kertas kondolisasi yang belum dicetak. Serta banyak sekali kuas kuas yang masih tersimpan didalam gelas tinta.
Dari semua pemandangan yang ia lihat, ada satu yang menarik perhatiannya. Yaitu sebuah kertas yang lumayan lebar, berbeda dengan kertas lain. Kertas ini sepertinya khusus untuk mendesain proyek yang besar. Dan ketika Qin Yan melihatnya, alisnya berkerut sembari menyentuh cetakan desain yang belum sempurna tersebut.
"Kau tau apa itu?" Tanya Duan tianlang dibelakang. Ia tadi mengambil sebuah teko teh, dan dua gelas untuk dinikmati bersama. Siapa yang menyangka Qin Yan akan tertarik ketika melihat hasil mahakaryanya.
"Ya. Ini terlihat seperti alat tranportasi di atas air." Jawab Qin Yan, rancangan kondolisasi dikertas itu mirip sebuah kapal. Hanya saja, hanya bagian kerangka luarnya saja yang berhasil dibuat. Itu pun belum sempurna, bahkan bentuk asli dari kapalnya saja hanya setengah.
"Matamu cukup jeli rupanya, itu memang alat tranportasi lautan. Aku menelitinya dan berusaha menciptakannya selama bertahun tahun. Namun hasilnya, aku bahkan belum bisa menggambarkan bentuk aslinya."
Mendengar itu, Qin Yan merenung sesaat. Kapal ini belum sempurna, tapi ia bisa menyempurnakannya dengan mudah. Karena memang, dikehidupan yang sebelumnya ia sudah banyak melihat alat seperti ini. Bahkan ia sudah mengerti dengan semua rancangan dan komponen kapal tersebut.
Hanya saja, Qin Yan heran. Mengapa kapal ini diciptakan. Memangnya apa yang mereka inginkan. Setahunya, dibenua ini tidak ada benua lain. Hanya daratan yang lebar hingga disebut daratan tanpa batas.
Qin Yan pun berbalik dan secara hati hati bertanya.
"Memangnya kenapa anda mau menciptakan kapal ini?"
"Kapal? Kau benar benar pandai memberi nama pada benda bocah. Yah, puluhan tahun lalu. Kami menemukan sebuah pulau yang jauh dari benua ini. Saking jauhnya, bahkan tahap Semigod dan Demigod tidak bisa melewatinya jika hanya menggunakan kekuatan saja. Kami membutuhkan alat tranportasi. Dan itu adalah Artefak ulak alik peninggalan jaman kuno. Artefak itu berhasil dipakai oleh Zhou Weiqing dan istrinya Sangguan Bing er. Mereka menemukan sebuah pulau dimana mempunyai penghuni. Bahkan mereka sempat tinggal disana selama setahun. Katanya disana ditinggali cukup banyak ahli ahli setingkat Semigod. Meskipun pulaunya kecil, tapi sumber daya mereka jauh lebih banyak dari sumber daya kita dibenua ini."
"Untungnya Zhou weiqing berhasil menjalin hubungan disana. Bahkan mempunyai satu istri."
Qin Yan langsung terkejut mendengarnya.
"Apa! Satu istri?"
"Ya. Katanya ia mempunyai seorang putra bernama Zhou Fengzen. Karena kerja keras Weiqing, kami akhirnya berhasil bekerja sama dengan mereka. Namun, karena tidak ada alat tranportasi. Kami masih tidak bisa saling bertemu atau melakukan komunikasi tatap muka. Oleh karena itu, kami mulai berusaha mencari solusi dari permasalahan ini. Dan akhirnya kami berencana membuat alat tranportasi agar menjadi penghubung. Namun, nyatanya sampai sekarang kami masih belum bisa menciptakan benda tersebut."
"Agak sulit memikirkannya, mulai dari rangka, cetakan, bahan dan bahkan perkiraan kekuatan yang dipakai. Sulit sekali untuk membayangkan semuanya. Hingga saat ini, aku masih ragu. Apakah aku akan berhasil menciptakan penciptaan baru sebelum aku tiada atau tidak."
Qin Yan terdiam ketika mendengar penjelasannya. Ternyata dunia ini akan memasuki era baru rupanya. Tapi entah kenapa hal ini memberi sebuah ide dikepalanya. Jika ia berhasil memenangkan pak tua itu. Maka dia bisa saja menjadikan pak tua itu sebagai rekannya.
Memikirkan itu membuat Qin Yan tersenyum tipis. Sebuah ide licik terlintas dikepalanya. Ia langsung mengambil kuas diatas meja, mencelupkannya didalam tinta.
Tinta dan kuasnya pun bukan seperti tinta khusus untuk mendesain senjata kondolisasi. Karena rancangan kapal ini begitu besar, Qin Yan hanya perlu menggambarkan garis besarnya saja sebagai pencerahan. Ia juga mengambil kertas biasa, cukup besar untuk tampungan gambaran kapal. Setelah itu, ia mulai menggambar.
"Sreeek... Sraaak...." Sementara saat ini Qin Yan sibuk menggambar, Duan tianlang meresap tehnya dengan penuh ketenangan di kursi goyangnya. Hanya saja, kesibukan Qin Yan tidak akan lepas dari kepekaan indra kakek itu.
Dengan penuh rasa ingin tahu, kakek itu berbalik melihat Qin Yan yang sibuk menggambar.
"Hei, bocah. Apa yang mau kau lakukan? Mari duduklah dulu. Tenangkan pikiranmu dengan teh buatanku. Aku ingin berdiskusi tentang senjata buatanmu tadi." Panggil kakek tua itu, tetapi ia kembali bingung kenapa Qin Yan tidak meresponnya. Namun, seketika matanya membesar. Jangan jangan anak itu menjahili gambar kapal buatannya.
"Hei nak, apa yang mau kau lakukan?" Ia langsung berdiri, hendak mendekati Qin Yan. Namun disaat yang sama, Qin Yan juga berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa yang kau buat?" Tanya kakek itu dengan curiga. Ia melirik kertas yang digambar Qin yan, tapi seketika Qin yan langsung menggulungnya hingga ia tak melihat apa isi kertas itu.
"Yah, tidak ada yang istimewa. Aku hanya menggambar benda yang sama dengan penelitianmu." Jawab Qin Yan santai.
"Apa! Jangan bilang kau meniru desain yang kuciptakan. Berikan, berikan kertas buatanmu itu, aku mau melihatnya." Tanpa menunggu respon Qin Yan, kakek tua itu merampas kertas ditangan Qin Yan. Membukanya dengan cepat, dan melihat isinya.
Tapi tidak lama kemudian kakek tua itu membeku. Matanya yang tadi memeriksa, kini mulai mempelajari. Beberapa menit kemudian, tangannya gemetar dengan tak percaya.
"I-ini....!! Bag-bagaimana bisa?" Duan tianlang menatap Qin Yan dengan rasa ingin tahu. Namun sebelum ia menyadari, Qin Yan kembali merampas kertas itu.
"Pak tua, kau tidak sabar sekali. Bagaimana menurutmu? Bukankah kapal buatanku ini tidak buruk?"
Kakek itu masih terpaku mendengar perkataan Qin Yan. Ia malah balik bertanya.
"Darimana kau mengetahui itu?"
Bukannya membeli penilaian, kakek itu malah bertanya balik. Ini membuat Qin Yan bingung. Sesaat, ia menggaruk pipinya mencari alasan.
"Yah, ketika aku melihat gambar buatanmu. Sepertinya aku sedikit mempunyai ide?"
"Benarkah?"
"Terserah kau percaya atau tidak." Qin Yan berbalik emosi, ia kembali menggulung kertas itu. Dan hendak memasukannya kedalam cincin penyimpanannya.
"Tu-tunggu!" Tapi kakek itu dengan cepat menghentikan Qin Yan agar dia tidak memasukannya.
"Ada apa?" Qin Yan bertanya polos, tapi dalam hati tersenyum penuh kemenangan.
"Aku ingin memeriksanya sekali lagi." Jawab kakek itu dengan pelan.
"Apa!! Kau pikir kau sedang membodohi anak kecil? Kau ingin menyalinnya kan?"
Kakek itu seketika terdiam, wajahnya gelap. Sepertinya Qin Yan membuatnya kehabisan kesabaran. Walaupun bocah didepannya ini adalah seorang jenius tak terduga. Namun, dimata kakek itu Qin Yan hanyalah seorang bocah. Sekali bocah, tetaplah bocah.
Cincin emasnya pun bangkit. Ia berada ditingkat Kaisar. Tangannya terarah ke pintu dan menguncinya erat erat. Tatapannya kearah Qin Yan begitu tajam, dan penuh tekanan. Sebenarnya ia tak mau melakukan hal memalukan ini. Ia tidak mempunyai permusuhan apapun kepada Qin Yan. Atau sikap keserakahan, tapi anak ini telah menunjukan padanya sesuatu yang sangat luar biasa. Sesuatu yang sudah ia usahakan selama ini. Andai Qin Yan memberinya kertas itu lagi, ia tidak akan berbuat seperti ini. Palingan, setelah mempelajari gambar itu dengan serius, ia akan mengembalikannya pada Qin Yan.
Alih alih ketakutan, Qin yan malah duduk dengan santai dikursi. menyandarkan pipi ditangan, duduk dengan mengangkat satu kaki dan bersandar meja. Lalu menatap kakek itu dengan tenang.
Tentu hal itu langsung membuat kakek itu terkejut.
'Ini bukan ilusi kan? Anak ini tidak takut?' Dorongan hati kakek itu mengatakan kalau anak ini bukan anak biasa. Ia pun bertanya dengan serius.
"Siapa sebenarnya kau anak muda?"
Qin Yan tersenyum tipis, mata merahnya aktif. Dan menatap kakek itu dengan sinis.
"Namaku? Oh Iya yah. Aku belum memperkenalkan diri dengan lengkap." Qin Yan kemudian berdiri, membungkuk dengan sopan.
"Namaku Qin Yan, dari kerajaan Sunmoon."
'Apa!!' Seketika ekspresi Duan tianlang langsung berubah. Setetes keringat menetes dipipinya. Wajah keangkuhan lenyap begitu saja, digantikan sikap hormat dan menghargai.
Cincin emasnya kembali, dan ia terbatuk sejenak sejenak karena tingkahnya.
"Pantas saja. Maafkan aku atas ketidak sopananku tadi. Seharusnya aku tidak melakukan itu, mari duduk dulu." Ucap kakek itu dengan sopan sembari mempersilahkan Qin Yan duduk. Ia juga menuangkan teh untuk Qin Yan, memperlakukannya layaknya tamu.
"Aku sudah banyak mendengar tentangmu. Aku tak percaya, hari ini aku akan bertemu dengan orangnya langsung. Dan juga, aku tak menyangka. Kau ternyata juga seorang master kondolisasi jenius."
Qin Yan hanya meminum tehnya dengan tenang. Pujian pujian itu hanya lewat ditelinganya saja. Entah apa yang direncakan kakek tua ini. Tapi, ia juga tak ingin membuang buang waktu dengannya.
"Baiklah master Duan. Anda bilang ingin mengambil kertas ini. Sebenarnya aku bisa memberikan ini padamu. Tapi, tentunya kau tau ini tidaklah gratis." Qin Yan mencondongkan kepalanya ke depan.
"Yah, aku mengerti." Kakek itu mengangguk pelan. "Jadi, apa keinginan mu?"
Melihat ketenangan kakek tua itu. Qin Yan hanya tersenyum tipis, ia kembali bersikap tenang dan meresap tehnya.
"Baiklah, aku hanya ingin kau bergabung dengan kami."
"Apa!!" Mata Duan tianlang langsung terbelalak, bahkan teh ditangannya hampir jatuh. Ia memandang wajah Qin Yan yang santai. Rasanya seperti tersinggung. Wajah kakek itu menggelap seketika.
"Apa kau sadar siapa yang kau ajak bicara?" Ucap kakek itu dengan dingin.
"Tentu aku menyadari itu. Tapi, bukankah kau menginginkan gambar ini?"
"Aku memang mau, tapi tidak begini caranya. Aku bisa memberimu apapun yang kau inginkan untuk ditukarkan dengan kertas itu. Seperti jual beli. Mari kita anggap ini seperti transaksi adil." Jawab Duan tianlang dengan tegas.
Jawaban itu membuat Qin Yan terdiam sesaat. Ia pun mengangguk mengerti.
"Baiklah, aku mengerti." Ia kemudian memberikan gambar itu padanya. Kemudian berdiri, menyudahi percakapan ini.
Duan tianlang sendiri sampai mengerutkan kening melihatnya begitu tenang memberikan kertas itu. Sampai sampai membuatnya cukup curiga.
"Kau memberiku ini secara cuma cuma?" Tanyanya dengan bingung.
"Yah, aku tidak menginginkan uang atau apapun itu. Toh aku juga tidak kekurangan. Maksudku memperkerjakan mu disini bukan seperti yang kau pikirkan. Aku sama sekali tidak merendahkanmu. Tapi aku hanya mencari master yang bisa mengajarkan pembuatan kondolisasi di kerajaan kami. Dan juga, mungkin cara bicaraku yang salah sampai menyinggungmu. Jadi, mohon maafkan aku. Tapi, ini akan menjadi penawaranku yang terakhir kalinya. Master Duan, bukan, maksudku legenda master kondolisasi. Aku memberimu penawaran untuk bergabung denganku. Dengan itu, kau bisa mempelajari desain dari senjata GhBt Cosmos. Aku juga akan memberitahumu satu hal, gambar kapal itu hanya garis besarnya saja. Masih banyak komponen komponen pembuatannya yang belum kau lihat. Silahkan kau pelajari malam ini, setelah itu kau akan menyadari semua itu. Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya padaku."
Duan tianlang hanya diam menyaksikan kepergian Qin Yan. Sampai anak itu tidak terlihat pun, ia masih saja tetap terdiam. Penawaran Qin Yan, jujur membuatnya sangat tergiur. Senjata GhBt Cosmos, memang ia ingin mempelajarinya dari awal. senjata itu begitu kuat, tapi untuk menjadi bawahannya. Agak....
"Haish...." Memikirkan itu, kakek tersebut hanya menghela napas. Ia mempunyai harga diri tinggi. Tapi anak itu telah menurunkan harga dirinya dengan kejeniusan yang luar biasa. Sepertinya pengetahuannya tidak setinggi langit seperti yang ia pikirkan selama ini. Masih ada beberapa kekurangan dalam dirinya yang masih butuh pencerahan.
Anak itu... Dibanding marah, Duan tianlang jauh lebih tertarik. Biasanya anak jenius seperti itu akan ia jadikan muridnya. Tapi kali ini, ia justru yang mendapatkan pelajaran. Semakin ia memikirkan hal tersebut, semakin membuatnya penasaran. Anak seperti apa Qin Yan itu sebenarnya. Namun, yang jauh ia pikirkan saat ini yaitu betapa tidak masuk akalnya anak semuda itu bisa mempunyai pengetahuan yang luar biasa.
"Anak yang aneh." Ucapnya sambil menggelengkan kepala. Ia hendak berdiri, namun tiba tiba ada yang mengetuk pintu.
"Senior, ini aku." Terdengar suara dibalik pintu.
"Masuk."
Ketika mendengar ijinnya, orang itu langsung membuka pintu. Dia adalah salah satu tetua pengawas kompetisi tadi sore.
"Bagaimana kompetisinya?" Tanya Duan tianlang dengan tenang.
"Kompetisinya telah kami tangani. Mengenai itu, bagaimana dengan peserta bertopeng. Apa setidaknya kita periksa saja latar belakang anak itu? Dia tampaknya cukup berbakat, mungkin kita bisa merekrutnya." Ucap tetua itu dengan pelan.
Tapi Duan tianlang hanya menggelengkan kepala.
"Tidak perlu, segera kau beritahukan ini pada tetua lainnya. Bagaimana pun, peserta bertopeng adalah juara pertama dalam kompetisi ini. Tapi, sepertinya kita rahasiakan saja dari peserta lain. Buatlah kompetisi selanjutnya begitu tenang seolah olah tidak ada yang terjadi."
Mendengar itu, mata tetua itu langsung membesar.
"Tapi, senior! itu....."
"Dia sudah mendapat pengakuanku." Duan tianlang langsung memotong perkataannya. Setelah itu, tetua tersebut tidak berkata apa apa lagi. Sekali disuruh keluar, ia langsung keluar.
Duan tianlang pun menutup mata sembari menghembuskan napas panjang. Ia bersandar di dikursinya karena tubuhnya mulai letih karena berpikir. Tawaran anak itu masih terngiang ngiang dikepalanya.
Harga dirinya sebagai legenda, bertentangan dengan keinginannya untuk mencari ilmu pengetahuan.