
Beberapa menit pun berlalu.
Disaat ini, para peserta sedang dalam keadaan tidak fokus. Bagaimana tidak, melihat Qin Yan membuang salah satu bahan membuat hati mereka bertanya tanya. Apa yang salah dengan otak anak ini. Mengapa dia membuang bahan yang kelihatan cukup langka, itu sama saja tidak menghargai tetua yang tengah mengawasi mereka.
Sampai akhirnya, karena ketidak fokusan mereka. Mereka gagal mengolah bahan yang ada didalam tungku.
'Sepertinya, perbuatan anak itu membuat masalah serius untuk peserta lain. Harus kuakui, anak itu cukup licik.' Batin presiden asosiasi dengan tenang. Ia pun melirik ke arah peserta yang terbilang cukup berbeda dari peserta biasa.
'Zhou Zue er, Zhou Zun er, Zhou Ling er, Mong yi, Tang Xinglian, Rong Gui. Meskipun perhatian mereka tidak teralihkan, namun....'
Beberapa saat setelah ia bergumam, para jenius yang disebutkan oleh presiden menemui kegagalan mereka. Tungku mereka meledak mengeluarkan asap hitam. Namun, tidak ada diantara mereka yang menyerah. Mereka memulai penyilingan dari awal.
'Tidak ada yang menyadarinya. Tapi anak itu...... Siapa dia sebenarnya?' Sekarang, semua perhatian tetua dan pengawas tertuju pada Qin Yan. Anak itu dengan santai menyuling, meskipun dimata tetua caranya agak tidak masuk akal.
"Apa apaan ini!!!! Chai Li. Apa kau yakin? Dia adalah anak yang menyelesaikan tantangan kemarin dalam waktu sepuluh menit?" Tanya nenek tua dengan urat yang sudah membengkak didahinya.
"Ya, senior. Itu memang dia. Dia menyelesaikan Kompetisi dengan cepat menggunakan teknik yang sama.!" Tetua disampingnya menjawab dengan sedikit takut.
"Apa!! Itu tidak mungkin. Memasukan semua bahan dalam waktu bersamaan adalah cara yang fatal. Sepanjang sejarah, cara tersebut tidak layak dipakai. Itu akan membuat tungku nya meledak seketika?" Nenek tua masih tidak bisa percaya. Ia adalah legenda dalam dunia Alkhemis, tidak pernah ia dengar ada cara memasukan semua bahan dalam waktu bersamaan. Itu terkenal sangat fatal, dan katanya hanya orang goblok yang mau melakukan itu. Namun sekarang, didepan matanya. Seorang bocah memperlihatkan hal yang tidak mungkin.
'Uh....' Nenek itu langsung sakit kepala ketika memikirkannya.
"Guru, tapi.... bukankah katanya cara ceroboh itu bisa meledakan tungku? Tapi, kenapa sampai sekarang tungku nya masih baik baik saja?" Tanya presiden wanita disamping kanannya. Tak bisa dipungkiri, semua tetua juga sangat kebingungan termasuk dia. Oleh karena itu, para tetua langsung memanggil legenda alkhemis untuk mengkonfirmasi hal ini. Namun, siapa yang menyangka bahkan sang legenda saja tidak tahu. Hal ini membuat mereka menyadari. Ternyata, diatas langit masih ada langit. Di atas gunung masih ada gunung yang lebih tinggi. Bahkan seorang legenda saja dikalahkan telak oleh anak kecil yang tidak mereka ketahui latar belakangnya.
Ini merupakan ilmu baru yang mereka dapatkan setelah bertahun tahun mendapat gelar tinggi didunia Alkhemis.
Hanya saja, bagi seorang legenda. Harga diri mereka sangat tinggi. Mereka tidak akan mudah mengaku kalah pada orang lain apalagi saat mereka sadar kalau seorang bocah lebih pintar dari mereka. Oleh karena itu, ia masih membantah perkataan muridnya.
"Ini masih terlalu cepat. Waktunya masih panjang, lihatlah baik baik. Semakin lama waktu penyulingan, semakin kuat tekanan bahan bahan yang ada didalam tungku. Apalagi bahan bahan yang dicampurkan dalam waktu bersamaan, mustahil bagi mereka untuk menyatukannya. Karena itu, bahan bahannya harus dimasukan secara bertahap agar cara menyatukan mereka menjadi lebih muda." Nenek itu menjelaskan panjang lebar, sembari menunjukan betapa luasnya ilmu pengetahuannya dalam dunia penyulingan. Apalagi melihat mereka semua mengangguk, membuatnya semakin percaya diri. Dan menolak cara yang dipakai oleh pria bertopeng, serta beranggapan kalau anak itu telah menggunakan cara yang bodoh. Tentu ia akan membuat anak bertopeng itu kehilangan harga dirinya jika sampai dia gagal.
Untuk sesaat, nenek itu masih terjebak dalam rencana jahatnya sendiri. Sampai akhirnya ia dan semua tetua mencium bau sesuatu yang familiar.
'Bau ini....!!' Batin mereka dengan hidung mengendus.
'Bau pembentukan!!' Setelah menyadari bau itu, mata mereka langsung terbelalak. Mereka mencari dimana sumber bau itu berasal. Dan itu, berasal dari anak bertopeng.
'I-ini....!! Tidak mungkin!! Secepat itu!!!!' Bukan hanya mereka yang terkejut, bahkan para peserta juga tidak habis pikir. Dibandingkan mencapai pembentukan, bahkan mereka belum bisa mengetahui bagaimana cara mengatasi meledaknya tungku mereka.
Sampai akhirnya, ada seseorang yang menyadari kejanggalan itu. Seorang gadis yang berada disamping Qin Yan. Mau dibilang pun, gadis itu tampak familiar dan tentu Qin Yan mengenalnya.
Xu Jiu Jiu yang berasal dari kerajaan Fei Li, mengamati cara kinerja Qin Yan. Menyadari kalau Qin Yan membuang satu bahan, membuat nya curiga. Akhirnya ia pun mengambil langkah baru. Menyuling tanpa menggunakan Jamur lava merah.
Dan akhirnya, hasil yang ia dapatkan cukup mengejutkan. Tungku dan bahan bahan didalamnya tidak mempunyai reaksi apa apa. Seperti biasa, sebagaimana jalannya penyulingan. Dengan keadaan yang tiba tiba berubah tersebut. Gadis itu melanjutkan penyulingannya dengan senyuman percaya diri.
Berubahnya situasi dari peserta disampingnya. Xu mi er yang berada didekat Xu Jiu Jiu mengikuti langkah langkah adiknya. Hal yang sama terjadi pada pria disampingnya, lalu disampingnya, disampingnya dan didekatnya. Sampai akhirnya, seluruh peserta mengetahui rahasia dibalik kompetisi ini.
Para tetua dibuat tercengang seketika, apalagi si nenek tua. Ia rasa seperti mau gila, semuanya bermula dari anak bertopeng itu. Namun, bagaimana pun. Bisa dibilang, seluruh peserta berhasil memecahkan masalah yang ia buat. Bukan sebagai jebakan, tapi sebagai tantangan dalam penyulingan para peserta ini.
"Haish...." Nenek tersebut hanya menghela napas tak berdaya.
"Yah, bagaimana pun. Anak anak ini telah berhasil menyelesaikan tantangan mereka." Gumamnya. Meskipun cukup singkat, tapi ia mendapatkan sesuatu yang baru. Ia harus menyelidiki anak itu bagaimana pun caranya.
"Huh!!" Semua tetua mengangkat wajah mereka. Tungku milik Qin Yan bersinar. Semua peserta berbalik. Qin Yan menarik sebuah pil cerah dari dalam tungku nya.
Qin Yan menghela napas ringan, lalu beranjak dari mejanya. Ia pun menuju ke atas panggung. Dimana para pengawas berada.
Tepat didepan presiden, Qin Yan meletakan pil itu.
Wanita cantik didepannya hanya menatap Qin Yan dengan tatapan tak percaya. Cukup lama ia menatapnya, namun Qin Yan sama sekali tidak membalas tatapannya.
Hanya sepuluh menit, Qin Yan menyelesaikan penyulingannya. Bahkan hal itu membuat nenek tersebut cukup tercengang.
Tapi Qin Yan hanya bersikap biasa, tidak ada satu pun perkataan yang keluar dari mulutnya. Hanya membungkuk hormat. Lalu hendak beranjak pergi.
"Tunggu!!" Namun sang nenek dan presiden asosiasi menghentikannya secara bersamaan.
Menyadari kalau masternya bertindak, wanita itu kembali duduk dengan sedikit gugub. Wajahnya sedikit memerah namun itu hanya berlangsung sesaat. Setelah itu, ia kembali tenang seperti biasa.
"Setelah kompetisi selesai, datanglah ke ruanganku." Ucap nenek itu dengan serius. Qin Yan hanya mengangguk dengan pelan, lalu ia pun pergi meninggalkan area itu.
Tepat dihalaman, Qin Yan duduk di salah satu tempat duduk yang telah disediakan secara khusus oleh pelayan.
Kesuksesan yang Qin Yan alami hari ini, secara otomatis menarik perhatian banyak orang. Bahkan, tidak sedikit para gadis atau para wanita datang mengajaknya bicara. Namun, dibanding dengan Zue er, Zun er, atau gadis yang Qin Yan kenal selama ini. Mereka tidak ada apa apanya. Oleh karena itu, meskipun mereka melakukan berbagai cara agar merasakan sentuhan mesum Qin Yan, tapi hal itu tidak pernah berhasil.
Berbeda dengan Alkhemis lain, biasanya seorang pria, baik tua maupun muda. Mereka akan senantiasa dikelilingi wanita pemuas. Itu karena mereka menggunakan status sebagai cara untuk menarik perhatian wanita yang mereka bayar.
Namun, justru para wanita yang cukup dibuat kesal oleh sikap cuek Qin Yan. Mereka di abaikan habis habisan, sikap Qin Yan yang dingin dan acuh tak acuh. Membuat mereka semakin gatal. Mereka sangat penasaran sosok Qin Yan sebenarnya.
Satu jam berlalu, Qin Yan menunggu dengan diam. Meskipun bosan, namun ia tidak ingin melakukan apapun. Di sisi lain, ia tidak menyadari. Presiden asosiasi diam diam menatapnya dari kejauhan.
Sampai akhirnya, peserta pertama pun keluar. Ia adalah Zhou Zue er, gadis yang nampak acuh tak acuh. Bahkan ketika melihat Qin Yan pun, ia tetap seperti biasanya. Meskipun kali ini, tatapannya agak tajam dan penasaran. Namun, ia senantiasa menjaga sikapnya.
Setelah dirinya, peserta lain mulai keluar. Biasanya, mereka akan mengurutkan kapan mereka keluar dan menduduki posisi untuk membedakan potensi tergantung dengan kecepatan.
Seperti Qin Yan, ia menduduki posisi pertama. Di mata mereka, Qin Yan layaknya lawan yang sangat kuat karena menjadi yang tercepat dalam penyulingan ini.
Adapun yang kedua dan yang ketiga atau seterusnya, semua orang akan tetap mengingat nama mereka. Bahkan menyebut mereka sebagai 10 peserta tertinggi. Meskipun tak terhitung secara sah dimata tetua, tapi bagi sesama peserta. Sengaja atau tidak, mereka akan tetap menerapkan hal seperti itu. Itu wajar, karena mereka mempunyai sifat saling bersaing.
'Huft....!! Sial, kenapa aku ada diurutan ketujuh? Kenapa aku selambat ini?' Tang Xinglian keluar dengan wajah yang lesu. Ia melewati sekelompok penggosip, dan mereka tengah membahas tentang peringkat urutan.
"Urutan kedua, Zhou Zun er, lalu Zhou Ling er, Rong gui, Mong yi, Gu Yimbing, Tang Xinglian, Xu Jiu Jiu, Xu mi er dan terakhir, Riu Yen."
"Woaaah..... Tampaknya ada beberapa perubahan posisi dalam kompetisi kali ini." Teriak salah satu penggosip dengan kagum.
"Tentu saja, aku bahkan berada di posisi 15, aku mengalahkan para lawan yang berada diatas ku dikompetisi kemarin."
"Cih, kau hanya beruntung. Berada didekat pria bertopeng."
"Hahaha.... Kau benar, kalau tidak ada dia. Mana mungkin aku berhasil dalam penyulingan ini. Apalagi mendapatkan urutan cukup tinggi." Penggosip tersebut tertawa dengan bangga, namun sementara Tang Xinglian hanya mengepalkan tangannya dengan kesal. Matanya melirik dimana Qin Yan berada.
'Itu dia! Orang yang mengacaukan hidupku. Entah kenapa, aku mulai membenci semua orang yang mempunyai topeng diwajahnya.' Gadis itu kemudian menuju kearah dimana Qin Yan duduk. Sejak kemarin malam, setelah dikalahkan oleh pria bertopeng dipertarungan bawah tanah. Ia mulai depresi dengan keterpurukan yang ia alami. Kedudukan dan posisi yang sudah ia perjuangkan agar mendapatkan penghargaan orang orang kini runtuh seketika karena kalah dari orang itu. Dan sekarang, lagi lagi orang bertopeng mengacaukan impian hidupnya.
Ia mulai muak melihat keberadaan makhluk bertopeng ini.
"Hei kau!" Panggil Tang Xinglian dengan tak sopan, ia berdiri didepan Qin Yan dengan posisi kedua tangan diatas pinggang.
Qin Yan mendongak sesaat, melihat gadis yang membuatnya muak. Ia menoleh kesana sini, seolah mencari nama yang dipanggil gadis itu.
"Kau yang Ku panggil, bodoh!" Kali ini nada panggilan gadis itu kelihatan kesal.
"Ya. Ada apa?" Jawab Qin Yan tenang.
Gadis itu kemudian menyilangkan tangan didada.
Qin Yan langsung bingung dengan perkataan gadis ini. Sejak kapan ia mencari gara gara dengan gadis yang tidak masuk akal ini. Tapi ia mengerti, gadis ini berusaha meluapkan semua kekesalannya dan ingin mempermalukan Qin Yan didepan umum tanpa alasan. Oleh karena itu, Qin Yan bertanya langsung ke intinya.
"Apa maumu?" Tanya Qin Yan dengan dingin.
"Huh? Kau pikir kau itu siapa bisa bertanya seperti itu. Jangan berpikir hanya karena kau berada di posisi pertama kau bisa......"
"Katakan apa maumu!!!" Qin Yan langsung memukul meja dengan keras. Tatapannya tajam dibalik topeng menusuk lewat mata gadis itu.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni gadis tidak masuk akal sepertimu yang tidak memperhatikan etika. Enak sekali kau menggangu ketenangan orang lain."
Tang Xinglian yang mendengar itu langsung terdiam. Bukan karena takut, justru ia semakin kesal akan hal itu. Ia pun langsung menggertakan gigi dengan penuh kebencian.
"Aku menantangmu untuk bertarung denganku!!" Teriak gadis itu.
"Oh, jadi begitu. Coba bilang dari tadi." Jawab Qin Yan yang sudah mengerti. Gadis itu pun kembali terdiam sembari menahan amarahnya agar tidak meledak. Tapi, yang membuatnya semakin kesal. Qin Yan sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Apa yang kau lakukan disitu! Cepat berdiri dan kita akan bertarung sekarang juga!" Teriak gadis itu lagi.
Qin Yan hanya menatapnya dengan tenang.
"Aku tidak tertarik." Jawabnya kemudian.
"Apa!!!" Tentu saja hal itu langsung membuat gadis itu terpaku dengan mata yang besar. Ini sebuah penghinaan, penghinaan terbesar sepanjang hidupnya.
"Kau bilang apa?" Kali ini ucapan gadis itu begitu pelan, namun wajahnya sudah gelap gulita. Tak terhitung berapa banyak amarah yang ia pendam dalam hal ini.
Qin Yan yang melihat itu hanya menghela napas pelan.
"Kalau berbuat sesuatu harus memperhatikan situasi. Aku ini sedang menunggu presiden yang katanya memanggilku. Kau pikir masalahnya akan ringan setelah aku mengabaikannya hanya karena aku menerima permintaanmu yang tidak berguna itu.?"
Tang Xinglian kembali terdiam seketika. Amarahnya yang tadi ia pendam langsung menghilang. Ia menatap Qin Yan dengan penuh kebingungan. Tidak lama kemudian salah satu pelayan pun datang.
"Tuan, nona presiden telah menunggu anda didalam. Ijinkan saya untuk mengantar anda."
Setelah itu, Qin Yan pun berdiri. Lalu berjalan mengikuti pelayan itu. Melewati Tang Xinglian begitu saja. Semua orang yang menyaksikan itu hanya berusaha menahan tawa. Aksi ceroboh yang dilakukan gadis angkuh itu telah mempermalukanmu dirinya sendiri.
Bukannya menjadikan itu sebagai pelajaran, Tang Xinglian bahkan bertambah marah. Ia menatap punggung Qin Yan dan mengunci anak itu agar menjadi lawan yang harus ia kalahkan di masa depan.
"Akan ku kalahkan kau suatu saat nanti. Penghinaan ini akan ku balas berkali kali lipat." Ucapnya dengan geram.
Qin Yan juga menyadari kebencian gadis itu. Namun ia hanya tersenyum kecut. Karena harga diri yang tinggi, membuat seseorang melupakan tata krama, kesopanan, dan rasa kemanusiaan. Mereka akan selalu memandang rendah orang lain dan menganggap diri mereka adalah yang tertinggi. Mereka bahkan sangat sensitif terhadap sifat orang orang disekitarnya. Oleh karena itu, orang seperti itu akan menganggap seseorang sebagai musuh, jika mereka bertingkah diluar kemauan mereka.
Qin Yan hanya berharap, agar orang orang seperti itu tidak termasuk kedalam sifat teman temannya.
Ketika Qin Yan berjalan menuju ruangan, tanpa diduga. Seseorang yang ia kenal menunggunya ditengah perjalanan.
Dia adalah Mong yi, anak itu bersandar di dinding. Sepertinya sudah menunggu kedatangannya untuk melewati jalur ini.
"Kau orang yang pertama selesai dalam penyulingan tadi kan?" Tanya pria itu. Ia kemudian memegang bahu Qin Yan dengan arah pandang mereka yang saling berlawanan.
"Aku cukup terkesan denganmu. Kau lawan yang sepadan untukku. Jika kau tak keberatan, temui aku dibelakang gedung asosiasi ini setelah urusanmu selesai." Setelah itu, pria tersebut langsung pergi dengan gaya begitu arogan.
Qin Yan terdiam mendengar perkataan anak itu. Namun tidak lama kemudian ia pun tertawa. Untungnya saja, Mong yi tidak mendengarnya. Jika tidak, mungkin masalah lain juga akan terjadi kali ini.
'Pppfftt.... Terkesan? Sepadan? Hahah... lucu sekali. Aku di bilang seperti itu oleh seorang bocah ingusan yang bertingkah sok kuat. Kenapa ada ada saja serangga yang tak menyadari posisi mereka didunia ini. Orang seperti itu mengganggu saja.' Qin Yan hanya menganggap perkataan anak tadi sebagai lelucon. Ia muak melihat tingkah tingkah sombong dari orang yang sama sekali tidak ia anggap sebagai lawan yang pantas. Oleh karena itu, ia kembali mengikuti pelayan hingga masuk keruangan presiden.
Sementara itu, Mong yi yang tadi berjalan begitu arogan hanya bisa menahan kebenciannya dalam hati. Ia mengepalkan tangannya dengan tubuh menggigil.
'Kenapa? Padahal master telah memberitahuku bocoran kompetisi ini. Tapi kenapa aku masih saja berada di urutan yang jauh. Kenapa selalu ada orang yang berada di depanku. Padahal semuanya telah dipersiapkan dengan matang.' Mong yi berdiri ditempat cukup lama dengan menggertakan gigi. Matanya membesar karena merasa tak adil dengan semua ini.
"Wah wah wah. Bukannya ini Mong yi? Peringkat 5 dari 10 jenius surgawi." Tiba tiba seorang pria mendatanginya dengan dua anak buah dibelakang.
"Kau tetap lambat yah bahkan setelah mastermu memberitahu bocoran tentang kompetisi ini." Senyum anak itu dengan penuh ejekan.
"Apa yang kau inginkan Rong gui?" Tanya Mong yi dengan wajah dingin.
Rong gui, peringkat 8 jenius surgawi. Meskipun peringkatnya mempunyai perbedaan yang jauh dari Mong yi, namun perbedaan kekuatan mereka sama sekali tidak bisa dibedakan. Ia juga seorang anak yang dibesarkan didalam sekte Lembah Vermillion. Oleh karena itu, rasa sombongnya juga tidak kalah dengan Mong yi yang berasal dari sekte Racun.
"Apa kau ingin bertarung?" Tanya Mong Yi sekali lagi.
"Tidak tidak, aku tidak mengajakmu bertarung. Sesekali perlakukan aku dengan sopan lah, aku juga tidak sejahat yang kau pikirkan." Rong gui menggelengkan kepala dengan kedua tangannya diangkat. Namun, reaksi Mong yi tetaplah sama.
"Aku tahu sifatmu sebenarnya? katakan apa maumu? Kau pasti punya niat lain untuk menemuiku kan?" Tanya Mong yi lagi.
"Ya ya ya. Kau memang benar. Tapi, dilihat dari sikapmu yang memuakkan itu, cukup membuatmu kesal Mong yi. Jujur, aku tidak menyukainya. Tapi, dari pada mencari musuh denganmu. Lebih baik kita bekerja sama saja."
Mong Yi tertegun mendengarkan perkataan pria itu. Bekerja sama? Bekerja sama untuk apa?
"Memangnya apa yang kau inginkan sehingga kita harus bekerja sama?"
"Yah, seharusnya kau tahu. Si anak bertopeng itu cukup membuat kita kesulitan meskipun kita mendapat bocoran."
"Jadi, kau ingin kita membereskannya? Bagaimana kalau dia juga berasal dari sekte lain?" Mong Yi bertanya lagi setelah ia mulai mengerti dengan rencana pria ini.
"Aku tidak memikirkan sejauh itu. Tapi, masterku berkata. Siapa pun yang menghalangi jalanmu, maka musnahkan saja. Jadi, dari pada kita bersaing dengannya, lebih baik kita bekerja sama untuk membunuhnya. Bagaimana? Kau setuju tidak?"
'Bocah ini licik, dia bisa saja menjebak ku juga.' Mong yi langsung berpikir serius ketika mendengar rencana anak itu.
Melihat pria itu tampak ragu ragu, Rong Gui jadi sedikit kesal. Tapi ia hanya tersenyum tipis sambil mendekat kearah wajah Mong yi yang menunduk.
"Mong Yi, kudengar kau sedang dalam masalah. Seluruh anggotamu masuk rumah sakit karena ingin membunuh kelompok Qin Yan, hahaha.... Lucu sekali, itulah pelajaran karena berani menantang seseorang yang tidak sebanding denganmu."
"Jangan bahas masa lalu jika kau tak ingin mati!!!" Mong Yi langsung emosi mendengar provokasi anak itu. Ia mengangkat kerah baju Rong gui dan mengangkatnya keatas.
"Oh, Mong yi. Jangan bilang, karena keterpurukan kau jadi bodoh seperti ini. Apa kau tidak berpikir, jika kau tidak mendapatkan hasil yang baik dalam kompetisi ini, apakah mastermu masih memperhatikanmu? Pikirkan baik baik, jika penghalang itu masih ada. Apa kau pikir bisa menjadi teratas? Anak itu mampu mengalahkan mu meskipun kau diberi bocoran. Pikirkan baik baik betapa kecewanya mastermu jika mengetahui kalau kau gagal. Kau akan dianggap tidak berguna dimatanya."
Mong Yi langsung terdiam sekali lagi, ia perlahan menurunkan Rong gui. Jujur, perkataan orang ini ada benarnya. Meskipun ia tahu kalau anak ini berusaha memanipulasinya. Tapi, yang terpenting saat ini adalah mendapatkan yang terbaik agar masternya mau memperhatikannya kembali. Ia tidak mau mengecewakan masternya lagi.
Setelah memikirkan itu baik baik, akhirnya Mong yi melepaskan tangannya yang menggenggam kerah baju anak itu. Ia pun menutup mata sembari menghela napas panjang. Ia telah mempertimbangkan semuanya.
"Jadi, apa rencanamu?" Tanyanya.
Senyum lebar terpancar diwajah Rong gui. Ia pun mendekat dan berbisik ditelinganya.
"Bukankah kau bilang tadi kau menunggunya dibelakang gedung."
Mong Yi mengangguk mendengarnya. Kemudian Rong gui melanjutkan.
"Kita sergap dan bunuh dia disana. Tenang saja, kita harus lakukan ini dengan sebaik baiknya agar terlihat seperti kecelakaan. Oleh karena itu, aku punya rencana yang cukup lumayan. Mau dengar?"