LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Pengujian


"Oh, Yan Yan. Silahkan maju." Tetua itu mengangguk dengan tatapan serius. Ekspresi diwajahnya bercampur aduk, ada rasa penasaran dan rasa kecewa. Namun tetap saja, pengujian tetaplah pengujian. Seorang peserta berhak menguji senjata buatannya seperti peserta lain.


Qin Yan sendiri, sudah menyiapkan lima peluru kecil ditangannya. Sebesar kerikil seperti potongan jari dan bentuk tajam di salah satu ujungnya.


'Apa yang dia lakukan dengan benda sekecil itu?' Batin tetua dengan bingung. Mereka mengamati Qin Yan memasukan peluru kedalam senjatanya. Setelah itu, ia arahkan Kedinding.


Berbeda dengan peserta lain, kali ini tetua tidak memberikan arahan. Qin Yan hanya menunggu timing yang tepat. Setelah itu, pelatuk kemudian ditarik. Dan hasilnya......


"Dor." Sebuah suara tembakan berbunyi.


"Dor dor dor dor" Diikuti dengan empat bunyi tembakan lain.


Mata semua orang tertuju pada senjata milik Qin Yan.


'Siapa yang menyangka, senjata sekecil itu mempunyai bunyi yang begitu keras.' Duan tianlang pulih dari rasa kagetnya setelah tiba tiba dikejutkan dengan bunyi tembakan yang begitu keras bergeming diseluruh aula.


Ia terus menatap senjata milik Qin Yan sampai akhirnya ia menyipitkan mata.


'Dimana serangannya? Kenapa tidak keluar?' Ia bingung dengan apa yang terjadi. Beberapa saat yang lalu, lubang senjata milik anak itu mengeluarkan percikan api. Sekarang lubang senjata itu mengeluarkan sedikit asap. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Selain suaranya yang begitu keras, tidak ada sesuatu yang lain yang lebih mengejutkannya. Kecuali.....


Kecuali ia harus melihat kondisi dinding di sampingnya. Dan sesuatu yang membuat sadar, tadi ia tidak mendengar bunyi dari satu tempat. Melainkan dua tempat, tepatnya bunyi keras di senjata anak itu. Sisanya.... bunyi dinding disampingnya.


Setelah ia beberapa saat tertegun, ia menyadari kalau semua orang melongo kearah dinding. Sepertinya apa yang ia takutkan benar benar nyata.


'Se-se-se-sejak kapan!!!' Mata Duan tianlang terbelalak, ia menelan ludahnya sendiri melihat lima peluru menempel dalam ke dinding tersebut.


Setetes keringat menetes di pipinya.


'Ini tidak mungkin, aku bahkan tidak melihat kapan serangan itu melaju? Huh!'


Tapi, ada satu sesuatu yang ia sadari. Ia menyadari kalau peluru tersebut sepertinya tidak dilapisi energi.


"Kau tidak memasukan atributnya kedalamnya?" Tanyanya dengan tenang, namun hatinya berdegup kencang karena tak tahan dengan jawaban yang keluar dari mulut anak itu.


Qin Yan juga tampaknya menyadari sesuatu, ternyata ia sudah melakukan kesalahan. Akhirnya, ia pun hanya menggaruk kepalanya karena telah lupa.


"Maafkan aku, aku tadi terlalu terburu buru."


'Apa!!!'


Ucapannya pelan, namun semua orang ternganga mendengarnya. Tanpa menggunakan energi bisa menghasilkan serangan yang begitu kuat, hingga dinding penguji pun sampai mengisahkan bekas.


'Sepertinya serangan itu di akibatkan efek kecepatan yang begitu tinggi. Hingga benda sekeras dinding penguji pun mampu dilubangi. Jika itu terkena manusia............. Tunggu! Mampu melubangi dinding? Itu berarti i-itu bisa melukai seorang kultivator tingkat Grandmaster kebawah?'


Tidak pernah terpikirkan dibenak Duan tianlang, kalau ada senjata yang bisa dipakai oleh orang biasa namun bisa melukai kultivator tingkat tinggi. Memikirkan itu membuat dirinya gemetar. jika itu benar benar ada, maka sejarahnya pun akan berubah. Manusia tidak perlu harus berusaha meninggikan kultivasi mereka jika mempunyai senjata seperti itu. Karena senjata yang mereka pakai selama ini selalu bergantung pada kekuatan sang pemilik agar benar benar kuat. Jika tidak, maka senjata itu tidak ada gunanya. Bagaimana bisa melukai seorang musuh yang dirinya juga dilindungi oleh armor berlapisi energi?


Namun, dibanding memikirkan itu. Kakek tersebut justru memikirkan hal lain. Hal lain yang jauh lebih gila! Bagaimana jika senjata itu dilapisi atribut energi?


"Yan Yan....."


Qin Yan mengangkat wajahnya mendengar panggilan kakek tua itu.


"Coba kau lapisi senjatamu dengan atribut yang kau miliki."


Mendengar itu, Qin yan menyeringai lebar dibalik topengnya.


'Aku juga memikirkan pemikiran yang sama denganmu pak tua!!'


Ia pun mengeluarkan satu peluru tersisa, peluru ini cukup istimewa dari kelima peluru pertama. Warnanya emas, terbuat dari Kuningan yang sudah dilelehkan dan campuran batu tambang emas yang tadi ia ambil diatas meja. Peluru itu melayang dari tangan Qin Yan akibat energi yang ia punya.


Setelah itu, percikan angin pun terbentuk. Duan tianlang menyipit matanya.


'Elemen angin yah?'


'Huh!!!' Tidak lama kemudian percikan api melapisi peluruh itu. ia langsung tertegun ketika melihat hal tersebut.


'Dua atribut sekaligus? Tidak mungkin, apakah bisa seperti itu?'


Semua orang sudah terkejut melihat dua atribut sekaligus dimasukkan dalam senjata. Namun, ketika percikan listrik kembali menyelimuti peluru Qin Yan, Duan tianlang dan seluruh orang diaula langsung membeku ketakutan.


'Astaga!!!! Anak ini gila!!!' Batin mereka semua secara bersamaan.


Tapi........ Kejutan terakhir belum mereka dapatkan. Ketika mereka melihat lapisan gelap kembali menyelimuti benda kecil itu. Duan tianlang tak bisa lagi mempertahankan keseimbangannya karena kakinya yang melemas. Ia menopang ke tetua lain hanya demi menyaksikan, kerusakan macam apa yang akan dihasilkan oleh gabungan dari empat atribut sekaligus.


Dan saat itulah telah mencapai klimaksnya, Qin Yan akhirnya mencapai akhir dari percobaan gila yang ia miliki. Jari telunjuknya dengan pelan menyentuh pelatuk. Dan dengan satu tarikan napas, pelatuk tersebut langsung ditarik.


"Dor" Suara tembakan kembali terdengar, tidak ada perubahan dalam suara tembakan tersebut. Namun terlihat jelas, kalau mulut senjata seperti bengkak karena tekanan dari peluru yang barusan keluar.


Secara mengejutkan, peluru tersebut menembus dinding layaknya seperti menembus gadis babi yang begitu lembut. Tidak ada bunyi apapun ketika melewati dinding tersebut. Terlihat lancar dan licin, namun peluru itu juga menembus dinding ruangan. Lalu menembus dinding ruangan selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya. Sampai akhirnya keluar dari asosiasi gulungan kondolisasi. Namun, yang lebih mengejutkan. Para manusia berada di sejajar garis lurus dimana arahnya tembakan tiba tiba terjatuh dengan lubang kecil di bagian tubuh mereka.


Disaat bersamaan.


"Brak" Han genyu membanting meja didepannya karena emosi saat mendengar laporan dari salah orang suruhannya.


"Apa! Kau bilang apa? Coba bilang sekali lagi." Ucap Han genyu dengan raut wajah menakutkan. Matanya melotot begitu tajam melorot keluar saat menatap seorang pemuda yang sedang bersimpuh didepannya. Pemuda tersebut tidak lain adalah Mong yi yang tengah berlutut ketakutan.


"Be-benar master! Mu yi dan yang lainnya dihabisi ketika berada dihutan. Saat itu aku datang menyusul mereka, namun saat aku datang aku sudah terlambat. AAAAKKHH.....!!" Baru setelah perkataannya selesai, lehernya langsung dicengkram dan diangkat keatas.


"Aku tidak mau mendengar omong kosongmu. Sudah kubilang kan, jangan meremehkan Qin Yan. BUKANKAH SUDAH KUPERINGATKAN KAU AGAR WASPADA TERHADAP ANAK ITU!!!" Teriak Han genyu kepada pria itu.


"Mong Yi. Tampaknya kau tidak mendengarkan ku, kau terlalu percaya pada dirimu dan menganggap semua orang itu sampah. Lebih rendah dari dirimu. Bahkan kau menyamakan dirimu dengan anak itu, sampai sampai kau bersantai ketika menjalankan misimu. Kau benar benar goblok! Anak tidak berguna sepertimu lebih baik ku bunuh saja."


"Am- ampuni..... Aku... master..." Mong Yi menggeliat dengan napas sesak. Tekanan Han genyu bercampur dengan cengkramannya yang kuat, membuat pria muda itu serasa tidak berdaya.


"Mengampunimu? Kau tidak sadar tempatmu yah Mong yi. Kau terlalu membanggakan dirimu hanya karena pencapaiannya kecil. Biar kuajari kau cara bersikap agar kau tidak mencibirku dibelakang." Han genyu mengangkat satu tangannya lagi. Percikan hijau muncul ditangannya. Disaat ia hendak memberi Mong yi hukuman, disaat itulah ada yang menghentikannya.


Seorang gadis cantik berdiri didepan pintu. Dan membanting pintu masuk ketika ia hendak masuk kedalam. Tatapan gadis itu tenang namun tajam. Sebuah tekad dan ketetapan terpaut dikedua matanya.


"Ta-tang Liu!" Mata Han genyu langsung berbinar melihatnya. Ia tanpa sadar melepaskan Mong yu dari cengkramannya.


"Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya dengan penuh perhatian. Tapi gadis itu hanya tenang dan datar menanggapinya.


"Hentikan omong kosongmu. Cepat ceritakan aku yang sebenarnya. Siapa sebenarnya ibuku!" Ucap Tang Liu dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Y-ya. Tentu saja. Kenapa tidak masuk dan duduklah. Aku akan menyiapkan teh untukmu, kondisimu belum sepenuhnya pulih dan berdiri didepan situ akan membuatmu cepat lelah." Kakek tua itu kemudian mempersilahkan Tang Liu masuk. Gadis itu juga tak punya alasan untuk menolak tawarannya. Hanya demi mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Ia bahkan mengikuti kemauan dari seorang kakek yang sudah ia anggap sebagai seorang musuh.


"Tidak perlu membuatku teh, aku tidak punya banyak waktu untuk berdiam diri disini." Tang Liu duduk dengan raut wajah angkuh dan kedua tangannya disilang kedada.


"Baiklah baiklah." Han genyu juga tidak mempunyai keinginan membantahnya. Ia hanya menuruti kemauan gadis itu yang merupakan cucunya selama ini menghilang.


Namun sebelum ia duduk, tatapannya melirik ke arah anak muda menyedihkan yang tengah berusaha menenangkan napasnya. Ia memegang lehernya yang kesakitan akibat cengkraman Han genyu yang tadi terlalu kuat.


"Cepatlah pergi, aku memberimu kesempatan kedua untuk menyelamatkan nyawamu dari hukumanku."


Perkataan pak tua itu seperti setitik cahaya yang muncul dari lubang yang sangat gelap. Mong yi serasa mendapatkan kembali harapannya. Tanpa membuang waktu, ia pun bangkit dan pergi melalui jendela ruangan. Sementara Tang Liu hanya acuh tak acuh ketika melihat kepergiannya tanpa tahu apa yang direncakan mereka.


Yah, rencana pemuda itu adalah membunuh teman teman Qin Yan yang berada dirumah sakit. Dan kali ini, ia pastikan. Misinya akan berhasil tanpa mengecewakan masternya.


'Qin Yan, kau benar benar sesuatu..... yang ingin sekali kubunuh! Aku.... Akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!!!!!' Mong yi sekarang bagaikan serigala yang sudah kelaparan, ia menggila karena tak bisa menahan nafsunya. Kali ini ia benar benar tak mau bermain main lagi. harus, ia harus membunuh teman teman bocah itu. Bocah yang dikagumi oleh semua orang diseluruh benua. Dan ia benar benar iri karenanya.


Disaat Mong yi tengah berada di udara, hendak mendarat ke bangunan pertamanya. Ia kejutkan sesuatu yang tiba tiba berdengung ditelinganya.


"Wosh." Sebuah benda yang sangat kecil dengan kecepatan yang sangat menakutkan tiba tiba sudah sampai didekat bahunya.


'Eh!' Bahkan ia belum bereaksi, namun benda itu tidak mempunyai akal untuk berhenti. Sampai akhirnya peluru tersebut menghantam armor kondolisasi yang ia miliki. Dan itulah akhir dari perjalanan peluru itu.


"ZTAAAAAAARR....... BOOOOOOM...." Badai kencang pun tercipta, kali ini bukan badai biasa. Tapi badai angin dengan aliran petir hitam melaju ke angkasa.


Badainya juga cukup dashyat hingga menarik perhatian banyak orang.


Di tempat Sangguan Tianyang berada bahkan sampai terkejut melihat badai tersebut yang terlihat di luar jendela mereka.


"Bajingan! Siapa yang berani membuat kekacauan di pulau terapungku!" Geramnya dengan penuh kemarahan.


*******


Disisi lain, Qin Yan membeku karena mata merahnya menyadari kalau peluru serangannya mengenai orang yang tak terduga. Ia mengintip dari balik lubang kecil bekas jalannya peluru tadi. Sejenak, ia melihat peluru tersebut menghantam bahu seorang pemuda.


'Astaga!! Apa aku terlalu berlebihan?' Qin Yan menelan ludahnya sendiri, tanpa membuang waktu ia langsung meninggalkan ruangan. Meninggalkan tetua dan para peserta yang masih terdiam.


Tidak ada yang menghentikan kepergiannya. atau lebih jelasnya, mereka tak sempat menghentikan Qin Yan karena mereka masih melongo kearah dinding.


Mata Duan tianlang melirik kebelakang dinding penguji. Bola matanya hampir keluar, saat menyaksikan lubang lain di dinding ruangan ini.


'Apa!!! Jangan jangan......!!!'


"Brak" Tiba tiba semua orang begidik kaget, salah satu murid asosiasi masuk secara tergesa gesa.


"La-lapor master!! Lima orang murid tiba tiba terjatuh tanpa diketahui penyebabnya!"


"Apa!!!" Tentu semua orang langsung terkejut. Ke empat tetua termasuk Heng en keluar memeriksa keadaan diluar. Hanya Duan tianlang yang masih berdiri terpaku ditempat. Dengan langkah berat, ia pun mengikuti mereka.


"Bagaimana? Apakah kalian mengetahui sesuatu?" Tanyanya dengan tenang, namun sebenarnya dalam hatinya sudah dipenuhi ketegangan.


"Senior, kami tidak mengerti. Mereka tidak berada ditempat yang sama. Tapi terjatuh disaat yang bersamaan. Dan terdapat luka tembus ditubuh mereka." Mendengar itu, napas Duan tianlang makin tidak tenang. Ia pun kemudian menuju ke lima murid yang terluka. Dan benar benar saja, mereka mendapatkan luka tembus ditubuh mereka.


Laporan dari kelima murid itu semua juga sama. Mereka tiba tiba merasakan ada sesuatu yang menghantam mereka, namun setelah itu. Rasa sakit yang luar biasa kemudian terasa. Seperti disengat listrik ditambah dengan rasa panas yang luar biasa. Membuat tubuh mereka kejang kejang dengan keadaan tak berdaya.


Dan setelah diperiksa lebih lanjut, Duan tianlang mulai mengerti. Ternyata kelima murid itu berada digaris lurus, selaras dengan lajunya serangan Qin Yan.


'Ini.....!!! Tidak mungkin!! T-tunggu! Dimana serangan itu mendarat." Kakek itu langsung berdiri tergesa gesa.


"Heng en, kau urus mereka dulu. Dan peserta peserta lain, jangan biarkan mereka keluar." Setelah mengatakan itu, ia kemudian mengejar Qin Yan. Dengan mengikuti garis lurus dimana serangan itu melaju.


Dan seperti dugaannya, beberapa orang yang berada diluar juga terkena serangan itu. Sekitar 20 orang, mungkin sudah ia lewati. Dan jejak peluru itu masih belum berhenti.


'Senjata itu......... Aku tidak menyangka ada senjata semengerikan ini, siapa sebenarnya anak itu?'


*********


Qin Yan akhirnya berhenti, ia sampai ke sebuah pemandangan yang cukup membuatnya tertegun. Tempat dimana pelurunya mendarat, mengakibatkan Ledakan angin luar biasa. Dan sekitar empat perumahan dari segala sisi disapu rata.


Yang lebih menarik perhatiannya yaitu ketika ia melihat seseorang yang tampak familiar tengah terkapar diatas tanah yang cukup dalam.


'Seragam itu........' Alis Qin Yan sedikit berkerut melihat seragam yang dikenakan orang itu, namun wajah orang itu tidak ia ingat hingga membutuhkan waktu untuknya berpikir.


"Swosh"


Namun disaat ia tidak sadar, sesosok siulet buas menerjang kearahnya. Ketika matanya melirik kesamping, ia hanya melihat sosok yang wajahnya sangat menyeramkan. Matanya hijau menyala dan rambutnya bertebaran layaknya tentakel.


'A-apa!' Qin Yan langsung terkejut, secara naluri ia mengaktifkan tubuh tembus.


"Siut." Cengkraman sosok itu hanya melewatinya, Qin Yan memanfaatkan itu untuk mundur.


Namun, siapa yang menyangka. Gerakan sosok itu begitu cepat, hingga jari sosok itu bahkan hampir mencapai wajah Qin Yan.


'Penghentian waktu!!!' Teriak Qin yan dalam hati.


Seketika dunia langsung membeku, secara tak sadar Qin Yan tersandung sebuah batu dan terjatuh. Saat itulah ia melihat dengan jelas, siapa sosok yang mengincarnya.


'Han genyu? Tapi kenapa? Bukankah aku memakai topeng?' Mata Qin Yan membesar dengan penuh kebingungan. Apakah benar kakek tua itu berhasil mengenalinya meskipun ia memakai topeng?


Dalam waktu tiga detik, efek pemberhentiannya akhirnya selesai. Qin Yan yang masih terduduk tidak lagi mempunyai kekuatan untuk berdiri setelah mengeluarkan skill ilahi tersebut. Namun, dibanding itu. Jika pak tua itu berhasil mendapatkannya maka dia bisa saja berada dalam masalah.


"Kau cepat juga yah bocah!" Ucap Han genyu setelah menyadari Qin Yan telah berada satu meter darinya. Padahal sedetik yang lalu ia hampir menangkapnya. Tapi kenapa anak itu tiba tiba berada disana?


Ia hendak melangkah lagi, namun disaat itu. Dia pun tiba tiba menyadari sesuatu. Pergerakannya sepertinya melambat, dan ia sepertinya terjebak dalam gelembung yang membuat tubuhnya ini melambat.


'Perlambatan waktu?' Batin Han genyu dengan bingung. Disaat itu ia lebih menyadari, Qin Yan sudah tidak ada ditempatnya? Dimanakah dia?


'Sial!!' Ia Hanya bisa mengutuk dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Sangguan Tianyang mendatangi tempat itu bersama dengan tokoh tokoh kuat lainnya. Dan anehnya, Han genyu pun langsung menjadi tersangka atas kerusakan ini. Meskipun belum ada bukti kuat, namun proses masih berada di tahap tanya-menanya.


********


Tidak jauh dari sana, dibalik bangunan.


'Hampir saja.' Qin Yan memegangi jantungnya yang berdegup kencang karena kekuatannya yang hampir habis. Tubuhnya penuh keringat, dan ia sama sekali belum bisa mengendalikan napasnya.


'Sudah kuduga, meskipun segelku di buka sedikit. Tapi aku seharusnya tidak menggunakan skill ilahi. Benar benar menghabiskan kekuatan yah.'


Dengan penasarannya, Qin Yan mengintip ketempat kejadian. Dan ia cukup terkejut dengan tempat itu yang sepertinya sudah cukup ramai. Disana, sudah ada Sangguan Tianyang dan beberapa anak buahnya menuduh Han genyu meskipun tanpa bukti apa apa. Toh, dia memang sudah sepantasnya dituduh karena berada ditempat kejadian.


Tapi, bukan itu yang membuat Qin Yan kaget. Ia melihat Tang Liu tengah berdiri diatas atap, menonton didekat kejadian itu. Wajahnya acuh tak acuh seperti biasa. Tapi Qin Yan masih bingung mengapa ia ada disana.


'Mungkin aku terlalu banyak berpikir, bisa saja dia tertarik dengan ledakan beberapa saat yang lalu.' Batin Qin Yan membuang kecurigaan itu jauh jauh. Tapi, bukankah seharusnya Tang Liu belum pulih?


Memikirkan itu membuat Qin Yan bingung. Ia hanya mengusap dagunya yang dipenuh dengan tetesan keringat.


Tapi tiba tiba ada yang memegang tangannya. Qin Yan sontak kaget, dan secara refleks menarik tangannya. Setelah melihat siapa orang yang menganggetkannya tersebut. Ia langsung bernapas lega.


"Master Duan, apa yang anda lakukan?" Bisik Qin Yan dengan waspada. Waspada supaya tidak ada yang mendengar.


Sementara Duan tianlang sendiri masih menatap Qin Yan dengan tajam.


"Ledakan itu, hasil dari seranganmu kan?" Tanyanya dengan penuh keseriusan.


Qin Yan juga tidak tahu harus beralasan apa, berbohong pun juga tak berguna jika sudah ada bukti didepan sana. Ia hanya menunduk dan dengan ragu menjawab.


"Ya, itu memang hasil dari peluru senjataku."


Ekspresi kakek tua itu langsung terpaku. Yah, dia memang sudah menduganya. Tapi masih tak ingin menerima kebenarannya. Wajah pak tua itu kemudian menjadi gelap. Dengan secara paksa menarik tangan Qin yan.


"Cepat ikuti aku." Ucapnya dengan penuh tekanan.


Qin Yan mulai merasakan ada sesuatu yang salah. Makanya ia langsung menolak.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Tatap Qin Yan dengan dingin.


"Maka aku akan mengungkapkan bahwa kau adalah penyebab ledakan angin itu."


"Apa!" Seketika, Qin Yan langsung membeku. Pak tua ini begitu licik sampai menggunakan alasan itu untuk menekannya. Yah, mau bagaimana pun juga Qin Yan tidak mempunyai pilihan. Dia bisa saja mendapatkan masalah besar jika tersangkut didalam kekacauan itu. Kekacauan yang tidak sengaja ia buat, dan ia harus menemukan jalan untuk keluar dari situasi ini.


Ternyata, ancaman kakek tua ini bisa jadi keuntungan baginya. Namun, ia tidak bisa keluar dengan penampilannya seperti ini. Atau Han genyu bisa saja dengan mudah mengenalinya.


Setelah berpikir begitu matang, Qin Yan pun memutuskan untuk melepaskan topengnya.


"Kenapa kau masih diam disitu?" Tanya Duan tianlang dengan tak sabar. Namun matanya langsung membesar, saat melihat orang yang ia pegang sudah melepaskan topengnya. Seorang anak berumur 17 belas tahun berada didepannya. Anak itu begitu muda, jauh dari yang ia bayangkan. Kulitnya cerah dan aura anak itu dipenuhi sesuatu yang tak bisa setara dengan orang manapun.


Anak ini berbeda, ia tidak boleh disinggung atau diganggu sembarangan. Itulah kesan pertamanya. Karena perasaannya tersebut, Duan tianlang secara tak sadar melepaskan tangannya yang memegang tangan Qin Yan. Setelah dipikir pikir, anak ini juga seorang master kondolisasi. Jadi, sudah sepantasnya dia menghormatinya.


"Ayo kita kembali." Ucapnya dengan nada pelan dan sedikit sopan.