LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Penjelasan


Dalam kompetisi ini, sudah disediakan kuas, kertas, tinta, bahkan pelapis.


Kertas tipis yang sangat mudah untuk rusak. Terbuat dari kulit beast tingkat Jenderal keatas. Dibuat sebaik mungkin agar mampu menampung timah panas dan bahan lainnya yang nanti akan berubah menjadi senjata. Sesuai dengan benda yang dicetak.


Ketika lonceng berbunyi, semua orang mengambil kuas masing masing. Mulai mencetak. Elemen angin, waktu, spasial, dan kecepatan. Elemen yang berbeda memenuhi aula.


Kecuali Qin Yan yang diam mengamati benda yang ada diatas meja.


"Mau sampai kapan anak itu diam saja?" Salah satu tetua mengelus janggutnya. Ia penasaran apa yang terjadi pada Qin Yan hingga dia tidak membuat pergerakan. Ia pun menoleh kearah jam pasir, jika anak itu hanya diam saja. Maka ia akan kehabisan waktu, mengingat pembuatan kertas kondolisasi sangat lama.


'Ada yang aneh dengan benda ini. Tapi, dimana yang salah?' Mata merah Qin Yan sudah aktif dari tadi.


30 menit berlalu.


Qin Yan masih tidak melakukan pergerakan. Membuat keempat tetua jadi keheranan.


"Apa yang salah dengan otak anak ini?" Sepanjang waktu, mereka terus memperhatikan Qin Yan dari tadi. Hingga mereka tidak sadar, salah satu peserta sudah gagal.


Seorang pria yang tidak sengaja merobek kertasnya, hingga harus mengalami kekalahan.


Disusul dengan seorang gadis melubangi kertas karena terlalu banyak tinta. Salam waktu sekejap, 10 orang telah beranjak dari meja mereka dengan penuh kekecewaan.


Sementara sisanya, mereka berada di jalan buntu. Ingin melanjutkan, tapi takut kertasnya akan rusak.


"Ukh...." Gadis disamping Qin Yan pun sampai menggigil karena berusaha mempertahankan elemen anginnya agar tidak terlalu kuat atau lemah. Bahkan kuasnya saja hampir kering . Sejujurnya, itu sangat menyiksa.


Qin Yan lebih memperhatikan kertas dimeja gadis itu. Sampai akhirnya ia mengerti. Ada tiga tinta yang digunakan dalam pencetakan ini. Tiga tinta tersebut dicampurkan menjadi satu agar bisa seimbang ketika berada diatas kertas. Ketiga tinta itu terdiri dari tinta kental, tinta cair, dan tinta minyak.


Hampir saja Qin Yan tidak menyadari, kalau dosis dari tinta tersebut tidak seperti biasanya. Dan kertasnya sengaja dibuat sesensitif mungkin agar mempersulit para peserta.


'Cih, haruskah aku memuji kalian? Siapa yang membuat alat ini? Dia pantas mendapatkan caci maki.'


Qin Yan langsung mengambil tiga sendok tinta kental, satu sendok tinta cair dan seperempat tinta minyak. Lalu Qin yan mengaduknya dengan pelan memakai kuas.


Hal itu membuat keempat tetua jadi menganga, mata mereka tertuju pada Qin Yan.


"Apa apaan anak itu. Apa ini? Dia mengerti cara mencetak kertas kondolisasi atau tidak? Kenapa dia tidak tau cara membuat tinta."


"Bukankah takarannya itu, sesendok tinta kental, lima sendok tinta cair dan dua sendok tinta minyak. Ada apa ini?"


"Sstt... coba diam dulu?" Salah satu tetua menenangkan mereka. Tatapan serius dan matanya menyipit kearah anak itu.


Ketika Qin Yan mengaduk, senyum tipis terselip dibalik topengnya. Faktanya memang yang dilakukannya ini salah. Tapi sebenarnya dalam kuas terdapat energi "yang". Dan tintanya mengandung energi ying. Kedua energi tersebut bisa mencair dan mengoptimalkan tinta ini.


'Hahaha.... coba kalian perhatikan dasar amatiran!' Qin Yan menarik kuasnya, setelah itu mulai mencetak.


5 menit kemudian.


Kertas Qin Yan menyala. Tanda kalau ia berhasil. Tidak butuh waktu lama, dan tidak butuh banyak energi. Sebenarnya, jika takarannya benar. Maka mencetak tanpa energi sekalipun. Peluangnya keberhasilannya sangat tinggi.


Qin Yan meletakan kuasnya. Lalu mengambil hasil cetakan. Menyerahkannya pada tetua.


"Hm....." Disaat yang bersamaan juga, Weisi menyelesaikan cetakannya. Ia terkejut saat melihat pemuda bertopeng mendahuluinya.


'Oh siapa dia?' Batinnya dengan bingung. Ia juga menyerahkan gulungan nya pada tetua disaat mereka terlalu sibuk meneliti cetakan Qin Yan.


"Apa!! Cetakan ini sangat detail, rinci, dan rumit. Hanya master profesional yang bisa mencetak seperti ini." Satu per satu tetua mulai mengeluarkan kaca mata pengamat masing masing. Melihat secara detail garis gambarnya, kelurusan, kemiringan bahkan tekanan saat kuas menyentuh kertas.


"Ini...... Sepertinya aku kurang pantas memeriksanya. Tapi, senjata apa ini?" Mereka bingung dengan cetakan didalamnya. Bukan gambar seperti pedang, busur atau senjata istimewa keluarga Tang. Tapi senjata ini tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"Maaf tetua, apakah aku boleh keluar?" Tanya Qin Yan dengan sopan. Suaranya sangat berbeda hingga Weisi dibelakang tidak menyadarinya.


"Oh oh... Y-ya. Kau bisa... Tapi, bisakah kau memberi tahuku. Apa nama senjata didalam gulungan ini?" Tanya mereka dengan gugub. Qin Yan juga tidak ada alasan untuk menyembunyikannya.


"GhBt cosmos, senjata pembunuh secepat kilat." Setelah mengatakan itu, Qin Yan berbalik pergi keluar. Meninggalkan para tetua yang hanya terdiam.


"Ap-apa? Apa yang dia bilang tadi?" Mereka bingung, bahkan ada yang menganga dalam keterkejutan mereka.


"Heng En. Apakah kau pernah dengan nama senjata itu?"


Tetua yang ditanya hanya menggelengkan kepala.


"Mungkinkah dia mempermainkan kita?" Mereka mulai berpikir, dari cara Qin Yan menjawab. Anak itu sama sekali tidak memperhatikan etika.


"Tidak, itu tidak mungkin. Mana mungkin anak itu berbohong. Dilihat dari nada bicaranya, dia sangat sopan. Anak itu cukup misterius. Kita hanya bisa melihat senjata macam apa yang akan ia buat ketika dibabak kedua nanti."


Mereka menggelengkan kepala, Qin Yan sudah memberikan mereka kejutan. Siapa yang menyangka ada yang bisa membuat gulungan kondolisasi dalam waktu hanya dalam 5 menit.


*********


Ketika Qin Yan hendak menghilang, tiba tiba terdengar suara dibelakangnya.


"Tunggu, bisakah anda berhenti sebentar?"


Ternyata Weisi mengejarnya, ketika anak itu sampai dihadapan Qin Yan, dia bertingkah sopan didepan Qin Yan.


"Maaf, Bolehkah aku tahu namamu. Sejujurnya aku cukup tertarik padamu."


Mendengar itu, Qin Yan hanya tersenyum. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya dengan sopan pula.


"Terima kasih tuan muda, sebuah kehormatan karena telah istimewa dimatamu. Tapi, mohon maaf. Ketika waktunya tepat, kau pasti akan mengenalku." Qin Yan pun pergi melambaikan tangan. Sampai akhirnya ditempat sepi, anak itu menghilang menjadi asap putih.


Weisi masih diam berdiri ditempatnya, sampai akhirnya Qiu er datang dan menepuk punggungnya.


"Oh, Qiu er. Kau sudah selesai?" Tanya Weisi dengan heran.


"Yap, dari awal aku memang sudah merasa aneh. Jadi aku sedikit merubah takarannya, untungnya caraku manjur. Tapi, kenapa kau berdiri disini?"


Mendengar itu, Weisi menggelengkan kepala. Ia pun berjalan pulang, namun sejenak ia berhenti dan berbalik pada Qiu er.


"Oh, iya. Qiu er, apa aku boleh bertemu dengan pria itu sekarang?" Tanya Weisi dengan malu.


"Oh, memangnya kenapa?" Qiu er mengerutkan alisnya. Membuat wajah Weisi sesikit memerah, dengan gugub anak itu menjawab.


"Hm...? Bukannya kau bilang dia ada disini? aku hanya ingin cepat cepat bertemu dengannya. Pria mana yang tidak peka terhadapmu. Aku serasa ingin memukulnya, penderitaanmu selama ini akan terbalaskan. Hehehe....." Jawab Weisi dengan canda gurau.


"Hush, jangan banyak bercanda. Baiklah, ketua tim. Aku pergi dulu." Qiu er pun melambaikan tangannya seraya meninggalkan Weisi sendiri. Wajah Weisi yang ceria perlahan lahan menjadi sedih. Sejujurnya, hal yang tidak disadari Qiu er adalah betapa Weisi sangat menyukainya. Namun, dia harus mundur karena gadis itu sudah menyukai orang lain. Setidaknya menjadi teman penghibur ketika gadis itu sedih, kebahagiaan untunya .


*******


Disaat bersamaan, Asosiasi Pandai besi.


Qin Yan keluar, dengan keadaan dirinya memakai topeng yang berbeda. Hari ini, ia berhasil mengejutkan para tetua pengawas. Namun hal yang membuatnya senang bukan hanya itu, tapi Lin Fin yang juga berhasil masuk ke babak selanjutnya. Setidaknya mereka bisa berkompetisi lagi kedepan nantinya.


"Baiklah, kurasa tugasku selesai. Aku harus kembali." Qin Yan mencari tempat yang sepi, kemudian menghilang menjadi asap putih.


Ia bukan hanya mengikuti kompetisi membuat gulungan kondolisasi, tapi menggunakan klonnya untuk mengikuti kompetisi Penempaan. Karena keduanya terjadi diwaktu yang bersamaan, ia sama sekali tak punya cara selain menggunakan cara ini. Namun, hal yang mengejutkan bukan hanya itu saja. Tapi dia juga mengikuti kompetisi penyulingan. Dan tentunya ia berhasil memenangkan kompetisinya dan masuk ke babak selanjutnya. Ia bahkan menjadi penyuling tercepat.


Disaat ketiga klon itu memakai topeng. Klon Qin Yan yang satunya menonton pertarungan di Land of Heaven.


Tapi, yang tak disangka yaitu pemilik aslinya tengah tertidur dengan nyenyak dikamar tidurnya.


Karena jadwal pertarungan mereka disore hari, Qin yan lebih memilih tidur. Karena tadi malam ia tidak tidur sama sekali.


"Tok tok tok." Terdengar suara ketukan dari luar. Qin Yan yang masih ingin tidur, kini terbangun. Setidaknya, ia sudah terlalu lama tertidur dari pagi sampai siang seperti ini.


Ketika pintu dibuka, Qin Yan melihat Xiang xiang berdiri didepan pintu. Tapi Qiu er juga ada disampingnya.


"Huh... Ada apa Qiu er, kenapa kau datang?" Ucap Qin Yan dengan malas sambil menggaruk garuk rambutnya.


Tapi tanpa Qin Yan duga, Qiu er langsung menarik tangannya dan kembali masuk kedalam kamar. Pintu ditutup rapat rapat, hingga Xiang xiang sendiri jadi terkejut. Entah kenapa kecemasan meliputi hatinya, akhirnya ia memutuskan untuk menguping apa yang terjadi didalam.


"Hei! Apa terjadi padamu? Kau membuatku kaget." Qin Yan yang tadi masih dalam keadaan lemas kini terbelalak dengan apa yang dilakukan gadis ini. Ia bahkan didorong hingga terduduk dikasur.


'Apa yang dilakukan gadis ini. dia tak akan membuat yang tidak tidak kan?' Pikiran Qin Yan sudah dipenuhi pikiran negatif. apakah, Qiu er akan benar-benar melakukannya. siapa juga yang tidak senang, apalagi menolak ajakan dari gadis secantik Qiu er.


"hei!! jangan berpikiran macam-macam, aku datang ke sini untuk bertanya soal yang terjadi semalam." ucap gadis itu dengan sedikit kesal.


hal itu membuat Qin yan kembali sadar.


"oh maafkan aku. jadi apa yang apa yang mau kamu tanyakan? dan juga, bagaimana kondisimu sekarang?" Tanya Qin yan.


mengingat kondisi, Qiu er mau tidak mau harus berterima kasih pada Qin Yan. ketika tadi ia bangun, tubuhnya sangat rileks dan segar. meskipun masih berbekas rasa sakit di kakinya, tapi tak bisa dipungkiri kalau gadis itu merasa kondisi tubuhnya sudah membaik. walaupun kakinya agak terasa keram.


"Hm.... aku merasakannya, sepertinya aku harus berterima kasih padamu. tapi ada yang ingin aku tanyakan. Sampai berapa lama proses ini akan terjadi?"


"Oooh..." Qiu er mengangguk mengerti, tapi kemudian ia kembali menatap Qin Yan.


"ada apa, apa lagi yang mau kau tanyakan?" Qin Yan bisa melihat rasa penasaran di wajah gadis itu.


"Ada. aku ingin menanyakan apakah benar kau melarikan diri tiga tahun lalu karena kejaran keluarga wang dan keluarga Shen?" gadis itu bertanya dengan pelan.


Mendengar itu, Qin Yan hanya menunduk dan menjawab "Ya" . Hal itu membuat Qiu er membeku, Qin Yan bisa melihat gadis itu mengepalkan tangannya erat erat. Setelah melihat wajahnya. Ternyata Qiu er menangis. Sontak, gadis itu langsung menarik bajunya keatas membiarkan Qin Yan tergantung.


"kau bajingan!! tahukah kau seberapa menderitanya aku setelah mengetahui kematianmu? aku sendiri yang melihat mayat mu bersama Yue er dalam keadaan tak bernyawa. taukah kau apa yang kurasakan saat itu? tahukah kau apa sudah kau lakukan? kau sudah membohongiku. Aku menderita selama ini, kau bajingan! Bajingan!" Teriak Qiu er lalu mendorong Qin Yan dengan kesal. Ia kemudian menghentakkan kakinya, berjalan keluar kamar.


"Qiu er! Qiu er!" Qin Yan berusaha mengejar gadis itu, namun Qiu er sudah berlari cukup jauh hingga Qin Yan berhenti didepan pintu. Menatapnya dengan alis berkerut.


"Apakah kau tak ingin mengejarnya?" Tanya Lin Fin disamping. Ia tiba tiba muncul, bahkan Qin Yan kaget karenanya.


Memandangi tatapan anak itu yang seperti mengejek, Qin Yan mau tidak mau juga merasa kesal. Ia mengutuk Lin Fin sembelum pergi mengejar Qiu er. Sayangnya, gadis itu sudah sangat jauh hingga Qin Yan kehilangan jejaknya.


*******


Disebuah hutan.


Qiu er berhenti, disana ia duduk ditepi batu yang tinggi. Memandangi pemandangan kota, saat ia menyeka air matanya yang turun. Weisi tiba tiba mendatanginya.


"Ada apa? Kau kelihatan sedih, tidak disangka setelah kau pergi tadi sekarang suasana hatimu memburuk. Apa yang terjadi padamu, apakah kau disakiti orang lain. Katakan, biar aku yang memukulnya." Berkata Weisi dengan cemas sambil menyentuh bahu Qiu er. Namun gadis itu dengan melepaskannya secara halus.


"Percuma jika kau memukulnya, dia adalah pria brensek yang memalsukan kematiannya dan menipu kami semua."


"Apa!" Weisi sedikit menyerngit mendengarnya. Namun kemudian sikapnya menjadi lembut.


"Qiu er, mungkin pria itu punya alasan melakukannya. Tidak mungkin ia memalsukan kematiannya dan pergi begitu saja." Jelas Weisi sambil menatap kearah langit.


"Mungkin apa yang kau katakan ada benarnya juga." Mendengarnya, membuat Qiu er merenung sejenak. Dia mendengar Qin Yan dikejar oleh keluarga Wang dan keluarga Shen. Mungkinkah ada cerita dibalik semua itu dan alasan ia memalsukan kematiannya juga karena itu.


Seharusnya Qiu er harus mendengarkan penjelasan Qin Yan, anak pasti punya alasan melakukannya. Entah kenapa, setelah memikirkannya Qiu er jadi merasa bersalah. Kenapa tadi ia begitu egois dan memilih pergi.


'Aku harus kembali.'


Qiu er pun akhirnya berdiri, Weisi menatapnya dengan khawatir .


"Apakah kau akan pergi lagi? Bolehkan aku ikut?" Tanya Weisi, kali ini ia harus memastikan siapa pria itu.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Jawab Qiu er acuh tak acuh.


"Tapi...." Weisi langsung memegang tangannya.


"Aku tahu kau sangat menghawatirkanku, tapi aku juga punya kekuatan. Aku bisa melindungiku sendiri." Qiu er hendak pergi, namun tiba tiba semak semak gemerisik. Sampai akhirnya Qin Yan pun muncul.


"Qiu er, ternyata kamu disini." Senyum Qin Yan dengan lega, namun matanya agak menyerngit melihat Weisi memegang tangan gadis itu.


"Ah...!" Qiu er langsung terkejut, gadis itu langsung melepaskan tangan Weisi. Ia pun berbalik, dengan wajah memerah.


"Apa. Apa yang kau inginkan?" Tanyanya dengan gugub.


Qin Yan masih mencerna apa yang ia lihat, kemudian ia pun kembali seperti biasa.


"Oh, lupakan. Aku mungkin menganggu kalian." Qin Yan tersenyum canggung sembari menggaruk kepala yang tak gatal. Ia hendak meninggalkan mereka, tapi ternyata Qiu er menghentikannya.


"Tidak! Maksudku, apa yang kau lakukan? Kau datang kesini dan pergi lagi!" Tatap gadis itu dengan marah, Weisi hanya bisa melihat mereka dengan diam.


"Tidak, aku hanya...." Qin Yan menjawab pelan.


"Apa yang kau lakukan disitu saudaraku. Aku rasa kalian punya masalah yang harus diselesaikan." Weisi memaksakan senyumnya, ia mendorong pelan Qiu er agar maju didepan Qin Yan. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Qin Yan hanya diam menatap kepergiannya tanpa berkata kata, kemudian ia pun berbalik pada Qiu er.


"Tampaknya hubungan kalian cukup dekat."


Mendengar itu, Qiu er hanya melipat tangannya didada dan menatap kearah lain. Memaksakan raut wajah keangkuhan.


"Katakan apa yang mau kau katakan." Ia menatap Qin Yan dengan sebelah mata, kemudian kembali menatap kearah samping.


Qin Yan hanya diam mendengar nya, ia kemudian menuju ke tepi batu.


"Aku hanya ingin kau mendengarkan ceritaku. Walaupun hanya sesaat, tapi aku mohon. Tolong dengarkan aku walaupun sekali ini saja. Setelah itu, aku mungkin bisa berjanji padamu. Aku takkan mengganggumu lagi."


Qiu er tiba tiba jadi kaku, ia menatap Qin Yan dengan perasaan berkecamuk. Tatapan yang tadi tampak keras keras kepala, kini menjadi sayu. Ia kemudian duduk disampingnya Qin Yan.


"Katakan apa mau ceritakan."


Weisi yang tengah berada didalam pohon hanya bisa menatap mereka dari sana. Ia pun menghela napas dengan sedih, sebelum benar benar meninggalkan tempat itu.


Qin Yan juga menatap kearah Weisi sebelum anak itu benar benar pergi. Ia menghela napas menggelengkan kepala. Siapa yang menyangka kalau Weisi bisa menyukai Qiu er.


"Hei! Kau mau cerita atau tidak?" Tiba tiba Qiu er mencubit bahunya dengan kesal. Hingga Qin Yan tersadar dari pikirannya.


"Ba-baiklah akan kuceritakan."


Setelah itu, Qin Yan mulai bercerita tentang pelelangan sewaktu berada di kota Bintang. Ia dikejar oleh tiga pihak setelah pelelangan, karena dialah yang mendapatkan item utama pelelangan tersebut, mereka adalah keluarga Bara api (Wang), keluarga Keramat (Shen), dan guild kegelapan.


Qin Yan masuk dalam kondisi kritis saat itu, dan ia tidak sengaja membangkitkan kekuatannya. Dalam masa itu, ia mengalami keadaan tidak sadar. Ia seperti orang yang tertidur, namun ketika ia terbangun. Ia mendapati banyak sekali mayat diantara ketiga pihak tersebut, ia pun melarikan diri karena ketakutan. Sampai akhirnya ia tak punya cara lain selain memalsukan kematiannya. Karena ketiga pihak tersebut sangat kuat.


Tentu saja Qin Yan hanya menceritakan setengah kebenarannya karena pasti gadis itu tidak percaya jika dia menceritakan cerita yang sebenarnya.


"Jadi, mayat yang kutemukan dirumahmu itu..."


"Itu adalah klon ku, aku melarikan diri keluar kota. Sementara adikku mengubah identitasnya. Keluarga Wang dan keluarga Shen sangat kuat. Jika mereka tahu kalau kau dan Yiyin berhubungan denganku, dalam sekejap keluarga kalian akan rata."


Akhirnya, setelah mendengar itu, Qiu er terdiam. Ia akhirnya mengerti sekarang, rupanya Qin Yan meninggalkannya karena tak mau mereka dalam bahaya. Mau tidak mau iapun menghela napas.


"Aku juga minta maaf, padahal saat itu aku beralasan akan pergi selama tiga hari. Tapi malah tiga tahun, Hahah...." Qin Yan menggaruk kepalanya sembari tersenyum kecut. Waktu berjalan cepat dan sekarang sudah tiga tahun berlalu. Qiu er tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Dan Qin Yan juga tumbuh menjadi lebih dewasa.


"Tapi, kalau dipikir pikir. Aku jadi seperti ini karena janjiku padamu. Semenjak saat itu, entah kenapa aku sangat sensitif ketika ada orang yang menggangguku. Setelah aku berjanji padamu, aku mulai membiasakan diriku untuk melawan. Yah... Akhirnya aku jadi seperti ini!"


Qiu er yang mendengar itu jadi membeku, wajahnya langsung memerah karena tersipu malu. Teringat ketika terakhir kali Qin Yan bertemu dengannya waktu itu. Qin Yan pernah mengatakan, kalau mulai saat itu ia akan berubah. Jadi itukah alasannya, siapa yang menyangka sosok lugu Qin Yan waktu itu menyimpan sebuah kekuatan yang besar.


Disaat Qiu er berada dalam lamunannya, Qin Yan berdiri dan berjalan kebelakang. Hendak menuju pulang.


"Tampaknya aku sudah selesai, kalau begitu aku akan kembali. Semoga saja nanti kita bertemu dipertarungkan. Aku ingin bertarung denganmu lagi." Qin Yan melambaikan tangan.


Setelah perkataannya, Qiu er langsung tersadar. Mendadak ia berdiri, ia mengejar Qin Yan.


"Qin Yan!" Panggilnya.


Qin Yan pun berhenti, berbalik padanya.


"Bisakah kau kembali? Maksudku, kembalilah ke kota Bintang. Ayah dan ibu sangat sedih ketika mendengar kematianmu, mereka mencari sosok pekerja keras seperti dirimu. Tapi, sayangnya tidak ada pekerja sebaik dirimu. Apa kau lupa? Kau belum mengambil gaji bulananmu." Teriak Qiu er yang matanya memerah.


"Oh, aku memang lupa menyampaikan salam pada paman dan bibi. Bagaimana keadaan mereka berdua, pasti sehat selalu kan? Aku akan terus berdoa agar mereka selalu diberi kesehatan." Senyum Qin Yan.


"Bukan itu yang kumaksud bodoh!!. Aku ingin kau kembali, mungkin kita bisa memulainya bersama dari awal. Qin Yan, kau pasti akan diterima di akademi Busur surgawi. Aku yakin itu, jadi kumohon....!!" Air Qiu er mulai tak tertahankan.


Namun Qin Yan hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih. Hatinya perih melihat gadis itu menangis.


"Aku juga mau seperti itu, tapi sepertinya takdir berkata lain. Ayahku adalah raja kerajaan Sunmoon dan ibuku adalah murid sekte Menara Es suci. Sementara kehidupanku... Tidak semudah yang kau bayangkan. Selama tiga tahun ini, banyak sekali yang terjadi. Aku bahkan sekarang sudah punya seorang istri yang mengandung anakku. Kau juga harus menjaga diri baik baik Qiu er, kau gadis yang baik. Suatu saat nanti kau pasti akan bahagia. Tolong kau pakai hadiah yang kuberikan padamu, setidaknya hargailah kerja kerasku." Qin Yan menyentuh kepala gadis itu dengan lembut, kemudian ia pun memeluknya. Membiarkan Qiu er menangis dalam pelukannya.


"Kau tak pernah mengerti Qin Yan, kau tak...."


"Tentu, Qiu er. Aku mengerti perasaanmu. Aku mengerti itu, maaf karena tidak bertindak peka terhadapmu. Aku tahu kau begitu menyukaiku, tapi orang sepertiku apakah pantas untuk kau cintai?"


"Apa maksudmu?" Qiu er mendadak melepaskan pelukannya, menatap Qin Yan dengan tajam seolah olah tak senang dengan ucapan Qin Yan tadi.


"Apa kau masih merendahkan dirimu?"


"Tidak, maksduku. Aku hanya ingin memberitahumu, aku hanya seorang pria yang memprovokasi banyak gadis lain. Pria sepertiku mana mungkin cocok untukmu." Qin Yan berkata dengan gugub, tapi ia melihat Qiu er yang menatapnya makin tak senang.


"Bah, bilang saja kalau kau tak menyukaiku."


"Apa! Bukan begitu Qiu er, aku... Aku..." Qin Yan bingung apa yang harus ia katakan.


'Bagaimana aku harus mengatakannya Qiu er, kau adalah orang yang kucintai dikehidupan ku sebelumnya.' Qin Yan hanya memegang dahinya dengan bingung.


"Pppfftt..... Baiklah baiklah, aku mengerti. Tapi setidaknya kita teman kan?"


"Tentu saja, mana mungkin aku membuangmu. Aku tak bisa mencampakan seseorang meskipun ia adalah teman jauhku." Qin Yan membelai rambut gadis itu, bersiap pergi. Namun tiba tiba Qiu er berjinjit. Ia langsung mencium bibir Qin Yan, mata Qin Yan terbelalak namun keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat. Ia pun membalas ciuman gadis itu.