LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Keuntungan


Bong Goo menelan ludahnya sendiri. Berusaha bersikap tenang, namun ia masih tak bisa menghentikan tangannya yang gemetar karena saking kagumnya. Reaksi yang ia miliki tidak jauh berbeda dengan reaksi para bangsawan lain.


"Aku bersedia." Entah siapa yang berbicara, semua orang jadi menghadap ke suara tersebut. Seorang bos berwajah mengerikan yang sedari tadi menonton pertarungan hidup dan mati manusia kini merasa tertarik. Ia duduk disebuah kursi sambil menikmati minumannya yang manis. Namun tak bisa dipungkiri kalau ia juga berat mengeluarkan uang sebanyak itu. Dengan berat hati, ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu. Kartu penyimpanan yang fungsinya khusus sebagai tempat penyimpanan gudang koin emas. Kalau dipikir-pikir, empat miliyar mungkin telah memenuhi ruangan di cincin penyimpanannya.


Qin Yan kemudian tersenyum.


Tak mau kalah, Bong Goo memanggil keponakannya Bong Sha. Berbisik sesuatu yang membuat mata Bong Sha terbelalak.


"A-apa! Pa-paman, anda yakin?" Raut wajah kecemasan terpaut diwajah Bong Sha.


"Aku menyuruhmu pergi, kenapa kau membantah?" Bentak Bong Goo dengan wajah menakutkan, Bong Sha sendiri jadi pucat kemudian terpaksa keluar ruangan. Ia menuju ke bendahara keuangan keluarga mereka. Bong Goo berniat menyuruh keponakannya untuk meminjam beberapa milliyar dari keluarga utama. Dan Bong Sha tahu, kalau beberapa milliyar itu hampir menghabiskan seluruh kekayaan mereka. Tapi, mau tidak mau ia harus melaksanakan keinginan pamannya. Dimatanya, Bong Goo sangat menakutkan hingga membuatnya tak tahan untuk bernapas. Dengan cepat, ia kembali ke keluarga.


Sementara Bong Goo diruangan, hanya memperlihatkan keangkuhannya.


"Tunggulah sebentar, ketika Bong Sha kembali, maka kita bisa memulai permainannya." Bong Goo bersandar santai dikursinya. Matanya tidak lepas dari benda yang ada diatas meja. Napasnya tidak beraturan melihat beberapa harta Karun itu, jika ia mendapatkan gulungan kondolisasi itu. Entah berapa banyak keuntungan yang ia dapatkan jika gulungan itu disalin dan dijual dengan harga yang lebih mahal. Anak didepannya benar benar loyal.


Tidak lama kemudian, pengusaha pengusaha lain jadi berkumpul. Satu satu persatu mulai mengeluarkan kartu penyimpanan mereka.


"Aku juga ingin bertaruh."


"Aku juga!"


"Aku akan akan ikut."


Karena merasa tak bisa mengendalikan suasana, Jan er terburu buru menuju keruang pemilik tempat ini. Yah, ayahnya sendiri. Ia meminta ayahnya untuk menuju kesalah satu ruangan tempat perjudian.


Meskipun ayahnya ini tak tertarik, namun melihat raut wajah putrinya yang sangat serius. Membuatnya penasaran, apa yang terjadi sebenarnya hingga putrinya bisa secemas itu.


Saat ia memasuki ruangan, ia tidak sengaja berpaspasan dengan seseorang. Kebetulan dia adalah tamu terhormatnya. Namun, orang itu terlihat begitu terburu buru menuju ruangan yang ditunjuk putrinya. Orang itu masuk dengan membawa beberapa pengawal.


"Tuan Jan, nona Jan. Kebetulan anda disini. Mari masuk bersama sama." Pria tersebut membungkuk hormat, dan ayah Jan er sangat menghargai itu.


"Hmm... Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kau terburu buru tuan Tian?" Tanyanya sambil mengelus janggutnya.


"I-itu....." Pria tersebut menunduk sesaat, namun belum sempat ia menyelesaikan perkataannya. Tiba tiba seseorang menabraknya dengan kasar.


"Minggir!" Bong sha membentak siapapun yang menghalanginya ketika jalan. Ia sangat tergesa gesa. Seorang pria tua dan wanita muda mengikuti dibelakangnya . Tampaknya, mereka adalah istri Bong Goo dan kepala keluarga keluarga Bong.


Saat masuk, suasana bertambah menjadi semakin riuh. Ayah Jan er masuk kedalam dengan menebarkan auranya.


Terjadi pertengkaran sejenak didalam ruangan, Bong Goo berdebat dengan kepala keluarga mereka sejenak untuk mengacaukan suasana.


Namun, disaat pemilik tempat ini datang. Barulah mereka berhenti. Kericuhan tersebut cukup membuat ayah Jan er marah. Ia menatap dingin kearah Bong Goo dan memarahinya sesaat.


"Ternyata kalian cukup punya nyali membuat kekacauan di tempatku." Tatapan ayah Jan er cukup membuat semua orang ketakutan.


Qin Yan dari samping jadi memperhatikannya, dilihat dari auranya ia sepertinya berada di tahap raja.


"Maaf tuan, ka-kami hanya berdiskusi saja. Maafkan ketidak sopanan kami." Jawab kepala keluarga Bong dengan ketakutan. Sesekali ia menyenggol Bong Goo untuk mengakui kesalahannya.


Setelah mereka meminta maaf, barulah pemilik tempat itu mencari sumber masalah. Ia melihat Qin Yan yang duduk santai disamping tidak jauh darinya. Alisnya berkerut sedikit saat melihat ketenangan anak itu yang seolah tidak terpengaruh apa apa. Mungkin karena anak itu belum mengenalnya atau dia mungkin berstatus sosial tinggi. Hingga ayah Jan er lebih memperhatikan anak itu dari pada orang lain.


Baru sedetik ia melihat Qin Yan, Jan er sudah berbisik kepadanya. Setelah mendengarkan laporan putrinya, barulah ia mengerti. Ia kemudian menatap Bong Goo dan kepala keluarga Bong.


"Karena kesepakatannya sudah deal, maka kau tak mempunyai hak untuk menghentikannya patriak Bong. Aku harap anda mengerti aturan kami." Ucap ayah Jan er dengan tenang namun tegas. Tentu saja membuat kepala keluarga Bong jadi khawatir.


"Tapi....." Ia hendak berbicara karena tidak setuju dengan putranya yang semena mena mengambil keputusan. Namun, karena tatapan ayah Jan er yang sangat mendominasi, ia pun mengiyakannya. Berharap, agar putranya Bong Goo tidak melakukan kesalahan yang membuat keluarga mereka bangkrut.


Kemudian ayah Jan er pun menatap Qin Yan. Dan apa yang ia lihat diatas meja, membuat matanya jadi membesar. Siapa yang menyangka sosok yang sangat tenang Dimata semua orang bahkan tidak bisa menjaga keterkejutannya ketika melihat barang taruhan Qin Yan.


'I-ini....!! Sudah berlebihan bukan?' Setetes keringat menetes dipipi pria paruh baya tersebut.


Tatapan matanya bukan tertuju pada gulungan kondolisasi. Tapi disebuah kotak yang terdapat mutiara kecil yang bersinar keemasan. Itu benar benar menarik perhatiannya. Seandainya Qin Yan mau menjualnya, dia akan membayar beberapa pun yang Qin Yan mau.


Ayah Jan er yang tengah melamun langsung disadarkan oleh Jan er disamping. Semua orang telah menunggu jalannya permainan.


Ayah Jan er pun terbatuk sejenak. Ia kemudian mengumumkan.


"Baiklah, karena aku ada disini. Kalian boleh memulainya. Aku jamin, permainan kali ini akan baik baik saja." Ia tersenyum sedikit sambil menyambut mereka. Namun, sebenarnya ia diam diam melirik Qin Yan. Anak yang membuatnya sangat penasaran karena saking misteriusnya.


Bong Goo mengambil posisi duduknya. Berhadapan dengan Qin Yan. Sementara yang lain juga mengambil tempat duduk mereka. Kali ini, permainannya bukan hanya dimainkan dua orang. Tapi lebih dari 4 orang.


Qin Yan yang tengah bersiap menunggu kartu, tiba merasakan ada seseorang yang memegang bahunya. Ia pun berbalik dan melihat seseorang yang ia kenal.


"Oh, Tian An Jing. Kenapa kau ada disini?" Tanya Qin Yan.


"Aku kebetulan sedang berada disini karena ingin bertemu dengan rekan Bisnisku. Tapi, tuan. Apakah anda yakin akan bersaing dengan Bong Goo? Dia itu....."


"Tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya. Sebaiknya kau persiapkan dirimu, aku akan bertanya secara detail apa yang kau lakukan disini." Qin Yan menatapnya dengan tatapan curiga dibalik senyumannya yang ramah.


Tatapan dingin seakan akan menelan pria itu mentah mentah, membuat sekujur tubuh Tian An Jing gemetar tak terkendali. Teringat akan penderitaan yang ia alami beberapa waktu di masa lalu. Membuatnya menderita beberapa trauma dan membuatnya tak berani menantang atau menghianati Qin Yan lagi. Di depan anak yang serba tahu ini, ia tak bisa apa apa.


Ia mundur selangkah, membayangkan apa yang terjadi nantinya jika tuan muda ini benar benar marah padanya.


Namun, ia tetap mempertahankan sikapnya. Dia sekarang ada didepan umum, dan sebagai pembisnis ia harus bersikap profesional.


"Ba-baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu anda tuan." Meskipun sedikit gugub, tapi gaya bicaranya begitu lancar. Qin Yan yang menyadari itu hanya tersenyum tipis atas pertahanan sikapnya.


Sebaliknya, dengan bertindaknya Tian An Jing yang sangat sopan. Membuat semua orang jadi gempar. Mereka menatap sosok Qin Yan sekarang. Siapakah dia, hingga seorang pembisnis terkenal seperti Tian An Jing membungkuk hormat padanya. Jika begitu, maka berarti Qin Yan berasal dari kerajaan Sunmoon. Kerajaan dimana legenda yang mereka dengar ada disana.


Beragam pertanyaan memenuhi kepala mereka. Kini, mereka mulai merasakan takut ketika melihat ekspresi Qin Yan yang datar.


Sampai akhirnya mereka tersadar ketika Qin Yan berdehem, melunakan situasi.


'Sekarang, anak ini bertambah misterius. Dia sebenarnya siapa?' Bahkan pria paruh baya, ayahnya Jan er merasa segan terhadap Qin Yan. Namun, sama seperti Tian An Jing. Ia juga harus mempertahankan sikapnya.


"Baiklah, dengan ini. Permainan resmi dimulai!"


Namun, apa yang mereka dapatkan. Melawan seseorang yang sudah berumur ribuan tahun? Yang mempunyai pengalaman banyak dari waktu yang ia habiskan. Itu tidaklah seberapa, taktik licik yang merencanakan, dengan mudah ditepis oleh Qin Yan. Bahkan mereka terlihat sedikit tertekan, karena Qin Yan melebihi perkiraan mereka.


Selama permainan, Jan er dan ayahnya selalu memperhatikan gerak gerik anak itu. Keterampilan, kecerdikan, taktik, serta kelicikannya bahkan membuat mereka jadi sedikit takut. Jangan bilang, Qin Yan hanya memancing mereka dengan taruhan yang ada diatas meja. Sebenarnya ia sudah merencanakan ini. Semua pembisnis kaya yang ada disini sebenarnya sudah masuk dalam jebakannya.


'Rupanya begitu.' Ayah Jan er mengangguk mengerti. Disaat bersamaan, ia mulai menyadari. Qin Yan bukan orang sembarang untuk disinggung.


Beberapa saat kemudian.


Semua orang ternganga, Qin Yan mengambil kartu penyimpanan koin mereka yang terpampang diatas meja. Kartu kartu itu, berisi seluruh kekayaan mereka semua. Hingga tak satupun dari mereka merelakan uang tersebut.


Namun, apa daya mereka. Mereka kalah dalam permainan. Bisa dibilang, kalah telak. Luar biasa, anak ini kemampuan judinya sangat luar biasa. Sifatnya yang tenang membuat mereka tak bisa apa apa, apalagi dengan adanya ayah Jan er disini sebagai pengawas tingkat raja.


Disisi lain, Bong Goo memegang kepala dengan dengan frustasi. Uang sebanyak itu, hangus begitu saja. Ia juga merasa tak tenang, karena ayahnya selalu menatapnya dengan niat membunuh ketika melihat Qin Yan memasukan seluruh kekayaan itu kedalam cincin penyimpanannya.


"Tidak! Aku tidak terima. Ayo kita bermain sekali lagi." Akhirnya, seorang pengusaha berdiri dengan wajah gila. Tampaknya ia sudah tidak waras setelah mengetahui kalau dirinya sekarang sudah miskin. Ia berdiri menatap Qin Yan dengan tatapan tidak sabar.


"Apa kau punya uang?" Tanya Qin Yan dengan alis terangkat sebelah.


Pertanyaan tersebut langsung membuat pria itu membeku. Ia terdiam sesaat kemudian menjawab dengan gugub.


"Te-tentu, aku tentu punya uang. Sekarang, mari kita bermain sekali lagi!"


Qin Yan yang melihat itu, tatapan semakin dingin. Ia kemudian berbicara lagi.


"Lalu, dimana uangmu?"


"Hah!" Pria itu jadi salah tingkah mendengarnya. Ia sadar kalau ia tidak punya uang yang sama sekali. Tapi, ia benar benar tak sudi kehilangan uangnya. Oleh karena itu, ia harus bermain sekali lagi.


"Tenang saja kalau masalah uang. Yang penting kita bermain sekali lagi."


Qin Yan menghela napas mendengar itu.


"Aku tidak tertarik. Aku sudah lelah." Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. Membuat pria itu langsung panik.


"Ap-apa! Apa yang kau lakukan! Berhenti! Hei! Berani beraninya kau melakukan itu!"


Qin Yan terhenti sejenak, ia berbalik menatap pria itu. Tatapannya dingin dan tajam, tekanan batin mulai keluar. Tatapannya bahkan membuat semua orang disana jadi merasa kedinginan. Tidak terkecuali ayah Jan er sendiri yang berada ditahap raja.


"Memangnya apa yang mau kau lakukan?" Suaranya mengandung niat membunuh, membuat pria itu langsung terjatuh bagaikan ditatap oleh dewa kematian. Melihat Qin Yan yang menjauh, ia kemudian berlutut menempel pada kaki anak itu.


"Kumohon, aku aku.... Ayo kita bermain sekali lagi. Aku akan menjual hidupku. Aku akan menjual hidupku dalam taruhan ini. Jika aku kalah, aku mungkin bisa menjadi budak berguna untukmu. Oleh itu, ayo kita bermain sekali lagi." Pria itu mulai memohon atas harga dirinya dan martabatnya. Dia hanya ingin uangnya tadi kembali. Semua kekayaannya yang ia kumpulkan selama ini jadi habis dalam satu gerakan. Ini kesalahannya karena terlalu tamak. Oleh karena itu, satu kali permainanan saja. Ia ingin bermain dengan serius demi mendapatkan uangnya kembali. Setelah itu, ia akan melarikan diri kemudian memulai hidupnya yang baru. Dan mulai belajar dari kesalahan ini.


Disaat ia sangat percaya diri Qin Yan pasti akan setuju permintaannya. Disaat itulah ia sadar, kalau Qin Yan telah menendangnya dengan kasar. Hingga ia tersungkur dilantai.


"Aku tidak tertarik dengan hidupmu. Memangnya berapa harga nyawamu? Kau pun tidak berguna apa apa." Ucap Qin Yan dengan dingin, lalu ia meninggalkan ruangan yang sunyi dan diam. Meskipun pria itu memohon mohon, tapi Qin Yan sama sekali tidak menggubrisnya.


********


Ruang pribadi pemilik perjudian ilegal.


"Baik tuan Jan, terima kasih karena anda telah bersedia mengawasi jalannya permainan. Jika tidak ada anda, mungkin permainan tadi tidak selancar yang diharap kan, aku juga tidak bisa berpikir bagaimana jadinya jika tidak ada anda." Qin Yan terlihat sedikit membungkuk hormat ketika duduk berhadapan dengan pemilik tempat ini. Dibelakangnya ada Tian An Jing yang berdiri layaknya anak buah. Disebelah sang pemilik juga ada Jan er yang juga berdiri disisinya.


Sedari tadi, Jan er selalu menatap Qin yan selama ia mempunyai kesempatan. Meskipun sikapnya begitu tenang, namun ia akan mengalihkan pandangan jika tak sengaja bertemu dengan tatapan Qin Yan. Kalau dilihat lihat , suasananya cukup canggung. Namun, Qin Yan cukup berpengalaman hingga ia bisa mengontrol ekspresinya dengan baik.


'Huh!! Dia tidak menghiraukanku yah.' Batin Jan er dengan sedikit tak senang.


Setelah mendengar perkataan Qin Yan, ayah Jan er terbatuk sejenak. Ia kemudian memaksakan senyum ramahnya.


"Itu memang sudah tugasku tuan. Selamat atas kemenangan anda."


"Hahaha.... Sama sama tuan Jan. Kalau begitu, kami pamit dulu." Qin Yan menjabat salam pria paruh baya itu, tersenyum segan kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Tuan Qian. Jika ada kesempatan dimasa depan. Datanglah dan minum teh bersama kami."


Qin Yan hanya mengangguk menanggapi itu. Mengatakan semoga dimasa depan ia mempunyai kesempatan. Kemudian ia pun beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.


Setelah kepergiannya, ayah Jan er terdiam dalam waktu yang cukup lama. Ia sedari tadi termenung setelah menatap punggung Qin Yan.


"Jan er, bagaimana menurutmu anak itu?" Tanya pria paruh tersebut sambil mengelus janggutnya.


Jan er hanya berdiri diam disamping tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Ia hanya berbicara dengan nada tenang.


"Entahlah ayah. Aku merasa dia berbeda dengan anak lain. Mempunyai sebuah aura misterius yang membuat kita semua seakan tunduk padanya."


Ayahnya hanya mengangguk mendengar itu.


"Kau benar, aku juga merasakan seperti itu. Namun, ada satu hal yang sangat menggangguku"


"Apa itu ayah?" Tanya Jan er dengan raut kebingungan.


"Rumor mengatakan, kalau Qin Yan adalah pangeran dikerajaan Sunmoon. Setahuku marga raja disana adalah Qian. Kemungkinan anak itu adalah Qin Yan, mengingat kecerdasan dan kelicikan yang ia miliki." Ucap pria itu dengan penuh percaya diri, namun Jan er hanya menggelengkan kepala ketika mendengarnya.


"Sepertinya ayah terlalu banyak berpikir. Bukankah aku sudah bilang untuk berhenti terobsesi dengan anak itu." Ia pun menyeduhkan teh untuk ayahnya agar dapat menenangkan diri.


********


Setelah permainan yang begitu menyenangkan, Qin Yan benar benar tak menyangka kalau ia akan mendapatkan keuntungan yang tinggi seperti ini. Sebagai seorang pemimpin sekte, keuangan Qin Yan selama ini telah terkuras untuk pembangunan dan pemulihan kerajaan. Bisa dibilang, ia sekarang sangat miskin. Dengan mengandalkan modal yang ia dapatkan dari taruhan saat turnamen, sekarang ia mendapatkan laba yang cukup tinggi dari judi ilegal itu. Siapa yang juga yang tidak senang atas hal ini.


"Tian An Jing, setelah ini. Mari kita minum bersama dengan teman teman." Ucap Qin Yan sambil bersiul ketika berjalan.


"Eh aku!" Tentu saja hal itu membuat Tian An Jing sangat terkejut. Namun ia mengerti hal itu, tuan nya Qin Yan sedang berada dalam suasana hati yang bagus.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka sampai kepenginapan. Namun, disela sela perjalanan, Qin yan terhenti. Ia menghadap kesamping dengan wajah gelap.


"Keluarlah, aku tahu kalian ada disini."