LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Sang ketua yang turun tangan


Pertarungan akhirnya berakhir, dua babak satu lawan satu dimenangkan oleh kerajaan Sunmoon. Artinya kelompok Qin Yan mempunyai 40 poin. Dibabak ketiga, terdapat pertarungan dua lawan dua dengan poin yang tinggi yaitu 40 poin. Seandainya saja jika kerajaan Sindran memenangkan pertarungan babak ketiga ini maka poin dianggap imbang.


Xiu Xiu kembali ke lobby, menghadap kepada Qin Yan. sementara para petugas medis mencari keberadaan Gao Lu di lapangan. butuh waktu lama untuk menggali pasir yang masih berserakan, sampai akhirnya mereka menemukan tubuh Gao Lu. untungnya anak itu hanya kehilangan kesadaran, dan teman-temannya mengirim Gao Lu keperawatan medis.


semua anggota kerajaan Sindran, berdiri dengan wajah gelap. sampai akhirnya, seorang wanita berotot. berpakaian kulit singa, dan wajahnya ditutupi topeng tengkorak kepala banteng. melangkah maju dengan menyeret sebuah senjata yang terbuat dari tulang. tulang tersebut sendiri sangatlah besar, seperti tulang paha dari suatu hewan raksasa. Melihat wanita itu membawanya tampak berat, semua orang menjadi begitu bingung. Apa sebenarnya membuat tulang itu begitu berat.


"Ayo pergi." Ucapnya dengan tenang, kepada pria berbaju besi yang berdiri didepannya. Wanita itu kemudian mengangkat tulangnya, lalu memikulnya dibahu. Ia berjalan kelapangan tanpa berbalik sedikit pun.


Pria yang memakai baju besi awalnya terdiam sejenak, namun melihat keadaan Fi er, ia kemudian ia pun mengepalkan tangannya. Hari ini, mereka telah mengalami kekalahan. Bahkan dalam dua pertarungan, mereka malah tidak mendapatkan kemenangan. Ini seperti mereka kehilangan harga diri, apalagi para penonton telah menyaksikan sosok dari klan Boneka yang sudah menampakan diri.


'Aku tak boleh kalah disini, apapun yang terjadi, aku akan terus berjuang. Aku akan mengembalikan situasi ini.' Pria itu menggertakan gigi, kemudian ikut berjalan kelapangan.


Qin Yan yang tengah mengamati mereka, kini tiba tiba tersenyum. Ia merapikan pakaiannya, dan berbalik pada Lin Fin.


"Kenapa kau melihatku begitu saudaraku? Apakah kau ingin aku yang bertarung?" Lin Fin yang ditatap seperti itu, merasa aneh. Mendengarnya, hanya membuat Qin Yan terkekeh.


"Memangnya apa lagi?"


Lin Fin langsung menjadi semangat, ia pun mendekat disamping Qin Yan.


"Benarkah itu saudaraku? Ki-kita bertarung bersama?"


"Tentu. Ayo cepat, mereka sudah menunggu kita."


Qin yan dan Lin Fin berjalan kelapangan. Sampai mereka terhenti didepan lawan mereka.


"Oooh, akhirnya ketuanya maju yah?" Wanita berotot didepan, melototi Qin Yan sembari melipat tangannya didada. Menatap Qin yan dengan remeh.


Tapi Qin Yan tidak menghiraukannya, ia hanya tersenyum sambil meregangkan ototnya.


"Yah, kurasa aku sudah lama tidak bertarung. Karena kau yang mengajakku berbicara, maka kau adalah lawanku."


Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, seperti menertawai badut. Baginya, Qin yan tidak terlalu ia pikirkan. Tapi, yang menjadi ancaman baginya yaitu Lin Fin si anak kuat yang mampu mengalahkan Cu he dari kerajaan Nerta.


Mengenai mengapa wanita itu sangat mewaspadai Lin Fin, itu karena Cu he dan wanita itu adalah peserta turnamen tiga tahun lalu. Wanita itu sendiri menyaksikan kekuatan Cu he, dan ia yakin kalau Cu he tidaklah lemah. Karena faktanya, ia kalah pada Cu he dipertarungan tahun lalu. Oleh karena itu, ia mengerti betul seberapa kuat Cu he sebenarnya. Namun, Cu he telah dikalahkan anak yang bernama Lin Fin ini. Itu berarti ia jauh lebih kuat dari Cu he. Oleh karena itu, wanita itu terus melototi Lin Fin sepanjang waktu.


Lin Fin sendiri juga mengabaikannya, ia menggaruk telinganya sambil menoleh ke Qin Yan. Ia juga menyadari, selain wanita itu. Pria didepannya juga selalu menatapnya dengan tatapan tajam. Mau tidak mau ia hanya menghela napas, menunggu aba aba si wasit.


Sebelum pertarungan dimulai, seperti biasa. Masing masing harus memperkenalkan diri masing masing. Melihat mereka hanya diam dan angkuh, Qin Yan mengambil inisiatif untuk memberi hormat duluan. Ia hanya tertawa kecut dalam hati, mengapa anak anak ini selalu bersikap sombong dan superior didepan lawan yang belum mereka kenal.


"Kerajaan Sunmoon, Qian Yan."


Setelah Qin Yan membungkuk pun, mereka masih tidak bereaksi sama sekali. Hingga Lin Fin yang melihat itu, jadi sedikit emosi. Ia pun memperkenalkan diri tanpa membungkuk sedikit pada mereka.


"Kerajaan Sunmoon, Lin Fin."


Barulah setelah itu, dua orang tersebut juga memperkenalkan diri mereka.


"Kerajaan Sindran, Fi Ang"


"Kerajaan Sindran, Ma Quin."


Setelah itu, wasit memberi aba aba mulai. Dengan penuh gairah bertarung, Ma Quin menerjang Lin Fin tanpa banyak membuang waktu.


"Hahaha.....!! Mati kau....!!" Tawa wanita itu sambil mengangkat senjata tulangnya diudara. Namun entah apa yang membuatnya terasa aneh disamping, sudut mata Ma Quin melirik kearah Qin Yan.


Mata merah Qin Yan aktif, dan ia tersenyum sinis pada wanita itu.


Sesaaat kemudian, senyum gairah diwajah Ma Quin terhenti. Digantikan dengan ekspresi kosong, seperti orang terhipnotis.


"Buakh"


Lin Fin mengambil kesempatan itu, untuk memukulnya sejauh kekuatan yang ia punya. Membuat wanita itu terpental hingga Kedinding, dan kehilangan kesadaran untuk sementara waktu.


"Apa!!" Fi Ang yang melihat itu, menggertakan giginya. Tangannya terkepal dan ia menatap Lin Fin dengan tajam karena belum mengerti apa yang terjadi.


"Apa yang kau lakukan sialan?" Ucapnya dengan geram.


Namun Lin Fin hanya tersenyum mengejek melihat reaksinya.


"Hahah.... Apa yang aku lakukan? Menurutmu?" Ia melesat menuju pria itu, memberikan dia sebuah pukulan. Namun tiba tiba, terdengar suara dentuman. Lin Fin mendapati tinjunya, ditangkis oleh sebuah boneka yang cukup besar didepannya.


"Boom"


Boneka itu hendak membalas pukulannya, namun Lin Fin mundur kebelakang. Akibatnya boneka itu hanya menghantam tanah.


"Akan kuhajar kalian semua!!" Teriak pria itu, sepuluh boneka mucul secara bersamaan. Menerjang dan menyerang Qin Yan dan Lin Fin. Boneka ini memiliki kemiripan dengan boneka milik Fi er. Hanya saja jumlah mereka dua kali lebih banyak.


"Bubububu...." Ratusan senjata ditembakkan dari langit, Lin Fin mendapati dirinya tidak bisa menghindari semua itu. Ia hanya menggunakan skill bertahan untuk melindungi diri.


Namun, berbeda dengan Qin Yan. Lin Fin diam diam melirik Qin Yan yang tersenyum padanya disana. Matanya merahnya tetap aktif, dan ketika bertatapan dengan Lin Fin mata merah itu langsung semakin menyala.


Sesaat kemudian, Lin Fin menyadari ada yang aneh dengan dirinya. Dia mendapati kalau penglihatannya menjadi agak sedikit berbeda. Saat ia menoleh keatas, dimana ratusan senjata tak terbatas menghujani mereka. Ia langsung ternganga.


Entah kenapa Lin Fin terasa seperti membaca pergerakan musuh, bukan hanya itu. Matanya bisa melihat sederet informasi yang yang dikirimkan langsung ke otaknya. Bahkan serangan itu rasanya bergerak melambat.


Saat itulah ia menyadari kalau Qin Yan telah berbagi penglihatan dengannya. Saat Qin Yan mengedipkan matanya sejenak, terlihat sebuah ruangan kotak kotak memenuhi sekitarnya. Salam waktu singkat, lapangan yang berbentuk lingkaran kini seperti ruangan virtual di mata Lin Fin. Meskipun saat ini Lin Fin belum terbiasa. Namun tubuhnya bergerak lebih refleks dari apa yang ia pikirkan.


Bukan karena dikendalikan, tapi Lin Fin rasanya telah membangkitkan syaraf motorik yang tengah tertidur di dalam dirinya. Dengan kemampuan itu, ia dengan mudahnya melangkah maju tanpa dikenai oleh ratusan hujan senjata yang ditembaki oleh boneka pria disana.


"Ap-apa!!" Tentunya saja, pria itu langsung tercengang. Menyadari dirinya berada dalam bahaya, ia langsung menggunakan jurus rahasianya tanpa membuang waktu.


Jika boneka rahasia milik Fi er adalah sebuah boneka raksasa kematian, maka bonekanya adalah boneka prajurit perang berkisar sekitar ratusan.


Dengan itu, ia langsung mengerahkan seluruh bonekanya melawan keberadaan Lin Fin dan Qin Yan.


Sekarang lapangan telah ditutupi oleh kumpulan boneka, bahkan sosok Lin Fin dan Qin Yan tidak terlihat.


Mau tidak mau hal itu membuat Fi Ang menghela napas lega.


Namun tidak lama kemudian, sebuah pisau terlihat berputar kesana sini. Fi Ang menyipitkan matanya. Namun seketika, saat itu Qin Yan muncul didepannya dengan sebuah rasenggan biru ditangannya.


Fi Ang menyadari hal itu, matanya terbelalak tak percaya. Namun cukup terlambat untuk menghindar, rasenggan itu sudah mengenai dada kirinya.


"Booom"


Saat berikutnya terlihat, Fi Ang terpental hingga Kedinding mengikuti Ma Quin.


"Ma Quin! Ma Quin! Cepat bangun! Hei!!"


Setelah beberapa saat, akhirnya wanita itu terbangun. Ia mendapati Fi Ang dalam keadaan berdarah didepannya. Hal tersebut membuatnya langsung sadar.


"Bagaimana situasi nya?" Tanyanya dengan khawatir.


"Pertarungannya belum selesai, mereka lawan yang kuat. Kita tak boleh meremehkan mereka." Jawab Fi Ang sambil menatap Qin Yan, sementara Lin Fin masih berada diantara boneka bonekanya.


"Craaak" Tidak lama setelah itu, salah satu boneka terhempas berkeping keping. Disitulah, Lin Fin keluar sambil memperbaiki posisi lengannya.


'Oh, sial. Siapa yang menyangka, kalau mereka akan begitu kuat. Bahkan kami sangat kesulitan melawan mereka.' Batin Fi Ang dengan cemas, wanita disampingnya bertanya padanya.


"Jadi, menurutmu kita harus bagaimana?"


Mendengar itu, Fi Ang berpikir sejenak. Kemudian matanya tertuju pada Qin Yan.


"Kita bereskan dulu pria bermata merah itu, dia terlihat sangat berbahaya." Fi Ang menampilkan wajah serius. Namun, Ma Quin agak ragu mendengarnya.


"Benarkah begitu saudara Fi? Tapi, kurasa anak bernama Lin Fin itu sangat kuat. Kenapa kita tidak menargetkannya dulu?"


"Terserah apa yang kau inginkan. Jika kau tak ingin kalah, lebih baik kau dengarkan aku. Kita hancurkan dulu pria bernama Qian Yan itu. Setelah itu, barulah kita melawan anak yang bernama Lin Fin."


Fi Ang, masih menatap Qin Yan yang hanya berdiri tenang disana. Ia kemudian menyeka darah diwajahnya, mulai mengendalikan boneka nya untuk terus menyerang Qin Yan dan Lin Fin.


Melihat Fi Ang yang begitu serius, Ma Quin jadi ikut menatap kearah Qin Yan. Ia pun berdiri, setelah dipikir lebih lama. Alasan ia mendapat serangan karena mata merah anak itu.


'Sepertinya benar, mata anak itu agak aneh. Aku harus membereskannya dulu.'


Dengan itu, Ma Quin mengangkat senjatanya lagi. Melesat menyerang Qin Yan.


Saat ini Qin Yan tengah berusaha menghindari semua boneka yang tengah menyerang. Ada yang kuat, ada yang juga cepat. Terkadang Qin Yan mengincar tangan mereka untuk dihancurkan, bahkan menyerang leher mereka agar lumpuh.


Saat memusatkan ke fokusannya, ia mendapati sebuah titik lemah pada boneka itu. Segera, informasi yang sama juga didapat oleh Lin Fin. Mereka mulai menyerang bagian punggung boneka, yang membuat boneka tersebut jadi berhenti berfungsi.


Sekitar sepuluh boneka berhasil dilumpuhkan dalam sekejap. Qin Yan memusatkan fokusnya kearah Fi Ang. Namun ternyata Ma Quin langsung datang menghajarnya.


"Hiyaaah!" wanita itu menyerang Qin Yan secara membabi buta dengan senjata tulangnya.


Sementara Qin Yan hanya terus menghindar dan menghindar. Sampai akhirnya ia mengambil alih untuk menyerangnya balik.


"Bukh" Sebuah tinju mendarat diperut wanita itu, namun yang membuat Qin Yan begitu heran. Tidak ada efek apa apa yang dirasakannya, apa yang terjadi?


Tiba tiba Ma Quin menggenggam leher Qin Yan, membantingnya ketanah.


"BOOM" Asap mulai mengepul, terlihat Qin Yan dilempar balik ke belakang bagaikan sesongok kayu.


Ternyata wanita itu sengaja menerima pukulan Qin Yan, demi mendapatkan kesempatan ini. Memikirkan itu, Qin Yan yang tengah terbaring ditanah jadi tersenyum. Ia kemudian bangkit kembali. Membersihkan debu dipakaiannya.


"Tidak kusangka seorang wanita sepertimu mempunyai fisik yang luar biasa." Puji Qin Yan dengan senyum sinis. Ia mengambil ancang ancang siaga.


Ma Quin juga melepaskan senjatanya, setelah merentangkan sendi dijarinya. Ia mulai menatap Qin Yan dengan niat membunuh.


"Kami dari suku Barbarian selalu diberkahi fisik yang kuat. Fisik seperti ini tidak akan pernah dimiliki oleh manusia lemah seperti dirimu." Gerutu Ma Quin dengan nada menghina.


Mendengarnya, membuat Qin Yan agak kesal.


"Kalau begitu, tunjukan padaku fisik yang kau banggakan itu!" Ia langsung melesat kearah Ma Quin.


"Bum" Masing masing saling menghantam, Qin Yan dan Ma Quin saling mengadu kekuatan mereka dengan tangan yang saling mendorong.


"Apa ini? Kau bilang kau kuat? Apa kau berencana membuat lelucon?" Ejek Qin Yan dengan wajah sinis. Membuat wanita itu emosi.


"Akan ku tunjukan apa yang namanya kekuatan itu!" Ma Quin langsung melemparkan Qin Yan kebelakang, melihat anak itu yang bisa berdiri ia semakin menerjun nya.


"Haaaaaaah!!" Teriak dengan keras, tangannya terangkat keatas.


Untuk sesaat, Qin Yan mengukur kekuatan wanita itu. Dan betapa kagetnya dia, kekuatannya lebih dari yang ia perkirakan.


'Ada baiknya aku menghindar.' Batin Qin Yan, kemudian melompat mundur.


"BOOOM" Setelah menghantam tanah, lapangan serasa bergetar. Asap debu menggumpal, terlihat Ma Quin dari balik asap ekspresi puas.


"Apa ini? Kau melarikan diri? Dimana ke sombonganmu tadi nak!" Ia kemudian mulai berlari dan menyerang Qin Yan lagi.


"Jangan jangan kau takut atau semacamnya, apa kau hanya tau menghindar dan bertahan?" Ejek Ma Quin ketika menyaksikan Qin Yan terus menghindar dan selalu bertahan dari serangannya. Ia tertawa puas dalam hati, dengan ini ia akan mendominasi pertarungan ini.


'Hanya butuh beberapa waktu, kau takkan bisa bertahan begitu lama dari genggamanku! Rasakan ini!'


Cincin Hitamnya mulai bersinar. Tubuhnya langsung dipenuhi cahaya keemasan. Ia langsung mengarahkan tinju kearah Qin Yan.


"Mati kau!!"


"Boom" Seketika orang yang dipikul Ma Quin langsung berubah menjadi asap putih. Untuk sesaat, wanita itu membeku. Ia menatap kosong didepannya.


'Apa.... apa yang terjadi?' Batinnya bingung.


"Buakh" Saat ia tersadar, dirinya mendapati tendangan tepat diwajahnya. Ma Quin merasa heran untuk sejenak, ketika melihat Qin Yan yang menendangnya.


Dia terpental jauh, belum lagi ia tersadar dari keterkejutannya. Qin Yan telah berada diatas menerjangnya dengan kakinya yang terangkat.


"BOOOM" Debu langsung menggumpal setelah terdengar ledakan. Terlihat Ma Quin keluar tergesa gesa dari dari bekas serangan tersebut.


'Apa ini? Dia benar benar aneh!' Ia menyeka keringat dan darah disudut bibirnya, kelopak matanya berkedut saat melihat sosok keluar dibalik debu tersebut.


"Berpikir untuk menyiksaku? Alih alih menyerang, aku bahkan takkan memberimu kesempatan untuk bereaksi!" Qin Yan memandangnya dengan tatapan sadis, sekali maju selangkah. Qin Yan langsung tiba tiba didepan wanita itu.


'Ap-apa ini! Apakah ini kecepatan yang luar biasa atau teleportasi?' Ma Quin langsung tercengang. Bagaimana tidak, ia bahkan tidak melihat cincin anak itu. Sebenarnya Qin Yan berada ditingkat mana? Kenapa ia sampai ditekan seperti ini?


Berpikir bahwa orang didepannya adalah anak yang pernah berlutut kepada kucing dengan cara memalukan. Membuatnya sadar, ternyata ia selalu meremehkan anak ini setelah mendengar rumor tersebut. Teringat ketika Qin Yan dilempari banyak kotoran dan dipermalukan didepan umum, membuatnya salah menilai anak ini. Meskipun semuanya nyata, namun kenyataan sebenarnya adalah setelah melawannya. Anak ini ditakdirkan untuk membuat kejutan setelah membuat harga dirinya menurun.


Setelah itu, Tampak situasi berubah terbalik, Qin Yan terus menerus menyerang Ma Quin secara membabi buta. Bahkan terlihat wanita itu kesulitan bertahan dari keterampilan meninju dan menendang yang Qin Yan miliki.


'Anak ini... Aku tidak boleh membiarkan ini terus berlanjut!' Cincin hitamnya langsung menyala, namun disaat yang sama ia mendapati mata merah Qin Yan menyala ketika menatapnya. Saat itulah gelombang pusing langsung ia rasakan, bahkan memasuki dunia yang aneh.


Entah apa yang terjadi, ia merasakan sebuah hantaman keras tepat dipipinya. Setelah itu, dunianya menjadi gelap. Dan ia tidak tahu berapa lama, pada saat ia terbangun, dia mendapati dirinya berada diatas tempat tidur.