
Daun Pindah Tempat Khusus Hari Ini
🍁🍁🍁
Bunga Astilbe putih menghiasi berbagai sudut aula resort. Meski tidak sebesar ballroom hotel, dekorasi nampak mewah dengan gemerlap lampu-lampu, hiasan taman serta kursi-kursi vintage dengan cat putih.
Astilbe tidak sendiri, karangan limonium juga hidrangea nampak indah berpadu dengan daun-daun potong berbagai bentuk. Sementara di atas meja tamu dihiasi karangan bunga tulip putih dan baby's breath.
Para tamu mengenakan pakaian serba putih sesuai dengan kode pakaian malam ini. Meski hanya keluarga dekat yang diundang, acara tetap saja terasa meriah. Apalagi malam ini akan dimeriahkan dengan kehadiran dua penyanyi populer, sahabat Dira - Aaron dan Hugo. Keduanya diundang karena dapat menyimpan rahasia ini.
Tepat seperti perkiraan Dira, membuat alibi seakan-akan ada acara arisan keluarga membuat acara aman dari wartawan juga Cloe. Meski tidak ada satu pun petinggi agensi yang hadir. Dira juga tidak menerima kartu ucapan dari siapa pun demi menjaga rahasia.
"Pengantin pria silakan memasukin ruangan." Kelvin mendadak menjadi MC acara itu. Bakat terpendam Kelvin yang akhirnya tersalurkan.
Dira keluar dari ruang tunggunya. Ketika ia muncul dari pintu, tepukan tangan membahana. Senyum Dira terkembang. Divan berjalan dengannya sambil dituntun. Anak imut itu membawa keranjang kelopak bunga mawar. Meski ia menolak menaburkannya sepanjang jalan.
"Cemua cayang Divan banget," serunya ketika melihat orang-orang bertepuk tangan saat ia berjalan.
"Taburin bunganya, Van," bisik Dira sambil sedikit menggungcangkan tangan Divan. Namun, Divan lebih memilih menggeleng. "Dak, ah. Nanti abis," keluhnya. Akhirnya Dira lebih memilih menyerah.
Di kamar, Bia nampak gugup. Ia mengenakan A-line dress putih dengan motif bordiran keemasan berlengan panjang dan dihiasi jubah yang menjuntai hingga ke lantai. Gaun yang sangat berat. Rambutnya ditata low bun dan berframing layers.
Beberapa kali Bia menatap kaca di depannya. Ia bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri akibat kecanggihan MUA yang Dira tunjuk.
Dira yang malam itu mengenakan kemeja dan jas putih sama gugupnya. Ia tak menyangka pernikahan lebih membuat jantungnya berdebar dibanding konser pertama.
Divan berlari ke arah Nenek dan Kakeknya karena dipanggil. Tinggal Dira sendirian di sana, berdiri di tengah vas rangkaian bunga tulip yang tingginya melebihi Dira.
"Beri semangat untuk pengantin pria kita, Dira Gavin Kenan!" Kelvin memancing tepuk tangan para tamu. Kemudian musik klasik terdengar. "Cahaya malam ini semakin terang karena kita akan menyambut pengantin wanita malam ini, Drabia Azura Louis!"
Pintu Aula menjadi fokus para tamu. Dari sana Bia muncul dengan gaun pengantin juga rangkaian bunga anyelir di tangannya. Mata Dira terbelalak, jantungnya berdebar dan keringat mengucur di sisi kening. Ia tak menyangka pengantinnya akan secantik ini. Meski tidak ada seorang ayah yang mendampinginya berjalan ke altar, Bia perlahan melangkah menuju Dira.
Hari ini dia menghapus janji yang ia buat pada dirinya sendiri. Janji jika akan melewati hidup sendiri dan hanya menjaga Divan. Bia memutuskan untuk membagi semua tanggung jawab itu dengan Dira.
Bahkan tak satu kata pun diucapkan dengan terbata-bata, keduanya begitu lancar seakan sudah saling menerima akan kedudukan mereka setelah janji itu terikrar. Akhirnya, cincin tersemat di jari manis Bia. Nama Dira Kenan terukir di bagian bawah cincin itu. Bia juga memasangkan cincin pasangannya di jari manis Dira.
"Kedua pengantin silakan menandatangani dokumen pernikahan," pandu Kelvin. Dira menuntun Bia menuju meja di sisi pelaminan. Di sana mereka menandatangani buku pernikahan yang Dira urus dengan susah payah. Tak tahu berapa banyak amplop yang ia keluarkan untuk mendapatkan itu.
"Kita ucapkan selamat datang untuk Nyonya Kenan baru!" seru Kelvin. Bia tak sanggup menyembunyikan wajahnya yang merona.
Dira dan Bia menunjukan buku nikah mereka. Beberapa orang yang datang mengabadikan moment itu, meksi baru bisa mengupdatenya bulan Desember nanti.
"Cium! Cium!" Ezra tak mau kalah memeriahkan suasana. Ia sampai berdiri untuk memprovokasi semua orang di sana.
Bia menggeleng. Ia juga mengoyang-goyangkan telapak tangan tanda tak setuju. Namun, Dira melingkarkan lengannya di pinggang Bia. Ia dekatkan tubuh istrinya dan menyimpan tangan lainnya di bagian belakang Bia.
Mata Bia melotot. "Gak mau! Awas kalau ...," kalimat Bia terpotong. Beberapa detik kemudian bibirnya diraih bibir Dira. Mereka berpagutan cukup lama meski Bia berkali-kali menepuk tubuh Dira agar melepaskannya. Sementara Maria dan Ernesto sibuk menutup mata cucu mereka.
Setelah melepaskan bibir Bia, Dira langsung terkekeh. Bia manyun, ia menunduk karena malunya. Sementara Dira nampak bangga karena berhasil mengerjai Bia hari ini.
Wajah bahagia Dira tak bertahan lama. Begitu kedua pengantin itu meminta restu pada kedua orangtua Dira, keduanya menangis sesegukan. Terutama saat Ernesto memberikan nasehat pernikahan. "Mulai sekarang dunia Dira jadi dunia Bia dan begitu sebaliknya. Kesedihan, kebahagiaan, kemudahan dan kesulitan adalah milik kalian bersama untuk dibagi."
Setelah acara meminta restu, Dira juga Bia melakukan sesi pemotretan. Divan ikut di sana. Lucunya foto yang tadinya bergaya formal malah terlihat lucu karena ekspresi Divan.
Sesi ke dua, Dira dan Bia mengenakan pakaian lebih santai. Mereka menikmati hiburan lagu dari Aaron dan Hugo. Bahkan Hugo mengundang Dira dan Bia untuk dansa dengan diiringi nyanyian romantis dengan musik bertempo lambat. Lengan Bia melingkar di leher Dira sementara Dira memeluk pinggang Bia. Kaki mereka begitu kompak bergerak ke kanan dan kiri.
"Kamu senang?" tanya Dira. Bia mengangguk. Hari ini bahkan Bia masih belum percaya jika semua nyata terjadi.
Dira mengecup kening Bia. "Mulai hari ini kamu punya panggilan baru," ucap Dira. Mereka masih berpelukan sambil berdansa.
"Apa itu?" Bia nampak bingung.
Senyum melengkung di bibir Dira. "Istriku," bisiknya lembut di telinga Bia hingga membuat wanita itu tersipu malu.