
Enam bulan kemudian ...
Pertengahan musim panas tiba di Emertown. Cuaca panasnya membuat minuman dingin lebih laku daripada ubi panggang. Penjual payung masih berjualan, kali ini gunanya menghalau cahaya mentari dibanding tahan air hujan.
Perjuangan besar seorang ayah adalah mencari nafkah. Jika saja semua kebutuhan rumah tangga bisa didapat tanpa uang, Dira lebih memilih diam di rumah bersama keluarga kecilnya yang akan bertambah. Belum lagi perut Bia yang semakin besar sehingga membuat Dira sedikit-sedikit khawatir meski hanya bergerak satu senti.
Perjuangan ini semakin sulit bukan hanya karena cuaca panas, tapi juga keadaan Dira yang tidak jelas sejak Bia hamil. Bagaimana tidak jelas, meski kata psikiater ia harus menerima rasanya ngidam, ini jauh lebih tersiksa daripada kerja lembur.
Ketika masuk ke kantor pabrik, Dira sudah terganggu dengan macam-macam wangi parfum pegawainya. Awal-awal ia tahan, lima menit kemudian, ketika masuk di ruangan pasti Dira berlari ke kamar mandi untuk muntah. Sekarang ia bahkan lebih nyaman dengan wangi ketek daripada wangi parfum.
Kejadian gokil terjadi tadi pagi ketika ia harus memimpin rapat. Salah satu investor pabrik datang berkunjung untuk menaikan dana investasi karena produksi dan penjualan yang terus naik. Senang? Jangan harap, ketika tahu rekan bisnisnya itu botak, ujian mulai datang.
Dira jadi serba salah, jika tidak melihat langsung pada orangnya tidak sopan. Namun, menatap orang itu membuatnya ingin mengusap kepala plontosnya. "Tuhan, apa salah orang botak sampai aku ingin mengusapnya," keluh Dira dalam hati.
Karena tak tahan, ia tanpa sadar mematahkan pulpen di tangan sampai sekretarisnya kaget dan lekas memberikan pulpen baru.
Syukur hanya tiga jam, rapat selesai dan investornya meninggalkan pabrik. Dira berbalik dan siap kembali ke kantor untuk menyelesaikan tugasnya. Tanpa sengaja ia melihat staff perempuan memakai rok pendek. Dira berkacak pinggang.
"Bilang sama karyawan di sini, besok pakai rok panjang. Aku gak suka lihat pah* wanita kecuali pah* istriku!" omelnya. Seumur hidup baru kali ini ia lihat kaki-kaki wanita yang mulus dan jenjang malah terlihat seperti ceker ayam di matanya. Iya, dia memang sudah tak normal sejak enam bulan lalu.
"Alfred! Bawakan kopi. Ingat!" titah Dira pada OB di kantornya.
"Jangan dikocek dulu, Pak?" Alfred memastikan tebakannya benar. Dira mengangguk. Beberapa menit kemudian, Alfred datang membawa kopi yang tidak dikocek.
Dira mengambil sendok kecil di samping cangkir kopinya. Ia kocek kopi dan menghitungnya sampai dua puluh satu kali putaran. "Sudah!" ucapnya lega.
Alfred sampai menahan tawa melihat bosnya itu. Kemarin ia kaget melihat Dira merapikan sandal di pabrik yang biasa karyawan pakai ketika masuk pabrik hanya karena merasa terganggu melihat urutannya.
Bahkan saking ribetnya ngidam Dira, ia harus mengocek minuman sampai dua puluh satu kali. Kalau kurang atau lebih, ia tahu dan katanya terasa pahit.
"Pak, saya pernah ngidam begitu. Bahkan ngidam ngelus pantat panci hitam," cerita Alfred. Dira atasan yang paling dekat dengan banyak orang. Jangankan OB, kemarin saja ada pengamen di jalan ia ajak ngobrol.
"Sembuh?" tanya Dira. Alfred mengangguk. "Gimana caranya?" tanya Dira penuh harap karena sudah tak tahan dengan sensasi ribetnya.
Bahkan selama kehamilan Bia, Dira yang paling menderita. Bia sama sekali tak merasa seperti hamil meski perutnya membesar. Rasa sesak, telapak kaki bengkak sampai perut seperti ditendang malah dirasakan Dira.
"Sembuh, Pak. Waktu istri saya melahirkan," celetuk Alfred.
Dira rasanya ingin melempar sendok di tangan ke wajah Alfred. "Itu, aku juga tahu. Sudah tinggalkan aku. Lama-lama kamu buat emosi saja," usir Dira.
Alfred menurut saja. Tak ada ujungnya melawan bapak-bapak sedang ngidam. Meski begitu, ngidamnya Dira termasuk ngidam teladan. Setiap pagi, ia harus menyuapi istrinya, pulang kerja memijiti kaki Bia, harus juga gendong Bia kalau mau ke tempat tidur. Kalau tidak begitu, pasti dia akan menangis seharian tanpa sebab.
Ponsel Dira berbunyi. Ia mendapat panggilan video dari putranya. Divan punya ponsel sendiri, karena dibuat mode anak jadilah hanya bisa menghubungi keluarga dekat dan membuka aplikasi khusus anak. Divan juga main ponsel jika ada Bia di sana.
"Halo!" sapa Dira sambil melambai ke layar ponselnya. Terlihat wajah Divan di sana nampak senang melihat papahnya. "Lagi apa, jagoan?" tanya Dira.
"Puzzle," ralat Dira.
"Pasang-pasangan saja, susah," protes Divan. Sepertinya Bia yang memegang ponsel itu karena tangan Divan bisa menunjukkan puzzlenya. "Iniloh, tadi putel-putel mantap!" ceritanya.
Dira tertawa. "Apa itu puter-puter mantap?" tanyanya bingung.
"Ituloh, waktu masang dia puter beberapa kali potongannya sampai masuk. Terus aku sebut mantap," jelas Bia yang hanya terdengar suaranya saja.
"Wah, hebat. Mantap!" puji Dira.
Divan mengangguk-angguk sambil angkat jempol. "Papah pulang kapan? Lama keljanya. Kan uang banak itungin telus," tanyanya heran.
"Kan habis buat beli Divan jajanan, mainan, buku dongeng," Dira mengabsen semua belanjaan Divan.
"Tulus donk papah, jangan sebut-sebut. Sebut-sebut dak tulus itu!" protes Divan.
"Makanya kalau papah kerja lama, Divan jangan protes terus."
Mata Divan berkedip-kedip. "Oke, kelja lajin papah. Cali uang banak-banak."
"Ya, ampun! Anak Dira Kenan," umpat Dira. Bia tertawa mendengar percakapan ayah dan anaknya itu.
Kemudian kamera dibalikan ke arah Bia. "Aku kangen, cepat pulang," pinta Bia. Ia mengusap perutnya yang semakin besar.
"Iya, sebentar lagi selesai meriksa hasil survei pasar. Gimana? Sudah terasa mulas seperti yang dokter bilang mendekati kelahiran?"
Bia menggeleng. "Aku gak apa-apa, kok. Biasa saja, gak kerasa apa-apa," timpal Bia.
Dira mengangguk. "Tetap harus hati-hati. Walau kata dokter ...." Baru Dira akan berucap, Bia menjatuhkan ponsel. Ia memegang perutnya yang mendadak terasa mulas.
Di situ, Dira mulai kelabakan. Ia berdiri. "Sayang, kamu di sana ada siapa? Suruh Divan manggil Mrs. Carol dulu. Aku pulang sekarang," saran Dira.
"Iya, cepat pulang ... sakit banget," keluh Bia.
Divan melihat ibunya dengan tatapan bingung. "Mamah kenapa? Sakit pelut?"
"Dira berlari turun dari kantornya sambil masih memegang ponsel dan melihat layarnya. "Divan! Divan dengar papah?" panggil Dira.
Mendengar suara papahnya, Divan lekas mengambil ponsel yang terjatuh ke karpet. Ia lihat wajah panik papahnya. "Bantu papah panggil nenek, ya? Papah mohon. Divan jagoan, pasti bisa," Dira memberikan sugesti untuk anaknya.
Bia masih memegang perutnya yang terasa sangat sakit hingga tak kuat berteriak. Divan mengangguk. Ia tinggalkan ponsel dekat ibunya lalu berlari keluar kamarnya mencari Mrs. Carol.
🍁🍁🍁