
"Tuan Dira!" panggil seorang wanita. Baik Dira dan Bia yang tengah berjalan di mall sore itu untuk belanja keperluan sehari-hari. Mereka memang memproduksi pakaian untuk pria, tapi tidak dengan pakaian wanita. Hasilnya, Bia harus selalu belanja pakaian sendiri. Selain itu, mengganti barang-barang di rumah juga harus menjadi prioritas.
Ini juga pertama kalinya Bia datang ke mall terbesar di Heren ini. Jaraknya jauh dari rumah hingga Bia lebih sering belanja ke mall terdekat meski tak terlalu lengkap.
Dira terbelalak. Kenapa juga harus bertemu dengan Mayen di sini. "Halo, selamat sore, Bu. Senang bisa bertemu di sini," sapa Dira. Ia pasang wajah ramah. Kalau saja bukan karena mengingat masa lalu papahnya.
Bia melirik Dira. "Ini Nyonya Mayen. Dia ibunya mantan traineeku dulu," jelas Dira sambil mengedipkan sebelah mata seperti memberi kode.
Mungkin karena sehati, mendengar kata mantan trainee, Bia langsung tertuju pada satu orang yang Dira ceritakan. "Ouh, salam kenal. Saya istri Dira," sapa Bia.
Mayen mengangguk. Sementara Dira terpaku melihat tas-tas kertas dari toko bermerk di tangan Mayen. "Selera anda sangat tinggi," sindir Dira meski dengan nada ramah.
Mayen tertawa kecil. "Iya, ini pakaian untuk Ceril. Hanya barang yang harganya tak terlalu mahal," jawab Mayen.
Mata Bia memutar. "Mana ada LV dan RL harganya murah. Apalagi beli di mall begini," batin Bia. Tak tahu kenapa dia setuju dengan ucapan Dira, dari wajah saja ibu ini sangat menyebalkan.
"Saya pamit dulu, Tuan dan Nyonya ...." Mayen menatap Bia. Sepertinya ia bermaksud menanyakan nama istri Dira itu.
"Bia, Drabia Kenan," jawab Bia.
Mayen mengangguk sambil tersenyum. "Nama yang cantik seperti orangnya. Pasti orang tua anda sangat bangga karena putrinya mendapat pria yang baik dan sukses," puji Mayen. Bia mengangguk-angguk.
Tak lama wanita itu berpamitan pergi. Dira rasanya lega. "Wah, meski hanya hidup dari uang pemberian ... hidupnya mewah sekali. Bahkan pakaiannya yang ia kenakan juga mahal," sindir Bia.
Dira tertawa. Mereka berjalan menuju toko sepatu untuk Dira bekerja. Mata Dira terpaku akan sebuah toko makanan yang menjadi sejarahnya sendiri dengan putra pertamanya. "Bi, tahu gak? Aku ketemu Divan pertama kali di sini," tunjuk Dira pada toko marshmallow favoritnya.
Mereka jarang ke mall ini karena posisinya memang sangat jauh dari rumah meski dalam satu kota yang sama. Heren kota metropolitan terbesar, luasnya hampir seperti New York. Butuh hingga 3 jam untuk melewati ujung Heren ke ujung satunya lagi.
"Iya kah?" tanya Bia tak percaya. Dira menuntun Bia menuju toko itu.
"Aku lihat Divan berdiri di sini mengintip ke jendela," ungkap Dira. Mendengar itu sampai sekarang masih terasa ajaib bagi Bia. Ayah dan anak yang sempat ia sengaja pisahkan, Tuhan pertemukan dengan cara yang tidak sengaja.
"Aku tahu, kamu juga sering bagi untukku. Hanya satu biji," sindir Bia. Dira tertawa. Ia sering membagi Bia banyak hal. Hanya ada beberapa yang ia tak mau bagi, perhatian orang tuanya dan marshmallow di sini.
"Aku pesan ini satu dus," pesan Dira. Ia tak sabar memberikan marsmallow ini pada Divan. Sesekali Dira melirik ke arah jendela. Ia membayangkan wajah Divan di sana tengah melihat ke arah toko dengan tatapan kagum. Rasanya itu terjadi baru kemarin.
Selesai membeli marshmallow, pasangan itu kembali berjalan. Ada toko mainan di sana. "Pororonya Divan aku beli di sini," tunjuk Dira.
Bisa ia lihat betapa senangnya Dira menceritakan kejadian ajaib itu. Kenang-kenangan yang membawanya dalam pernikahan yang bahagia ini.
Dira mengambil ponsel. Ia cari foto Divan pertama yang ia ambil di mall ini. Foto itu Dira tunjukan pada Bia. "Lihat, ini di tempat ini kan?" tanya Dira.
Bia mengangguk melihat kemiripan di tempat kini mereka berada dengan foto di ponsel Dira. "Kalau waktu itu aku tak bertemu Divan di sini, apa sekarang kita bisa sama-sama lagi?" tanya Dira.
Bia mengangguk. "Pasti bisa, kita ini kan jodoh," jawab Bia.
Dira tertawa. Jawaban yang kelewat memaksa dari istrinya. Dira memeluk Bia lalu mengecupnya dengan gemas. "Kamu imut banget," ucap Dira.
Bia memukulinya agar melepaskan pelukan itu. Namun, Dira malah semakin gemas memeluk Bia. Bahkan Dira sampai menempelkan pipinya di pipi Bia lalu menggesek-gesekannya.
Bia terus meronta sambil berteriak meminta dilepaskan. Orang di sana yang mendengar teriakan Bia kontan melihat ke sumber suara. Mereka cekikikan melihat kelakuan suami-istri itu. Beberapa bahkan ada yang mengambil gambar juga video dan menguploadnya ke internet.
"Dira, ih ... aku malu, udah!" pekik Bia. Dira akhirnya melepas pelukannya pada Bia. Ia masih cekikikan melihat wajah kesal istrinya. "Jahat kamu! Jahat!" umpat Bia sambil memukul lengan Dira. Yang dipukul masih saja cekikikan seakan puas dengan apa yang telah ia lakukan.
"Maaf, nanti bakalan sekali lagi kok," kelakar Dira.
"Lah, kok sekali lagi?"
🍁🍁🍁