Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bagian Kecil Yang Pernah Hilang


Divan berlari ke sana ke mari begitu tiba di kebun binatang. Benar apa yang ditebak Dira, tidak ada yang mengenalinya. Selain karena datang dengan anak kecil dan ibunya, terdengar mustahil ada penyanyi yang menurut orang masih single nongkrong di kebun binatang. Dira juga memakai masker hitam dan kaos abu-abu serta celana jeans. Tak seperti pakaian ia tampil yang memakai setelah kemeja atau jas yang rapi.


"Ih, mamah!" tunjuk Divan ke arah kandang beruang. Dira tertawa sampai memegangi perutnya sementara Bia tak hentinya memukul punggung Dira meski tidak terlalu keras. Bia dan Dira kalau sudah saling ledek sejak dulu pasti berakhir saling cubit, pukul, toyor hingga menendang pantat masing-masing - sudah biasa.


Dari kandang beruang, mereka pindah ke kandang gajah. Divan bukan baru pertama kali ke kebun binatang. Namanya juga anak, tetap saja wajahnya kagum melihat hewan-hewan itu.


"Kasih katcang!" Divan dengan susah payah merogoh saku jaketnya untuk mengambil kacang. Ia ulurkan tangan agar gajah itu mau memakan kacang di tangannya. Bia membantu takut Divan dalam bahaya. Sementara Divan sendiri malah terlihat tidak takut.


Dira memperhatikan sambil duduk di kursi yang berseberangan dengan kandang gajah. "Ih gajah, ambil idung teyus makan," protesnya. Bia sampai tertawa. Divan pikir itu jorok, tapi namanya juga hewan.


Melihat Bia menjelaskan tentang gajah pada Divan, membuat hati Dira terenyuh. Ia melihat bagian kosong di mana selama ini ia tinggalkan. Keluarga yang tak sempurna tanpa dirinya. Dira mengambil ponsel dan memotret Bia juga Divan dari belakang. Ia tatap foto itu dengan wajah sedih, kemudian bangkit lalu meraih Divan dalam gendongan. "Ayo foto!" ajaknya.


Akhirnya mereka punya foto keluarga pertama meski hanya foto selfie. Senyum terkembang jelas di wajah ketiganya.


Sore datang diantara mereka. Karena lelah, Divan tidur dalam gendongan Dira. Ia berjalan di samping Bia sambil berpegangan tangan. Dira mendadak ingat, saat ia bertemu Divan dulu. Ia sempat ingin memiliki keluarga dengan Cloe. Itu salah, Cloe tidak akan mau menghadirkan malaikat kecil seperti Divan karena karirnya. Satu-satunya wanita yang bisa memberinya keluarga hanya Bia.


"Aku lihat nama panjang Divan di akta kelahirannya." Dira memulai topik. Ia sempat berpaling pada Bia yang mengangkat sebelah alis karena heran kenapa Dira mendadak membahas itu.


"Dari semua nama di dunia ini kenapa pakai nama Adhlino?" tanya Dira terlihat keberatan.


Bia terkekeh. "Itu nama akun gameku! Hingga sekarang saja gak pernah aku ubah. Memang gak ada nama lain? Misal nama kakeknya atau yang punya arti yang sama dengan Dira," omel Dira.


"Justru karena gak pernah kamu ganti. Aku tahu kalau nama itu sangat berarti bagi kamu," jawab Bia.


Dira hanya tersenyum. Meski sebenarnya bukan tentang Divan. Ia ingin namanya juga tertulis di sana, bersanding dengan nama Bia. "Kamu tahu aku pernah kecewa sama kamu hingga berpikir meninggalkan kamu?"


Kali ini Bia sampai mematung. Pupil matanya terbuka menarik bayangan Dira dalam lensa matanya. "Waktu aku minta kamu ikut denganku ke Heren. Kamu menolak karena ingin kuliah. Aku kecewa karena aku butuh kamu, aku gak mau sendirian. Tahu aku ikut kontes, papah usir aku dari apartemen. Bahkan ponselku juga diambil."


Bayangan bagaimana ia keluar dari apartemen keluarga Kenan begitu nyata dalam benaknya. Bahkan karen tak punya uang, ia harus berjalan dari apartemen hingga ke kosan temannya. Semalaman ia tak bisa tidur juga kelaparan.


"Itu malam ketika aku mutusin kamu," ungkap Dira.


Terasa sesak dalam jiwa Bia saat mendengarnya. "Aku mana tega bawa kamu hidup sengsara, Bi. Jalanku satu-satunya untuk bisa dapat pekerjaan adalah jadi artis. Labelku ingin kita berpisah."


Dira mendongak. Rimbunnya dedaunan pohon besar di sepanjang jalan setapak kebun binatang membuat ia berpikir dengan jernih. "Sejak itu aku bertekad jika punya uang nanti akan kembali. Namun, aku terjebak dalam kebodohan."


Bia menghentikan langkah. Ia pegang erat tangan Dira. "Kebodohan karena tergoda Cloena?"


"Aku punya alasan," timpal Dira.


Mereka saling berhadapan, langkah pun terhenti. "Aku minta bantuan Cloena untuk mengabari tentang keadaanku. Ia sering memperlihatkan chat kalian. Itu membuatku lega. Hingga sebulan kemudian kamu kirim dia chat agar aku pergi dari hidupmu."


Bia meneguk ludah. Ia bingung. Boro-boro saling kirim pesan, lihat wajah wanita itu di TV saja tidak. "Chat palsu?" terka Bia.


"Aku gak bodoh, Bi. Itu nomor kamu. Karena itu aku percaya," jelas Dira.


"Tapikan, saat itu aku sudah ganti nomor. Jadi siapa yang kirim chat itu?" Bia bingung sampai keningnya mengerut.


Sayup-sayup terdengar suara nyaring burung-burung di sekitar mereka. "Kalau bukan karena kamu bilang gak dapat pesan dariku, mungkin aku akan selamanya salah sangka dan kecewa sama kamu."


Divan menggosok hidungnya yang terasa gatal. Ia masih tertidur pulas dalam pangkuan papahnya. Sementara Bia mengusap lengan.


"Maaf aku salah sangka padamu," ucap Dira sambil menunduk dan mengusap punggung Divan.


Bia menggerakkan bibirnya ke sisi kanan dan kiri. "Itu sudah lalu. Gak bisa kita ulang lagi. Bukannya lebih baik kita memikirkan masa depan? Anggap itu pelajaran agar kita tak salah paham lagi."


Keduanya kembali berjalan sambil berpegangan tangan. Dira melihat lurus ke depannya. Mulai saat ini mereka akan seperti ini, melalui jalan yang sama bertiga.


🍁🍁🍁


🙈 Yang mau liat foto selfie mereka, ada di IG : digi8saikai_nha


jangan lupa di follow dan like ya