Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Bertemu Mertua


Emertown mungkin akan jadi kenangan ketika dua pasangan itu memutuskan kembali ke Heren. Di bawah pohon maple yang mulai menguning, Bia dan Dira menyimpan bunga aster putih.


Divan menggaruk-garuk. Ia selalu bingung sejak Bia dulu membawanya ke sini. "Nenek dak bangun uga," protes Divan.


Dira menarik lengan Divan dengan pelan. Ia duduk berjongkok dan Divan di dudukan di pangkuan. "Tante, selamat pagi. Ini Dira, maaf baru datang ke sini sekarang. Maaf juga atas semua dosa yang Dira perbuat selama ini. Dira yang buat tante begini. Dira memang tak pantas untuk dimaafkan," ucap pria itu sambil mengusap nisan tantenya Bia.


"Papah nakal, cih. Divan uga bilang pa," celetuk Divan membuat suasana sedih berubah geli ingin tertawa. Dira sampai mengatur napas akibat perbuatan putranya.


Bia nyengir kuda. "Maafkan cucu tante ini. Dia masih belum mengerti apa-apa, tapi dia baik dan penyayang," ucap Bia.


Dira meraih tangan istrinya. "Sekarang kami sudah bersama, Tan. Bia dan aku sudah menikah. Kami punya keluarga. Aku janji akan menjaga Bia selamanya," timpal Dira.


Divan menggeleng-geleng. Ia pikir ibu dan ayahnya menjadi tidak normal. Lekas Divan turun dari pangkuan Dira. Ia berjalan melihat-lihat kuburan di sekitar tak jauh dari orang tuanya.


"Dira besok bawa Bia lagi ke Heren. Rencananya habis ini kami akan ke makam ayah dan bunda. Sebelumnya karena keadaan kami tak sempat pamitan pada kalian. Jadi aku hari ini meminta izin dengan cara yang benar."


Lama sudah mereka di sana. Dira menggendong Divan sambil menuntun Bia menuju parkiran komplek pemakaman. Mobil sedan hitam milik Dira sudah menunggu di sana. Hanya sekitar dua puluh menit mereka tiba di komplek pemakaman yang disediakan khusus bagi para pegawai Kenan Grouph. Di sana orang tua Bia beristirahat untuk selamanya.


Perbukitan mereka lalui dengan rerumputan yang menguning. Dedaunan sudah berjatuhan. Beda dengan pemakaman pertama yang terlihat seperti lapangan dan hanya sedikit pepohonan, pemakaman ini justru lebih banyak dihiasi pepohonan juga bangunan-bangunan yang menaunginya.


"Itu, kan?" tunjuk Bia. Ia masih mengingat tempat kedua orangtuanya dimakamkan. Dira mengangguk. Sudah tak ada bunga yang disimpan di sana. Terlihat jelas bukti berapa lama Bia tak datang ke sini.


Lousiano Louis dan Angelica Jenifer Louis beristirahat dalam lubang makam yang sama. Di samping kanan ada putri bungsunya dan di samping kiri ada putra tertuanya. Hanya Bia yang tertinggal dan kini ada dalam perlindungan Dira.


Empat ikat bunga mereka simpan di tiga makam keluarga Louis. Meski awalnya bisa menahan, Bia akhirnya luruh juga. Bukannya ia tak sopan karena tak pernah menengok kedua orangtuanya. Ia takut tak ingin pulang. Terakhir kali Bia datang sendiri, Dira yang menggendongnya pulang karena sampai pukul sepuluh malam ia duduk sambil menangis di sana.


"Bunda ... Ayah ...," panggil Bia. Ia menutup mata dengan punggung lengannya. Dira tak mau menenangkan, biarkan Bia menangis untuk membasuh rasa dukanya. Bukankah lebih lega menangis di depan orang tua sendiri.


"Ayah dan bunda, anak menantumu datang. Ini cucu kecil kalian. Sekarang Bia sudah mandiri. Dia bisa ikat sepatu sendiri, bahkan bisa masak," adu Dira.


Bia masih sesegukan. Ia bahkan tak dapat mengeluarkan kata-kata. Karena tak sanggup, Bia raih lengan Dira dan menenggelamkan wajahnya di sana. Dira mengusap rambut Bia dengan penuh rasa sayang. Angin berembus dan menimbulkan suara daun yang saling bergesekan.


"Aku tahu kamu sedih. Rasa kehilanganku akan kepergian nenek hanya sepuluh persen dari kesedihanmu. Kamu hebat dan kuat." Dira mengecup kening Bia.


"Mamah napa?" tanya Divan khawatir. Dira menggeleng. Ia turunkan Divan dari gendongannya. "Bilang salam pada nenek dan kakek. Itu oom dan tante Divan," tunjuk Dira.


Divan menepuk jidatnya. "Cemuanya tidur uga?" tanya Divan bingung.


Dira mengusap rambut putranya. "Iya, mereka tidur karena sudah berjuang dengan baik," jawab Dira.


Divan mengangguk-angguk. Ia garuk kepalanya. "Divan malam tidul uga sdh juang baik?" tanya Divan. Dira mengangguk. "Napa dak di sini?"


"Mau?" tanya Dira sambil nyengir.


Dira mengusap punggung Bia. "Kasih hormat sama ayah dan bunda. Minta restu untuk pernikahan kita," sarannya.


Bia mengangguk. Ia berjalan maju sambil sesegukan. "Bunda dan ayah ... Bia sekarang sudah nikah. Ada cucu mamah juga di sini," ucap Bia terbata-bata disela tangisan.


Dira mengusap rambut Bia lagi. "Hebat, kamu jagoan," ucapnya. Bia mengangguk.


"Dir, apa ayah sama bunda gak marah padaku? Aku ini banyak mengecewakan mereka," keluh Bia.


Dira menggeleng. "Tidak. Kalau ada yang pantas dimarahi pasti aku. Kamu anak yang baik, mereka pasti bangga," ucap Dira. Ia peluk Bia dengan erat. Air mata Bia kembali mengalir. Sudah lama kedua orangtuanya pergi, tapi terasa baru kemarin.


Divan mengambil daun kering yang jatuh ke rambutnya. Ia tertawa lucu kemudian menatap makam nenek dan kakek dari ibunya. "Nenek cama kakek kliput dak? Nenek cama kakek di lumah kiliput, cininya." Divan menunjuk bagian bawah matanya.


Setelah itu ia mengambil ikatan bunga yang tadi Dira simpan. "Ini, buat nenek dali papah. cekalang papah dak nakal agi," ucap Divan.


Bia dan Dira mendengarnya lalu tersenyum. "Sini," seru Bia lalu memeluk putra kecilnya. Bia menangis dan Divan menepuk punggungnya beberapa kali dengan lembut.


"Cup ... mamah dak nangis. Mamah tantik, senum mamah," ucap Divan menenangkan. Dira ikut memeluk kedua orang yang berarti dalam hidupnya.


"Ayah dan Bunda, doakan kami agar bisa sehidup semati seperti kalian berdua. Doakan Divan jadi anak yang pintar dan baik."


Divan berjalan sambil dituntun Bia dan Dira menuju parkiran. Beberapa kali terdengar suara tawa anak itu menghiasi kesunyian.


"Kan kakek janji mau beli Divan petawat. Petawat kacih kakek dak tebang," keluh Divan.


"Iyalah, itukan pesawat mainan. Memang kalau terbang bisa kamu terbanginnya? Mobil remote kemarin saja kamu cemplungin ke kolam ikan." Dira mengacak rambut Divan.


Dengan kesal Divan mendengus. "Itu mobin nakal. Dak nulut. Kata mamah klo dak nulut nakal," omelnya.


Bia tertawa. "Gimana mau nurut. Kamu tekan semua tombol remotenya barengan."


Divan melirik ke arah Bia dengan tatapan tajam. "Ih, Divan ini anak kicil. Dak bisa mikin cucah," keluhnya.


"Makanya kalna Divan macih kicil dangan mau petawat nang tebang-tebang. Nanti petawatnya ucak," ledek Dira meniru cara bicara Divan.


"Telus ja Divan ledek. Dotha loh! Tuhan malah cama papah. Nanti delek!" ancamnya.


Dira tertawa. "Kan kata kamu papah sudah jelek, yang ganteng itu kamu."


🍁🍁🍁


Yang Punya WP jgn lupa follow akun wpku ya : elara_murako. Lumayan buat hiburan harian liat celotehan Oom Andre sama Dedek Sheila di jodoh 50 ribu. Besok Bride Of The Heir juga up, loh!