
Divan meniup gelembung sabun. Tak lama ia berlari dan merengek pada Bia dengan menata berkaca-kaca. "Divan sakit pipinya, mah," keluhnya.
Bia mengusap pipi Divan dengan lembut. "Sebelum sakit, apa yang Divan lakukan?" tanya Bia. Ia tak langsung mengatakan apa yang anaknya lakukan salah. Lebih baik mengajaknya diskusi agar ia bisa menilai kesalahannya sendiri.
"Divan tiup gelembung. Lama sekali," jawabnya.
"Coba tiup lagi, apa akan sakit?"
"Iya. Sakit. Tiup gelembungnya kayaknya bikin sakit lagi, ya?" tanya Divan mencoba menelaah kesalahannya sendiri.
"Sebaiknya Divan bagaimana? Apa masih mau meniup gelembung sabun?" tanya Bia. Divan menggeleng. "Boleh Mamah kasih saran, gak? Coba nanti Divan tiup gelembungnya istirahat dulu sampai pipi Divan tidak sakit lagi. Mau nyoba?"
Sejenak anak itu berpikir hingga akhirnya ia mengangguk. "Ini, titip gelembung Divan, ya? Jangan kasih papah. Suka diabisin semuanya," pintanya. Bia mengangguk sambil menahan tawa.
Setelah itu Divan berlari menuju box tempat adiknya tengah tidur. Ia sudah tahu akibat dibiasakan jika menyentuh Diandre harus mencuci tangannya dulu. Akhirnya Divan berlari ke kamar mandi dekat ruang tengah dan mencuci tangannya di sana.
"Divan! Ada kakek sama nenek!" panggil Dira dari teras rumah. Kedua orang tua Dira datang berkunjung setelah lama tidak bisa ke Emertown akibat kondisi kesehatan Ernesto.
Divan beranjak berlari menuju sumber suara. Melihat kakek dan neneknya di sana, Divan lekas meloncat-loncat sambil bersenandung gembira. Ernesto dan Maria berhasil tertawa dibuat anak itu.
"Kakek ... nenek. Sini Divan punya adik bayi, loh!" serunya sambil menarik tangan Ernesto menuju ruang tengah. Ia menunjukkan box bayi di mana Diandre tengah tidur.
"Lihat, adik bayi Divan! Tapi lebih ganteng Divan, ya?" tunjuknya. Ernesto mengangguk-angguk.
Maria memeluk erat Divan dengan gemas. "Iya, cucu Nenek memang semunya ganteng. Divan lebih ganteng karena lebih dewasa," komentar Maria.
Divan mengedipkan mata. "Gendong adik Diandre, mau? Jangan lupa pake hentenitijel dulu," sarannya.
Ia membawa handsanitizer di nakas dengan box bayi Diandre lalu menyemprotkannya pada tangan kakek dan neneknya.
"Kakek bangga sekali. Cucunya rajin dan pintar," komentar Ernesto.
Divan membentuk angkat tujuh dengan jempol dan telunjuk lalu dia tempelkan di bawah dagu. "Divan kalau dak lajin, dak pintel nanti gantengnya ilang secuil," jelasnya.
Dira mengacak-acak rambut Divan karena gemas dengan perilaku putranya itu. Maria lekas menggendong Diandre. Bayi itu terlihat bergerak pelan begitu merasa seseorang menyentuhnya.
"Tuh, Diande belum bisa apa-apa. Belum pintel kayak Divan," komentar Divan.
"Iyalah, kamu sudah tiga tahun. Diandre malah belum ulang tahun. Pasti harus lebih pintar dari adik. Kalau gak lebih pintar, nanti adiknya gak mau ngakuin Divan jadi kakaknya," protes Dira.
"Biarin saja! Kamu disayang ibu berdaster, papah disayang mamah," balas Dira tak mau kalah.
Divan memalingkan wajah. "Papah ngaku-ngaku. Silik!" Divan tak mau kalah.
Maria sampai memukul Dira agar pria itu berhenti bertengkar dengan Divan. "Kamu ini gak sama Dustin, gak sama Divan, berantem saja!"
"Bia mana? Kenapa Papah gak lihat Bia, Dira?" tanya Ernesto.
Divan melirik ke sekelilingnya. "Tunggu! Divan cali pakai sapetelit!" seru Divan lalu berlari menuju dapur.
"Satelit!" ralat Dira.
Wangi dari daging sapi yang dibakar menyita perhatiannya. Ia yakin, itu Bia karena hanya mamahnya yang memasak untuknya. Karena itu, Divan sudah bisa menebak jika Bia ada di dapur.
"Mamah Bia! Ada Kakek sama Nenek keliput!" Divan menarik lengan Bia dan berusaha membawanya.
Bia menahan tarikan Divan. Ia memberikan spatula pada pelayan lalu mengikuti Divan. Anak itu terlihat tak sabaran sekali. Ia memang paling senang bertemu kakek dan neneknya. Selain jarang bertemu, kedua orang tua Dira paling memanjakan Divan.
Di ruang tengah, Maria sedang berceloteh sambil tertawa melihat ekspresi Diandre yang sering tersenyum. Maria mengecup gemas pipi cucu ketiganya itu.
"Mamah sama papah datang kenapa gak bilang sama Bia. Mungkin Bia bisa masak lebih siang," sapa Bia. Ia menyalami mertuanya lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Ernesto dan Maria.
Dira duduk di samping Bia. Lain dengan Divan yang naik ke atas pangkuan Ernesto. "Diandre sana saja sama nenek, Divan punya kakek!" ucap Divan sewot.
Maria sampai tertawa. "Ini kakaknya cemburu, ya?"
"Dak kok! Kenapa cembulu. Semua pasti lebih sayang Divan," tegas Divan. Bia memahami usianya memang sedang tak ingin mengalah dengan orang lain, menunjukkan jika memang dia anak dengan kecerdasan interpersonal, di mana lebih percaya diri dan berani juga lebih akrab dengan orang lain. Di satu sisi, Divan lebih sulit menurut dan sering memperlihatkan otoritasnya.
Tawa menyelimuti setiap Divan mengucapkan kalimat-kalimat lucunya. Satu hal yang disyukuri Bia, Divan tak pernah menyakiti adiknya. "Pukul Diande cuman anak lemah. Divan dak lemah! Kuat!" katanya.
Ernesto mengangguk. "Dira, papah mau bicara berdua." Ernesto memotong obrolan mereka. Dira mengangguk.
Lain dengan Divan yang malah terlihat kesal. "Kakek kalau kasih uang papah, Divan mau," protesnya.
"Iya, Divan di sini jagain nenek sama mamah. Kakek mau bicara sama papah tentang pekerjaan. Divan tentu belum bekerja, kan?"
🍁🍁🍁