
Bia tersentak kaget. Ia membuka mata dan menemukan tubuhnya terbaring di atas tempat tidur di resort. Divan masih tidur di sampingnya. Sementara Dira masih di sofa. Dengan lembut Bia mengusap wajahnya lalu bangkit dari tempat tidur. Dari gorden kamar, terlihat remang-remang cahaya mentari.
"Sudah pagi," ucap Bia kemudian berjalan ke kamar mandi dan lekas membersihkan diri.
Selesai berpakaian, Bia berjalan ke luar kamar. Ia mendengar suara-suara obrolan di ruang makan resort itu. Sepertinya semua orang sudah bangun. Bia menghampiri sumber suara.
Hanya ada Bu suli, Sayu dan Ana di sana. Keluarga lain meninggalkan resort sejak semalam. Jadi hanya keluarga Dira dan sepupu dekatnya ini yang masih di resort.
"Beda ya, dikerjain Dira bangunnya sampai kesiangan," ledek Ana. Bia nyengir kuda. Ia duduk di kursi yang masih kosong.
"Yang lain mana?" tanya Bia.
"Sudah pada jalan-jalan ke pantai. Kamu sih jam delapan baru bangun," jawab Bu Suli.
Sayu terkekeh. "Maklum bu, habis salto semalaman kayaknya. Itu juga nunggu Divan tidur dulu pasti," Sayu tak mau kalah.
Jelas Bia menggeleng. "Gak gitu, kok. Semalam Divan panas jadi aku sama Dira jagain sampai jam tiga pagi."
Terlihat Sayu, Ana dan Suli kecewa. Padahal mereka sudah menanti saat-saat Bia bercerita tentang malam pernikahannya.
"Makanya, Bi. Orang lain nikah dulu baru punya anak. Jadi malam pertama itu iya-iya sama suami bukannya jagain anak sakit," ledek Ana.
Bia menunduk malu. "Lagipula Dira juga gak niat aneh-aneh, kok. Aku sama dia nikah cuman karena ada Divan. Sudah," ralat Bia.
Terlihat ketiga wanita yang mendengarnya heran. "Maksudnya gimana? Gak niat gimana?" tanya Sayu bingung.
Bia mengambil apel dari tengah meja kemudian memakannya. "Dia cuman peduli sama Divan. Habis itu dingin lagi. Kayaknya memang dia gak mau sama aku," keluh Bia. Ia melirik ke arah pintu takut Dira bangun dan datang ke ruang makan.
"Dingin?" Bu Suli ikut penasaran.
"Iya mungkin karena aku bukan tipe dia," keluh Bia.
Ana mengerucutkan bibirnya. "Kalau bukan tipe mana bisa dia bikin Divan. Mungkin dia cuman gak enak saja karena Divan di sana. Jangan mikir aneh-aneh dulu."
"Iya benar kata Ana. Mungkin Dira cuman khawatir sama keadaan Divan," timpal Sayu.
Bia mendengus. Ia tak yakin. Awalnya Dira memang hangat, tapi setelah kejadian semalam tak tahu mengapa Bia merasa Dira berubah hanya dalam semalam. "Mungkin tidak kalau laki-laki berubah justru setelah menikah?" tanya Bia penasaran.
Sayu nampak berpikir. "Biasanya setelah malam pertama. Mungkin karena gak puas atau sikap istrinya berbeda. Kalau kalian belum ngapa-ngapain menurutku belum ada efek apa-apa."
Bia mengangguk-angguk. Dia mengunyah apel yang ia gigit. Sebenarnya sejak kemarin-kemarin pikirannya masih terbebani. Semua ini terlalu cepat hingga terasa tak masuk akal di pikiran Bia. Sampai-sampai ia mimpi kembali ke masa SMA.
"Kalian tinggal di Emertown selama tiga tahun ini, kan?" Bia memulai topik.
Sayu, Bu Suli dan Ana mengangguk. Selama ini mereka tinggal satu kota tapi tak bisa menemukan Bia. Namun masalahnya bukan itu. "Jadi kalian gak tahu keseharian Dira di Heren?" tanya Bia.
"Aku dan Sayu sering bolak-balik Heren dan Emertown karena pekerjaan Kelvin dan Ezra. Sedikitnya tahulah gimana dia selama di Heren. Kadang juga kita sering main ke apartemen Dira," jawab Ana.
Bia mengusap tengkuknya. Ia bingung bagaimana memulai curhatnya. Bia masih memeriksa ke arah pintu. Jangan sampai ada orang lain yang dengar keresahan hatinya.
"Berarti kalian tahu seperti apa hubungan Dira dan Cloena Parviz?" tanya Bia mulai blak-blakan.
Sambil mengedipkan mata, Bia menekan-nekan telunjuk pada apel di tangannya. Ia mengangguk. "Aku masih berpikir alasan Dira meninggalkan Cloena dan kembali padaku hanya karena terpaksa akibat keberadaan Divan. Kalau bukan karena dilarang bertemu Divan, aku sebenarnya ingin menolak kembali pada Dira."
Baik Sayu, Ana juga Bu Suli tidak menyalahkan perasan Bia. Mereka sudah tiga tahu berpisah dan Dira selama itu bersama wanita lain. Jika tiba-tiba kembali, jelas terasa tidak normal.
"Masalahnya aku sama sekali tak bisa sebanding dengan Cloena. Dia cantik, populer, kaya dan menyenangkan. Aku? Sudah biasa saja, tidak terkenal, pekerja toko juga membosankan," keluh Bia. Ia merasa jika Cloena dan dirinya seperti langit dan bumi.
"Apa Dira benar melupakan Cloena? Menurutku tak bisa seperti itu jika memang hubungan mereka sangat romantis seperti terlihat di televisi selama ini. Karena itu aku penasaran. Seperti apa hubungan Dira dan Cloena dulu," jelas Bia.
Sayu menepuk pundaknya. "Dalam pernikahan harus ada keterbukaan antara suami dan istri. Kejujuran dan kesetiaan juga rasa saling percaya itu tiang utama dalam berumah tangga."
"Kita mana tahu seperti apa hubungan mereka. Yang jelas aku tahu mereka pacaran dan sering jalan-jalan berdua. Seromantis apa gak bisa dijelaskan. Urusan itu akan lebih baik kamu tanya sendiri pada Dira. Kamu berhak karena kamu istrinya," saran Sayu.
"Sayu benar, Bi. Kamu itu istri Dira. Artinya kamu berhak menuntut kejujurannya," timpal Ana.
Bu Suli mengangguk. "Lebih baik jika kalian ingin membangun rumah tangga tak perlu memikirkan masa lalu. Cukup jadi pelajaran saja. Kalau masih mempertimbangkan itu, malah akan membuat suasana rumah tangga kamu memanas. Lagipula, mau seberapa romantis hubungan Dira dengan Cloena, itu masa lalu. Sekarang masa depannya itu kamu," nasehat Bu Suli.
Sebenarnya masih banyak hal yang mengganjal hati Bia ingin dia ungkapkan. Namun, Bia mendengar suara Divan. Pembicaraan itu langsung terhenti. Dira datang sambil menggendong Divan di pangkuannya.
"Panasnya sudah turun?" tanya Bu Suli begitu Dira memberikan Divan ke pangkuan Bia.
"Semalam juga sudah lumayan turun dan pagi-pagi sudah mulai aktif lagi. Dimandiin saja sempat mainan busa di bathtub," jawab Dira. Bia mengusap rambut putranya. Bia mengambil makanan di atas meja kemudian nenyuapi Divan.
"Mamah, Divan dak ekim agi," janji Divan setelah menelan makanan di mulutnya.
Dira terkekeh. "Papah gak yakin," ledek Dira. Divan menatap Dira dengan tajam. "Besok Papah beli es krim kamu jangan mau," goda Dira.
Divan meneguk ludahnya. Mendengar kata es krim pertahanannya seakan sedang didobrak. Ia memainkan jari-jarinya. Kemudian menghela napas panjang. "Nati akit pelut. Puas!" ancam Divan. Semua di ruangan itu tertawa mendengarnya. "Papah bandel!"
Bia mengangguk. "Iya, harusnya Papah kasih contoh buat Divan." Bia menyemangati putranya.
"Makan es krim boleh. Tapi gak banyak-banyak. Divan sakit karena makan es krim sepuluh gelas. Yang bandel Divan, bukan Papah," ralat Dira.
"Sepuluh gelas?" tanya Bia kaget tak percaya. Divan menunduk.
Dengan mantap Dira mengangguk. "Aku lihat di CCTV."
🍁🍁🍁
Duh, aku di sini bakalan banyak minta maaf. mungkin kalian aneh kenapa chapternya lebih panjang. Jadi begini, aku mungkin akan up hanya 2x sehari. Why?? Dengan chapter segini kupikir cukup. Motong-motongnya juga sudah tak kuasa.
Aku sudah habis cadangan chapter di *******. Jadi nulisnya live mengikuti outline yang sudah dibuat. Novel ini juga sudah mulai masuk ke konflik utama. Aku juga sudah mulai fokus pada "jodoh 50 ribu" dan "Bride of the heir"
kalau kalian tanya kenapa gak bawa novel itu ke sini? Jawabannya takut gak bisa daily up seperti ADA. Novel ini aku tulis insya Allah tanpa libur. Biar kalian yang baca gak nunggu lama.
Lagi-lagi aku ucapkan terima kasih untuk yang sudah baca novel ini. Aku minta maaf karena masih belum memberikan yang terbaik. Beberapa yang baca di wp juga pasti bingung kenapa kualitasnya lain dengan "Sepatu Tanpa Pasangan", ya karena itu ditulis seminggu sekali. sementara ini setiap hari dan kadang berbenturan dengan jadwal kerjaku.
🙏 Makasih buat pembaca ADA semua. Maaf selalu bikin kalian darah tinggi dan diabetes 😭🤧