
"Jadi ketemunya besok saja?" tanya Davina dengan nada sedih.
"Maaf, ya. Aku ada sesuatu yang harus dikerjakan dulu. Habis ini kita main seharian, deh," balas Divan. Suaranya memang terdengar menyesal, tapi dia malah senyum-senyum jahil.
"Gak apa-apa, deh. Besok janji, ya!" tegas Davina.
"Iya."
Setelah Davina menutup telpon, barulah Divan bisa tertawa puas. "Saya pesan yang ini, Miss?" tanya Divan pada penjaga sebuah toko perhiasan di Heren. Ia membeli sebuah cincin putih dengan mahkota berlian.
Divan masih pada tekadnya untuk menikahi Davina. Kerinduan selama bertahun-tahun ingin ia tumpahkan dalam jalinan pernikahan. Sampai tiba di rumah, mandi dan siap merangkum hasil penelitiannya, Divan sesekali menatap kotak di mana cincin untuk melamar Davina berada.
Ia tersenyum sesekali membayangkan bisa bertemu Davina pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Sayang, bayangannya langsung hancur berantakan ketika Diandre tiba-tiba datang ke kamarnya.
"Kak! Ada printer gak di sini?" tanya anak itu.
Divan menunjuk printer di meja belajarnya. Ia memang sudah wanti-wanti pada pelayan untuk memasang printer sebelum kedatangannya akibat harus banyak tugas yang ia kerjakan.
"Kamu mau ngerjain PR?" tanya Divan.
Dandre menggeleng. "Mau nyetak foto. Tadi Diandre ambil gambar di taman Heren. Bagus banget," jawab Diandre sambil mencoba memasangkan printer ke laptop.
Mata Divan tanpa sengaja menangkap kamera Diandre di sisi laptop. Akibat sikut adiknya yang tak mau diam, Divan mengambil kamera itu takut terjatuh ke lantai.
"Foto kamu bagus," puji Divan. Ia memang tak bisa menampik jiwa seni fotografi adiknya. Follower IG Diandre dan Divan sebenarnya tak jauh beda. Hanya saja Diandre lebih suka menyembunyikan diri. Ia lebih suka memfoto daripada di foto.
"Foto bagus karena tempatnya memang bagus dan yang mengambil fotonya juga bagus," timpal Diandre
Divan mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas. Setelah itu, ia melihat satu per satu foto dalam kamera dengan menggeser layar kamera. Divan terbelalak. Ia melihat sebuah foto dari wanita yang ia kenal.
"Cantik, ya?" tanya Diandre.
Dari situ mata Divan bergeser ke arah adiknya. "Diandre ketemu dia di taman tadi siang. Orangnya lucu dan menggemaskan," tambah Diandre.
Anak itu menarik kursi ke sisi Divan. "Kak, tahu aku pernah bilang kalau aku bakalan berhenti mengejar wanita mana pun asal menemukan kekasih sejati? Kupikir wanita ini orangnya. Aku mau putuskan kuliah di Heren dan mengejar cintanya," cerita Diandre
Tak karuan batin Divan. Satu sisi dia cemburu karena wanita dalam foto itu tidak lain wanita yang ia ingin nikahi. Di satu sisi, ia tak ingin menyakiti adiknya sendiri.
"Aku sudah bilang sama papah. Setelah ujian nanti, aku langsung pindah ke Heren dan mengurus perkualiahan."
Divan hanya diam. Beberapa kali ia menarik napas, tetap rasanya tak bisa tenang. Ia melihat wajah adiknya lagi yang berbinar dan penuh kebahagiaan. Bagaimana bisa ia menghancurkan hati adiknya sendiri?
"Diandre gak bisa hidup tanpanya. Benar kata papah, kalau dia cinta sejati kita, tak perlu menunggu sampai bertahun-tahun lamanya. Sekali pandang saja Diandre yakin dia tercipta untukku."
Lagi, Divan rasanya tertampar. Dia yang menunggu bertahun-tahun untuk menyatakan perasaan, rasanya kalah oleh Diandre yang baru sehari bertemu langsung berjuang. "Kak Divan mau bantu Dio deketin dia, kan?" tanya Dindre.
🍁🍁🍁
"Ada apa ini? Kok senyum-senyum gitu?" tegur Silvina saat ia tak sengaja bertemu dengan adiknya itu di tangga.
"Davina lagi senang, Kak. Pokoknya hari ini Davina traktir banyak makanan," tawar Davina.
Silvi tertawa melihat tingkah centil adiknya. "Kakak juga lagi senang. Jadi biar kakak saja yang traktir kamu makanan yang banyak. Di sini kamu yang paling banyak makan, kan!" Silvi mencolek hidung adiknya.
Davina mengangguk. "Cepat naik ke atas. Mandi dulu, sana. Tubuh kamu itu bau matahari akibat main di taman seharian," nasehat Silvina.
Davina mengangguk ia lekas lari ke kamarnya dan mandi. Sementara Silvina memesan pizza dengan dua rasa, daging dan sayuran.
Tak lama setelah pengantar pizza datang, Silvina pergi ke kamar Davina untuk berbincang tentang hari mereka. Sudah rutinitas kakak beradik ini bergosip ria sejak mereka sama-sama remaja. Apalagi tentang mahasiswa di kampus mereka masing-masing yang nyeleneh.
"Wouh! Pizza!" seru Davina begitu keluar dari kamar mandi dan menemukan dua dus pizza di meja tamu kamarnya.
"Duduk dan cerita ada apa?" tanya Silvina penasaran.
"Kakak dulu yang cerita. Jarang loh, Davina lihat kakak senyum-senyum geli begitu. Lagi jatuh cinta, ya? Biasanya juga kakak yang bikin laki-laki bucin, sekarang malah kakak yang terlihat bucin begitu!" tunjuk Davina.
Silvina tak bisa bertahan untuk menyembunyikan wajahnya yang merona kemerahan. "Kamu tahu, gak? Semenjak tahu kalau aku sakit, aku selalu takut buat jatuh cinta. Aku gak mau ninggalin orang yang aku cintai, tapi karena dia gak tahu kenapa rasanya aku mau berjuang," cerita Silvina.
Itu terasa lega bagi Davina. Selama ini kakaknya itu selalu menyerah soal hidup. Meski di luar garang dan selalu terlihat judes pada orang lain, tubuh Silvina begitu renta. Alasan kenapa waktu kecil ia juga judes pada Davina, Silvina takut akan meninggal tiba-tiba dan membuat orang yang ia sayangi menangis.
"Jadi siapa pria hebat yang bikin kakak semangat untuk sembuh?" tanya Davina penasaran.
Silvi cekikikan. Ia memeluk bantal dengan wajah malu dan pipi yang memerah. "Sebenarnya dia lebih muda dariku, tapi banyak juga pasangan yang prianya lebih muda. Sikapnya juga begitu manis padaku. Ah, kupikir aku sudah gila," cerocos Silvina.
Davina mengambil potongan pizza lalu manyun. "Jadi siapa laki-laki itu?" tanya Davina penasaran.
"Kamu tahu Emelie temanku tidak? Dia punya sepupu yang selebgram. Namanya Divan Kenan. Kupikir sudah jatuh cinta padanya," ungkap Silvina.
Pizza di tangan Davina jatuh ke karpet. Ia menatap kakaknya dengan tatapan kosong. Hatinya seperti teriris. Perih dan luka. Tinggal menunggu disiram air garam.
"Kakak gak tahu dia akan suka pada kakak atau tidak. Yah, hanya bisa berharap saja. Kakak tahu keadaan tubuh begini gak punya hak untuk jatuh cinta," keluh Silvina.
Sakit di hati Davina bukan hanya karena orang yang ia cintai juga dicintai kakaknya. Ia sakit sebagai adik menginginkan pria yang menjadi harapan hidup Silvina. Salahku juga tak pernah menceritakan Divan pada kakak.
Davina menunduk. "Kamu kenapa?" tanya Silvi yang mendadak kaget melihat adiknya menangis.
"Vina, senang. Kak Silvi punya harapan hidup lagi. Kak Silvi gak sedih lagi. Kalau kakak sayang sama pria itu, kejarlah. Jangan bilang kalau kakak mau meninggal terus. Kak Silvi pasti bisa," pinta Davina. Ia turun dari sofa dengan mata yang berlinang sambil memeluk kakaknya.
🍁🍁🍁